FF semi-oneshot/ WON’T YOU DIE/ BTS-BANGTAN


Main Cast

 

–          Jeon Jungkook

 

–          Han Nara

 

Genre : Romance, Sad

 

Length : Oneshot

 

Rating : Teen

 

Author : StarWind

 

Summary : Aku adalah sebuah racun. Dan aku mencintai seorang perempuan yang akan menerima bagian tubuhku. Tapi aku menolak. Aku berusaha untuk tidak memberikannya, atau sesuatu yang buruk akan terjadi.

rp-37-starwind01-redo

Disclaimer : I own the story and also the OC. The Cast belongs to God.

 

Note : Annyeong! StarWind mau mempersembahkan reader sekalian sebuah Fanfiction yang mungkin akan jadi gaje. Tapi aku harap para penggemar Jungkook suka dengan FF yang satu ini. Mian kalau FF nya tidak memuaskan. Dan awal cerita akan menjadi author Pov, dan setelah itu akan menjadi Jungkook Pov. Oh iya, Fanfiction ini terinspirasi dari Amazing Spider-man 2. Selamat membaca!

.

.

.

.

.

.

“Jungkook, kau sudah siap?” tanya seorang pria paruh baya yang memegang sebuah suntikan di tangannya. Ia sedang berdiri di samping seorang pemuda yang berbaring di sebuah kasur besi. Pemuda itu tampak tegang dan ketakutan.

 

“Aku sudah siap, paman,” ujar pemuda itu, lalu memejamkan kedua matanya. Tangannya yang sedikit bergetar disentuh oleh pria itu, lalu perlahan jarum suntik mendekat ke permukaan kulit si pemuda itu. Makin lama makin dekat, semakin dekat, dan akhirnya jarum itu menusuk menembus kulitnya.

 

Si pemuda itu menahan nafas. Dan ketika suntikan itu menghisap darahnya, ia meringis kesakitan.

 

Beginilah hidup yang dijalaninya, Jeon Jungkook.

.

.

.

.

.

.

Namaku adalah Jeon Jungkook. Aku adalah sebuah benda yang amat berharga bagi seseorang yang tak lain adalah Pamanku. Kalian tahu mengapa?

 

Karena di darahku ini, tersimpan sebuah benda yang sangat hebat. Di darahku yang kemerahan ini, terdapat sebuah cairan yang sangat mematikan. Cairan ini adalah sebuah cairan yang dapat menyembuhkan. Tapi tak hanya itu.

 

Bahkan cairan ini bersifat membunuh.

 

Saat umurku 7 tahun, Ayahku yang seorang professor menemukan cairan ini. Banyak yang mengincar cairan ini, dan Ayahku berusaha untuk melindungi penemuannya ini. Oleh karena itu, Ayah memasukkan cairan itu ke dalam tubuhku.

 

Sebenarnya, cairan itu dapat membunuhku karena benda itu hanya cocok untuk orang dengan genetika tertentu. Tapi tubuhku untungnya dapat menerimanya. Dan juga aku selamat dari penyakitku yang mematikan, yang aku tak perlu menyebutkannya.

 

Setelah darahku menyatu dengan cairan itu, sebuah peristiwa mengerikan terjadi. Ayahku tewas karena dibunuh oleh orang-orang yang berusaha merebut penemuan itu. Sedangkan aku selamat dan dirawat oleh Pamanku yang juga seorang professor. Jeon Jinlee.

 

Aku merasa senang tinggal dengan Paman saat itu karena Paman sangat baik dan perhatian denganku. Ia merawatku dengan sabar dan selalu melindungiku. Ia berupaya untuk menyelamatkanku dari kejaran para monster itu.

 

Tapi saat aku menginjak usia 13 tahun, semua berubah.

 

Pamanku berniat untuk meneruskan penemuan Ayah. Ia berusaha untuk menemukan cara agar cairan itu tak hanya berfungsi kepadaku, tapi juga kepada orang lain. Paman mulai mencari. Aku sebenarnya tak masalah. Tapi ada sebuah masalah yang harus menjadi bebanku.

