FF/ THIS HEART THAT I GAVE TO YOU/ BTS-bangtan/ pt.7


Pt. 7 (Because Of Love)

 

 

Main Cast        :
-Jung Sae Ri (oc)

-Kim Seok Jin (Jin’s BTS)

-Jeon Jung Kook (Jung Kook’s BTS)

-Min Yoon Gi (Suga’s BTS)

Support Cast    :
-Kim Tae Hyung (V’s BTS)

-Park Jimin (Jimin’s BTS)

-Song Hyeri (oc)

-Lee Ga In (oc)

-Jung Hoseok (J-Hope’s BTS)

Genre              : Romance, School Life, Comedy

Length             : Multi Chapter

Author             : SunKi

 

 

“YA! BERANI-BERANINYA KAU MENDEKATI YOONGI, HUH? KAU ITU BUKAN SIAPA-SIAPA!” sebuah pekikkan terdengar nyaring di telinga Seok Jin yang hendak menuju kelasnya.

Seok Jin sudah hafal betul siapa pemilik suara tersebut. Hal tersebut sudah sering ia dengar dan ia lihat. Seok Jin sudah bisa memastikan ulah dari keributan seperti itu berasal dari para anggota cheers yang tengah membully.

“MWO? KAU SUDAH MENDEKATI YOONGI. DAN SEKARANG KAU MULAI MENGGODA SEOK JIN? PEREMPUAN MACAM APA KAU?”

PLAKK!!

Bukan hanya suara pekikkan saja yang kini Seok Jin dengar. Tetapi suara tamparan keras kini mulai terdengar di telinga Seok Jin.

“Appoooo… Ya! Lepas kaaaaaaannn!!!” Seok Jin yang hendak melanjutkan perjalanannya menuju kelas, ia langsung mengurungkan niatnya begitu mendengar teriakan dari suara yang ia kenal. Yaitu, suara Sae Ri. Tak membuang waktu lama, Seok Jin langsung menghampiri sumber keributan dengan wajah merah padam.

PLAKK!

Emosinya makin tersulut begitu melihat salah satu dari segerombolan anggota cheers menampar Sae Ri yang kondisinya ssangat memprihatinkan.

“MEMANGNYA KENAPA KALAU AKU MENYUKAINYA, HUH??” pekikkan keras Seok Jin sukses membekukan suasana.

“BERANI-BERANINYA KALIAN MELAKUKAN HAL BODOH PADANYA!” Seok Jin menatap sinis para anggota cheers yang kini tampak ketakutan dengan kehadirannya.

 

*****

“Ya! Ya! Anggota cheers sedang membully murid baru dari Inggris itu!” seorang siswa menghampiri 2 temannya dengan nafas tersengal-sengal.

“Dimana kau melihatnya?” Yoongi yang saat itu juga hendak menuju kelasnya, langsung tercekat begitu mendengar ucapan siswa tersebut dan segera menghampiri mereka yang terkejut dengan kedatangannya.

“CEPAT KATAKAN!” bentak Yoongi yang kehabisan kesabarannya karena salah satu dari mereka tak segera memberitahu padanya.

“A..aku melihatnya di.. di depan laboratorium kimia..” sahut salah satu dari mereka yang terbata-bata karena gentar dengan Yoongi.

Cepat-cepat Yoongi langsung lari menuju laboratorium kimia. Yoongi sudah hafal betul bagaimana anggota cheers jika membully seseorang. Terutama kepada siswi junior.

 

*****

“S..seok Jin oppa? Kenapa kau…..”

“Pergi!” Seok Jin memotong ucapan salah satu anggota cheers sambil terus menatap sinis kepada mereka.

“Akh! Chingu deul. Kajja!” karena merasa nyalinya menciut semenjak kehadiran Seok Jin, akhirnya gerombolan anggota cheers meninggalkan Sae Ri yang telah diamankan oleh Seok Jin.

Seok Jin menatap Sae Ri penuh prihatin. Bekas tamparan terlihat jelas di pipi Sae Ri dan rambut yang begitu kusut karena ulah tangan-tangan kasar mereka.

Sae Ri sadar betul dirinya kini tengah di amati oleh Seok Jin. Sae Ri tak ingin mata Seok Jin menatapnya seperti itu. Ia tak ingin Seok Jin menatapnya sebagai perempuan yang rapuh.

“Kau..”

“SAE RI-AH..!” sambil terus berlari, Yoongi menghampiri Sae Ri. Kedatangannya tersebut mengurungkan Seok Jin untuk mengucapkan suatu hal pada Sae Ri.

“Sae Ri-ah, gwenchana?” Yoongi memegang erat kedua pundak Sae Ri. Ekspresi khawatir terlihat jelas di wajah Yoongi oleh Sae Ri.

“Aku tidak apa-apa, sunbae..” sahut Sae Ri dengan suara yang parau.

“Kalau dia memang pacar mu, seharusnya kau bisa menjaganya” ucap Seok Jin dengan nada sinis. Yoongi yang tengah mengkhawatirkan keadaan Sae Ri, emosinya tersulut dengan apa yang Seok Jin ucapkan.

“Katakan sekali lagi!” Yoongi menatap tajam Seok Jin sambil meremas kerah seragam Seok Jin.

“Sunbae..” Sae Ri mencoba mereda suasana tegang yang kini tengah menyelimuti antara mereka. Tetapi Sae Ri tak bisa melakukan apa-apa karena kondisinya.

“Singkirkan tangan mu!” Seok Jin menghempaskan genggaman Yoongi di kerah seragamnya dengan kasar. Merasa tak ingin membebani Sae Ri dengan suasana yang tegang, Seok Jin memilih untuk berlalu meninggalkan Yoongi dan Sae Ri.

 

 

“Bagaimana kau bisa seperti ini?” Tanya Yoongi dengan nada cemas sambil merapikan rambut Sae Ri. Kini mereka berada di UKS. Yoongi sengaja membawa Sae Ri ke UKS agar Sae Ri bisa lebih menenangkan dirinya juga menangani pipi Sae Ri.

“Aku juga tidak tau, sunbae..” jawab Sae Ri sambil terus mengompres pipinya yang merah.

Yoongi menghela nafas mengingat kebiasaan anggota cheers yang selalu membully jika ada siswi yang dekat dengan anggota tim basket. Antara malu dan emosi yang kini ia rasakan.

Malu karena perilaku bodoh para anggota cheers dan emosi karena Sae Ri yang tak bersalah harus mendapatkan perlakuan bodoh dari mereka.

