FF/ DARKSIDE/ BTS-bangtan/ pt. 9


Title : Darkside (Chapter 9)

Sub-chapter title :  The Suspect

Author : A-Mysty

Cast :   Ahn Hye Min (OC)

            Ryu Eun Soo

            Cha In Hyong

            Park Ji Min

Kim Tae Hyung

 Kim Nam Joon

[New Cast] Find it by yourself

The Other also coming soon…

Length : Chapter [15 pages]

Genre : Adventure, Love-life, School life, Mystery, Horror, Thriller, Fantasy.

Author’s Note :

Chapter ini panjang, sangat panjang… Semoga tidak bosan ya.

Aku hanya mengikuti tren yang para author lain gunakan. Karena tidak mungkin aku membuat ‘tokoh’ baru ini menjadi melenceng dan berbeda dari sifat ff yang sedang maraknya. Jadi, aku hanya menyesuaikan saja. Hitung-hitung, adaptasi-lah /?

Happy Reading.

 scary-moon-2

 

Review:

Laki-laki berseragam itu berjalan menuju tempat yang Dahee sebutkan. Seperti apa yang Dahee katakan, ia berjalan menuju halte dekat sekolah. Ia menyamar menjadi anak sekolah yang tengah menunggu bus datang. Ketika ia menoleh, Hye Min tengah berjalan bersama dua temannya. Melihat pemandangan itu, laki-laki itu langsung tersenyum licik yang penuh kemenangan. Tepat pada saat itu juga, sebuah bus berhenti dan membuka pintunya. Laki-laki langsung melangkahkan satu kakinya ke tangga bus itu, kemudian bergumam pelan.

“Ahn Hye min, sepertinya kau harus lebih berhati-hati lagi sekarang.” gumam laki-laki itu diikuti suara kekehan liciknya.

///

Namjoon berdiri menatap deretan rak buku di perpustakaan sekolahnya itu. Kedua bola matanya bergerak dengan gesitnya hanya untuk mencari sebuah buku di deretan sastra tua itu. Kondisi perpustakaan memang cukup ramai sekarang. Karena ada ujian pengelompokkan siswa, banyak siswa yang meminjam buku di perpustakaan. Namun, sepertinya Namjoon memiliki tujuan yang berbeda.

Jari telunjuknya juga bergerak dengan cepat. Ia terlihat begitu serius mencari buku apa yang ia cari selama hampir setengah jam itu. Siswa-siswi yang melewatinya, menatap aneh Namjoon. Namun, laki-laki itu tetap fokus pada deretan buku sastra lama itu. Kemudian ia berjongkok, lalu mencari di rak buku bagian dasar. Setengah jam yang ia habiskan selama ini, tidaklah sia-sia. Buku yang ia cari ada didasar rak, dan juga dibagian cukup dalam rak tersebut.

Ia menarik buku yang berdebu itu. Sebuah senyum senang dan puas mengembang. Buku yang diyakini tidak pernah disentuh oleh tangan manusia itu, dapat membuat Namjoon segera meninggalkan rak buku sastra lama itu. Ketika ia berjalan menyusuri lorong yang terbuat dari rak-rak buku, seorang siswi menyapanya.

“Oh! Sunbae!” sapa gadis itu. Ia terlihat membawa 4 buku yang tersimpan di dekapannya.

Karena terkejut, tangan Namjoon bergerak untuk menyembunyi buku itu. Tepat ia memasuki buku itu ke saku jasnya, gadis itu berdiri di hadapannya dengan tersenyum ramah. Karena masih terkejut, Namjoon membalas senyuman itu dengan sedikit canggung. Hye Min –gadis itu– sedikit melengos untuk melihat apa yang di masukan ke dalam jas itu.

“Sunbae, kenapa terlihat terkejut? Apa aku telah mengejutkanmu?” tanya Hye Min, masih tetap mendekap buku-buku yang akan ia pinjam itu.

“Ah, tidak. Kau tidak mengejutkanku. Aku saja yang sepertinya mudah terkejut,” jawab Namjoon. Ia sedikit meraba-raba bagian dalam jas, memastikan buku itu telah ia simpan. “Omong-omong, kau benar-benar akan meminjam buku sebanyak itu?”

Hye Min melirik ke buku-buku yang sudah berada di dekapannya sejak tadi, “Apa? Oh, ini… Ya, aku akan meminjamnya. Karena sebentar lagi ada ujian kelas khusus, ya, aku harus belajar. Sunbae sendiri?”

“Aku sudah punya banyak buku di rumah. Ibuku yang membelikannya. Entahlah, aku tidak habis pikir jalan pikiran orangtua.” sahut Namjoon asal.