 

Darahku dan orang-orang itu menjadi korban.

 

Darahku selalu menjadi korban. Sejak aku berumur 13 tahun, setiap bulan darahku diambil dan diusahakan agar menjadi obat untuk orang lain. Aku sangat ketakutan. Aku paling tak suka dengan jarum suntik. Semua ini membuatku menjadi depresi.

 

Tapi tak hanya aku. Setiap tahun, akan ada 12 orang dengan penyakit keras menjadi kelinci percobaan. Secara bergiliran, setiap orang dari mereka akan diberikan darahku ke tubuh mereka dengan harapan mereka sembuh. Tapi Paman sungguh sangat gila. Mengapa?

 

Sekali lagi kukatakan bahwa cairan itu bersifat membunuh.

 

Jika darahku diberikan kepada orang yang salah, orang yang menerimanya justru akan terbunuh dalam waktu 12 jam. Aku tak tahan dengan semua ini. Ini semua terasa seperti darahku yang telah membunuh mereka. Aku yang membunuh mereka.

 

Dan kini, umurku telah menginjak 16 tahun. Semua itu masih terus dilakukan oleh Paman. Aku sangat pasrah ketika melihat darahku diambil dan orang lain terbunuh di depan mataku.

 

Dan semua itu berubah sejak aku bertemu dengannya. Ya, perempuan itu. Perempuan yang aku tak ingin bunuh. Han Nara.

.

.

.

.

.

.

Mentari pagi begitu terang. Aku yang baru bangun berusaha membuat mata ini terbuka. Aku masih mengantuk dan merasa ingin tidur lagi. Tapi hari ini aku punya tujuan yang lain yang harus kulakukan. Harus!

 

Aku segera mandi dan bersiap-siap, lalu keluar dari kamarku yang terbilang bagus. Banyak alat musik menjadi hiasan, serta nuansa amerika yang kental. Aku menyukai kamar itu. Kamar itu menjadi tempatku untuk menghibur diri yang lelah ini.

 

Tapi berbeda dengan di luar kamarku. Rumah itu sangat mengerikan. Bau peralatan laboratorium benar-benar menusuk hidungku. Aku berjalan santai sambil terus memandangi sekeliling. Banyak benda-benda yang unik dan aneh di sini. Rumah ini sebenarnya sangatlah berantakan dengan macam-macam alat misterius. Rumah ini sangat buruk.

 

Aku melewati ruangan yang kini sangat berisik dengan teriakan seseorang. Aku berusaha tidak memperdulikannya. Paling-paling itu adalah suara Paman yang sibuk bereksperimen dengan darahku. Ya, darahku. Aku merinding sendiri mendengar kata “darahku”.

 

Setelah aku berhasil keluar dari pintu rumah itu, aku berjalan ke sebuah rumah di sampingnya. Rumah itu sangat sederhana dan bagus. Dindingnya berwarna kuning muda dengan atap berwarna merah. Dan bahkan, rumah itu lebih besar dari rumahku yang sekarang. Rumah itu besar karena rumah itu adalah tempat yang ditinggali oleh 12 orang pilihan yang dipilih setiap tahun.

 

Aku mengetuk pintu rumah itu. Dan beberapa saat kemudian, seorang perempuan berambut hitam panjang yang acak-acakan dengan kulit putih serta wajah yang cantik keluar, masih mengenakan piyama biru bermotif beruang. Perempuan itu menguap dengan lebar tanpa menyadari aku tengah memandanginya sambil terkekeh.

 

“Nara, kau tidak malu menguap di depanku?”

 

Nara terkejut ketika aku mengatakan itu. Ia menatapku sejenak, lalu sadar bahwa dirinya telah melakukan hal yang bodoh. Nara tampak salah tingkah. Ia merapikan rambutnya yang masih berantakan karena baru bangun. Namun aku justru mengacak-acak rambutnya sehingga lebih berantakan.