“DIBERITAHUKAN KEPADA SISWA YANG BERNAMA MIN YOONGI KELAS 3-1 UNTUK MENEMUI PELATIH HWANG DI RUANG GURU SEKARANG JUGA”

Suara pengumuman terdengar di ruang UKS. Yoongi kembali menghela nafas begitu mendengar namanya disebut.

“Sunbae.. kau dipanggil..” Sae Ri menatap Yoongi yang tampak enggan meninggalkannya.

“Arra. Aku akan menemui pelatih Hwang nanti” sahut Yoongi dengan nada malas.

“Waeyo? Tetapi di pengumuman kau harus menemuinya sekarang juga. Pasti ada suatu hal yang penting” ucap Sae Ri yang mencoba untuk menghilangkan rasa malas yang mulai menguasai Yoongi.

“Akh.. Aku bisa memastikan, Pelatih Hwang hanya akan membicarakan tentang persiapan pertandingan”

“Pertandingan? Kapan?” Tanya Sae Ri dengan ekspresi penasarannya

“Minggu depan. Kau harus datang memberi dukungan” ujar Yoongi

“Shireo!” Sae Ri memasang tampang cemberutnya yang membuat Yoongi kebingungan dengan perubahan ekspresinya.

“Aku tidak akan datang sebelum sunbae menghilangkan semua rasa malas sunbae” tambahnya sambil melipat kedua lengannya ke depan dadanya. Melihat tingkah Sae Ri itu, Yoongi hanya tersenyum karena gemas.

“Arraseo.. arraseo. Aku tau maksud mu. Aku akan pergi menemui Pelatih Hwang sekarang juga” Yoongi bangkit dari duduknya di ranjang UKS. Sae Ri tersenyum penuh kemenangan begitu Yoongi menuruti ucapannya.

Rasa enggan untuk meninggalkan Sae Ri masih Yoongi rasakan, pasalnya ia masih sangat mengkhawatirkan Sae Ri jika ia tak menemaninya.

“Aku akan menghubungi mu begitu urusan ku dengan Pelatih Hwang selesai” ujar Yoongi sambil membelai rambut Sae Ri.

“Ne” sahut Sae Ri yang disertai dengan senyumannya.

“Aku pergi dulu. Annyeong” Yoongi mencium kening Sae Ri sebelum meninggalkan UKS. Mendapatkan perlakuan seperti itu, Sae Ri hanya mengerjapkan matanya. Walaupun ini bukan pertama kalinya mendapat ciuman dari Yoongi, Sae Ri masih saja belum terbiasa dengan perlakuan Yoongi tersebut.

Tak lama setelah Yoongi pergi, seseorang membuka pintu UKS dan melangkahkan kakinya untuk memasuki ruang UKS dengan ekspresi datarnya. Untuk kali ini ia merasa sedikit canggung untuk bertemu dengan Sae Ri karena kejadian kemarin.

“Jung Koooook-aaaaaaah …!!” seru Sae Ri begitu mendapati Jung Kook yang kini ada di hadapannya.

“Lihat! Kemarin kau tidak ada, hari ini aku babak belur! Kau kemana saja, huh?” rengek Sae Ri dengan wajah memelas. Jung Kook tertegun melihat reaksi Sae Ri begitu dirinya datang. Fikiran tentang Sae Ri yang akan tak menerima dengan kedatangannya sirna seketika. Belum juga Jung Kook mengeluarkan suaranya, sebuah bantal mendarat tepat di wajahnya.

BUG!

Satu lagi bantal mendarat di wajahnya. Kali ini lebih keras dari sebelumnya. “YA!” pekik Jung Kook yang mulai kesal dengan perlakuan Sae Ri tersebut.

“Mwo? Itu balasan untuk teman yang tiba-tiba menghilang. Teman macam apa kau ini!” serdik Sae Ri dengan wajah cemberutnya.

“Arraseo.. arraseo.. mian..” sahut Jung Kook sambil memungut bantal-bantal yang bergeletakkan di lantai dan meletakkan kembali ke atas ranjang UKS.

“Shireo!” Sae Ri menatap Jung Kook masih dengan wajah cemberutnya. “Aku akan memaafkan mu jika kau mentraktir ku makan sekarang juga” tambah Sae Ri yang kini melipatkan kedua lengannya di depan dadanya.

Tak ada yang bisa Jung Kook lakukan selain menghela nafasnya dan meng-iyakan permintaan Sae Ri tersebut.

 

Jung Kook memperhatikan Sae Ri yang tengah sibuk melahap kimbap yang Jung Kook pesan di kantin sekolah.

“Ya. bagaimana bisa kau memakan kimbap dengan pipi mu yang merah itu, huh?” ujar Jung Kook sambil terus memperhatikan Sae Ri yang begitu lahap memakan kimbap.

“Sekarang bukan lagi pipi yang di permasalahkan. Tetapi perut ku. Kau tau? Sejak tadi malam aku belum mengisi perut. Pantas saja sekarang ini perut ku terus merengek” sahut Sae Ri dengan santai.

“AHJUMMA, BAWAKAN AKU LAGI KIMBAPNYA..!” merasa belum puas dengan urusan perutnya, Sae Ri memesan kembali tanpa mempedulikan Jung Kook yang tampak tercengang dengan tingkahnya tersebut.

“NE!” sahut ahjumma si pelayani kantin. Sae Ri melontarkan senyuman polosnya begitu melihat Jung Kook mendesis kesal.

“Jung Kook-ah, bukan kah ini waktunya pelajaran? Kenapa kau justru menjenguk ku? Apa lagi ini jam pelajaran Jang ssaem. Apa kau sudah meminta ijin?” Tanya Sae Ri sambil terus melahap kimbapnya yang kini memenuhi mulutnya.

“Umm.. te..tentu saja. Bukan kah aku sudah berjanji pada Jang ssaem untuk tidak membolos lagi?” Jung Kook mengalihkan pandangannya membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi setelah ini.

 

*****

Jang ssaem tengah menyebutkan nama-nama seluruh murid kelas 1-2 untuk mengisi daftar presensi.

“JUNG SAE RI” tak ada sahutan. Jang ssaem mengadahkan kepalanya ke seluruh bangku. Tak ada Sae Ri memang.

“Jung Sae Ri. Kemana dia?” Tanya Jang ssaem pada seluruh murid. Berharap salah satu dari muridnya akan menjawabnya.

“Kami belum melihatnya hari ini, seongsaenim” ujar Hye Ri. Jang ssaem mengarahkan pandangannya menuju bangku Sae Ri. Tak ada satu murid pun yang duduk disana. Hanya ada sebuah tas yang terletak diatas meja.

