FF/ THIS HEART THAT I GAVE TO YOU/ BTS-bangtan/ pt.9


Pt. 9 (The Fact That Has Never Been Unexpected)

 

 

Main Cast        :
-Jung Sae Ri (oc)

-Kim Seok Jin (Jin’s BTS)

-Jeon Jung Kook (Jung Kook’s BTS)

-Min Yoon Gi (Suga’s BTS)

Support Cast    :
-Kim Tae Hyung (V’s BTS)

-Park Jimin (Jimin’s BTS)

-Song Hyeri (oc)

-Lee Ga In (oc)

-Jung Hoseok (J-Hope’s BTS)

-Kim Namjoon (RapMon’s BTS)

Genre              : Romance, School Life, Sad Life, Comedy

Length             : Multi Chapter

Author             : SunKi

 

THIS HEART THAT I GAVE TO YOU(9)_POSTER

                “Bagaimana ulangan matematika mu hari ini?” sambil mengendarai mobilnya, ibu Seok Jin menanyakan kegiatan anak semata wayangnya itu yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

                “Aku bisa mengerjakan semua soal. Eomma, lihat. Aku dapat nilai seratus!” Seok Jin menunjukkan lembar jawab ulangan matematikanya yang terdapat coretan angka seratus dengan tinta merah.

                “Uri Seok Jin benar-benar pintar! Kau harus tunjukkan itu pada appa, mengerti?” senyuman bahagia mengembang di wajah ibu Seok Jin.

                “Ne, eomma” sahut Seok Jin sambil menganggukkan kepalanya. “Eomma, aku ingin pergi ke taman hiburan. Kapan kita bisa kesana?” gerutu Seok Jin sambil memasang tampang manjanya.

                “Kebetulan besok hari libur. Bagaimana kalau besok? Appa mu pasti akan setuju” ujar ibu Seok Jin yang membuat anaknya girang seketika.

                “Jinjjayo? Yeeeeeeyy..! Besok aku akan pergi ke taman hiburan bersama appa dan eomma..” seru Seok Jin yang tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya tersebut. Melihat anaknya yang tampak begitu bahagia, dirinya ikut merasa bahagia. Senyuman tak henti-hentinya ia sunggingkan.

                Senyuman dari keduanya terhenti tatkala sebuah truk tiba-tiba menghantam mobil ibu Seok Jin dari arah samping dengan cukup keras. Lebih tepatnya truk tersebut menghantam disisi kemudi. Kecelakaan tak bisa dihindari. Mobil ibu Seok Jin sempat terseret hingga sejauh 10 meter.

Setelah sekitar satu menit mobil tersebut terhenti, Seok Jin sadar dari pingsannya. Kepalanya terasa sangat ngilu. Tetesan darah jatuh dari pelipis Seok Jin.

                Dengan mata sayunya, Seok Jin berusaha melihat kondisi ibunya. Ibunya tak sadarkan diri. Yang Seok Jin lihat, darah segar mengalir deras dari kepala ibunya karena kerasnya benturan.

                “Eomma… eommaaaa…!! ireooonaaaaaa…!!!” Seok Jin berusaha berteriak sekeras mungkin agar ibunya bisa sadar. Tetapi percuma saja, ibunya telah tewas.

Seok Jin terbangun dari tidurnya dengan kringat hampir membasahi seluruh tubuhnya. Nafasnya tersengal-sengal. Pandangannya tampak begitu gelisah.

“Apa kau baik-baik saja?” Hoseok yang melihat temannya terbangun dengan kondisi seperti itu sengaja menghampiri bangku Seok Jin hanya untuk memastikan kondisi Seok Jin. Bukannya menyahut, Seok Jin justru bangkit dari duduknya dan meninggalkan Hoseok begitu saja.

“Dia benar-benar aneh hari ini” gumam Hoseok yang kebingungan dengan tingkah temannya itu.

 

 

Hari itu, merupakan seminggu setelah acara pemakaman Ibunya. Seok Jin yang baru saja pulang dari sekolahnya mendengar suara benda jatuh yang pecah. Karena penasaran, Seok Jin langsung mencari sumber suara dan dikejutkan dengan kondisi ayahnya yang tergeletak di lantai dengan kucuran darah segar mengalir dari pergelangan tangannya.

                “APPAAAAAAA…!!!!!” jerit Seok Jin histeris. Seok Jin menghampiri ayahnya yang sudah tergeletak tak berdaya. Namun tak ada respon dari ayahnya.

#FlashBackEnd

 

                Seok Jin berapa kali membasuh wajahnya dengan air dari wastafel mencoba untuk menyegarkan pikirannya kembali. Kenangan-kenangan kelamnya di masa lalu membuat pikirannya keruh.

 

“Apa belum ada pendonor?” Tanya Seok Jin. Seok Jin menghela nafasnya mengingat kondisinya sekarang ini.

                “Kau tenang saja, kami masih terus berusaha untuk mendapatkan pendonor” sahut Dokter Kim yang ikut prihatin dengan kondisi Seok Jin.

                “Tinggal berapa lama lagi? Satu bulan? Atau satu minggu lagi?” sergah Seok Jin.

                “Ne?” Dokter Kim tersentak dengan apa yang baru saja ia dengar dari Seok Jin. Lagi, Seok Jin kembali menghela nafasnya. Karena merasa pikirannya terlalu kalut, Seok Jin memilih untuk bangkit dari duduknya dan hendak keluar dari ruang praktek Dokter Kim.

                “Seok Jin-ah, sudah lama aku kenal dengan kedua orang tua mu. Kau tak perlu khawatir, aku akan membantu mu. Tapi selama aku masih mencari pendonor, aku harap kau melakukan apa yang aku anjurkan” ujar Dokter Kim yang menghentikan langkah Seok Jin.

                “Tak melakukan aktifitas yang berat.. dan kemana-mana selalu membawa morfin?” gumam Seok Jin sambil tersenyum simpul yang masih bisa di dengar oleh Dokter Kim. “Aku akan terlihat menyedihkan jika aku melakukan itu, Dokter Kim” tambahnya dan berlalu meninggalkan ruang praktek Dokter Kim.

               
Seok Jin mengamati sebentar dirinya sendiri di depan cermin besar yang terpasang tepat diatas wastafel. Sambil menundukkan kepalanya, Seok Jin memejamkan mata dengan pikirannya yang belum bisa lepas dari bayangan-bayangan dirinya.

“Appa.. eomma.. haruskah aku menemui kalian saat ini juga?” gumam Seok Jin sambil memegangi dadanya.

 

“S..sunbae..” suara Sae Ri sukses menyadarkan Seok Jin dari lamunannya. Langkahnya yang asal pun terhenti begitu sosok Sae Ri tampak tepat di hadapan Seok Jin.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Sae Ri basa basi. Tak ada suara yang keluar dari Seok Jin. Dia hanya menganggukkan kepalanya menyahut Sae Ri.

“Syukurlah kalau begitu. Umm.. ada yang ingin aku katakan pada mu, sunbae..” karena merasa gugup, Sae Ri menundukkan kepalanya.

