FF/ SCHOOL LOVE AFFAIR/ BTS-GOT7/ pt. 3


Kim Seok Jin –  Jin BTS

Jung Hana – OC

Jackson Wang – Jackson GOT7

Park Jimin – Jimin BTS

Kim Hani – OC

Kim Taehyung – V BTS

Cho Jeung In – OC

Jeon Jeongguk – Jungkook BTS

Kim Seyeon – OC 

Min Yoongi – Suga BTS

Jung Hoseok – J-hope BTS

Kim Namjoon – Rapmonster BTS

Cho Hyunsung – OC

Other Cast

 

RQ_PT3

Author : pandakim

Rating: 15, Teenager, School Life, Romance, Comedy

Lenght : Chapter

 

Note: Maaf sebelumnya. Yang chap kemarin itu salah poster seharusnya yang side ke 2 first love untuk chap ini -_-)/

Chapter ini sangat panjang makan dibikin side seperti chapter sebelumnya. Sepertinya ini chapter ini akan banyak sidenya. Selamat membaca. Maaf kalau membosankan. Typo bertebaran dimana WASPADA LAH ^^

 

 

– First Date –

Side A

 

“Nervous is the impression on a date ”

 

 

Author Pov

Jin melihat Hana yang sedang makan bubur dengan lahapnya dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa Hana menjerit, merengek sampai menangis menelfon Jin kemudian saat Jin datang dengan santainya Hana meminta belikan bubur hanya beralasan ngidam karena melihat iklan bubur di televisi, dan karena tak tau harus minta di beliin siapa, supirnya juga tidak sedang ada dirumah jadilah Jin yang dimintanya membelikan bubur.

“Apa kau seperti ini kalau mengidam sesuatu ?” Jin masih tak melepaskan raut muka tak percayanya.

Hana yang sedang menikmati buburnya menghentikan menyuapkan buburnya ke mulutnya  “Kalau kata teman – teman ku iya” kemudian dilanjutkan nya kembali melahap buburnya.

Jin menghelah nafasnya melihat Hana yang sedang melahap buburnya. Jin berfikir Hana terjadi sesuatu ternyata… Di luar dugaan Jin. Kemudian Jin tersenyum melihat Hana. Tapi senyum Jin tidak bertahan lama karena terlintas dipikirannya tentang taruhannya dengan Jackson.

 

“Kenapa diam ? Bukannya kau tadi tersenyum melihat kecantikanku “ Hana mengangkat sebelah alisnya dan sedikit tersenyum dengan sombong.

“Kau terlalu percaya diri “ Jin menjawab dengan polosnya.

“Hei..Kau tidak terpesona dengan seorang Jung Hana ? Cih… Awas kau jatuh dalam pesonaku “ cibir Hana kemudian melanjutkan makannya lagi.

“ dari awal aku berjumpa pertama kali dengan mu aku sudah jatuh dalam pesona mu” desis Jin sambil menatap Hana.

“Kau ngomong apa ?”

“Ti – tidak, tidak ada” Jin mengeleng – geleng dengan gugup.

Melihat Jin menggeleng dengan raut wajah aneh Hana mencibir menatap Jin.

 

-oo-

 

Pukul sudah menunjukkan jam 21.26 malam. Jeung In baru saja keluar dari ruang lab kimia karena harus menyelesaikan tugas – tugasnya. Ya memang sekolah Empire tidak menutup untuk siswanya yang ingin memakai fasilitas sekolahnya walaupun itu dini hari.

“Haaaa” mata Jeung In terbelalak kaget melihat waktu yang ditunjukkan arlojinnya. “bagaimana bisa sudah jam segini ?” dengan cepat Jeung In mengambil ponselnya dari dalam tas. Saat akan menelfon seseorang tiba – tiba saja ponselnya mati.

“AAAAHHHH MATIIIII” Jeung In menjerit hebat. Dilihatnya sekolahnya yang sepi, dan hanya dihiasi lampu – lampu penerang sekolah membuat tubuh Jeung In merinding. Tanpa aba – aba Jeung In berjalan menuju gerbang dengan langkah cepat.

 

Baru saja Jeung In sampai di depan gerbang dan berharap ada taxi lewat tetapi sepertinya harapannya sia – sia. Dilihatnya jalanan sekolahnya sangat sepi. Dan halte bis lumayan jauh dari sekolahnya. Dan juga Jeung In tidak pernah naik bis dan itu juga membuatnya tidak bisa naik bis. Tidak seperti temannya Seyeon yang lebih suka naik bis ketimbang menaiki mobil ataupun taxi.

 

“Kenapa sial sekali hari ini” gerutunya kesal sambil menghentak – hentakan kakinya kesal.

“Kau perlu tumpangan”

“AAAAAHHHHH” Jeung In terkaget melihat seseorang tiba – tiba muncul di hadapannya dengan memakan stick pocky sambil tersenyum.

“KAU MEMBUATKU KAGET “ teriak Jeung In sambil mengusap – usap dada nya.

“Tadi Jino hyung bilang dia tidak bisa jemput jadi dia menyuruhku menjemput mu. Kau lama sekali pulangnya, aku sudah menunggu sampai 4 jam lebih loh” papar Taehyung dengan memakan stik pockynya.

Jeung In diam menatap Taehyung. Bagaimana bisa oppanya menyuruh lelaki sinting ini menjemputnya.

“Aku bisa pulang sendiri” kemudian Jeung In meninggalkan Taehyung.

“Kau mau pulang naik apa ?” langkah Jeung In terhenti mendengar pertanyaan Taehyung.

“Itu bukan urusanmu” jawab Jeung In tanpa memandang Taehyung yang dibelakangnya.

 

Taehyung menghelah nafasnya melihat Jeung In meninggalkannya, tapi kemudian segera Taehyung menuju motornya dengan niat mengejar Jeung In, gerakan menaiki motornya Taehyung terhenti melihat ada motor yang melaju kencang sepertinya ke arah Jeung In. Dan benar saja dugaan Taehyung motor tersebut melaju kearah Jeung In. Entah kenapa lidahnya terasa keluh memanggil nama Jeung In agar segera menghindar. Dengan gerakan cepat Taehyung berlari menarik Jeung In.

 

Jeung In yang  belum menyadari bahwa ada motor melintas cepat kearahnya terus berjalan meninggalkan Taehyung. Dia mendengus kesal melihat tali sepatunya lepas. Jadi mau tidak mau Jeung In berjongkok dan mengikat tali sepatunya kembali.

 

“Eh…”

Jeung In kaget melihat silau cahaya di samping mengarahnya dan tangannya ditarik paksa.

 

BRUG

 

Tubuh Taehyung jatuh mulus kearah trotoar.

Jeung In mengkerjab – kerjab kan matanya melihat sekelilingnya lalu menoleh ke bawah karena Taehyung sekarang berada di bawahnya.

 

“Aw..” ringgis Taehyung.

“Kau baik – baik saja kan ?” tanya Taehyung. Jeung In masih diam melihat Taehyung yang kini jarak wajahnya hanya sekitar 5 cm. Itu sangat dekat bagi Jeung In.

“Bisa bangkit “ Taehyung kembali meringgis.

“Ma – maaf “

Dengan gerakan kikuk Jeung In bangkit dari tubuh Taehyung. Taehyung kemudian menatap Jeung In dengan dingin.

“APA KAU TIDAK MENYADARI KALAU KAU HAMPIR DITABRAK HAH ? APA KAU PUNYA KEBIASAAN TIDAK MELIHAT KIRI KANAN HAH ? KAU TAU TADI KAU HAMPIR DITABRAK. KAU TAU TIDAK ? “ entah kenapa Taehyung tiba – tiba emosi dan Taehyung mengakhiri emosi nya dengan mata yang memerah, dan entah kenapa air mata mulai mengenang di pelupuk matanya.

Jeung In diam tak bisa berkata apa – apa. Lantaran dirinya masih shock atas kejadian tadi. Ini yang kedua kalinya. Dan kedua kalinya juga Taehyung menyelamatkannya. Entah atas dasar apa Jeung In tiba – tiba mengingat saat Taehyung menyelamatkannya pertama kali. Mungkin kalau tidak ada Taehyung, dia tidak ada lagi. Kalau pun dia masih selamat mungkin ada salah satu organ tubuhnya yang tidak berfungsi.

“Kau menyelamatkan ku lagi” desis Jeung In yang masih menatap Taehyung yang kini air mata Taehyung sudah jatuh mengalir melewati pipi putihnya.