“Itu berarti, orangtua sunbae sangat sayang dengan sunbae,” sahut Hye Min cepat, ia tersenyum kecil. “Maaf, kalau aku lancang. Hmm… Tadi aku tidak sengaja lihat, kalau sunbae memasuki buku ke dalam jas, ya? Kalau aku boleh tahu, buku apa itu?”

Namjoon mengembuskan napasnya perlahan. Sia-sia juga ia memasukan buku itu ke dalam jasnya, toh Hye Min sudah melihatnya. Ia terdiam sebentar, memikirkan jawaban yang tepat untuk Hye Min.

“Sunbae?” panggil Hye Min lagi.

“Ah! Oh, buku ini…” Namjoon menggantungkan ucapannya. ‘Aku harus bilang apa?’

Tiba-tiba wajah Hye Min memerah dengan sendirinya. Ia menunduk menatap pinggiran buku yang berada di dekapannya itu. “Aku tidak percaya kalau sekolah ini menyimpan bacaan dewasa…” ujarnya pelan. Wajahnya memerah malu ketika menanyakan hal itu.

Namjoon menerjapkan matanya berkali-kali. Ia tidak percaya bahwa Hye Min akan berpikir seperti itu. Dengan cepat, Namjoon menyangkal apa yang dikatakan Hye Min barusan, “Bu-bukan! Sungguh! Ehm… Bisa ikut aku duduk di sana?” Namjoon menunjuk ke arah meja baca di dekat jendela perpustakaan itu.

Hye Min mengadahkan kepalanya, kemudian menoleh ke arah yang Namjoon tunjuk. Melihat reaksi Namjoon, Hye Min langsung menghilangkan buruk sangkanya itu. Karena ucapan itu, ia jadi tidak berani menoleh ke arah Namjoon sekarang.

“I-iya. Boleh saja.” sahut Hye Min dengan sangat canggung.

“Ayo.” ujar Namjoon yang berjalan mendahului Hye Min menuju meja baca itu. Tak hanay Hye Min yang canggung, dirinyapun juga merasakan yang sama. ‘Kenapa dia bisa berpikir seperti itu?’ batinnya bergumam.

Kini, mereka berdua duduk di kursi meja baca tersebut. Hye Min meletakan buku-buku yang sudah berada di dekapannya sejak tadi. Tas selempang yang belum sempat ia letakan d kelaspun, ia letakan di atas meja baca itu. Setelah Hye Min duduk, Namjoon juga ikut terduduk di sebelah gadis itu. Ransel yang sudah ia letakkan di sana sejak pagi, langsung ia tarik begitu saja ke hadapannya.

Untuk beberapa saat, mereka terdiam seribu bahasa. Rona merah di pipi Hye Min mulai menghilang, namun ia masih diam saja. Namjoon melirik ke arah Hye Min sekilas, kemudian mengambil napasnya. Ia menoleh ke arah Hye Min dan menatap gadis itu sedikit lembut. Ia berdeham cukup keras hingga Hye Min menoleh ke arahnya.

“Soal buku yang tadi aku masukan ke dalam jas… Aku harap kau tidak berpikir macam-macam.” ujar Namjoon dengan rasa canggung yang masih terasa.

“Iya. Aku tahu. Lagipula, aku hanya bertanya asal saja.” ujar Hye Min.

“Omong-omong soal buku, apa kau mempunyai buku tua yang berisikan cerita misteri?” tanya Namjoon tanpa basa-basi lagi.

“Buku tua?” Hye Min mengerutkan dahinya, lalu di jawab anggukan kepala dari Namjoon. “Aku punya. Tapi, aku sudah tidak membacanya. Tiap kali aku membacanya, banyak kejadian menyeramkan terjadi. Untuk meminimalisir, aku putuskan untuk berhenti membaca buku itu. Memangnya kenapa?” tanya Hye Min yang berawalan yang panjang lebar.

“Apa kau membawa buku itu sekarang?” tanya Namjoon lagi.

Kali ini Hye Min yang menganggukkan kepalanya, “Buku itu selalu di tasku. Tapi, aku tidak pernah membacanya lagi. Aku biarkan saja buku itu di tasku.”

Namjoon mulai membuka resleting ranselnya, “Boleh aku pinjam?”

Hye Min mengangguk lagi. Ketika tangannya terulur untuk merogoh tasnya, ia mengingat sesuatu yang membuat gerakan tangannya berhenti. Ia menatap Namjoon dengan sedikit kerutan di dahinya, “Tunggu dulu. Bukankah, sunbae juga punya buku itu? Untuk apa meminjam bukuku?”