“Apa itu?” Tanya Seok Jin yang penasaran. Seok Jin mencoba untuk menatap Sae Ri yang tengah menundukkan kepalanya. Tapi bukannya mengadahkan kepalanya, Sae Ri justru membalikkan tubuhnya dan membuat Seok Jin semakin penasaran.

“Aku tak biasanya seperti ini. Sunbae.. terus saja muncul dalam pikiran ku. Kata-kata sunbae.. apa yang sunbae lakukan.. selalu terngiang di kepala ku. Aku juga tak tau mengapa selalu ada sunbae di pikiran ku..” ujar Sae Ri. Seok Jin mencoba untuk mendengarkan apa yang Sae Ri ucapkan dengan seksama.

“Aku menyukai sunbae!” Seok Jin tercekat seketika mendengar ucapan Sae Ri. Seok Jin merasa bahagia atas apa yang baru saja ia dengar. Namun di balik itu, rasa sedih dan kecewa pada dirinya sendiri jauh lebih besar dari pada perasaan bahagianya tersebut.

Tak lama kemudian, Sae Ri membalikkan tubuhnya. Cepat-cepat Seok Jin memasang ekspresi datarnya. Lagi, Sae Ri menundukkan kepalanya begitu mata mereka saling bertemu untuk sekilas.

“Jika kau memiliki ku, akankah kau menerima keadaan ku yang sebenarnya? Menerima ku apa adanya? Bahkan mungkin kita tak akan sempat merayakan seratus hari jadi kita. Akankah kau menerimanya?” gumam Seok Jin dalam hatinya. Seok Jin menatap Sae Ri dengan lamat yang tengah menundukkan kepalanya tersebut.

“Aku tak menyukai mu..” tambah Seok Jin. Sae Ri mengadahkan kepalanya begitu mendengar apa yang Seok Jin katakan. Seok Jin bisa melihat jelas kedua mata Sae Ri yang mulai berkaca-kaca.

“W..waeyo?” air mata jatuh tepat di pipi Sae Ri yang tak kuasa lagi membendung air matanya tersebut.

“Karena aku tak menyukai mu” sahut Seok Jin singkat yang masih dengan tatapan seriusnya.

“Jika sunbae tak menyukai ku, lalu kenapa sunbae menolong ku saat di bully dan berteriak bahwa sunbae menyukai ku?” Rasa sakit pada dadanya mulai Sae Ri rasakan. Kedua kakinya juga mulai terasa seperti tak kuasa lagi menopang tubuh Sae Ri.

“Itu karena kau menyedihkan. Dan saat itu aku tak sungguh-sungguh mengatakannya. Kau harus tau itu” ujar Seok Jin dan langsung melanjutkan langkahnya.

Dalam hati lubuk Seok Jin, dia merasa sangat menyesal dengan apa yang ia katakan. Ia sadar betul ia telah melukai Sae Ri. Namun di sisi lain, ia terpaksa mengatakan hal tersebut agar Sae Ri membenci Seok Jin dan menjauhinya.

Seok Jin sangat ingin mengatakan bahwa ia juga menyukai Sae Ri. Namun mengingat kondisinya  yang tak memungkinkan untuk bersama Sae Ri mengharuskannya untuk berbohong.

 

-Jung Kook’s POV-

               

Kemana perginya anak itu? Kenapa dia tak mengangkat telefonnya? Ch.. benar-benar.. datang tiba-tiba, pergi pun tiba-tiba.

Aku menghentikan langkah ku begitu aku melihat seorang siswi yang sedang berdiri sendirian sambil tertunduk lesu. Entahlah, aku tak tau ada apa dengannya. Semakin aku mendekat, aku semakin mengenali siswi itu.

“Ya, Sae Ri-ah! Apa yang kau lakukan disisni?” seru ku begitu mendapati siswi tersebut adalah orang yang sedang aku cari.

“Jung Kook-aaah…” panggilnya dengan suara parau. Aku terkejut begitu melihat dia yang tengah menangis begitu ia mengangkat kepalanya.

Karena aku merasa iba dengannya, aku langsung mendekapnya agar dia bisa menangis dalam pelukanku. Setidaknya aku memberikan tempat sandaran untuknya. Dan benar saja, tangisannya semakin menjadi-jadi begitu aku mendekapnya.

Dari kejauhan, aku melihat seorang siswa yang tengah mengamati kami berdua yang tak lain adalah Seok Jin. Tapi aku rasa ada yang salah dengan tatapannya itu, tatapannya tampak mengisyaratkan rasa penyesalan. Apa dia yang membuat Sae Ri menangis?
*****

“Memandang seseorang yang tak memandang kita memang menyakitkan..” ujarnya sambil menggenggam minuman kaleng yang aku berikan padanya.

“Ne?” aku menoleh ke arahnya tak mengerti dengan ucapannya tersebut. Tanpa alasan yang jelas, Sae Ri menyunggingkan senyuman simpulnya sebelum dia kembali menundukkan kepalanya.

“Jung Kook-ah, pernah kah kau memandang seseorang yang tak pernah sekalipun memandang mu?” ujarnya lagi.

Aku tercekat dengan ucapannya. Kenapa dia menanyakan hal seperti itu? Apa dia juga merasakan apa yang aku rasakan? Atau.. mungkin kah Seok Jin menolaknya?

“Pernah” sahut ku singkat. Begitu mendengar sahutan ku, ekspresi penasaran kini tampak jelas di wajahnya.

“Jinjja? Lalu.. apa kau terus memandangnya? Walaupun dia tak memandang mu?” tanyanya. Jujur, aku tak tau harus jawab apa. Dalam kenyataannya, aku memang terus memandangnya. Tetapi jika aku katakan ‘iya’, bukan kah itu artinya Sae Ri akan terus memandang Seok Jin?

“Tidak. Aku memutuskan untuk berhenti. Memandang orang yang tak memandang kita hanya akan menguras perasaan. Dan akhirnya kita akan lelah” jawab ku asal. Aku terpaksa mengatakan ‘tidak’ karena aku yakin jika aku mengatakan ‘iya’, dia tidak akan menyerah pada Seok Jin.

“Begitu kah..” gumam Sae Ri sambil menghela nafasnya. Ekspresinya kini berubah menjadi ekspresi kecewa.

——————————

 

-Sae Ri’s POV-

 

                Hari ini terasa berbeda di bandingkan hari-hari biasanya. Aku merasa tak bersemangat sama sekali untuk datang ke sekolah. Entahlah, mungkin karena kejadian kemarin.

Bukan hanya suasana hati aku saja yang berbeda. Tapi murid-murid di sini tampak berbeda. Setiap aku melewati mereka semua, entah mengapa mereka langsung menatap ku dengan tatapan sinis. Tetapi aku benar-benar sedang malas untuk mempedulikan arti dari tatapan mereka.

“HEI, KAU! KENAPA KAU BISA MENGACAUKAN SEMUANYA, HUH?” pekik salah seorang yang aku tak tau siapa itu. Yang pasti dia seorang siswi. Aku terus melanjutkan langkah ku dan berpura-pura tak mendengar.

