FF oneshot/ WITH YOU IN ONE APARTMENT


FF With You in One Apartment

 

Main Cast

 

  •          Kim So Hyun

 

  •          Lee Hyun Woo

 

Another Cast

 

  •          Kim Sarang

 

Genre : Romance

 

Length : Oneshoot

 

Rating : PG-13

 

Author : Knaraxo

 

Disclaimer : Ini hanyalah ide yang muncul dari kepalaku. Tokoh adalah milik Tuhan.

Note : Halo, aku Knaraxo! Ini adalah salah satu FF yang berhasil lolos dari tumpukkan FF-FF terabaikan! Aku harap readers suka dengan cerita ini. Selamat membaca!

*****

 

Apa yang kalian bayangkan jika kalian tersadar di sebuah ruangan yang tidak dikenal? Ruangan yang tak pernah kau datangi. Pasti kalian akan bingung dan takut. Itulah yang kini dirasakan So Hyun.

 

So Hyun terbangun di sebuah tempat yang asing. Sepertinya ia kini berada di sebuah apartemen yang mewah. Namun ia tak tahu di mana tepatnya ia berada sekarang. So Hyun yang tertidur di atas sofa memegang kepalanya yang sakit. Ia tak ingat apa yang terjadi sebelumnya.

 

Ia melirik pintu keluar yang tak jauh dari sofa. Dengan langkah gontai, ia menghampiri pintu itu dan mencoba membukanya. Namun, ternyata pintu itu terkunci! So Hyun panik bukan main. Ia berusaha menggedor-gedor pintu sambil meminta bantuan.

 

“Siapa saja yang diluar, tolong aku! Buka pintunya!” Berkali-kali ia mengucapkan kalimat itu. Namun apa daya, tak satu pun orang merespon. So Hyun menghela nafas berat. Kini ia pasrah.

 

So Hyun berjalan mengelilingi apartemen itu. Apartemen itu bisa dibilang mewah. Perabotan dan pajangan mahal menjadi hiasan. Ia merasa seperti orang kaya. Rasa ketakutannya kini berganti menjadi rasa kagum.

 

Namun ia terkejut ketika menemukan foto-foto miliknya yang telah dibingkai terpajang di atas sebuah meja. Di ambilnya salah satu foto dengan dirinya berpose membentuk hati menggunakan tangannya.

 

“Uhuk uhuk!”

 

So Hyun kaget mendengar suara seseorang batuk dari dalam ruangan yang berada di sebelah meja itu. Ia meletakkan fotonya hati-hati. Dilangkahkan kakinya dengan ragu. Ia penasaran, siapa orang yang berada dalam ruangan itu. Namun perasaan takut juga tak bisa dipungkiri.

 

Pintu ruangan itu tidak tertutup, membuatnya bisa mengintip ke dalam. Ragu namun penasaran, itulah yang bisa digambarkan So Hyun di wajahnya. Ia memunculkan kepalanya, mengedarkan pandangan kepada suasana ruangan itu.

 

Matanya menangkap sosok seseorang. Orang itu duduk membelakangi tembok. Ia memeluk lutut dan kepalanya menunduk. So Hyun mendekatinya dengan perlahan.

 

“Si…siapa?” tanya So Hyun.

 

Orang itu menoleh. Seorang laki-laki yang beberapa tahun lebih tua darinya mendongak. Mereka saling bertatapan.

 

*****

 

Orang itu menggedor-gedor pintu, sama seperti yang dilakukan dengan So Hyun tadi. Namun tetap tak ada hasil. So Hyun merenung di atas sofa. Ia tampak merasa sedih. Orang itu duduk di sebelah So Hyun.

 

“Lee Hyun Woo.” So Hyun menoleh. Orang itu menatap langit-langit atap. “Namaku Lee Hyun Woo,” lanjutnya. So Hyun hanya terdiam. Nama itu sepertinya pernah ia dengar. Namun lupakan, mungkin hanya pikirannya.

