FF/ I LOVE YOU/ EXO/ pt. 9


Author: Kim Taeri (@irna66lestari)
Main Cast: Tari (OC), Kris (EXO-M, Suho (EXO-K), Hyejin (OC), Luhan (EXO-M)
Support Cast: Jessica (GG)
Genre: Romance, Angst
Rate: T (+16)
Length: Chaptered
Disclaimer: All the cast are from God except the OC is my imagination and the storyline too. I’m sorry for typo
 
Preview:
“Brengsek kau, Jessica.” Desisnya.
“Well, suka atau tidak aku kekasihmu Kris. Setidaknya begitu kata orang-orang.” Kris tidak mempedulikan ucapan Jessica. Dia segera mengangkat kakinya dan pergi dari hadapan gadis itu. Terlalu muak lama-lama jika dia harus terus melihat wajahnya.
“Ya! Kris, neo eodiga? Ya! Gajima! Temani aku belanja.” Jessica mengejar Kris yang sudah berjalan menjuhinya.
——————————————————————————————-

Waktu sudah menunjukan sore hari. Hanya butuh satu putaran bagi jarum jam untuk membuat matahari kembali ke peraduannya, memberikan posisinya pada sang rembulan untuk berganti bertugas menerangi malam.
Malam sebentar lagi memang akan datang, udara pun semakin dingin di banding siang tadi. Tapi keramaian Hongdae tidak pernah mengenal waktu. Jalanan itu semakin malam justru semakin penuh dengan orang-orang yang sekedar ingin menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan bersama teman, keluarga atau bahkan kekasih mereka. Di tengah keramaian yang penuh dengan lalu lalang orang-orang, Hyejin dan Suho sesekali berhenti untuk melihat-lihat berbagai accsesoris yang di jual pedagang kaki lima sekitar Hongade. Keramaian tidak membuat mereka merasa tertanggu, begitu pun dengan Suho. Pria itu benar-benar menikmati liburannya kali ini.
Oppa, bagaiamana? Bagus tidak?” Hyejin menunjukan dirinya yang tengah memakai topi rajut kepada Suho. Meminta pria itu tentang penilaiannya. Yang di balas anggukan serta senyuman dari Suho, seraya dua jempolnya yang terangkat. Membuat Hyejin tersenyum lebar.
Kyeopta. Kau mau? Biar ku belikan.” Hyejin menggeleng.
“Tidak. Aku hanya mencobanya saja.”
Gwaenchana, kau terlihat lucu menggunakan itu.” Hyejin menggeleng lagi.
“Tidak usah. Aku tidak berniat membeli apapun.” Jawabnya tanpa memandang Suho. Matanya masih meneliti Accsesoris lainnya, terkadang mengambilnya jika ada yang menarik perhatiannya.
“Wah, gelang couple. Oppa, lihat! Ini lucu sekali.” Hyejin menyodorkan gelang itu pada Suho. Terdengar nada antusias dalam suaranya, membuat Suho mau tidak mau menoleh kembali untuk melihat gelang yang di maksud Hyejin. Buka gelang mewah yang terbuat dari berlian atau sebutir mutiara di dalamnya yang berharga mahal. Karena memang tidak mungkin gelang seperti itu di jual di pinggir jalan seperti ini. Hanya sebuah gelang anyaman sederhana. Yang hanya di hiasi dengan sebuah bandul gembok juga kunci di gelang pasangannya.
“Kau benar, ini lucu. Bisakah ini kita tulis untuk di gantung di Namsan Tower dan kita buang kuncinya?” Tanya Suho dengan kekehan di akhir kalimatnya. Yang mendapat pukulan pelan dari Hyejin.
“Bodoh. Ini untuk di pakai bukan untuk di buang.” Suho hanya bisa tertawa kecil mendengar Hyejin yang menggerutu. Gelang itu Hyejin letakan kembali di tempatnya semula dengan rasa rela tidak rela. Sebenarnya dia ingin membelinya. Dia sangat menyukai gelang itu. Desainnya yang sederhana dan simple. Namun menurutnya itu mempunyai makna sendiri baginya. Tapi gelang satunya akan di kemanakan? Tidak mungkin jika dia harus mengenakan dua-duanya. Itu akan terlihat sangat konyol.
“Kalian tidak ingin membelinya?” Bibi penjual itu tiba-tiba membuka suara. Membuat Suho dan Hyejin menoleh bersamaan. “Gelang ini tinggal satu-satunya. Di antara barang couple yang ku jual, gelang ini yang paling laku. Karena kalian cantik dan tampan, akan ku berikan potongan harga khusus untuk kalian.”
Hyejin dan Suho hanya bisa tersenyum canggung mendengarnya. “Maaf, tapi kami bukan pasangan.” Kata Hyejin. Sedikit terkejut bibi penjual itu hanya bisa menutup mulutnya kemudian membungkuk meminta maaf.
“Ah, maafkan aku. Ku kira kalian pasangan. Habis, kalian begitu serasi.” Lagi-lagi Hyejin dan Suho hanya bisa tersenyum. Kali ini karena tersipu malu.
“Walaupun kami bukan pasangan, tapi kami masih bisa membelinya kan?” Ucap Suho. Di sampingnya Hyejin sudah mengerutkan keningnya, menatap Suho kebingungan.
“Tentu saja.” Jawab Bibi penjual itu senang. “Kau pasti ingin menggunakannya bersama kekasihmu, ya?”
“Ah, tidak. Aku belum mempunyai kekasih.” Kata Suho tersenyum. “Satunya tentu saja untuk gadis di sampingku.”
Oppa, apa yang-“ Belum selesai Hyejin menyelesaikan kalimatnya, Suho sudah lebih dulu menyelanya.
“Anggap saja ini sebagai gelang persahabatan untuk kita.”
“Tapi-“
“Kenapa?” Lagi-lagi Suho menyela ucapan Hyejin. “Kau tidak mau mengenakan gelang yang sama denganku?” Kini nada suaranya di buat seolah dia tengah kecewa.
“Bukan seperti itu. Aku mau. Hanya saja….” Suho mengambil gelang itu dan langsung memakaikannya pada pergelangan tangan Hyejin, tanpa mempedulikan ucapan gadis itu. Kemudian memakai gelang satunya pada pergelangan tangannya sendiri.
“Lihat! Ini bagus.” Ucapnya riang.
Geundae, Oppa…
“Sudahlah, kau pakai saja. Bukankah kita terlihat seperti pasangan? Yang berbandul gembok ini ada padaku sedangkan kau mengenakan yang kunci. Ini terlihat lucu. Ternyata mengenakan barang couple tidak seburuk yang ku bayangkan.” Suho terus saja bicara sambil memperhatikan pergelangan tangannya yang baru saja di hiasi sebuah gelang anyaman. Senyumnya terus merekah seiring dengan pemikirannya tentang gelang couple tersebut. Jauh di dalam hatinya ada sebuah harapan dia bisa mengenakan gelang itu bersama Tari. Walaupun hanya sekedar harapan kecil tapi itu cukup membuatnya senang hanya dengan memikirkannya.