“YA! JUNG SAE RI! TIDAK KAH KAU TAU AKIBAT KELAKUAN MU ITU?” pekik seorang lagi. Aku masih tak menyahut ucapan mereka.

“GARA-GARA KAU, SEOK JIN SUNBAE DAN YOONGI SUNBAE.. MEREKA BERTENGKAR! APA KAU TAU SETELAH ITU? KARENA MEREKA BERTENGKAR, SEOK JIN SUNBAE DI KELUARKAN DARI TIM BASKET!” pekiknya lagi yang di susul cibiran dari yang lainnya. Aku terpaksa menghentikan langkah ku begitu mendengar mereka menyebutkan nama Seok Jin sunbae.

Aku menghela nafas mencoba menenangkan diri ku sendiri. Aku tak tau kenapa harus aku lagi. Karena aku malas untuk menyahut ucapan mereka, aku memilih untuk melanjutkan langkah ku menuju kelas.

Tatapan sinis tak hanya aku dapatkan di sepanjang perjalanan ke kelas. Tetapi di dalam kelas pun juga. Hampir seluruh teman sekelas ku yang menyambut ku dengan tatapan sinisnya. Kecuali kelima teman ku.

Selama pelajaran berlangsung, aku tak sekalipun memperhatikan apa yang seongsaenim ajarkan. Selama itu pula aku hanya duduk berpangku tangan dan mencoret-coret buku dengan asal.

“Ya, ada apa dengan mu? Kenapa kau tampak tak bersemangat?” Tanya Jung Kook lirih yang mungkin merasa kebingungan dengan perubahan pada diri ku hari ini.

“Aku tidak kenapa-kenapa..” sahutku malas. Jujur saja, yang ada di kepala ku ini hanya ada kata ‘malas’. Tak ada yang lain.

 

*****

-Author’s POV-

               

Bel istirahat terdengar di tiap sudut sekolah. Seperti murid-murid yang lain, Sae Ri menghabiskan waktu istirahatnya untuk mengisi perutnya. Walaupun ia sedang tak ingin makan, tetapi ia merasa harus tetap makan. Setidaknya, dengan makan ia tak akan tampak lesu dan lemah.

Tak seperti biasanya, Sae Ri lebih memilih untuk makan sendirian walaupun teman-temannya memaksa untuk tetap bergabung, ia tetap bersikukuh untuk sendirian. Yang Sae Ri inginkan saat ini yaitu menyendiri dan tak membuang tenaganya dengan tak berbicara hal-hal yang tidak penting.

“Mian..” seorang siswi yang tengah membawa minuman tiba-tiba menabrak Sae Ri dan hal itu sukses membasahi jas Sae Ri.

“Gwenchana..” gumam Sae Ri yang tak mempedulikan jasnya yang basah dan memilih untuk berlalu mencari tempat duduk yang kosong sambil membawa sebuah nampan yang berisi menu makan siangnya.

Sementara itu siswi yang telah menumpahkan minumannya ke jas Sae Ri, dia justru tersenyum puas dengan kelakuannya tersebut. Rupanya, ia memang sengaja untuk mengotori jas Sae Ri.

Saat Sae Ri sedang menuju tempat duduk yang kosong, tanpa sepengetahuannya seorang siswa sengaja menyingkel kaki Sae Ri yang tengah berjalan.

PRAK!

Sae Ri terjatuh. Seluruh makanan yang sedari tadi ia bawa juga terjatuh dan makin mengotori jas Sae Ri. Bukannya menolong, seluruh murid-murid yang berada di kantin justru mentertawakan Sae Ri. Melihat mereka yang tertawa begitu puasnya, Sae Ri merasa di pojokkan. Saat itu pula, ia merasa sendirian.

Dari arah belakang, tiba-tiba saja seseorang merangkul Sae Ri untuk berdiri. Sae Ri langsung menoleh untuk melihat siapa orang itu. Dan ternyata orang itu adalah Jung Kook yang kini tengah membawanya keluar dari kantin sambil terus merangkul Sae Ri.
*****

“Kenapa bisa sampai seperti ini?” gumam Jung Kook sambil membersihkan sisa-sisa makan yang mengotori rambut Sae Ri. “Apa kau baik-baik saja?” Jung Kook menatap Sae Ri dengan penuh perasaan iba.

“Aku tak tau..” sahut Sae Ri dengan wajah lesunya. “Jung Kook-ah, aku takut..” tambahnya. Sae Ri menatap Jung Kook dengan lamat. Di mata Jung Kook, ia bisa melihat jelas ekspresi Sae Ri yang tampak begitu ketakutan.

“Kenapa kau takut? Apa kau takut pada mereka?” Tanya Jung Kook. Sae Ri menggeleng menyahut ucapan Jung Kook.

“Aku takut aku terlihat lemah. Dengan begitu mereka akan selalu senang dengan perlakuan mereka..” ujar Sae Ri dengan suara paraunya.

“Jangan khawatir, aku akan selalu berada di pihak mu. Aku akan selalu menjaga mu, Sae Ri-ah” ucap Jung Kook sambil menggenggam tangan Sae Ri. Mendengar ucapan Jung Kook, Sae Ri tetegun. Tiba-tiba saja ia merasa lebih tenang dengan apa yang baru saja ia dengar.

 

*****

Sambil membawakan jas Sae Ri yang kotor, Jung Kook berjalan menuju kelasnya bersama Sae Ri. Namun dalam perjalanannya tersebut, langkah mereka terhenti begitu mereka berpas-pasan dengan Seok Jin.

Mata Sae Ri dan mata Seok Jin saling bertemu. Tapi tak ada sepatah katapun yang keluar dari mereka. Hanya tatapan datar yang terlihat.

Cepat-cepat Sae Ri menyudahi tatapannya tersebut dan memilih untuk berlalu sambil menggenggam tangan Jung Kook. Jung Kook sempat terkejut dengan perlakuan Sae Ri yang tiba-tiba menggenggam tangannya. Ia sempat mendapati Seok Jin yang melirik kearah tangan mereka.

 

*****

Seperti biasa, Jung Kook mengantar Sae Ri hingga depan tempat tinggal Sae Ri. Walaupun hal tersebut menghabiskan waktunya, Jung Kook tak pernah mempermasalahkan dengan itu.

“Jung Kook-ah, gomawo..” ujar Sae Ri sambil tersenyum simpul walaupun senyumannya itu terlihat jelas di paksakan.

“Ne, cheonma. Masuklah” sahut Jung Kook yang meminta Sae Ri untuk segera masuk ke dalam tempat tinggal Sae Ri.

“Kau tak akan mampir?” Tanya Sae Ri.

“Aku harus segera pulang” sahut Jung Kook sambil menyunggingkan senyumnya.

“Baiklah. Kalau begitu hati-hati di jalan” Sae Ri menyunggingkan senyum simpulnya sebelum dirinya hilang dari jarak pandangan Jung Kook.

