FF/ JUST LOVING ME LIKE YOUR DIRACTION/ BTS-EXO/ pt. 2


Title : Just Loving Me Like Your Diraction(Chapter 2)

Author : Annonymous ★ (author freelance)

Main Cast : Taehyung & Baekhyun

Genre : ——

FYI : Hello, sorry when the first fan fiction that already posed, all of you thought if it just oneshot story. But no… Im forgot to writed ‘TBC’ at last. So, start from now, all of you must know if it CHAPTERED😉 Enjoy.

 

 

Menyanyangimu seperti sebuah bongkahan permata yang bersinar.

Membuatmu mencair itu kesukaanku.

Membuatkan makanan kesukaanmu itu bahkan menjadi kebiasaanku.

Melihatmu tersenyum, menahan tawa ketika menonton itu menggelitikku.

Namun ketika kau marah itu membunuhku.

Jungkook bahkan ikut berlari mengejarnya. Bernasib baik, Taehyung tidak keluar rumah dan berhenti di kamar milik Baekhyun. Taehyun masuk dan membiarkan Jungkook menunggu di luar. Taehyung tidak peduli dengan yang lainnya dan otaknya kini sedang berisi Baekhyun. Berisi apa yang akan terjadi padanya, dimana Baekhyun, bersama siapa Baekhyun, memakan apa Baekhyun. Otaknya sudah penuh dengan pengiraan yang berlebihan.

Di dalam, Taehyung membongkar seluruh surat-surat bahkan benda-benda aneh milik Baekhyun ; tas, lemari, map-map cokelat, bawah bantal, meja belajar, ia memeriksanya semuanya dengan detail. Jungkook sudah berulang kali menyeru namanya, namun Taehyung seakan tuli.

Taehyung menunduk melihat kolong ranjang milik Baekhyun, berfikir bahwa ada sesuatu yang dapat membantunya. Tepat. Dia menemukan sebuah brosur kecil bewarna merah dengan tulisan, ‘Kami membutuhkan ginjal yang sehat dan cocok’ dan tertera pula harga untuk satu ginjal bila cocok. Taehyung mundur, membaca setiap tulisan yang ada pada brosur merah itu.

Semakin membuatnya terkejut, harga untuuk satu ginjal adalah 100 juta won. Uang sebesar itu, dapat ia belikan sebuah mobil bila perlu. Selain mengecek harga, matanya berusaha mencari angka yang lain, telpon kantor tersebut. Jantungnya berdetak lebih kencang ketika ia mendapati sebuah bekas koyakan, yang akan di kirim apabila menyetujui pendonoran.

Dia mendapatkan nomornya.

Terhubung

‘kalian akan mati’

“Hallo! Hei! Di mana kalian menyimpan kakakku!” teriaknya emosi, tanpa mendengar kata ‘hallo’ dari si penerima.

“Maaf?” Emosi Taehyung semakin memanas dan ia seakan tak bisa manahannya lagi. Jantung Taehyung sudah berkali-kali menendang dadanya, hingga ia harus melepas dan menarik nafasnya lama. Dia takut Baekhyun memang berbuat sesuatu yang sangat ia hindari kebenarannya.

“Tolong cari pendonor bernama Baekhyun!” sentaknya meremas erat sudut ranjang.

“Tunggu…..” Jantung Taehyung bertalu-talu menunggu jawaban dari penerima di ujung sana. Dia berusaha yakin bahwa Baekhyun akan baik-baik saja, dan ia berdoa jika Baekhyun tidak mendonorkan ginjalnya dan pulang. Namun, itu hanyalah sesuatu yang ia jadikan sebagai alasan untuk meyakinkan dirinya sendiri meski dentuman jantungnya terasa bila ia menyentuh dadanya.

………………….

“Hallo tuan, pendonor bernama BAEKHYUN tidak ada di tempat. Dia pergi meninggalkan kantor sekitar 3 jam yang lalu”

“Apa?! Ja-“

“Dia juga tidak jadi mendonorkan ginjalnya”

 

Selimut kelegaan seakan mengelilinginya saat itu. Angin bahkan berhembus, menampar wajahnya yang memerah karena takut akan sesuatu. Dia menendang mainan remote controlnya keras serta melempar handphonenya ke ranjang setidaknya, untuk membuktikan kelegaannya. Taehyung merebahkan tubuhnya di atas ranjang Baekhyun, dan ia kira Jungkook sudah meninggalkannya sendiri.

