FF/ DARKSIDE/ BTS-bangtan/ pt. 12


Title : Darkside (Chapter 12)

Sub-chapter title :  Punishment

Author : A-Mysty ♕ (author tetap)

Cast :   Ahn Hye Min (OC)

            Ryu Eun Soo

            Cha In Hyong

            Park Ji Min

Kim Tae Hyung

 Kim Nam Joon

Min Yoon Gi

Length : Chapter

Genre : Adventure, Love-life, School life, Mystery, Horror, Thriller, Fantasy.

 

 

 

images(1)

 

 

 

 

Review:

Ketika mendengar semua celotehan gadis itu, Yoongi tiba-tiba saja tersenyum tanpa alasan yang jelas. Ia menopangkan dagunya dan mendelik ke arah pintu UKS. Ia kembali tersenyum aneh.

“Sepertinya… ada yang datang ke sini.” ujarnya licik. ‘Kita lihat saja. Hukuman apa yang pantas diterima oleh seorang penguping’ batinnya terasa sangat senang.

///

Hye Min masih mengingat jelas ketika matanya bertemu pandang dengan Jimin saat hendak keluar kelas. Rasa ia ingin sekali menyapa Jimin seperti biasa, tapi sepertinya itu tidak memungkin untuk saat ini. Jimin menatapnya sedikit tajam dan tak acuh. Itu sebabnya ia lebih memilih mengunci bibirnya rapat-rapat. Tapi karena itu juga, sebuah beban dibatinnya semakin terasa.

Kini, ia berjalan sendirian diwaktu sekolah telah berakhir. Diantara semua siswa yang tengah berjalan bersama-sama, hanya dia-lah yang sendirian. Jimin sepertinya sudah berjalan dan pulang lebih dahulu dari padanya. Sesekali, Hye Min menoleh ke belakang berharap Jimin sedang berjalan menujunya dengan senyum uniknya itu. Gadis itu kembali menatap lurus ke depan dan mengembuskan napas beratnya. Sepi. Rasanya ia kesepian. Dari awal bel istirahat pertama berbunyi, Hye Min tidak melihat Taehyung. Benar-benar tidak terlihat. Ia mengembuskan napas berat dengan rasa tertekan lagi.

Gadis itu berjalan dengan kepala yang sedikit menunduk. Rasanya matanya kembali panas dan perih. Buliran air bening itu seakan-akan menghalangi penglihatannya. Ia kembali menyalahkan dirinya sendiri tanpa alasan yang jelas, dan sebuah pertanyaan yang tak logis muncul dipikirannya.

‘Apa aku ini juga bukan manusia? Haha… Itu konyol, Hye Min-ah!’ batinnya terus perang melalui rutukkan dirinya sendiri. Ia bertengkar dengan dirinya sendiri seperti menatap cermin yang tengah memantulkan bayangan dirinya.

Namun, suara batinnya itu membuat dua bulir bening itu kembali jatuh. Ia semakin menundukkan kepalanya dan berhenti melangkah. Tak peduli berapa kali tubuhnya ditabrak oleh kalangan siswa yang masih berlalu lalang, ia tetap menghentikan langkahnya di sana. Ia menjilat bibirnya yang kering dan membiarkan buliran air itu jatuh.

‘Aku harus apa sekarang?’ hatinya terus saja bergumam.

Ia mengelap air matanya perlahan. Ketika ia hendak mengadahkan kepalanya kembali, seseorang langsung menarik tangannya erat, membuat badannya sedikit terhempas ke depan cukup kencang. Tapi, untung saja ia dapat menjaga keseimbangan badannya. Ia tahu yang tengah menariknya saat ini adalah laki-laki. Awalnya, ia tersenyum senang jika laki-laki itu adalah Jimin. Sayangnya, orang yang menariknya bukanlah Jimin, melainkan Namjoon.

“Ikut aku!” ujar Namjoon dengan suara cukup tegas. Ia berkata dengan volume suara yang dapat ditangkap oleh gendang telinga Hye Min, namun ia tidak menatap Hye Min sama sekali.

Namjoon menariknya ke taman belakang sekolah. Ia juga mendudukkan Hye Min di kursi tua yang sama. Hanya saja, kondisi kursi sedikit aneh dengan kaki yang bengkok. Hye Min mengikuti apa yang Namjoon suruh padanya melalui gerakan itu. Gadis itu menatap sekitar dirinya. Di tempat itu, di kursi itu, ia bertemu dan menghadapi pelaku pembunuhan secara langsung dan juga sendirian.

Namjoon ikut terduduk di sebelah Hye Min dengan napas yang mengembus berat. Ia menoleh ke segala arah, kemudian menatap gadis yang tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Ia tahu gadis itu sedih karena hal tadi pagi. Bertengkar dengan sahabat adalah hal yang buruk bagi gadis itu.

“Apa kau tak apa?” tanya Namjoon dengan suara pelan. Ia merasa bodoh sekarang karena menanyakan pertanyaan itu.

Hye Min mengangkat kepalanya, lalu menatap Namjoon. Sorot matanya terlihat berbeda dari biasanya. Gadis itu seperti menahan tangisnya, “Aku tak apa. Sudahlah, bukankah aku sudah mengatakannya berkali-kali?”

Namjoon mengembuskan napasnya lagi dengan cukup berat, “Ya, aku sudah dengar itu. Tapi dari fisikmu itu, kau tidak terlihat bahwa kau ‘baik-baik saja’”

Tanpa terasa sebulir air bening itu meluncur bebas dari pelupuk mata Hye Min. Dengan cepat, gadis itu mengelap bulir air matanya itu. Namun, buliran air mata itu semakin banyak. Ia tidak bisa menahannya lebih lama. Pada akhirnya, ia tidak menyahut ucapan Namjoon. Ia terus berusaha mengelap air matanya hingga benar-benar mongering.

“Ah! Sial! Kenapa air ini terus saja keluar, sih?!” umpat Hye min sambil terus mengelap pelupuk matanya dengan menggunakan lengan jas sekolahnya.