“JEON JUNG KOOK”Tak ada sahutan lagi. “Apa dia juga tak hadir?” Tanya Jang ssaem yang mulai tampak frustasi karena ketidak hadiran dua murid barunya tersebut.

“Umm.. seongsaenim, dia sudah hadir sebenarnya. Tapi dia pergi begitu bel berbunyi” kini Tae Hyung yang bersuara. Namun ucapannya tersebut justru dibalas dengan tatapan mendelik oleh Hye Ri dan Ga In.

“Mwo? Apa dia membolos lagi?Aish.. Jinjja!” Jang ssaem menghela nafasnya karena kesal begitu mendengar ucapan Tae Hyung.

“A..aniya, seongsaenim. J..Jung Kook bilang dia hendak pergi ke UKS. Dia sedang tidak enak badan hari ini” bantah Ga In asal. Ga In juga tak tau sebenarnya Jung Kook dimana sekarang. Dia terpaksa membantah ucapan Tae Hyung untuk memberikan posisi aman pada Jung Kook.

“Mwoya? Kalau sakit kenapa dia memaksakan diri untuk berangkat?” gumam Jang ssaem yang masih bisa didengar oleh seluruh murid.

Ga In dan Hye Ri menghela nafas karena lega begitu mendengar gumaman Jang ssaem yang terdegar seperti percaya pada ucapan Ga In. Sementara itu, Tae Hyung mendesis kesal yang melihat tingkah dua temannya tersebut.

 

*****

“APA MAKSUD KALIAN MEMBULLY SAE RI, HUH?! BERANI-BERANINYA KALIAN BERPERILAKU BODOH PADANYA!” bentak Yoongi di hadapan anggota cheers dengan wajah merah padam. Suara bentakan Yoongi membuat suasana di base camp anggota cheers tegang seketika. Yoongi tak mempedulikan dirinya kini tampak menakutkan di mata para anggota cheers. Rasa emosi terlanjur menguasai dirinya.

“CH.. PEREMPUAN MACAM APA KALIAN?” Yoongi menendang loker milik anggota cheers dengan keras hingga melenceng dari posisinya. Jangankan menyahut ucapan Yoongi, menatapnya pun tak ada yang berani.

“KAU LAH YANG BODOH, MIN YOONGI!” suara pekikkan dari Jae In, sang ketua cheers memecah ketegangan yang Yoongi ciptakan. Semua tatapan tertuju pada Jae In yang tengah berdiri di ambang pintu. Dengan tatapan sinisnya, Jae In menghampiri Yoongi.

“Kau bodoh, Min Yoongi. Jika kau memang menyukai Sae Ri mu itu, kenapa kau membuang-buang tenaga mu hanya untuk meneriaki anggota ku? Aku memang tidak ada saat mereka membully Sae Ri. Tapi tidak kah kau tau apa yang Seok Jin katakan saat menyelamatkan Sae Ri?” Jae In menyunggingkan senyum liciknya yang justru membuat Yoongi makin tersulut emosinya.

“APA? APA YANG DIA KATAKAN, HUH?” Yoongi menatap Jae In dengan tatapan penasaran tetapi masih tak lepas dari tatapan tajamnya. Melihat reaksi Yoongi, senyuman licik makin mengembang di wajah Jae In.

“CEPAT KATAKAN!” Yoongi mengguncang-guncangkan pundak Jae In. Mendapat perlakuan seperti itu, cepat-cepat Jae In menghempaskan tangan Yoongi dengan kasar.

“Seok Jin, dia mengatakan bahwa dia menyukai Sae Ri dihadapan mereka semua. Bukan kah itu sangat ‘manly’? Kau harus berhati-hati. Apa yang Seok Jin lakukan itu bisa saja membuat Sae Ri terlena dan pada akhirnya perjuangan mu akan sia-sia” senyuman penuh kemenangan terpancar jelas diwajah Jae In. Jae In sadar betul apa yang dia katakan justru akan menyebabkan perpecahan antara Yoongi dengan Seok Jin.

 

*****

“Jung Kook-ah, apa tidak apa-apa jika kita berkeliaran seperti ini? Sementara murid-murid yang lain.. mereka semua berada di kelas. Aku tidak mau lagi pura-pura cidera di depan Kepala Sekolah Kim” gerutu Sae Ri sambil memanyunkan bibirnya.

“Tenang saja. Kau tak perlu seperti itu lagi” mendengar gerutuan Sae Ri, Jung Kook menghentikan langkahnya sebelum menyunggingkan senyumannya.

“Tapi.. bagaimana jika Kepala Sekolah Kim tiba-tiba muncul?” Sae Ri menatap Jung Kook dengan lamat sambil menggenggam lengan kanan Jung Kook. Mendapat tatapan seperti itu, tanpa ragu Jung Kook memajukan wajahnya ke wajah Sae Ri.

“Haruskah aku mengeluarkan pintu kemana saja?” celetuk Jung Kook dengan senyuman jahilnya.

“Mwoya!” Sae Ri memukul lengan Jung Kook yang sedari tadi ia genggam. Jung Kook hanya terkekeh melihat tingkah Sae Ri.

Bagi Jung Kook, apa yang Sae Ri selama ini perlakukan padanya hanya lah tingkah yang menggemaskan. Tingkah yang terkadang kekanak-kanakkan, tingkah yang terkadang menyebalkan dan ucapannya yang terkadang hampir membuatnya tersinggung. Namun semua itu tak masalah baginya, Jung Kook justru senang dengan semua itu. Menghabiskan waktu bersama orang yang ia sukai memang merupakan kebahagiaan tersendiri baginya.

Jung Kook tau, bukan hanya dia yang menyukai Sae Ri dan berebut hatinya. Dan Jung Kook tau, dia memiliki saingan yang cukup berat untuk mendapatkan hati Sae Ri. Atau mungkin Sae Ri yang masih saja tak menyadari akan perasaannya.

Seperti sekarang ini, Sae Ri justru lebih memilih untuk memandang orang lain. Bukan dirinya yang sedari tadi berada disamping Sae Ri.

Sae Ri terus memperhatikan seorang siswa yang tengah menyibukkan diri di lapangan basket dengan memainkan bola basketnya. Yang di perhatikan oleh Sae Ri tak menyadari dengan tatapan Sae Ri. Begitu juga dengan Sae Ri, dia tak menyadari dengan Jung Kook yang tengah memperhatikannya.