Menatap langit-langit rumah yang ia tempeli dengan stiker dinosaurus pria berambut orange itu tertawa. Dia menempelnya bersama Baekhyun, 2 tahun lalu ketika dia masih berada di sekolah menengah. Bagaimana ia bersama Baekhyun menempelnya dengan saling menggelitik agar satu dari mereka terjatuh ke atas ranjang dengan wajah yang tentu lucu. Menyenangkan.

Taehyung selalu saja mengulang masa-masa bermainnya bersama Baekhyun yang ia kira lebih menyenangkan dari sekarang. Banyak hal yang sering mereka lakukan dulu, di banding kini yaitu Baekhyun yang selalu sibuk bekerja di sebuah toko harian. Pengalaman Taehyung yang dulunya bekerja pula, membuatnya menjadi lebih berhati-hati dengan Baekhyun karena ia pernah membinasakan Taehyung karena ikut mencari uang. Baekhyun pikir, dia yang harus memberi Taehyung uang atau yang ia perlukan tanpa melibatkan Taehyung.

 

Jam sudah menunjukan pukul 7 lebih 15 menit, tidak memberinya kesempatan untuk bersiap-siap karena jam pertama sudah di mulai sekitar 20 menit lalu. Taehyung menendang bantal yang menghalangi kakinya karena tanpa sadar ia meletakannya di ujung kaki.

Tidak di pungkiri, bahwa Taehyung benar-benar lamban. Mandi seperti hal yang sering di lakukan oleh burung-burung gereja di patung cawan rumahnya. Bahkan Taehyung lupa memakai sabun. Dia tidak peduli dengan itu, karena bau tubuhnya juga miliknya dan mereka juga tidak akan menuduhnya dengan sebutan, ‘si Taehyung yang tak mandi’

“Ah sial.” Pekiknya di setiap kegiatan yang membuatnya semakin lamban; menabrak kursi, meja, menjatuhkan gelas plastic yang berisi susu putih. Itu membuatnya frustasi. Mengingat tidak ada Baekhyun yang akan membangunkannya di pagi hari, itu menyusahkan dirinya secara pribadi. Jika pria sipit itu ada, mungkin Taehyung sudah tertidur pulas di kelas karena guru sejarahnya yang bercerita.

Dia sampai di sekolah pukul 8. Teman-temannya terkejut karena Taehyung terlambat hari ini. memang, Taehyung sering terlambat namun itu selalu saja ‘pas’ dengan bell yang berbunyi.

“Kau” guru sejarah itu menunjuk wajah Taehyung yang kusam, bahkan ada sedikit kotoran di sudut mata kirinya, “Maafkan aku, aku terlambat bangun. Maaf. Maafkan aku” berulang kali dia membungkuk, berusaha meminta kata ‘di maafkan’ oleh sang guru.

Guru tersebut menatapnya sekilas, lalu melanjutkan ceritanya yang berarti mengizinkan Taehyung untuk masuk. Taehyung lega, meski tatapan ‘olokan’ dari teman-temannya sungguh mengganggu.

 

 

“Taehyung!!” Namjoon merangkulnya ketika sekolah sudah berakhir di tandai dengan suara bell yang membuat mereka senang, “Hm?” Taehyung berhenti berjalan, perlahan mengikuti langkah Namjoon yang merangkulnya.

“Ku dengar, Baekhyun hilang. Kemana?” Taehyung terdiam, tidak menjawab sama sekali walaupun di otaknya sedang terpikir beberapa jawaban yang bagus,

“Tidak. Dia hanya pergi ke Busan” Taehyung menjawab sebisanya dan tidak berlebihan. Jawaban yang masuk akal dan Namjoon ia yakin tak akan tahu bahwa di balik kata ‘hilang’ ada sedikit kebenaran, “Benarkah? Untuk apa?” Taehyung mendengus, melepaskan rangkulan Namjoon lalu menginjak kakinya keras, “Kau banyak bertanya. Bye” Pria itu berlari sebelum Namjoon mengejarnya dan mendekapnya di bawah ketiaknya yang akan membuat Taehyung muntah sehabisnya. Dan dia berhasil lolos, meski Namjoon merutuk Taehyung keras-keras.

 

Untunglah Taehyung lolos dari Namjoon yang terus menerus merutuknya hingga siswa yang lain melihat mereka. Tetap seperti biasanya, Taehyung sama sekali tidak pernah peduli akan mereka yang melihatnya, baginya sesuatu yang bukan jadi masalah mereka, tak perlu di permasalahkan kan?.