Namjoon diam tidak mengeluarkan suara lagi. Ia membiarkan gadis itu mengumpat dan menyelesaikan ‘tangis’-nya. Ia berdeham pelan dan menopang dahinya sesaat. Ia memikirkan langkah selanjutnya yang memang harus ia lakukan untuk ‘menjaga’ gadis di sebelahnya itu dari Yeowang.

Tetapi, Namjoon tidak mau berlama-lama untuk diam saja. Ia menatap Hye Min yang masih menekan-nekan pelupuk matanya pelan untuk menahan air matanya, kemudian berkata, “Kalau kau memiliki sesuatu yang ingin kau ceritakan, kau ceritakan saja.”

Hye mIn menatap Namjoon dengan delikkan matanya saja, “Hmm… Tidak ada. Aku hanya merasa kesepian saja. Tidak ada yang perlu aku ceritakan secara detail, kan?”

“Aku tahu kau berbohong. Aku tahu kau merasa sangat bersalah kepada kedua temanmu itu. Apalagi, Taehyung… Aku benar, kan?” Namjoon menatap Hye Min santai namun, menenangkan. Ia juga sedikit tersenyum dan menampil sepasang lesung pipi yang manis.

Hye Min menatap Namjoon dengan mata yang kembali memanas, “Sunbae…” Gadis itu kembali melepaskan buliran air matanya. Ia menutup wajah dengan kedua telapaknya.

Namjoon masih tersenyum, “Jangan pernah berusaha menyembunyikan sesuatu yang tak bisa kau sembunyikan. Aku tahu kau menyukainya…”

Hye Min melepaskan kedua telapak tangannya dari kedua wajahnya. Ia mengelap matanya lagi, kemudian bergumam, “Aku juga bingung dengan apa yang aku rasakan. Kalau ditanya aku menyukainya, aku tidak bisa langsung menjawabnya. Tapi, sepertinya lebih ke tidak. Aku tidak memiliki perasaan apapun pada laki-laki itu.” Ia bergumam pelan dengan penuh penjelasan.

“Kau yakin? Apa kau sedang berbohong lagi?” serdik Namjoon dengan nada yang mengalun bersama dengan ejekan yang tersirat.

“Aku yakin itu. Aku tidak menyukai Taehyung. Sama sekali tidak.” jawab Hye Min pasti. Kini, air matanya sudah mulai berhenti mengalir. Bahkan, sudah berganti dengan tatapan seriusnya yang agak menusuk itu.

“Benarkah? Tapi, kenapa kau merasa sangat bersalah seperti itu? Kau juga tadi mengatakan, kalau kau kesepian, kan?” Namjoon tak henti-hentinya menyerdik Hye Min dengan alunan ucapan mengejek.

“Apa aku terlihat sedang bercanda? Sunbae, aku kesepian karena tidak ada yang mengajakku berbicara dengan ramah lagi. Mereka yang biasanya selalu membuatku dan Eun Soo tertawa, sudah menjauhiku mulai hari ini. Memangnya siapa yang suka bertengkar dan pada akhirnya berjauhan dengan teman seperti itu? Tidak ada, kan?” jelas Hye Min serius. Ia sedikit menghalaukan tatapan setengah mengejek Namjoon.

Namjoon mendengus tertawa kecil, ia membuang tatapannya sesaat dari pandangan mata Hye Min, “Maaf, aku hanya bergurau. Kalau kau merasa sangat bersalah dengan mereka berdua, terutama Taehyung, kenapa kau tidak mencarinya?”

“Untuk apa?” tanya Hye Min dengan dahi yang mengerut.

Namjoon menatap Hye Min lagi, “Meminta maaf padanya. Kau jelaskan semuanya yang ada pada buku itu. Aku rasa dia sangat berperan kuat untuk menghalangi langkah Yeowang yang akan mengambilmu.”

Hye Min terdiam sejenak. Setelah Namjoon mengatakan bahwa ia harus meminta maaf, terbesit diotaknya sebuah ide yang tidak terpikirkan. Ia merasa bodoh karena tidak terpikirkan sebelumnya. Ia tidak berpikir bahawa ia harus mencari Taehyung dan meminta maaf pada laki-laki itu. Baiklah, ia kembali salah jalan.

Hye Min mengembuskan napasnya, “Aku rasa aku salah ambil jalan keluar.”

Namjoon tersenyum kecil mendengar tanggapan Hye Min yang lesu itu. Ia sangat yakin gadis itu akan menangis lagi. Kemudian tangannya terulur untuk mengacak-acak rambut Hye Min asal. Meskipun sedikit canggung, Namjoon berusaha untuk tidak membuat suasana semakin canggung, “Mungkin. Kenapa kau tidak mencarinya sekarang?”

Gadis itu terdiam merasakan telapak tangan yang tengah mengacak rambutnya asal, namun lembut. Kemudian ia berdeham, “Hmm… Maaf, bisa kau lepaskan tanganmu dari kepalaku? Aku tidak suka di tenangkan dengan cara seperti itu.”

“Ah! Maaf,” ujar namjoon yang langsung menarik tangannya. Suasana canggung semakin mencengkam. “Kalau begitu, kenapa kau masih diam saja? Cari dia dan minta maaf.”

“Tapi, aku harus pulang. Harusnya aku sudah naik bus sekarang! Andai saja sunbae tidak menarikku ke sini, pasti aku tidak akan tertinggal bus.” umpat Hye Min tertele-tele. Ia menjelaskan dengan gerakan tangan yang tidak beraturan.

“Justru itu. Kalau kau sudah tertinggal bus, kau bisa bisa gunakan waktu yang ada untuk mencari Taehyung, kan? Hitung-hitung waktu untuk menunggu bus selanjutnya datang.” balas Namjoon lagi.

“Bus itu tidak punya jadwal. Mereka datang kalau memang sedang melewati rute yang ada.” balas Hye Min yang masih keukeuh untuk tidak mengikuti ujaran Namjoon sebelumnya.

“Kalau kau memilih untuk pulang, berarti kau kabur dari kesalahpahaman ini namanya.” balas Namjoon lagi. Ia terlihat santai dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi tua itu.