 

“Namamu?” tanya Hyun Woo. So Hyun masih membisu. Ia ragu harus menjawab atau tidak. Ia tak kenal dengan Hyun Woo dan mereka bertemu disaat yang tidak mengenakkan.

 

“Hei, aku tidak akan menggigitmu atau memakanmu. Aku juga manusia. Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku, karena kita sepertinya akan terkurung untuk waktu yang lama,” kata Hyun Woo.

 

Kruyuuuk~

 

Hyun Woo terkejut mendengar suara itu. So Hyun mengambil salah satu bantal dan membenamkan kepalanya. Ia malu sekarang. Hyun Woo tertawa terbahak-bahak.

 

*****

 

Di depan So Hyun, tersuguh makanan yang dapat membuatnya menjadi rakus sekarang. Hyun Woo menggoreng daging yang ditemukannya di kulkas. Tak lupa ia memasak nasi. Kini So Hyun benar-benar lapar sekarang. Hyun Woo duduk berhadapan dengan So Hyun di meja makan.

 

“Makanlah, kau pasti lapar.” So Hyun menatap makanan di depannya. Hyun Woo memaksa So Hyun untuk makan sekarang, kalau tidak ia mungkin bisa mati kelaparan.

 

Akhirnya, So Hyun menyentuh makanan itu. Dan dalam beberapa menit, piring-piring telah kosong. Tersisa 1 potong daging di atas meja. So Hyun melirik Hyun Woo yang hanya menatapnya. Dengan sedikit gugup, ia menyodorkan daging itu menggunakan sumpitnya. Hyun Woo tersenyum manis, lalu memakan daging itu.

 

Hyun Woo mencuci piring-piring kotor itu. So Hyun menatapnya begitu lama. Hyun Woo sepertinya orang yang baik. Mungkin ia bisa mempercayainya.

 

Hyun Woo mengibas-ngibaskan tangannya agar kering.

 

“Kim So Hyun.”

 

Hyun Woo menoleh. So Hyun sekarang gugup. “Namaku Kim So Hyun.” So Hyun mengulang. Hyun Woo tersenyum lembut. Ia menghampiri So Hyun dan mengulurkan tangannya. Sejenak So Hyun terpana, namun ia cepat-cepat sadar dan menjabat tangan Hyun Woo.

 

Hyun Woo mengajak So Hyun untuk menonton TV. Namun ia tak berminat. Sebuah piano menarik perhatiannya. Ia menghampiri piano itu dan menekan salah satu tuts. Tanpa ragu, ia duduk di kursi piano dan mulai memainkan lagu.

 

My tears are falling-drip drip drip

My Smile are gone-more and more and more

You once lived in my heart

And I called it love

And you left me

 

So Hyun begitu mendalami lagu itu. Seperti lagu itu menggambarkan perasaannya. Permainan pianonya pun cukup memukau Hyun Woo.

 

So Hyun yang berkonsentrasi dengan permainannya, terdiam ketika Hyun Woo duduk di sebelahnya. Hyun Woo memandang kagum So Hyun.

 

“Kau bisa bemain piano!” Hyun Woo berseru dengan perasaan kagum. So Hyun hanya membalasnya dengan mengangguk kecil. Kini kegugupannya kembali. Ia duduk terlalu dekat dengan Hyun Woo.

 

Hyun Woo yang tak mau kalah pun bermain piano. Ia memainkan lagu Somewhere Over The Rainbow.

 

Hyun Woo sangat pintar bermain piano. So Hyun terpesona, karena Hyun Woo bermain dengan bagus dan lagu itu menjadi lagu yang sangat ceria karena Hyun Woo menikmatinya. Hyun Woo menutup penampilannya dengan berkata, “Jreeeeng Jreeeeng!”

 

Hyun Woo tertawa kerena tingkahnya sendiri. “Bagaimana, aku lebih hebat darimu, kan?” tanya Hyun Woo menoleh ke So Hyun. Ia terdiam ketika dilihatnya So Hyun tersenyum ceria.

