FF/ MONSTER/ BANGTAN-BTS/ pt. 2


Title                : Monster [Part 2]

Author            : intan @sena_kuki

Rating                        :  T (17+)

Genre              : school life, Angst, fantasy, romance, comedy, etc.

Cast                :

–      Han Se Na (OC)

–      Kim Nam Joon

–      Min Yoon Gi

–      Park Han Na (OC)

–      Kim Seok Jin

–      Jung Ji Hwa (OC)

–      Park Jimin

–      Park Sang In (OC)

–      Kim Taehyung

–      Jang Ok Jung (OC)

–      Jeon Jungkook

–      Jung Eun Shi(OC)

–      Jung Hoseok

–      Park Subyong (OC)

 

*** …what happened?

Poster 2

-SeNa POV-

Disepanjang jalanan malam yang dingin ini aku terus berjalan dengan langkah pendekku. Pakaian kotor, perban yang membaluti tangan kananku, wajahku yang dipenuhi luka, juga kakiku yang terkilir bahkan rambut kusut ini semakin melengkapi kesengsaraanku.

 

Segerumpulan pertanyaan itu terus terngiang diotakku. Bagaimana bisa mereka mati begitu saja.? Nam joon, Manusia macam apa dia.? Apakah dia seorang pembunuh berdarah dingin.? Bahkan dia menyuruhku untuk segera meninggalkan tempat itu.. eomma.? eotteokhae?  bagaimana jika polisi menyelidiki hal itu.? apa hidupku benar-benar akan berakhir disini.? Eomma aku ingin kembali…

 

Entah apa yang terjadi, kenapa aku merasa seperti dikutuk hari ini. Hari yang penuh dengan kesialan dengan sempurna kudapatkan hari ini dan ditambah lagi pagar sekolah yang sudah dikunci rapat.

Tidak mungkin bagiku untuk memanjati pagar jewelry, semua penjaga sekolah pasti akan menagkap basah dan menyeretku ke kantor polisi.

Hanna.? Benar!  Hanya nomor ponsel hanna yang kupunya. Akupun memeriksa semua kantong celana dan sweaterku mencari dimana letak ponselku, dengan tanganku yang sedikit bergetar karena ketakutan ini aku berusaha mencari nomor ponsel hanna yang tersimpan diponselku.

 

“HanNa-ya..? neo eodisseo.??” Tanyaku dengan sedikit berteriak.

“uhm.? Tentu aku dikamarku.. wae.?” Jawab han na dengan suara seraknya yang seperti terbangun dari tidurnya.

 

Aku terdiam kaku melihat seseorang yang berjalan semakin dekat kearahku. Wajah itu semakin jelas ketika dia semakin dekat dengan gerbang sekolah yang dilengkapi dengan lampu terang ini.

 

NamJoon sunbae?

 

“HanNa-ya..!!! toloong.. tolong aku… han na-ya.. ppallii..” pintaku dengan suara bergetar setengah ketakutan. Entah apa yang membuatku sangat takut setengah mati ketika melihat nam joon sunbae, ketika melihat nam joon sunbae 3 orang yang mati menggenaskan itu langsung terbayang di memory otakku. Bahkan dengan jelas juga aku melihat lengan sweaternya mempunyai noda darah yang cukup banyak.

 

Aku tidak tau lagi apa yang harus kulakukan. Saking takutnya aku tidak bisa lagi bernafas dengan normal, detak jantungku menjadi tidak karuan. Nam joon sunbae dia menatapku dengan tatapan yang mematikan. Tatapan dingin entah benci atau apa itu seketika itu juga dia merebut ponselku dan membantingnya keaspalan membuat ponselku retak dan tidak berbentuk. Saat itu juga perasaan takutku sudah sampai batas akhir hingga aku tidak sadarkan diri. Samar-samar yang kulihat adalah nam joon sunbae yang merangkul tubuhku.

 

-Author POV-

 

“sena-ya? Yeoboseyo..?” HanNa meneriaki SeNa dengan matanya yang mulai sedikit terbuka. Tapi nihil tidak ada jawaban sama sekali setelah perempuan itu berteriak meminta pertolongan padanya. Bahkan sekarang ponsel sena tidak aktif. Hanna melihat jam yang menunjukkan pukul 02.00AM dari ponselnya. Hanna berpikir sena hanya bermain-main, bagaimana mungkin pada dini hari seperti ini sena seperti itu.

Apa mungkin sena mempunyai kebiasaan buruk saat tidur.? Apa dia sedang bermimpi lalu menelfonku, kemudian dia terjatuh dari tempat tidur lalu batrai ponselnya nya keluar sehingga ponselnya tidak bisa dihubungi lagi.? Pikir HanNa sambil menerawangi langit-langit kamarnya.

 

Hanna berdecak kesal dan melempar ponselnya ke karpet bulu-bulu itu, dan lebih memilih untuk melanjutkan tidur nyenyaknya dari pada memikirkan sena yang benar-benar sedang membutuhkan pertolongan itu.

 

Sementara itu teman sekamar Han Se Na ‘Jung Eun Shi’ terlihat tertidur dengan nyenyaknya di meja belajar SeNa. Angin yang masuk kekamar karena pintu jendela yang sedikit terbuka itu mengibas-ngibasi poni rambutnya menyuruh gadis itu untuk segera bangun dari mimpi indahnya.

Gadis itu langsung menegakkan kepalanya ketika angin itu mulai nakal meniupi tengkuknya. Dengan mata setengah terbuka gadis itu mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.

 

Kenapa lampu kamar masih menyala dengan terangnya? Kenapa sena tidak membangunkannya.? Eunshi memandangi kedua ranjang yang dihadapannya itu masih terlihat sangat rapi.

Kemana sena? kenapa smapai sekarang sena belum kembali dari acara makan ramyun cup nya itu.? apa mungkin sena langsung pergi kerumah keluarganya? Batin eunshi.

 

Bahkan eunshi berdiri dibalkon kamarnya hanya untuk sekedar memeriksa gerbang depan. Apa mungkin sena terkurung? Tapi memang tidak ada siapapun didepan gerbang itu. Walaupun tidak terlihat jelas tapi menurut eun shi tidak mungkin sena berdiri didepan gerbang.