Taehyung bangkit tidak mengubris pertanyaan Jeung In lalu menghapus air matanya dengan kasar. Dan membersihkan jaket dan seragamnya. Tangan Taehyung terlulur kearah Jeung In “ Ayo bangkit, kita pulang” ujar Taehyung tanpa ada senyuman. Tidak mendapat jawaban dari Jeung In. Dengan lembut Taehyung menarik tangan Jeung In. Taehyung sedikit tertegun saat menggenggam tangan Jeung In yang kini sangat dingin juga bergemetar. Taehyung tidak tau harus berkata apa lagi dengan Jeung In. Dilepaskannya jaket yang melekat di seragamnya, kemudian memasangkan ketubuh Jeung In.

“Ayo kita pulang” Taehyung merangkul bahu Jeung In dan menuntunnya menuju motornya.

 

-oo-

 

Taehyung menghentikan motor sportnya tepat depan rumah Jeung In. Selama perjalanan mereka sama sekali tidak berbicara. Dikarenakan Jeung In yang menangis selama perjalanan dan Taehyung menyadari hal itu walaupun Jeung In mati – matian menahan suara tangisnya. Tetapi Taehyung lebih memilih diam. Bukan tidak mau Taehyung membujuk Jeung In untuk diam. Hanya saja Taehyung tidak tau harus berkata apa.

 

Taehyung memperhatikan wajah Jeung In yang sembab akibat menangis tadi. Taehyung menghelah nafasnya. “Kau baik – baik saja kan ?”

Jeung In menggeleng sembari menghapus air matanya. Dan kembali lagi Taehyung menghembuskan nafasnya. Kalau saja di depannya ini pacaranya. Mungkin Taehyung akan memeluk untuk menenangkan.

“Kenapa kau menangis”

Jeung In mengangkat kepalanya yang menunduk menatap Taehyung “Entahlah, hanya saja aku hampir saja mati tadi kalau kau tidak menyelamatkanku” lalu Jeung In menundukan kepalanya lagi.

Taehyung tersenyum sekilas melihat Jeung In. Ah rasanya Jeung In sangat menggemaskan baginya.

“He he he, mungkin aku ditakdirkan untuk menolongmu” papar Taehyung dengan cengirannya. Dan itu sukses membuat Jeung In tidak bersedih lagi dan menatap Taehyung tajam.

“Maaf “ Taehyung menundukan kepalanya karena ditatap dingin oleh Jeung In.

 

“Masuklah kedalam, udara semakin dingin”

Tapi Jeung In menatap Taehyung aneh seakan ada kata – kata lain yang ingin dikatakan oleh Taehyung lagi.

“Kau ingin mengatakan apa lagi ?” selidik Jeung In.

 

Mata Taehyung terbelalak kaget, bagaimana dia bisa tau bawa ia ingin mengatakan hal lain.Taehyung terdiam mendengar pertanyaanya. Dan rasa Taehyung ingin mengungkapkan apa yang ia katakan.

“Sudah katakan saja” tawar Jeung In. Terlihat Taehyung menarik dan membuang nafasnya berulang kali.

“Be – besok aku ada pertandingan basket. K – kau bisa mengirim ku pesan pe – penyemangat tidak  ?” dengan susah payah Taehyung mengatakannya.

“Bu – buat sekali saja kok. Selebihnya kau tak perlu membalas pesan singkat ku, tidak kau angkat panggilanku juga tidak masalah” Taehyung menatap Jeung In dengan pandangan berharap – harap cemas.

Dengan sarkatis Jeung In menatap Taehyung “Kenapa harus aku ?”

“Karena…” Taehyung mengangtungkan kata – katanya. Taehyung mengutuk dalam hati melihat dia susah mengungkapkan apa isi hatinya.

“Karena apa ?”

“Karena kau gadis yang ku suka” dengan malu – malu Taehyung menjawabnya dan mungkin kini muka Taehyung sangat memerah.

Sebuah getaran menjalar di tubuh Jeung In, Jeung In mengkerjab – kerjabkan matanya. Bagaimana bisa namja di depannya ini menyukainya. Karena merasa berhutang budi Jeung In menanya kapan waktu pertandingannya.

“Jam berapa “

“Huh “ Taehyung mendongakkan kepalanya, dia tak percaya gadis didepannya ini menanya nya.

“Kapan ?”

“H – hari sabtu jam 2 ” Taehyung benar – benar gugup kali ini.

“Baiklah” Jeung In mengakhiri kata – katanya dengan senyuman simpul. Walaupun hanya senyum simpul saja, tapi hati Taehyung sangat berbunga – bunga melihat senyuman Jeung In.

 

 

Jeung In kini menatap ponselnya melihat pesan dari Taehyung pertama kali sampai sekarang ini yang baru dikirim Taehyung beberapa menit yang lalu.

 

“Hayoo kau sedang melihat pesan dari siapa “

“AAAAAAAHHHHH… JINOOOO KAU MENGKAGETKU” Jeung In melihat kebelakang melihat oppanya yang kini sudah disampingnya.

“HEI … KAU TAK SOPAN” jerit Jino sambil mengkrucutkan bibirnya.

“Salah mu sendiri, kau mengkagetkan ku” balas Jeung In tak terima.

“Bagaimana kau sudah membuka hati buat Taehyung” Jino menatap adiknya dengan seringai liciknya.

“Cih, apa yang kau bicaran. Dengan  lelaki sinting seperti dia ? Tidak mungkin” dengan acuh Jeung In mengalihkan pandangan ke arah jendela.

“Jadi, tadi kenapa kau diantar olehnya hah ?”

Jeung In menghembuskan nafasnya kasar “ tadi aku hampir di tabrak saat mau menyebrang. Dan dia yang menolong ku lagi. Lagi pula kan kau yang menyuruhnya menjemputku” ditopangnya dagunya dengan tangannya.

“Benarkah ? Kau baik – baik saja kan ?” Jino menarik adiknya berdiri dan membolak – balikkan badannya.

“Aku baik – baik saja”

Jino melepaskan nafas khawatirnya “kau ini, apa kau punya kebiasaan tidak melihat kanan – kiri kalau menyebrang” ditatapnya adiknya dengan kesal.

Jeung In melirik kakaknya kemudian mencibirnya.

“Kau benar – benar tidak suka dengannya. Dengan Taehyung ? Bukannya aku membanggakan dia, hanya saja aku berfikir dia itu cocok untuk mu. Taehyung itu tipe – tipe pacar idaman. Ya, walaupun kelakuannya rada aneh, tapi dia baik kok. Asal kau tau ya, tiap aku berjumpa dengannya dia selalu menanyakan tentang dirimu, dari kau suka apa, apa yang tidak kau suka, aku hampir gila kalau dia menanyakan dirimu” Jeung In hanya menatap datar kakaknya yang berceloteh tentang Taehyung.

 

Jeung In kini bergerak menganti posisinya menghadap kakaknya “Intinya ?”

“Intinya. Aku merestuimu dengannya”

“Tapi dia..”

Belum sempat Jeung In melanjutkan kata – katanya sudah dipotong cepat oleh Jino “ Aku tau, kau mau bilang dia itu suka balapan kan, anaknya liar kan,? Kau kira dia tidak mementingkan pendidikan ? Ya, Jeung In, aku tau tipe mu yang EDUCATION NUMBER ONE. Ibarat kata Taehyung itu paket komplit”

“Jadi ?”

“Jadi kau bukalah hatimu, kau yakin tidak mau merasakan cinta di masa sekolah ?” Jino menatap adiknya dengan memainkan alis nya naik turun.

“Cih.. kau serasa ahli dalam bidang ini. Kau saja tidak punya pacar” ejek Jeung In.

“Nanti ku bawakan calon istriku bukan pacar lagi” jawab Jino tak mau kalah dengan adiknya sendiri.

 

-oo-

 

Dengan badan gemetaran Jin melihat rumah Hana yang berdiri dengan kokoh dihadapannya ini. Berkali – kali Jin membuang nafas gugupnya. Pasalnya Hana merengek minta di jemput olehnya. Dan tentu saja Jin senangnya bukan main. Bagaimana tidak senang, gadis yang disukainya meminta pergi ke sekolah berbarengan. Dan ini pertama kali Jin pergi kesekolah dengan wanita. Bolak – balik Jin melihat penampilannya di kaca spion.