 

“Jungkook, apa yang kau lakukan? Rambutku tambah berantakan!” keluh Nara sambil memasang wajah cemberutnya. Aku terkekeh pelan. Tanganku meraih pipi kanannya, lalu mencubitnya dengan keras.

 

“Sakit! Jangan lakukan itu!” teriak Nara sambil mengusap pipinya yang kesakitan. Nara memang sangat lucu jika sedang marah. Aku sangat suka menggodanya karena reaksinya itu.

 

Aku menerobos masuk tanpa memperdulikan ocehan Nara yang pastinya akan panjang. Suasana rumah itu terasa sangat sepi. Jelas saja, karena orang yang tersisa tinggal Nara seorang diri. 2 minggu yang lalu, orang sebelum Nara sudah meninggal karena darahku tidak cocok dan 2 minggu lagi, tepatnya tanggal 24 Desember adalah giliran Nara untuk menerima darahku.

 

Nara duduk di salah satu sofa yang tepat menghadap TV yang terpasang di ruang tengah. Aku duduk di sampingnya, lalu menyenderkan kepalaku di bahunya. Ia tampak terkejut dengan apa yang kulakukan.

 

“Jungkook, kau tak apa? Kau kelihatan tidak sehat,” kata Nara perhatian. Ia mengelus kepalaku lembut. Aku bisa merasakan kehangatan tangannya menyentuh telingaku. Meskipun Nara baru bangun, tapi menurut hidungku ini ia tetap harum. Harusnya saat ini membuatku merasa nyaman. Tapi aku merasa takut.

 

Apa yang terjadi jika darahku mengalir di tubuhnya? Aku takut ia akan mati seperti yang lain. Aku sangat menyayanginya dan tak ingin kehilangan dirinya. Itulah mengapa aku akhir-akhir ini selalu berada di dekatnya. Aku berusaha untuk berada di sampingnya hingga saatnya nanti.

 

Nara menghela nafas. Aku rasa ia tahu alasanku bertingkah seperti ini. Aku merasakan tangannya mendorong pundakku. Lalu kedua tangannya melingkar di sekitar leherku. Aku menatapnya sendu. Rasanya aku ingin menangis. Aku ingat betul saat aku pertama kali bertemu dengannya.

 

Itu sekitar tahun lalu, pada tanggal 26 Desember. 12 orang pilihan berdiri di hadapanku dengan wajah takut-takut. Aku yakin, mereka takut antara tetap hidup atau akan mati.

 

Aku terpana ketika melihat seorang perempuan tidak takut. Bahkan matanya menampakkan keberanian. Apa yang membuatnya tak takut? Apa ia yakin bahwa dirinya akan selamat?

 

Aku menatap lekat-lekat perempuan itu. Ia sepertinya sadar bahwa aku sedang memperhatikannya. Perempuan itu menarik kedua sudut bibirnya. Aku menatapnya kebingungan. Perempuan itu lalu tertawa kecil.

 

Aku merasa ada sesuatu yang membuat tawa perempuan itu begitu istimewa. Aku merasa jantungku berdetak dengan cepat. Aku memalingkan wajahku dengan gugup. Ia pasti akan keheranan.

 

Ini pertama kalinya aku merasakan perasaan itu. Aku mengajaknya berkenalan dan mengetahui namanya yang indah. Han Nara.

 

Dan seiring waktu, aku makin mengenalnya. Ia di luar terkesan lembut, namun sebenarnya ia manja. Ia sering berbicara sendiri, tapi ia punya alasan. Ia tahu itu adalah hal yang gila. Tapi sejak kecil ia tak punya teman karena tak boleh keluar, disebabkan oleh penyakit tak dikenal. Penyakit yang sangat misterius.