Pemikiran eunshi saat ini adalah, mungkin saja sena bertemu dengan keluarganya dan menginap disana.

Eunshi pun segera masuk kedalam kamar karena angin malam terasa begitu dingin. Dengan segera eunshi mengunci jendela dorongnya itu, tapi saat menutupi tirainya eunshi terheran dengan kamar yang Nampak jelas dari pandangannya. Sebuah kamar dengan lampunya yang masih menyala. Dibalkon itu terlihat seorang namja yang menatap tajam kearah nya. Dengan bingung eunshi segera menarik tirainya dengan kasar.

Eunshi tidak terlalu memikirkan hal itu, sambil menguap eunsi berjalan ketempat tidurnya setelah mematikan lampu kamar. Tapi tepat saat akan menarik selimutnya, terdengar ketukan pintu yang cukup pelan.

Ketukan pintu itu membuat eunshi terheran-heran, apa mungkin itu sena.?

Dengan setengah berlari eunshi pergi menuju pintu itu, membuka kunci kamar yang ia kunci dari dalam.

 

Baru saja eunshi menarik kenop pintu itu seseorang yang tidak ia kenali langsung saja menerobos pintu itu, membuat gadis yang tidak tau apa-apa itu terpelanting cukup keras kedinding belakang pintu. Orang itu langsung menarik dan mengunci tubuh eunshi didinding pintu ketika gadis itu mencoba untuk menutup pintu itu dengan kakinya, bahkan dengan seenaknya orang itu membekap mulut eunshi agar tidak berteriak.

Eun shi terus meronta-ronta dan berusaha untuk menurunkan tangan kekar itu dari mulutnya. Tapi nihil orang itu sangat kuat membekap mulut eun shi. Bahkan orang itu semakin menempelkan tubuhnya pada eunshi, mengunci tubuh gadis itu tanpa ampun sedikitpun.

Eun shi tidak bisa melihat wajah orang itu karena kepalanya yang bersender pada dada orang itu. Dari aroma tubuhnya bisa dipastikan orang ini adalah seorang namja.

Seorang namja? Tepatnya namja itu seperti sedang mengelus rambut eun shi dan menyelipkan rambut panjang itu ditelinga eun shi. Bahkan eunshi dapat merasakan hembusan nafas dari namja itu. Membuat gadis itu sedikit merinding dengan sentuhan namja yang tidak ia kenali itu. Namja itu sedikit melonggarkan tubuhnya pada eunshi, merundukan kepalanya dan membisikkan sesuatu di telinga eunshi.

 

“nuna.. kau merindukanku.?”

 

Eun shi membulatkan matanya, nuna? Siapa yang dimaksud oleh namja ini dengan nuna? Bahkan eun shi tidak mempunyai teman ataupun keluarga di seoul ini.

Tanpa pikir panjang eun shi langsung mengangkat lututnya hingga mengenai bagian privat dari namja itu. Membuat namja itu langsung melepaskan eun shi. Dengan sigap eun shi langsung meraih apapun disekitarnya. Semua sepatu yang ada di rak itu ia lemparkan dengan kekuatan penuh kearah namja itu. Tidak peduli jika namja itu akan mati karena lemparan sepatu olehnya, yang terpenting baginya adalah terbebas dari lelaki mesum ini. Hingga semua sepatu itu sudah habis ia lemparkan semua. Eun shi pun mengangkat rak sepatu yang berat itu untuk ia lemparkan ke namja gila itu.

 

“SENA NUNA..!! AKU HANYA BERCANDA..!!! JUNGKOOK..!! NAN JUNGKOOK..!!!” teriak namja itu sambil melindungi tubuhnya dengan telapak tangannya dari serangan eun shi.

Luka memar diwajah namja itu serta darah yang mulai menetes dari hidungnya membuat eun shi menghentikan aksi nya itu. Begitu pula dengan namja itu yang menatap eun shi dengan tatapan setengah ngeri dan setengah kebingungan.

 

 

“Akk… YYA.!! Apa kau tidak bisa lebih pelan eoh..?” ujar namja bersweater merah itu pada eun shi yang memasukkan kapas kelubang hidung jungkook dengan kasar. Tapi eunshi tidak peduli dengan rintihan-rintihan jungkook. Tujuannya saat ini adalah sesegera mungkin menyelesaikan tanggung jawabnya karena telah membuat namja ini sangat kritis dari atas hingga bawah.

 

“kudengar sena nuna tinggal di kamar 100. Lalu kenapa kau yang berada dikamar ini? apa kau penyusuk.?” Tanya jungkook sambil memegang rahangnya yang terasa ngilu saat berbicara.

 

“yya haksaeng.. apa sekarang adalah waktumu untuk bermain-main.? Apakau tidak liat sekarang pukul berapa.? Dan kau tidak tau ini asrama perempuan.? Juga.. kau haksaeng apa kau baru saja menggunakan bahasa nonformal padaku.? Penyusuk.? Bukankah kau yang penyusuk? Kau bilang semua itu hanya becanda? Kau pikir.. SEMUA INI BECANDA EOOHH..????” teriak eun shi sambil memukul-mukul bantal sena ketubuh namja itu tanpa ampun.

 

“YYA..!! BERHENTI MEMUKULKU..!! KAU..!! AKU BISA SAJA  MEMBUNUHMU SEKARANG JUGA..!!” teriak namja itu tidak mau kalah.

“KAU..!! KAU MENERIAKIKU..???” teriak eunshi tidak percaya, karena baru kali ini ada seseorang yang lebih kecil darinya meneriakinya seenaknya. Eunshi langsung membanting bantal itu dengan keras tepat mengenai kepala jungkook. Tanpa ampun juga eunshi memukul jungkook dengan tangan kosongnya hingga namja itu terjatuh dari tempat tidur.

Tidak ada ampun bagi jungkook karena telah membuat gadis itu sangat marah. Dengan sigap jungkook menangkap kedua tangan eun shi dan menggenggamnya dengan kuat. Tetap saja eunshi meronta-ronta tidak terima, namun jungkook semakin menarik tangan eunshi membuat eunshi yang berlutut diatas kasur itu ikut tersungkur kelantai  menghimpit tubuh jungkook.

