FF /JUST LOVING ME LIKE YOUR DIRACTION/ BTS-EXO/ pt. 1


Title : Just Loving Me Like Your Diraction

Author : Annonymous

Main Cast : Taehyung & Baekhyun

Genre : ——

 

 

Menyanyangimu seperti sebuah bongkahan permata yang bersinar.

Membuatmu mencair itu kesukaanku.

Membuatkan makanan kesukaanmu itu bahkan menjadi kebiasaanku.

Melihatmu tersenyum, menahan tawa ketika menonton itu menggelitikku.

Namun ketika kau marah itu membunuhku.

Pagi itu, sinar mentari menembus kaca pembatas kamar bercat biru tua. Dia menggeliat berusaha melawan sinar yang seakan semakin melawannya. “Tunggulah. Aku akan bangun” gumamnya namun masih memejamkan kedua matanya. Sebuah ketukan pelan terdengar samar di telinganya, dia membuka sedikit matanya. Berusaha memastikan bahwa itu hanya mimpi dan ia bisa tidur lagi.

“Taehyung, bangun. Kau tidak pergi ke sekolah?” suara itu menyadarkan. Terlebih dengan mendengar sebuah kata yaitu ‘sekolah’, itu membuatnya lekas bangun bahkan berlari.

“Bangunlah. Aku tidak ingin di panggil ke ruang guru kembali karena kau sering terlambat” ujar seseorang nyaring di luar sana.

Taehyung. Pria berambut orange seperti kulit jeruk itu memang selalu terlambat ketika harus bangun. Wajahnya yang kadang memelas ketika berjalan, tubuhnya yang mulai meninggi, di ikuti dadanya yang sudah mulai membidang tersebut kadang membuat kakaknya, Byun Baekhyun kesal.

Mata indah Taehyung sudah mulai dapat ia kendalikan. Mata sipit yang kadang membuat Baekhyun  tertawa saat dia bangun, kini sudah lebih normal.

Taehyung berjalan menghampiri meja makan di sisi kiri kamarnya. Sudah menjadi kebiasaannya akan berjalan ke sana, tanpa Baekhyun harus memaksa. Karena diam-diam, aku menyukai makananmu Byun Baekhyun.

“Hei adik kecil, makan yang banyak” Baekhyun mengelus rambutnya pelan. Jujur, Taehyung terlalu malu untuk menunjukan rasa sayangnya pada Baekhyun, meski terkadang dia merasa di bunuh oleh dirinya sendiri.

“Aku minta maaf karena hanya memasak ini. Gajiku masih berada di tangan bosku, ja-“

“Tak apa” potong Taehyung sambil mengunyah roti berselai kacang. Baekhyun tersenyum. Mengangguk meraih sepotong roti untuk di makan. Sudah menjadi kebiasaannya, dia hanya akan memakan rotinya saja tanpa di olesi selai.

Taehyung sering bertanya dalam hati, mengapa kau hanya memakan rotinya? Namun jarang dia tanyakan karena terlalu malu.

“Taehyung” panggil Baekhyun.

“Hm” selalu dengan gumaman malas namun Baekhyun menyukainya.

“Bisa pergi ke sekolah sendiri? Aku akan terlambat” Taehyung mengernyit. Tidak biasanya Baekhyun akan terlambat ke sekolah. Meski memiliki alasan, Taehyung pikir itu bukan gayanya.

“Kenapa begitu?” dia memberanikan diri bertanya, meski kepalanya akan tertunduk menatap sesuatu di bawahnya.

“Aih. Ini urusan para sunbae yang tidak bisa di tinggalkan. Aku akan pergi terlebih dahulu, berhati-hatilah” Baekhyun bangkit menggendong tasnya dalam satu sisi. Namun ia berhenti. Bahkan Taehyung sangat tahu mengapa Baekhyun berhenti meski ia berkata akan pergi lekas.

“Aku lupa memberikannya” Baekhyun berputar, berjalan mendekati Taehyung yang sudah selesai memakan habis makanannya. Dia meraih kepala Taehyung, lalu menciumnya lembut. Kebiasaan yang sering ia lakukan setiap hari ketika akan pergi lebih dulu. Kadang Taehyung merasa itu menjijikan, namun di lain sisi itu menyenangkan.