 

“Maaf menunggu lama”

Jin mengalihkan pandangannya ke arah gerbang rumah Hana. Jin terperangah melihat Hana pagi ini. Tidak biasanya Hana mengikat rambutnya keatas. Biasanya juga Hana menggerai rambutnya. Merasa dilihat intens oleh Jin Hana membuka suaranya “ Kenapa melihatku ? Penampilanku anehnya ?” Hana melihat penampilannya sendiri.

“Ti – tidak kau cantik” dengan tersipu malu Jin mengatakannya.

“Cih.. benarkah ?” dengan nada angkuh Hana bertanya dan dengan cepat juga Jin menganggukinya.

 

 

Jin tidak menyangka bawah Hana itu anak yang cerewet, sepanjang perjalanan Hana terus bercerita. Kalau teman – temannya akan menyuruh Hana diam tetapi tidak untuk Jin. Jin malah tersenyum senang mendengar celotehan Hana yang seperti anak kecil bercerita kepada ibunya.

 

Tiba – tiba motor Jin tersendat – sendat.

“Motornya kenapa  ?” Jin bertanya dengan nada binggung.

“Tidak tau” jawab Hana yang tak kalah binggungnya.

 

Dan kemudian motor Jin mati seketika.

“Mati” desis mereka bersamaan. Tanpa suruhan pun Hana turun dari motor Jin dan ikuti oleh Jin juga.

“Bagaimana ?” tanya Hana memastikan saat Jin mengecek motornya.

“Sial, businya lupa diganti” desis Jin mengingat semalam habis balapan Jin lupa mengganti busi motornya.

“Ah.. maaf, sepertinya aku lupa menservice nya. Maaf “ Jin membungkuk meminta maaf.

“Jadi kita ke sekolah naik apa ?” Hana menatap Jin dengan muka datar.

“Yasudah kita tunggu taxi saja” jawab Jin dan  diangguki Hana.

 

Sudah 5 menit mereka menunggu taxi setelah sebelumnya mengantarkan motor Jin ke bengkel terdekat, tetapi tidak ada taxi lewat. Dan itu membuat Hana menggerutu kesal “Bagaimana bisa tidak ada taxi lewat”

Jin menatap Hana dengan perasaan tak enak kemudian tersenyum kecut kearah Hana. Tapi, senyumnya Jin terhenti melihat bus di depan mereka.

“Bagaimana kalau kita naik bus ?” dan jelas itu membuat Hana kaget. Dari dulu Hana sangat anti naik bus.

“Kenapa harus naik bus ?”

“Sudah ayo, nanti kita telat” tanpa permisi Jin menarik tangan Hana karena bus nya akan segera berangkat.

“Kyaaaa “…

 

“Ahjussi, berhenti “ teriak Jin

CIITT…

Bus yang akan mereka tumpangi berhenti mendengar teriakan Jin. Tangan Jin pun masih menggengam Hana sampai mereka mendapatkan tempat duduk. Saat berlari sampai mereka mendapatkan tempat duduk, Hana hanya menatap lekat tangan Jin yang menggaman tangannya.

Kini mereka sama – sama mengatur nafasnya akibat berlari tadi. Hana tidak seperti Jin yang mengatur nafasnya sambil menatap keatas, Hana tetap menatap genggaman tangan Jin. Tiba – tiba saja Jin melirik Hana dan kemudian dia melihat apa yang di tatap Hana. Jin terkaget tangannya masih menggengam tangan Hana. Dengan cepat Jin melepaskannya. “Maaf – maaf “ seru Jin kikuk. Dengan tak berekspresi Hana menatap Jin kemudian membuang mukanya menghadap jendela. Seketika mereka dalam suasana yang awkward.

 

Sesampainya disekolah Hana segera berlari mendekat dengan teman – temannya. Jeung In, Seyeon dan Hani menatap Hana heran “ Kau pergi bareng Jin ? ” karena mereka melihat Hana bersamaan masuk ke gerbang dengan Jin.

Mata Hana membulat sempurna mendengar pertanyaa mereka “ Tidak, tadi aku dan dia berjumpa di gerbang” kemudian Hana melangkahkan kakinya mendahului teman – temannya.

Teman – temannya saling bertatapan “Dia semakin aneh kan ?” desis mereka.

 

-oo-

 

Jin tengah duduk di atas kloset kamar mandi. Kini dia sedang serius menonton video balapan. Berulang kali Jin mendecak kesal melihatnya. Tiba – tiba lampu kamar mandi mati. Jin mendongakkan kepalanya keatas. “Kok mati” desis Jin. Jin bangkit dan berniat membuka pintu. Jin heran melihat kenop pintunya tidak bisa di gerakkan. Jin semakin meggerak – gerakkan kenop pintunya. Sekali lagi Jin mendecakkan kesal “pasti dikunci dari luar” batin Jin.

“Siapa pun yang diluar tolong buka pintunya”sedikit menjerit Jin mengeluarkan suaranya. Terdengar cekikikan dar luar. Jin mendengus mendengar cekikikan dari luar tersebut.

“Tolong siapapun buka pin…”

BYUUURR

 

Dari atas pintu kamar mandi dengan sengaja Jin disiram oleh air bekas pel yang sudah sangat kotor.

“RASAKAN HAHAHA” ejek seseorag dari luar kamar mandi tersebut.

Jin melihat dengan diam bajunya yang tadinya bersih sekarang kotor dengan air tersebut dan basah. Kepalanya juga basah. Dan air ini sangat bau. Jin mengelah nafasnya dengan perlahan. Dibersihkannya kacamatanya yang basah dengan seragamnya yang tersisa masih kering.

Jin mundur selangkah kemudian, kakinya terangkat untuk menendang pintu.

BRAKKK

Kini pintu kamar mandi telah terbuka dan sedikit rusak bagian engsel pintunya karena Jin terlalu kuat menendang. Ya karena dia saat ini dalam keadaan emosi. Diliriknya ruang kamar mandi ini.  Untung saja tidak ada siapa – siapa. Jin melihat dirinya dari pantulan kaca. Yang sangat kotor sekarang ini.

 

KRIIING

 

Jin menatap malas dirinya saat ini apalagi mendengar bel masuk. Bagaimana dia mau belajar? Bajunya saja sangat kotor.

 

 

Jin kini berdiri diambang pintu. Dilihatnya Victoria Seongsangnim sedang mengajar. Kenapa cepat sekali Victoria Seongsangnim masuk pikir Jin. Jin mengetuk pintu kelasnya.

“Maaf Saem saya telat masuk” Jin menundukan badannya. Victoria Seongsangnim melihat Jin heran “Kenapa dengan mu Seok Jin?” bukan hanya gurunya yang melihatnya heran seisi kelasnya juga menatapnya heran. Kemudian gurunya melirik kearah Jackson yang kini sedang mengulum senyumnya. Gurunya menggeleng – geleng ini pasti kerjaan siswanya pikirnya. Jin menanggapi gurunya  dengan senyuman simpul.

“Yasudah lebih kau izin saja, tidak mungkin kau seperti ini mengikuti pelajaran”

“Tapi Ssaem ?” belum sempat Jin protes gurunya tersenyum seakan mengatahui apa yang dimaksud siswanya ini.

“Tidak apa, kau aku izinkan kali ini. Lihatlah bajumu yang basah itu”

“Terima kasih Ssaem” lalu Jin pun melangkah ke tempat duduknya mengambil tas dan bukunya. Saat menyusun bukunya Jin sengaja melirik Jackson yang tersenyum meleceh kearahnya. Melihat Jackson tersenyum kearahnya Jin mengalihkan pandangannya.

 

 

Jin berjalan menuju gerbang sekolah. Dirogohnya celananya mengambil ponselnya yang bergetar.

Siapa yang mengerjaimu” Jin mengkerjab – kerjabkan matanya membaca pesannya dari Hana.

Pasti Jackson kan ?”

Bagaimana dia bisa tau batin Jin.

Jin pun membalas pesan dari Hana “ Tidak, tadi aku hanya terpeleset dan jatuh kearah ember yang berisikan air pel”

Jangan berbohong! Siapa lagi murid yang suka mengerjai murid lain kalau tidak dia

Jin tersenyum membaca pesan dari Hana.

“Perhatikan saja pelajaran Vic Ssaem”

Kau menyebalkan” terkekeh pelan Jin membaca balasan dari Hana. Dimasukkan nya ponselnya kemudian melanjutkan perjalanannya ke gerbang.

 

 

-oo-

 

Dibawah pohon Oek depan sekolah Empire Jimin bersandar di motor hitam sportnya menatap gerbang yang terbuka menampakan lapangan yang luas tapi sepi menandakan murid – murid sekolah Empire belum pulang. Sedikit bosan menunggu Jimin sedikit bersiul menghibur dirinya.