 

Penyakitnya dapat menyebabkan orang yang menyentuh atau disentuhnya menjadi kejang-kejang. Entah apa yang terjadi. Dunia memang punya rahasia. Dan jangan heran jika aku dapat menempel dengannya. Itu karena cairan itu bersifat “menjaga”. Menjagaku dari segalanya.

 

Dan harapan terakhir Nara adalah darahku. Tapi aku terlalu takut memberikannya. Aku takut jika ia mati. Kemungkinan akan kematian terlalu besar. Aku tak mau mengambil resiko harus kehilangan Nara.

 

Aku menariknya ke dalam pelukanku. Ia memelukku dengan erat, begitu juga aku. Aku memeluknya seakan aku tak ingin melepasnya.

 

Tiba-tiba, terlintas sebuah ide di kepalaku. Aku melepaskan pelukanku dan meninggalkannya menuju ke kamar miliknya. Aku mengambil sebuah jaket berwarna biru di lemari bajunya. Ia datang kepadaku dan menanyakan apa yang akan aku lakukan. Tapi aku mendiamkan pertanyaannya. Aku memberikan jaket itu kepada Nara untuk dipakai olehnya dan aku menarik tangannya.

 

“Jungkook, katakan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Nara kebingungan. Aku tak menggubrisnya. Aku membawanya keluar dari rumah itu. Ketika kami telah berada di depan rumah, aku menyentuh kedua pundaknya. Aku menatapnya dalam-dalam. Manik mata kecoklatannya yang indah kupandangi cukup lama. Nara hanya terdiam terpaku. Sejenak ia menatap mataku, lalu menunduk. Kudengar helaan nafas beratnya. Tangan kirinya menyentuh pipi kananku.

 

“Jungkook, apa yang sebenarnya terjadi? Tolong jelaskan padaku,” pintanya dengan suara lemah. Aku merasakan kesedihan yang terpancar dari kedua matanya. Tanganku perlahan turun menuju tangan kanannya dan menggenggamnya, dengan tanganku yang satunya lagi meraih tangan kirinya itu dan juga menggenggamnya.

 

“Han Nara, ayo kita pergi dari sini. Ayo kita hindari dirimu dari menjadi kelinci percobaan.”

 

Nara terkejut mendengar perkataanku. Ia tampak benar-benar kaget. Tangannya dengan kasar menepis tanganku, membuat rasanya hatiku tersayat.

 

“Apa maksud perkataanmu itu Jungkook? Itu tak mungkin! Aku tak mau jika kita harus kabur!” tolak Nara. Aku menggeleng keras, lalu memeluknya. Aku merasa air mataku akan turun sekarang.

 

“Nara, aku takut. Aku takut jika darahku tak akan cocok dengan tubuhmu dan kau harus mati. Aku benar-benar tak ingin kau menghilang dari kehidupanku. Aku mencoba… untuk menyalamatkanmu. Kau tahu, Pamanku sangat gila dan… ia tak perduli kepadamu karena kau seekor kelinci percobaan baginya. Tapi bagiku… kau sangat pen….”

 

Aku terkesiap ketika merasakan bibir mungilnya mengecupku dengan cepat. Hanya dengan kecupan kecil, ia berhasil membuatku terdiam. Ia lalu memelukku dengan erat, membuat wajahku terbenam di pundaknya. Ia mengelus kepalaku.

 

“Jungkook, aku tidak apa-apa. Lebih baik seperti ini. Aku bisa sembuh jika darahmu cocok denganku dan itu akan sangat membantuku. Dan jika aku mati karena darahmu tak cocok denganku, aku merasa lega. Aku tak perlu menderita. Aku tak perlu bersembunyi lagi, menghindar dari orang-orang. Aku tak perlu lagi pura-pura berbicara dengan seseorang. Aku yakin, di sana juga akan ada kebahagiaan. Jika aku mati, aku akan menunggumu di sana. Aku percaya bahwa kita akan selalu bersama meskipun aku hidup atau pun mati. Aku tetap menyayangimu, Jungkook. Selalu menyayangimu.”