Di sampingnya Hyejin masih terpaku dengan gelang yang baru saja di pakaikan Suho. Jika ada yang bertanya gadis itu senang atau tidak, jawabannya adalah dia sungguh teramat sangat senang. Jika ada malaikat yang ingin mencabut nyawanya sekarang juga dia tidak akan menyesal. Karena dia akan mati dengan bahagia. Begitu pikirnya. Sangat konyol memang. Tapi siapa yang peduli. Namun, haruskah dia menyadarkan dirinya kembali, jika kesenangan ini hanyalah dia seorang yang merasakannya. Apakah Suho juga merasakan apa yang dia rasakan? Mungkin jawabannya tidak. Berharap semua itu akan terjadi pada hidupnya, sepertinya itu hanya ada dalam mimpinya saja. Tersenyum miris menatap bandul kunci yang saat ini dia genggam.
Kunci ini… apa kunci ini juga bisa ku gunakan untuk membuka hatimu, Oppa?
<<<>>>
“Ini bagus tidak?”
“Hm…”
“Yang ini?”
“Hm…”
“Kalau yang ini, bagaimana?”
“Hm…”
Sudah satu jam lebih Jessica dan Kris memilih berbagai model pakaian. Oh, mungkin lebih tepat di katakan jika hanya Jessica yang mencoba berbagai model pakaian itu, sedangkan Kris, pria itu hanya sesekali menatapnya tanpa minat. Jika Jessica menanyakan pendapatnya, jawabannya pun hanya seadanya. Persis seperti apa yang baru saja dia lakukan. Tapi sepertinya gadis itu tidak mempedulikan sikap cuek Kris. Dia hanya menggerutu sesekali jika di dengarnya Kris menjawab pertanyaannya dengan malas-malasan.
“Menurutmu aku lebih bagus memakai yang mana? Biru atau merah?” Lagi-lagi Jessica menanyakan pendapat Kris. Walau dia tahu jika Kris pasti akan menjawabnya seperti tadi. Tapi dia tetap menanyakan pendapat pria itu. Menyodorkan dua dress yang menjadi pilihannya, Kris menatapnya malas lalu mendengus.
“Pilih saja dua-duanya.” Ucapnya datar. Dia bangun dari duduknya, memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya. Menatap jengah pada Jessica di depannya. “Kau menghabiskan waktu satu jam hanya untuk memilih baju. Cepatlah! Kau tidak lihat mereka sudah kelelahan melayanimu?” Kris menunjuk pelayan toko baju yang sejak tadi melayani Jessica dengan dagunya. Pelayan itu sendiri hanya menunduk sopan tidak berani menatap customernya. “Aku tunggu di mobil. Jika dalam lima menit kau belum kembali, aku akan pulang.” Tandasnya kemudian. Berjalan keluar toko tanpa peduli seruan Jessica di belakangnya.
“Aish! Anak itu benar-benar dingin. Tidak bisakah dia bersikap manis sekali saja?” Jessica melemparkan dress yang di pegangnya pada pelayan toko di sampingnya. “Bungkus semuanya.” Perintahnya. Yang di balas anggukan sopan oleh pelayan itu. Lalu berjalan sambil menghentakan kakinya menuju kasir.
Jessica menutup pintu mobil Kris dengan sedikit membantingnya. Tapi sepertinya Kris tidak terganggu dengan kelakuannya itu. Tanpa bicara apapun dia langsung menarik pedal gas mobilnya, meninggalkan toko baju yang tadi di singgahinya bersama Jessica.
“Lain kali kau harus lebih bersabar jika menemaniku belanja. Itu baru satu toko, masih ada beberapa toko yang ingin ku datangi. Jadi biasakan mulai dari sekarang…” Tanpa mempedulikan Jessica yang terus mengoceh, Kris menyumpal kedua telinganya dengan Earphone putih miliknya. Memutar lagu dengan volume full. Tidak peduli jika setelah ini gendang telinganya akan rusak. Pikirnya itu lebih baik di banding terus-terusan mendengarkan ocehan yang tidak jelas dari gadis di sampingnya ini.
“Ya! Dengarkan jika aku sedang bicara.” Teriak Jessica. Tentu saja Kris tidak mendengarnya. Dia sibuk mendengarkan music dari Earphone kesayangannya. Tidak mendapat respon apapun dari Kris, Jessica mencabut sebelah Earphone yang bertengger di telinga kanannya.
“Kris! Dengarkan aku!” Kris menoleh. Menatap Jessica tajam sebelum akhirnya menjawab.
“Tutup mulutmu, atau ku turunkan kau di sini.” Mendapati nada dingin dari Kris membuatnya mau tidak mau menutup mulutnya. Jelas saja, dia tidak akan mau di turunkan di tengah jalan seperti ini. Bagaimana jika ada fans atau wartawan yang melihatnya berkeliaran di tengah jalan tanpa mobilnya. Oh, itu bukan ide yang bagus. Sampai kapan pun dia tidak pernah berniat merubah image-nya menjadi buruk. Di tengah rasa dongkolnya akan kelakuan Kris, tiba-tiba dia di kejutkan oleh rem mendadak dari Kris.
“Ya! Kau mau membunuhku?” Sungutnya sambil mengusap keningnya pelan yang sempat terantuk dashboard mobil karena rem mendadak tadi. Tapi Kris tidak menjawabnya, atau memang pria itu tidak mendengar sama sekali. Entahlah. Pandangannya fokus ke depan. Seperti baru melihat sesuatu yang di luar nalarnya. Penasaran dengan apa yang di lihat Kris, Jessica mengikuti arah pandang pria itu. Mulutnya membulat tanpa suara, tapi sedetik kemudian seringaian tipis tercetak di wajahnya.
“Wah, ternyata di belakangmu kelakuannya seperti itu?”
Kris menggenggam erat stir kemudinya. Geram melihat pemandangan yang ada di depan matanya saat ini. Sebenarnya itu bukanlah hal yang patut membuat Kris marah. Dia sudah sering melihatnya, hal itu seharusnya sudah biasa untuknya. Tapi dia sendiri juga tidak mengerti. Semenjak kejadian waktu itu, entah kenapa dia tidak merelakan apa yang tengah dia lihat saat ini. Tiba-tiba saja pembicaraannya dengan Luhan tempo lalu kembali terngiang.
Tidak bisa lebih lama lagi melihatnya, dia pun segera turun dari mobilnya. Meninggalkan Jessica dan mengacuhkan seruan gadis itu yang menyuruhnya kembali.
<<<>>>
Selepas dari tempat membeli gelang couple tadi, Hyejin dan Suho kembali menyusuri jalan Hongdae yang semakin ramai.
Oppa, apa tidak sebaiknya kita pulang saja? Kau tidak lihat, ini semakin ramai. Aku khawatir ada yang menyadari keberadaanmu.” Suho melihat ke sekeliling lalu mengangguk membenarkan.
“Kau benar. Kalau gitu, bagaimana jika kita ke Sungai Han?” Hyejin memutar bola matanya menanggapi ucapan Suho.