 

Kecanggunganpun menghinggapi perasaan eunshi. Tapi berbeda dengan jungkook yang terlihat biasa saja dengan posisi itu.

Apa jungkook sering melakukan hal seperti ini pada setiap perempuan? Batin eunshi.

 

“aku ingin menemui tunanganku.. Han Se Na.. dimana dia?” Tanya namja itu menatap eunshi yang wajahnya begitu dekat dengannya.

“tunangan..?? bukankah sena dari luar negri.. dan kau?” Tanya eun shi dengan tatapan bingung.

“nuna… tidak ada yang tidak mungkin bagi pertunangan bisnis bukan.? Apa orang tuamu tidak melakukan hal itu.?” ucap jungkook sambil tersenyum sinis menatap wajah bingung gadis yang masih menghimpiti tubuhnya itu.

“apa orang tuamu sudah sangat sukses hingga tidak memerlukan sebuah ansuransi dari anaknya.?” Ulang jungkook lagi dengan penuh kepercayaan diri itu.

 

Eunshi menatap jungkook dengan tatapan penuh kebencian. Akhirnya apa yang ia pikirkan selama ini terjadi juga. Bersekolah di jewelry adalah tekanan hidup yang paling besar dari pada tekanan hidup yang ia jalani selama ini.

Eunshi terus menarik tangannya tapi nihil tidak ada gunanya, namja itu menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Dengan sigap namja itu membalikan tubuhnya membuat eunshi yang dihimpit oleh jungkook.

 

“YYA..!! IGE MWOYA..?” teriak eunshi sambil mendorong dada jungkook dengan tangannya yang masih digenggam kuat oleh jungkook.

 

“nuna.. apa kau tau? Saat anak chaebol dijodohkan, salah satu dari yang dijodohkan itu pasti mempunyai seseorang yang ia cintai dibelakangnya..”

“dan.. apakau mau menjadi orang itu..??” Tanya jungkook dengan memperlihatkan smirknya yang mematikan itu.

 

Eunshipun membeku mendengar ucapan namja yang bahkan belum satujam ini ia kenal. Dengan senyuman manisnya jungkook bangkit dari posisi itu memperhatikan posisi tubuh eunshi yang tergeletak dilantai.

“memalukan..” gumam namja itu lalu mengehempaskan badannya diatas tempat tidur, menarik selimut dan memeluk guling seakan kamar ini adalah miliknya.

 

Sadar telah dipermainkan, eunshi langsung bangkit dari posisinya. Meneriakki jungkook agar segera pergi dari kamar ini. Bahkan eunshi berusaha menarik selimut yang sudah menutupi tubuh jungkook. Ketika selimut itu sudah terbuka jungkook langsung terduduk. Tanpa malu iapun membuka sweater merahnya, dan kaos hitam lengan pendek itu juga ia lepaskan dari tubuhnya. Tidak peduli jika eunshi memperhatikannya dengan tatapan tidak percaya.

Eunshi shock melihat kelakuan jungkook yang seenaknya, bahkan namja itu bertelanjang dada dihadapannya tanpa rasa malu sedikitpun.

 

“apa ini yang biasa dilakukan oleh anak chaebol.? Bahkan orang miskin lebih sopan dari pada apa yang kau lakukan saat ini.. ini kamar perempuan dan kau seenaknya tidur disini dan mem..”

“diamlah sebelum aku melakukan lebih..” ucap jungkook tanpa menatap eunshi. Sukses membuat eunshi terdiam, takut jika jungkook benar-benar melakukan hal yang tidak-tidak padanya.

 

Eunshipun dengan sedikit ragu berjalan menuju ranjangnya yang berjarak 2meter dari ranjang yang tengah ditiduri oleh jungkook. Eunshi menarik selimutnya menggulung dirinya erat-erat dengan selimut, melindungi tubuhnya agar tidak terjadi ‘sesuatu’ pada dirinya yang apabila tidak ia sadari.

 

***

 

Dipagi hari yang cerah disebuah café yang cukup ramai. Terlihat seorang pria muda yang memakai snapback secara terbalik itu tengah menikmati espresonya sambil mengotak-atik tablet yang ia pegangi. Ia terlihat sedang membaca berita tentang perkembangan jewelry high school. Sekolah berstandar internasional yang dikemudian hari akan menjadi miliknya.

Keseriusan namja itu terganggu ketika ponselnya yang tergeletak diatas meja itu bergetar.

 

“nee..” jawab namja itu sedikit malas, masih terus membaca artikel itu.

“taehyung-ah, kau bersama jimin.?” Tanya orang diseberang telfon.

“ani.. wae..?”

“aahh.. gwaenchana..” jawab perempuan diseberang telfon.

“apa jimin ingin mengajakmu pergi lagi.?”

“hhmm..”

“membicarakan han na lagi..?”

“kau tau.??” Tanya yeoja diseberang telfon itu.

“aku mengetahui segala hal.. bahkan aku seudah mengetahui perasaanmu sebelum kau mengetahuinya Park Sang In…” ujar taehyung santai.

“maksudmu..?”

“kututup.. jimin mungkin masih tidur, kau datang saja kekamarku. Annyeong..” Taehyungpun langsung menutup ponselnya sambil mendesah kecil lalu menatap seorang barista yang tengah sibuk melayani pelanggan.

 

“kenapa manusia itu begitu bodoh dan munafik..??” ujar kim taehyung sambil menghabisi espressonya.

Taehyungpun menggunakan tabletnya itu untuk memfoto barista wanita yang terlihat cukup cantik itu tanpa diketahui olehnya. Dengan sinis tahyung juga mendatangi meja barista itu.

 

“2 Caramel Macchiato..” ucap taehyung santai. Tapi berbeda dengan barista itu yang terlihat sangat terkejut melihat taehyung yang ada dihadapannya.

“n..ne.. jamkk..jamkkanman..” jawab yeoja itu sedikit gugup.

