FF/ SCHOOL LOVE AFFAIR/ BTS-GOT7/ pt. 2-side B


Kim Seok Jin –  Jin BTS

Jung Hana – OC

Jackson Wang – Jackson GOT7

Park Jimin – Jimin BTS

Kim Hani – OC

Kim Taehyung – V BTS

Cho Jeung In – OC

Jeon Jeongguk – Jungkook BTS

Kim Seyeon – OC

Kim Namjoon – Rapmonster BTS

Min Yoongi – Suga BTS

Jung Hoseok – J-hope BTS

Other Cast

 

 

Author : pandakim

Rating: 15, Teenager, School Life, Romance, Comedy

Lenght : Chapter

 

 

RQ_PT3

 

– First Love –

Side B

 

 

 

 

 

“Cinta yang tulus itu berasal dari hati”

 

 

 

 

Author Pov

 

 

 

Sudah hampir 30 menit Hana menunggu seseorang dari dalam mobil nya sambil menghelah nafasnya berunlang kali sambil celingak-celinguk kearah gerbang.

“Kenapa dia belum datang juga ?” keluh Hana tak sabar.

Tak berselang lama mengeluarkan keluhannya. Seseorang yang tunggunya memasuki gerbang sekolah dengan motor yang biasa dipakainya.

Hana sekian kalinya terperangah takjub melihatnya menaiki motor besar yang membuatnya jauh lebih keren. Ya, itu adalah Jin.

 

Dengan sigap Hana mengeluarkan kaca andalannya melihat penampilannya sempurna atau tidak. Setelah merapikan dandanannya Hana keluar dari mobilnya dan sengaja berjalan dengan langkahnya yang pelan.

 

“Hana “

 

Hana sengaja tidak menoleh dan berjalan lurus kedepan, sehingga yang memanggilnya tersebut berlari mengejarnya dan berjalan disampingnya

 

“Sial kenapa pagi ini dia wangi sekali “ batin Hana.

 

“Pagi..”

 

Sapa Jin saat disampingnya dan berjalan mensejajarkan langkahnya.

 

 

“Oh kau..” Hana menatap Jin tanpa ekspresi. Jin membalasnya dengan senyuman simpul.

“Sudah baikan ?” Hana menoleh kemudian memandang kedepan kembali. Sekarang pikirannya kurang fokus karena wangi parfumnya Jin.

“Sudah__”

 

“Hai sayang “

 

Seseorang dari belakang tanpa permisi merangkul Hana dan menggeserkan posisi Jin dengan kasar dan juga tubuh Jin menabrak tembok koridor sekolahnya dengan cukup keras.

 

“Aw..” ringgis Jin dengan pelan.

“Kau tidak apa – apa anak baru ?” Jackson bertanya dengan nada khawatir dibuat – buat.

“Hei, kau apakan dia ?” Hana segera melepas rangkulan Jackson dengan kasar.

 

 

Saat ingin menolong Jin dengan gerakan cepat Jackson menarik tangan Hana.

“Kau tidak maukan reputasi mu hancur karena dia “ Jakcson menunjuk Jin dengan pandangan matanya.

“Itu bukan urusanmu “ bentak Hana.

Jackson mendecak kesal melihat Hana membentaknya “Ayolah sayang, karena dia kau membentakku ? Tsk “

“Ini masih pagi honey, jangan membuat mood mu buruk” tangan Jackson terulur untuk meggapai tangan Hana. Dengan cepat Hana menyingkarkan tangan Jackson dengan kasar.

“Jangan sekali lagi kau menyentuhku !” Hana menunjuk muka Jackson dengan telunjuknya.

 

Kemudian Hana meninggalkan Jin dan Jackson dengan langkah yang penuh emosi.

 

“Tsk.. segitu jual mahalnya dirimu oh JUNG HANA “ teriak Jackson dan tak diperdulikan oleh Hana sedikitpun.

 

Pandangan Jackson beralih ke Jin. Di tatapnya Jin dengan senyum licik.

“Entah cara apa yang kau pakai sehingga ku bisa dekat dengan Hana” Jackson menatap Jin dengan pandangan tak suka.

Jin membenarkan seragamnya dan juga kacamatanya yang mereng.

 

“Aku hanya guru privatnya”

 

“Benarkah ?”

“Lalu apa maksud tulisan mu di buku catatanmu hah ?”

Jin terbelalak kaget mendengar nya.

 

“Kau anak baru sebaiknya sadar diri saja”

“Dan… satu lagi… Sebaiknya  kau jaga saja dirimu mu siapa ?”

“Maksudmu ?”

 

Jin menajamkan pandangannya ke Jackson.

 

“Hah…  “ Jackson terlihat menghelah nafas bosannya.

“ Lebih baik kau jaga saja dirimu yang sebenarnya KIM  – SEOK  – JIN” Jackson menepuk – nepuk pipi Jin dengan sedikit keras.

 

Jin memandang kepergian Jackson dengan pertanyaan dipikirnnya.

 

Menjaga diriku ?”

 

 

Tetapi Jackson berjalan meninggalkan Jin dengan seringai licik sambil melihat foto yang baru saja dikeluarkan dari saku almamaternya.

“Jin. Jin. Aku tidak menyangka dirimu seperti. Ck ck ck “ kemudian dimasukannya kembali foto Jin saat balapan. Dan menyusuri koridor sekolah dengan senyuman. Senyuman licik tentunya.

 

 

 

-oo-

 

 

 

 

Seyeon berlari tak sabar ke menuju kantin.

 

Seyeon menghelah nafas capeknya akibat berlari sepanjang koridor sekolah.

“Kau kenapa ? Apa yang ingin kau bicarakan ?” Jeung In menatap temannya ini dengan heran.

Seyeon menatap Jeung In dan Hani bergantian .

“Kalian tau tidak ?”

“Tidak “ jawab Hani dan Jeung In serempak.

Dengan kesal Seyeon menghelah nafasnya.

“Aku semalam diselamatkan oleh seseorang ?” Seyeon dengan mata berbinar-binar mengungkapnya.

Hani dan Jeung In saling bertatapan.

“Memang ada diselamatnya oleh diri sendiri ?” tanya mereka berdua kembali serempak.

“Aiiiissshhhh…. kalian tau semalam aku hampir saja disentuh oleh 3 ahjussi mesum” Seyeon menghelah nafas dengan sedih.

“BENARKAH “

Seyeon menggangguk lemah.

“Kau tidak apa – apa kan ?” Hani bertanya dengan nada khawatir.

“Aku tidak apa – apa , kan sudah ku bilang aku diselamatkan ?” kini Seyeon tersenyum ke teman-temannya.

“Siapa ?”

“Aku tidak tau namanya “

“Lalu ?”

“Yang ku tau dia tampan” Seyeon tersenyum malu – malu mengingat Jeongguk menolongnya dengan sangat manly.

Hani dan Jeung In menatap Seyeon dengan raut muka datar.

 

 

“Hei itu minumku” Hani protes melihat Hana datang – datang sudah mengambil minumnya saja.

“Sebentar aku lagi kesal” tukas Hana.

“Aku lagi senang “ Seyeon menimpali dengan cengiran manisnya.

Hana menatap Seyeon dengan flat face.

“Tanya aku dong aku senang kenapa ?” Seyeon mengkedip –kedip kan matanya tepat di hadapan Hana.

“Kim Seyeon kenapa bisa senang hari ini ?” Hana bertanya dengan nada yang dibuat-buat.

“Tsk.. kau ini” rengut Seyeon.

“Kau tau aku semalam diselamatkan oleh seseorang pria tampan “ Seyeon kembali tersenyum mengingat wajah tampan Jeongguk.

“Oh begitu “

“Kenapa hanya segitu tanggapanmu ?” Seyeon menatap Hana kesal.

“Tak kau lihat aku lagi kesal ?” balas Hana santai.

“Bukankah kau tiap hari selalu kesal kan ?” Jeung In menambahi tanpa memperdulikan tatapan Hana.

 

 

“Haaaiiisss kenapa si bodoh itu datang “

 

Hana menajamkan matanya melihat Jackson berjalan ke arahnya. Yang lain juga menghelah nafas melihat kedatangan Jackson.

 

“Hai Jung Hana sayang “ Jackson langsung saja duduk disamping Hana.

“Kau hanya menyapa Hana saja “ Seyeon memberi protesnya.

“Hai Seyeon, hai Hani, dan hai Jeung In “ bukannya membalas sapaan Jackson mereka membuang pandangan mereka masing – masing. Sejujurnya mereka juga tidak kalah bencinya melihat Jackson dan bukan Hana saja yang merasakannya.