Hyung, ingatlah. Hanya lakukan hal seperti ini di rumah.” Ujar Taehyung berjalan mengikutinya keluar untuk bergegas pula ke sekolah. Mereka berada di sekolah yang sama. Hanya, Taehyung berada di kelas 1 dan Baekhyun berada di tingkat 3.

Taehyung berjalan menuju halte tanpa Baekhyun. Sedikit aneh baginya ketika harus berjalan sendiri tanpa ocehan Baekhyun yang senang ia dengarkan. Meskipun dia jarang sekali merespon.

Halte tempat ia menunggu, sudah di penuhi dengan siswa satu sekolahnya bahkan. Namun tak ada satupun yang ia sapa, karena itu memang sikapnya. Teman-temannya bahkan sudah tidak mempermasalahkan lagi, siapa yang harus menyapa lebih dulu dan siapa yang harus di sapa.

Mereka seakan mengerti. Jadi, mereka termasuk Joen JunKook yang akan menyapa lebih dulu.

“Hi Taeng-Taeng!!” dia merangkul Taehyung. Rangkulannya kadang tidak Taehyung sukai karena jijik. Tapi seiring dengan waktu yang berjalan terus-menerus, rasa itu menghilang berubah menjadi kenyamanan sebagai seorang teman dekat.

“Kemana Baekhyun Hyung?” JungKook melepas rangkulannya. Taehyung menatapnya dengan penuh kemalasan,

“Apa hanya Hyungku yang selalu ada di pikiranmu, huh? Benar-benar” Jungkook menyeringai bodoh. Menggaruk kepalanya yang sebetulnya tidak gatal. Entah karena apa tangannya seakan terangkat sendiri, ketika dia malu.

“Hei~ apa salahnya aku menanyakan seorang kakak tertampan di sekolah milik Taeng-Taeng? Dia awesome” perut Taehyung seakan tergelitik oleh sebuah alat penggelitik. Apa yang ia katakan? Tampan? Hatinya bertanya-tanya. JungKook saja yang masih tak tahu akan sikap Baekhyun yang kadang berlari tanpa menggunakan apapun karena lupa membawa handuk ke kamar mandi, memakan Ice Cream hingga menyisakan cream di bibirnya, mencuri celana dalam Tae-.

Taehyung memutar otak. Dia merasa geli ketika harus berbagi celana dalam berasa Baekhyun karena ia lupa mencuci atau bahkan tertinggal ketika ingin meloundry.

“Oh ya ampun. Kau sudah mengerjakan PRmu?!” JungKook tiba-tiba heboh di depan mereka, teman-teman satu sekolahnya. Taehyung menghela nafasnya kasar. Dia sudah yakin, bahwa JungKook akhirnya akan meminjam PRnya dan akan menyalinnya di buku kosong. Selalu begitu.

Dia selalu menyatatnya di buku baru. Entahlah. Bahkan Taehyung sering bertanya, mengapa harus di buku yang baru? Tentu JungKook akan menjawab Karena aku suka. Itu menyebalkan.

 

 

Kondisi sekolah sama seperti hari-hari sebelumnya. Ramai akan murid-murid yang berjalan seraya memasuki kelas dan masih banyak yang mereka lakukan di setiap hari. Taehyung dalam diam, mengelompokkan mereka menjadi 4 kelompok, entah apa maksudnya. Kelompok yang pertama, adalah mereka yang selalu berjalan menuju perpustakaan untuk meminjam dan membaca buku-buku tebal. Dan sering pula mengikuti olympiade mewakili sekolah. Mereka anak-anak yang baik. Namun tidak untuk masalah memberikan jawaban.

Kelompok yang kedua, mereka yang hanya memikirkan masa depan mereka. Anak yang baik. Memikirkan masa depan hanya dengan mengambil mata pelajaran yang mereka sukai dan hanya akan masuk ketika pelajaran itu ada. Tidak heran setiap harinya, kadang sepi kadang juga sesak.

Yang ketiga, dia pikir itu dirinya. Siswa biasa, dengan kepintaran yang standar. Namun teman-temannya selalu berkata bahwa Taehyung lebih pintar dari kelompok pertama. Memang betul. Taehyung pernah mendapatkan nilai 100 untuk materi kimia, dan mereka mendapatkan nilai di bawah 6. Namun Taehyung tidak pernah melebih-lebihkan dan akan selalu berkata Aku masih belajar.