“Aku tidak kabur dari hal ini! Aku hanya ingin menenangkan pikiranku dulu saja. Aku ingin melepas semua hal baru yang membuat kepalaku hampir pecah ini!” Hye Min berceloteh dengan nada yang semakin meninggi. Ketika selesai berceloteh, ia mengatur deru napasnya. Baiklah, sifat egois dan keras kepalanya kembali muncul.

Namjoon sedikit melongo menatap celotehan keras Hye Min. Namun tak lama kemudian, ia tertawa kecil. “Jangan marah seperti itu. Aku ‘kan hanya bercanda. Tapi, candaanku itu juga saran.”

“…” Hye Min tertegun sejenak. Ia memijat dahinya pelan untuk menghilangkan berat di kepalanya itu.

“Sudahlah. Daripada kau menangis menyalahkan dirimu sendiri, lebih baik kau mencari Taehyung lalu meminta maaf. Aku yakin dia akan mengerti.” ujar Namjoon lagi.

“Bagaimana kalau dia sudah pulang? Lalu, bagaimana dengan Jimin?” tanya Hye Min bertubi-tubi.

“Dia belum pulang. Aku yakin itu. Soal Jimin, biar aku saja yang menjelaskan semua padanya.” Namjoon mengembuskan napas lelahnya perlahan. Ia menengakkan tubuhnya lagi, dan meluruskan kakinya ke tanah.

“Darimana kau tahu? Dan, kenapa kau yang menjelaskan kepada Jimin? Kenapa kau saja yang menjelaskan pada Taehyung dan aku menemui Jimin?” tanya Hye Min lagi. Sifat masa lampaunya kembali muncul. Namjoon bisa merasakan Shin Ah Jung masa lampau sekarang.

Namjoon mengembuskan napas jengkelnya. Gadis yang ada di sampingnya ini terlalu banyak berceloteh dan keras kepala. Andai saja Hye Min terlahir bukan seorang gadis, ingin sekali ia memotong lidah Hye Min itu. Namun, sebisa mungkin Namjoon menahan jengkelnya. Meskipun, cara bicara Hye Min untuk saat ini sangat menjengkelkan. Ditambah, pertanyaan dan penawaran itu.

“Karena dia butuh penjelasan darimu. Dia-lah yang paling merasa dibohongi olehmu. Kau tidak ingat ketika kau bertengkar dengannya dan menuduhnya sebagai pembohong? Kini, kau-lah yang ia nilai sebagai pembohong. Percaya padaku, dia hanya butuh penjelasan darimu. Kalau aku yang menjelaskan padanya, ia pasti akan berpikir yang tidak-tidak padaku. Mengerti? Jadi, hentikan celotehan menjengkelkanmu itu!” jelas Namjoon, dengan akhiran cukup keras.

Hye Min sedikit melengos terkejut dengan suara kencang Namjoon diakhir sarannya. Ia menundukkan kepalanya bersalah. ‘Ada apa dengan diriku? Kenapa aku tidak bisa mengatur rasa ego-ku sendiri?’ batinnya kembali merutuki dirinya sendiri.

“Cari dia sekarang. Atau…”

“SIAPA KAU?!”

Namjoon menggantungkan ucapannya dan mendelik. Hye Min yang sedikit terkejut dengan teriakkan itu, langsung mengangkat kepalanya. Ia menerawang ke sekitar. Kemudian, kepalanya menatap ke atas lurus-lurus. Di atap sekolah yang datar itu, ia bisa melihat seseorang yang melangkah ke sana-sini tanpa berhenti.

“Ini bahaya!” ujar Namjoon tiba-tiba yang langsung bangkit. Ia juga menarik paksa Hye Min untuk berdiri dan menatapnya.

“Ada apa?” tanya Hye mIn bingung. Tatapan Namjoon terlihat begitu cemas dan terburu-buru. Laki-laki itu juga mencengkram kedua bahu Hye Min cukup erat.

“Sekarang kau cari Taehyung sampai ketemu dan jelaskan semuanya padanya. Soal Jimin, biarkan aku saja. Sekarang kau harus mencari Taehyung secepatnya, sebelum ia benar-benar pergi.” jelas Namjoon cepat-cepat. Ia langsung membalikkan tubuh gadis itu dan menodrongnya untuk masuk ke dalam gedung sekolah lewat pintu samping.

“Apa maksud, Sunbae?!” tanya Hye Min yang merasa punggungnya didorong kuat oleh Namjoon.

“CARI TAEHYUNG DAN JELASKAN SEMUANYA PADANYA SEBELUM TERLAMBAT!” ujar Namjoon dengan suara teriak, kemudian menutup pintu samping sekolah itu kencang hingga sedikit bergetar.

Hye Min terdiam sebentar untuk menatap pintu yang sudah tertutup rapat itu. Kemudian ia menggelengkan kepalanya tidak jelas, dan mengepalkan tangannya erat. Tanpa ragu, ia membalikkan tubuh dan berlari ke seluruh penjuru gedung sekolahnya itu. Ia berlari sekencang mungkin, dan membuka tiap pintu kelas yang ia lewati.

‘Taehyung-ah! Apa kau sudah pulang? Dimana kau?’

Gadis itu membuka pintu UKS cukup keras. Tak ada siapa-siapa di sana. Padahal ia sangat berharap Dokter Jung di sana. Karena Dokter Jung adalah satu-satunya wanita muda yang dekat dengannya. Siapa tahu, Dokter Jung berbaik hati untuk membantu mencari Taehyung. Tapi, ruang UKS terlihat amat sepi dan sunyi. Hye min kembali berlari dan meninggal pintu UKS yang terbuka begitu saja.

Ia tidak henti-hentinya membuka pintu ruangan ia yang lalui. Sesekali ia berteriak memanggil nama orang yang ia tengah cari itu. Tak ada balasan dan tak ada sahutan. Beberapa siswa yang masih di sekolah pun menatapnya heran. Hye Min merasakan matanya kembali memanas dan ingin sekali menangis.

“Kau mencari Taehyung?” tanya seseorang.

“Ya?” jawab Hye Min dengan bibir yang mulai mengering dan bergetar.