Hari ini sedikit berbeda dari hari-hari sebelumnya. Bila di setiap hari ia hanya berjalan untuk pulang, mungkin terdengar biasa namun pulang dengan tidak ada Baekhyun di sampingnya, itu sedikit canggung di benaknya. Mengakui bahwa ia sungguh merindukan Baekhyun, adalah hal yang mudah bila ia hanya memendamnya dan tak menunjukkannya kepada Baekhyun. Namun terkadang, hal tersebut membuatnya patah hati sendiri. Bodoh memang.

Ketika ia berjalan, sesuatu bergetar di saku celananya. Dengan lekas ia merogohnya, berusaha mencari tahu siapa yang menelponnya sejak ia belajar. Matanya menyipit. Dia tidak tahu kode nomor yang menelponnya. Ada sisi keraguan di hatinya, untuk mengangkat atau tidak namun ia..

“Hallo”

“Taehyung…” suara yang sungguh ia kenal. Sangat.

“Baekhyun?”

“Hm”

“Hei! kau di mana idiot? Aihh” terdengar suara kekehan kecil di ujung sana ketika ia marah. Jujur saja, Taehyung sebetulnya senang karena Baekhyun menghubunginya setelah kemarin ia menyibukan nomor telponnya.

“Aku masih di Busan, jemput aku pukul 5 di Halte dekat sekolah”

“Pulanglah sendiri” Taehyung menekan tombol off untuk mengakhiri panggilannya bersama Baekhyun yang membuatnya bahagia sampai kegirangan. Berat sebetulnya untuk berhenti bicara bersama Baekhyun ketika dia sedang merindukan suara dengan logat kental milik Baekhyun. Namun terkadang, rasa gengsinya mengalahkan rasa rindunya yang tak kalah besar. Kebahagian di campur rasa kelegaan menjadi bersatu darah daging di tubuhnya saat ini. Menjadi beban untuknya saat dia harus mengakui bahwa ia menyayangi betul Baekhyun. Ia bahkan tak tahu alasan yang harus ia jelaskan, bila begini jadinya. Menyayangi Baekhyun, hanya akan ia simpan di dalam hatinya, menyimpannya dalam-dalam dan tak akan ia tunjukkan dengan kelembutan bahkan sikap. Rona merah di pipinya akan selalu muncul ketika Baekhyun menciumnya, mengacak rambutnya lembut, memeluknya tanpa sengaja saat ia tidur, menyuapkannya makan saat dia sakit, itu semua terasa canggung namun ia suka.

Sesampai ia di depan pintu pagar, tubuhnya terdiam sejenak. Melihat pintu yang tak terkuncu itu adalah hal aneh yang pernah ia lihat. Bagaimana tidak, apakah dia lupa mengunci? Itu tak mungkin baginya namun mungkin bagi seseorang yang lain. Memang menjadi kebiasaannya mengunci pagar, namun tanpa ia sadar tadi pagi ia terlalu terburu-buru hingga lupa mengunci pagar. “Sial. Aku lupa menutupnya” dia merutuk dirinya sendiri di depan pagar.

Setelah cukup puas merutuk bahkan menghujat dirinya itu, ia memasuki rumah dengan bersemangat. Bagaimanapun juga, Baekhyun akan kembali hari ini dan ia berharap bahwa Baekhyun tidak akan pergi lagi dengan kebohongan dan membuatnya takut.

“Hallo Taehyung!!!” pekikkan suara itu membuatnya terperanjat sampai ia harus bersandar di balik dinding. Seseorang yang ia pikirkan sejak tadi, tiba-tiba menyambutnya di ambang pintu masuk yaitu Baekhyun. Taehyung memejamkan matanya, mengatur nafasnya yang hampir terputus karena Baekhyun.

“Ya! kau idiot!” sahutnya menatap Baekhyun marah. Namun seperti biasanya, Baekhyun hanya akan menyeringai bodoh lalu berakhir mencium Taehyung di bagian pipi bahkan bibir kadang. “Kau tidak merindukanku ya? jahat sekali” Baekhyun berakting dengan memaparkan wajah sedih, dan Taehyung meresponnya dengan tatapan menjijikan, “Ya! sudah kau sumbangan ginjal yang kau anggap tak berguna itu, hah?! Kau gila? Aih, aku tak habis pikir dengan keputusan gilamu itu, bodoh!” kalimat yang bertubi-tubi di keluarkan oleh Taehyung seperti Ibu bagi Baekhyun. Seseorang yang selalu saja akan mengomel apabila anaknya, melakukan hal yang tidak senonoh. Tapi Baekhyun menyukai semuanya, menyukai kekhawatiran Taehyung yang berusaha ia sembunyikan dengan memarahi BAekhyun. Meski umur mereka berbeda 3 tahun.