 

“Aku suka saat kau bermain piano. Rasanya seperti kau menularkan virus kebahagiaan kepadaku!” So Hyun berkata dengan gembira. Melihat senyuman So Hyun, Hyun Woo juga ikut menjadi tersenyum. Ia tersenyum menatap So Hyun yang telah ceria.

 

*****

 

“So Hyun, kau ke sana dan aku ke sini!” Layaknya seorang bos, Hyun Woo memberi perintah. So Hyun hanya menurut saja. Kini mereka berencana untuk mengelilingi seluruh penjuru kamar apartemen ini. So Hyun memulai dengan sebuah kamar tidur untuk satu orang.

 

Anehnya adalah, foto-foto Hyun Woo terpajang di sana. Foto-foto So Hyun juga ikut menghiasi. So Hyun menjadi agak merinding. Jangan-jangan ia dikurung… penguntit?

 

“Aduh, apa yang kupikirkan? Pikiranku menjadi kacau sekarang,” gumam So Hyun. Lalu, ia memeriksa laci kamar. Ia menemukan sebuah album foto yang sepertinya baru. Dibukanya album itu, dan tersaji foto-foto yang bisa membuat So Hyun tertawa terbahak-bahak sekarang.

 

Foto-foto masa kecil Hyun Woo tertempel pada album itu. Bahkan di sana ada foto saat Hyun Woo memakai baju perempuan. Betapa lucunya Hyun Woo saat itu. Apalagi banyak foto Hyun Woo yang bertingkah imut.

 

“So Hyun, aku menemukan sesuatu!” Suara Hyun Woo yang tiba-tiba masuk ke kamar itu mengejutkan So Hyun. Mata Hyun Woo terbelalak ketika menemukan album foto masa kecilnya telah berada di tangan So Hyun. Dengan segera ia mengambil album itu.

 

“Hyun Woo, maafkan aku. Album itu aku temukan di laci. Maafkan aku,” ucap So Hyun merasa agak menyesal. Sejenak Hyun Woo terdiam, lalu ia melempar senyum. Ia mengajak So Hyun duduk di atas kasur bermuatkan satu orang itu.

 

“Tak usah dihiraukan. Lebih baik sekarang kau dengar aku. Aku menemukan sesuatu!” seru Hyun Woo girang. So Hyun menatapnya penasaran.

 

“Taraaa! Kamera video!” Hyun Woo memperlihatkan kamera video yang berada di tangannya sekarang. So Hyun menatap takjub.

 

“Aku menemukannya di kamar yang aku tempati tadi. Aku tak memperhatikan. Ternyata ada kamera video,” jelas Hyun Woo. Ia menekan tombol untuk menghidupkan kamera video itu. Lalu, ditekannya tombol record.

 

“Ini dia, wanita yang kini terkurung bersamaku, Kim So Hyun!” So Hyun terkekeh. Ia melambai ke arah kamera. Lalu ia mengambil alih kamera tersebut.

 

“Dan ini dia, orang yang terkurung bersamaku, Lee Hyun Woo!” Hyun Woo langsung berdiri dan membungkuk berkali-kali sambil melambaikan tangan layaknya orang yang baru memberikan pertunjukkan hebat.

 

“Nah, sekarang kita muncul berdua!” Hyun Woo duduk di sebelah So Hyun. Ia merasa agak gugup, namun ia menahan perasaan gugupnya. Mereka melambai dengan riang di depan kamera. Suara tawa mereka sekarang mungkin bisa terdengar ke luar, meskipun tak ada yang akan berada di luar sana dan menolong mereka.

 

Beberapa menit kemudian, So Hyun telah berada di kamar lain. Ia melirik sebuah lemari. Dibukanya lemari itu, meskipun sebelumnya ia telah membukanya. Baju-baju yang indah dan manis tergantung dengan rapi. Ia menghela nafas. Meskipun ia terkurung di sebuah apartemen yang sangat mewah, namun tetap saja ia risau. Berapa lama ia harus terkurung seperti ini.