Tak apa jika hatinya harus remuk terlebih dahulu untuk mendapatkan hati Sae Ri, karena Sae Ri-lah orang pertama yang berhasil membuatnya seperti ini.

“Sae Ri-ah, kenapa kau disini? Bukan kah seharusnya kau di UKS?” Lagi-lagi, kedatangan Yoongi yang tiba-tiba berhasil menyadarkan lamunan Sae Ri.

“engg.. sunbae.. tadi Jung Kook menjenguk ku. Aku memintanya untuk mentraktir ku di kantin..” sahut Sae Ri. Yoongi yang masih belum lepas dari emosinya, langsung menatap Jung Kook dengan sinis begitu mendengar nama Jung Kook.

“Sae Ri-ah, kajja!” karena tak ingin ribut dengan Jung Kook, Yoongi meraih tangan Sae Ri dan hendak membawa Sae Ri bersamanya.

Tidak untuk kali ini. Yoongi yang selalu merebut Sae Ri dari dirinya saat bersamanya, Jung Kook menahan lengan Yoongi yang tengah menggenggam tangan Sae Ri.

“Tidak bisa. Kau tak bisa membawanya seenaknya!” Jung Kook menatap tajam Yoongi sambil terus menahan lengan Yoongi.

“KAU PIKIR SIAPA DIRI MU!” Karena merasa mendapat halangan dari Jung Kook, Yoongi langsung meremas kerah seragam Jung Kook dan mendorong Jung Kook ke tembok dengan keras.

“Sunbae.. sudah lah!” Melihat ketegangan antara Yoongi dengan Jung Kook, Sae Ri berusaha untuk memisahkan Yoongi dan Jung Kook. Tetapi sama seperti tadi pagi, dirinya tak bisa melakukan apa-apa. Emosi terlanjur menguasai antara Yoongi dan Jung Kook.

“Aku memang bukan siapa-siapanya! Tetapi aku tak seperti diri mu yang selalu berbuat se enaknya! Dia bukan mainan mu!”

BUG!

Satu pukulan keras mengenai wajah Jung Kook. Seketika, warna kebiruan tampak jelas di pipi kanan Jung Kook dan titik-titik darah muncul dari sudut bibir Jung Kook.

“Aku tak akan melepaskan mu jika kau berusaha menghalangi ku lagi!” dengan kasar Yoongi menggenggam pergelangan tangan Sae Ri dan membawa Sae Ri dari Jung Kook.

Seok Jin yang sedari tadi sibuk dengan bola basketnya, terpaksa menghentikan aktifitasnya tersebut begitu melihat keributan antara Yoongi dan Jung Kook dan berlalu dari lapangan basket.

*****

“Sunbae.. sunbae..! Lepaskan!” Sae Ri yang sudah merasa kesakitan dengan genggaman Yoongi, dia menghempaskan tangan Yoongi. Dan kini berhasil. Tangannya terbebas dari genggaman kasar Yoongi.

“Sunbae, ada apa dengan mu? Kenapa kau memukul Jung Kook? Kenapa kau begitu kasar padanya?” sergah Sae Ri yang mulai gerah dengan perilaku kasar Yoongi pada Jung Kook.

“Aku benci saat dia menghalangi ku! Kau itu milikku. Tak boleh seorang pun menghalangi ku!” sahut Yoongi sambil meninggikan suaranya. Yoongi menatap tajam Sae Ri. Tatapan tajam yang tak pernah ia dapatkan dari Yoongi kini harus Sae Ri dapatkan.

“Menghalangi apa? Kau bahkan bukan kekasih ku, sunbae. Aku tak merasa aku telah memberikan jawaban pada mu”

 

“Sae Ri-ah..” Yoongi mengeluarkan suaranya yang memecah keheningan.

                “Ne, sunbae?” Sae Ri menatap Yoongi yang terlihat ingin mengatakan sesuatu padanya.

                “Aku menyukai mu. Apa kau mau menjadi kekasih ku?” Yoongi menatap Sae Ri dengan lamat. Sae Ri mengerjapkan matanya. Ia tak menyagka bahwa Yoongi akan mengatakan perkataan tersebut padanya.

                “Aku.. “

                “Sae Ri-ah, kenapa kau tak menyuruhnya untuk masuk? Di luar dingin” kedatangan Na Rin mengurungkan niat Sae Ri untuk menjawab ajakan Yoongi.

 

                Yoongi mengingat kembali di malam saat dirinya mengutarakan perasaannya pada Sae Ri. Dan memang benar, Sae Ri belum sempat mengatakan ‘iya’ atau ‘tidak’

“Melihat mu seperti ini, Aku semakin yakin dengan pilihan ku. Minhae, sunbae” Sae Ri mulai melangkahkan kakinya untuk berlalu.

“W..wae? Apa ada orang lain?” Tanya Yoongi dengan suara paraunya yang menghentikan langkah Sae Ri.

“Ne. Ada seseorang yang aku sukai. Dan itu bukan kau, sunbae” jawab Sae Ri yakin.

Kata-kata yang baru saja Sae Ri ucapkan mengingatkan Yoongi dengan apa yang Jae In katakan sebelumnya. Dan membuatnya semakin yakin dengan ucapan Jae In. Perasaan kecewa, amarah, sedih semua tercampur aduk. Yoongi tak menyangka bahwa Sae Ri akan memperlakukannya seperti itu setelah apa yang selama ini telah ia lakukan pada Sae Ri.

Sae Ri hendak melanjutkan langkahnya. Namun cepat-cepat Yoongi menarik dan menghimpit tubuh Sae Ri ke tembok dengan tubuhnya.

Entah apa yang merasuki Yoongi, ia melumat bibir tipis Sae Ri dengan agresif. Berapa kali Yoogi merubah posisi kepalanya agar dia bisa melumat tiap sudut bibir Sae Ri. Bukan rasa nikmat yang seperti orang-orang bilang saat berciuman. Yang Sae Ri rasakan hanya rasa perih pada bibirnya.

Rontaan Sae Ri tak menjadi halangan bagi Yoongi untuk terus melumat bibir Sae Ri. Bahkan rontaan Sae Ri semakin mendorong Yoongi untuk berbuat lebih.

Satu dorongan keras dari Sae Ri akhirnya berhasil menjauhkan tubuhnya dari Yoongi.

“Sebenarnya ada apa dengan sunbae? Kemana Yoongi sunbae yang selama aku kenal? Aku tak mengenal Yoongi sunbae ini!” Air mata sudah tak bisa Sae Ri bendung. Rasa kecewa pada Yoongi sudah terlanjur hinggap pada Sae Ri. Dengan perasaan yang tak karuan, cepat-cepat Sae Ri meninggalkan Yoongi.