“Ia baru saja menerima hukumannya karena tidak mengikuti pelajaran jam pertama sampai jam ke-empat. Ia berada di lorong lantai 3. Kau bisa ke sana.” jelas orang itu dengan sedikit senyum tipis. Orang yang bernama Gong Pyo, teman sekelas Taehyung, terlihat santai menjelaskannya.

“Terima kasih…” Hye Min memicingkan matanya untuk membaca nametag yang disemat di dada kanan laki-laki itu. “Gyo Pyo-ah! Terima kasih!” Hye Min membungkukkan badannya sekilas.

Gyo Pyo hanya mengangguk dengan senyum tipis. Ia menatap Hye Min yang berlari kencang menuju lantai 3 itu. Namun, sesroang memecahkan senyum tipisnya hingga membuatnya bergidik.

“Mau ikut denganku?” ujar orang itu dengan senyum aneh.

Seketika itu juga, kedua mata Gong Pyo membulat.

///

Jimin tak bisa menahan rasa kejutnya ketika seseorang memecahkan lamunannya di atap sekolah ini. Ia dikejutkan dengan kehadiran seorang laki-laki yang ia lihat di UKS bersama Dokter Jung tadi siang. Laki-laki yang tersenyum dengan gigi putih itu, sama sekali tidak mengeluarkan suara apapun.

“SIAPA KAU?!” ujar Jimin keras. Namun, laki-laki itu hanya membalasnya dengan suara kekehan licik.

Jimin berdiri dari posisinya dan berjalan mundur dengan tangan yang memberi isyarat kepada laki-laki itu untuk mundur. Namun, laki-laki yang tersenyum licik itu tidak menggubrisnya. Ia tetap melangkah maju dengan kedua tangan yang berada di saku celananya.

Sekali lagi, Jimin memundurkan langkahnya. Ia juga melihat ke belakang alih-alih agar ia tidak jatuh atau sudah mencapai ujung atap yang rata itu. Ia tidak bisa menahan ekspresi terkejut dan anehnya. Kerutan dahinya bahkan begitu terlihat.

“Kau mendengar semuanya, kan?” Pada akhirnya, laki-laki itu menghentikan langkah kakinya. Kemudian, membuka mulut dan melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat Jimin sedikit merinding.

“Apa… apa yang kau katakan? Mendengarkan apa?” tanya Jimin yang sedikit terusik.

Laki-laki itu tersenyum licik dengan setengah mengendus, “Kau adalah orang yang berada di depan UKS tadi, kan? Kau mendengar semua obrolanku dengan Dokter Jung, kan? Jangan kira kalau aku tidak melihatmu.”

Mata Jimin sedikit membulat. Ia tidak menyangka bahwa laki-laki yang ada di hadapannya mengetahuinya. Padahal, ia ingat betul kalau laki-laki itu tidak menoleh ke arahnya sama sekali. Jangankan menoleh, kedua mata laki-laki itu hanya menatap lawan bicaranya saja. Jimin sedikit meneguk ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa sangat kering.

“Kau yang ada di sana, kan?” Laki-laki itu kembali menyerdik.

Jimin mengatus ekspresi wajahnya agar sedikit terlihat tenang. Namun, tidak bisa. Ia mengembuskan napasnya, kemudian menjawab ucapan laki-laki itu. “Bagaimana… kau bisa tahu?”

Laki-laki itu mengendus tenang. Ia juga sempat terkekeh kecil mendengar pertanyaan Jimin itu. Laki-laki itu mengeluarkan tangannya dari sakunya, kemudian berkata, “Itu rahasiaku. Kita saja belum saling mengenal. Aku Min Yoon Gi. Anak dari kepala sekolah ini.”

“Tidak mungkin. Aku ingat betul kalau kepala sekolah tidak punya anak laki-laki sepertimu.” celoteh Jimin cepat.

Laki-laki yang bernama Yoongi itu menjentikkan jarinya sambil kembali tersenyum licik. Ia kembali terkekeh seperti memamerkan giginya, “Tepat sekali. Pertanyaanmu sama seperti teman perempuanmu kala itu. Aku memang bukan anak ‘tetap’ dari kepala sekolah. Tapi, aku hanya anak ‘sementara’” jelas laki-laki itu santai.

“Apa? Jadi… kau pelakunya? Kau yang membunuh semua orang yang menjadi misteri selama ini?” tanya Jimin langsung.

“Kau sudah mengetahui jawabannya.” sahut Yoongi cepat.

“Kau gila! Kenapa kau membunuh mereka yang tak bersalah?!” tanya Jimin keras.

“Aku membunuhnya sesuai dengan permintaan mereka. Gadis yang bernama Eun Soo itu, meminta dirinya untuk mati dan menyusul ibunya. Guru Yoo yang sedikit stress dengan pekerjaannya juga berkata yang sama. Ibunya Eun Soo juga berkata hal yang sama. Mi So juga mengatakan hal itu. Aku hanya melaksanakan tugasku saja.” jelas Yoongi mendelik ke suatu arah. Ia merasa ada yang menuju ke tempatnya saat ini.

Jimin terdiam dengan tubuh yang sedikit kaku. Ia terkejut ketika laki-laki ini adalah raja dari semuanya yang terjadi, “Jangan bilang kau juga yang membunuh In Hyong?!”

Yoongi kembali menatap Jimin dengan senyuman liciknya itu, “Benar sekali! Kau adalah anak yang pintar rupanya!”

“Kau pasti yang memaksakan mereka untuk mengatakannya!” serdik Jimin yang mulai melupakan rasa terkejut dan takutnya itu.

“Mengatakan apa? Aku tidak mengatakan apa-apa pada mereka. Mereka sendiri yang mengatakannya, kau tahu? Untuk apa kau membuang-buang tenaga hanya untuk hal itu?” balas Yoongi sinis.

“Aku tahu kau bisa memainkan ‘soul’ orang lain. Kau yang memainkan ‘soul’ mereka, kan? Kau sengaja melakukan hal ini untuk membuat Hye Min drop. Kau juga menggunakan ‘soul’ mereka untuk menghantuinya. Aku tahu itu!” sahut Jimin keras. Ia harus melawan sosok yang sudah menjadi penjahat dari semuanya ini.