 

“kau mau apa kemari ?”

“Kau bisa pergi tidak ?”

“Kau tau kau membuat kami jengah hah ?“

 

 

Sederetan pertanyaan mengusir Jackson dilontar kan oleh mereka berempat.

 

Jackson tak percaya mendengar penuturan mereka menghelah nafas dan membuang padangannya dengan kesal.

 

“Apa ? harus kah kami ulang lagi ? “ kembali mereka serempak mengatakannya.

 

Jackson mendecak kesal melihat empat gadis populer dihadapannya ini “kalian menyebalkan “ dengan cepat Jackson meninggalkan mereka berempat. Dan keempat gadis ini ber highfive dengan riang.

 

 

 

 

-oo-

 

 

 

Jin Pov

 

 

 

Ku langkahkan kakiku masuk kerumah dengan malas. Masih terngiang di benakku perkaatan Jackson tadi pagi. Kudecakan lidahku dengan kesal.

 

“Sudah pulang ?”

 

Kualihkan pandanganku ke arah ruang makan.

 

“Cepat sekali pulangnya ? tidak ada kursus ?” tanya Appa yang sedang memasak didapur.

“Tumben Appa makan siang dirumah ?” tanyaku setibanya di meja makan dan melepaskan tas ranselku.

“Kau tidak suka Appa mu makan siang dirumah hah ?”

“Aniya Appa.. hanya saja ini kesempatan langkah “ segera kupeluk Appaku dengan gemas. Rasanya aku ingin berlama – lama seperti ini.

“Hei anak manja lepaskan Appa mu ini, tak kau lihat Appa sedang masak huh “

Aku tertawa riang di depan Appa “ Boleh aku membantu ?”

Dan pertanyaanku tadi segera diangguki oleh Appa. Dengan cepat aku mengambil apron dan memasangkan di tubuhku.

 

 

 

“Appa..”

“hmmm”

“Aku sangat merindukan saat seperti ini” ucapku sambil membolak – balikan daging ham  dihadapanku.

Appa menghentikan acara memotong kentangnya dan menatap ku.

“Appa juga merindukan saat seperti ini, apalagi dengan Eomma mu”

Ku hentikan kegiatanku dan menatap balik Appa.

Terlihat air mata mengenang di pelupuk matanya.

 

“Appa …” panggilku dengan suara bergetar.

 

Entah kenapa aku tidak tahan sekali melihat Appa bersedih.

“Andai Eomma mu masih ada “ terdengar desahan sedih keluar dari mulutnya.

“Uljima “

 

Segera kupeluk Appa dengan erat, dan dibalas Appa pelukan dengan hangat. Tanpa kusadari air mata ku keluar dengan mulusnya dan sebuah isakan kecil keluar dari mulutku.

 

“Anakku sepertinya Appa mencium bau gosong “

“Sama… seperti daging yang gosong “ jawabku dengan senggugukan.

 

“MASAKANNYA….”

 

 

 

 

-oo-

 

 

 

 

 

Jeung In berjalan malas menuruni tangga menuju kearah meja makan, disana sudah ada Ibu, Ayah dan Kakaknya sendiri.

 

“Boleh tidak aku tidak sekolah hari ini  ? Rasanya sangat mengantuk “ keluhnya sembari memakan roti panggangnya.

Jeung In menghentikan acara mengunyah rotinya.

“Kenapa kau melihatku ?” desis Jeung In melihat Jino tersenyum aneh melihatnya.

“Tidak ada, memangnya aku tidak boleh tersenyum kepada adiku tercantik huh ?” kini Jino tersenyum miring ke adiknya.

“Terkutuklah kau Cho Jino yang bodoh “

 

“Jeung In.. “ sahut Tuan Cho melihat anaknya ini.

 

“Nanti Appa tidak bisa mengantar mu dan kau pergi sekolah dengan Oppa mu”

“Ya.. APPA “ protes Jeung In.

“Kenapa kau selalu protes kalau diantar Oppa mu hah ? Lagi pula seharusnya kau bangga punya Oppa setampan dia “ Jino dengan segera merapikan kerah kemejanya dengan gaya manly yang dibuat – buat. Dan tentu saja mendapat tatapan dingin oleh Jeung In.

 

“Ya, mana tau teman – teman mu mengatakan (Jeung In itu siapa Oppa mu ya ?Wah sangat tampan ) “ dengan percaya dirinya Jino mengatakannya.

“Jangan berharap temanku akan mengatakan seperti itu Jino pabo “ Jeung In membuat ekspresi jijik di depan Jino.

 

“Sudah – sudah jangan bertengkar. Jeung In cepat siapkan sarapanmu. Nanti kau akan telat “

 

 

 

 

 

 

 

Jeung In pov

 

 

 

Kuhelah nafas ku dengan kesal melihat si Jino pabo ini membawa motornya dengan pelan.

 

 

“Jino cepat bawa motornya aku bisa telat pabooo” teriakku kesal.

“Panggil aku Oppa, dasar kau tak sopan “ protesnya.

“Bagaimana hubunganmu dengan Taehyung ?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan, cepat bawa motornya” jeritku

“Salah aku bertanya hah ? lagi pula Taehyung itu tampan, baik lagi dan banyak gadis yang menyukainya “ Cih apa – apaan dia mempromosikan lelaki sinting itu dengan bangganya.

Kuputar bola mataku dengan jengah.

“Taehyung itu____”

 

Apa dia mau mempromosikan lelaki sinting itu lagi. Dengan sigap aku mencubit lengannya

 

“Hyaaaa… cepat Oppa aku bisa telaaaat “ jeritku

“Sakiiiittt… ia ia. Dasar cerewet “ tanpa aba – aba dia menggaskan motornya dan hampir saja aku kejengkang kebelakang dibuatnya kalau saja aku tidak langsung memeluknya.

 

 

 

 

 

“Bilang apa kepadaku adikku yang  manis “

“Aku harus mengatakan apa Oppa ku yang tampan “ ingin rasanya aku melemparnya pakai batu yang ada disekitarku.

“Bilang terima kasih dong “ keluhnya dengan raut kesal.

Kulihat mukanya dengan malas “Oh.. “

“HYAAAA “ teriakku kencang.

“Liat Oppa itu “ kutunjuk asal seseorang yang ada di belakangnya dia pun segera menoleh kebelakang. Dengan cepat aku mengambil kunci keretanya dan membuangnya asal.

 

“Terima kasih Oppa Jino ku yang sangat tampan “ kulambai – lambaikan tangganku meninggalkannya yang terbenggong melihatku.

“Hei…. Kunciku ?” teriaknya tersadar.

“Aku buang hahahahahaha “ kulayangkan smirkku dengan bangga.

“Aku ada kuliah Jeung Iiiinnn “ teriaknya lagi sambil mencari kunci motornya.

“Memang peduli ku ? “ dengan santai aku berjalan menuju gerbang sekolah.

Kali ini aku puas mengerjainya.

Kutolehkan kebelakang lagi melihatnya yang sedang mencari kunci motornya dengan menggerang frustasi.

 

 

 

-oo-

 

 

 

“Appa hati – hati ne “

Jin menyerahkan tas kerja Appanya.

“Ne.. kau juga jangan telat bangun pagi “ dengan rasa sayang Tuan Kim mengacak rambut anaknya seperti anak kecil berumur 5 tahun.

“Appa.. “ Jin merengut dan langsung merapikan rambutnya yang telah teracak.

“Aigooo… kau sangat menggemaskan “ Tuan Kim melihat anaknya dengan tertawa dan disambut tawa oleh Jin.

Jin menghentikan tawa nya dan memeluk Appanya. “Appa cepat pulang.. arra “ rancau Jin.

“Siap anakku.. Hei.. pelukkanmu membuat Appa sesak kau tau “

“Biarkan seperti ini dulu Appa “ Jin mempoutkan bibirnya dengan imut.

“Ck.ck.ck.. bagaimana bisa di umurmu seperti ini tetapi kau sangat manja “

Jin melepaskan pelukannya dan tersenyum ke Appanya sendiri.

 

“Appa penerbanganmu “ Jin menatap Appanya setelah mendengar pemanggilan penerbangan ke Hongkong  telah dibuka.

 

“Kalau begitu Appa masuk dulu, kau langsung pulang. Mengerti “

Jin mengganguk dengan semangat.

 

“Bye Appa.. “

“Bye Son..”

 

 

 

 

Jin merogah kantong celananya melihat pesan singkat yang masuk.

 

“Daerah Yoengnam jam 00.35 sekarang “

 

Jin melirik arlojinya “00.23 “

Dengan segera Jin melajukan mobil menuju tempat tesebut.