Terakhir, kelompok pesolek dan membuat onar di sekolah. Banyak dari mereka yang berbuat onar, adalah seseorang yang tak tahu jati diri mereka. Berusaha mencari jati diri, katanya. Namun kadang itu berlebihan. Mencari jati diri tak perlu membeli bedak dalam jumlah banyak, dan menikah di usia muda kan?

“Taehyung!” pekikkan suara tersebut membuatnya terhenti. Menoleh kea rah sumber suara, dan mendapati kakaknya sedang melambai-lambaikan tangannya.

Kenapa dia selalu begini. Ugh

Taehyung berjalan mendekatinya. Dengan wajah yang masam tentunya. Baekhyun hanya menatapnya sembari tersenyum senang melihat adiknya yang semakin tumbuh. Dia sangat senang. Senang sekali.

“Kenapa?” raut wajahnya berubah menjadi penasaran ketika lebih dekat dengan Baekhyun.

“Hari ini sampai 3 hari kedepan, aku akan pergi ke Busan. Guru menyuruhku untuk mengambil beberapa sempel untuk di teliti pekerjaannya.” Taehyung sedikit terkejut. Benarkah ini? dia akan sendiri di rumah tanpa Baekhyun yang akan menjaganya dan membuatkan makanan? Itu menyusahkan batinnya.

“Kenapa?” dia berusaha mengontrol suaranya yang berat. Berusaha menahan amarah yang sesungguhnya sudah menjalar sampai bagian kepalanya.

“Karena guru yang menyuruhnya, Taehyung. Aku sudah belanja, dan banyak sekali makanan di rumah. Kau bisa memanfaatkannya kan?” Baekhyun menepuk pelan bahunya, berusaha meyakinkan Taehyung bahwa ia akan baik-baik saja selama dia pergi.

“Terserah kau saja” Taehyung berlalu. Kembali berjalan menuju sebuah kelas yang berada di ujung koridor lantai 3. Dia benci ketika Baekhyun akan meninggalkannya sendiri. Teringat ketika Baekhyun meninggalkannya, dia sedang berada berada di selokan karena terjatuh saat bermain sepeda. Dan Baekhyun datang, 30 menit setelah dia jatuh. Dia jatuh karena terlalu takut, Baekhyun tak ada di sisinya.

 

 

Jam istirahat seakan cepat menghampirinya hari ini. Mungkin terlalu asik dengan pelajaran di kelas, hingga lupa dengan waktu. Itulah yang sesungguhnya guru inginkan pada muridnya. Belajar dengan giat dan tak mengenal waktu.

Taeng-Taeng! Tidak ke kantin? Aku laparrrrr sekali. Dan pacarku juga sudah menunggu. Ayo!” JungKook menarik-narik blazernya hingga Taehyung sedikit terdorong ke belakang.

“Kau saja. mungkin selesai istirahat aku akan langsung pulang” ucapnya memberesi semua buku ke dalam tas hitam miliknya. JungKook membulatkan matanya, menahan keterkejutan meski itu percuma. Tetap saja akan terlihat bahwa ia sedang terkejut.

“Oh kau bercanda?Hari ini ulangan matematika, kau tidak ingat?” JungKook meninggikan suaranya. Taehyung bahkan sempat memukulnya dengan menggunakan buku fisika tebal di kepalanya, karena berisik.

“Kau pikir aku senang pelajaran itu, huh? Kau payah.” JungKook menyenggolnya pelan. Ia terdiam. Mengambil nafas hingga ia tak mampu lagi untuk menariknya. “Setidaknya aku baru sekali. Baiklah, ayo pergi” pria berambut merah tersebut meraih tasnya tepat di belakang kursi Taehyung. Taehyung menghentikan JungKook dengan cepat, menahan tas miliknya dan meletakkan kembali di atas meja,

“Kau tidak perlu ikut” sahutnya dingin hampir membuat JungKook merinding. Meskipun ia tahu betul, bahwa Taehyung hanya akan berbicara bagian intinya saja dan terkadang menggunakan kalimat imformal, namun JungKook jarang mendengarnya berbicara dingin.

Taehyung meninggalkannya. JungKook hanya dapat melihat punggung pria itu semakin menjauh dan menghilang. Ini kali pertama Taehyung membolos pelajaran di sekolah hingga membuatnya heran dan harus menerka-nerka apa yang terjadi.