“Kau hebat sekali. Kenapa kau sangat pintar, Park Ji Min? Ya, aku yang memainkan mereka semua. Apa kau juga mau? Aku bisa memainkan ‘soul’mu kapanpun…”

“Kau kemanakan jasad mereka?!” sela Jimin dengan pertanyaannya itu. Ia benar-benar tidak tahan untuk melihat dan mendengar celotehan laki-laki itu.

“Kau mau tahu?” tanya Yoongi dengan tatapan mengejeknya. Bola matanya berubah menjadi mengkilat seketika. “Kau benar ingin tahu?”

Jimin memundurkan langkahnya perlahan, “Ya, tentu.” jawabnya sedikit ragu.

Yoongi sedikit menjentikkan jarinya. Tiba-tiba saja, seorang gadis yang begitu familiar dimata Jimin muncul. Entah dari mana asalnya, gadis itu muncul dengan kedua tangan dan kaki yang diikat hingga membuatnya meringkuk. Jimin membulatkan matanya ketika melihat gadis yang terikat itu. Itu… adalah sosok yang paling ia cari…. Cha In Hyong.

“Kau tanyakan saja padanya. Dia adalah sosok yang paling kau cari, kan?” Nada bicara Yoongi memang seperti kurang ajar. Bola matanya yang sudah mengkilat itu, terus menatap Jimin tanpa berkedip.

“In Hyong-ah!” pekik Jimin tak tahan. Ingin sekali ia berlari mendekati gadis yang terikat dengan tambang besar itu, namun naluri dalam dirinya menahannya.

“Baiklah. Aku yang akan melepaskannya.” ujar Yoongi yang kemudian berjongkok di hadapan In Hyong dan melepas semua ikatan tambang besar itu. Tak tanggung-tanggung, bukan membantu gadis itu berdiri dengan lembut, Yoongi malah menjambak rambut gadis itu agar berdiri dengan paksaan yang keras.

“Jauhkan tanganmu darinya! Kau hanya melukainya!” pekik Jimin sekali lagi. Kedua matanya tidak lepas menatap In Hyong yang dipenuhi luka itu. “Lepaskan jambakkanmu!”

“Jimin…” In Hyong mengeluarkan suaranya yang lemah, hingga membuat Jimin terdiam. Namun, Yoongi tidak melepaskan jambakkan dari rambut gadis itu. “Aku mohon tolong aku…”

Jimin tidak bisa menahannya. Ia mengepalkan tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia juga menggigit bibir bagian dalamnya keras. Laki-laki itu sudah kelewatan melukai orang yang pernah ia sukai itu. Atau masih bisa dibilang, Jimin masih menyukai In Hyong.

Yoongi yang sedang tersenyum licik itu, menatap Jimin yang mulai terpancing amarahnya. Ia memanfaatkan kondisi ini dengan menarik wajah In Hyong ke hadapannya. Jimin dapat melihat apa yang dua orang itu lakukan dari tempat ia berdiri. Mereka terlihat seperti sedang berciuman. Padahal, Yoongi hanya melemparkan tatapannya itu dan memberi suatu isyarat pada In Hyong. Saat itu pula, kaki gadis itu melemas. Gadis itu terjatuh dengan kepala yang menunduk, membuat Jimin semakin memikirkan yang tidak-tidak.

“Wah! Sepertinya dia lelah…” ujar Yoongi dengan nada mengejeknya. “Kau urus saja dia. Nikmati waktu kalian. Selamat ber-reuni-an ria!” ujar Yoongi yang berjalan ke arah pintu atap sekolahnya.

Jimin berjalan menghampiri tubuh In Hyong yang terlihat lemas itu. In Hyong tidak mengangkat kepalanya atau menggerakannya sedikit pun. Jimin tak bisa menahan rasa kesal dan marahnya itu, langsung menarik gadis itu untuk berdiri, kemudian memeluknya. Yoongi dengan santai menonton semua acara ‘reuni’ yang manis itu dengan senyum kemenangan.

Sayangnya, acara ‘menonton’nya itu terganggu dengan kehadiran Namjoon yang tiba-tiba membuka pintu atap itu. Dengan cepat, Yoongi menghalau jalan Namjoon. Senyum kemenangan yang sangat licik itu masih menghiasi wajahnya. Namjoon menghentikan langkahnya ketika mendapati Yoongi menghalanginya.

“Ku terlambat, Namjoon-ssi…” ujar Yoongi yang masih menghalangi langkah laki-laki itu.

Namjoon tidak bisa menahan tatapan kesalnya terhadap Yoongi. Ia berusaha keras menyingkirkan Yoongi dari hadapannya, lalu pergi untuk menyadarkan Jimin. Namun, Yoongi tidak mau berpindah tempat. Ia pun menghajar Namjoon secara tiba-tiba, kemudian menelungkupkannya. Yoongi tersenyum puas, ketika ia sudah duduk dengan santainya di atas punggung Namjoon.

“Mari kita lihat acara ‘reuni’ ini.” Yoongi berujar dengan nada senang. Namun, terdengar sangat mengejek di telinga Namjoon.

Namjoon seperti tidak bisa apa-apa sekarang. Tubuhnya harus menangung bobot tubuh Yoongi yang tengah mendudukinya santai. Kedua tangannya juga ditarik ke belakang dan dipegangi erat oleh Yoongi. Saat ini hanya kedua kaki dan kepalanya saja yang masih bisa digerakan dengan bebas.

Jimin memeluk tubuh In Hyong erat dan mulai mengatakan sesuatu dengan mendesis pelan. In Hyong yang di peluk oleh Jimin itu hanya bisa menangis tanpa mengatakan apapun.

“Aku senang kita bisa bertemu lagi. Aku kira kau sudah mati…” ujar Jimin, ketika ia menyudahi pelukannya terhadap In Hyong itu.

“Ya, aku juga…” sahut In Hyong dengan kepala yang masih menunduk.

“Cha In Hyong tatap aku…” ujar Jimin yang menggenggam kedua tangan In hYong lembut. Ia ingin sekali bertatap langsung dengan gadis yang masih ia sukai ini.