Barista perempuan itu terlihat sangat gugup, bahkan saat memberi whipped cream dan saus karamel gerimis itu saja dia terlihat seperti orang bodoh. Gadis itu tidak berani meberikan pesanan itu pada taehyung. Melihat salah satu barista lain yang membawa pesanan kopi membuat wajah gadis itu sedikit lega.  Gadis itu menawarkan diri untuk mengantarkan pesanan kopi itu ke supermarket seberang dan meminta barista itu yang mengantarkan caramel macchiato ini untuk taehyung, seorang namja yang sudah menunggunya dari tadi pagi.

 

Taehyung yang sadar gadisi tu tengah menghindarinya tersenyum tidak percaya. Apa dia begitu takut.?

Taehyungpun berjalan keluar dari café sambil memain-mainkan kunci mobilnya. Seketika kegiatannya itu terhenti ketika barista yang menghindarinya tadi itu sudah kembali dari supermarket seberang dan sudah berhadapan langsung dengannya. Perempuan itu terlihat muram dan tidak berani untuk menatap taehyung.

 

“Cinderella jewelry.. kurasa panggilan itu lebih cocok dari pada yang biasa diucapkan oleh anak-anak padamu setiap detik..” ucap taehyung sambil membetulkan posisi snapbacknya itu.

“hhmm.. apa Cinderella sedang dihukum oleh ibu tirinya.?”

“kudengar ibumu dirumah sakit jiwa..?” ulang taehyung lagi sambil menyandarkan tangannya di Lamborghininya.

 

Langkah gadis itu untuk memasuki café terhenti karena ucapan taehyung yang menusuk hatinya. Ingin sekali rasanya dia membalas ucapan taehyung tapi ia urungkan karena itu berarti taehyung akan terus memancing kemarahannya.

Sementara yang ditinggalkanpun hanya tersenyum geli dan lebih memilih untuk menaiki Lamborghini nya yang berwarna sapphire blue itu.

 

***

 

BRAAKK…

 

Sukses tubuh jungkook terpelanting ke lantai akibat tendangan dari eunshi.

 

“nuna.. kenapa kau begitu kasar.? tidak akan ada namja yang mau denganmu..!!” ujar jungkook sambil mendongakkan kepalanya seperti anak kecil yang tengah berceloteh terhadap ketidakadilan yang sedang tidak berpihak padanya.

“kau.. bocah mesum, cepat pergi sebelum aku yang menarikmu keluar..”

 

Sambil menguap jungkook berjalan di koridor asrama perempuan yang kosong itu, jungkook sedikit meringis karena rahangnya masih terasa ngilu akibat perbuatan eunshi. Namun ketika berada di lift, beberapa murid perempuan terlihat berbisik-bisik ria mendapati seorang namja tampan yang berada di lift bersamanya. Posisi jungkook yang bersandar di dinding lift sambil memicingkan setengah matanya karena masih mengantuk itu semakin membuat perempuan-perempuan itu semakin gila. Jungkook hanya diam saja seperti sudah biasa berada pada situasi seperti ini.

 

Sambil keluar dari asrama jungkook terus berusaha untuk menghubungi sena, namun tetap saja ponsel itu tidak aktif. Saking sibuknya dengan ponsel itu jungkookpun tanpa sadar telah menabrak orang yang berjalan didepannya.

“hyung seharusnya kau lebih berhati-hati..” ujar jungkook tanpa rasa bersalah.

“mwo.?” Jawab namja itu tidak terima dengan teguran jungkook itu.

“hyung.. aku tau kau sedang mengantuk, dan juga apa kau sangat senang berada dibawah pohon sakura??” ujar jungkook sambil menyentuh kepala namja itu dan mengambil sebuah kelopak bunga sakura yang terselip dipuncak kepalanya.

 

“kau masih tetap menyebalkan.. “ ujar namja itu sambil menahan tangan jungkook dikepalanya dan membantingnya kebawah. Jungkookpun mempoutkan bibirnya terheran menatap namja itu yang seperti sudah mengenalnya cukup lama.

 

“SUGA HYUNG..!!!” teriak seorang namja sambil melambai-lambaikan Caramel Macchiato yang ia bawa. Jungkookpun membalikkan tubuhnya melihat siapa orang yang tengah berteriak itu.

“kekanak-kanakan sekali..” ujar jungkook pelan sambil memasukkan kedua tangannya kedalam kantong ripped jeansnya tersebut dan berjalan untuk meninggalkan sekolah ini.

Yang namanya taehyung tetaplah taehyung, taehyung dapat mendengar hal itu dengan jelas. Niat taehyung untuk menegur anak itu diurungkan olehnya karena suga hyung yang ia panggil itu sudah berjalan menuju asrama meninggalkannya.

 

Dengan segera taehyungpun menghampiri suga hyung nya itu.

“suga hyung..!!” panggil taehyung berulang-ulang namun tidak ada jawaban dari namja itu.

“siapa yang kau panggil dengan suga.? apa kau sama saja dengan murid-murid perempuan itu?” ujar namja itu dengan kesal.

 

“Min Yoon Gi oppa..!!!!!” seorang perempuan berambut hitam panjang itu berlari-lari kecil kearah taehyung dan yoon gi.

“yoongi oppa.? Apa kau ada waktu hari ini.? Apa kau mau menemaniku.?” Tanya perempuan itu sambil menarik-narik lengan yoon gi.

“tsk.. Yya Han Na dewasalah..” ucap taehyung kesal.

“apa aku sedang mengajakmu.? Oppa aku ingin mengganti warna rambutku, apa kau juga ingin melakukannya..?” Tanya han na dengan wajah sedikit serius namun terlihat lucu itu.

“aku ingin melakukannya HanNa-ssi..” jawab taehyung sambil melambai-lambaikan Caramel Macchiato nya.

“aku tidak mengajakmu taehyung-ssi..” ucap han na dengan tatapan tajamnya pada taehyung dan merebut 2 caramel macchiato itu dari tangan taehyung lalu memberikannya untuk yoon gi dan sisanya untuknya.

“aku akan pergi jika taehyung pergi..” jawab yoon gi sambil menerima caramel macchiato itu.

Dengan keterpaksaan HanNa menyetujui persyaratan yoon gi itu. Yang penting baginya adalah bisa pergi bersama yoon gi dihari libur ini.