“Baiklah, baiklah. Aku minta maaf atas semua kelakuanku, ok? Toh aku tidak jadi mendonorkannya kan?” Baekhyun mengelus rambut Taehyung lembut(Taehyung diam-diam merindukan sentuhan Baekhyun)

“Tapi, ah lupakan! Minggir, aku mau lewat” Taehyung menyenggolnya setelah Baekhyun puas mencium dan memeluknya tadi. Bibirnya tertarik membentuk senyuman manis ketika berjalan melewati Baekhyun. Segalanya sudah kembali semula, dan kemungkinan besar Taehyung tidak akan terlambat lagi besok karena terlambat bangun.

Taehyung masuk ke dalam kamarnya dengan bibir yang tertarik membentuk sebuah senyuman yang selalu ia berikan, di balik Baekhyun. Dia senang melihat Baekhyun kembali pulang dengan keadaan yang baik-baik saja tanpa luka sedikitpun di tubuhnya. Taehyung segera menuju kamarnya untuk mengganti baju seragamnya, lalu membantu Baekhyun memasak makanan hari ini. Baekhyun bahkan sudah menyiapkan semuanya sebelum Baekhyun pulang.

Menu hari ini tidak jauh berbeda denga menu hari-hari sebelumnya, karena Baekhyun berusaha untuk menghemat pengeluaran. Taehyung memaklumi semua itu, karena ia tahu bahwa Baekhyun sudah bekerja setiap hari.  “Taehyung, bisa belikan aku kecambah?” Taehyung menghentikan kegiatan memasak nasinya, menghampiri Baekhyun yang sudah merogoh isi dompetnya. Tidak perlu memerlukan waktu yang lama, Taehyung langsung melesat pergi karena hari sudah semakin mendung, ia takut ketika dia pulang hujan sudah turun.

Di perjalan pulang setelah membeli kecambah, layar besar yang berada di puncak gedung-gedung besar itu menampilkan beberapa berita terkini hari ini. Taehyung biasanya tidak terlalu mendengarkan kabar-kabar terkini kecuali berhubungan dengan dunia golf. Dia berhenti di tepi jalan. Melihat gambar yang mereka tampilkan di layar besar itu. Matanya menyipit, seakan memastikan sesuatu yang sepertinya ia tahu bahkan tahu sekali.

Pembunuhan yang terjadi di sekolah menengah terjadi sekitar 2 minggu lalu, tanpa alasan yang tak begitu jelas. Pihak kepolisian masih mencari  tahu alasan terjadinya pembunuhan ini.

Berita yang membuat hatinya bergetar hebat. Meski wajah mayat tersebut tak terlalu tampak, tapi seragam yang mereka kenakan merupakan seragam yang sama dengannya. Sulit untuk melihat wajah korban karena tertupi oleh wartawan yang sedang meliput. “Mungkin Jungkook tahu” gumamnya lalu pergi meninggalkan kota dengan bungkus hitam yang terpegang erat di tangan kirinya.

Hari semakin sore dan langit yang awalnya biru di lapisi awan-awan sirus yang tipis, kini berubah menjadi abu-abu. Sepertinya kota Seoul akan turun hujan di tandai dengan timbulnya awan kumolonimbus. Awan itu adalah awan yang menyebabkan hujan lebat serta petir di setiap butiran hujan yang jatuh ke tanah.

Baekhyun dengan cepat mengangkat beberapa pakaian dirinya dan Taehyung yang baru ia cuci tadi siang. Tak lupa, Taehyung pula ikut membantu bahkan tanpa Baekhyun perintah. Pakaiannya cukup banyak, dan angin juga berhembus semakin kecang sore itu. Sebagian pakaian terjatuh ke tanah dan kebanyakan adalah pakaian Baekhyun. Taehyung meliriknya sekilas dengan segumpal pakaian kering namun ada beberapa yang masih lembab di tangannya. Dia berlari membawa pakaian tersebut ke dalam, lalu turun kembali menolong Baekhyun yang masih mengambil kembali pakaiannya yang kembali kotor.