Bel pulang pun sekarang telah mengudara di sekolah Empire. Satu persatu lapangan di depan gerbang di penuhi siswa – siswi nya menuju gerbang untuk pulang.

Jimin memfokuskan pandangannya mencari seseorang yang menyuruhnya untuk menjemputnya.

“Jin hyung kemana ?” Jimin celingak – celinguk mencari Jin. Kemudian Jimin melipat tangannya.

Tapi mata Jimin terbelalak kaget melihat seseorang di depan matanya. Jimin segera mempalingkan mukanya yang entah kenapa memerah sekarang.

“Hei kau..”

“Kau yang melipat tangan bersandar di motor” Jimin mengalihkan pandangannya kearah depan.

Kini di depannya sudah ada keempat gadis.

“Kau teman Jin kan” tanya Jeung In. Jimin menggangguk saja tanpa menjawab. Tapi pandangannya mengarah ke samping Jeung In, Hani membuang mukanya malas.

“Oh hai semua” Jimin tersenyum kearah mereka.

“Melihat Jin ? Dia menyuruhku menjemputnya ?” Jimin bertanya.

“Dia tadi izin pulang” Hana menjawab.

“Izin ? Benarkah ?”

Hana hanya menggangguk – ganggukan kepalanya berulang kali.

“Kenapa tidak bilang denganku” desis Jimin kesal.

“ Ah.. kalau begitu aku pamit pulang. Sampai berjumpa lagi semua” pamit Jimin sopan.

Ketika hendak menaiki motornya Jimin membalikan badannya menghadap mereka.

“Hani kau pulang dengan siapa ?” Jimin menatap Hani.

Hani terkejut dengan pertanyaan Jimin. “Aku pulang dengan mereka” dengan gugup Hani menjawab.

“Bukankah kau bilang kau tidak ada yang menjemput” Seyeon menyelah. Dan seketika Hani melontarkan death glarenya kearah Seyeon.

“Kalian ada hubungan apa?” tanya Hana yang tak mengerti.

“Kami jelas tidak ada hubungan” jawab Hani mantab.

“Kita dalam suasana apa sih ini ?” Jeung In menatap teman nya satu persatu.

 

Tiba – tiba Jino berhenti tepat dihadapan mereka dan Jimin.

 

“Hyung” Jimin menatap Jino. Jino juga menatap Jimin.Kemudia mereka ber tos ria selayaknya anak – anak muda jaman sekarang.

“Kau buat apa kesini ? Inikan bukan sekolahmu” Jino menatap Jimin heran.

“Aku disuruh menjemput Jin hyung”

“Terus dia kemana dia ?” Jino mencari keberadaan Jin.

“Dia sudah pulang hyung” Jimin merengut menjawabnya pertanyaan Jino.

 

Sedangkan Jeung In dan teman – temannya diam menyaksikan percakapan Jimin dan Jino dalam diam ya yang dihadapan mereka saat ini.

 

“Hyung buat apa kesini ? Pasti hyung ingin mencari anak sekolahan ya kan ? Apa di kampus mu tidak ada yang cantik hyung ?” kini Jimin tertawa melihat wajah Jino yang mengkerutkan keningnya.

“Aku menjemput adikku bodoh” Jino melirik Jeung In yang menatapnya datar.

“Ah.. aku lupa hyung”

“Kenapa kalian malah berbincang – bincang hah ?” sahut Jeung In segera menaiki motor kakaknya sendiri.

“Ayo pulang” perintah Jeung In.

“Taehyung titip salam” cengir Jimin di hadapan Jeung In.

“Taehyung siapa dia ?” dengan cepat Seyeon menarik tangan Jeung In diikuti yang lain yang juga memegang tangan Jeung In yang ingin pulang. Jeung in melirik Jimin kesal kemudian turun menatap teman – temannya.

“Nanti aku ceritakan”

 

-oo-

 

“Kyaa…. zoomzoom kau sudah bersih sekarang”

meong

Hani mengacak – ngacak bulu kucingnya yang berjenis ragdools ini.

“Zoomzoom sekarang kau diberi vitamin ya” ucap dokter hewan di salon hewan ini sambil membawa suntik

meong

“Nah.. sekarang sudah selesai” sahut dokter tersebut sambil mengacak – ngacak kepala zoom dan disambut suara zoomzoom yang imut.

“Sekarang kita pulang ya, eonni sudah lapar”

meong

Saat Hani ingin mengendong kucing, kucing tiba – tiba melepaskan diri dari gendongannya.

“Ya.. zoomzoom” Hani segera berlari mengejar kucing.

Tidak jauh Hani berlari, ternyata kucingnya berlari kearah taman depan tempat kucing – kucing bermain. Hani melihat kucingnya sedang manja – manjaan dengan kucing lain yang berjenis Maine Coon berwarna belang – belang abu – abu kuning.

“Ck.ck.ck kau ternyata sedang bermanjaan dengan kucing lain huh ? Apa dia pasanganmu ?” kini Hani  berjongkook menatap kedua kucing ini dengan senyuman.

“Kau disini ternyata “

“Ah maaf kucing ku mengganggu kucing anda” Hani masih belum mengalihkan pandangannya. Saat pemiliknya menggendong kucing barulah Hani mendongakkan kepalanya.

“Kau…”

Hani dan Jimin saling bertatapan.

“Kau mengiku..”

“Aku tidak mengikutimu, aku hanya mengantar kucingku kesalon” sela Jimin.

“Zoomzoom ayo kita pulang” Hani segera mengendong kucingnya.

Tiba – tiba kucing mereka sama – sama meloncat dari gendongan majikannya dan berlari ke pojoknya.

“Hei “ jerit mereka berdua. Kemudian mereka sama – sama mereka mendatangi kucingnya yang berhenti di sudut taman ini. Kucing mereka sama – sama menggesek – gesekan wajahnya.

Hani melirik Jimin disampingnya “Kucingmu jantan ya” Jimin hanya menjawab dengan deheman karena Jimin sedang tersenyum melihat kedua kucing ini bergumul dengan mesranya.

“Kucing mu cantik sekali” Jimin berjongkok dan mengelus –  ngelus kucing milik Hani dan juga mengelus – ngelus kucingnya.

“Jangan kau sentuh dia, tangamu kotor” desis Hani yang kini melipat tangannya sambil melihat Jimin sedang mengelus kucing miliknya dan kucing peliharannya.

“Zoomzoom ayo kita pulang sudah senja” kini Hani juga ikutan mengelus Zoomzoom.

“Kau sendirian kesini ?” Hani menatap Jimin lalu mengalihkan tatapannya ke kucing dan mengagguk.

“Sering kesini ?”

“Ya, kurang lebih sering lah. Zoomzoom tipe – tipe kucing manja yang harus di pelihara dengan baik – baik” Jimin hanya menggangguk mendengar penjelasan Hani.

“Ayo kita pulang boy” Jimin menarik kucingnya untuk digendong. Tapi kucingnya malah semakin bergulat dengan kucing milik Hani. Jadinya Jimin sedikit kewalahan mengambil alih kucingnya.

“Aaaiiisssshhh ayo kita pulang” Jimin sedikit menjerit melihat kucingnya.

“Hei.. biarkan dulu sebentar sepertinya mereka ingin sedikit lama bersama” sahut Hani. Jimin menoleh kebelakang melihat Hani “ benarkah ?” “Hum”

Hani juga Jimin kini akhirnya duduk diatas tanah tanpa alasan duduk mereka, melihat kucing mereka bergulat dengan menggemaskan bagi pemiliknya masing – masing.

“Kau kenapa tersenyum terus ?” Hani melirik Jimin dari ekor matanya yang daritadi melihatnya sambil tersenyum.

“Tidak boleh aku tersenyum melihatmu ?” Jimin tetap menatap Hani dengan senyuman.

Hani mengalihkan pandangannya ke Jimin lalu membuang mukanya sambil mencibir kemudian menatap kucing yang sedang bergumul ini. Jimin bangkit dari duduknya dan bergerak mengambil kucingnya dan disusul oleh Hani.

“Ini sudah senja, ayo kita pulang” Jimin berbicara dengan kucingnya.

“Pulang dengan siapa ?” tanya Jimin sambil mengelus kucingnya. Hani menatap Jimin dengan datar “Sendiri kenapa ?”

“Mau pulang bersamaku ?”

Hani menatap Jimin dengan dingin “Aku tidak mau” tandas Hani.