“Bukankah itu sama saja? Di sana juga pasti ramai.”
“Ayolah Hyejin-ah, hanya sebentar. Aku ingin melihat air mancur di Banpo Bridge.
Shireo. Aku tidak mau menanggung resiko di kroyok fans mu jika mereka menyadari keberadaanmu. Kita pulang saja, Oppa.” Suho menggeleng keras.
“Hanya sebentar saja. Aku janji, setelah itu kita pulang. Dari dulu aku ingin sekali melihatnya, tapi kau tahu sendiri bagaimana kesibukanku. Bahkan saat aku masih menjadi trainee, aku hanya sibuk dengan latihan, latihan, dan latihan.” Suho memasang wajah tampang memelasnya. Menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya. Berharap Hyejin mau menuruti keinginannya. Helaan nafas berat keluar dari bibir mungil Hyejin, sebelum dia menjawabnya.
“Kau benar-benar seperti anak kecil.” Gerutunya. “Aku jadi tidak yakin, apa benar kau seorang Leader dari sebuah Boy Grup yang saat ini sedang naik daun?” Baru Suho akan membuka mulutnya untuk protes, Hyejin kembali melanjutkan kalimatnya. Tepatnya menyela ucapan Suho. “Hanya sebentar. Ingat janjimu.” Kemudian gadis itu berjalan mendahului Suho yang masih terdiam di tempatnya. Namun tidak lama, karena pria  itu langsung mengekorinya dengan senyum merekah di wajahnya. Dia merangkul Hyejin dengan semangat.
“Aku janji, tidak akan lama.” Ucapnya masih dengan senyumnya yang begitu lebar. Hyejin geleng-geleng kepela di buatnya. Hanya karena sebuah air mancur, pria ini terlihat begitu bahagia. Padahal apa istimewanya?
Kau terlalu antusias Kim Joon Myeon
Oh, ayolah. Itu hanya sebuah air yang di rancang khusus oleh manusia. Yang di kombinasikan dengan lighting serta music, hingga akhirnya terciptalah air mancur yang begitu menawan. Bahkan yang menurut orang-orang indah, tapi menurutnya itu biasa saja.
Anehkah Hyejin?
Tentu saja tidak. Gadis ini hanya tidak tahu perasaan orang-orang itu. Orang-orang yang biasanya menikmati pemandangan seperti itu dengan orang yang mereka sayangi. Tentu saja menikmati pemandangan indah seperti air mancur contohnya, dengan pasangan sangatlah berbeda di banding melihatnya seorang diri atau hanya dengan seorang teman.
<<<>>>
Kris membanting pintu mobilnya, kemudian berjalan dengan langkah-langkahnya yang lebar. Wajahnya sudah mengeras sejak pemandangan itu tertangkap matanya. Bahkan teriakan Jessica tidak di dengarnya, atau memang tidak di pedulikannya. Pria itu merasa begitu emosi sekarang. Entahlah. Pandangan itu benar-benar membuatnya panas. Bagaimana tidak? Dengan santainya Luhan mengalungkan tangannya pada bahu kekasihnya di depan matanya. Dan mereka tertawa tanpa memikirkan perasaan pria tinggi yang kini sudah berdiri di belakang mereka. Tapi sayangnya mereka tidak menyadari keberadaan Kris yang saat ini wajahnya sudah seperti seekor singa yang baru saja di bangunkan dari tidurnya. Tangannya terkepal di samping tubuhnya. Sebisa mungkin dia berusaha mengendalikan emosinya agar tidak lepas dan akhirnya memukul Luhan. Sepertinya Kris benar-benar termakan omongan Luhan. Dan sepertinya Kris mulai berfikir untuk menjauhkan kekasihnya dari sahabatnya itu.
Tanpa perlu membuang banyak waktu lagi, Kris segera melepas rangkulan Luhan dari tubuh gadisnya. Dan tentu saja itu membuat keduanya terkejut hingga akhirnya menoleh kebelakang. Mendapati Kris yang tengah menatap keduanya dengan ekspresi yang…uh, Tari sangat yakin sekali jika kekasihnya ini sepertinya sedang marah. Tapi gadis itu tidak tahu apa yang membuatnya marah. Tari dan Luhan hanya bisa mengerutkan keningnya. Selain terkejut, mereka juga bingung akan kehadiran Kris yang tiba-tiba.
“Apa yang kalian lakukan?” Tanya Kris tanpa berniat basi-basi.
Oppa, kenapa kau ada di sini?” Tanpa menjawab pertanyaan Kris, gadis itu justru balik bertanya. Detik setelahnya dia mendapati kehadiran Jessica di belakang tubuh kekasihnya. Rupanya gadis itu mengikuti Kris ketika Kris tidak menggubris seruannya tadi. Dan itu membuat beberapa pertanyaan hinggap di otak Tari. Begitu pun dengan Luhan.
“Ku tanya sekali lagi, apa yang sedang kalian lakukan?” Kris kembali bertanya. Kini dengan nada yang lebih tinggi. Membuat ketiga pasang mata itu menatapnya.
“Kami hanya berjalan-jalan di sekitar sini, dan berniat ingin membeli Bubble Tea.” Jawab Tari. Namun dengan raut yang masih kebingungan. Dia hanya tidak mengerti dengan sikap Kris yang tiba-tiba saja menjadi dingin. Sifatnya memang terlihat dingin, tapi Kris tidak pernah bicara dengan nada tinggi sepeti itu dengannya.
“Kenapa tidak pergi dengan Hyejin?”
“Hyejin pergi dengan Suho Oppa. Kau lupa?” Tari mengingatkan. Kemudian melanjutkan. “Dan mereka belum kembali.”
“Lalu kau menghubunginya untuk menemanimu, begitu?” Tatapan Kris beralih menatap Luhan tajam. Yang hanya di balas Luhan dengan kerutan di keningnya.
“Kami tidak sengaja bertemu di jalan.” Tari semakin bingung dengan kelakuan Kris. Kenapa dia terlihat begitu marah sekali. “Kau kenapa sih?” Akhirnya Tari mengutarakan kebingungannya. Luhan pun ikut menimpali.
“Dia benar. Kami tidak sengaja bertemu.” Luhan memicingkan matanya. “Kau terlihat tidak suka… dan marah.” Ucapnya. Kemudian menambahkan. “Kau tahu jelas bagaimana hubungan ku dengan Tari. Bahkan kami sering pergi berdua, tapi tidak biasanya kau semarah ini. Ada apa denganmu?” Tanyanya, dengan senyum di wajahnya. Senyum yang sungguh sulit di artikan.
Kalah telak. Kris tidak bisa memberikan jawaban apapun. Dia sendiri bingung, kenapa dia bisa semarah itu. Jujur saja, dia cemburu melihat kedekatan Luhan dan Tari. Tapi tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya. Di tambah, dia teringat akan apa yang pernah Luhan ucapkan. Bahwa dia mencintai Tari, kekasihnya. Dan itu semakin membuatnya takut jika Luhan benar-benar akan merebut gadisnya. Sampai kapan pun Kris tidak akan membiarkan itu. Sekali pun Luhan adalah sahabatnya.