 

Air mataku mendesak untuk keluar. Aku tak bisa lagi membendungnya, dan akhirnya semua air mata yang kutahan ini keluar. Aku menangis di pundaknya. Aku balas memeluknya. Isakan tangisku begitu keras terdengar. Tangan hangatnya itu menepuk-nepuk punggungku. Aku bisa merasakan tetesan air matanya mengenai bajuku.

 

Dan setelah itu, aku menghabiskan waktuku bersamanya. Aku terus bersamanya dari pagi hingga malam. Sebisa mungkin aku mengumpulkan kenangan indah bersamanya. Aku tahu bahwa masih ada kemungkinan untuk Nara sembuh. Tapi perasaanku tidak enak. Aku merasakan firasat buruk akan terjadi.

.

.

.

.

.

.

Aku tengah duduk di depan ruang laboratorium Paman. Aku menunggu dengan gelisah. Tanganku kini terasa gemetar dan aku berusaha untuk menahannya.

 

Hari ini adalah tanggal 24 Desember, hari di mana darahku akan diberikan kepada Nara. Perasaanku sangat tidak enak dan dadaku terasa sakit. Sangat sakit. Untuk menghilangkannya, aku memukul-mukul dadaku pelan. Tapi tetap saja terasa sakit.

 

“Aaah!!”

 

Aku terbelalak ketika mendengar teriakan Nara. Aku merasa ingin mendobrak pintu itu, namun aku tak melakukannya. Ini semua adalah keinginan Nara dan aku tak bisa menolaknya. Aku hanya bisa berharap Nara akan sembuh dan selamat.

 

Paman keluar dari ruang laboratorium. Ia menatapku sejenak, lalu memberiku isyarat untuk masuk. Aku mengangguk kecil dan masuk ke dalam laboratorium.

 

Aku melihat Nara tengah berbaring di kasur besi yang sering kupakai. Wajahnya terlihat pucat pasi. Aku langsung berjalan ke sebelahnya dan memegang wajahnya dengan khawatir. Tangan Nara memegang lenganku. Tapi genggaman tangannya terasa dingin, tak hangat seperti biasanya. Badanku terasa gemetar karena hasil eksperimen ini membuatnya seperti ini.

 

“Jungkook, tolong terus berharap bahwa aku akan sembuh dan bisa berada di sampingmu,” ujarnya dengan suara lemah. Aku mengangguk berkali-kali. Ia tersenyum miris, lalu memintaku untuk mengambil kursi dan duduk di sampingnya sedangkan aku hanya menurut.

 

“Jungkook, tidurlah di sampingku. Aku rasa kau belum tidur tadi malam. Aku benar, kan?” tebak Nara. Aku bingung, bagaimana bisa Nara tahu aku tak tidur semalam? Aku memang tak tidur karena terus memikirkan Nara.

 

Ia menarik kepalaku untuk bersender di lengannya. Badannya yang dingin itu membuat perasaan sedih menjalar di tubuhku.

 

“Jungkook, kau boleh tidur di sini,” bisiknya pelan. Aku menutup kedua mataku. Ketika tangan Nara menyentuh puncak kepalaku, kurasakan tangannya justru semakin dingin. Aku berusaha untuk tak perduli dan mencoba untuk tidur.

 

“Selamat tidur, Jungkook. Aku mencintaimu.”

.

.

.

.

.

.

Cit! Cit!

 

Suara nyanyian burung terdengar jelas di telingaku. Mataku perlahan terbuka. Ah, aku ingat. Aku tertidur di sini bersama Nara.

 

Aku mengedarkan tanganku mencari sosok gadis itu. Tapi kenapa rasanya kosong? Mengapa aku tak dapat menemukan tubuhnya?

 

Aku mendongak. Nara sudah tak ada lagi di sini. Tubuhnya sudah menghilang. Aku merasakan mataku mulai terasa panas.  Perlahan, air mata jatuh dari mataku.