Jimin menggelah nafas kasarnya “Kau selalu menolak ajakan pulang bersamaku”

“Salah mu sendiri selalu mengajakku pulang bersamamu. Kenapa kau selalu mengajakku pulang ?” Hani menatap Jimin dengan memicingkan matanya.

Jimin menatap Hani diam kemudian tersenyum “Karena aku menyukaimu”

Mata Hani seketika membesar kaget.

“Pasti kau kaget kan ? Aku tau ini sangat cepat. Aku menyukaimu saat kau tersenyum ke arah Jin” papar Jimin dengan malu – malu.

Hani menatap Jimin bingung kemudian meninggalkan Jimin begitu saja.

“Hei.. hei.. “ Jimin segera menyusul Hani yang sudah jauh di depannya, Jimin tidak habis fikir padahal Hani memakai Highheels tinggi tapi jalannya kok bisa cepat sekali. Jimin segera memasukkan kucingnya ke box lalu menyandang boxnya kemudian menaiki motornya berniat mengejar Hani. Jimin celingak celinguk mencari keberadaan Hani yang sudah tidak ada di dekatnya.

“Ayo pulang bersama ku?” ajak Jimin yang sekarang sudah disamping Hani yang lagi berjalan dan dia sendiri menaiki motornya. Hani tidak menyahuti ajakan Jimin malah semakin melangkahkan kakinya.

“Kau tidak capek berjalan terus ?”

Hani masih tetap diam tidak mengubris Jimin dan terus berjalan.

 

DUG

 

Tiba – tiba Hani tersungkur kedepan karena tidak melihat jalan dan hingga highheelsnya sebelah kanan harus patah dan box kucingnya juga harus jatuh.

“Aw” Hani meringgis hebat sambil memegang kakinya. Jimin yang melihat segera menghentikan motornya dan turun lalu mengampiri Hani.

“Kucing ku” Hani mencelos melihat kucingnya sekarang sudah jungkir balik di box.

“Kau baik – baik saja ?”

“Kucing ku” jerit Hani lagi. Jimin mendengus kemudian mengambil box kucingnya Hani dan membawa kehadapannya.

“Kucing mu baik – baik saja. Kaki mu ?” Jimin melihat kaki Hani. Jimin meringgis melihat kakinya yang membiru.

Jimin menekan apakah kakinya keseleo atau patah.

“Aaaww sakit” keluh Hani.

“Kakimu sepertinya terkilir”

Hani menatap Jimin “ Jangan sok tau”

“Ayo kita ke rumah sakit”

“Tidak mau”

Tanpa permisi Jimin menggangkat tubuh Hani dan membawanya ke motornya lalu mendudukkan di motornya. Kemudian Jimin berlari kecil mengambil box kucing Hani.

“Ini tolong pegang kucingku juga” Jimin menyerahkan box kucingnya dan box kucing Hani.

“Pegangan ya” saran Jimin melirik Hani lewat kaca spionnya.

“Bagaimana aku berpegangan sementara tanganku penuh dengan box kucing” Hani memprotes kesal sambil melihat box di kedua tangannya ini.

Jimin menghelah nafas nya kasar “Haiiiisssshhh” kemudian Jimin turun dari motornya. “Ini box kucingku kau sandang kan pakai tali dan ini box kucingmu kau pegang lalu tangan kananmu memelukku” jelas Jimin.

“Kenapa aku harus memelukmu”

“Kau nanti bisa jatuh” tandas Jimin. Tak mau berlama – lama Jimin menaiki motornya “Pegangan”

“Tidak” Hani menyahut cepat. “Yasudah kalau begitu” Jimin tiba – tiba menggaskan motornya.

“Kyaa… “ Hani menjerit kaget dan reflex memeluk Jimin karena hampir saja Hani jatuh kebelakang.

 

 

“Nah sekarang kau baik – baik saja. Tapi jangan banyak bergerak, nanti penyembuhannya jadi lambat”

Ucap dokter yang memeriksa Hani setelah memberi kaki Hani gips, karena kakinya terkilir lumayan parah.

“Kira – kira 3 hari kedepan gipsnya bisa dibuka” dokter tersebut mengakhirinya dengan senyuman dan dibalas senyuman oleh Hani.

“Kenapa kau menatapku” Hani menatap Jimin dengan dingin. Jimin berjongkok depannya “Ayo naik”

“Aku bisa berjalan”

“Aku tidak menerima penolakan” Hani terkaget karena Jimin menarik tangannya untuk jatuh ke punggungnya.

 

 

Jimin memasuki motornya ke dalam perkarangan rumah Hani.

“Nona kenapa ?” tanya pelayaannya yang melihat Hani sesampainya mereka di depan pintu utama. Tak berselang berapa lama Ibu Hani muncul dari dalam rumah.

“Kenapa anakku ?” Ibunya Hani kaget melihat kaki anaknya sekarang di gips dan masih duduk di motor dengan seorang pria.

“Tadi jatuh saat berjalan” Jimin membuka suaranya dengan nada yang sopan .

“Bisakah membawa Hani kedalam ?” tanya Ibunya Hani melihat kaki anaknya dan berargumentasi anaknya akan sedikit susah kalau berjalan.

“Eomma” Hani kaget mendengar pertanyaan Ibunya, dan melirik Jimin yang kini sedang tersenyum.

Kemudian Jimin beralih ke Hani dan tersenyum lebar kearahnya, sedangkan Hani menatap Jimin dengan ngeri.

 

Pelan – pelan Jimin menaruh badan Hani ketempat tidurnya. Bukan hanya  mengantar ke tempat tidur, Jimin juga menarik selimut untuk menutupi tubuh Hani. Hani tertegun dengan perlakuan Jimin kedirinya. Ah Hani benar – benar tidak habis fikir. Hani menatap Jimin yang diambang pinggir tempat tidurnya begitu juga Jimin yang menatap Hani. Mata mereka saling bertemu satu sama lain.

“Heemm” Jimin mendehem karena suasana aneh yang mereka rasakan. “Kalau begitu aku pulang, cepatlah sembuh” dengan senyuman Jimin mengakhiri kata – katanya. Senyuman manis yang dia punya tentunya. Tetapi Hani tidak bergeming.

“Terima kasih” Hani menarik tangan Jimin yang berbalik badan untuk pamit. Jimin sontak membalik badannya melihat Hani. “Sama – sama “ balas Jimin dengan senyuman miring tapi malah terkesan seksi.

 

-oo-

 

Waktu sudah menunjukan jam 23.45 itu menandakan sudah hampir tengah malam. Namjoon masih saja fokus dengan laptopnya.

“Maaf kami mau tutup”

Namjoon mengalihkan pandangannya kesumber suara. Didapatnya pelayan yang membuatnya dunia berputar beberapa detik, pelayan yang membuat jantungnya berdegub kencang. Pelayan ah tidak lebih tepatnya GADIS yang membuat seorang KIM NAMJOON merasakan getaran dihatinya.

Hyunsung nama pelayan itu melambai – lambaikan tanggannya tepat kemuka Namjoon.

“Kami mau tutup, tempat ini sudah sepi kau tidak pulang ?”

Namjoon tersadar dan mengkerjab –  kerjab kan matanya.

“Ah…” Namjoon melihat keseluruh cafe ini. Benar – benar sudah sepi dan beberapa pelayan lainnya sudah ada yang membereskan meja dan kursi. Karena gadis pelayan inilah Namjoon sering berlama – lama disini dan kali ini dia terlalu lama di cafe ini hingga cafe ini mau tutup. Namjoon menundukan kepalanya lalu memasukkan barang – barangnya ke tas ransel.

 

 

Namjoon menggembungkan dan mengkempiskan pipinya bolak – balik dengan handfree di telinganya dan yang sedang bersenderan di samping cafe yang baru saja dia kunjungi.

 

Hyunsung keluar dari cafe tempatnya bekerja dan didapatnya Namjoon sedang bersenderan ditembok samping cafenya. Hyunsung menatap Namjoon dengan tak berekspresi. Bagaimana bisa lelaki ini belum pulang juga batinnya.

“Ah kau sudah pulang” Namjoon melirik ke dalam cafe yang sekarang sudah gelap.

“Mengapa kau tidak pulang ?” Hyunsung menatap Namjoon dingin. Ya, memang kepribadian Hyunsung itu tertutup dan jarang sekali berekspresi.

“Aku antar ?”

“Tidak perlu itu bus yang kutumpangi sudah datang” tangan Hyunsung menunjuk bus yang sudah di halte.