Tidak mendapatkan jawaban apapun, Luhan kembali bicara. “Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan bersama Jessica di tempat ini?” Luhan menatap sinis ke arah Jessica. Tidak peduli jika wanita itu adalah Sunbae-nya sekali pun. Bahkan dia menyebutkan namanya tanpa embel-embel kehormatan. “Kau tidak sedang berkencan, bukan?”
“Jaga bicaramu.” Ucap Kris dengan nada tertahan. Emosinya kembali tersulut karena ucapan Luhan.
“Kenapa menyangkalnya? Kita memang sedang berkencan, Kris.” Jessica bergelayut manja di lengan Kris. Membuat ketiga pasang mata itu jengah melihatnya. Terutama Kris. Pria itu langsung menepis tangannya kasar. Luhan hanya mendengus melihat itu semua. Di sampingnya, Tari menatap Kris dengan pandangan menuntut penjelasan.
Jangan tanyakan bagaimana perasaannya. Gadis itu sudah tidak tahu lagi apa yang harus di katakan. Ingin mempercayai Kris dan mencoba berfikir positif seperti biasa dia lakukan. Tidak bisa. Sepertinya, sekarang dia lebih mempercayai penglihatannya.
“Bisa kau jelaskan padaku maksud semua ini?” Tari akhirnya ambil suara. “Aku memang mengijinkanmu pergi. Tapi bukan berarti kau bisa seenaknya berkencan dengan wanita lain. Jadi gossip-gosip itu benar?” Kris menghela nafasnya pelan.
“Aku bisa menjelaskannya. Sekarang, kita pulang.” Kris meraih tangan Tari dan berniat untuk membawanya pergi. Namun niat itu belum sempat terlaksana karena Jessica lebih dulu menahan langkahnya dengan mencekal lengan Kris.
“Kau mau kemana? Kau tidak berniat membatalkan janji kita kan?”
“Maaf, Jess. Aku tidak bisa menemanimu hari ini.” Baru saja Kris ingin melangkahkan kakinya, Jessica kembali menahannya.
“Apa? Kau tidak bisa pergi begitu saja.” Katanya dengan kesal. “Kau sudah berjanji akan menemaniku.”
“Jangan membuatku melakukan hal yang kasar padamu.” Geramnya. Menatap Jessica sangat tajam.
“Dia benar, Kris. Kau tidak bisa meninggalkannya begitu saja.” Sela Luhan. “Tari datang bersamaku, jadi biar aku yang mengantarnya pulang.” Luhan ingin mengambil alih Tari dari Kris. Tapi sepertinya Kris bergerak lebih cepat saat ini. Belum sempat tangan Luhan menyentuh tangan Tari, Kris sudah lebih dulu menepisnya. Menyembunyikan Tari kebelakang tubuhnya, bermaksud untuk menjauhkannya dari jangkauan Luhan.
“Tidak perlu repot-repot.” Ucapnya membalas tatapan Luhan. Kemudian matanya kembali beralih menatap Jessica. “Dan kau. Aku tidak pernah berjanji apapun padamu. Kau yang memaksaku untuk menemanimu.” Kemudian Kris melangkah pergi, menarik Tari mengikuti langkah-langkah lebarnya.
“Yak! Kris! Kau tidak bisa meninggalkan ku begitu saja.” Jessica berteriak marah. Membuat orang-orang di sekitar mereka yang sejak tadi berbisik-bisik sambil menatap ingin tahu kearah mereka berempat semakin heboh. Bahkan kini orang-orang itu mulai berani menatap mereka secara terang-terangan. Dan karena teriakan Jessica, membuat orang-orang yang tadinya hanya menebak-nebak kini semakin mendekatkan diri ke tempat di mana empat orang itu berdiri. Mencari tahu, benarkah nama Kris yang baru saja di teriakan itu adalah Kris dari member EXO.
Tari menghentikan langkahnya, membuat Kris juga harus menghentikannya dan menoleh menatapnya. “Kau tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Biar bagaimana pun dia adalah wanita. Kembalilah! Aku akan pulang bersama Luhan Oppa.” Perkataan Tari membuat Kris semakin emosi. Dia menurunkan hoodie-nya, membuat wajahnya terlihat dengan jelas. Dan seruan langsung terdengar di sekitarnya. Tari membulatkan matanya seketika.
“Ya! Apa yang kau lakukan? Semua orang memperhatikan kita.” Tari berbisik panik. Tapi sepertinya pria berambut pirang ini tidak peduli. Fokusnya hanya pada gadis di depannya. Menatapnya dengan sorot kemarahan, juga ada kekecewaan dan luka dalam tatapannya. Yang jelas Kris sudah tidak bisa menahannya lagi. Dia benar-benar ingin marah sekarang. Dan akhirnya dia menumpahkan semuanya dalam satu tarikan nafas.
“Kenapa kau harus memilih pria lain di saat ada aku di hadapanmu? Pulang denganku! Sekarang!” Kris mengakhiri kalimatnya dengan satu perintah yang cukup tegas. Membuat Tari diam seketika. Dia semakin heran dengan perubahan sikap Kris yang tiba-tiba. Dia tidak tahu apa yang membuat Kris semarah ini. Bukankah yang seharusnya marah adalah dirinya? Yang sudah jelas-jelas merasa di khianati kepercayaannya. Tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Tari pun hanya mampu mengikuti langkah-langkah panjang Kris menuju mobilnya. Di belakangnya Jessica masih terus berteriak memangil Kris. Yang sama sekali tidak di gubris oleh pria tinggi itu. Di hempaskannya tubuh Tari ke dalam mobilnya. Tapi tidak cukup kasar. Karena bagaimana pun dia masih sadar, dia tidak mungkin memperlakukan gadis yang di cintainya dengan begitu kasar. Setelah memastikan Tari duduk dengan baik dia pun segera menutup pintu mobilnya, berlari kecil memutari bagian depan mobilnya menuju bangku pengemudi.
Tidak sampai setengah jam mobil Kris sudah terpakir di basement gedung apartemen milik Tari. Dia kembali menarik Tari menuju apartemen miliknya. Tari cukup kewalahan menyamakan langkah-langkah Kris yang terbilang cepat.
“Tidak bisakah kita berjalan pelan-pelan? Kau berjalan seperti di kejar hantu.” Namun Kris tidak menggubrisnya. Raut wajahnya sudah tidak bisa terbaca. Ini pertama kalinya dia mendapati Kris yang bersikap seperti ini. Bahkan pria itu tidak meminta Tari untuk memasukan password apartemennya. Dia memencet beberapa digit angka hingga akhirnya pintu di depannya terbuka.
Kris akhirnya melepaskan Tari saat mereka sudah sampai di kamar gadis itu. Tari hanya bisa meringis sambil mengelus pergelangan tangannya yang memerah akibat genggaman Kris yang terlalu keras.
Mereka masih diam. Hanya berdiri canggung tanpa membuka suara. Hingga akhirnya suara Kris yang pertama kali terdengar.