 

 

 

 

 

 

Jin Pov

 

 

Kulangkah kakiku dengan santai menuju tempat balapan dengan senyuman. Membayangkan ekspresi mereka melihat aku telat.

 

“Oppa..”

“Jin Oppa “

 

Ku tolehkan wajahku menuju sumber suara tersebut.

 

“Sojin “

“Wah oppa kau semakin tampan “ pujinya dengan nada imut yang sejujurnya aku tidak suka.

“Ah.. benarkah terima kasih kalau begitu “ jawabku basa-basi dan segera kulangkahkan kakiku lagi meninggalkannya.

“Oppa.. “

“Oppa mau balapan dengan Jisuk Oppa ?”

“Hah ? Jisuk juga ikutan juga ?” kupandangi gadis didepanku ini, pantasan dia ada disini. Tsk.

“Hmm.. semoga kau menang Oppa ” sahutnya manja dan dia kembali tersenyum lalu mengapit lengganku dan bergelayut manja. Yatuhan mengapa dia semakin lama semakin membuat muak.

 

“Eh.. sojin.. “ perlahan kulepaskan apitan tangannya di lengganku.

“Jisuk sudah menunggu. Sudah dulu ya “ segera aku pergi dari hadapannya.

 

 

“Kau lama “ Namjoon berteriak dengan kesal tanpa memperhatikan disekelilingnya yang melihatnya.

“Tadi harus mengantar bos besar dulu “ aku beralasan dan pasti mereka sudah memakluminya.

“Motorku ?”

“Itu didepan, Yoongi hyung sudah menunggumu “

 

 

“Kenapa lama sekali “ Yoongi menatapku dengan death glarenya

“Kau seperti siput yang imut yang berjalan dengan sangat lambat” dengan santainya Taehyung mengataiku siput imut ? tsk.

 

“Siput imut ? aigoooo “

Kulihat dengan tajam Jimin yang mengekelitik daguku dengan mengkedip – kedipkan matanya.

“Hentikan “ desisku dingin.

“Mianhamnida hyungnim “ jawab nya kalem.

 

 

 

Kulangkahkan kakiku kearah motorku. Sekilas kulirik lawanku disamping kemudian kubuang pandanganku kedepan.

Kupandangi jalur lintasan didepanku dengan diam tiba – tiba saja aku dikejutkan oleh tepukan yang cukup keras di bahuku.

 

“Hyung.. lihat ini “

 

Kulihat tablet yangdiberikan Jungkook kepadaku.

“Kenapa relay nya berbeda ? Bukankah ini sudah pernah  ?” kulihat relay lintasan yang sangat berliku.

“Apakah ini harus drift ?” tanyaku memastikan.

“Hum.. aku saja baru tau tadi, kau tau ini permintaan siapa kan ? “ Jeongguk melirik seseorang diujung .

 

Kudecakan lidahku kesal.

 

“Go Jisuk “ desisku.

 

“Tapi kau tenang saja hyung, tadi Yoongi hyung sudah mengganti tali remnya. Bannya juga sudah diatur. Dan selebihnya tergantung dirimu hyung”

 

Kuhelah nafasku dengan perlahan.

“Baiklah kalau begitu “

 

Kemudian Jeongguk perlahan menjauhi ku dan berkumpul dengan yang  lain.

 

 

 

“Looked me boys”

“Are you ready ?”

“1”

“2”

“3”

“GO…”

 

 

 

 

 

 

 

Author Pov

 

 

 

Jin menggaskan motornya melaju kedepan. Karena jalan  memang sengaja dibuat licin. Jin agak kewalahan. Dikarenakan  juga ini buka permintaanya jadi mau tak mau Jin harus cepat menyesuaikan di lintasan ini.

 

Bukan hal yang susah untuk menyesuaikan motornya dengan lintasan ini. Jin saat ini memimpin jauh didepan diantara ke 5 yang ikutan bermain. Tiba – tiba saja ban Jin sedikit tergelincir untung saja Jin bisa mengatasinya dan digasnya kembali motornya melaju kencang kedepan.

 

Jin melirik dari kaca spionnya. Seseorang melaju kencang kearahnya. Jin tau siapa itu.

 

 

BRAK

 

 

Ban motor Jin sengaja di tabrak. Jin membuka kaca helmnya dengan kesal melihat seseorang tersebut sudah disampingnya.

“Bermainlah dengan adil “ teriak Jin.

“Bagaimana pun caranya aku harus menang darimu” teriak Jisuk. “Walaupun itu dengan curang”

 

 

BRAK

 

 

Motor Jin kembali sengaja ditabrak dari samping dan hampir membuat Jin oleng dan juga membuat bagian samping motornya terkena pembatasan jalan.

 

“Sial “ desis Jin melihat Jisuk sudah didepannya sekarang.

 

Dengan sigap Jin menaikan kecepatan motornya dan mengejar ketinggalannya oleh Jisuk.

Jin menggerang frustasi saat dia ingin menyalip Jisuk didepannya sudah ada tikungan tajam. Jin harus berhati – hati saat ingin menyalip kalau salah sedikit dia akan jatuh ke jurang dan juga lintasannya hanya dibuat untuk satu pelintas saja. Dengan lihai Jin memainkan rem dan ban nya untuk drift di tikungan tetapi tetap saja Jin belum bisa menyalip Jisuk. Lagi – lagi Jin menggerang frustasi tidak dapat celah menyalip lawannya ini. Apalagi tinggal satu tikungan lagi.

 

Tiba – tiba saja ban motornya Jisuk tergelincir dan motornya tepat mengenai tepi pembatas lintasan. Melihat celah didepan mata Jin dengan cepat menggas motornya dan menyalip Jisuk dengan cepat tanpa memperkirakan tikungan tajam yang hanya beberapa meter didepannya.

 

 

 

 

 

 

 

Jin melihat motornya yang bagian belakang sedikit hancur akibat benturan dengan tepian tikungan terakhir.

 

“D A E B A K “

 

Taehyung memberi acungan dua jempol kepada Jin.

 

“Tsk.. bagian belakang nya sedikit hancur” keluh Jin.

“Tenang saja nanti aku yang urus” sahut Yoongi dengan santai.

 

 

 

“Oppa…”

 

Jin dan lainnya menoleh kesumber suara.

“musibah datang” desis Taehyung tak berdosa.

 

“Oppa selamat “ cengir gadis yang ada di depan Jin.

“Ah.. terima kasih” jawab Jin dengan terpaksa.

“Oppa bagaimana kalau kita berdua merayakan kemenanganmu” Jin mendelik mendengar perkatan gadis ini.

“Maaf nona Sojin. Hyung akan merayakan kemenangannya bersama kami bukan bersama kau” Hoseok yang sedari tadi diam angkat bicara melihat Sojin.

“Cih… Oppa maunya merayakannya bersamaku. Benarkan Oppa” Sojin mengapit lengan Jin dengan  manja. Jin menatap teman – temannya dengan pandangan minta di tolong.

“Maaf sojin “ Jin melepaskan apitan tangannya dilengannya sekali lagi.

“Aku sudah ada acara dengan mere…

 

 

BUG

 

 

Sebuah pukulan yang keras mendarat mulus di pipi Jin.

 

 

“Berani kau menganggu Sojinku hah ?”

 

 

Jin bangkit dan mengapus darah segar yang keluar dari mulutnya dengan punggung tangannya.

Jin menatap Jisuk yang melihatnya tajam “Maaf bukan aku menganggu, tetapi dia yang mengangguku”

“BENARKAH ?” bentak Jisuk kepada Sojin.

“Ti..tidak dia yang menggodaku “ Sojin menjawab pertanyaan Jisuk dengan ketakutan.

 

“Hei kau wanita busuk. Kau yang mendatangi Jin hyung” Taehyung menunjuk muka Sojin dengan telunjuknya.

“Kau jangan ikut campur” desis Jisuk menatap tajam Taehyung.

“Cih… itu wanitamu hah ?” Yoongi memandangi Sojin dengan sinis.

“Iya kenapa hah “

“Urus saja wanita mu itu, dia..”

 

Yoongi mengantungkan kata – katanya.

 

“DIA APA “ Jisuk bertanya dengan nada marah.

 

“Dia sedikit mu ra han” jawab Yoongi dengan smirk andalannya.

“Selagi kami tidak menggangu anda sebaikanya anda jangan mengganggu kami” tandas Namjoon sambil menatap tajam Jisuk dan Sojin bergantian.

 

“Sebaiknya kalian segera pergi dari hadapan kami” timpal Jimin dengan senyumannya.