“Tidak! Jangan! Jimin-ah!” teriak Namjoon yang berteriak sekencang mungkin.

Yoongi semakin mengeratkan genggamannya untuk menahan tangan Namjoon agar tidak lepas. Namjoon masih saja berusaha pelepaskan dirinya itu. Seketika, suara tawa Yoongi kembali terdengar.

“Kau teriak sekencang apapun, mereka tidak akan dengar.” ujar Yoongi santai. Ia kembali menonton sebuah ‘reuni’ itu dengan santai. Ia seperti menanti sesuatu terjadi.

In Hyong tak kunjung mengangkat kepalanya. Hingga akhirnya, Jimin menyentuh dagu gadis itu. Kemudian, mengangkat kepala gadis itu agar menatapnya lurus. Ketika tatapan mereka sudah bertemu, tubuh Jimin seakan-akan membeku. Gadis itu menatap Jimin dengan tatapan teduh, hingga membuat Jimin terdiam.

“Baiklah. Sudah dimulai. Namjoon-ah, kau harus lihat ini.” ujar Yoongi bersamaan dengan suara kekehannya. Namun, Namjoon hanya bisa menatap sedih itu.

“Jimin-ah, kenapa kau tidak menolongku waktu itu?” tanya In Hyong dengan suara yang serak sehabis menangis.

“Aku… aku…” ujar Jimin terbata-bata. Entah mengapa, lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan gadis yang ia sukainya itu.

Tiba-tiba, In Hyong mendekatkan jarak di antara mereka. Gadis itu sedikit berjinjit dan mendekatkan bibirnya ke bibir Jimin. “Aku menyukaimu…” ujar In Hyong dengan napas dingin. Jimin terdiam membeku. Ia hanya bisa menatap wajah In Hyong yang semakin mendekat.

Namjoon terus mengelak agar bisa melepaskan dirinya. Ia ingin sekali berlari ke sana dan menampar Jimin agar sadar bahwa di hadapannya memang In Hyong, tapi yang ‘lain’. Yoongi yang merasa ‘hal’ itu sudah akan terjadi, melepaskan Namjoon begitu saja. Saat itu juga, Namjoon langsung bangkit dan berlari menuju Jimin. Tapi, sesuatu menghambat langkah kakinya.

“Aku jug… Akh!” pekik Jimin dengan kedua mata yang terbelalak.

“Tidak! Jimin-ah!!” pekik Namjoon keras.

Yoongi tersenyum licik ketika melihat hal itu. Ia terkekeh senang. Lalu, In Hyong sedikit menoleh ke arahnya, kemudian mengangguk kecil. Yoongi membalas anggukkan kepala gadis itu dengan acungan jempolnya. Merasa tugas untuk ‘menghukum’ Jimin sudah selesai, ia pun membalikkan badannya dan menghilang begitu saja. Tak hanya Yoon gi yang menghilang begitu saja, In Hyong pun juga.

“Itu hukumanmu…” ujar Yoongi licik, sebelum ia benar-benar pergi dan meninggalkan atap sekolah itu.

///

Perban yang dibalutkan itu rasanya lebih dari cukup untuk mengobati luka goresan yang lebar dan darah yang mengucur. Taehyung berjalan dengan kondisi tangan yang memang sudah dibalut perban yang cukup tebal. Karena dirinya yang tidak berhenti memukul-mukul dinding, jadilah luka yang cukup fatal itu. Beruntung retakkan tulang yang dialaminya adalah retakkan ringan, sehingga dapat sembuh dengan sendirinya. Berkat luka itu juga Taehyung bisa menghilangkan kekesalan dan kekecewaannya. Ya, meskipun tidak seluruhnya rasa itu menghilang.

Ia melangkahkan kakinya di lorong lantai 3 dengan santai. Ia baru saja menyelesaikan pelajaran susulan yang menjadi hukumannya karena tidak mengikuti pelajaran 1 sampai 4. Ia seperti siswa terakhir yang pulang. Ia mengusap wajahnya sedikit frustasi dengan diikuti suara dehaman. Tak hanya di situ, ia juga sempat menendang dinding lorong itu tanpa alasan.

Ketika ia kembali melanjutkan langkah kakinya menuju tangga, seseorang memanggilnya dengan suara yang parau. Suaranya terdengar begitu familiar di gendang telinga Taehyung. Taehyung menghentikan langkah kakinya, namun ia tidak membalikkan badannya. Ia hanya mendecak lidah. Ia sangat mengenal pemilik suara itu. Suara Hye Min.

“Taehyung-ah…” panggil Hye Min sekali lagi. Suara tangis sesegukannya terdengar sangat mendominasi.

Taehyung tak menyahut apapun. Ia hanya mengembuskan napas beratnya dan hendak melangkahkan kakinya lagi. Namun, sebuah cengkraman tangan menahannya untuk pergi. Hye Min menarik lengan jas sekolah laki-laki itu erat dengan tangan yang sedikit bergetar. Taehyung menghentikan langkahnya lagi. Dan, membiarkan tangan bergetar milik gadis itu menarik lengan jasnya. Yang bisa ia lakukan saat ini untuk menahan rasa kesalnya adalah mengembuskan napas keras-keras, hingga membuat bahunya naik turun tak pasti.

“Maaf…” ujar Hye Min pelan. “Aku minta maaf…. Aku-lah yang sedang berbohong padamu. Bukan, kau yang sedang berbohong padaku. Kumohon… maafkan aku.” Gadis itu terus meminta maaf dengan suara yang sangat serak.

Awalnya, Taehyung hanya berniat untuk menyingkirkan tangan gadis itu dan melangkah pergi begitu saja. Tapi sepertinya, hal itu tidak akan terjadi saat ini. Ia sedikit mengepalkan tangannya yang tidak terluka ketika mendengar permintaan maaf dari Hye Min. Denyutan di tangannya satunya lagi semakin terasa, karena ia memaksakan dirinya untuk mengepalkan tangannya yang terluka itu.

“Aku minta ma…” Hye Min tidak bisa melanjutkan ucapannya, ketika Taehyung langsung membalikkan badan tiba-tiba.