Namjoon mengembuskan napasnya. Tangannya masih sibuk mengeluarkan sebuah buku dari dalam ransel sekolahnya itu. “Sudahlah. Keluarkan saja.”

Hye Min hanya menuruti ucapan Namjoon dengan dahi yang mengerut. Ia agak curiga dengan tingkah Namjoon itu. Tangannya menarik keluar sebuah buku tua yang waktu itu baca. Namun, tiap kali ia baca. Pasti akan terjadi di ke esokkan harinya.

“Ini.” Hye Min meletakkan buku itu di hadapan Namjoon.

“Ketemu!” ujar Namjoon. Ia mengeluarkan buku yang ia cari-cari di dalam ranselnya itu. “Oh ya, terima kasih.” ujarnya kepada Hye mIn.

Laki-laki itu menjajarkan dua buku itu. Sesaat setelahnya, dahinya langsung mengerut. Hye Min menatap gerak-gerik Namjoon dengan penuh curiga. Ia juga ikut menatap buku yang di jajarkan Namjoon itu. Berbeda dengan Hye Min, Namjoon merasakan keringat dingin mengalir dipelipisnya.

“Untuk apa sunbae men…”

“Ssstt!” Namjoon mendesis meminta Hye Min untuk diam. Kepanikan mulai menjalar di batinnya lagi.

Kemudian, ia mengeluarkan buku yang ia masukan ke dalam jasnya. Dan, dijajarkanlah buku-buku itu. Warna sampul buku yang sama serta ketebalan yang hampir sama. Kalau dilihat-lihat, buku-buku itu seperti manhwa berseri.

‘Astaga.’ batin Namjoon kembali bergumam. Ia melirik Hye Min sekilas dengan tatapan panik, sangat panik.

“Sunbae? Ada apa?” Hye min yang memerhatikan Namjoon sedari tadi, langsung bertanya. Ia menatap buku-buku yang di jajarkan Namjoon. Tanpa ba-bi-bu lagi, Hye Min langsung mengeja apa yang ia lihat, “La… Bella… Muerte?”

Namjoon langsung menoleh ke arah Hye Min, “K-kau?”

“Apa? Aku hanya mengejanya saja. Itu bahasa asing, aku tahu itu. Hanya saja aku tidak tahu apa arti dari itu,” ujar Hye Min dengan kepala yang sedikit dimiringkan. “Sunbae, kenapa kau terlihat begitu takut? Memangnya La Bella Muerte itu apa?”

Namjoon mendesis pelan, “Sepertinya, kau memang tidak tahu apa-apa.” Ia menumpukkan ketiga buku itu dan mendorongnya ke hadapan Hye Min, “Ini. Kau baca saja ketiga buku itu.” jelas Namjoon yang memilih untuk cepat-cepat membungkam mulut.

“Untuk apa? Aku sudah bilang aku…” Lagi-lagi ucapan Hye Min di sela oleh sunbaenya itu.

“Ssstt! Sudahlah. Turuti apa yang aku katakan. Dan usahakan, buku ini tidak dibaca oleh orang lain. Kecuali…” Namjoon terdiam sebentar.

“Kecuali, apa?” tanya Hye Min datar.

“Tidak. Pokoknya, turuti apa yang aku katakan itu. Dan kau akan tahu…”

“Hye Min-ah! Aku sudah mencari-carimu. Aku kira kau tidak masuk lagi.” sapa Jimin dengan senyumannya. Matanya kembali terlihat seperti garis melengkung terbalik. Ia juga tidak sendirian, Taehyung berjalan di belakangnya. Entah kenapa, Jimin seperti sahabat yang memiliki sifat seperti perempuan untuk saat ini.

Karena Jimin tiba-tiba datang, Hye Min dan Namjoon sama-sama terkejut. Reflek dengan pesan Namjoon barusan, Hye Min langsung menarik 3 buku yang sudah di tumpuk itu ke kolong meja baca. Gerakan Hye min yang kelabakan itu, membuat Jimin langsung memasang wajah curiga. Sedangkan Taehyung, ah…, sejak melihat Namjoon, wajahnya terus di penuh ‘kecurigaan’.

“Oh, annyeong Jimin-ah. Hmm… Taehyung-ah.” sapa Hye Min tiba-tiba. Tubuhnya sedikit meliuk karena saking terkejutnya. Bukan hanay dirinya saja, Namjoon pun begitu.

“Apa yang ada di pangkuanmu?” tanya Jimin yang sepertinya curiga. Sebelumnya, ia melihat Hye Min tengah asik berbicara dengan Namjoon dengan 3 buah benda yang di tumpuk.