 

“Cih.. awas kalian semua” Jisuk menunjuk mereka satu – persatu.

“Terserah mu saja. Ayo pergi” Jin meninggalkan Jisuk dan Sojin dengan langkah malas.

 

 

 

 

 

 

 

Kini mereka bertujuh tengah menikmati kemenangan Jin di sebuah cafe. Dan saat mereka meninggalkan cafe tersebut didepan mereka sudah di jegat oleh sekelompok orang.

 

 

“Berjumpa lagi “ Jisuk melemparkan senyuman dengan santai.

“Cuih..” Jin meludah melihat Jisuk yang sekarang tengah di depannya.

“Bagaimana kalau kita akhiri ini hum ?” Jisuk melihat Jin dan keenam temannya dengan tatapan meleceh.

“Kami tujuh kau 1,2,3… 14 ? dua kali lipat dari kami ? ck.. ck..ck .. sangat tidak adil” sahut Taehyung dengan nada yang tidak kalah melecehkan juga.

“Kenapa takut hah ?”

“Dasar anak mami buat apa kami takut ?” Jimin tersenyum dengan smirknya.

“Baiklah kalau begitu “

“Siap “ tanya Namjoon.

“Kapan saja siap “ jawab Hoseok mantab.

 

 

Perkelahian pun tak terelakan diantara mereka. Tapi itu bukan masalah yang sulit bagi ketujuh namja ini karena karena ini sudah sering mereka lakukan.

 

 

 

-oo-

 

 

 

Hana kembali mengeluh melihat rumus matematika dihadapannya ini.

“AH.. MENYEBALKAN” erang Hana menghiasi kamarnya.

 

Pasalnya Jin yang absen hari ini dan itu juga membuat Hana kelimpungan melihat matematika dihadapannya ini juga entah kenapa kehadiran Jin selalu ditunggu Hana, ya walaupun terbilang singkat tapi Hana sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Jin, apalagi Jin sudah dari sebulan yang lalu menjadi guru privatnya.

 

“Kenapa si cupu itu tidak datang hah ?”

“Apa jangan – jangan dia bolos lalu seharian bersama wanitanya itu ?” Hana mengingat saat Jin mengantar seseorang wanita di halte bis dan mereka mengakhiri perpisahan mereka dengan mengacak rambut dan mencubit pipi lalu saling tersenyum.

 

“Ahhh.. Apa aku gila ? Apa yang aku pikirkan ?”

“Lagi pula tidak ada dia hidupku tenang, tidak ada ocehan – ocehan  rumus matematika yang membuatku ingin muntah” Hana menatap jijik buku pelajaran matematika di hadapannya ini.

 

“Aaaaaaahhhhhhhh………………. tapi….HAH ” Kemudian Hana mengambil ponselnya.

 

Tut..tut…tut…

 

“Minhyun apa aku boleh tau alamat Kim Seokjin ?”

“Buat apa ?”

“Kau taukan dia guru privatku ? aku kesulitan belajar hari ini “ jawab Hana beralasan.

“Baiklah akan aku kirimkan alamatnya”

“Thanks “

 

 

 

-oo-

 

 

 

Kini tengah Hana terperangah melihat rumah Jin.

 

“Ini rumahnya ? ” Hana mencelos melihat rumah Jin.

“Apa aku tidak salah alamat “ Hana kembali memeriksa alamat rumah Jin “benar tidak salah kok”

 

Dengan ragu Hana menekan bel rumah Jin.

“Dengan siapa ?” tanya seseorang dari intercom.

“Jung Hana “ jawab Hana dengan angkuhnya

“Mencari siapa nona ?”

“Mencari Kim Seok Jin benarkah ini rumahnya ? Dia ada ?”

“Benar ini rumahnya tuan muda.”

 

TUAN MUDA

 

Hana kembali terperangah mendengar kata “tuan muda

 

 

“Sekarang buka pintunya”

“Tapi nona “

“Sekarang” tandas Hana dengan sedikit berteriak.

“Ah ya.. sebentar nona”

 

 

 

“Maaf menunggu lama, tuan muda ada di dalam. Silahkan masuk kedalam nona, mari saya antarkan”

 

Dengan langkah angkuh Hana melangkahkan kakinya ke dalam rumahnya Jin tetapi dengan raut tidak percaya bahwa Jin sekaya ini.

 

 

 

 

Jin Pov

 

 

Kupandangi keenam teman – temanku dikamarku yang lagi protes melihat tubuh mereka penuh memar

“Ah.. mereka benar – benar “ Jimin protes melihat muka memarnya di cermin.

“Udah mereka lebih banyak bawa senjata lagi, sial” Jeongguk merengut yang ikutan melihat wajahnya bersama Jimin dicermin.

 

“Tau sendiri si Jisuk bodoh itu bagaimana” Yoongi menambahi dan diangguki yang lain.

 

“Gara – gara dia aku tidak masuk kan” sahutku sembari melihat pergelangan kakiku yang memar akibat pukulan yang Jisuk berikan sehingga membuatku tidak bisa berjalan untuk kali ini.

 

 

Tok..tok..tok

 

 

“Masuk” sahutkku.

“Maaf tuan teman anda yang bernama Jung Hana sedang perjalan kemari, kekamar anda tuan. Teman anda bersikeras untuk bertemu anda. Dan memaksa dirinya masuk tuan.” sahut Han Ahjumma dengan nada cemas.

“APA ? JUNG HANA ?” tanyaku tak percaya. Bagaimana bisa dia mengetahui rumahku.

“Hyung bagaimana ?” tanya mereka yang melihat kearahku.

“Kalian sembunyi jangan sampai dia mengetahui kita. Tidak. Lebih tepatnya aku”

“Dan ini hyung ini bagaimana ?” dengan polosnya Jeongguk menunjuk botol kaleng bekas minuman bir yang semalam kami minum dikamar ini sekarang bertebaran dimana – mana .

“Bersihkan sekarang juga” dan mereka pun langsung membersihkan bekas – bekas minuman kaleng bir yang berserakan dilantai.

“Hyung penampilanmu ?” Jimin menunjuk rambutku.

Kulihat rambutku kearah cermin.

 

“Sisir mana sisir ? manaaa “ tanyaku tak sabar.

“Ini hyung .. ini.. ini “ Hoseok segera memberikan sisir kepadaku dan dengan cepat aku menyisir rambutku seperti di sekolah.

 

“Kalian segeralah sembunyi” pintaku.

“Dimana ?” tanya mereka serempak.

“Di ruangan atas “ dengan cepat mereka berhamburan keluar kamarku.

 

Baru beberapa detik keluar mereka masuk lagi dengan serabutan.

 

“Ada apa lagi ? “ tanyaku frustasi

“Dia mengarah kesini “ sahut mereka cemas.

“Ah.. dikamar mandi saja ?”

“Di lemari baju saja ?”

“Di balik rak buku ?”

 

“Tuan – tuan sebaiknya cepat nona itu sebentar lagi datang” Han Ahjumma juga ikutan heboh melihat mereka.

 

“Ah berpencar saja “

 

Dengan hebohnya mereka berpencar bersembunyi di kamarku.

Lalu kuambil kacamata dilaci lemari samping tempat tidurku.

 

“YA… KIM SEOK JIN”

 

Aku terkaget melihat Hana sudah ada diambang pintu. Kulirik mereka yang sudah bersembunyi dikamarku dengan sekilas.

 

“Han ahjumma boleh pergi” sahutku sopan.

“Mau minum apa nona ?”

“Tidak perlu” Hana menjawab ketus pertanyaan Han ahjumma.

“Baiklah kalau begitu nona”

“Tapi jus juga boleh” langkah Han ahjumma terhenti mendengar penuturan Hana.

 

 

“Kau…” Hana menunjuk kudengan tatapan sinisnya.

Kupandangi Hana yang berjalan kearahku tanpa berkedip.

 

“Mukamu kenapa ?”

 

Hana memperhatikan mukaku dengan lamat ditariknya mukaku kesamping kekanan kiri dengan sesuka hatinya.

 

Sial detak jantungku mulai tak beraturan.

 

“Kau habis berkelahi ya ?”

 

Ah sial .. deruh nafasnya menerpa wajahku. Kujauh kan wajahku dengan wajahnya.

 

“Tidak .. semalam aku dihajar oleh preman saat pulang kerumah “ jawabku berbohong.

Hana menatap wajahku dingin kemudian mengalihkan pandangannya.