 

 

Pria berambut oranye itu, berjalan menuju sebuah gedung tua tepat di belakang rumahnya. Gedung tersebut adalah bekas sebuah apartemen yang terbakar ketika dia masih duduk di bangku taman kanak-kanak, dan tentunya masih belum tinggal di sana. Dia masih tinggal di daerah incheon.

Dia menjatuhkan tasnya, yang berisi peralatan golfnya yang seharusnya akan ia mainkan sehabis pelajaran matematika. Kini dia sedang marah. Marah karena Baekhyun meninggalkan pergi untuk tiga hari berturut-turut. Ini menyulitkannya. Entah mengapa, terkadang Taehyung lebih memikirkan Baekhyun.

To : JungKook

+824853883753

JungKook-shi sepulang sekolah datanglah kemari. Ke rumahku. Masak sesuatu untukku. Arraseo?

 

Sehabis mengirim pesan singkat, ia merebahkan seluruh tubuhnya di atas sebuah meja bilyard yang masih tersisa akibat terbakar beberapa tahun lalu. Tempat ini menjadi tempat yang ia suka semenjak Ibu dan Ayahnya meninggal karena kecelakaan mobil 5 tahun lalu. Banyak perubahan ketika mereka pergi.

Dia terutama. Semenjak Ibu dan Ayahnya pergi, bermain adalah hal yang paling sulit ia lakukan, meskipun bersama Baekhyun. Dia harus mengantar pizza ke setiap rumah yang memesan setiap harinya, sehabis belajar. Begitu pula Baekhyun. Namun kini tidak, setelah Baekhyun menghajarnya habis-habisan karena bekerja.

Perlahan, mata indahnya tertutup rapat di iringi dengan hembusan angin yang menggerak-gerakkan rambut orangenya. Namun ketika dia tertidur…

“Hei! Lihatlah! Ultraman itu bewarna biru! Dan hei~~~~ kenapa di dadanya ada warna merah? Itu kenapa hyung?” suara kecil itu membuat Baekhyun tersenyum cerah, dan gemas.

“Oh tidak itu karena ia sudah kehabisan tenaga, Taehyung…” Baekhyun menjawab sebisanya.

“Hah? Bagaimana ini Baekhyun hyung? Kalau ia hilang kekuatan, monster akan menguasai bumi. Aku takut monster” ucapnya bergidik sambil memeluk Baekhyun di sampingnya.

“Itu hanya film, Taehyung.. tidak apa-apa. Oh ya, ayo membeli mainan yang seperti itu di rumah Chanyeol hyung, bagaimana?” Taehyung membulatkan matanya, berteriak meloncat di sisi sofa dan akhirnya jatuh di pelukan Baekhyun.

 

“Hyung! Kenapa mobil itu bergelundung seperti bola sepak?” Taehyung menunjuk-nunjuk sebuah mobil putih yang sepertinya mengalami kecelakaan, dekat penyeberangan.

“Itu namanya, kecelakaan”

“Kecelakaan itu apa?”

“Kecelakaan itu, suatu masa di mana orang akan terluka dan akhirnya mati, Taehyung” jawab Baekhyun tanpa melihat mobil yang terus menggelundung.

“Hyung, itu seperti Ibu dan Ayah” Taehyung menarik-narik baju Baekhyun agar ia melihat. Akhir Baekhyun meletakkan mainan di tangannya dan melihat kea rah jalan. Ketika dia melihat, ia memicingkan matanya berusaha mencari seseorang yang terluka dan-

“Itu Ibu dan Ayah!! Ayo Taehyung!!!”

 

Baekhyun menariknya menuju keramaian yang seakan membanjiri orang tuanya saat itu. Baekhyun menutup mulutnya. Menahan tangis namun tak bisa, bahkan Taehyung sudah menangis. Darah itu terus mengalir dari pelipis kedua orang tuanya, dan sisi lain tubuhnya. Baekhyun memeluk Taehyung kuat, berusaha membuat adikknya tak apa-apa di kondisi seperti ini.

Sampai akhirnya, ambulance datang menghampiri mereka.

“Taehyung! Taehyung!” suara samar-samar membangunkannya dari mimpi buruknya. Dia perlahan membuka matanya, lalu mendapati JungKook berada di depannya sekarang. Dia sangat bersyukur karena seseorang membangunkannya ketika dia berada di kondisi, yang sangat ia benci.