“Jauhi Luhan.” Hanya dua kata itu yang dia ucapkan. Tidak dengan nada keras, tapi terdengar cukup tegas. Cukup membuat Tari mendongakan kepalanya menatap kekasihnya tidak mengerti. Mungkin dia salah dengar. Begitu pikirnya.
“Apa?”
“Jauhi Luhan.” Ulangnya. Lebih jelas.
“Apa maksudmu?” Tari masih tidak mengerti. “Atas dasar apa aku harus menjauhinya?” Bisa Kris dengar ada nada tidak suka dari suaranya. Dan itu membuat hatinya seperti mendapat satu cubitan keras. Perih.
Apa menjauhi Luhan begitu sulit untuknya?
“Aku tidak suka melihatmu terlalu dekat dengannya.” Tari mendengus keras. Konyol sekali. Pikirnya.
“Itu bukan sebuah alasan. Apa yang membuatmu tidak menyukainya? Dia baik padaku. Dan dia sahabatku. Dia bukan orang jahat yang harus ku jauhi. Jadi tidak ada alasan untukku menjauhinya.”
“Turuti saja apa yang ku katakan. Jauhi dia, dan jangan bertemu lagi dengannya.” Tari menganga tak percaya. Sedetik kemudian dia menghela nafasnya kasar.
“Tidak akan.” Jawabnya tegas.
“Hanya menjauhinya saja, kenapa begitu sulit sekali? Apa dia begitu berarti untukmu?” Kris sudah hilang kesabaran. Emosinya begitu di uji kali ini. Sebisa mungkin dia mengendalikan diri untuk tidak memukul sesuatu untuk melampiaskan rasa kesalnya. Dia takut akan melukai gadis di depannya. Tari sama halnya dengan Kris. Gadis itu pun yang biasanya sabar dan tidak mudah terpancing emosi, kali ini emosinya benar-benar meluap-luap. Apa lagi melihat Kris. Gadis itu ingin sekali berteriak marah dan menghujaminya dengan berbagai pukulan. Ingatannya masih sangat jelas saat Kris datang bersama Jessica tadi. Dan dia tidak akan melupakan kejadian itu. Dia sudah di ambang batas kesabarannya.
“Demi Tuhan, berhenti berfikir konyol. Dia sahabatku, aku tidak mungkin menjauhinya begitu saja. Bahkan dia sahabatmu. Kau tahu betul seberapa jauh kedekatan kami. Aku dan dia berteman baik jauh sebelum kita memiliki hubungan.” Tari berdecak kesal, sebelum melanjutkan lagi. “Ada apa sebenarnya denganmu? Kemarin-kemarin kau tidak mempermasalahkan ini, kenapa sekarang kau bersikeras ingin aku menjauhinya?”
“Itu dulu. Jangan samakan dengan yang sekarang. Pokoknya, jauhi dia.”
“Tidak akan. Sampai kapan pun aku tidak akan menjauhinya hanya karena alasan konyolmu. Lagi pula kau tidak berhak mengatur ku untuk dekat dengan siapa saja.” Kris tersentak dengan kalimat terakhir kekasihnya. Apa dirinya sudah tidak di anggap lagi? Apa dirinya sudah tidak ada artinya lagi untuk gadis itu?
“Kau lupa, jika aku masih kekasihmu? Tentu saja aku berhak atasmu. Dan aku berhak untuk menentukan dengan siapa kau boleh dekat.” Suaranya datar, dan begitu dingin. Tari bisa merasakan adanya kekecewaan dalam suara itu. Sejujurnya dia juga tidak bermaksud mengatakan hal seperti tadi. Dia hanya sedang kesal sehingga kata-kata tadi keluar begitu saja dari mulutnya. Bukankah jika kita sedang emosi kita bisa mengatakan apa saja, bahkan ucapan yang tidak terduga sekali pun. Tapi kali ini Tari tidak ingin terlihat lemah. Sudah cukup kesabaran dan kepercayaan yang dia berikan untuk Kris. Mau sampai kapan dia terus bertahan dengan semua kebohongan yang prianya buat. Sampai kapan dia harus diam saja saat melihat kekasihnya bersama wanita lain. Harus sampai kapan dia diam saja dan terlihat seperti orang bodoh yang tidak mengetahui apapun. Dia sudah berusaha sabar dan selalu percaya padanya. Tapi jika kepercayaan itu di rusak, siapa yang tidak marah?
“Jadi kau masih menganggap aku sebagai kekasihmu?” Pertanyaan yang lebih menyerupai sindiran itu membuat Kris harus menautkan alisnya.
“Apa yang kau bicarakan? Tentu saja kau masih kekasihku.” Tari tersenyum mendengar jawaban Kris. Tapi senyumnya kali ini berbeda dari biasanya. Bukan senyuman yang selalu membuat Kris merasa nyaman, dan seolah seperti jatuh cinta kembali setiap melihat senyum gadisnya. Senyumnya kali ini lebih terkesan sinis. Membuatnya semakin bingung dan menebak-nebak. Apa yang sebenarnya tengah gadisnya ini pikirkan? Kris masih menunggu Tari mengatakan sesuatu.
“Baik. Aku akan mengikuti semua kata-katamu. Tapi aku juga punya permintaan.” Kris masih diam, membiarkan Tari melanjutkan kata-katanya. “Aku ingin kau juga menjauhi Jessica. Jangan temui dia lagi. Jika kalian bertemu bersikaplah seolah kau tidak mengenalnya. Bagaimana?” Tari menatap Kris menanti jawabannya. Sedangkan yang di tatap hanya bisa terperangah dan tidak tahu harus bicara apa. Benarkah ini Tari kekasihnya? Pasalnya, kekasihnya ini tidak pernah bersikap seposesif ini. Kris bukan tidak suka. Dia sih senang-senang saja. Karena itu artinya Tari begitu mencintainya. Tapi lagi-lagi ingatan akan perjanjian itu mengganggunya.
“Tapi…aku…” Kris tidak tahu harus memberi penjelasan seperti apa. Dia begitu bingung kali ini.
“Kenapa? Kau tidak bisa?” Tari menangkap keraguan dalam raut wajah Kris. Dia hanya bisa tersenyum miris mendapati kenyataan itu. “Jadi, sekarang di sini siapa yang harusnya di ragukan kesetiannya?” Kini keadaan berbalik memojokannya. Tari menghempaskan dirinya duduk di pinggir kasur. Tangannya terlipat di depan dada tanpa menatap kearah Kris. Dia terlalu jengah.
“Kau salah paham, Tari-ah. Aku tidak ada hubungan apapun dengannya, bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu?”
“Kalau begitu tidak sulit untukmu menjauhinya kan?” Kris menghela nafasnya berat. Beban yang harus di tanggungnya terasa begitu menyiksa.
“Aku…maafkan aku, tapi aku tidak bisa.” Ucapnya lirih. Kepalanya tertunduk, dia merasa begitu bersalah.
“Cih, sudah ku duga.”
“Maafkan aku.”