 

“Rumahmu besar juga ternyata”

“Kamarmu lumayan bagus”

 

Kuperhatikan dia berjalan mengitari ruangan kamarku. Mungkin terlalu berlebihan tetapi aku sangat senang dia mengunjungi walaupun entah apa maksudnya mendatangi ku sampai kerumah.

Tapi… buat apa dia datang kerumahku ?

 

“Eh.. Hana ada keperluan apa kau datang kemari ?”

 

Dia menoleh dengan sinis melihatku.

 

“Kenapa ? aku tidak boleh datang kesini hah ?” tanya sedikit berteriak.

“Tidak.. eh hanya saja..”

“Hanya saja apa ?”

“Sudah lupakan saja “ kubalas dengan senyuman.

 

Hana terlihat mengelah nafas nya secara kasar.

“Kau kenapa tidak datang hah ? Aku hampir gila melihat rumus – rumus ini “ dengan kesal Hana mengeluarkan buku pelajarannya.

 

“Kau tau ini sangat ..

 

“AAAAWWWWW” jeritku kesakitan saat dia menekan kakiku dalam selimut.

“Ke – kenapa ?” tanyanya khawatir.

“Kau menekan kakiku..”

 

Serius ini sakit sekali, Hana menekan tepat dipusat sakitnya dan sakitnya menjalar keseluruh kakiku.

“Benarkah ?” disingkapnya selimut yang menutupi kakiku.

Dia sedikit meringis melihat kakiku yang membiru.

 

“Pasti sakit sekali “

“Sangat” desisku menahan sakit.

 

 

Kemudian keheningan melanda kami berdua, sampai – sampai detik jam pun terasa sangat keras berbunyi. Kupandangi wajahnya dari arah samping, tak terasa senyum tersungging di bibirku.

 

Tuuuut~

 

Suara apa itu ? suara kentut ? kentut siapa ?

 

“Kau kentut ?” Hana menatapku dengan tak percaya.

Kudengar cekikikan dari arah bawah tempat tidurku. Tsk. Ini pasti kerjaan Taehyung.

“Ah~ hehehe perutku sekarang sangat tidak sopan” aku tersenyum garing dihadapannya. Sial, betapa malunya aku dihadapannya.

“Cih…. kau sudah cupu, menjijikkan lagi “ dia menatapku dengan tatapan jijik kemudian dia merogoh tasnya.

 

 

“Yeobseo”

“Ya Hani ada apa ?”

“Tidak aku dirumah Jin kenapa ?”

“Kalian mau kesini ?”

“Tidak perlu aku saja yang kesana, tunggu sebentar”

 

 

“Kau mau pulang ?”

“Hum.. mereka menungguku. Kalau begitu aku pulang”

“Perlu kuantar ?”

Hana menatapku dengan flat facenya “kau mengantarku ? dengan kakimu seperti itu ?”

Kulihat kakiku yang memar.. ah benar kali ini sedang tidak bisa berjalan, pasti akan sakit kalau dibawa jalan.

“Sudah aku pulang sendiri saja” ucapnya dan kubalas dengan senyuman.

 

Saat dia hendak membuka pintu kamarku, dia berbalik.

“Besok apa kau bisa sekolah dengan kaki seperti itu ?”

“Akan kuusahkan “ jawabku sambil memandangi wajahnya.

“Baiklah. Cepat sembuh ya anak cupu”

 

 

 

 

 

Author Pov

 

 

 

“Baiklah. Cepat sembuh ya anak cupu.. pfffttt “ Jimin menyembul dari balik lemari sembari menahan tawanya.

“Perlu kuantar ? “tambah Taehyung dengan nada – nada dibuat.

 

“HAHAHAHAHAHA” suara tertawa mereka menggema mengejek Jin yang sedang memasang muka sebalnya melihat keenam temannya ini.

 

“Harusnya aku tadi tidak kentut sekali saja” Taehyung tersenyum sumringah.

“Kentutmu bau hyung, aku hampir mati tadi” ringis Jeongguk mau muntah.

 

“Sudah tau tidak bisa berjalan tetapi mau mengantar seorang wanita “

Ujar Hoseok dengan penuh kemenangan.

 

“HAHAHAHAHAHAHA” tawa mereka kembali meledak.

 

“Kalian puas ?” Jin melayangkan deat glarenya.

“Kurang puas HAHAHAHAHAHA” Namjoon menjawab sekenanya.

 

“DIAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAM”

 

 

 

-oo-

 

 

 

 

Pagi yang cerah membuat sebagian siswa dan siswi mengawali harinya dengan ceria begitu pula dengan Jin ya walaupun Jin harus berjalan sambil sedikit meringgis karena kakinya belum pulih sepenuhnya.

 

 

Hana melihat seseorang didepan yang dia kenal. Sedikit berlari Hana menghampirinya.

 

“Aku kira kau tidak masuk” Hana menatap wajah Jin pagi ini dengan raut yang penuh ringgisan.

“Eoh.. “ bukannya membalas dengan kata – kata Hana tetapi Jin membalas dengan senyuman.

Dengan cepat Hana membuang mukanya melihat kedepan.

 

Dan Hana mendecak kesal melihat seseorang didepannya. Begitu pula Jin hanya saja Jin mendecak kesal dalam hatinya. Diliriknya Hana sekilas kemudian menatap Jackson dengan tajam dari bilik kacamatanya.

 

“Wah.. wah.. Kalian semakin dekat saja ya KIM SEOK JIN . JUNG HANA “ dengan sengaja Jackson menekan nama mereka berdua.

“Itu bukan urusanmu JAKSON WANG” balas Hana dengan sengit.

 

Jackson menatap Hana tak senang.

 

“For you girl I spell my name. My name J A C K S O N not J A K S O N. Understand” Jackson menatap Hana dengan sinis tapi Hana memutar bola matanya sembari mengembuskan nafas .
“Dan sepertinya kau sangat senang berada dengan wanitaku tuan Kim “ Jackson mengalihkan pandangannya kini ke Jin.

 

Cih wanitaku “ batin Jin

 

“Kenapa tidak bisa jawab huh ?” Jackson menatap Jin dengan tajam.

“Aku hanya sebatas guru privatnya saja jadi wajar kalau aku dan dia dekat lagi pula aku dan dia berada dalam kelas yang sama” balas Jin dengan tatapan dinginnya.

 

“Eoh.. begitukah ? “ Jackson meragukan jawaban Jin .

“Dan omo omo,  lihat – lihat muka mu banyak memar anak baru kau kenapa hah ?”

Dengan diawali senyuman Jin menjawab pertanyaan Jackson.

 

“Semalam saat aku pulang kerumah, ada sedikit kecelakaan kecil”

“Benarkah ? bukan kau yang mengawali kecelakaan kecil itu dan ikut dalam kecelakaan kecil itu ?” Jackson tersenyum penuh kemenangan.

 

Jin menatap Jackson dengan datar. Seperti tau apa maksud yang dikatakan Jackson.

 

“Apa yang kau bicarakan bodoh. Sudah sana inggir kami mau lewat” dengan paksaa Hana menggeser tubuh Jackson lalu menarik Jin pergi menjauh dan Jackson mendengus melihat apa yang dilakukakan Hana kepadanya.

 

Jackson menatap mereka berlalu dihadapannya dengan perasaan dongkol.

 

“Cih.. awas kau Jin “ maki Jackson mendesis.

 

 

 

 

Jackson Pov

 

 

 

Ku lempar asal tasku dengan kesal. Sialan mereka berdua membuat hari ini sangat kesal.

 

“Apa liat – liat ?” tanyaku sinis ke orang didepanku ini.

“Kau kenapa sih ?”

“Kau tau kan mark aku pernah cerita kalau ada anak baru dikelasku”

“Lalu apa masalahnya hah ?”

“Dia semakin lama semakin dekat dengan Hana”

“Hanya itu ? Ayolah Jack.. jelas jelas Hana sudah menyatakan penolakannya. Kenapa harus kau kejar dia hah ? Kau tak lelah kalau cinta mu itu bertepuk sebelah tangan ?”

“Tapi aku menyukainya Mark“ bentakku .

“Lalu kalau kau menyukainya dia menyukai mu ?”

“Tapi.. aku akan membuatnya cinta kepadaku” tandasku yakin.

“Kau yakin ? lebih baik kau pikirkan saja calon yang akan orang tuamu berikan”

“Cih.. kau kira aku mau ? aku akan mencari calon untuk masa depanku sendiri”

“Kau benar – benar . Oh ya, tadi ayah mu menelfon kalau nanti jam 3 sore kau harus ke hongkong”

“APA ? Kenapa harus aku ? Fei kemana? ”

“Kakakmu tidak bisa jadi kau yang disuruh ke sana”

 

Kuhembuskan nafasku dengan kesal. Hari ini benar – benar buruk.