“Kau tak apa?” JungKook Nampak khawatir. Membantu Taehyung untuk berdiri meski Taehyung akan membantu dirinya sendiri. Kini posisi mereka bersampingan di atas sebuah meja bilyard yang tak terpakai. Taehyung menundukkan kepalanya, mengatur nafas yang masih terengah-engah. JungKook membantunya dengan mengelus bagian punggungnya pelan, berusaha membuatnya tenang.

“Terimakasih” ucap Taehyung masih menundukkan kepalanya menatap lantai kotor. JungKook mengangguk dan masih terus mengelus bagian belakangnya dengan lembut. “Kau bermimpi buruk?” Taehyung mengangguk, suaranya begitu serak hingga JungKook tak tega mendengarnya, “Aku ketakukan Kook. Sungguh.” Liirihnya mengusap tenguknya,

JungKook bergegas, mengajaknya ke dalam rumah yang lebih memiliki kondisi bahkan udara yang baik. Dia berjalan, di ikuti Taehyung di belakang sembari mengusap kepalanya, memijatnya.

“Dimana kau menyimpan kuncinya?” Taehyung merogoh saku celananya, lalu memberikan kepada JungKook agar dia membukanya. JungKook sudah tidak merasa sungkan akan hal seperti itu, karena hampir setiap akhir pekan ia akan pergi ke Taehyung, dan tidur bersamanya.

Taehyung masuk lebih dulu di banding JungKook yang lebih memilih untuk menutup pintu rumah. Seusai ia menutup pintu, matanya memandangi setiap sudut rumah Taehyung yang sedikit berubah tatanannya. Dia tersenyum, bergumam kecil “Aku yakin Baekhyun Hyung yang membuatnya” sampai akhirnya ia berhenti ketika Taehyung memberikan glare padanya.

“Kau mengirim pesan?” hanya untuk berbasa basi, JungKook sembari memainkan dan memutar-mutarkan handphonenya.

“Hm. Kau tahu isinya, dan lakukanlah sekarang. Aku lapar” sahutnya, lalu merebahkan tubuhnya di atas sebuah sofa hijau rumahnya. JungKook melihatnya malas, bahkan untuk mendengar suruhannya saja sudah hampir akan membunuhnya. Untunglah, selama Taehyun adik Baekhyun itu tak akan pernah menjadi beban.

Dia berjalan ke arah dapur, berjalan terlebih dahulu ke arah kulkas untuk melihat kondisi makanan yang Taehyung punya. “Seharusnya, Hoseok hyung yang melakukan ini. huh” rutuknya mengambil beberapa sayuran mentah namun segar di dalam kulkas. Tidak lupa ia mengambil beberapa cabai merah darah, sebagai penyedap makanan yang akan ia buat. Dia selalu ingat, bahwa Taehyung senang pedas.

Jungkook memulai aksinya. Memanaskan wajan, memberinya minyak dan sedikit air untuk permulaan. Selagi ia menunggu, dia memotong beberapa bawang, sayuran, dan sedikit daging paha babi putih. Taehyung melihatnya. Memperhatikan punggung seorang JungKook dengan lekat dan sedikit berjaga-jaga agar JungKook tidak melihatnya. Taehyung merasa bosan dengan kegiatannya melihat punggung JungKook yang bergerak-gerak tak karuan membuatnya pusing sendiri.

Dia berjalan ke arah JungKook sekedar melihat saja. Sungguh, sebetulnya ini kali pertama ia merasakan masakan JungKook secara langsung. Yang ia tahu, JungKook tidak dapat memasak dan tadi, Taehyung hanya usil sebetulnya. Namun ini menakjubkan, tangannya yang hilai memainkan wajan, itu terlihat keren di matanya. Dan mengingatkannya pada Baek-. Lupakan.

“Eoh? Kau. Apa?” JungKook meletakkan pisau di atas meja, meraih mangkuk putih di sisi kiri kompor.

“Hanya melihat. Tidak boleh?”

“Aih. Aku hanya bertanya padahal. Oh ya, mana Baekhyun Hyung?” Taehyung memutar bola matanya. Menatap Jungkook dengan kesal karena di setiap percakapan yang mereka lakukan, akan berakhir ke Baekhyun.