Laki-laki itu menatap Hye Min kesal. Tatapan kesal yang dingin itu begitu menusuk di mata Hye Min. Sampai-sampai, ia bisa melihat pantulan dirinya di bola mata Taehyung. Sejenak, mereka bertukar pandang dan terdiam. Lalu, diakhiri dengan endusan napas Taehyung.

“Kau pergilah…” ujar Taehyung. “Kau pergi saja dengan laki-laki itu.”

Hye Min mengelap air matanya yang masih mengalir, “Apa maksudmu?”

“Kau selesaikan masalahmu sendiri. Jangan pernah menemuiku lagi. Aku sudah lelah membantumu.” ujar Taehyung yang terdengar tidak jelas.

“Kenapa?” tanya Hye Min serak.

“Karena kau sudah memiliki pengawal sesungguhnya, kan? Kau juga sedang membohongiku. Untuk apa aku membantu seorang pembohong.” jawab Taehyung dengan penuh penekanan pada kata ‘pembohong’nya.

Hye Min tidak bisa menahan air matanya lagi. Taehyung seperti benar-benar kesal padanya. Disaat Hye Min terdiam, Taehyung langsung membalikkan badannya lagi. Ia merasa sudah tidak yang harus dikatakan lagi. Rasanya, ia ingin sekali pergi dari hadapan gadis itu. Rasa sukanya terhadap Hye Min, mulai hancur begitu saja karena rasa kesalnya itu.

Hye Min mendelik ke salah satu tangan Taehyung. Tanpa aba-aba, Hye Min menarik tangan yang terdapat balutan perban itu. Dengan sangat terpaksa, Taehyung kembali menghentikan gerakan langkah yang sempat tertunda. Ia mendecakkan lidahnya, kemudian menggretakkan giginya keras. Ia merasa rahangnya seperti ikut mengeras.

“Apa luka ini karena aku?” tanya Hye Min dengan mata yang masih berkaca-kaca.

“Bukan. Ini karena ulahku sendiri. Untuk apa aku melukai diriku sendiri hanya untuk seorang pem…”

“Pembohong! Aku tahu! Maafkan aku… Aku tidak bermaksud membohongimu… sungguh…” Hye Min menyela ucapan Taehyung cepat dan kembali menunduk.

Taehyung dapat merasakan tetesan air mata Hye Min jatuh di atas telapak tangannya yang tidak tertutupi perban. Melihat gadis itu menangis lagi, rasanya ia merasa ada yang tersangkal di batinnya. Ia menjadi merasa bersalah.

Laki-laki itu mengembuskan napasnya, “Berhentilah menangis.”

Hye Min tidak mengindahkan ucapan Taehyung. Ia kembali menangis sesegukan sembari begumam kata ‘maaf’ berulang-ulang. Ia mengeratkan genggamannya pada lengan jas Taehyung yang satunya. Tangisan gadis itu semakin menjadi.

“Sudah aku bilang berhentilah menangis! Apa kau tidak dengar?!” ujar Taehyung dengan sedikit kasar.

Hye Min menggelengkan kepalanya cepat, “Tidak! Aku tidak akan berhenti menangis! Bagaimanapun juga aku yang salah! Aku-lah yang membohongimu! Aku juga sudah memukulmu kala itu. Dan rasa bersalah ini… tidak akan menghilang sampai kau berkata… bahwa kau telah memaafkanku.” Hye Min bersikeras untuk tidak menuruti ucapan Taehyung sebelumnya. Ia tetap menangis sesegukan.

Taehyung tak tahan dengan rasa kesalnya sendiri, langsung menarik Hye Min untuk menatapnya dengan jarak yang lebih dekat. Hye Min menatap Taehyung yang lebih tinggi darinya itu dengan tatapan sendu. Ia masih belum bisa menghentikan tangisannya. Ia benar-benar merasa sangat bersalah sekarang.

“Dengarkan aku! Aku tidak akan sekesal ini, kalau kau tidak bersama Namjoon pagi tadi! Aku akan menerima semua kebohongan begitu saja, selama kau tidak bersamanya. Kau tahu, aku sudah menaruh perasaanmu semenjak semua tragedi ini terjadi. Tapi, apa yang aku dapat? Kau memukulku hingga lebam ini sulit dihilangkan.” jelas Taehyung panjang.

“Maaf…”

Hanya itu yang bisa Hye Min ucapan dari bibirnya. Ia tidak bisa menjawabnya, selain dengan kata ‘maaf’. Jantungnya juga terasa mencelos, ketika mendengar bahwa Taehyung memiliki perasaan terhadap dirinya. Saat ini, ia hanya bisa menghentikan tangisannya dengan paksa dan berdiam diri.

Sret!

Taehyung memeluk Hye Min sedikit longgar. Jarak mereka pelukan tidak terlalu dekat. Atau lebih tepatnya, Taehyung hanya meletakkan dagunya di bahu kiri Hye Min saja. Merasakan dagu dan embusan napas Taehyung, Hye Min sedikit memejamkan matanya dan tersenyum tipis.

“Baiklah… Aku akan memaafkanmu, jika kau berhenti menangis.” ujar Taehyung dengan setengah berbisik. Entah mengapa, batinnya tidak kuat melihat seseorang menangis di hadapannya. Sama seperti, ia menatap Eun Soo yang menangis pada waktu itu.

Hye Min melepaskan genggamannya pada lengan jas sekolah Taehyung. Ia mulai mengukir senyum tipis dengan mata yang sedikit terbuka. Ia memeluk Taehyung dengan kedua tangannya. Taehyung membalas pelukan Hye Min dan memperpendek jarak diantara mereka berdua. Ia sedikit melingkarkan tangannya di pinggang Hye Min. Hal itu membuat senyum Hye Min semakin melebar dan terlihat lebih cerah. Suara tangisan telah tegantikan dengan embusan napas senang. Perlahan tangannya menelusup menyentuh perut Taehyung. Entah apa yang dilakukan gadis itu, tapi Taehyung tetap memeluknya.

Di tengah suasana yang manis itu, seorang gadis menatap mereka dengan napas yang tidak beraturan, serta tangan yang terkepal erat.