Jung Kook belum berlalu dari posisinya. Dia mengamati sebuah ruangan yang kini terang karena sinar lampu. Sambil tersenyum simpul, Jung Kook membayangkan kejadian-kejadian di sekolah.

Memang, ia sadar betul apa yang ia rasakan kini sangat keterlaluan. Tapi nyatanya, ada perasaan senang dengan keadaan Sae Ri yang sekarang ini. Dengan keadaan seperti ini, ia bisa melakukan suatu hal pada Sae Ri yang bisa membuatnya tampak berguna di mata Sae Ri.

 

————————————————

 

“Sebenarnya kenapa Jimin, Tae Hyung, Hye Ri dan Ga In tak ikut ke kantin?” Tanya Sae Ri di sela-sela menyantap makan siangnya.

“Entahlah. Yang aku tau Hye Ri ingin pergi ke perpustakaan. Dan yang lainnya.. aku tak tau” sahut Jung Kook yang juga tengah menyantap makan siangnya. “Memangnya kenapa?”

“Terasa sepi saja tak ada mereka. Mungkin dengan adanya mereka semua aku bisa merasa lebih nyaman” ujar Sae Ri sambil sedikit membungkukkan kepalanya.

Jung Kook memahami apa yang Sae Ri maksudkan. Ia menolehkan pandangannya ke seliling. Hampir seluruh murid-murid yang berada di kantin tengah menatap keduanya dengan tatapan sinis. Dari gerak-gerik mereka, Jung Kook bisa memastikan jika mereka tengah membicarakan Sae Ri. Atau mungkin mereka berdua.

Memang benar apa yang dikatakan Sae Ri. Berada di tengah-tengah orang yang sedang menatapnya seperti itu membuat Jung Kook tak merasa nyaman.

“Sae Ri-ah, kalau kau tak merasa nyaman sebaiknya kita pergi saja” ujar Jung Kook lirih namun masih bisa Sae Ri dengar dengan jelas.

“Tapi kau belum menghabiskan makan siang mu..” Sae Ri mengadahkan kepalanya begitu mendengar apa yang di ucapkan oleh Jung Kook.

“Tak apa. Aku bisa makan di tempat lain” Jung Kook bangkit dari duduknya dan langsung menggandeng Sae Ri untuk segera meninggalkan kantin.

Sae Ri menatap punggung Jung Kook yang kini tengah menggandengnya. Ia merasa bersalah dengan Jung Kook. Karenanya, Jung Kook harus ikut merasa tak nyaman. Sae Ri tak pernah meminta Jung Kook untuk masuk ke dalam permasalahannya tersebut. Namun dengan adanya Jung Kook di sisinya, ia merasa lebih tenang dan aman.

 

*****

Seok Jin yang tengah menghabiskan waktu istirahatnya dengan berjalan sendirian di sepanjang koridor sekolah, tak sengaja melihat Sae Ri yang sedang bersama Jung Kook. Tampak jelas Jung Kook tengah membicarakan suatu hal pada Sae Ri. Karena suasana koridor yang cukup sepi dan sunyi, sehingga memudahkan Seok Jin untuk mendengar ucapan Jung Kook dengan jelas.

“Aku.. sangat menyukai mu. Sudah lama aku menyukai mu, Sae Ri-ah. Aku tau, aku keterlaluan. Tapi aku senang dengan keadaan mu sekarang ini. Tiap waktu mendampingi mu, memberikan sandaran saat kau menangis, memeluk mu saat kau ketakutan, memberi mu rasa aman, dan menjaga mu.. aku ingin melakukan itu semua pada mu. Tak akan ada rasa letih. Justru aku akan sangat bahagia jika aku bisa melakukan semua itu..” ujar Jung Kook sambil menatap Sae Ri dengan lamat.

Seok Jin terdiam mendengar ucapan Jung Kook. Dalam batinnya, ia merasa sangat iri pada Jung Kook. Ia juga ingin melakukannya. Tapi dalam pikirnya, ia tak akan mungkin selalu mendampingi Sae Ri.

Tiba-tiba bel pertanda habisnya waktu istirahat terdengar di tiap sudut ruangan. Karena kerasnya suara bel dan durasi bunyi bel yang cukup lama, menyulitkan Seok Jin untuk mendengar apa yang Jung Kook dan Sae Ri ucapkan.

“Aku tak mau kehilangan mu..” hanya itu yang terdengar samar-samar dari mulut Sae Ri. Selebihnya, Seok Jin tak dapat mendengar dengan jelas. Matanya terbelalak seketika begitu melihat Jung Kook yang mencium bibir Sae Ri.

Matanya tiba-tiba terasa panas. Namun apa daya, Seok Jin tak bisa berbuat apa-apa. Dalam benaknya, Jung Kook-lah orang yang di pilih Sae Ri. Dan merupakan orang yang tepat untuk Sae Ri.

Sambil mengepal tangannya, Seok Jin memilih untuk pergi dengan langkahnya yang terasa sulit untuk di gerakkan. Dadanya mulai terasa sakit begitu mendapati apa yang yang ia dengar dan lihat.
*****

BRUK!

Hye Ri yang lekas dari perpustakaan di kejutkan dengan pemandangan yang tak pernah ia duga. Buku-buku yang sedari tadi berada dalam dekapannya jatuh tak teratur karena kedua tangannya ia gunakan untuk menutup mulutnya yang tengah menganga. Kedua mata sipitnya membulat seketika.

“YA! KIM TAE HYUNG! LEE GA IN! APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN?” pekik Hye Ri yang tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya tersebut.

Mendapati namanya di sebut, cepat-cepat Ga In dan Tae Hyung berusaha untuk bersikap senormal mungkin. Tapi percuma saja, Hye Ri telah melihatnya.
*****
“Sae Ri-ah, Jung Kook-ah, ada yang sedang berpacaran tetapi mereka justru merahasiakannya!” sergah Hye Ri dengan ekspresi cemberutnya begitu Jung Kook dan Sae Ri baru saja tiba di kelasnya.

Keduanya tampak bingung dengan ucapan Hye Ri. Yang terlihat kini Ga In dan Tae Hyung yang sedang duduk sebangku seolah-olah sedang di interogasi oleh Hye Ri.

“Nugu?” Tanya Sae Ri yang mulai penasaran. Sae Ri menoleh ke arah Jimin yang mengangkat kedua bahunya. Berbeda dengan Hye Ri, Jimin justru tampak biasa saja.

“Tentu saja mereka! Bahkan aku melihat mereka sedang berciuman!” Hye Ri menunjuk ke arah Tae Hyung dan Ga In. Ga In tampak menundukkan kepalanya begitu Hye Ri menunjuk ke arahnya.

“Jinjja? kenapa kalian tak memberi tahu kami semua?” Sae Ri yang baru mengetahui kabar tentang Ga In dan Tae Hyung yang berpacaran, ikut terkejut dengan hal tersebut.

“Sebenarnya kita ingin memberitahu kalian. Tapi aku tak tau kapan” bantah Tae Hyung yang nampak lebih tenang di bandingkan Ga In yang masih saja bungkam dan menundukkan kepalanya.