“Kenapa kau menanyakannya terus? Kau ingin menjadi pacarnya?” pertanyaan yang bertubi-tubi membuat Jungkook berfikir lebih lama.

“Aku hanya sekedar bertanya. Aku heran juga, kenapa kau menyuruhku datang bukan di akhir pekan? Itu aneh bagiku. Seorang Taehyung, menyuruhku untuk datang hanya untuk memasakkannya? Ah, kau payah sekali. Ayo jawab, dimana Baekhyun hyung?” pertanyaannya melebihi milik Taehyung. Taehyung bahkan kerepotan untuk menjawab yang mana dulu.

“Kau bertanya atau memarahiku? Ih. Baik. Baekhyun sedang di Busan.” JungKook menghentikan aktivitasnya sejenak, manatap heran Taehyung “Bukan kah mereka ke Busan untuk mendonorkan ginjal, Taehyung?” Taehyung terperanjat. Membulatkan matanya seakan menganggap Jungkook adalah comedian professional, “Hei! Jangan sembarangan bicara! Dia bilang padaku, bahwa ia akan mengambil beberapa sempel tentang pekerjaan di sana, bisakah jangan membuatku bergidik ngeri, huh?”

“apa kau bilang? Mengambil sempel kerja? Hei, itu di lakukan di incheon bukan di Busan. Aku punya jadwalnya, bahkan si Seokjin berniat mendonorkan ginjalnya untuk memenuhi kebutuhan Ibunya di rumah” debaran jantung Taehyung semakin menjadi-jadi, apa yang harus ia lakukan jika harus begini. Dia mundur beberapa langkah dari Jungkook, menundukkan kepalanya sembari menggelengkannya kuat.

“Apa kau pernah menuntut sesuatu pada Hyungmu?”

Pagi itu, Taehyung tidak ingin melihat Baekhyun. Sudah berulang Taehyung memintanya namun Baekhyun selalu menjawabnya ‘nanti’ entah kapan itu. Dia menginginkan sebuah motor balap bewarna hitam. Namun Baekhyun akan menyelanya, dan berkata bahwa ia akan membelikannya nanti.

“Aku ingin motor itu, hyung! Tak bisakah mengerti denganku? Aku ingin seperti teman-temanku memiliki kendaraan sendiri, dan bahkan bermerk.”

“Nanti, Taehyung. Aku akan membelikannya ketika tabunganku sudah banyak. Tenanglah”

“namun itu kapan? Kau hanya selalu menunda-nunda! Aku membencimu, hyung!

Peluru bagai menembus jantungnya hingga ia berhenti bernafas. Tatapannya menjadi kosong. Tubuhnya seperti membeku layaknya es di kutub yang sulit untuk mencair. Tubuhnya bergetar, memegangi sudut meja dengan kuat untuk menahan tubuhnya.

Taehyung menarik nafasnya dalam, sembari memejamkan matanya berusaha berfikir jernih. Matanya kembali terbuka, lalu menatap Jungkook yang kini sedang melihatnya heran, “Lupakan. Aku bahkan tak percaya padamu. Ayo, selesaikan. Aku lapar” Taehyung meninggalkannya pergi. Pergi menuju kamar, merebahkan tubuhnya yang bahkan hampir rapuh pada tulangnya.

“Aku tahu Jungkook hanya berbohong. Hyung tidak sebodoh itu, ku pikir” gumamnya menutup kedua matanya, membayangkan wajah Baekhyun yang tersenyum jahil kepadanya setiap hari, “Bahkan kau masih mampu menunjukan seringaian idiotmu ketika kau tidak ada”

 

“Taeng, sudah jadi. Keluarlah” baru dia akan memejamkan matanya, panggilan untuknya tertangkap oleh daun telinganya. Taehyung mendesah kesal. Keluar dengan gusar, dan menatap Jungkook masam layaknya anak anjing yang sedang tidak ingin mencari tulang.

“Aku bisa pulang?” Taehyung mengangkat kepalanya, melihat Jungkook sudah menggendong tas di bahu.

“Tidak” jawab Taehyung singkat, melanjutkan melahap makanannya yang terasa lebih enak.