 

***

 

Dengan masih menguap gadis itu mengucek-ngucek matanya yang terasa sedikit perih karena silauan matahari yang tepat menerpai wajahnya. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya karena matanya yang mulai terasa perih.

Aneh? Itulah yang dirasakan gadis itu ketika menatap sekitar kamar yang ia tempati ini.

 

Sadar bahwa tempat ini bukanlah kamarnya. Gadis itu segera bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kaca besar ruangan itu.

Dari wajahnya gadis itu terlihat takjub dengan pemandangan didepannya.

Apartment? Tidak salah lagi ia ada disebuah apartment sekarang. Sadar dengan apartment, gadis itu membulatkan matanya tidak percaya. Lalu menatap tubuhnya dengan bingung.

Betapa terkejutnya dia ketika melihat tubuhnya yang hanya mengenakan kemeja putih, yang hanya menutupi tubuhnya hingga seperempat pahanya. Bahkan kancingnya juga tidak terpasang sempurna.

 

Karena memperhatikan tubuhnya ia terkejut kenapa ia tidak merasakan rasa sakit pada sekujur tubuhnya? Rasa terkilir dikakinya itu tidak terasa lagi, bahkan tubuhnya terasa normal seperti saat pertama kali ia datang ke korea. Bahkan perban yang membaluti tangan kanannya itu sudah tidak ada lagi, juga bekas luka yang dikatakan dokter jin akan membekas lama itu bahkan tidak membekas sama sekali. Gadis itu berlari menuju cermin yang tak jauh dari posisi berdirinya, memandangi wajahnya yang tidak mempunyai luka ataupun bekas luka sedikitpun. Gadis itu tercekat tidak percaya, semua yang terjadi terasa bagikan mimpi menurutnya.

Gadis itu mulai memegangi kepalanya yang terasa pusing. Dengan bingung ia mulai mencari-cari ponselnya hingga mengacak tempat tidur itu. Gadis itu semakin pusing ketika ia mulai mengingat kejadian semalam.

“ponselku.. namjoon sunbae.? Bukankah dia yang membanting ponselku.?” Gumam gadis itu sedikit takut.

 

Gadis itu terdiam ketika melihat sebuah foto terjatuh dari tempat tidur itu. Sebuah foto yang sedikit buram, foto yang sepertinya sudah usang itu. Terlihat seorang wanita separuh baya memakai baju bulu-bulu tebal khas musim dingin dan seorang bocah yang mengenakan coat berwarna coklat tua.

 

“jadi..? apa ini apartment namjoon sunbae.? Dan …”  gadis itu menatap sekujur tubuhnya, menyangkal hal yang tidak-tidak pada dirinya.

 

Gadis itu segera melompat dari tempat tidur mengitari sekitar kamar itu, mencari-cari letak bajunya. Ia ingin segera keluar dari tempat ini. Tapi tetap saja ia tidak menemukan bajunya, tidak peduli dengan pemikiran orang-orang nanti padanya, dengan setengah berlari ia menuju pintu apartment untuk segera keluar.

 

Pintupun terbuka, betapa terkejutnya gadis itu melihat nam joon yang sudah ada dihadapannya.

Niat gadis itu untuk keluar dari pintu itupun terurungkan. Kejadian semalam itu masih teringat dengan jelas diotaknya. Kejadian saat ia melihat sweater nam joon yang dipenuhi noda darah, juga kemarahan namjoon hingga  membanting ponsel milik gadis itu membuat gadis itu takut hingga diam seribu bahasa tidak berani menatap nam joon.

Nam joon membuka lebar pintu apartment itu dengan dorongan kakinya. Memperhatikan gadis yang dihadapannya itu dari bawah hingga atas.

 

“kau ingin pergi..?” Tanya nam joon bersandar disamping pintu mempersilahkan gadis itu segera keluar dari apartmentnya.

 

“to..tolong kembalikan bajuku..” ucap gadis itu sedikit takut.

Namjoon merasa jengah dengan ekspresi takut dari gadis yang ada dihadapannya itu. Nam joon mulai melangkahkan kakinya untuk memasuki apartment, tetapi seketika itu juga gadis itu ikut memundurkan langkahnya untuk menjaga jarak dari nam joon.

Nam joon mendecak kesal dengan tingkah gadis itu yang benar-benar menganggabnya sebagai monster. Nam joon semakin melangkahkan kakinya begitu juga dengan gadis itu yang semakin memundurkan langkahnya.

 

2 langkah.. 5 langkah.. 6 langkah.. 9 langkah..

 

Gadis itu tidak bisa mundur lagi ketika tubuhnya yang sudah bersandar pada sofa. Nam joon memajukan wajahnya membuat wajah mereka berdua begitu dekat. Nam joon terus menatap gadis itu dengan tajam. Sementara orang yang ditatap terlihat semakin pucat.

“s..sunbae..” gumam gadis itu semakin takut. Tapi nam joon semakin memajukan wajahnya hingga badan sena sudah terlalu membungkuk kebelakang.

 

“bau..” ujar nam joon pelan lalu melempar kantung plastic yang berisi makanan itu pada gadis itu membuatnya dengan sigap menangkap plastic itu hingga sebuah apel jatuh menggelinding dilantai.

 

“bau..??” gumam gadis itu sambil meniup-niupi nafasnya dan menciumnya sendiri.

“Bahkan nafas ku lebih harum dari pada apel ini..” gumam gadis itu sambil memunguti apel yang jatuh itu.

 

Sena gadis itu tengah asik menonton TV sambil menghabisi makanan yang sudah dibeli oleh namjoon tadi dengan lahapnya. Gadis itu terlihat sedikit parno hingga mengikat selimut tipis itu dipinggangnya, karena merasa tidak enak memakai pakaian yang terlalu pendek ketika hanya berdua dengan seorang laki-laki disebuah apartment.

 

Gadis itu merasa bersalah memikirkan hal yang tidak-tidak pada nam joon sunbae. Menurutnya namjoon orang yang baik, dia dingin seperti itu hanya karena kesepian dan kurang kasih saying atau sedikit perhatian. Disekolah bukankah namjoon sunbae juga tinggal sendiri dikamarnya.? Begitu juga di apartment ini. Dan foto itu.? apa dia sangat merindukan ibunya.?