Yoongi menggeram atas apa yang telah terjadi. Ia bahkan mulai menggunakan tangannya untuk menghantam tembok. Tapi percuma saja, rasa sakit di hatinya tak berkurang sedikit pun. Rasa sakit pada tangannya tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.

Tak jauh dari situ, Seok Jin yang melihat langsung kejadia tersebut menatap Yoongi dengan tatapan jijik dan mengepal tangannya kuat-kuat.

Menyadari kehadiran Seok Jin yang tengah menatapnya, Yoongi justru melontarkan senyuman liciknya. Senyuman yang mengisyaratkan penuh kemenangan.

Dengan langkah berat, Seok Jin menghampiri Yoongi dan langsung menghantam wajah Yoongi hingga babak belur. Luka hantaman tampak jelas di wajah Yoongi. Bahkan karena kerasnya pukulan dari tangan Seok Jin, darah segar tampak keluar dari sudut bibir Yoongi.

“Itu balasan untuk pria brengsek seperti mu, Yoongi!” sergah Seok Jin dengan sorotan tajam dari matanya. Sorotan mata yang mengisyaratkan rasa emosi.

“KAU LAH YANG BERENGSEK!” tak mau kalah, satu tinjuan keras mendarat di wajah Seok Jin. Karena merasa Yoongi yang belum sepenuhnya mendapatkan apa yang harus Yoongi dapatkan, Seok Jin hendak kembali meninju Yoongi. Namun sayang, niatannya tersebut harus terhenti begitu Kepala Sekolah Kim yang tengah berkeliling sekolah datang mencoba melerai.

“YA! APA YANG KALIAN LAKUKAN! BERKELAHI DI PAGI-PAGI SEPERTI INI? KALIAN CEPAT IKUT KE RUANGAN KU!” pekik Kepala Sekolah yang berhasil memisahkan Seok Jin dari Yoongi.

 

*****

“BAGAIMANA BISA KALIAN BERTINDAK BODOH SEPERTI TADI?!” Kepala Sekolah Kim menggebrak meja kerjanya karena tak kuasa menahan rasa kesal atas tingkah murid-muridnya tersebut. Kepala Sekolah Kim sadar betul hal seperti itu memang sering terjadi pada para remaja saat ini. Tetapi perkelahian bukanlah perilaku yang baik dan harus ditindak tegas.

“KALIAN.. KALIAN AKAN MENGHADAPI UJIAN KELULUSAN! TETAPI KENAPA KALIAN JUSTRU BERKELAHI?” Kepala Sekolah Kim menatap satu persatu murud-muridnya yang tengah berdiri di depan meja kerjanya. Tetapi yang ditatap justru seperti tak mengindahkan apa yang Kepala Sekolah Kim katakan. Hanya helaan nafas yang bisa Kepala Sekolah Kim lakukan.

“Kalian itu senior dari junior-junior kalian. Sebagai senior, seharusnya kalian bisa memberikan contoh yang baik pada junior kalian. Aku tidak mengerti dengan jalan fikir kalian” ujar Kepala Sekolah Kim yang kini lebih memelankan suaranya.

“Melihat keadaan kalian.. Yoongi, kau urusi luka mu itu. Sementara kau, Seok Jin. Temui Petugas Kebersihan Seo” tambah Kepala Sekolah Kim.

“Petugas Kebersihan Seo? Tapi untuk apa?” sergah Seok Jin yang tak mengerti dengan ucapan Kepala Sekolah Kim.

“SUDAHLAH. TEMUI SAJA DIA!” pekik Kepala Sekolah yang kembali kesal dengan murid-muridnya tersebut.

 

*****

“Aku tak tau kenapa Kepala Sekolah memberi mu tugas untuk mengepel toilet. Aku hanya mendapat utusan dari beliau untuk menyampaikan ini pada mu” terang Petugas Kebersihan Seo, pria paruh baya yang bertugas menangani kebersihan sekolah.

“Tetapi kenapa harus di sini? Tidak kah Kepala Sekolah Kim mengerti ini toilet perempuan?” Seok Jin menggaruk kepalanya yang tak gatal karena frustasi dengan hukuman yang ia dapatkan.

“Entahlah, aku rasa beliau hanya ingin memberikan efek jera pada mu” ujar Petugas Kebersihan Seo. “Alat pel dan sebagainya sudah aku siapkan. Dan sekarang giliran mu untuk mengepel toilet” tambahnya sambil menepuk pundak Seok Jin dan berlalu dengan kekehannya.

Seok Jin mendesis kesal begitu melihat alat pel yang sudah disiapkan untuknya. Tak ada yang bisa Seok Jin lakukan selain melaksanakan hukuman yang ia dapatkan. Konyol memang. Ia tak tau harus bagaimana jika seseorang masuk dan melihatnya tengah mengepel toilet wanita. Tapi untung saja saat ini keadaan toilet tengah sepi.

 

*****

“Ya, Tae Hyung-ah. Kau masih ingat dengan Jae In sunbae?” Tanya Jimin disela-sela aktivitasnya mengerjakan soal latihan yang Jang ssaem berikan.

“Ketua cheers yang ‘sok imut’ itu kan?” sahut Tae Hyung masih asik dengan acara mencoret-coret bukunya.

“Apa maksud mu dengan ‘sok imut’? Kau tau? Dia itu ternyata kekasih Hoseok sunbae” Jimin menghela nafasnya mengingat apa yang ia lihat kemarin.

“Jinjja? Bagaimana kau bisa tau?” Tae Hyung yang sedari tadi asik dengan mencoret-coret bukunya, kini mengadahkan pandangannya pada Jimin seolah-olah penasaran dengan ucapan Jimin.

 

Jimin yang baru saja dari perpustakaan hendak kembali ke kelasnya. Kali ini ia sendirian. Tae Hyung, Ga In dan Hye Ri telah kembali ke kelas terlebih dahulu. Sementara dua teman barunya, Sae Ri yang pergi bersama Yoongi dan Jung Kook yang entah kemana setelah hampir bersitegang dengan Yoongi.

                “Hoseok-ah, neo eodiga?” Jae In menatap Hoseok dengan tatapan memelas.

                “Wae? Apa aku harus selalu memberitahu pada mu aku akan kemana, aku dimana, aku sedang bersama siapa, aku sedang apa? Apa harus, huh?” sahut Hoseok dengan nada malas tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.

                “Aku kekasih mu!” sergah Jae In yang mulai kesal.