Hye Min terlihat sedikit canggung sekarang. Ia tersenyum tipis yang dipaksakan, “Itu bukan apa-apa. Hanya buku pelajaran biasa. Kau tidak perlu terlihat curiga seperti itu.”

Taehyung sedikit mendelik menatap Namjoon. Ujaran Dokter Jung kemarin semakin membuatnya percaya bahwa Namjoon bukan ‘manusia biasa’. Tiba-tiba saja, ia berpikir bahwa Namjoon sedang menghasut Hye Min sekarang.

“Oh, baiklah. Bagaimana kalau kita kembali ke kelas saja sekarang? 10 menit lagi bel berbunyi.” ajak Jimin tiba-tiba. Kedua matanya menatap sebuah jam dinding yang tertempel di dinding belakang perpustakaan itu.

“Ah, ya. Oke. Arra.” sahut Hye Min tidak beraturan. Degup jantungnya tidak bisa kembali normal.  Kemunculan Jimin dan Taehyung secara tiba-tiba, seolah-olah membuat jantungnya lepas dari pembuluh venannya.

Jimin memngerutkan dahinya bingung, “Kau bicara apa?”

“Tidak,” sahut Hye Min lagi. Ia bangkit dari tempat duduknya, lalu diam-diam measukan 3 buku yang di berikan Namjoon sekaligus ke dalam tasnya. “Ayo, kita kembali ke kelas.” ujarnya lagi. Kini, ia bersiap untuk mendekap 4 buku pelajaran yang akan ia pinajm itu.

“Aneh,” ujar Jimin pelan. “Ya sudah, ayo ke kelas. Sunbae, aku, Hye Min dan Taehyung kembali ke kelas, ya. Permisi.” Jimin menatap Namjoon tanpa ekspresi, disambung dengan bungkukkan badan yang asal.

“Ya.” sahut Namjoon singkat.

Hye Min beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan di belakang kursi Namjoon. Ia mendelik ke arah Namjoon sekilas. Kemudian, berjalan di belakang Jimin. Taehyung yang melihat delikkan mata Hye Min itu, langsung melempar tatapan tajam ke arah Namjoon. Jimin dan Hye Min sudah berjalan menuju pintu perpustakaan, tapi Taehyung masih menatap Namjoon.

“Jangan pernah kau hasut Hye Min. Dan… Jangan pernah kau memainkan ‘soul’nya. Karena kau tahu kau bukan manusia, Kim Namjoon.” ujar Taehyung. Kali ini, ia tidak berbicara dengan kata-kata yang sopan. Ia sudah berani menyebut nama seniornya itu, tanpa menggunakan kata ‘sunbae’.

Setelah mengatakan itu, Taehyung langsung berjalan keluar perpustakaan. Namjoon hanya diam tidak menanggapi ucapan itu. Ia tidak habis pikir. Laki-laki itu sangat mencurigainya. Namjoon mengembuskan napasnya dan menyandarkan dirinya pada sandaran kursi.

“Setidaknya… Hye Min akan mengetahui semuanya sendiri, kan?” gumamnya sendirian.

///

Jam istirahat adalah jam yang paling di tunggu-tunggu oleh para pelajar. Begitu juga dengan Jimin dan Hye Min. Mereka sudahh melawan kantuk yang begitu berat dalam menghadapi pelajaran sejarah itu. Tak hanya mereka berdua, semua teman sekelasnya pun sama. Ketika guru sejarah itu keluar, mereka mengembuskan napas lega secara bersamaan.

Hye Min melirik ke arah tasnya yang ia letakan di bawah meja. Karena ucapan Namjoon tadi pagi, ia jadi ingin membaca buku itu lagi. Apalagi, ia mendapat kata-kata baru yang sepertinya berhubungan dengan alur hidupnya sekarang. Namun, ia tidak bisa membaca buku itu sekarang. Jimin tak henti-hentinya melirik dan mendelik ke arahnya. Sepertinya, Jimin tahu kalau Hye Min tengah menyembunyikan sesuatu.

Sekelompok siswi yang terdiri dari 5 orang, duduk bergerombol di kursi belakang Hye Min dan Jimin. Siswi-siswi itu sepertinya tengah tertarik dengan suatu hal. Shingga, tak jarang dari mereka langsung berteriak kecil. Hye Min dan Jimin masih duduk di tempat mereka, tanpa pergerakan sedikitpun. Jimin sibuk dengan buku IPA-nya, sedangkan Hye Min masih bergelut dengan pikirannya.

“Kau tahu, laki-laki itu tampan sekali!” ujar siswi yang berkacamata minus itu.

“Iya, aku sudah berpapasan dengannya. Ia sangat tampan. Sayang sekali, kenapa ia tidak sekolah di sini saja, ya?” gumam siswi yang berambut pendek. Ia terlihat bersedih.