“Akh.. kau ini! Alasan saja, iya kan Jimin-ah?” sergah Hye Ri yang kini menoleh ke arah Jimin berharap akan mendapat jawaban ‘iya’

“Sebenarnya aku sudah tau tentang hubungan mereka..” sahut Jimin. Mendengar sahutan Jimin, kspresi Hye Ri berubah seketika.

Tae Hyung, Jimin, Ga In dan Hye Ri tengah berada di perpustakaan. Suasana kembali normal setelah Jung Kook hampir bersitegang dengan Yoongi yang tiba-tiba datang menghampiri Sae Ri. Kini tinggal mereka berempat yang masih berada di perpustakaan.

Drrrt… Drrrttt…

                Tiba-tiba ponsel Jimin terasa bergetar. Cepat-cepat Jimin mengambil ponselnya tersebut dari saku jasnya. Ada pesan ternyata.

Dari        : Kim Tae Hyung

                “Jimin-ah, setelah ini aku akan menyatakan pada Ga In. Tapi kau jangan beritahu Ga In ataupun Hye Ri. Mengerti?”

Jimin menoleh kearah Tae Hyung. Tae Hyung hanya menempelkan jari telunjuknya pada bibirnyamengisyaratkan Jimin untuk diam.

Ke           : Kim Tae Hyung

“Baiklah, aku akan membawa Hye Ri keluar. Fighting!”

“Hye Ri-ah, ayo kita makan. Aku lapar” Jimin langsung memasukkan kembali ponselnya kedalam saku jas dan bangkit dari duduknya.

“Aku tak mau. Kalau kau lapar, kau pergi makan saja sendiri” sahut Hye Ri yang masih asik dengan tugasnya.

“Ayo lah. Aku tak mau makan sendirian..” sambil memaksa, Jimin menarik Hye Ri agar pergi dari perpustakaan bersamanya.

Jimin dan Hye Ri sudah pergi. Kini tinggal Tae Hyung dan Ga In. Tae Hyung mengatur nafasnya karena perasaan gugupnya tersebut.

“Ga In-ah, ada yang ingin aku beritahu pada mu..” ujar Tae Hyung lirih.

“Apa?” sahut Ga In singkat yang pandangannya masih belum lepas dari buku tebalnya.

“Aku menyukai mu..” Tae Hyung menggigit bibir bawahnya menunggu jawaban dari Ga In.

“Begitukah..?” gumam Ga In sambil terus sibuk dengan bukunya tersebut. Seperti baru tersadar dengan ucapan Tae Hyung, Ga In langsung menatap Tae Hyung dengan tatapan tak menyangka “JINJJA?”

“N..ne..” Tae Hyung menganggukkan kepalanya menyahut Ga In. “Apa… kau juga menyukai ku?”

Ga In menatap Tae Hyung dengan mata yang tampak basah. Ia merasa tak menyangka sekaligus terharu dengan apa yang ia dengar. “Aku juga menyukai mu, Kim Tae Hyung..” sambil menahan air matanya yang hendak terjatuh, Ga In merasa sangat senang bahwa orang yang ia sukai ternyata menyukainya juga.

#FlashBackEnd

“Ya, Jung Kook-ah. Apa kau juga sudah tau sebelumnya?” Tanya Hye Ri yang mulai kesal.

“Ne” sahut Jung Kook singkat sambil menganggukkan kepalanya.

“KALIAN INI.. BENAR-BENAR..! JUNG KOOK DENGAN SAE RI.. TAE HYUNG DENGAN GA IN.. DAN.. AKH!!” karena sudah terlalu kesal, Hye Ri memilih untuk pergi meninggalkan teman-temannya yang kebingungan dengan tingkahnya.

“Sebenarnya ada apa dengan Hye Ri?” gumam Jimin yang masih bisa di dengar oleh teman-temannya.

“Entahlah. Aku rasa dia terkena penyakit sindrom kesepian” sahut Tae Hyung asal yang di susul kekehan dari Jimin. Sementara yang lainnya hanya menggeleng keheranan.
*****

“Teman macam apa mereka! Sesama teman tetapi menyembunyikan rahasia! Aku benar-benar akan gila sekarang ini!” umpat Hye Ri yang masih kesal. Orang-orang yang ia lalui hanya mentapnya dengan tatapan bingung.

BUG!

Sebuah bola basket tepat mengenai kepala Hye Ri. Karena tak kuasa menahan kerasnya lemparan yang mengenai kepalanya, Hye Ri duduk tersungkur sambil terus memegangi kepalanya yang mulai terasa nyeri.

“Kau tidak apa-apa?” seseorang mencoba menyentuh pundak Hye Ri untuk memastikan kondisi Hye Ri. Namun Hye Ri justru meronta.

“JANGAN SENTUH AKU! KAU KETERLALUAN!” seru Hye Ri sambil menghempaskan tangan seseorang yang mencoba menyentuh pundaknya.

Karena tak tau dengan orang yang ada di hadapannya tersebut, perlahan tapi pasti Hye Ri mulai menyingkirkan tangannya yang menghalangi pandangannya tersebut.

“S..sunbae?” Hye Ri terkejut begitu yang ada di hadapannya adalah Namjoon. Salah satu sunbae yang populer di Kwang Soo High School. Ia merasa bersalah pada Namjoon karena sudah bersikap tak sopan pada sunbaenya tersebut.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Namjoon dengan nada cemas. Bukannya menyahut, Hye Ri justru terus mengerjapkan matanya sambil terus menatap Namjoon yang kini berada tepat di hadapannya.

 

*****

“Sae Ri-ah, apa aku boleh meminjam ponsel mu?” Sae Ri yang tengah belajar di kamarnya di hentikan oleh kedatangan Na Rin yang tiba-tiba masuk ke kamarnya.

“Tentu saja, unnie” sahut Sae Ri sambil menyunggingkan senyumnya. Karena mendapatkan ijin dari adik sepupunya, Na Rin langsung meraih ponsel Sae Ri dan mencari nomor di daftar kontak.

Na Rin langsung menyalin nomor yang ia cari ke ponselnya. Na Rin tersenyum puas begitu yang ia cari kini sudah ia temukan.

“Gomawo, Sae Ri-ah. Kau bahkan punya nomor barunya..” ujar Na Rin sembari menyerahkan ponsel Sae Ri.

“Ne?” Sae Ri menatap kakak sepupunya dengan ekspresi kebingungan karena Sae Ri benar tak mengerti dengan ucapan Na Rin.

“Seok Jin. Aku baru saja menyalin nomor Seok Jin  dari ponsel mu” sahut Na Rin sambil menyunggingkan senyumannya.

“Sebenarnya aku sempat berpacaran dengan Seok Jin. Tapi sayang, harus kandas karena suatu hal. Aku tau kau dekat dengan Seok Jin. Maka dari itu, kau mau kan membantu ku agar aku bisa mendapatkan Seok Jin kembali?”