“Kalau begitu aku duluan” pamitnya datar. Baru selangkah Hyunsung melangkahkan kakinya, tangannya sudah di tangkap cepat oleh Namjoon.

“Ini sebagai tanda terima kasih kau sudah memberiku diskon hari ini” sahut Namjoon yang tersenyum dan otomatis dimplenya kelihatan sekali.

“Kau tak terima balas budiku ?”

Hyunsung diam tak bergeming akhirnya mengangguk karena Namjoon mengkedip – kedipkan matanya yang sipi yang menurut Hyunsung itu  menggelikan.

 

 

Dikarenakan diluar hujan sangat deras, mau tak mau Namnjoon berteduh di rumah Hyunsung. Namjoon duduk sambil memperhatikan ruangan rumah Hyunsung yang dihiasi interior klasik dan minimalis cocok sekali dengan kepribadian Hyunsung yang tertutup, dan banyak juga barang – barang limited edition dan beberapa piala juga piagam olimpiade yang Namjoon jumpai dirumah ini. Namjoon mendecak kagum melihatnya.

“Minumlah dulu”

Hyunsung datang sambil membawa coklat panas.

“Rumahmu lumayan mewah, tapi kenapa kau bekerja ?”

“Aku ingin mandiri, tidak mau terlalu ketergantungan dengan orang tua” Hyunsung menjawab dan kini duduk di depan Namjoon.

“Oh begitu, orang tuamu dimana ?”

“Di jepang”

Namjoon mengkerutkan keningnya “Kenapa tidak ikut ?”

“Mau berapa kali aku pindah – pindah sekolah terus ? Lagi pula ini tempat kelahiranku jadi aku memilih menetap disini”

Namjoon yang mendengar penjelasan Hyunsung menggangguk – gangguk mengerti.

“Kalau tidak diminum coklatnya bisa dingin” Hyunsung melirik coklat panas buatannya yang belum di minum oleh Namjoon.

Namjoon menatap sekilas Hyunsung kemudian mengambil cepat gelas coklat tersebut.

 

Keheningan pun melanda mereka, Hyunsung yang sibuk mengonta – ganti chanel tv nya. Dan namjoon yang sibuk mengotak – atik ponselnya padahal dia sendiri pun tidak tau apa yang di buka.

“Apa hujannya sudah reda ?” Namjoon membuka suara. Hyusung mengecil volume tv nya “Sepertinya sudah”

Namjoon melirik Hyusung sekilas “ Kalau begitu aku pulang” Namjoon bangkit dan mengambil ranselnya.

“Aku antar kedepan” lalu diangguki oleh Namjoon.

 

“Terima kasih atas diskon nya dan coklat panasnya” Namjoon membungkukkan badannya lalu tersenyum ke arah Hyunsung. Hyusung hanya membalas dengan senyuman tipis. Entah siapa yang mulai kini mereka saling tatap – tatapan.

CUP

Namjoon mengecup pipi Hyunsung sekilas. Kemudian tersenyum manis kearah Hyunsung “Sampai bertemu kembali” lalu Namjoon melangkahkan kakinya keluar rumah Hyunsung. Sedangkan Hyunsung membelalakan matanya tak percaya dan diam tak bergeming. Perlahan tangannya terulur menyentuh pipinya. “Aku dicium” desisnya pelan. Masih tidak percaya atas kejadian yang barusan yang dialaminya sendiri. Hyunsung merasakan getaran dihatinya dan pipinya yang memanas yang sekarang mungkin sudah memerah.

 

-oo-

 

Jin yang sedang berkutat dengan tugasnya mendesis kesal melihat pesan dari teman – temannya menyuruhnya datang untuk balapan. Dengan gerakan kasar Jin mengambil ponselnya.

“BILANG SAMA MEREKA AKU LAGI MENGERJAKAN TUGAS ! CARI LAWAN LAIN SAJA” 

Begitulah isi balasan pesan dari Jin.

 

Drrttt. Sebuah pesan kembali masuk ke ponsel Jin.

“YA ampun siapa lagi yang mengganggu ini” jerit Jin frustasi.

 

“Aku tidak bisa tidur – Jung Hana”

Jin terbelalak kaget membaca pesan dari Hana.

“Kau sudah tidur ?” pesan Hana masuk kembali ke ponsel Jin.

Jin menimbang – nimbang melihat pesan Hana dan tugasnya. Jin paling tidak bisa diganggu apabila sedang mengerjakan tugas. Tapi melihat pesan dari Hana….

 

Disisi lain Hana mendesis kesal menatap ponselnya.

“Dia tidak membalas pesanku ?” jerit Hana depan ponsel.

“KAU MENYEBALKAN KIM SEOK JIN”

 

Baru saja Hana menjerit pesan masuk dari seseorang yang  di tunggu – tunggunya.

 

“Voice massage” Hana menatap binggung pesan dari Jin. Kemudian memplaykan

 

I try but I cant seem to get myself
To think of anything
But you
Your breath on my face
I taste the truth
I taste the truth

We know what I came here for
So I won`t ask for more

I wanna be with you
If only for a night
To be the one whose in your arms
Who holds you tight
I wanna be with you
There`s nothing more to say
There`s nothing else I want more than to feel this way
I wanna be with you “

Wanna be with you – mandy moore

 

Muka Hana memerah mendengar suara lembut Jin yang bernyanyi untuknya, kembali lagi Hana mengulang lagunya. “Suaranya indah sekali “ Seulas senyuman terukir dibibirnya.

 

Kemudian masuk kembali pesan dari Jin.

“Maaf aku lagi mengerjakan tugas, jadi aku kirim voice massage saja tidak masalah kan ?”

 

Hana mencibir membaca pesan Jin “Suara mu jelek” balas Hana. Lalu Hana menatap ponselnya menunggu balasan dari Jin.

“Kenapa tidak balas ?” Hana merengut melihat ponselnya yang sepertinya tidak ada tanda – tanda balasan dari Jin.

“Cih.. lebih baik aku tidur saja” Hana mendengus kesal karena pesannya tidak dibalas Jin. Kemudian dia bergerak mengambil handsfree di laci samping tempat tidurnya, dan memasangkan lagu yang berisikan suara lembut Jin. Mungkin ini lagu buat pengahantar tidurnya pikir Hana.

 

-oo-

 

Hari libur adalah hari yang paling di menyenangkan bagi anak sekolahan. Tetapi tidak dengan sekolah Empire kali ini kepala sekolah mereka Ny.Kang memperintahkan seluruh siswa dan siswi Empire untuk datang kesekolah jam 8 pagi untuk mengadakan senam bersama.

Seluruh siswa dan siswi jelas protes tetapi kepala sekolah mereka mengancam kalau mereka tidak datang maka nama mereka di catat di buku hitam. Jelas semuanya pada mengeluh, mau tak mau mereka datang dengan malas – malasan kesekolah.

Begitu juga dengan Hana dan ketiga teman – temannya. Mereka duduk di bangku sekolah pinggir lapangan dengan muka yang mengantuk dengan Hana sebagai sandaran kepala Hani dan Jeung In. Hana yang terus – terusan mengomel minta pulang, Hani yang bolak – balik menguap tanpa henti, Jeung In yang mengeluh masih ngantuk tetapi dengan mata terpejam, sedangkan Seyeon diam dan tidur di pundak Jeung In dengan mata tertutup dan sedikit mendengkur kecil.

Tiba – tiba omelan Hana terhenti melihat Jin datang juga dengan pakaian putih polos dan juga training jangan lupakan juga kacamata yang bertengger di hidung mancungnya. Seketika Hana  bangkit saat Jin sudah di dekatnya otomatis kepala Hani dan Jeung In jatuh dari bahu Hana dan membuat mereka mendesis kesal.

“Kau..” desis Hana menatap Jin kesal.

“Pagi” sapa Jin dengan hangat ke Hana. Hana menatap Jin kaget dia teringat lagu yang di nyanyikan untuknya.

“Pagi” jawab Hana ketus.

Hani , Jeung In dan Seyeon menatap Jin yang mata mengantuk “Pagi “sapa Jin dengan sumringah tapi disambut mereka dengan muka mengantuk “Pagi Kim Seok Jin” sahut mereka berbarengan.

 

“Perhatian – perhatian “ suara Ny.Kang menggema di seluruh antero sekolah Empire.