 

 

 

 

 

-oo-

 

 

 

 

Kulangkahkan kakiku malas masuk rumah.

 

“Tuan kenapa anda tidak menelfon agar dijemput ?”

 

Kulihat dengan datar pelayan didepanku ini.

“Where my dad ?” tak ku gubris pertanyaan tadi. Dipikiranku saat ini, setelah ini aku segera pulang. Entah kenapa aku tidak betah berada dirumah ini.

“Di dalam tuan”

 

 

Kulihat pintu besar berwarna coklat didepanku.

 

“Dad it’s me”

“Coming”

 

Kubuka pintu dan ku dapatkan. Ayah, Ibu ku sendiri dan seseorang yang tidak ku kenal. Sepertinya rekan kerja orang tuaku.

 

“Maaf lama tadi pesawatnya beberapa menit harus delay” alasanku.

“Perkenalkan ini anak saya. Jackson Wang sekarang dia bersekolah di Empire di Seoul “

“Saya Jackson salam kenal “ kubungkukkan tubuhku tanda penghormatan.

“Anak anda sekolah di Empire juga ? Sama seperti anak saya” kulirik lelaki paru baya dihadapanku.

“Benarkah ?” kulihat ayahku bertanya dengan senang.

“Hum.. kau mengenal Kim Seokjin. Dia baru kumasukkan sekolah umum “

 

Kulihat lelaki paru baya didepanku ini, apakah ini orang tuanya anak cupu itu.

 

“Ya, saya mengenalnya” jawabku sopan.

Sebuah ide terlintas dipikiranku.

 

 

 

 

 

Ku ketuk pintu ruangan kerja ayahku sendiri.

“Masuk”

“Hai dad what are you doing ?” tanyaku basa – basi.

“Nothing. Hanya mengecek deposit saja”

“Dad..”

“Hum..”

“Apakah tadi rekan kerja ? Apakah ingin bekerja sama dengan perusahaan kita ?”

“Ia, kenapa ? Yang tadi perusahaan mereka sedikit mengalami penurutan yang lumayan dratis, jadi meminta perusahaan kita untuk membantu menaikan setidaknya berada di posisi yang aman ? Ada apa Jackson ?” kulihat ayahku sendiri menatapku dengan penuh tanda tanya.

“Tidak – tidak, aku hanya ingin tau. Berarti kalau kita tidak menyetujinya perusahan mereka tidak akan selamat begitu ?

“Bisa dibilang begitu”

 

Senyum kemenangan mulai terpancar dibibirku.

 

“Baiklah kalau begitu dad, man on apa ( selamat malam ayah )

 

 

 

 

 

 

-oo-

 

 

 

 

Author Pov

 

 

 

Di hari senin pagi cerah sekolah Empire International High School mulai dipadati oleh siswa dan siswinya.

 

4 gadis yang terkenal di sekolah elit ini berjalan bersamaan menuju arah kelas. Banyak siswa dan siswi melihat mereka ada yang memuji kecantikan mereka atau kepopuleran mereka dan ada juga yang mencibir saat mereka lewat. Tapi, dikarenakan mereka sudah biasa dengan hal itu jadi tidak diambil pusing oleh mereka.

 

“Haaaaah.. hari ini ada praktek” Jeung in merentangkan tangannya ke udara dengan sambil sedikit berteriak.

“Himne Jeung In. Hwaiting, hwaiting ” Seyeon dan Hani mengepalkan tangannya tanda memberi semangat.

“Hei.. kok diam “ Seyeon menyengol bahu Hana.

“Haa.. apa “ Hana tersadar oleh lamunannya

“Kau melamun ?

“Ti – tidak “ Hana menjawab gelagapan melihat temannya menatapnya dengan tatapan selidik.

“Oh… aku tau sebabnya melamun”

 

Jeung In menunjuk seseorang lumayan jauh di depan mereka tetapi masih bisa tertangkap oleh penglihatan yang sedang berjalan sendirian.

 

“Who ?” Seyeon mencari seseorang yang ditunjuk Jeung In

“Itu Kim Seok Jin”

“MWOOO” Hani menatap Hana dengan tatapan tak percaya.

“Jinjaaa ????” tanya Hani.

“WHAT ? J-jangan bercanda. Kalian tau aku punya selera yang tinggi” Hana memalingkan wajah nya yang gugup kearah lain.

“B e n a r k a h  J u n g  H a n a “ dengan sengaja Jeung In mengeja kata – katanya sambil menahan tawanya.

“kaaauuu” desis Hana

 

 

 

 

 

-oo-

 

 

 

 

 

Hana terlihat berlari – lari mengitari sekolahnya mulai dari perpus, ruang praktek, lapangan basket hingga ke ruangan kolam berenang disekolah sekalipun tetapi tak di dapatnya seseorang yang dia cari.

Hana mengelah nafas nya dengan frustasi. “kemana dia” desisnya dengan nafas tak beraturan. Di ambilnya ponselnya dan menelfon seseorang yang dia tuju. Tapi tak kunjung diangkat.

 

Sekali lagi Hana menghelah nafas nya.

 

 

Hana berjalan dengan langkah malas ke arah tempat favoritnya. Dihempaskan tubuhnya dengan kasar. Dilihatnya kembali ponsel. Tidak ada tanda – tanda seseorang tersebut membelas pesan singkat yang dia berikan atau pun menghubungi balik.

 

Hana menatap sisi sekolahnya dari tempatnya ini. Hampir sisi sekolah bisa dilihatnya dari sini. Entah sengaja atau tidak Hana menatap atap – atap sekolahnya berwarna merah marun. Hana memicingkan matanya melihat sesuatu yang ada di atap tersebut.

 

“Ada orang di atap” gumam Hana.

 

Mata Hana membesar dalam, hitungan detik Hana berlari menuju atap sekolahnya.

 

 

 

Dengan nafas memburu Hana melihat seseorang yang ada di atapnya sambil membungkuk menetralkan nafanya.

Dengan langkah pelan Hana menghampiri seseorang tersebut.

 

“YA…..” jerit Hana

 

“Uhm…” seseorang yang dijeriti Hana menoleh dengan mulut mengembung yang dipenuhi makan.

“Kau aku cari dari tadi anak cupu” di tatapnya Jin yang sedang melihatnya dengan tatapan seperti anak kecil.

 

Melihat Hana didepannya Jin menelan makanannya dengan kasar.

 

“Hah.. Kau kok bisa kesini ?” tanya Jin heran.

 

“Kau lupa tugas mu apa ?” Hana mendenguskan nafasnya dan duduk disamping Jin.

“Maaf, tapi aku sangat lapar kali ini” Jin membalas pertanyaan Hana dengan senyuman dan di balas dengan tatapan sinis oleh Hana.

“Kenapa tidak makan dikantin?”

Jin mengelengkan kepalanya. “Ini tadi aku masak bersama Appa “ jawab Jin sambil tersenyum benar – benar seperti anak kecil.

 

Ekspresi Hana berubah melihat senyuman Jin yang dianggap nya sangat menggemas kan dengan cepat Hana mengalihkan pandangannya kearah lain .

 

“K-kau cepat makannya, nanti ada kuis. Aku tidak mau nilaiku jelek gara – gara kau tidak mengajariku” diliriknya Jin dengan ekor matanya yang sedang lahap mengunyah makanannya. Setelah sekian detik melirik Jin tadi Hana kembali melirik. Karena terlalu sakit melirik dari ujung ekor mata. Dengan perlahan Hana menggerakan lehernya melirik Jin. Tidak, lebih tepatnya sekarang menatap Jin.

 

Hana menyungingkan senyumnya dengan bibir sampingnya. Entah apa yang dipikirkan Hana saat ini. Yang jelas Hana sedikit terenyuh dengan sikap Jin yang diberikan untuknya. Biasanya kalau ada saja namja dekat dengannya selalu bersikap menjaga imagenya dan selalu membangga –banggakan harta orang tua. Itulah sebab Hana tidak pernah pacaran hingga saat ini. Hana tidak suka. Walaupun Jin dekat dengannya bukan sebagai orang yang menyatakan dirinya untuk menjadi pasangan Hana melainkan sebagai guru privatnya. Tapi jauh di lubuk hatinya paling. Sangat . Dalam. Hana berharap Jin dekat dengannya sebagai pasangannya. Apakah ini cinta ? Ah. Hana juga tidak tau apa yang dia rasakan saat ini.