“Ya! Kim Taehyung!” pekik gadis itu keras.

To Be Continue

Author’s Note:

Untuk next chapter, sepertinya akan ada sebuah alur yang ‘agak’ aneh. Tapi, tenang aja. Kalian kalau ‘ngerti’ awalnya, pasti ngerti maksud alur ‘aneh’ itu. Thanks for reading! Selama cerita ini berlangsung /? character manakah yang kalian paling suka? [Me : Jimin] Glad to know your own favorite character😉 –Myst.

 

About fanfictionside

just me

29 thoughts on “FF/ DARKSIDE/ BTS-bangtan/ pt. 12

  1. huuaaah daebak xD
    annyeong min aku reader baru😀
    baru nemu ini web di eyang gugel hehe dan ini ff pertama yang aku baca di web ini seharian dari pt 1 smpe pt ini xD ini ff bener2 dapet fillnya sampe yg baca mrinding o.o)
    aku paling suka liat karakter suga hehe😀 kebayang kulit suga yg putih ditambah karakter yg kayak gtu wuuuiih mirip vampire waks xD
    mianh min udah ngomong panjang lebar kayak kerata kkk.. Salken nde min🙂 dan sukses selalu
    aku tunggu kelanjutannya hehehe xD

  2. Yahh,,thor aku penasaran Jimin diapain sam In Hyoung,apa dia terluka, cieeee yg udah baikan ama Tae,wah makin seru nih next chapter ‘fighting’ ditunggu ya🙂

  3. Suka sama karakternya namjoon sama Jimin thor
    pas baca bagian Jimin-sama inhyong geregetan banget , apalaghi sama namjoon yang ditahan sama yoongi bacanya sampe beringetdingin begini /edisi alay /
    next thor ditunggu🙂

  4. Keren thor.. bikin penasaran..
    Kyk nya gue tau itu siapa yg manggil taehyung… hyemin bukan? terus yg dipeluknya itu bukan hyemin?
    AAAAAKHH GUE PENASARAN 0-0
    Jgn lama lama post next chapternya ye thor

  5. Aahh thor,sekian lama aku menunggu ff ini,akhirnya bisa rilis juga’-’ duhhh gue seneng part nya taehyung sama hye mi ini,duh pengen juga dong melukk taehyung:( hehe lanjut ya thor,jan lama2 ntar aku keburu lumutan😀

  6. Siapa yang manggil taehyung tuh thor???
    lah jimin knp thor jgn smpe jimin mati yah thor jangan T_T please…
    hiaa TBC -_- aduhhhh penasara….
    thor cerita nya horor tpi manis ska bnget dah😀
    character favorite tentu nya sii 4D kim taehyung :*
    next chapter ppali juseyo😉

  7. Jimin kenapa Jimin kenapaaaaa >.< dan..dan…itu yang di peluk Taehyung bukan Hyemin yaa???? Yaampoooon x'''''3 penasaraaaan ini seruuuu eonthornim…..

  8. waaaah siapa yang manggil taehyung, apakah setelah ini hyemin mau jujur
    yah,,thor jangan rada aneh ya di part selanjutnya.
    aku juga penasaran sama jimin,’mereka’ apain ya?
    aku suka karakternya taehyung,entah lah apa,yang jelas aku rasa di part ini taehyung yang lebih berkarakter.
    emmm selamat aja deh buat hyemin yang udah dimaafin.
    dan aku tunggu mau baca tantangan ‘mereka’ thor.
    udah ah.. sampai disini aja aku komennya,maaf ya thor kalo panjang karena aku juga readers baru.selamat ya thor udah ngepost darkside.next thor fighting

  9. aku mau berterima ksh sma dewa kematian yoongi /? ternyata jimin cma dpt hukuman kek gtu xD kirain mau buat mati jga :””” jgn ya thor suami sya itu :””””
    cieeee taehyung ska hyemin dan hyemin kyknya ska ma taehyung jga xD pdhl pngennya hyemin sma namjoon T^T
    tunggu itu yg manggil tae siapa? T^T jgn2 yoongi sma dokter itu mau bnuh taehyung? JGN THOR JGN AKU MAU 95LINE TTP HIDUP UTUH BERSMA NAMJOON HWEJI JGA :3
    ini ff gak aneh kok thor serius ._. mlh bgus bgt :3
    di tunggu part 13 nya jgn lama2 ya thor!!! :******

  10. Seperti biasa ff author keren disetiap partnya, termasuk part ini dong, tapi kurang panjaaaaang thor TT.TT greget sendiri gils.
    Btw, Jimin kenapa? Jan singkirkan jimin di next part ya thor.
    HyeMin galau bener yes. Demi apa Taehyung cemburu sampe segitunya-_- Gregeeet bener yes thor.
    Sekian dah thor, next partnya zemangat :^D

  11. SUMPAH FF INI KEREN BANGET!!! AUTHOR PINTER BNGET BISA NYIPTAIN FF INI !!! ah thor jangan ada yg mati lg atuh thor pliiiis !!!

  12. aku kaget pas baca kalimat “SIAPA KAU !” hah… jimin diapain thor ? jadi sebenarnya yoongi bukan membunuh mereka tapi orang” yang dibunuh yang meminta duluan.disini yoongi nggak pernah suka sama siapa-siapa selama berperan di sini?. siapa gadis itu ? atau jangan” itu kembaran hyemin. yang dipeluk itu kembaran hyemin. yang teriak hyemin? akkuuu bingung!! cepat lanjut aja deh thor fighting!

  13. Omooo tu pastiii meluk yeohwangnya yaa?? ><
    Astagaa baca asik asikk.. Gak enak bgt TBC😦
    Gmna tu nasipnya taehyung, jimin, ma namjoon.. Daebak.. Cepett dilanjutttt juseeyoo

  14. aku suka Jimin dan Namjoon hihihi😀
    eeehh, ngomong2 jimin kenapa tuh?😦
    dan itu…. siapa yang manggil Taehyung?

  15. Ya Ampun Jimin kenapa ???? O.O aduh. huehh,, ini ff bener-bener daebak. author dapet inspirasi dari mana bisa buat ff se-keren ini, eoh ? *-*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s