                “Bahkan ibu ku tak seperti itu!” Hoseok meninggikan suaranya karena perilaku Jae In yang terlalu posesif padanya. Bagi Hoseok, memiliki hubungan dengan Jae In sama saja ia seperti hidup disebuah kandang yang selalu terkunci. Tak ada rasa kebebasan.

                “Hoseok-ah, aku seperti itu karena aku sangat mencintai mu” lelehan air mata membasahi pipi Jae In. Air mata yang selalu Jae In gunakan setiap dirinya tengah berselisih dengan Hoseok seperti saat ini.

                “Tapi..” ucapan Hoseok terpotong ketika Jae In yang tiba-tiba menarik tengkuknya dan mencium bibir Hoseok.

                Mata sipit Jimin membulat seketika ketika kedua matanya menangkap pemandangan kedua sejoli tengah berciuman. Cepat-cepat Jimin membalikkan tubuhnya agar matanya tak melihat pemandangan tersebut.

                Entah kenapa perasaan perih di dadanya mulai Jimin rasakan. Refleks, Jimin menepuk-nepukkan dadanya tersebut dengan tangannya. Tetapi sama saja, tak ada perubahan.

 

“Aku tak menyangka, mereka ternyata berpacaran..” gumam Tae Hyung yang masih bisa Jimin dengar.

“Aku juga awalnya terkejut. Sepertinya akan sulit mendapatkan Jae In sunbae..” Jimin kembali menghela nafasnya mengingat seseorang yang ia sukai telah memiliki seseorang lain.

“Apanya yang sulit mendapatkan Jae In senior mu?” sergah Jang ssaem yang tengah berdiri di belakang Jimin. Ucapan Jang ssaem sontak membuat Jimin dan Tae Hyung terkejut. Begitu juga dengan murid-murid yang lainnya.

“A..aniya, seongsaenim..” Jimin menyunggingkan senyum kakunya.

“Kau selesaikan dulu soal-soal yang aku berikan. Begitu selesai, kau boleh melanjutkan acara bercurhat mu itu” Jang ssaem menggeleng-gelengkan kepalanya karena tingkah dua muridnya tersebut.

“N..ne seongsaenim” sahut Jimin terbata-bata dan kembali fokus pada soal-soal matematika yang Jang ssaem berikan.

Sementara itu tak jauh dari Jimin dan Tae Hyung, Hye Ri memikirkan apa yang Jang ssaem baru saja ucapkan. Ia bertanya-tanya dengan apa maksud dari ucapan Jang ssaem tersebut.

 

*****

Masih dengan hukumannya, Seok Jin melaksanakan hukuman yang ia dapat dengan berat hati. Seok Jin terus saja berwas-was jika ada murid yang masuk ke toilet dan mendapatinya tengah mengepel di toilet perempuan.

Nasib sial rupanya tengah menimpa Seok Jin. Hal yang Seok Jin tak inginkan benar-benar terjadi. Dua orang siswi yang tak ia kenal memasuki toilet dan terkejut begitu melihat Seok Jin yang berada di toilet perempuan.

“Tidak kah kalian lihat toilet ini sedang di bersihkan? Carilah toilet lain!” sergah Seok Jin dengan nada ketus. Karena tak tau harus bagaimana lagi, akhirnya dua siswi itu menuruti ucapan Seok Jin. Ekspresi kebingungan tampak jelas di wajah mereka.

“Akh.. Kepala Sekolah Kim benar-benar! Pantas saja banyak sekolah yang menginginkannya!” Seok Jin mendesis kesal sambil memasang wajah frustasinya.

Belum lama setelah kedatangan dua siswi tadi, seorang siswi datang dan langsung menuju wastafel untuk membasuh wajahnya. Namun kali ini siswi tersebut tak menyadari keberadaan Seok Jin yang tengah mengamatinya. Siswi itu tampak mengeluarkan sebuah benda dari saku jas almamaternya.

“Yeoboseyo? Jung Kook-ah, neo eodieseo?” siswi tersebut tengah menelfon seseorang. Dari suaranya, Seok Jin langsung bisa mengenali siapa pemilik suara tersebut. Yaitu Sae Ri.

 

*****

Yeoboseyo? Jung Kook-ah, neo eodieso?” suara Sae Ri terdengar lewat ponsel Jung Kook.

“Aku.. aku sedang ada di… taman belakang” sahut Jung Kook asal. Apa yang baru saja Jung Kook katakana berbeda dengan kenyataan. Ia kini sedang berada di depan ruang UKS.

“Mwo? Kenapa kau tidak ke UKS saja? Kau ini! Baiklah kalau begitu. Kau tunggu sajalah disitu. Aku akan membawakan mu kotak P3K. Luka mu harus langsung di tangani” ujar Sae Ri dengan nada khawatir. Jung Kook kembali terenyuh mendengar ucapan Sae Ri. Suasana hatinya berubah seketika.

“Ne. Jangan lama-lama. Jangan sampai luka ku kering sebelum kau datang” senyuman mengembang di wajah Jung Kook.

“Arraseo. Kau tenang saja. Aku akan kesitu secepat mungkin. Aku tutup” sambungan terputus. Senyuman masih terpampang jelas diwajah Jung Kook. Suasana hatinya yang sedari tadi buruk kini berganti dengan suasana hati yang bahagia. Kata-kata yang baru saja ia dengar terus saja terngiang di pikirannya. Tanpa menunggu lama, Jung Kook segera menuju ke taman belakang sekolah.

*****

Sae Ri memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas almamaternya dan hendak berlalu dari toilet. Namun keberadaan Seok Jin yang tengah mengamatinya, sukses membuat Sae Ri terkejut.

“Omo sunbae! Kenapa kau ada disini?” seru Sae Ri dengan ekspresi terkejutnya yang khas. Sae Ri mengamati Seok Jin dari atas kebawah. Seok Jin yang tengah memegang alat pel dengan luka lebam di wajahnya. Sae Ri mulai paham kenapa Seok Jin berada disini.

 

Dengan hati-hati Sae Ri mengoleskan luka lebam yang tampak jelas di wajah Seok Jin dengan salep yang sudah ia ambil dari UKS beserta kotak P3K.

“Ini sudah kedua kalinya aku melihat wajah sunbae dengan luka lebam. Sebenarnya apa yang telah terjadi?” Tanya Sae Ri yang masih mengoleskan salep pada luka lebam di wajah Seok Jin.

“Biasa. Urusan pria” sahut Seok Jin datar. Sae Ri menghela nafasnya mendengar sahutan Seok Jin.