 

Sesekali gadis itu melirik kearah sebuah ruangan yang sedikit terbuka. Bahkan gadis itu sedikit merangkak disofa agar bisa melihat namjoon dengan jelas.

“belajar..?? dia belajar sendiri.? Lalu untuk apa dia bersekolah dijewelry jika bisa belajar sendiri..??” gumam gadis itu dengan ekspresi tidak percayanya.

 

“apa yang kau lakukan..??”

 

Suara itu mengejutkan gadis itu yang masih memikirkan tentang keanehan namjoon. Bahkan gadis itu terjatuh dengan posisi telungkup dilantai karena tidak seimbang berada diatas sofa. Gadis itu tidak sadar jika namja yang dihadapannya itu tengah menatapnya dengan heran karena posisi gadis itu benar-benar terlihat aneh.

 

“o..owae..??” jawab sena sambil memebersihkan mulutnya yang belepotan karena bumbu dari snack yang ia makan.

“apa kau tidak mendengar suara bel..??” Tanya namjoon masih terus menatap gadis itu.

 

Reflek gadis itu segera berdiri merapikan rambutnya dan mengeratkan ikatan selimut tipis itu dipinggangnya.

“mianhaeyo sunbaenim..” ucap gadis itu sambil membungkuk hormat dan berjalan menuju pintu.

 

“annyeonghaseyo.. aku kim you jung dari laundry kim mengantarkan pakaian untuk tuan muda kim nam joon..” ucap seseorang yang membunyikan bel apartment itu dari intercomnya.

“aku mewakili kim nam joon sunbaenim..” ucap sena dengan malas sambil membuka pintunya. Gadis laundry itu terlihat mengerinyutkan keningnya heran menatap gadis yang dihadapannya itu terlihat acak-acakan.

 

“wae.?” Tanya sena heran sambil mengeratkan kembali ikatan selimut yang hampir melorot itu.

“eonni.. kau tau jam 3 pagi tadi tuan muda kim nam joon menelfonku untuk mengambil baju ini..” Ujar gadis laundry itu sambil menunjukkan baju bersih yang sudah ia bawa.

“dan.. ternyata baju itu masih ada pada tubuhmu, namjoon sunbae menyuruhku untuk menggantikan pakaianmu da..”

 

“MWO..?”

“eonni dengarkan aku, dan kau tau? Kukira kau orang yang baru jatuh dari jurang. Bajumu punya noda darah, wajahmu terluka dan tanganmu diperban. Tapi ada apa dengan mu sekarang eonni.? Apa kau orang yang sama dengan yang kutemui semalam..??”

“museum mariya..??” Tanya gadis itu membulatkan matanya tidak percaya.

 

“apa yang kalian bicarakan..??” tiba-tiba saja terdengar suara namjoon yang sudah berdiri dibelakang sena sambil membuka lebar pintu apartment itu, memperlihatkan kepada gadis laundry itu bahwa tidak ada apa-apa di apartmentnya.

“mianhamnida.. ini juga pesanannmu tuan..” ujar gadis itu  menyerahkan pakaian sena lalu sebuah bag shop kecil untuk namjoon. Gadis laundry berambut panjang itu membungkuk hormat pada namjoon setelah menerima uang laundry juga pesanan namjoon.

Sena terlihat heran dengan jumlah uang yang diberikan namjoon untuk gadis itu terlalu besar. Setelah gadis itu pergi namjoon menyerahkan bag shop kecil itu untuk sena dan berjalan kembali menuju ruangannya tadi.

 

 

***

 

“apa yang tadi malam itu hanya mimpi.?” Gumam sena frustasi.

Gadis itu memutar-mutar ponsel yang ada ditangannya dengan malas sambil menyenderkan kepalanya disamping halte. Sebuah ponsel yang ia terima dari namjoon sunbae sebagai ganti dari ponsel yang sudah dirusaki semalam. Dan sudah jelas itu bukan mimpi, ini benar-benar nyata. Tapi bagaimana dengan tubuhnya yang memang terasa sedikit aneh.

“nae ipsul…” ujar gadis itu sedikit bingung sambil menyentuh bibirnya. Gadis itu menyentuh dadanya yang terasa berdesir ketika ia menyebut kata ‘bibir’ itu. Ia merasakan sesuatu yang tidak biasa pada bibirnya.

 

“semalaman aku telah menghilang hampir mati dan tidak ada satupun yang mengkhawatirkanku..??” ucap gadis itu dengan geram, tidak peduli dengan beberapa orang yang menatap kearahnya dengan heran.

 

Drrt..drtt..

 

Ponsel itu bergetar membuat sena tersenyum kecil, ternyata masih ada orang yang mengkhawatirkannya. Tapi ekspresinya itu berubah ketika mendapati 3 buah pesan dari kontak bernama ‘kookie’

“dan hanya anak ini yang menghubungiku.. apa kau ingin memperalatku lagi eoh..?” gumam sena kali ini dengan suara yang lebih keras dari pada sebelumnya. Penunggu bis disamping sena bahkan sudah terbiasa dengan keanehan gadis itu.

 

‘nuna kau dikamarmukan.? Kamar 100.? Aku akan segera kesana.. nuna jangan beranjak dari kamarmu arra..!!!!’

‘nuna aku sudah diluar, ppalli buka pintunya.. sebelum aku mendobrak nya..’

‘nuna neo eodisseo..?’

 

“kau.. sudah jelas kau menginginkan sesuatu dariku..” ujar gadis itu sambil mengklik tombol hijau dilayar untuk menelfon jungkook, seorang laki-laki yang terus menghubunginya tanpa henti semalaman.

 

***

 

“nuna apa kau tidak merindukanku.??” Ujar seorang namja berambut kemerahan itu sambil menghabiskan semua kimbab yang berada dimeja makan.

“uri jungkookie.. tentu aku merindukanmu..” jawab sena sambil mengacak-acak rambut namja yang bernama jungkook itu.

“nuna.. kali ini aku bersungguh-sungguh, apa nuna ingat insiden bowling itu.?”

“kau yang melempar bola bowling hingga membuat tengkorak temanmu itu retak..??”