 

Dilihatnya Jin dengan lamat, biasanya kalau orang makan dekat dengannya pasti akan menjaga image nya seperti makan pelan lah, makanannya di aduk – aduklah. Tersenyum melihatnya dirinya kemudian menyuapkan makanannya dengan sedikit kemulut sendiri. Tapi tidak dengan Jin, Jin benar – benar tidak menjaga imagenya makan dihadapannya.

 

“Apa kau makan seperti anak kecil huh ?” Hana menatap Jin dengan lembut kemudian mengusap sudut bibir Jin yang berlempotan oleh bumbu makanannya.

“Hum..” Jin kembali dengan mulut penuh menatap Hana yang sedang menatapnya dengan tatapan lembut.

 

Dalam hitungan detik dada Jin bergemuruh melihat senyuman hana yang baru pertama kali dilihatnya secara langsung. Ingin rasanya Jin melompat dari atap ke bawah melihat senyuman manis Hana. “Aku bisa gila” batin Jin.

 

“Kenapa diam ?” dilambai-lambaikan tangannya ke muka Jin.

“Ti – tidak “ Jin segera meminum air mineral disampingnya.

“Minumnya pelan – pelan “ nasihat Hana.

 

 

“Kau dari tadi makan, tidak ada sekalipun menawariku makan ?” Hana memicingkan matanya melihat Jin dengan wajah menegang.

“K-ku kira kau tidak mau makanan seperti ini” dengan gugup Jin susah payah menjawab pertanyaan Hana.

“Kau makan apa hah ?”

 

Hana sedikit mencondongkan badan dan wajahnya ke arah Jin melihat makan siang Jin. Dan tanpa sengaja Hana mendekatkan badannya ke badan Jin sehingga lengan kanan Hana dan lengan kiri Jin kin menempel. Darah Jin seketika berdesir karena lengan Hana menempel di lengannya sendiri. Padahal lengan mereka masih dilapisi kemeja dan almamater sekolah.

 

Jin segera tersadar melihat Hana dengan berisiknya menunjuk – nunjuk isi makanannya ini.

 

“Kau mau ?”

 

Bukannya menjawab Hana malah tersenyum sambil melihat Jin. Dengan cepat Jin memberikan bekalnya kepada Hana. Dan disambut cepat oleh Hana.

 

“Kau belum makan ?”

“Beloum” jawab Hana dengan mulut penuh.

 

Sedetik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik. Jin diam melihat Hana yang menjawab dengan mulut penuh. Itu lucu.

 

“HAHAHAHAHAHAHAHA” kini tawa Jin meledak seketika.

 

“YAA..  Kenapa kau tertawa”

“Kau makan sangat lucu dengan mulut penuh HAHAHAHAHA”

 

Jin benar – benar puas menetertawakn Hana. Jarang – jarang. Tidak. Malah bahkan tidak ada yang pernah mentertawakan dirinya di hadapannya. Kecuali ketiga temannya dan kali ini Jin.

 

Hana bangkit dan mengusap mulutnya.

 

“Ya.. kau kira kau siapa dapat mentertawakan aku hah ? kau tau kau mentertawakan siapa. Kau mentertawakan seorang Jung Hana  ? ciih ( Hana membuang nafasnya ) kau sudah berani hah ?” Hana mendelik manatap Jin sinis. Bukan nya takut tapi Jin semakin mentertawakannya kali ini dengan lebih kencang.

 

Karena geram melihat Jin semakin tertawa Hana memukul lengan Jin.

“Diam.. diam.. diam “ jerit Hana.

“Baiklah – baiklah “ dengan susah payah Jin menjawab sambil menahan tawanya.

 

Hana melipat tanganya dengan kesal sambil mempoutkan bibirnya.

 

 

 

“Awas kau Jin”

Geram  seseorang dari balik pintu atap.

 

-oo-

 

 

 

Kini. Teman – temannya menatap Jin yang sedang mengoceh menceritakan tentang realita yang dia rasakan waktu jam istirahat bersama Hana. Keenam teman – temannya menatap nya dingin,diam dan tak berekspresi.

 

Dari namjoon melirik Taehyung, Taehyung melirik Jimin, Jimin melirik Hoseok, Hoseok melirik Yoongi dan Yoongi menggerakan kepalanya kearah kelima teman disampingnya ini.

“Tatap saja manusia ini dengan tatapan membunuh biar dia mati” desis Yoongi dengan nada tajam.

 

“Kalian tau aku sangat senang”

 

Dengan senyuman mengembang di bibir Jin dengan bangga mengatakan hal tersebut.

 

“……………………………………”

 

“kenapa diam” desis Jin dengan dingin.

“JADI KAMI HARUS APA” bentak mereka serempak hingga membuat Jin terkejut.

“kalian aku traktir bagaimana ?” Jin menaikan alisnya sambil tesenyum.

Mereka diam. Dan seketika raut wajah mereka seketika berubah menjadi senang “ha ha ha wah hyung kau sangat beruntung, pasti senang sekali. Ha ha ha ha” mereka tertawa dengan terpaksa dan Jin menatap mereka dengan death glare.

 

 

 

 

Jin duluan pulang karena ada kursusnya dan beberapa menit Jin pulang, yang  lain menyusul pulang. Tinggallah Namjoon sendirian di cafe ini. Namjoon mengeluarkan laptopnya yang disimpan ditasnya dan mulai mengetik sesuatu seperti lirik lagu. Ya, itu hobi nya bila di cafe. Sendirian.

 

 

“Kenapa kau selalu pulang belakangan mengapa tidak berbarengan dengan temanmu ?”

 

Namjoon tidak mengalihkan pandangannya ke arah pelayan yang membersihkan meja mereka.

“Tidak boleh ?” tanya Namjoon dengan nada suara nya yang berat dan tetap fokus ke laptopnya.

“Mau pesan kopi lagi ?”

Namjoon menoleh. Bukannya menjawab malah diam menatap pelayan tersebut dengan pandangan sulit diartikan. Mungkin. Terpesona.

 

Pelayan tersebut menatap Namjoon dengan heran karena tidak menjawab pertanyaannya.

 

“Mau pesan kopi lagi tuan  ?” tanyanya lagi.

 

“Ma-mau”

“Pesan apa “

“Americano tidak tidak. Coffee latte. Ah tidak tidak. Machiato eh eh “ Namjoon tetap tidak mengalihkan pandangannya.

Pelayan tersebut mengangkat nampannya “Sepertinya kau binggung pilih apa. Baiklah kalau begitu aku yang memilih….. Kim Namjoon” diliriknya nametag Namjoon. Namjoon mengkerjab – kerjabkan matanya sipitnya kemudian tersenyum tipis hingga dimplenya sedikit kelihatan.

 

Pelayan tersebut pergi meninggalkan Namjoon yang masih saja tersenyum tetapi pelayan tersebut tidak mengubrisnya.

 

“Eh.. pelayan..”

“Hyunsung. Cho Hyunsung. Kau dapat memanggilku kalau ada pesanan lain” dilihatnya Namjoon dengan datar.

“Kalau begitu aku permisi” Hyunsung segera berlalu dari pandangan Namjoon yang kini benar – benar tersenyum sampai dimple nya yang dalam benar – benar kelihatan.

 

 

 

 

Namjoon Pov

 

 

Kuhesap matchalatte yang sudah gelas ke 3. Aku tidak menyangka pesanan dia seenak ini. Apa karena dia yang membuatnya. Atau dia memesan ini buatku. Ah aku tidak tau.

 

“Sial habis” kulihat gelasnya yang sudah kosong.

 

“Habis lagi, cepat sekali”

Kutolehkan wajahku kebelakang, kulihat pelayan yang bernama Hyunsung sedang membersihkan meja dibelakangku dengan cuek.

 

“Ah.. hehehe ehm. Bisa pesan lagi”

“Baiklah, tunggu sebentar” jawabnya dengan datar.

 

 

 

“Maaf lama” diletaknya gelas matchalatte yang ke empat kalinya dengan tidak ada senyuman seperti pelayan lainnya.

“Kuperhatikan dari tadi kau melayani tidak pakai senyuman dan kau berbicara dengan datar” kulirik wajanya yang mengambil gelas – gelas kosong di mejaku.

“Yang penting aku sopan terhadap pelangan”

“Ya.. tapi itu membuat pelangan tidak nyaman” protesku.

“Apa kau tidak nyaman ?” kulihat dia menatapku dengan dingin.

“I – iya. Tidak. Sangat tidak nyaman” kenapa aku gugup seperti ini yatuhan.

“Baiklah kalau begitu” dia menghelah nafasnya lalu menundukan kepala dan diangkatnya kepalanya. Aku tidak menyangka dia mengangkat kepalanya lalu tersenyum kearahku.