“Kenapa semua namja seperti itu?” gerutu Sae Ri sambil memanyunkan bibirnya.

Jung Kook yang sedang menuju taman belakang sekolah, tak sengaja melihat pemandangan yang seketika pula merubah kembali suasana hatinya.

Matanya menangkap sosok Sae Ri yang tengah mengobati luka di wajah Seok Jin. Suasana hatinya kembali gusar. Rasa perih harus ia kembali rasakan. Ia menjadi ragu akan apa yang Sae Ri ucapkan di telfon. Jung Kook merasa, seharusnya dia-lah yang ada di posisi Seok Jin saat ini.

 

Sae Ri telah selesai dengan aktifitasnya mengolesi luka di wajah Seok Jin. Sae Ri tersenyum melihat hasil apa yang telah ia lakukan pada Seok Jin.

“Gomawo..” ucap Seok Jin singkat.

“Cheonmanaeyo. Get well soon, sunbae” Sae Ri menyunggingkan senyumannya pada Seok Jin meskipun senyumannya hanya dibalas dengan senyuman simpul oleh Seok Jin.

Sae Ri kembali mengecek ponselnya. Matanya membelalak seketika begitu ia ingat apa yang tadi ia ucapkan pada Jung Kook di telfon.

“Andwe.. omo! S..sunbae, mianhae. Aku harus pergi sekarang” Sae Ri menata kembali obat-obat kedalam kotak P3K dengan tergesa-gesa.

“Wae? Kau mau kemana?” Seok Jin menatap Sae Ri yang tampak begitu tergesa-gesa dengan tatapan bingung.

“Aku baru ingat aku ada janji dengan Jung Kook. Maaf, sunbae. Aku harus pergi sekarang. Annyeong” tanpa mempedulikan Seok Jin yang tampak kebingungan, Sae Ri langsung lari sambil membawa kotak P3K.

 

*****

 

“Jung Kook-ah..” dengan perasaan bersalah, Sae Ri menghampiri Jung Kook yang tengah duduk di kursi taman. Jung Kook menoleh sebentar kearah Sae Ri. Tapi ia kembali mengalihkan kembali pandangannya dari Sae Ri.

“Mianhae. Kau pasti sudah menunggu ku lama..” Sae Ri mengambil posisi duduk di sebelah Jung Kook dan langsung membuka kotak P3K. Sae Ri mengamati luka yang ada di Jung Kook. Terutama disudut bibir. Tampak luka robek disana.

Sae Ri membasahi kapas dengan alkohol untuk membersihkan darah yang ada pada sudut bibir Jung Kook yang mulai mengering.

“Aku tau kenapa hari ini melihat banyak yang mengalami luka seperti ini..” gumam Sae Ri yang masih terdengar oleh Jung Kook. Baru saja Sae Ri menempelkan kapas pada sudut bibir Jung Kook, tiba-tiba tangan Jung Kook menahan tangan Sae Ri dengan menggenggamnya. Jung Kook menatap Sae Ri dengan lamat.

1 detik.. 2 detik.. 3 detik… mata mereka saling bertemu dan saling bertatapan.

“Wae?” Tanya Sae Ri memecah keheningan. Jung Kook menghempaskan tangan Sae Ri dari bibirnya.

“Ya! Luka mu itu harus di obati. Apa kau tidak tau? Bahkan bibirmu itu ada luka robek. Kau tinggal diam saja. Aku sudah berjanji akan mengobati luka mu!” Sae Ri memegang dagu Jung Kook agar ia lebih mudah mengobati luka di bibir Jung Kook.

 

Jung Kook meringis kesakitan ketika obat yang Sae Ri oleskan menyentuh luka robek di bibirnya. “Kau diam saja. Jangan banyak menggerakkan bibir mu. Biarkan obatnya mengering” ujar Sae Ri yang menyadari Jung Kook yang tengah meringis kesatikan.

Dengan telaten dan penuh hati-hati, Sae Ri mengobati luka yang ada pada Jung Kook. Sae Ri merasa bersalah dengan apa yang Jung Kook alami saat ini. Setidaknya, dengan mengobati luka Jung Kook seperti ini bisa mengurangi perasaan bersalahnya pada Jung Kook.

“Selesai” Sae Ri memasukkan kembali obat-obat kedalam kotak P3K. Ia menghela nafas begitu mengingat apa yang telah terjadi di hari ini.

 

-Sae Ri’s POV-

Kemana Yoongi sunbae yang aku kenal? Kenapa dia begitu berbeda? Aku tak menginginkan Yoongi sunbae yang terakhir aku lihat. Aku tak mengenal Yoongi sunbae yang itu.

Aku tidak tau harus bagaimana jika aku bertemu Yoongi sunbae. Harus kah aku berpura-pura tak ada yang terjadi? Atau… harus kah aku berpura-pura tak mengenalnya? Akh..ani! Yang terpenting adalah tak ada yang tau kejadian itu.. kejadian saat Yoongi sunbae mencium ku.

 

-Jung Kook’s POV-

                Lagi.. kau seperti tak menganggap keberadaan ku. Aku memang tak tau apa yang ada di fikiran mu saat ini. Tak mungkin aku yang ada di fikiran mu saat ini. Kalau pun iya, tak mungkin kau seperti itu kan?

Aku tau, kau lebih suka memandang orang lain. Tapi.. tak bisakah kau memandang ku? Meskipun sekali saja? Aku akan sangat bahagia jika kau melakukannya. Atau.. harus kah aku membuat mu agar mau memandangku? Hati ku hancur saat ini. Apa kau mau menatanya kembali suatu saat nanti? Atau justru kau hanya akan membiarkannya begitu saja?

Kenapa ini berbeda seperti yang orang bicarakan? Aku tak tau kenapa begitu menyakitkan untuk cinta pertama. Mereka bilang, cinta pertama adalah cinta yang terindah dalam hidup. Tapi kenapa tidak dengan ku?

 

———————————————

 

-Author’s POV-

                Lambungan bola basket oleh wasit menandakan dimulainya pertandingan basket antara Kwang Soo High School dengan Yoo Dae High School. Keriuhan supporter dari masing-masing tim yang larut dalam pertandingan memberikan suasana tersendiri pada pertandingan kali ini. Tak terkecuali dengan Sae Ri dan tiga temannya. Jung Kook, Ga In dan Hye Ri.

Antusiasme kedua tim untuk memenangkan pertandingan sangatlah besar, hal ini ditunjukkan oleh setiap pemain. Tak mau kalah dengan para pemain, kedua pelatih tim juga semangat dalam merancang strategi-strategi yang jitu untuk memenangkan pertandingan tersebut.