Tanpa disengaja, Hye Min terus mendengarkan perbincangan para siswi itu. Tak ada niat untuk menyahut, apalagi ikut campur. Hye Min tetap diam, tidak menimpali perbincanagn siswi-siswi itu. Jimin pun sama, ia juga hanya mendengarkan ujaran siswi-siswi itu.

“Hye Min-ah.” panggil salah seorang siswi bagian dari kelompok mereka.

Hye Min menegakkan tubuhnya, lalu menoleh ke belakang menatap mereka. “Ne?” sahutnya pelan.

“Kau sudah melihat anak dari kepala sekolah kita belum?” tanya gadis itu lagi.

Hye Min menggelengkan kepalanya, “Belum.”

“Hah~ Kau harus melihatnya. Karena kita ini perempuan, kau pasti akan memujinya dengan kata ‘tampan’. Jujur, ia sangat tampan. Kau harus melihatnya.” ajak gadis yang rambutnya terurai sebahu.

“Aku baru tahu kepala sekolah membawa anaknya kemari.” ujar Hye Min dengan kebingungan. Ia juga merasa siswi-siswi itu seperti menuntutnya untuk bertemu dengan anak dari kepala sekolahnya itu.

“Bukan membawa. Kau kira dia masih bocah. Dia juga anak SMA sama seperti kita. Hanya saja, ia tidak bersekolah di sini. Karena sekolahnya libur, ia datang berkunjung menemui ayahnya, sang kepala sekolah.” jelas gadis berambut pendek itu dengan lengkap.

“Apa aku harus bertemu dengannya?” tanya Hye Min dengan malas.

“Tidak juga. Tapi, sepertinya hanya kau saja yang belum melihat laki-laki itu.” sahut gadis yang bertubuh sedikit besar dan gemuk.

“Lalu, untuk apa kau memberitahuku?” tanya Hye Min setengah tidak peduli. Mendengar Hye Min menyerang denagn pertanyaan itu, Jimin langsung menutup mulutnya menahan tawa.

“Kami hanya memberitahu saja. Huft. Kau ini mungkin terlalu lama berteman dengan laki-laki itu, ya? Sampai-sampai, tidak tertarik dengan yang baru.” ujar gadis yang rambutnya terurai, telunjuk menunjuk ke arah Jimin.

Merasa dirinya di bicarakan, Jimin langsung menoleh menatap mereka secara tiba-tiba. Kelima siswi itu langsung tersentak bersamaan, “Kalian bicara apa?” tanya Jimin santai.

“Tidak. Hanya bergurau saja. Jimin-ah, tidak usah merasa seperti itu. Kami hanya bercanda. Kenapa kau merasa dibicarakan?” rayu gadis yang menggunakan kacamata itu.

“Kalimat tanyamu itu yang membuatku merasa dibicarakan.” sahut Jimin santai.

“Maaf,” ujar gadis yang bersangkutan. “Omong-omong, Eun Soo apa kabar, ya? Apa kalian berdua tidak tahu kabarnya? Sudah 4 hari ia tidak masuk sekolah tanpa kabar. Aku jadi khawatir.”

 

Wajah Hye Min dan Jimin berubah menjadi pucat seketika. Memang, Hye Min dan Jimin mengetahui bahwa Eun Soo sudah meninggal. Tapi, sampai sekarang pihak rumah sakit tidak memberitahu dimana Eun Soo beserta Ibunya dimakamkan ataupun dikremasi.

“I-itu…” Hye mIn bergumam kecil.

“Kalian kenapa pucat seperti itu? Apa benar terjadi sesuatu pada Eun Soo?” serdik gadis berkacamata itu sambil membetulkan posisi kacamatanya.

“Ah, tidak. Dia tidak apa-apa. Dia masih harus di rawat di rumah sakit.” sahut Jimin dengan sangkalannya. Laki-laki itu memang pandai menyangkal sesuatu.

“Astaga! Apa separah itu sakitnya? Setelah Mi So yang terpaksa harus menjadi pasien tetap rumah sakit jiwa, sekarang Eun Soo?” sahut gadis berambut pendek dengan sedikit kaget.

“Eun Soo memang di rawat di rumah sakit, tapi bukan rumah sakit jiwa.” sahut Hye Min pelan. “Ia masih di rawat. Kata dokter, kondisinya sudah membaik, tenang saja. Omong-omong Mi So, apa kalian tahu kabarnya?”

Kelima gadis itu langsung bergidik takut. Tak ada satupun dari mereka yang menyahut pertanyaan Hye Min. Dua diantara mereka langsung menundukkan kepalanya. Gadis kacamata itu melempar tatapan keluar kelas. Ia seperti mengambil napasnya dalam-dalam.