Sae Ri terenyuh mendengar ucapan kakak sepupunya. Sebenarnya ia tak ingin Na Rin kembali pada Seok Jin. Tapi mengingat Seok Jin yang telah menolaknya, membuat Sae Ri tak dapat berbuat apa-apa lagi.

“N..ne..” sahut Sae Ri singkat. Ia merasa sangat berat untuk mengatakan ‘ya’ tapi ia tak punya kuasa untuk mengatakan ‘tidak’

“Jinjja gomawo, Sae Ri-ah” ekspresi bahagia tampak jelas di wajah Na Rin. Na Rin tak menyangka bahwa apa yang telah ia lakukan ternyata jauh lebih mudah dari yang ia kira. Senyuman puas mengembang dari bibirnya. Kini tinggal Seok Jin-lah yang harus ia taklukan.

-Sae Ri’s POV-

                Na Rin unnie akan kembali pada Seok Jin sunbae? Itu artinya aku tak bisa apa-apa lagi. Tak ada yang bisa aku perbuat. Seok Jin sunbae bahkan memajang foto mereka berdua di samping foto keluarganya. Aku rasa sudah jelas kenapa Seok Jin sunbae tak menyukai ku.

Drrrt…Drrrrttt…

Aku mengecek layar ponsel ku. Aku terkejut begitu melihat nama Seok Jin sunbae yang tertera di layar. Tapi kenapa Seok Jin sunbaemenelfon? Bukankah seharusnya dia bertelfon dengan Na Rin unnie?

Aku meletakkan kembali ponsel ku ke atas meja belajar. Awalnya aku ragu. Tapi getaran dari ponsel tak kunjung berhenti.

                “Yeobosaeyo?” sapa ku pelan di telfon.

“Ne, yeobosaeyo. Apa kau masih ingat dengan kedai yang berada di pinggir waktu lalu? Aku mohon bantuanmu lagi. Seperti waktu itu, dia mabuk lagi” sahut seseorang yang merupakan bukan Seok Jin sunbae. Ya, Aku masih ingat dengan kejadian beberapa waktu yang lalu.

“Ne, ahjumma. Aku akan segera kesana”

 

*****


Setelah meminta bantuan seseorang, Seok Jin sunbae sudah terbaring di sofa sambil tertidur lelap. Aku tak tau kenapa Seok Jin sunbae kembali mabuk. Aku kira dia benar-benar berhenti begitu aku memberi tahunya untuk berhenti minum. Tapi ternyata tidak.

Pandangan ku tertuju pada meja kecil yang saat itu terdapat dua foto yang terletak secara berdampingan. Tetapi sekarang ini hanya ada satu foto.

“Bukan kah waktu itu disini juga ada foto Seok Jin sunbae dengan Na Rin unnie?Tapi.. kenapa tidak ada?” Kini aku sudah berdiri tepat di depan meja kecil tersebut. Aku melihat sekeliling. Tak ada foto Na Rin unnie yang terlihat.

Yang aku lihat kini sebuah stopmap berwarna coklat dengan tulisan ‘Seoul St. Mary’s Hospital’ di atasnya. Bukankah ini rumah sakit tempat Na Rin unnie melaksanakan tugas menjadi dokter muda?

Karena penasaran, aku membuka isi stopmap coklat tersebut. Hanya ada selembar kertas yang tak aku mengerti. Yang aku lihat ada nama ‘Kim Seok Jin’ di sudut kanan atas. Aku rasa ini hasil tes yang juga aku tak tau apa. Entah dorongan dari mana, aku mengambil lembaran tersebut beserta stopmapnya untuk aku bawa pulang.

 

——————————————–

Aku sangat penasaran dengan maksud dari lembaran yang aku temukan di apartemen Seok Jin sunbae semalam. Maka dari itu aku membawa lembaran tersebut ke seorang dokter yang sering di panggil dengan nama panggilan Dokter Kim.

“Dari mana kau mendapatkan ini?” Entah apa maksudnya, Dokter Kim langsung menanyakan itu. Aku juga bingung kenapa Dokter Kim tak mengamati lembaran yang aku bawa. Hanya melihat sebentar kemudian Dokter Kim meletakkan lembaran kertas tersebut ke atas mejanya.

“Aku.. mendapatkannya di apartemen Seok Jin sunbae..” sahutku.

“Kau mengenalnya secara pribadi?” Tanya Dokter Kim. Aku benar-benar bingung dengan pertanyaannya tersebut.

“Ne. Aku satu sekolah dengan Seok Jin sunbae..”

“Baiklah. Aku rasa ini saatnya untuk memberi tahu pada seseorang” Dokter Kim menghela nafasnya. Ekspresinya berubah. Ia tampak lesu.

“Lembar kertas yang kau bawa itu adalah hasil tes jantungnya yang ia lakukan secara rutin. Seok Jin yang kau kenal itu mengidap gagal jantung. Gagal jantung adalah kondisi saat jantung gagal memompakan darah untuk mencukupi metabolisme. Penyakit ini cukup serius dan akan sangat fatal jika dibiarkan” terang Dokter Kim.

“M..mwo? Gagal jantung?” aku tak bisa berkata apa-apa. Lidah ku terasa kelu. Aku benar-benar tercengang sekaligus tak menyangka dengan apa yang baru saja aku dengar.

“Ne. Bahkan tidak hanya di jantung kirinya saja. Tetapi jantung kanannya juga. Keparahannya sudah memasuki kelas dua, yaitu ada kebatasan aktifitas fisik, dia akan mudah lelah, dadanya berdebar-debar dan sesak. Jika kondisi seperti ini terus di biarkan, sudah bisa di pastikan akan menybabkan kematian”

Entah apa yang membuat ku seperti ini, kepala ku terasa pusing dan tubuh ku seketika lemas. Tubuh ku terasa hendak runtuh begitu mendengar penjelasan Dokter Kim. Mata ku tiba-tiba terasa panas dan terasa basah. Aku masih tak bisa menyangka dengan ucapan Dokter Kim.

“Lalu.. apa ada cara untuk menyembuhkan Seok Jin sunbae?”

“Mengingat kondisi Seok Jin yang sudah terlalu lama di biarkan, hanya ada satu cara. Yaitu dengan melakukan transplantasi jantung. Kami sedang berusaha keras mencari organ jantung untuk di donorkan pada Seok Jin. Tapi sampai saat ini kami belum bisa mendapatkannya. Sangat sulit mendapatkan organ jantung yang sehat untuk di donorkan. Sudah banyak tenaga medis yang telah menguasai teknik-teknik transplantasi organ. Tapi hal tersebut masih terhambat dengan minimnya organ yang akan ditransplantasi. Kau tak perlu khawatir, kami akan terus berusaha keras untuk mendapatkan organ” terang Dokter Kim. Aku sangat shock mendengar ucapan Dokter Kim. Memang, aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa berharap Seok Jin sunbae mendapatkan organ secepatnya dan bisa hidup dengan tenang.

“Jika Dokter Kim telah berhasil mendapatkan pendonor tolong hubungi aku, Dokter Kim ” aku bangkit dari duduk walaupun kedua kaki ku ini terasa tak kuat menopang tubuh ku.