Babak pertama hingga ketiga telah berlalu. Masing anggota tim terus berusaha untuk mencetak skor demi memenangkan pertandingan kali ini. Suasana pertandingan menjadi panas ketika masing-masing tim mendapatkan perolehan jumlah total skor yang sama, yaitu 51-51.

Di sisa waktu 5 menit di babak terakhir, menjadi waktu penentu tim manakah yang akan keluar menjadi pemenang.

Yoongi yang berhasil merebut bola, langsung mendribble menuju keranjang tim lawan. Tak tanggung-tanggung shooting Yoongi berhasil mencetak angka bagi tim Kwang Soo High School. Para supporter semakin riuh dengan pertambahan angka yang di raih. Skor 52-51.

Dari tim inti yang tersisa, tinggal Yoongi dan Seok Jin lah yang masih bertempur dari babak pertama dan sisanya merupakan para pemain cadangan, termasuk Jimin. Rasa lelah mulai melemahkan permainan antar tim. Tak terkecuali Seok Jin yang terus menahan rasa letih dan rasa sakit pada dadanya demi menyelesaikan pertandingan kali ini.

Shooting dari tim Yoo Dae High School berhasil membobol pertahanan Kwang Soo High School. Skor kembali imbang, 52-52.

Pertandingan akan berakhir 2 menit lagi. Jika salah satu tim tak dapat menambah skor, itu artinya akan dilakukan pertambahan waktu.

Gerakan lincah Jimin berhasil merebut bola dari tangan tim Yoo Dae High School. Cepat-cepat Jimn melakukan overhead pass pada Seok Jin. Bola kini ada di tangan Seok Jin. Seok Jin hendak melakukan shooting. Namun sayang, rasa sakit pada dadanya dan pusing di kepalanya menyulitkannya untuk bergerak.

Supporter, pelatih Hwang, anggota tim basket, semua mengharapkan Seok Jin agar dapat mencetak angka dan memenangkan pertandingan di sisa waktu 1 menit ini.

Harapan akan memenangkan pertandingan seperti hilang begitu saja ketika sebuah tangan berhasil merebut bola dari tangan Seok Jin. Si pemilik tangan dari tim lawan.

Tak mau hanya diam saja, Seok Jin memaksakan tubuhnya yang terasa sudah tak berdaya itu untuk bergerak dan merebut kembali bola yang sempat lepas dari genggamannya.

Lay-up indah Seok Jin berhasil mencetak 2 angka sekaligus. Tak lama kemudian tiupan peluit panjang terdengar menandakan berakhirnya pertandingan yang di menangkan oleh Kwang Soo High School dengan total skor akhir 54-52.

Sorakan gembira dari para supporter, anggota tim, dan Pelatih Hwang pecah tatkala mendapati tim yang didukungnya menang dalam pertandingan kali ini. Karena saking bahagianya, sebagian dari supporter dari tim Kwang Soo High turun dari tribun penonton dan menuju tengah-tengah arena pertandingan.

Sementara itu Seok Jin yang merasa kesakitan dengan kondisinya, cepat-cepat meninggalkan arena pertandingan dan menuju tempat istirahat untuk para pemain agar tak ada yang melihat kondisinya saat ini.

 

*****

Karena hanyut dalam kebahagiaan atas kemenangan tim sekolahnya, Sae Ri dan supporter yang lain berlarian menuju arena pertandingan. Namun sayang, Sae Ri terpisah dari ketiga temannya. Tapi Sae Ri tak mempedulikan hal tersebut. Fikirnya, ia bisa menghubungi teman-temannya nanti agar dapat berkumpul kembali.

Saat menuju arena pertandingan, seseorang menabrak Sae Ri dari arah berlawanan. Seseorang yang sangat ia kenali itu yang tak lain adalah Seok Jin.

Sae Ri tercengang begitu melihat wajah Seok Jin yang tampak sangat pucat dan keringat dingin yang membanjiri tubuh Seok Jin. Tubuh Seok Jin yang lemas itu akhirnya tumbang dan tak sadarkan diri dalam dekapan Sae Ri.

 

 

 

 

 

TO BE CONTINUED

 

Author’s note: part 7 akhirnya nongol juga. Terima kasih buat para readers yang udah mau nungguin
ff ku ini ^^ Maaf kalo ceritanya masih kurang seru dan kurang greget, maklum author
ini masih abal-abal. Yang mau ngasih saran sangat dipersilahkan. Karena siapa tau bisa
jadi ide cerita di ff part selanjutnya.

                                Alright, readers. See you next part. Love you~ kkk😀
Ppyong..!~

About fanfictionside

just me

33 thoughts on “FF/ THIS HEART THAT I GAVE TO YOU/ BTS-bangtan/ pt.7

  1. emmm aq sbel jga sih ma saeri
    trlalu php
    kan kasian jungkook
    part yg nie mmbosankan thor
    mngkin krna trlalu trbawa suasana k sedihan jungkook jdi gnie deh dak dpat feelnya
    next thor
    mngkin d part slnjutnya
    gak sesuram nie
    semangat thor
    mian trlalu pnjang commentnya

  2. Ahh aku maulah jd saeri direbutin 3 bias favorite di bangtan. Hihii keren thor ini lbh ngefeel dr kemarin😄 fighting! xx

  3. Issh.. padahal aku berharap yoongi yang jadian sama saeri, tapi kok yoongi jadi jahat kaya gitu.
    Untuk saran aku gak bisa thor, hehe aku cuma bisa ngikutin alurnya author.
    Untuk selanjutnya semangat thor

  4. JIN knpa ? jantung ? asma ? paru2 ? kanker ?
    wkwkwk ternyata JIN nya TBC😀
    aduh pas lgi asik2 nya eh malah TBC
    ditunggu nextnya *LIKE

  5. Udah thor saeri jodohin aja ama jin thor
    Yaaa sugar kenapa jadi kaya gitu dah ke saeri “tabokin sugar
    Jin kenapa dah pingsan tolobg thor jangan dibikin kena penyakit menatikan dah jin thor ku ga relaaaaa

    Di tunggu nex capt thor

  6. Mian thor mau komen bentar
    Itu yg yoongi ngeshoot skornya yg awalnya 51-51 harusnya jadi 53-51 thorr.. wkwkwkw
    Trs mreka menang jadinya skornya 55-52
    BAGUS THOR LANJUTIN!!!

  7. omooo so sweeett nya langsung tumbang didekapan sae ri, seru-seru next palli thoor fighting🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s