“Jangan meminta maaf atas kesalahan yang tidak kau perbuat. Kau berhak melakukan apapun yang kau mau. Termasuk bersama wanita lain.” Ini pertama kalinya Kris mendapati nada bicara Tari yang begitu dingin. Tiba-tiba saja terbersit rasa takut dalam hatinya mendengar ucapan kekasihnya ini. Dan ketakutan itu pun akhirnya terjawab. “Aku mengerti. Jadi, aku yang akan mundur.”
Kris merasa nyawanya seperti di cabut secara tiba-tiba. Sakit. Perih tak tertahankan. Dia hanya mampu diam tak berkutik di tempatnya berdiri saat ini. Dia tidak bodoh untuk menangkap maksud dari ucapan Tari barusan. Dan rasa takut itu kini tidak hanya meliputi hatinya, tapi juga membelenggu dirinya. Ketakutannya ini melebihi saat dia hampir kehilangan nyawanya karena kecelakaan tempo lalu. Ingin rasanya dia berlutut di hadapan Tari dan memohon, jika perlu dengan meraung-raung meminta Tari untuk mencabut kembali kata-katanya. Sungguh, bukan seperti ini yang dia harapkan. Jika pada akhirnya mereka harus berakhir, lalu untuk apa pengorbanannya selama ini.
“Tari-ah,” Suaranya tercekat. Begitu lirih dan terlalu menyakitkan untuk Tari dengar. Karena saat dia mengucapkan kata-kata itu pun hatinya seolah berontak. Tapi, mau bagaimana lagi? Dia tidak mau merasakan sakit lebih dari ini. Dia juga tidak ingin mengekang kebebasan Kris. Jadi mungkin, mundur adalah jalan terbaik.
Tentu saja Kris tidak akan membiarkan ini. Tidak akan pernah. Dia tidak ingin pengorbanannya sia-sia begitu saja. Maju selangkah demi selangkah menghampiri Tari yang masih tidak ingin menatapnya. Membuat Kris hanya bisa tersenyum miris. Dia benar-benar berlutut di hadapan Tari. Tangannya menggenggam kedua tangan Tari erat. Namun tidak kencang. Justru terkesan lembut. Seolah mencoba memberi keyakinan lewat genggamannya itu.
Walaupun Tari masih tidak ingin melihat Kris, tapi itu tidak mengurungkan niatnya untuk tetap menatap lekat wajah gadis yang sangat di cintainya ini. Dan Kris tidak buta untuk melihat genangan air pada pelupuk mata gadisnya.
Jebal, jangan seperti ini. Kau salah paham. Aku benar-benar tidak ada hubungan apapun dengannya. Ku mohon, percayalah. Aku hanya mencintaimu.” Dengan suara yang bergetar Kris berusaha menyelesaikan kalimatnya tersebut.
“Kalau begitu apa susahnya menjauhinya?” Kini air mata itu sudah tak terbendung lagi. Jatuh secara teratur membasahi kedua pipinya. Dan rasa sakit itu semakin bertambah tatkala melihat air mata itu jatuh karenanya. “Kau egois, Oppa. Kau memintaku untuk menjauhi Luhan Oppa, dan aku meminta hal yang sama padamu. Tapi kenapa kau tidak mau melakukannya?” Kini Tari menoleh.  Menatap Kris dengan matanya yang basah. Sungguh, Kris sangat benci melihat sorot luka itu di mata gadisnya. Apa lagi jika itu karena dirinya. Itu membuat jantungnya serasa di remas-remas. Sangat sakit.
“Maafkan aku…maafkan aku…” Berkali-kali Kris mengucapkannya, dengan tenggorokannya yang sakit karena menahan tangis yang ingin meledak keluar. Di ciuminya jari-jemari Tari. Mengekspresikan penyesalannya yang teramat dalam.
“Aku bukan tidak mau, tapi aku tidak bisa.” Kedua tangannya kini menangkup wajah Tari. Menghapus air mata dengan kedua ibu jarinya. Lalu mengecup keningnya lama. Menyalurkan seluruh perasaannya saat ini. Berharap gadisnya kembali mempercayainya. “Ku mohon, jangan menangis. Ini membuatku sangat sakit. Ku mohon.”
Saat ini Kris benar-benar seperti pengemis yang meminta belas kasihan. Matanya sudah memerah tanda dia benar-benar tidak bisa lagi menahan kesedihan yang membuatnya begitu sakit. Mungkin sebentar lagi gantian Kris yang akan menangis. Melihat itu pun Tari tidak tega. Sama seperti Kris, melihatnya sedih membuat dadanya sakit. Dia tahu. Dia percaya jika Kris sangat mencintainya. Tapi, dia benar-benar sudah lelah. Sungguh, dia ingin mengakhiri rasa sakit ini. Walaupun keputusannya justru akan membuatnya merasa berkali-kali lebih sakit.
“Kalau begitu, beri aku satu saja alasan kenapa kau tidak bisa melakukannya?” Kris mengerang frustasi. Alasan apa yang bisa dia berikan? Kenapa semua ini begitu sulit dan rumit untuknya. Tidak bisakah dia hanya menikmati percintaan seperti remaja pada umumnya. Pergi berkencan ke taman bermain. Pergi nonton film, makan, atau hanya sekedar berjalan-jalan ke tempat dimana biasanya para pasangan menghabiskan waktunya. Tertawa bersama karena lelucon yang di buatnya. Bahkan merajuk seperti yang biasa seorang gadis lakukan pada kekasihnya. Sebuah kisah cinta yang sederhana, bukan yang rumit seperti ini.
“Ini terlalu rumit. Kau tidak akan mengerti.”
“Bagaimana aku bisa mengerti, jika kau tidak pernah memberi pengertian padaku?”
“Maafkan aku.”
“Berhenti meminta maaf.” Teriak Tari akhirnya. Dan Kris masih tidak bisa berbuat apa-apa.
Pandangan sayu mereka akhirnya bertemu. Ingin sekali Kris merengkuh Tari kedalam pelukannya. Seerat mungkin. Tidak membiarkan seinchi pun gadis itu menjauh darinya. Menguncinya dalam rengkuhan posesifnya. Mengatakan pada seluruh orang jika gadis yang ada di pelukannya ini adalah miliknya, dan akan selalu menjadi miliknya. Tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya apa lagi membawanya pergi jauh darinya. Tapi mengingat dia telah begitu mengecewakan Tari, itu membuatnya ragu akankah Tari masih mau menerima pelukannya.
“Tari-ah…” Tari melepaskan genggaman tangan Kris tepat saat suara lirih itu keluar dari mulut pria di depannya.
“Aku lelah. Kau pulanglah!”
“Tidak. Sebelum kau mengatakan kau tidak akan meninggalkan aku.” Tari hanya diam saja. Tidak tahu harus memberikan jawaban apa. Kris kembali menggenggam tangannya. “Ku mohon, jangan lakukan ini. kau tidak benar-benar berniat mengakhiri hubungan kita kan? Apa yang harus ku lakukan agar kau percaya? Ku mohon tetaplah bersama ku, kau boleh memukulku. Atau memaki ku sepuasmu. Lakukan apapun, tapi jangan tinggalkan aku.”