Aku tersentak. Bukan aku melainkan hatiku. Sekarang dia tersenyum. Manis. Sangat manis.

 

Baru beberapa detik duniaku berputar dibuat senyuma nya. Kini dengan sekejab dia merubah raut wajahnya.

 

“Sudahkan” lalu dia berlalu dari hadapanku.

 

Kuraba dadaku. Yatuhan kenapa detaknya secepat ini. Apa jantungku tidak sehat ?

Kutolehkan pandanganku kearahnya yang kini sedang bekerja membuat kopi. Kurasa senyum sedang memgembang di bibirku.

 

 

 

Author Pov

 

 

 

Jin dan Jackson kini saling tatap – tatapan dengan dingin.

“Aku kira kau tidak datang anak cupu” dengan tawa mengejek Jackson menatap Jin.

“Bisa langsung ke inti ?” tanpa basa – basi Jin menanya apa mau Jackson.

“Wah.. wah kau tak sabar hah ?” Jackson mengambil seseuatu dari jaket kulitnya.

 

“Kalau aku lihat – lihat.. Sepertinya orang tua mu tidak mengetahui perilaku anaknya bila diluar rumah. Benarkah ?” Jackson menatap Jin dengan senyuman miring.

 

Dan benar saja, Jin terkejut mendengar perkataan Jackson. Dan detik kemudian mata Jin membesar ketika Jackson memberinya foto saat dia balapan.

 

“Tak kusangkah kau anak yang suka balap liar. Wah, wah..”

“Bagaimana kalau ini sampai ke tuan Kim, huh J.i.n “

“Omo – omo lihat wajahmu. Kenapa ekspresimu terkejut ? Ah.. aku tahu. Pasti orang tau tidak taukan, kalau anaknya seperti ini ? Benarkah ? “ Jackson bertanya dengan senyum kemenangan.

“Ah.. ternyata benar. Hahaha “ kini Jackson tertawa puas sambil menepuk – nepuk telapak tangannya.

 

“Kira – kira apa yang dilakukan orang tua mu bila tau kalau anaknya seperti ini ? Di hukum kah, tidak boleh keluar kah, di homeschooling kan lah kah atau apa ya …”

 

Dengan gerakan cepat Jin menarik kerak baju Jackson.

 

“Apa mau mu” geram Jin.

“Kau sepertinya pandai membaca pikiran orang ya”

 

“Mau ku……”

“Kita taruhan mendapatkan Hana”

“APA” kini Jin menjerit tepat di hadapan Jin. Bagaimana bisa Hana dijadikan taruhan.

“Dalaam sebulan. Siapa yang dapat menjadikan pasangan Hana dia menang. Kalau kau menang aku tidak akan memberitahu orang tuamu, kalau aku menang aku akan mundur mendekati Hana” Jackson menatap Jin dengan seringai liciknya.

“Sialan” desis Jin

 

Dengan kasar Jin melepaskan cengkraman nya.

 

“Baiklah. Dalam sebulan. Dan kau harus menepati janjimu” Jin meremas tangannya sendiri, rasanya Jin ingin memukul wajah Jackson dengan sangat kuat.

“Tsk.. kau pegang saja janjiku. Seorang Jackson tidak melanggar janjinya “ dengan santai Jackson mengusap dagunya.

 

Dan kini Jackson menatap kepergian Jin dengan senyuman kemenangan yang sangat puas.

 

Balik ke Jin, Jin meninggalkan Jackson dengan langkah kasar dan raut muka benar – benar menyeramkan. Jin merogoh ponsel di kantung jaketnya. Jin sedikit kaget melihat nama tertera di lcd ponselnya. HANA

 

“Jiiiinn….Aaaaaahh”

“Ada apa ?” Jin menjawab dengan perasaan khawatir dan juga kaget. Karena tiba – tiba saja Hana menjerit lalu seperti suara menangis.

“Huaaaaaa kau kerumah ku sekarang… cepaaat aaaaahhhh” kini suara tangisan Hana semakin terdengar.

“Ba-baiklah aku akan segera kesana. Tunggu aku”

 

Dengan cepat Jin mematikan telfon dari Hana dan segera menuju motornya lalu menggaskan motornya melaju kerumah Hana.

 

 

 

TBC

 

 

 

 

 

OMAIGOT ! OMAIWOW ! OHNOOOOO ! INI CERITAHNYA BAGEMANA  AAAAH THEDAK !!!! bagaimana ceritanya ? gak asik kan ? pasti jalurnya lari kemana – kemana yakan yakan. Pasti bikin bosan kan ? Hayuu zuzur saja… maaf juga buat maknae line cerita cinta nya agak dikikis oleh kak seokjin. Nanti di part selanjutnya akan dibuat cerita cinta maknae line juga buat namjoon yang nemuin gadis pelayan cafe eciieeelleeeeh . buat penggemar Jackson atau pun para istrinya Jackson ( eh gue kan istri sahnya Jackson ) maap buat Jackson jahat gini. Ya mau gimana lagi dong gais. Jackson muka nya kaya mafia hongkong sih T_T. makasih yang udah koment di part part sebelumnya. Koment kalian ngebantu banget ( susut ingus ) :””)  RCL gais moooaaaahhh :3

About fanfictionside

just me

24 thoughts on “FF/ SCHOOL LOVE AFFAIR/ BTS-GOT7/ pt. 2-side B

  1. Ah gak ada kisah cinta makne line😦

    author ada beberapa typo disini, tapi gak apa2 sih gak sampe ngerusak cerita kok🙂
    semoga next part typo nya musnah ..

  2. Ga kebayang thor rusuh nya tu anak2 bangtan berhaburan buat sembunyi
    Taehyung emang ga sopan ih kasian kuk mabok di kentutin
    Haduh jin kenapa dah setuju taruhan ama jackson dah “tabokin jackson

    Di tunggu nex capt thor
    Hwaiiiiting thor

  3. Ihhh baby taetae gak sopan___- kentut sembarangan , kasian kan kookie nya kebauan😄 semakin cinta sama jin dan semakin jengah liat kelakuan jackson. Banyak aja gitu ide2 licik yg keluar dri otak nya jacki. Next chap jangan lama2 ne thor ^^ FIGHTING !!!

  4. YAAAA!!! TBC mengganggu ishhh ><
    jackson oh jackson lu sama gue aja sini biar jin ama hana :v

    cepet lanjut thour gamau tau! fighting ^^

  5. sempat ngakak dengan kelakuan anak anak bts. duh itu hana kenapa coba?
    next chap ditunggu thor ^^

  6. lagi serius serius baca tiba tiba ada kalimat ini -Tuuuut~ – langsung ngakak… pasti jin malu banget tuh XD… jackson maksa amat -__-…. Hana kenapa tuuh… bagus thor lanjut ku selalu menunggu (?)

  7. 😀 Hahahaha,,lucu bngt thor waktu mereka heboh cari tempat sembunyi, taehyung kentut lagi,hadooooohh…
    Suka part ini Jin❤ Hana moment so sweet bngt, jarang2 ya,,ad cowok yg gk jaim, kaya Jin oppa gitu,hehehe Hana napa tuh thorr,pasti pusing ama rumus mtk,sama aku juga😀 next chapter 'fighting' jeball🙂

  8. hahhaha aku ngakak waktu taehyung kentut hahahaha sumvahhh ^-^
    jackson making gemesin lah kirain jackson bakal geram kalo jin diluar begitu, nasib jimin ama hani gimana? ohya yoongi ama siapa? hoseok ama siapa?
    next part ane tunggu ya thorr😀
    keep writing thor😀

  9. aduh jebal thor gue ngakak yang taehyung kentut tapi kece thor.
    sekali-sekali nistain park jimin ya thor, ditunggu pake banget thor!
    gue menunggu bgt thor!!!!
    oke? :* :*

    salam ketjeh!!!!! B)

  10. agak mubeng ama part yg ini agak lupa part seblumnya
    tapi it’s ok orapopo seoga nextnya lbih keyennn *LIKE

  11. sorry thor bru sempet comment di part ini soalnya keburu bnget bacanya.
    “My Jaacksonnie” jht bnget yah di sini. U,U
    tpi gk papa deh ini ceritanya DAEBAKK Author Jjang (Y)

  12. kampret thor, lu bikin penasaran aja. Itu ngakak di Taehyung ngentut wakak.
    Oh iya, aku penasaran, kapan jin ke sekolah dengan penampilan gk cupu lagi? nanti kan pada terpesona *asek
    Keren thor ff nya, jgn lama lama ya next chapternya ^.^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s