“Semuanya berkumpul di lapangan sekarang juga”

Seluruh siswa dan siswi Empire bergerak malas kearah lapangan. Tetapi tidak dengan Jin, dia sangat senang  dan bersemangat bisa berkumpul seperti ini. Mungkin hanya Jin siswa yang tersenyum pagi ini.

Hana dan teman – temannya berbaris bersampingan dan Jin tepatnya di samping Hana. Jin celingak – celinguk mencari seseorang.

“Kau mencari siapa ?” tanya Hana yang menatap Jin sinis.

“Huh.. ti – tidak aku hanya melihat murid – murid sini saja?” Jin menjawab dengan gugup. Padahal Jin mencari keberadaan Jackson.

“Kau mencari murid yang cantik begitu ?”

Jin menatap Hana heran. Bagaimana bisa dia menanya seperti itu.

“Tidak.. aku tidak mencari murid yang cantik. Kan disampingku sudah ada murid paling cantik” cengir Jin dengan tak berdosa.

“APA ? Hei… sejak kapan kau pandai menggombal ? Cih menjijikan” dengan angkuh Hana membuang mukanya.

Sedangkan Jin menatap Hana dengan senyuman malu.

 

-oo-

 

Seyeon dengan cueknya tidur di bus setelah acara senam mereka selesai. Bagaimana dia tidak mengantuk semalam saja dia bergadang menonton drama sampai jam 4 pagi. Sampai senam tadi pun dia menggerakan badannya dengan malas.

 

 

 

“Eomma suruh Appa menjemputku atau hyung menjemputku atau siapa begitu yang menjemputku. Eomma tidak kasian anaknya terlantar di tengah jalan seperti ini huh ?”

Motor mu kan ada ?”

“Motorku mati mendadak Eomma ?” ringgis Jeongguk yang melihat motornya mati secara tiba – tiba.

Taxi ?”

“Eomma anakmu berada di kawasan bebas mobil dan hanya motor saja yang bisa melewati”

Kalau begitu naik bus dong.?”

“Aku tidak bisa Eomma… kalau aku kesasar bagaimana ? Eomma mau anak Eomma paling tampan ini di nyatakan hilang ?”

Ck..ck. ck kau ini. Hyung mu juga tidak kalah tampan kok.” Balas Eomma Jeongguk dengan tertawa.

“Ya… Eomma “ jerit Jungkook.

Naik saja bus kearah rumah. Kalau Eomma tidak salah busnya berwarna putih

“Eomma bus di seoul semua berwarna putih Eommaaaaaa “ keluh Jeongguk.

Cari saja yang tulisan depannya arahPyeongchang-dong” sahut Eomma.

 

Mata Jeongguk yang bulat semakin membulat melihat bus yang dikatakan Eomma berada di depan mata. Dengan gerakan cepat Jeongguk mendorong motornya ke arah supermarket terdekat dan meninggalkan motornya yang mati tapi sebelumnya sudah di kuncinya. Setidaknya motor Jeongguk dalam keadaan aman sekarang dan dia tidak capek mendorong – dorong mencari bengkel.

 

Melihat busnya sudah melaju Jeongguk buru – buru meninggalkan motornya padahal dia belum mengucapkan selamat tinggal untuk sementara kepada motornya.

Dengan  berlari Jeongguk mengejar busnya. Jeongguk berteriak – teriak memanggil busnya. Akhirnya busnya berhenti.

Jeongguk menetralkan nafasnya setelah dia menaiki bus. Setelah sedikit netral, Jeongguk menatap isi bus ini dengan muka bengong. Karena tidak pernahnya dia menaiki bus, kepalanya kekiri dan kekanan mencari tempat kosong. Jeongguk sedikit lega melihat bangku 2 dari belakang ada yang kosong. Dengan pelan – pelan Jeongguk menuju tempat tersebut.

Jeongguk tercengang melihat seseorang dibangku kosong ini sedang tertidur dengan pulasnya tanpa memikirkan orang yang melihatnya. Tapi,..

“Inikan gadis yang itu” desis Jeongguk pelan.

Masih dengan muka tercengang Jeongguk pelan – pelan duduk disamping gadis itu. Diperhatikannya gadis itu yang tertidur dengan sedikit mendengkur.

“Dia mendengkur ?” desis Jeongguk kembali tak percaya. Kemudian Jeongguk memperhatikan dari samping gadis ini tertidur. Dilihatnya baju gadis ini, dengan balutan kaos putih juga jaket dan celana training. “Pasti dia habis berolahraga pantasan kecapean” amsumsi Jeongguk melihat penampilan gadis ini kemudian tersenyum melihat gadis ini.

Baru saja Jeongguk mengalihkan pandangannya dari gadis ini tiba – tiba kepala gadis ini jatuh ke bahu Jeongguk. Jeongguk kaget melihatnya. Jeongguk kembali tersenyum kegadis ini. “Mukanya imut sekali” batin Jeongguk.

“Nona kau tertidur dibahu ku” Jeongguk mengguncang – guncangkan bahunya.

Tak mendapat respon Jeongguk kembali mengguncangkan bahunya pelan “Nona.. hei”

“Haiiiisshhh ada apa sih, kau mengganggu tau tidak” jerit gadis ini.

“Hai..” sapa Jeongguk dengan senyuman manisnya.

Gadis itu tercengang melihat Jeongguk. Kantuknya hilang seketika melihat Jeongguk dan senyuman manisnya.

“Kita berjumpa lagi nona yang aku selamatkan” cengir Jeongguk.

 

 

Seyeon Pov

 

“Nona kau tertidur dibahu ku”

Ah sepertinya aku mendengar suara ? Siapa yang mengganggu tidur ? Apa aku sedang bermimpi ? Tapi suaranya indah sekali ? Sepertinya suara lelaki. Mungkin aku bermimpi. Batinku dalam alam sadar bawahku.

Kenapa kepala di guncang – guncang sih ? Kini aku sudah berada di alam sadarku.

“Nona.. hei”

Ternyata ada yang mengganggu.

“Haiiiisshhh ada apa sih, kau mengganggu tau tidak” jerit ku kesal, tidak tau dia sangat mengantuk sekali hah ?

“Hai..”

Rasa kantukku seketika hilang secara tiba – tiba. Lelaki ini ? Lelaki yang menyelamatku ? Lelaki tampan itu.

“Kita berjumpa lagi nona yang aku selamatkan”

Benar. Benar dia lelaki itu. Tapi.. ?? AAAHHH dia melihat tidur ? Apa aku tadi mendengkur ?

“Kau sedikit mendengkur kecil nona” sahutnya denga sedikit tawa. Ah, sial aku mendengkur dihadapannya. Tapi. Tapi bagaimana dia bisa tau pikiranku? Apa dia bisa membaca pikiran orang? Ah sepertinya aku benar – benar belum berada di alam sadar.

“Hei.. nona kau sudah sadar ?” dia melambai – lambaik tangannya di mukaku.

“Ah maaf “

Haiiisshhh kenapa kata itu yang keluar dari mulutku ? Aku pasti seperti orang bodoh di hadapannya. Ah kau membuat malu dirimu sendiri Seyeon batinku menyesal.

Lihat. Lihat dia masih menatapku. Apa aku harus balik menatapnya atau membuang mukaku ? Aku rasanya mukaku sudah memerah sekarang. Yatuhan.

Sedikit senyum kubalas tatapannya kemudian dengan perlahan kualihkan pandanganku ke arah jendela.

“Kenapa kau mengacuhkan ku ?”

Apa katanya ? Kualihkan pandanganku kini melihatnya.

“Kau mengacuhkan ku ? Kau tidak mau berkenalan dengan ku ?”

APA ? Kulihat dia dengan kening mengkerut. Tak kusangka dia senarsis ini.

“Jeon Jeongguk” dia mengulurkan tangannya.

“Kau tak mau menyambut uluran tanganku ?” sunggutnya. Aaaahh mukanya benar – benar imut. Sangat menggemaskan

“Kim Seyeon” jawabku sambil mengulurkan tanganku dengan takut – takut.

“Masih sekolah ?” tanya.

Mengapa dia menanykan hal itu ? Ah sudahlah yang penting aku bisa berbincang dengannya. “Masih” jawabku dengan lembut.

“Tingkat ?”

“Tingkat tiga”

“Benarkah ? “

Kenapa dia terkejut mendengarnya? “Kau sendiri ?” tanyaku.