“Jika memang kau tidak memiliki hubungan apapun dengannya, kenapa bisa muncul skandal-skandal itu? Bahkan aku melihat kalian berciuman. Apa kau masih mau mengelak tidak memiliki hubungan dengannya?” Teriak Tari frustasi. Kris terus tertunduk merasa bersalah. “Aku sudah cukup bersabar selama ini. Aku tidak mau lagi terlihat seperti orang bodoh yang berpura-pura tidak mengetahui apapun.” Tari mencoba mengendalikan dirinya. Meredam emosinya dengan menarik nafasnya pelan. Walau isakan masih terdengar keluar dari bibirnya. Suaranya kini kembali melembut.
“Berdirilah! Lebih baik kau pulang. Sudah malam, kau juga pasti lelah.” Kris tetap menggeleng keras. Baginya dia tidak membutuhkan apapun saat ini, hanya maaf dari gadis di depannya inilah yang dia butuhkan. Hanya kehadiran gadis inilah yang dia inginkan. Dia tidak peduli pada yang lainnya.
“Jangan seperti ini, Oppa. Pulanglah! Ku rasa semua orang tengah menunggumu di dorm. Setelah apa yang kau lakukan tadi ku rasa berita mu akan di muat besok pagi.” Tari mengucapkan itu dengan kekehan kecil di mulutnya. Mencoba mencairkan suasana, walalu justru terlihat semakin canggung. Tapi lagi-lagi Kris tetap pada pendiriannya.
“Aku tidak peduli. Bahkan jika mereka mengeluarkan ku detik ini juga aku tidak peduli. Aku hanya ingin kau percaya padaku.” Bisa Tari dengar ada kesungguhan dalam suaranya itu. Sejujurnya dia pun sedikit tidak menyangka Kris akan mengatakan hal semacam ini. Ingin rasanya dia mempercaya Kris, tapi hati kecilnya menentang itu. Tapi bagian hatinya yang lain menyuruhnya untuk memeluk pria itu dan mengatakan jika dia sangat mencintainya dan tidak ingin meninggalkannya. Lalu yang mana yang harus dia ikuti? Bahkan hatinya saling bertentangan.
“Bangunlah! Aku tidak akan memutuskan hubungan kita.” Kris langsung mendongak menatap Tari. Mencari kebenaran akan apa yang baru saja di dengarnya.
“Benarkah?” Tanyanya mencoba meyakinkan. Tari mengangguk. Perlahan Kris bangkit, menempatkan dirinya di samping Tari. Membuatnya semakin jelas melihat wajah kekasihnya.
“Kau tidak akan meninggalkanku?”
“Tidak akan.”
“Janji akan tetap bersamaku?”
“Hm…” Tari lagi-lagi mengangguk. Dan detik itu juga Kris langsung menghambur memeluknya. Benar-benar erat. Meluapkan rasa senangnya.
Dan pada akhirnya gadis itu kembali memberi kesempatan pada Kris, karena dia sendiri sadar dia pun tidak pernah bisa jauh dari pria ini. Tapi setelah semua yang terjadi, dia tidak bisa menerima Kris begitu saja. Tepatnya belum. Masih ada sedikit keraguan yang terselip dalam hatinya. Bagaimana pun, seseorang yang merasa telah di khianati kepercayaannya tidak akan semudah itu kembali menaruh kepercayaan pada orang yang sama. Oleh sebab itu, Tari kembali mengajukan satu permintaan.
“Tapi aku belum memaafkanmu sepenuhnya.”
Gwaenchana, aku paham. Aku terima kemarahanmu. Bagiku, asalkan kau bersedia tetap di sampingku itu sudah lebih dari cukup.” Kris membenamkan wajahnya pada lekukan leher Tari. Mencium dalam-dalam aroma tubuh gadis itu, seolah sudah sangat lama aroma itu tidak menyapa indera penciumannya. Seperti bertahun-tahun lamanya tidak bertemu. Dia merasa benar-benar merindukan pelukan ini. Padahal belum genap satu hari mereka baru saja saling melepaskan rindu.
Perlukah ada yang mengingatkan Kris, bagaimana panasnya dia mencium Tari beberapa jam yang lalu. Tepat sebelum Jessica mengganggu moment mereka. Memeluknya dalam lingkarang tangan kokohnya hingga membuat gadis itu hampir tidak bisa bernafas.
Dia tersenyum di balik pelukannya. Betapa senangnya dia karena akhirnya gadisnya masih bisa di jangkaunya. Yang perlu dia pikirkan tinggal bagaimana mendapatkan maaf. Dan memperoleh kembali kepercayaan dari gadis itu. Tanpa tahu bahwa sebenarnya penyelesaian masalahnya tidaklah sesederhana itu. Sebelum dia mendengar apa yang Tari katakan.
“Benarkah?” Yang hanya di balas gumaman dan anggukan kecil dari Kris.
“Aku tidak akan bertanya lagi tentang ada apa di antara kau dan wanita itu, atau bagaimana skandal-skandal itu bisa terjadi. Sejujurnya, itu membuat ku sangat sakit.” Ucap Tari.
“Kalau begitu jangan kau tanyakan.” Jawab Kris seraya semakin mengeratkan pelukannya.
“Kau harus selesaikan masalahmu dengannya.”
“Hm, secepatnya akan ku selesaikan.”
“Dan, bisakah selama itu kau tidak usah menemuiku dan menghubungiku?” Sontak saja Kris langsung melepaskan pelukannya dan menatap Tari dengan rasa tidak percaya.
“Apa maksudmu? Bukankah kau bilang kau tidak akan memutuskan hubungan kita?” Kris benar-benar bingung dengan sikap Tari. Kenapa gadisnya itu cepat sekali berubah pikiran? Apa dia benar-benar begitu membencinya?
“Dengarkan aku dulu. Aku tidak memutuskan hubungan kita. Aku hanya memberimu waktu untuk menyelesaikan masalahmu. Aku juga perlu waktu untuk menenangkan diriku. Jika masalahmu dengannya benar-benar sudah selesai kau boleh menemuiku lagi.” Jelas Tari sabar. Tapi Kris tetap tidak terima dengan keputusannya itu. Cukup kemarin saja dia tersiksa karena sikap bodohnya yang memutuskan untuk menjauh dan tidak menghubungi kekasihnya sama sekali. Apakah dia harus melakukan ini lagi?
“Tapi kenapa aku tidak boleh menghubungimu?” Tanyanya tidak habis pikir. Apa yang bisa dia lakukan tanpa kekasihnya ini? Sepertinya Tari benar-benar ingin menyiksanya. Dia tidak mungkin tahan sehari saja tidak mendengar suara Tari.
Kris mengacak rambutnya frustasi. Di tundukan kepalanya dalam-dalam, sedangkan kedua sikunya menopang pada kedua lututnya. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi ini semua. Padahal gadis itu adalah kekuatannya, semangatnya, bahkan nafasnya.