“Ia sudah meninggal…” ujar gadis berkacamata itu.

Jimin menatap semua gadis itu dengan mata yang terbelalak lebar. Ia menatap Hye mIn yang juga sedang menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya, “Sejak kapan?”

“Sejak ia berhasil lari dari rumah sakit jiwa itu. Awalnya, ia sempat menghilang berhari-hari dari rumah sakit itu. Namun, ia di temukan dengan satu mayat wanita paruh baya dan satu gadis kritis. Suster-suster kejiwaan itu kembali menyeretnya ke dalam rumah sakit jiwa. Dua hari setelah ditangkap dan dimasukkan ke kamarnya, suster itu sudah menemukannya tertelungkup tak bernyawa di kamarnya yang sedikit sesak.” jelas gadis itu lagi.

Bulu kuduk Hye Min langsung meremang seketika. Rasa merinding langsung melingkupi mereka semua. Jimin mengelus lengannya yang seperti tercengkram rasa dingin akibat merinding. Kaget, dan tak percaya, itulah ayng ada di pikiran dua sahabat itu.

“Lalu, ia dimakam dimana?” tanya Jimin sedikit serius.

“Entahlah. Aku tidak tahu sampai sejauh itu. Orangtua Mi So juga tidak mengingat bahwa Mi So adalah anaknya. Aku sudah mencari tahu keberadaan makam Mi So. Tapi, tidak ada seorangpun yang mengenal Mi So, begitu juga dengan orang tuanya. Aku pikir, kalian juga tidak mengenal dan melupakan Mi So.”

Hye Min merasakan telapak tangannya berkeringat. Apa yang di ucapkan oleh temannya itu, persis dengan kejadian saat In Hyong tiba-tiba menghilang. Tidak ada orang mengingat dan mengenal nama Mi So, kecuali yang bersangkutan. In Hyong juga begitu. Orang tuanya tidak mengingat bahwa mereka memiliki anak perempuan.

Jimin menatap Hye Min yang sepertinya terlihat pucat itu. Gadis itu juga meremas roknya erat hingga kusut. Saat itu juga, kepala Hye Min terpelanting ke belakang. Gadis itu langsung jatuh dari tempat duduknya dalam mata yang terbelalak takut. Kelima gadis itu dan Jimin langsung berteriak bersamaan.

“Gwenchana?” tanya Jimin yang langsung bangkit mendekati Hye Min.

“Hye min-ah, Gwenchanayo?” tanya gadis yang berkacamat itu panik.

Hye Min memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing itu. Ia menatap Jimin dan gadis-gadis itu bergantian. Lalu, ia mencoba beranjak dari posisinya. “Ani. Gwenchana.”

///

Taehyung berjalan menuju sebuah tempat yang biasa menjadi tempatnya untuk membaca manhwa. Tak biasanya, ia kembali kepada kebisaannya. Hal yang biasa ia lakukan ketika mengenal Hye Min, ia selalu bersama Hye Min, Jimin dan Eun Soo. Tapi, mulai kemarin… sepertinya tidak akan lagi.

Taehyung mengembuskan napas leganya, ketika ruangan itu sedang tidak di gunakan. Dengan langkah diam-diam, Taehyung memasuki ruangan yang menjadi tempat favoritnya untuk membaca manhwa itu. Ketika ia menutup pintu dan menyalakan lampu, ternyata ada seorang laki-laki yang duduk di sana.

“Nuguya?” tanya Taehyung dengan dahi mengerut. Sesaat ia mengingat postur orang itu. Itu adalah orang yang kemarin menggunakan seragam sekolah lain.

“Oh, hai, Taehyung-ssi.” sapanya.

“Darimana kau tahu namaku?” Taehyung masih berdiri padadi belakang pintu yang sudah tertutup itu.

Laki-laki itu bangkit dan tersenyum miring, “Apa perlu aku memberitahumu?”

“Aku ‘kan tadi bertanya.” sahut Taehyung datar. Lagi-lagi ada orang baru yang harus ia waspadai. Apalagi, kemunculan ‘orang baru’ yang satu ini benar-benar tidak masuk akal.

“Nanti juga kau akan tahu.” ujar laki-laki itu. Ia mendorong tubuh taehyung ke samping, agar tidak menghalanginya untuk membuka pintu. “Kau tunggu saja… di waktu yang tepat.” ujar laki-laki itu sekali lagi, sebelum hilang di balik pintu.