“Biarkan aku mengambilnya” ucap Taehyung dengan sedikit berteriak agar Baekhyun mendengarnya. Hujan sudah turun dan membahasi dua kakak beradik ini. Pakaian mereka kembali basah bahkan kotor, namun tetap saja mereka mengambilnya kembali untuk di cuci, lagi.

Baekhyun menutup pintu yang membawanya langsung ke halaman belakang rumahnya. Ia meraih handuk yang tergantung di sebuah paku buatan, mengeringkan seluruh tubuhnya karena basah. Baekhyun mencari Taehyung saat itu. Sampai ia tersenyum mendapati bocah kecil itu berlari seraya memeluk handuk menuju kamar mandi.

“Aku mencintaimu” gumamnya, melanjutkan kegiatannya yaitu mengeringkan seluruh tubuhnya.

===

 

Hujan tak kunjung berhenti hingga malam. Taehyung menyalakan penghangat ruangan untuk membuatnya agar lebih hangat. Sementara Baekhyun, ia memasak dan membuat cokelat panas untuk Taehyung beserta dirinya sendiri. Karena ia pikir, membuat cokelat panas adalah hal yang bagus untuk cuaca dingin.

“Taehyung…” panggil seseorang. Taehyung mengerling. Menatap pintu yang tertutup rapat terdengar seseorang memanggil namanya meski samar-samar. Dia bahkan berfikir, itu adalah seorang pengemis yang jatuh cinta pada ketampanannya, namun khalayannya terhenti saat ia mendapati Hoseok berdiri layaknya orang bodoh di ambang pintu.

“Ayo cepat biarkan aku masuk!” katanya ketika Taehyung masih saja melihatnya meski seluruh badan Hoseok sudah basah kuyup serta wajah yang begitu pucat. Tanpa Taehyung suruh, ia dengan lekas memasuki rumah Taehyung lalu berlari ke arah dapur. Tak lupa ia menunduk kepada Baekhyun yang sangat terkejut atas kedatangannya yang tiba-tiba.

“Kemana orang itu?”

“Ke kamar mandi. Ku kira dia kehujanan, dan siapa itu?”

“Hoseok. Kelas 2” Baekhyun mengangguk. Kembali melanjutkan aktivitasnya membuat cokelat panas namun ia memutuskan membuat yang baru untuk Hoseok. Anak itu ternyata memiliki teman pula.

===

Menonton drama atau bahkan film, adalah kesukaan mereka ketika besok merupakan hari libur sekolah. Menonton hingga larut malam, merupakan kebiasaan yang tak akan pernah bisa mereka buang meski kadang Baekhyun sudah mengeluarkan salivanya di sudut bibir sambil tertidur. Baekhyun memang tidak bisa tidur larut seperti Taehyung. Tapi kadang Baekhyun selalu menantang Taehyung untuk berlomba, siapa yang lebih lama terjaga dan tentu akan berakhir dengan Taehyung yang menjadi pemenangnya.

“Cengeng sekali” komentarnya saat chanel sedang menyambungkan liputan iklan handphone, “Karena kami masih memiliki perasaan. Tidak sepertimu” sahut Hoseok sembari me-lap wajahnya menggunakan tisu karena menangis. Taehyung tidak merespondnya sebab ia pikir, jawaban Hoseok sudah tak akan bisa ia jawab bahkan ia pungkiri lagi. Baekhyun yang melihat, hanya tersenyum seraya menikmati cokelat hangat yang hampir membeku karena dingin.

“Taehyung-a! kau tidak menanyakan kenapa aku datang, ya?” Hoseok mengerling Taehyung yang sedang menatap televisi dengan serius namun pikirannya tak berada di rumah. Taehyung menoleh, menghela nafasnya kasar menatap Hoseok.

“Tentu untuk menumpang mandi” Baekhyun terbahak mendengar jawaban Taehyung yang sungguh membuat Hoseok menjadi kesal. Menjadi kebiasaannya ketika sedangtidak ingin bicara, ia akan menjawab sesuatu yang tidak masuk akal bahkan tidak terpikir oleh siapapun. Baekhyun hanya terus menahan tawanya.

“Kau gila. Aku hanya ingin bercerita tentang Jimin.” Taehyung mengernyit. Tidak biasanya Hoseok menceritakan Jimin kepadanya. Yang ia tahu, Jimin bersama Hoseok adalah musuh dalam pertandingan basket. Yang Taehyung tahu, Hoseok beberapa pekan lalu berkelahi bersama Jimin di sebuah terminal tak terpakai karena hanya mempermasalahkan siapa yang pantas menjadi kapten basket. Tidak hanya itu, pernah mereka berkelahi hanya karena menentukan siapa yang harus masuk lebih dulu ke toilet.