“Aih, pacarku mengajakku bertemu hari ini. aku tidak ingin mati di bunuh olehnya jika aku tidak datang” Jungkook mendesah, mendudukkan kembali tubuhnya di kursi berhadapan dengan Taehyung. Tidak ada yang berani bicara setelah itu. Bahkan Taehyung terus melahapnya, hingga Jungkook kadang menelan ludah untuk menahan rasa laparnya, dan suara anak-anak cacing yang seakan berkata ‘aku lapar’ menganggu Jungkook pula.

“Hya, kau bisa memakannya” Taehyung menunjuk sebuah sup daging dengan sumpitnya, “Tidak-tidak. Aku tidak lapar, Taeng” pria itu meletakan kasar sumpitnya. Mengambil mangkuk kecil, menuangkan sup yang berisi sayuran serta daging, “Makanlah.” Jungkook tak bisa menolak. Karena memang benar, perutnya hari ini memang sangat-sangat lapar. Di tambah ia tidak pergi ke kantin karena Taehyung yang meninggalkan pulang.

“Tinggalkan saja wanita itu” Taehyung berucap di sela-sela kesunyian mereka. Jungkook hampir memuntahkan isi mulutnya kea rah Taehyung ketika ia bicara, “Kau gila?” sahutnya setelah meneguk segelas air putih, “Tidak. Kau yang gila. Dia itu jalang” ujar Taehyung dengan menekan kata ‘jalang’ pada kalimatnya, “Dia hanya memanfaatkanmu. Lihatlah! Tubuhmu kurus karena uangmu harus kau berikan untuknya. Ibumu tidak mengirim uang bila belum 3 bulan.”

Jungkook menundukan kepalanya, menatap sup yang masih sedikit bersisa. Dia terdiam. Memikirkan setiap kalimat yang Taehyung katakan. Di balik kalimatnya yang kasar, kadang ada sesuatu yang benar di baliknya. Jungkook tahu banyak itu. “Tapi aku mencintainya, hehe” ia menyeringai bodoh. Taehyung mendengus, melanjutkan melahap makanannya yang masih banyak tersisa.

 

Jam sudah menunjukan pukul 5 sore. Langit kota Seoul berubah warna menjadi lebih orange. Jungkook berkali-kali mengejeknya karena warna langit itu sama dengan rambut Taehyung. Ejekan bodoh. “Taeng! Ayo pergi klub mala mini. Namjoon mengadakan pesta” Jungkook merangkulnya, sembari memegangi pembatas balkon rumah Taehyung, “Kau saja” jawabnya seperti biasa, membuat Jungkook kecewa “Selalu begitu, oh ya bagaimana kabar Baekhyun?” Taehyung terperanjat ketika itu. Dia bahkan tidak mengingat bahwa dalam satu hari ini, ia tidak menelpon Baekhyun dan Baekhyun begitu pula. Taehyung merogoh sakunya, mencari sesuatu yang dapat menghubungkan suaranya dengan Baekhyun di sana. Namun ia terhenti ketika mengingat ‘mendonorkan ginjal’, kalimat itu seakan membuatnya mati rasa.

“Kenapa?”

“Kook, apa aku harus melakukannya?”

“Lakukan saja”

 

Terhubung

1 detik

3 detik

5 detik

9 detik

12 detik

The number you are calling is busy, call again for few time.

Debaran jantung Taehyung terasa seperti memukul dadanya. Baekhyun bahkan tidak menjawab. Wajahnya mulai pucat dan telapak tangannya terasa dingin(dapat ia rasakan). Jungkook menunggu penjelasan Taehyung, namun Taehyung hanya terpaku menggenggam handphonenya keras.

“Bagaimana?” Taehyung masih diam. Mengulang kembali masa di mana Baekhyun memberitahunya ia akan pergi untuk 3 hari ke Busan. Dia mengingat bahwa tak ada sama sekali mata kebohongan di mata Baekhyun. Dia tahu betul. Sudah hampir seumur hidupnya, ia melihat mata Baekhyun yang tak akan pernah berbohong.

“Aku akan pergi!” Taehyung berlari, di ikuti oleh Jungkook yang berkali-kali memanggil namanya namun Taehyung tetap berlari.

 

TBC

About fanfictionside

just me

12 thoughts on “FF /JUST LOVING ME LIKE YOUR DIRACTION/ BTS-EXO/ pt. 1

  1. eheii seneng banget pas liat cast nya Taehyung & Baekhyun :v akakak
    butuh sequel ah karna ini keren c:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s