///

Gerombolan siswi tengah mengerumuni seseorang. Hye Min yang baru saja kembali dari UKS untuk mengambil obat, hanya diam menatap kerumunan itu. Tanpa ada rasa ingin tahu, Hye Min berjalan dengan sekantong obat yang di berikan oleh Dokter Song. Entah mengapa, belakangan ini Dokter Jung sudah jarang terlihat.

Ketika ia hendak melewati kerumunan itu, sebuah tangan menahan lengannya untuk pergi. Hye Min membetulkan poninya dan menatap siapa yang menahannya itu. Orang yang menahannya itu tersenyum miring dan licik kepadanya. Mata Hye Min membulat karena terkejut. Orang itu menyapanya di dekat lorong gudang dan laboratorium komputer. Lorong yang terkenal sepinya. Gerombolan siswi itu juga sudah tidak ada. Melihat keanehan lagi, pening di kepala Hye Min semakin menjadi.

“Halo, Ahn Hye Min.” sapa orang itu.

Hye Min menyentuh dahinya dan sedikit memijatnya. Orang yang ada di hadapannya ini… adalah orang yang selama ini ia lihat, tanpa tahu identitasnya. Ia memundurkan langkahnya dan menggelengkan kepalanya tidak jelas.

“Kenapa terlihat begitu terkejut? Bukankah, kita sudah ‘sering’ bertemu?” ujar orang itu lagi. Senyum liciknya semakin menjadi.

Gadis itu langsung mendesis sakit karena kepalanya seperti tertekan benda berat. Ia bisa mengingat kehadiran sosok ini sekarang. Sosok yang mengawasinya, sosok yang hampir membekukan tubuhnya, dan sosok dari pelaku semuanya ini.

Ia mendelik ke arah orang itu dengan mata yang setengah menutup, “Kau… Kenapa bisa ada di sini?”

Orang itu tetap pada senyum licik itu, “Aku memang sudah lama ada di sini. Namun, kau tidak menyadari keberadaanku.”

“Siapa kau sebenarnya?” tanya Hye Min yang pusingnya masih angin-angin-an itu. Kadang mencengkram, kadang menghilang.

Laki-laki mengdengus kasar, “Aku… Min Yoon Gi. Aku seorang pelajar, sama sepertimu. Aku adalah anak dari kepala sekolahmu ini. Hanya saja, anak ‘sementara’.”

Tiba-tiba saja tubuh Hye Min kembali sempoyongan dan pada akhirnya, ia jatuh duduk. Bungkusan obat yang ia bawa tadi sudah tidak berada digenggamannya. Orang bernama Yoongi itu tersenyum dengan kepala yang dimiringkan. Ia menatap Hye Min yang jatuh duduk seperti orang yang di rundungi kepanikan seumur hidupnya itu.

“Apa… apa… apa kau yang selama ini menjadi pelakunya?” tanya Hye Min dengan sedikit tergagap. Kerumitan alur hidupnya ini semakin membuat kepala pusing.

“Pelaku apa? Oh, orang-orang itu ya?” Yoongi melrik ke sekitarnya sekilas, lalu menatap Hye Min dengan seringaian aneh. “Itu memang aku.”

Kedua mata Hye Min terbelalak lebar. Ia menyeret tubuhnya sedikit menjauhi tempat Yoongi berdiri. Kepalanya semakin lama semakin berat, seperti ingin meledak. Tatapan laki-laki itu juga begitu menusuk.

“Tidak… Aku mohon hentikan…” ujar Hye Min tiba-tiba.

To Be Continue

Author’s Note 2:

Sebelumnya aku minta maaf dengan alur cerita ini. Memang berantakkan. Namun, aku harap kalian tidak kecewa. Aku harap kalian tetap menunggu cerita ini ya.

Next chapter > Darkside 10 > Headache

About fanfictionside

just me

32 thoughts on “FF/ DARKSIDE/ BTS-bangtan/ pt. 9

  1. kepanjangan dari mananya nih?! ini sih terlalu pendek, ketagihan nih aku sama ini fanfic tanggung jawab nih ah udah excited karena ada yoongi muncul eeeh tiba2 TBC, ohmygod~~ /nangis di ketek jimin/

    Hehehehe part selanjutnya ditunggu yaaa penasaran banget sama identitas namjoon yg sebenernya🙂

  2. Wah aku jadi pengen baca buku yang dibawa sama hyemin, itu buku benar2 ada gak thor??

    Tebakan ku bener ternyata orang misterius itu bang yoongi soalnya pas banget sama mukanya hehe
    aya lanjut lagi,

  3. Wawawawa jadi selama ini min yoongi uhhh
    Hye min jg jgan nyampe mati dong huhu
    makin bkin penasaran ini ff
    di tunggu next chap ya
    ohh apa hye min itu orang yg ngebaca apa terus yg di baca bisa jd nyata? Soal nya ku pernah nnton film kyk gtu soal nya hehe