“Dia mati!” Taehyung bersama Baekhyun hampir saja memuntahkan seluruh isi di mulutnya karena terkejut. Meskipun Baekhyun tidak terlalu mengenal Jimin, tapi setidaknya Baekhyun tahu Jimin sebagai pemain basket di sekolah. Dia kira, Jimin anak yang baik dan sedikit berani mengambil resiko. Tapi mendengar bahwa Jimin sudah meninggal, Baekhyun masih benar-benar belum percaya seutuhnya.

“Ke..kenapa?” sahutnya tergagap karena tegag mendengar bahwa Jimin yang tidak dekat dengannya telah pergi. Tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Ku dengar, 2 tahun kemarin ia ingin mendonorkan ginjalnya di Busan.. namun tidak jadi karena Ibunya membawanya pergi sebelum operasi. Dan salah satu dari mereka, tetap mengincarnya.” Jelas Hoseok membiarkan drama tersebut menjadi tidak memiliki penonton di sana. Taehyung masih cukup heran dengan pernyataan Hoseok yang tidak masuk akal namun sebetulnya dapat di terima karena mungkin saja ‘pihak’ tersebut benar-benar menginginkannya. Sesuatu yang membuat dirinya tertegun adalah ketika Hoseok membahas mengenai ginjal. Kata yang sedikit sensitive  baginya untuk saat ini karena Baekhyun nyaris memberikannya.

Meskipun Hoseok terdengar hanya sekedar bercerita pengalaman yang ia dengar atau lihat-lah itu, namun di benak Taehyung ada sesuatu yang seakan mengingatkannya untuk menjaga lebih Baekhyun akhir-akhir ini.

“apakah yang baru saja yang ada di berita terkini?” kebetulan Taehyung teringat dengan berita yang ia lihat di kota tadi. Hoseok menggeleng pelan. Pertanda bahwa itu bukan Jimin yang sudah pergi akibat pembunuhan, namun siswa yang lainnya.

“Lalu? Siapa? mengapa ia menggunakan pakaian yang sama? Dan kalau tidak salah, aku melihat pita merah di sisi kiri bajunya, yang berarti dia sudah kelas 2.” Tutur Taehyung namun Hoseo tetap diam. Dia berubah dengan cepat semenjak Taehyung bertanya apakah berita hari ini adalah mengenai Jimin.

Hoseok tetap diam, dan berakhir dengan berpamitan untuk pulang di hujan yang cukup deras.

TBC

 

About fanfictionside

just me

7 thoughts on “FF/ JUST LOVING ME LIKE YOUR DIRACTION/ BTS-EXO/ pt. 2

  1. Ini misteri apa gimana thor? Kok jadi serem:” well suka banget sama sifat ByunBaek ke Taehyung hoho… ditunggu kelanjutannyaa

  2. Aduh ini aku sbenernya masih agak bingunv nih gimana maksudnya . Untung aja baekhyun ga jadi donorin ginjalnya . Author yang cantik plis yaaa jangan buat baekhyun meninggal d ff ini . Next aku tunggu ^^

  3. Kan bener ad lnjutan ny,.. Soal ny yg kmren gntung.
    Baekhyun ma taehyung serasa kx bromance bgt dsni.
    Cerita ny bkin pnsaran, dan bikin nebak” sndri klnjutanny,.
    Dan ada ap dengn hoseok?? Bgtu d sangkut pautkan dg sswa yg mati lgsg brsikap aneh.
    Keren thor..
    Hwaithing..

  4. Wow amazing akhirnya baek ga jadi donorin darahnya -3- oiya thor satu lagi siapa orangnya? Yg pake pita merah thor? Jd kepo deh cepet lanjutin ya thor jan lama lama fighting ‘-‘9

  5. Yah TBC ;(
    aduuuh thor penasaran T_T siapa yg di bunuh dan jgn sampe sii baekhyun gra” gk jdi donorin ginjal jdi di incar kya jimin ;(

    thor aku bingung di sini baekhyun sma taehyung cinta nya kakak ade atau……
    -_- entahlah
    next chapter ppali juseyo🙂

  6. njir TBC mengganggu asli -,- penasaranlah sama jimin ih :3 apa ntar baekhyun juga gitu? /gakkkk

    cepet dilanjut! fighting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s