“Tingkat 2”

Apa tingkat 2. D U A. Berarti dia…

“Senang berkenalan denganmu noona”

Dia mengatakan apa NOONA. Aku lebih tua darinya. Tidak mungkin. Tolong siapapun bangunkan aku. Bagaimana bisa aku menyukai seseorang yang dibawahku ? Itu bukan tipeku sekali. Tapi. Tapi dia sangat tampan. Ah Seyeon pasti kau bermimpi. Kucubit pipiku dengan keras.

“AW” ringgisku.

“Ya.. apa yang noona lakukan”

Yatuhan tolong sadarkan aku. Begitulah batinku mengatakan. Dia. Dia mengusap pipiku dengan jemarinya. Apakah aku bisa menjerit disini ? Tangannya sangat lembut. Di mengusap pipinya dengan lembut. Dan. Dan apa ini ? Darahku berdesir seketika. Aku bisa gila sekarang.

“Kenapa noona mencubit pipi noona lihatlah sekarang pipi noona memerah” paparnya dengan imut menurutku.

“Benarkah” tanyaku padanya.

“Hahahaha noona sangat lucu” dia tertawa hingga eyesmilenya sedikit kelihatan juga dimplenya. Rasanya aku ingin melompat dari bus ini sekarang juga. Batinku tidak kuat melihat senyumnya.

 

-oo-

 

Author pov

 

Jin sedikit berlari – lari kecil melihat Hana sudah menunggu di gerbang pintunya.

“Ini “ Jin menyerahkan bungkusan yang berisi ayam goreng juga cola.

“Kau naik apa ?” Hana mencari – cari motor yang biasa Jin bawa.

“Naik bus”

“Motormu”

Jin melihat Hana “Dirumah sepertinya ada kerusakan jadi tidak kubawa” jawab Jin berbohong padahal motornya di tempat Yoongi karena hari ini Jin bakalan ada rencana balapan. Lagi.

“Oh begitu” Hana manggut – manggut. “Tidak singgah ?”

“Lebih baik aku pulang saja, ini sudah malam”

Hana mencibir mendengar jawaban Jin. “Baiklah kalau begitu terima kasih kim seok jin” balas Hana mencubit pipi Jin dengan gemas.

Jin tertegun dengan perlakuan Hana. Ah skinskip batin Jin kesenangan.

“Kalau begitu aku masuk, sampai jumpa”

Jin membalas dengan senyuman khasnya.

Baru saja Jin ingin membalikkan badannya Hana sudah memanggilnya lagi. “Sampai rumah hubungi. Mengerti “ tandasnya dengan raut muka dingin.

Jin yang mendengarkan hanya manggut – manggut seperti anak kecil yang dimarahi ibunya.

 

Kira – kira seratus meter Jin meninggalkan rumah Hana, seseorang mencegatnya yang tersenyum dengan mengejek.

“Habis dari rumah Hana ? Wah hebat?” Jackson menepuk – nepuk bahu Jin.

Jin dia melihat perlakuan Jackson terhadapnya. “Mau mu apa ?” tanya Jin to the point.

Bukannya menjawab tapi Jackson malah mengambil kacamata yang bertengger di hidung Jin.

“Apa kau balapan dengan kacamata ini juga ?” tanya Jackson. Jin diam menatap sinis Jackson.

“Kembalikan” Jin merampas paksa kacamatanya.

“Waktumu tinggal 3 minggu lagi. Ingat kalau kau tidak bisa jadian dengan Hana dia akan menjadi wanitaku”

“Kau tunggu saja kabar bahwa aku akan jadian dengan Jung Hana, Jackson Wang” Jin semakin menajamkan pandangannya ke Jackson. Kemudian berlalu dari hadapan Jackson.

 

Jackson menatap kepergian Jin dengan seringai liciknya. “Kau kira aku akan tinggal diam kalau kau sudah jadian dengan gadisku ?” desis Jackson pelan sambil menatap Jin dengan senyuman mirinya.

 

TBC

 

Cerita apa ini ? makin aneh ? makin abstrak. Siapa sih yang nulis ? (( bego yang nuliskan gue ?)) ini chapter first sight bakalan ada 2 atau 3 atau juga 4 side side 5 sampai side 100 ( kok kaya sinentron sih) . Karena ini chapter paling panjang isinya. Kamsia loh yang udah ngomet di chap sebelumnya. Habis ff ini pandakim juga mau buat ff kak seok jin lagi tapi dengan NC . h e h e h e. Tidak dengan ff ini tidak bakalan ada ncnya wkwkwkwk… tapi pandakim berusaha akan memasukan unsur nc tapi yagitu nc anak sekolahan rating rating 17 ajalah. Sebenarnya pandakim gak bisa bikin nc (( curhat )) (( tapi ini boong))😄

Yasudahlah cuap gak jelas pandakim. Diharapkan komentnya GAIS moooaaahhh :3. No silent reader ^^

About fanfictionside

just me

31 thoughts on “FF/ SCHOOL LOVE AFFAIR/ BTS-GOT7/ pt. 3

  1. ciyeeee hana udah mulai suka ya sama jin ciyeeee
    ayo jin tembak hana, sblm waktu perjanjian sm jackson abis/?
    terus juga jackson dorong aja ke jurang biar gabisa deketin hana/? okesip? huahahaha
    sangat sangat menyukai part jeongguk-seyeon! mwah! taehyung-jeungin juga! jimin-hani juga!
    next next next!!!!!!!!!!!!!!

  2. Maap saya jadi silent reader baru bisa komen sekarang karna baru inget passwordnya :v wkwk
    What? Kamsia? Authornya cina? :p
    Lanjutkan thor! Pighting!
    Aku ga peduli mau berapa side. Yang penting si jin akhir cerita cinta nya/? Sama hanya wkwk xD
    Sekali lagi maaf ya thor jadi silent reader hehehe😀
    Ditunggu next chap!

  3. JANE UNNIIIII!!!~~~
    Daebak ya ffnya aaaaa makasih udah nyantumin nama aku dan aku suka ff ini hahahaha<33
    yampon apa jadinya dicium Namjoon dipipi:"))))
    LANJUT UN LANJUT. aku ingin tau bagaimana hubunganku dengannya kedepan/? LOL
    makasih banyak un alabyuuu<3

  4. kyyaaaa~~ author tercinta.. maap aku baru komen di part ini.. padahal aku udah ngikutin ni ff dari awal >___< yaampun~~ seriusan ceritanya seru banget.. semua casst udah dapet jodohnya, yaaa~~ kecuali suga sama hoseok sih😛 ditunggu next partnya^^

  5. Gimana ya, disini Hana ngomongnya sinis bngt tapi dalam maknaan dia perhatian ama Jin,jinjja ada ff nc Jin huaaaa😥 pengen baca,yeee makin suka kalo ad N*,* hehehe😀 aku juga suka nc school life hehe,hei Jackson awas aje elu ganggu Jin oppa gua, next chapter fighting pandakim🙂

  6. wuahhh ff i like it!! ohya thor pen buar ff nc? yoongi aja castnya thor diakan mesum #tabok
    aku ngakak baca yg jeungin sama jino …
    next jan lama2 side nya kek pt,2 sebelumnya aja othe? next next..

  7. Kalo aku jd hana ya pas jin ngirim voice message, aku pasti gbs tidur haha Keren thor❤ Part selanjutnya segera yah =]

  8. gatau kenapa dapet banget feel nya kalo sifat jackson di ff ini tuh kayak gitu, wkwk. ditunggu next nya thor’3′)b

  9. Sok kenal sama authornya dulu ah ^^
    Gila ya ff mu eh lo eh apaan sih, thor deh
    Baguzz pake Z haha, ok sampe mana dulu gua nih bahasnya, itu…
    Nanti jackson bakal nyari cara gimana lagi biar hana jadi pacarnya?
    Terus akhirnya hana taukan kalo jin itu pembalap liar?
    Lagian kalau hana sama jackson, gua ikhlas dgn lapang dada menerima aa’ jin menjadi pendampingku aw lopek.
    Gila ya comment gua random bgt, yaudeh ding sampe sini aja muah /g
    Cepet updatenya ya thor ^_~

  10. hana udh mulau jtuh cinta ma jin
    gq yakin pasti deh jackson memanfaatin bokap nya war dapatin hana
    dua couple favorite gw hana jin & soyeon jongkook
    next” thor

  11. ahh kece banget thor😀
    sih hana lama2 bikin greget yaa hahah
    si jackson makin hari makin ngeselin juga
    semoga jin bisa langsung nembak hana😀
    lanjut thor ^^

  12. suga sama jhope apa kabar nya nih? belom ada yg nyantol dihati kayanya. sama gua aja deh /ehh lanjut thorrr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s