“Baiklah. Tolong perhatikan Seok Jin. Jangan sampai dia kembali minum alkohol dan melakukan aktifitas yang berat. Apa lagi jika dia sampai jatuh pingsan. Akan sangat fatal jika dia jatuh pingsan..”

 

 

————————————————-

 

-Author’s POV-

 

                Seok Jin mengamati sebuah botol kecil yang berisi pil-pil nitrogliserin yang di percaya bisa meredakan rasa nyeri di dada. Dokter Kim sudah berapa kali memintanya untuk selalu membawa botol berisi pil tersebut. Namun ia tak pernah mendengarkan dokternya.

Awalnya ia ragu untuk membawa sebotol kecil pil nitrogliserin tersebut. Namun mengingat ia sering merasakan nyeri pada dadanya akhir-akhir ini, memutuskan Seok Jin untuk membawa botol berisi pil tersebut dan menyimpannya di saku celananya secara asal.

 

*****

               

“Aku benar-benar jijik melihat Sae Ri. Kau tau? Setelah menyebabkan Yoongi sunbae dan Seok Jin sunbae berkelahi, kemarin lusa dia membawa seorang namja” ucap seorang siswi yang tengah bercengkrama dengan teman-temannya tersebut. Yoongi yang tengah dalam perjalanan menuju kelasnya, langkahnya terhenti tatkala mendengar ucapan siswi tersebut.

“Mwoya? Sebenarnya apa yang dia rencanakan lagi? Ch.. sudah menghancurkan hubungan baik Yoongi sunbae dan Seok Jin sunbae, sekarang dia menggoda seorang namja. Perempuan macam apa dia?” tambah seorang siswi lagi.  Yoongi yang mendengar ucapan mereka, langsung tersulut emosinya. Ia tak terima jika Sae Ri di pandang rendah oleh mereka.

“YA! MIN YOONGI! CEPAT KEMARI!” niatan Yoongi untuk memperingatkan mereka terhalangi oleh Pelatih Hwang yang tiba-tiba memanggilnya sambil berteriak. Mau tak mau, Yoongi menghampiri Pelatih Hwang dengan rasa sungkan.

 

“BAGAIMANA BISA KAU MENGELUARKAN SEOK JIN TANPA SEPENGETAHUAN KU, HUH?” pekik Pelatih Hwang. Guru-guru yang saat itu sudah datang terkejut dengan Pelatih Hwang yang tengah memarahi seorang murid di waktu yang terbilang masih pagi.

“Bukankah aku sudahpernah memberitahu pada Pelatih?” bantah Yoongi dengan tatapan dinginnya.

“KAPAN?” Karena tak mau kalah dengan tatapan Yoongi, Pelatih Hwang membelalakkan matanya sebagai pengungkapan rasa kesalnya tersebut.

“Satu minggu sebelum pertandingan, Pelatih memanggil kukan?…..”

“Ya, Min Yoongi. Aku percaya pada mu. Sebagai Kapten Tim, aku sangat berharap pada mu agar kau bisamemenangkan pertandingan ini. Apa pun caranya” senyuman sumringah tampak jelas pada Pelatih Hwang yang sangat membanggai anak didiknya tersebut.

                “Apa pun caranya?” Yoongi mengulangi ucapan pelatihnya yang memunculkan suatu rencana dalam pikirannya.

                “Ne, apa pun caranya..”

“Pelatih bilang, ‘apa pun caranya’. Mengeluarkan Seok Jin, itu lah cara ku mempertahankan kekuatan tim” sergah Yoongi yang juga tak mau mengalah. Pelatih Hwang kembali teringat dengan apa yang telah ia ucapkan pada Yoongi. Hal tersebut membuatnya merasa telah di ‘skak’ oleh Yoongi.

“Tapi… TAPI TIDAK KAH KAU TAU? SEOK JIN ITU PEMAIN YANG HANDAL. DIA BAHKAN TAK KALAH HEBAT DENGAN MU! AKU TIDAK MAU TAHU, KAU HARUS MEREKRUT DIA KEMBALI HARI INI JUGA!”

“Baiklah. Aku akan merekrutnya kembali dengan cara ku sendiri” Yoongi mendesis sambil tersenyum sinis. Tanpa mempedulikan pelatihnya, Yoongi langsung berlalu tanpa mengucapkan pamit.
*****

Selekas dari ruangan guru, Yoongi melihat Seok Jin yang juga tengah menuju kelasnya. Cepat-cepat Yoongi memanggil Seok Jin.

“Ya! Kim Seok Jin, ayo bertanding!” ajak Yoongi sambil menyunggingkan senyum sinisnya. Karena sudah tak berminat berurusan dengan Yoongi, Seok Jin memilih untuk tak menggubris ajakan Yoongi dan hendak melanjutkan perjalanannya menuju kelas.

“Aku akan menyerahkan posisi ku jika kau menang” masih dengan senyuman sinisnya, Yoongi memasukkan kedua tangannya kedalam kedua saku celananya.

“Aku tak berminat dengan posisi mu” sahut Seok Jin dengan nada ketus.

“Bagaimana jika kita bertanding untuk Sae Ri? Di luar sana, semua murid-murid sedang memperolok-olokkan Sae Ri karena hubungan kita yang memburuk. Tidak kah kau mempedulikan Sae Ri?”

 

*****

Bel istirahat terdengar oleh seluruh murid-murid Kwang Soo High School. Untuk menyegarkan kembali pikirannya, Sae Ri berniat untuk berjalan-jalan di sekeliling sekolahnya. Suara dribble-an dari bola basket terdengar di telinga Sae Ri.

Sae Ri di buat terkejut begitu mendapati Yoongi dan Seok Jin-lah yang sedang bertanding. Keringat telah membasahi tubuh keduanya. Sae Ri mengamati Seok Jin dengan seksama. Sesekali Seok Jin memegangi dadanya. Bahkan kini wajahnya tampak pucat.

“Jangan sampai dia melakukan aktifitas yang berat. Apa lagi jika dia sampai jatuh pingsan. Akan sangat fatal jika dia jatuh pingsan” Sae Ri teringat dengan apa yang Dokter Kim katakan. Tanpa menunggu lama, Sae Ri berlari menuju ke tengah lapangan.

“HENTIKAAN!!!” Suasana hening seketika. Begitu juga jalannya pertandingan antara Yoongi dengan Seok Jin terhenti tatkala Sae Ri yang tiba-tiba memasuki lapangan basket. Entah mendapat bisikan dari mana, Sae Ri meyakini bahwa Yoongi-lah yang meminta Seok Jin untuk bertanding.

Karena tak kuasa menahan rasa kesalnya, Sae Ri menghampiri Yoongi dengan wajah merah padam “SUNBAE! SEBENARNYA APA YANG ADA DI PIKIRAN MU? HENTIKAN SEMUA INI! KENAPA KAU…!”

BRUK!