Kris lelah, kesal, jengkel, semuanya bercampur jadi satu dalam emosinya. Tiba-tiba pria itu berdiri, membuat Tari sontak mendongakan kepalanya. Mengikuti gerak-gerik kekasihnya ini. Hingga suara lirih itu terdengar, “Terserah kau saja.” Setelah itu Kris benar-benar pergi dari hadapannya. Bahkan tanpa menoleh sedikit pun. Bisa di dengarnya suara pintu terbuka kemudian tertutup. Menandakan bahwa Kris memang sudah pergi dari apartemennya.
<<<>>>
Sudah dari sepuluh menit yang lalu Suho dan Hyejin sampai di Han-Gang-Park, dari taman ini Banpo Bridge terlihat jelas. Mereka menikmati keindahan air mancur itu sambil berjalan-jalan kecil. Membaur dengan keramaian orang-orang yang juga sedang menikmati air mancur tersebut. Namun seiring semakinnya ramai pengunjung di sana, gadis itu pun semakin terlhat gelisah. Sesekali Hyejin melihat sekelilingnya atau sekedar menaikan syal Suho. Membenarkan topinya. Hingga Suho sendiri tersenyum di buatnya. Dia hanya merasa lucu dengan sikap Hyejin yang begitu protective padanya.
Sebegitu takutnyakah gadis ini di serbu oleh penggemar-penggemarnya? Membayangkannya membuat Suho terkekeh tanpa sadar.
“Apa yang kau tertawakan?” Ternyata Hyejin bisa mendengar suara tawa Suho walaupun terbilang kecil.
“Eoh? Ani, hanya sedang memikirkan sesuatu yang lucu.” Dia hanya mengangguk, kemudian kembali melihat kedepan, dimana air mancur itu berada. Memilih tidak menjawab ucapan Suho.
Entah apa yang terjadi, seperti ada desiran aneh yang dia rasakan saat menatap wajah Hyejin dari dekat seperti ini. Tidak terlalu dekat memang. Hanya bagian samping wajahnya yang bisa dia lihat saat ini, tapi itu cukup membuat Suho sadar jika Hyejin, cantik. Apa lagi saat sinar pelangi dari air mancur itu menimpa wajahnya. Suho tidak berbohong, jika Hyejin sangat mempesona. Seolah merasa dirinya begitu bodoh, kenapa dia baru menyadari jika Hyejin tidak kalah cantik dari sahabatnya, Tari. Selama ini Suho hanya terlalu sibuk memperhatikan Tari, hingga tidak mempedulikan sekitarnya. Hyejin juga gadis yang baik, betapa beruntungnya pria yang akan menjadi kekasihnya nanti. Begitu pikirnya.
Dalama hatinya dia bersyukur, Tuhan memperkenalkannya pada gadis luar biasa seperti Hyejin dan Tari. Bukan hanya cantik, tapi mereka gadis-gadis yang baik. Mungkin karena kecantikan hatinya, sehingga paras mereka pun terlihat begitu indah.
Ah, sepertinya Suho terlalu mendramatisir malam ini. Sepertinya dia terlalu terbawa suasana. Mungkin kapan-kapan dia harus mengajak Lay ke tempat ini, supaya pria manis yang sering lupa itu bisa mendapatkan inspirasi untuk lagu-lagunya.
Di tengah lamunannya, tiba-tiba suara seorang pria menginterupsi mereka. “Hyejin-ssi, kaukah itu?”
Suho dan Hyejin pun sama menoleh mencari asal suara tersebut. Dan betapa terkejutnya Hyejin mendapati pria itu ada di hadapannya saat ini. Suho sendiri hanya bisa mengerutkan dahinya tanda kebingungan.
“Taek Woon-ssi? Apa yang kau lakukan di sini?” Pertanyaan sederhana. Tapi pria yang di panggil Taek Woon itu tahu ada ketidak sukaan dalam pertanyaannya. Dia sangat tahu jika gadis ini selalu menghindarinya dan tidak pernah mau bertemu dengannya.
Bukan menjawab pertanyaan Hyejin, pria itu justru membungkuk ke arah Suho dan menyapanya. “Annyeonghaseo Suho-ssi, tidak ku sangka kita bisa bertemu di sini.”
Dengan santai Suho pun membalas sapaannya, kemudian beralih menatap Hyejin. “Aku tidak tahu kalian saling kenal. Wah, dunia sempit sekali.” Ucapnya tersenyum. Di sampingnya Hyejin hanya bisa tersenyum kaku. Pasalnya, dia memang terlalu malas melihat pria ini. Lihat saja, sikap dingin dan poker face-nya itu benar-benar membuatnya muak. Untuk tersenyum saja pria ini begitu sulit. Bahkan sikap dingin Kris jauh lebih baik di banding pria bernama Jeong Taek Woon ini.
“Dia hanya anak dari teman bisnis Ayahku. Kami juga tidak terlalu dekat.” Ucap Hyejin tak acuh. Suho yang tidak mengerti apapun hanya bisa mengangguk tanpa ada rasa curiga sedikit pun. Baru saja Suho ingin mengajaknya bergabung, Hyejin sudah lebih dulu menyelanya.
“Kita pulang sekarang, Oppa. Aku lelah. Kau sudah puas kan melihat air mancurnya?”
“Tapi-“ Ucapan Suho terpotong karena Hyejin langsung menarik tangannya begitu saja. Buru-buru Suho pun berpamitan dengan Taek Woon sebelum Hyejin menariknya semakin jauh.
Di belakangnya, pria bernama Taek Woon ini hanya mampu tersenyum sinis melihat kedua orang itu berjalan menjauhinya.
“Kau tidak pernah bisa menjauh dariku Nona Kim.”
TBC
 
dan akhirnyaaa selesai juga chapter 9 ini. setelah nyuri2 waktu dari kerjaan buat nerusin tulisan ini. dan setelah dewa ide sempet pergi sampe akhirnya aku kena syndrom writer blok… tp finally selesai juga chapter ini. huft, udah mulai bisa tarik nafas.
jadi gimana?? kalian sukakah? maaf klo masih kurang panjang, aku sudah berusaha loh hihii. oke deh di tunggu kritik dan sarannya… ^^

About fanfictionside

just me

6 thoughts on “FF/ I LOVE YOU/ EXO/ pt. 9

  1. Feel nya dapet thor aku merasakn juga perasaan marah sma kecewa nya kris ahhh hati aku sakit *plakkk
    semangat lanjutin yahh smga syndrome writer block nya jauh jauh dari author ^^
    ohh iya salam kenal ya thor maaf aku bru komen🙂
    -cherry-

  2. aaaa…
    so complicated…
    knp jd bgni… @.@
    tari n kris gk boleh pisah..
    wah, suho sma hyejin asik bgt kencannya…
    next chapt thor…
    aigooo pnasaran bgt ini… >_<

  3. Wah keren bgt.. Aku udah baca dari awal dan membuatku ketagihan membacanya.. Seru habis,jd penasaran lanjutannya gimana?,, author please lanjutin dong.. Jebal, gak sabar kelanjutannya gimana..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s