“kau sangat ingat nuna..”

“tentu.. kau hampir saja dipenjara.. wae..?” Tanya sena dengan lembut walaupun terlihat dipaksakan.

“nuna.. eomma menyekolahkanku disebuah SMA dimana anak itu juga bersekolah disana, setiap hari orang itu mendatangiku dengan teman barunya yang lebih kuat.. kau lihat memar diwajahku..? juga inii.. kau lihat punggungku..!! tanganku..!!! aku dipukul oleh mereka..” ujar jungkook panjang lebar memperlihatkan semua luka yang ada ditubuhnya yang padahal memar itu ia dapatkan sendiri dari eun shi.

 

“JINJJA..? tapi bukankah masalah itu sudah selesai, kau bisa menuntutnya jika kau mau..”

“aniyo.. nuna aku ingin berubah, aku tidak akan membuat eomma marah lagi..”

“jinjja..??”

“geundae nuna.. bantu aku agar bersekolah di tempatmu..”

“mwo..??”

“di jewelry itu mempunyai asrama.. aku bisa tinggal dengan tenang, bukankah nuna juga ada disana, jadi ada yang menjagaku..”

“yya jungkookie, kau pikir kau sangat pintar hingga ingin sekolah disana..??”

“nuuuunaaaa… eomma snagat menuruti perkataanmu, tolong bujuk eomma…. Nuunaaa…” jungkookpun mulai bertingkah dengan aegyo yang dibuat-buat itu membuat beberapa remaja putri yang juga sedang menikmati makanannya itu memperhatikan jungkook dengan muka merahnya. Sementara sena hanya mendesah kesal merasa jijik dengan kelakuan jungkook itu.

 

“jungkookie.. apa kau bodoh..? bukankah setengah dari jewelry itu punya ibumu….” Ucap sena sambil menjitak kepala jungkook dan mengambil sepotong kimbab dipiring jungkook lalu memakannya dengan lahap.

“MWOO..?” Tanya jungkook dengan nada tidak percaya membuat mimic wajah yang aegyeo tadi berubah menjadi namja yang biasanya.

“kau tidak tau..?”

“eomma tidak pernah memberitahuku.. eomma tidak tertarik sama sekali dengan bisnis sekolah.. setengah dari jewelry.? Apa eomma sekaya itu..? daebak.. kali ini aku benar-benar merasa anak chaebol..”

“lalu apakah aku baru saja mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya kukatakan..??” gumam sena dengan wajah bingungnya sambil meminum orange juice itu.

“nuna biar aku yang membayar semuanya.. kau teruslah makan, aku pergi dulu..” ucap jungkook dan segera beranjak dari tempat duduknya.

“huh..? bukankah dari tadi hanya kau yang terus makan..??” gumam sena tidak percaya menatap semua  makanan dihadapannya yang hanya meninggalkan beberapa potong kimbab saja.

 

“sena.. aku tidak percaya…” terdengar suara yang tidak asing dari arah belakang sena. reflek sena menatap kearah belakangnya, ternyata itu adalah suara Hanna bersama taehyung dan yoon gi yang sepertinya baru datang karena terlihat mejanya yang masih bersih tanpa makanan ataupun minuman. Sementara  Taehyung terus menatap kearah jungkook yang berjalan tergesa-gesa keluar dari restaurant itu.

 

***

 

Namjoon laki-laki itu terlihat sedikit kesal mendapati kamarnya yang sangat berantakan oleh sena. Dengan sabar namjoon merapikan tempat tidurnya itu, memunguti bantal-bantal yang jatuh kelantai itu dengan setengah membungkuk.

 

Tiba-tiba bantal itu terlihat sobek mengeluarkan sedikit kapas dibagian tengahnya. Namjoon terlihat kesal dan melemparkan bantal itu kesembarang tempat. Namun bantal itu semakin robek mengeluarkan semua kapasnya, bahkan ruangan itu dipenuhi oleh kapas yang melayang-layang. Kapas itu semakin banyak membuat namjoon sangat risih hingga ia memilih untuk keluar dari apartment itu membanting pintu kamarnya. Dan saat itu juga kapas-kapas yang melayang itu terjatuh kelantai bahkan kapas itu terlihat menghilang dengan sendirinya. Dan bantal yang tadi, terlihat tidak rusak sama sekali.

 

***

 

“apa dia pacarmu..?” Tanya hanna penasaran.

“anni.. bocah tengik bukanlah typeku..” balas sena ketus.

“tadi aku bertemu dengannya disekolah..” ujar yoon gi dingin menatap sena. Sena sedikit takut mendengar suara yoon gi yang seperti sedang marah itu.

“nado.. dia keluar dari asrama perempuan dipagi hari, apa kau tau maksudnya..?” Tanya taehyung sinis.

“JINJJA..??” Tanya sena tidak percaya menatap wajah ketiga orang itu.

“sena-ya.. sekitar jam 2 tadi pagi, kau menelfonku.. kau seperti meringis minta tolong. Kau tidak apa-apa kan.?”

“m..mwo..?” Tanya sena gugup.

 

Kegugupan sena membuat Yoon Gi menatap sena dengan tatapan tajam. Namun berbeda dengan taehyung yang menatap sena dengan heran.

“kenapa kalian menatapku seperti itu…” ujar sena sambil merenggut juicenya untuk menghindari kegugupannya itu.

 

“ada apa denganku.? Kenapa aku tidak bisa lagi membaca pikiran mu sena-ya..?” ujar taehyung menatap sena dengan wajah frustasinya.

“mwo..?? bukankah kemarin kau dengan mudahnya meramalkan masa depannya..??” Tanya hanna dengan wajah bingung.

“aku semakin yakin jika sesuatu yang besar akan terjadi padamu sena.. kau hanya perlu berhati-hati.. apa kau ingat dengan kata-kataku kemaren..??”

“taehyung-ah.. kau membuatku merinding..” ujar sena sedikit gugup. Sena benar-benar tidak nyaman lagi berada disituasi seperti ini.

“aku..aku harus kembali..” ujar sena sambil menaruh kembali gelasnya.

 

 

“semalam.. apa yang kaulakukan..??” Tanya yoon gi menahan tangan sena.