Pekikkkan Sae Ri terhenti begitu dirinya menyaksikan Seok Jin yang kembali tumbang. Cepat-cepat Sae Ri menghampiri tubuh Seok Jin yang sudah tergeletak karena tak sadarkan diri. Botol kecil yang berisi pil nitrogliserin ikut terjatuh dan mengeluarkan isinya yang mulai berserakan tak jauh dari Seok Jin yang sudah tergeletak.

Ucapan Dokter Kim terus terngiang-ngiang di kepala Sae Ri. Ia sangat takut jika suatu hal yang buruk akan menimpa Seok Jin.

 

 

————————————————–

 

#1BulanKemudian

 

                Seok Jin tengah duduk sendirian sambil mengamati lapangan basket yang dulu menjadi tempat favoritnya untuk mengusir kejenuhan. Bayangan seseorang tiba-tiba saja muncul di kepalanya. Ia bangkit dari duduknya untuk mencari dimana keberadaan orang tersebut.

Seok Jin juga tak tau mengapa ia merindukan orang tersebut dan sangat ingin bertemu dengannya. Senyuman mengembang di wajah Seok Jin begitu ia melihat Jung Kook bersama gerombolan teman-temannya yang juga merupakan teman-teman dari orang yang sedang ingin ia temui.

Senyumannya berganti dengan kerutan di keningnya tatkala ia tak melihat orang tersebut. Ada perasaan kecewa di benaknya, namun ia tak akan berhenti begitu saja.

“Bukankah kalian teman Sae Ri? Dimana Sae Ri?” Tanya Seok Jin yang menghentikan langkah Jung Kook, Jimin, Tae Hyung, Ga In dan Hye Ri. Mereka tercengang dengan pertanyaan Seok Jin. Ingin mereka menjawab, tapi tak tau bagaimana caranya untuk menjawab.

 

 

TO BE CONTINUED

 

 

 

 

 

 

 

Author’s Note:  To all readers, makasih banyak udah nunggu dan setia membaca ff ku ini. Sebelumnya author mau minta maaf kalau part ini ‘sedikit’ terlambat dan mungkin jalan ceritanya jadi ga jelas. Di part ini dan part selanjutnya ada perubahan pada genre. Walaupun mungkin feel-nya kurang. Hehe

Alright readers, see you next chap. Ppyong~

About fanfictionside

just me

45 thoughts on “FF/ THIS HEART THAT I GAVE TO YOU/ BTS-bangtan/ pt.9

  1. Wahhhh keluar akhirnya.
    duhh kenapa sifatnya yoongi tambah nyebelin.
    lebih suka seok jin sama saeri drpd sama narin
    itu sae ri kemana. Kenapa udah 1 bulan. Apa krn jin di rumah sakit?
    Di tunggu next chap min FIGHTING

  2. Ahh yongi nyebelin😦
    jangan bilang kalo sae ri ??? Maldo Andawe !! gak tau kenapa baca part ini bikin aku nangis😥 next chap jangn lama2 ne thor😀

  3. Plis bgt aku nangis baca part ini T_T jangan bilang saeri yg donorin jantungnya?? Huhu next part ditunggu thor

  4. makin lama baca ff ini bikin aku sedih,
    ya ampun… nasib seokjin oppa malang banget ya,
    semoga cepat sembuh ya oppa. n kemana perginya saeri,jgn bikin oppa kesepian donk saeri.
    buat couple baru V dan gain selamat ya.
    semangat buat author.

  5. Jangan bilang Saeri ngedonorin jantung nya????? Kaga mungkin pan????? Jungkook pasti ngelarang pan!!? T.T jinjja feel nya dpt banget eonthorniiim ….. Lanjutannya ditunggu sangattt :”(

  6. Yah,,,,Seok Jin oppa sebegitu sukanya kah dirimu,sampai tak menerima Saeri,wehh😀 Saeri kaya pahlawan penolong ne,Loh,,terus kemana tu Saeri gk kelihatan 1bulan kemudian??jngan-jangan😥

  7. oh jinja…
    part ini bikin aku galau tingkat dewa…
    seokie~
    kemana sae ri? jangan bilang dia yang donorin jantungnya buat seok jin…😦
    di tunggu kelanjutannya!! jangan lama-lama ya!!😥

  8. Apa jangan-jangan Saeri mendonorkan jantungnya buat SeokJin???
    Genrenya kayaknya bakal jadi sad nih/?
    Thor aku baca part yag seokjin sakit aja udah sedihhh T.T

  9. Daebak lah thor!
    Aku sampe nangis😥
    Jgn jgn saeri yang donorin jantungnya?!
    Chap selanjutnya jgn lama lama ya thor!

  10. saeri mati ya?? huwaaaa…#Nangisguling2 jin oppaaaa… Ksian skali drimu…Ttp sehat ne…
    crtanya keren thor, pngen nngis sbnrnya tp kgx bsa. Nangis is not my style. Next thor..

  11. AAAHHH PLISPLISPLISS JANGAN SAD ENDING YA THOORR TT_TT AKU MAU NGELIAT SAERI SAMA SEOKJIN BAHAGIAAA /halah/. SUMPAH PENASARAN BGT INI AMPOONNN

  12. jangan2 saeri donorin jantung nya bwt jin (??) apa iya thor???
    (kalo bener) andwae…… sae ri cocokan sm jungkook thor T_T

  13. hueee saerinya ilaaang..
    hueeee ga mungkin ga mungkin
    ntar seok jin bebeb ama siapa?
    yaudah ama aku aja nanti
    ayo thor lanjutkan penasaran ini
    hiks hiks hueee yoongi bebeb *peluk yoongi

  14. Akhirnya part 9 keluar jugaa..
    Sae ri kemana yaa??? Jangan2 saeri donorin jantungnya buat seokjin????
    Di tunggu next chapternya..
    Author.. Fighting..!!!

  15. pasti saeri mau ndonorin jantungnya…. yalah nanti lak sad ending.. ga seruuu
    T.T T.T T.T T.T T.T T.T
    Lanjut thor..
    buingbuing

  16. huaha-,,-
    kok bentar banget-..-
    jin kenapa jadi begitu? terus saeri kemana?
    terus hyeri sm jinnya gimana?
    gepeel, terus jangan sad ending kek thor,
    biarkan saeri dan jin menyatu(?) hohohho
    next thor(y) semangka’-‘)/9

  17. Hooo thor tmbh jjang ajj nih ff😀
    T_T jin oppa gagal jantung
    dan jgn bilang klo saeri yg donorin jantung nya ;( sad ending dong huaaaa andweee
    next chapther ppali juseyo🙂

  18. Hyeri nantinya sm namjoon ya?
    Saeri cocok sama jungkook, tapi sm jin juga cocok sih.
    Gasuka bgt sm suga disini, yaampun bias :<

    Makin keren ceritanya, fighting thor D:

  19. Ini dari judulny aja udah ‘this heart that i gave to you’ heart kan artiny bisa jantung atau hati T.T masa iya saerin yg donor ??? Ah jangan sad ending ah author !! Pokonya sae rin harus sama jin oppa !!! #inianakegoisamat -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s