 

Aku yakin, Nara sudah meninggal karena setiap kali orang yang diberikan darahku meninggal, Pamanku akan membawanya dan menguburnya seorang diri. Aku percaya Pamanku telah menguburnya karena alat penggali tanah tergeletak di dekat pintu dengan tanah yang berserakan.

 

Nara, ia sudah meninggalkan aku. Darahku sudah berhasil membunuhnya. Harapan terbesarnya untuk sembuh dari penyakit anehnya itu sudah sirna. Senyumannya juga telah menghilang dari hadapanku.

 

Aku membenci diriku sendiri. Aku membenci darah yang mengalir di tubuhku ini, darah yang sudah membunuh orang yang kusayangi. Darah ini sudah membunuh Ayahku dan Nara.

 

Aku melihat sebuah pisau tergeletak di lantai. Aku yakin, pasti Paman melakukan sesuatu dan lupa mengembalikannya.

 

Deg!

 

Aku terdiam, menatap kosong pisau itu. Tanpa kusadari, kakiku melangkah perlahan menuju pisau itu. Dan saat telah mendekati pisau itu, tanganku terulur mengambil pisau berukuran 15 cm itu.

 

“Jungkook, apa yang kau lakukan?”

 

Aku menolehkan kepalaku dan mendapati Pamanku berdiri di pintu laboratorium dengan wajah terkejutnya. Aku tersenyum dengan uraian air mataku yang terjatuh. Pisau itu telah berada di genggamanku dan aku mengarahkannya ke leherku. Paman terlihat syok.

 

“Jungkook, apa yang kau lakukan? Kau tak boleh membunuh dirimu sendiri!” teriak Paman.
“Paman, ini untukmu.” Aku mendekatkan pisau itu ke leherku dengan jarak 5 cm. “Kau bisa mengambil semua darahku ini, dan aku bisa mengejar Nara ke sana. Aku juga ingin terbebas dari darah yang beracun ini. Darah ini adalah sebuah penderitaan, bukan sebuah obat. Aku adalah racun. Dan aku mencintai seorang perempuan yang akan menerima bagian tubuhku. Tapi aku menolak. Aku berusaha untuk tidak memberikannya, atau sesuatu yang buruk terjadi. Dan akhirnya, semua itu tak bisa terhindarkan. Ia menerima darahku dan mati dengan tragis. Aku… benar-benar berbahaya.”

 

Paman menggeleng lemah, ia berjalan pelan ke arahku. Aku menatapnya dengan senyuman.

 

“Sampai jumpa, Paman.”

 

 

“Paman, apa yang…”

 

Seorang gadis berdiri terpaku di depan pintu laboratorium dengan wajah terkejut. Pisauku terjatuh, aku sampai terbelalak melihatnya. Dia, perempuan yang sangat kukenal sekarang berdiri di depan mataku.

 

“Na….Nara?”

.

.

.

.

.

.

The End…?

.

.

.

.

.

Thanks for DuckGuitarist, Clementlee and also Knaraxo for help me make this Fanfiction :)))))

About fanfictionside

just me

21 thoughts on “FF semi-oneshot/ WON’T YOU DIE/ BTS-BANGTAN

  1. Oh jadi ceritanya nara gak mati kan? Jungkook juga kagak kan thor?
    Uwaa lanjut donk! Gantung nih!

  2. Ohmaigat, sempet shock pas kookie mw bnuh diri,,, ending nya bkin kaget, untung jungkook gk mati dluan :v

  3. Aku prnah baca FF ini sebelumnya thor… Kalo ngga salah di Facebook,. Ya kan?? Author nya prnh share di Facebook kan?? Ahh~
    Ini the end,..? Aku tunggu sequelnya thorr,.. Keep writingg!!

    • makasih ya, kalau ada kesempatan akan dibuat sequelnya :)))
      Sayangnya, FF ini seinget author nggak pernah dipost di FB, kecuali kalau namanya pakai nama asli author, Nadhira Rachmadiasti II :)))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s