 

HanNa menatap yoongi dan sena secara bergantian tidak percaya. Bagaimana mungkin yoon gi menanyakan hal seperti itu pada sena? begitu pula dengan taehyung menatap yoon gi yang terlihat berbeda dari biasanya.

 

***

 

“Kim Nam Joon.. Yya…!!!” seorang perempuan berambut hitam panjang itu terus berteriak memanggil namja yang terus berjalan disekitar pepohonan lebat ditaman jewelry.

Perempuan itu semakin kesal karena lelaki itu sama seklai tidak menyahutinya bahkan menolehpun tidak. Perempuan itu menoleh kekiri dan kanan memperhatikan jika ada seseorang disekitar sini.

“YYYA..!! kau manusia terkutuk.. apa kau tidak sadar dengan siapa kau berbicara sekarang eohh..??” ucap gadis itu dengan suaranya yang ditekankan itu. Seketika itu juga laki-laki bernama Kim Nam Joon itu menghentikan langkahnya.

 

“kau.. apa kau tidak sadar siapa kau sekarang..?? kau sama seperti kami.. bahkan kau lebih rendah dari kami..” ujar gadis itu menatap punggung namjoon dengan sinis.

“seharusnya aku lebih memilih ibumu dari pada kau yang tidak berguna sama sekali….” Ucapnya lagi.

Namjoon yang tidak terima ibunya dibawa-bawa akhirnya membalikkan tubuhnya menatap perempuan yang ada dihadapannya.

 

“Park Subyong.. apa aku mengizinkanmu untuk menyebut nama ibuku..??”

 

“DAN APA AKU MENGIZINKANMU UNTUK MENCIUM GADIS ITU…????” Teriak gadis itu menggema. Membuat ranting pohon disekitar itu bergoyang hingga beberapa burung yang hinggab disana pergi meninggalkan sarangnya.

 

 

“sena-ya.. bukankah kemaren tanganmu terluka parah..??” tanya hanna heran menatap tangan kanan sena yang masih ditahan oleh yoon gi.

Senapun tergagap menjawab pertanyaan hanna ditambah lagi yoongi yang menatapnya dengan mata yang tidak bisa diartikan itu. Itu bukan tatapan dingin, itu berbeda dari tatapan sebelumnya.

 

Senapun segera berdiri dari duduknya, melepaskan tangan yoongi dan dengan canggung ia berpamitan untuk pergi dari hadapan teman-temannya itu.

Tapi yoongi dengan segera bangkit dari tempat duduknya, mengejar sena menarik tangannya dan membalikkan tubuhnya lalu tanpa aba-aba ia mencium gadis tersebut.

 

“opp..paaa..” ujar hanna dengan suara pelannya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Begitupula dengan taehyung yang tidak percaya dengan sikap Yoon gi. Suga hyung yang ia kenal sangat dingin dengan wanita yang baru ia kenali, kenapa tiba-tiba seperti ini.?

 

Sena terus meronta-ronta bahkan mempelototkan matanya tidak percaya dengan apa yang dilakukan yoon gi didepan umum. Yoongi menahan kedua tangan sena dengan sebelah tangannya dan tangan lainnya yang menekan tengkuk sena agar lebih memperdalam ciumannya.

 

………

 

“apa yang kau bicarakan..??” Tanya nam joon dengan suaranya yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Dari suaranya terdengar kesedihan yang tersembunyikan dari lelaki itu.

 

“kau menghianati kami..?? kau ingin kembali menjadi seperti dulu.?? Apa kalian masih tidak sadar dengan kesalahan kalian..??”

 

“IGEEE MWOYYA…!!!!!” Teriak nam joon. Seketika itu juga waktu terasa berhenti. Hanya nam joon dan gadis bernama subyong itulah yang bisa bergerak. Bahkan sebuah sarang burung yang terjatuh dari ranting pohonpun berhenti begitu saja.

 

“sena.. gadis itu bukan milikmu, walaupun dia kembali tapi dia bukan milikmu..!! kau harus tau itu..” ucap gadis itu meninggalkan nam joon yang wujudnya terlihat berubah mengerikan itu.

 

 

Yoongi mulai melepaskan ciumannya pada sena. Direstaurant dengan banyak pengunjung ini, hanya yoongi dan sena lah yang dapat bergerak. Sena terlihat bingung dengan apa yang terjadi disekitarnya.
“sena-ya.. kau tidak mengingatku sama sekali..?” tanya yoon gi lirih.

 

To be continued..

 

 

Annyeong readers.. hikz mianhae part 2 nya sangat sangat sangat telat.. ahh author benar-benar sibuk.. hikz..

Sekali lagi mianhae.. jika part 2 ny akurang memuaskan… ><

About fanfictionside

just me

28 thoughts on “FF/ MONSTER/ BANGTAN-BTS/ pt. 2

  1. Wah seru nih emang sena dulu siapanya yoongi thor,jadi binggung next chapter palli fighting🙂

  2. Wuaaahhh!!!! Penasaran banget sama lanjutannyaaaa!!! Next chapternya cepetan yaaaaa, udah gak sabar nih

  3. Aseeekkk gua dicium bebeb sugaah
    oah baby baby geudenun
    cafelate amboya…
    siapa? aku ingat KAU ADALAH MIN SUGA CALON SUAMI KE 5 AKUU
    BEBY TERUS CIUM GUAAA
    AHAYDE *DICIUM JIN

  4. gak sia2 nungguin ini ff,, sumpah ini keren pake banget ..
    itu Sena nya Reinkarnasi apa lupa ingatan, atau apalah gitu yg aku gak tau😀
    author lanjut nya jangan lama2 lagi dong😀

  5. demi apa jungkook… kamu nyelinap ke kamar cewe kah?? ohmygod.. noona gak percaya..
    aku suka karakter rapmon, misterius gimana gitu^^ yoongi?? kamu cukup sama taeri aja yaa😛 *salah fokus,beda fanfict* nextttt~~~

  6. Madafakaaaa!!
    Apa ini sebenarnya? Yoon gi bsa ngehentiin waktu? Namjoon juga?
    Apa mereka gumiho kayak subyong?
    Dafuqqq ini cerita seru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s