  4. Hah, Ternyata kau Yoongi!! Wah, wah wah makin seru nih, tapi
    Kependekan thor…
    Ditunggu chapter brikutnya… Okey

  5. Wah, chapter 9-nya jjang thor!!! Jadi laki-laki misterius itu Suga? Waw, karakternya Suga keren banget deh thor, cocok sama mukanya yg mupeng itu. Walaupun chapter ini pendek tapi memuaskan banget thor karna ketahuan siapa laki-laki misterius itu. Author daebak!! Keep writing thor!! Next chapternya kutunggu, kalo bisa sih panjangin dikit ceritanya. Hehe^^

  6. omg jadi selama ini tokoh yg jahatnya itu Yoongi?? ya ampun biasku….. makin penasaran banget sama kelanjutan ceritanya aaaaaa next chap nya jangan lama-lama ya thor!🙂

  7. Tebakanku kl laki” misterius itu Yoongi ternyata bener *-*)/\
    makin seru ceritanya, banyak temen”ku yg suka FF ini, tp ga bisa komen .-.)a hwaiting!

  8. Jujur ini pertama kalinya gue baca ff horror. Awalnya gue mikir ‘Waduh apaan nih ff horror mana dapet feelnya’. Tapi setelah baca ff ini, gue kayak yang ‘FF kayak gini bisa berasa real kalau pake kata dan bahasa yang pas’. Sukur-sukur dengan imajinasi gue yang dangkal, gue masih bisa ngerasa masuk dalam sebuah cerita yang keliatannya butuh banget imajinasi yang tinggi.
    FF ini butuh banget dukungan readers. Gue yang awalnya menjabat sebagai readers gak tau malu yang digolongkan pada sekumpulan silent readers akhirnya nyoba buat jadi readers yang baik lol. You deserve it! Keep writing!🙂

  9. next thor…!!!kyaaa ada sugaa penasaran lanjutannya thor -,,- tambah bikin penasaran ceritanya ㅠ.ㅠ kkkk~~

  10. bang agus (dibalik) kutukupret ih serius, bikin me-rin-ding. tapi udah ketebak kalo itu abang agus. karena putihnya yang berlebihan itu haha

  11. annyeong aku new reader di ff ini. awalnya ga begitu tertarik tanpa alasan yg jelas,pdhl aku sendiri pecinta horror. tapi pas iseng baca chapter 1 kok greget dan kepo, makanya baca deh #curhat.
    benerrrrrr perkiraanku diawal. setan abal itu pasti yoongi. oh my yoongi lagiii yoongi lagi-_- dasar bias wkwkwk.
    dari semua chapter yg udah aku baca, aku masih bingung sama buku itu. apa maksudnya buku itu coba? kok bisa-bisanya menghantui hyemin jimin taehyung. dan rapmon bukan orang? wooo kece hahahaha. pertanyaan plg besar adalaaahhhh yoongi ngapain ganggu hyemin? ah elah taehyung juga sikapnya yang sok dingin gitu bikin aku makin klepek2 hehee.
    oke sudah cukup kurasa ini kepanjangan.__. next chapter? ditunggu ^^

  12. Annyeonggg~~ reader baru nih thor, bacanya ngebut jd aku komen di part ini aja ne…
    Daebak thor, aku suka cerita. Ternyata dalangnya si sugar aka yoongi…
    Jd penasaran sm pt selanjutnya, bikin yg lbh keren ne and panjang🙂
    Keep writing thor🙂

  13. Wuah please di lanjutin thor ,maaf bru coment .. Soalnya asik ngebaca jadinya sekalian coment di sini suka banget dngan hye min

  14. kurang panjang thor masa ckk , dikira itu si jungkook atau jin taunya yoongi , makin penasaran apa lagi sama 3 buku manhwa yg bakalan di baca hye min kira kira isinya apaan ya?😀 . next chapt di tunggu ya thor. semangat!!

  15. Astaga astaga !! demi apapun ini ff daebak banget !!! O.O akhirnya ketahuan juga sosok misterius itu. KYAAAA YOONGI A.K.A GULA/? TERNYATA DIRIMU YANG SELAMA INI MENJADI DALANG, EOH ??? >.<
    masih ada sedikit typo kayak yang seharusnya "hanya" malah jadi "hanaya" tapi gapapa ^^

  16. Huwaaaaaaaaaa authorrrr kenapa harus biasku si yoongi !! Huwaa langsung mental breakdown inii.. tali gapapa ! Iike it ~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s