 

So Hyun memilih untuk tidur, meskipun waktu masih menunjukkan pukul 08.00 pm. Ia terlelap begitu cepat.

 

Sementara itu, Hyun Woo berada di meja makan. Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Terlihat seperti permen, atau mungkin bisa dibilang obat. Ia membuka penutupnya dan memasukkan benda itu ke mulutunya. Air matanya terjatuh, ia sedang sedih sekarang.

 

*****

 

Hari ke-12 So Hyun dan Hyun Woo berada di sana, mereka menjadi akrab. Mereka serig bertingkah konyol di depan kamera video itu. Mereka menikmati hari-hari mereka terkurung di sana.

 

So Hyun yang bosan menunggu Hyun Woo mandi mencoba untuk menonton TV. Ia memegang remote TV dan menghidupkan TV itu. Muncul sebuah channel dengan film barat sebagai tontonan. So Hyun mengganti channel.

 

Namun anehnya, semua channel tak berfungsi. Hanya 1 channel yang berfungsi.

 

“Aaaaaa, kesal!” So Hyun berteriak frustasi. Bersamaan dengan itu, Hyun Woo keluar sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk. Ia duduk di sofa, di samping So Hyun.

 

“Hyun Woo, lihat TV ini. TV ini hanya mempunyai 1 channel, bukankah itu aneh?” tanya So Hyun meminta pendapat. Hyun Woo mengangkat kedua alisnya, menyetujui So Hyun. So Hyun mendengus. Ia sangat bosan sekarang.

 

Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu bersender di pundaknya. Ia melirik Hyun Woo yang meletakkan kepalanya di pundak So Hyun. Wajah So Hyun bersemu merah. Hyun Woo tertawa kecil melihat wajah merah So Hyun, lalu menjepit hidungnya.

 

“Hyun Woo, sakit!” keluh So Hyun. Hyun Woo tak menghiraukannya dan tetap menjepit hidung So Hyun. So Hyun menarik tangan Hyun Woo dan menggandeng tangan Hyun Woo agar ia tak menjepit hidungnya lagi.

 

“Jangan lakukan itu, mengerti?” tanya So Hyun. Hyun Woo hanya mengangguk. Ia tersenyum melihat tangannya digandeng oleh So Hyun.

 

“Kau bosan? Ayo kita main,” ajak Hyun Woo. So Hyun menatapnya bingung. Di tempat seperti ini mau main apa?

 

Hyun Woo berdiri. Ia membentuk gunting, batu, dan kertas menggunakan tangannya. Lalu menggerakkan tangannya seperti menyentil. So Hyun pun ikut berdiri. Ia senang permainan itu. Mereka menggerak-gerakkan tangan mereka.

 

“Gunting, batu, kertas!” Mereka mengeluarkan pilihan mereka. So Hyun berteriak kegirangan, karena ia memilih batu dan Hyun Woo memilih gunting. Hyun Woo hanya menghela nafas.

 

Saat akan menyentil Hyun Woo, Hyun Woo langsung berlari menghindari sentilan So Hyun. So Hyun tak terima.

 

“Hyun Woo, jangan lari!” teriak So Hyun, lalu berlari mengejar Hyun Woo. Kini akhirnya permainan berganti menjadi kejar-kejaran. Hyun Woo tertawa mengejek So Hyun karena tak bisa mengejar dirinya. So Hyun tak mau kalah. Ia melangkah lebih cepat.

 

Tanpa diduga, Hyun Woo tersandung karpet. So Hyun tak bisa menghindari tabrakan dengan Hyun Woo. Mereka berdua terjatuh.

 

“Aduh, sakit,” keluh So Hyun. Namun ia tertegun ketika ia mengetahui bahwa dirinya terjatuh di samping Hyun Woo dan wajah mereka sangat dekat. Hyun Woo yang awalnya mengeluh kesakitan kini juga tertegun.

 

Mereka saling berpandangan. Mereka bertatapan cukup lama. So Hyun membisu, ia terlalu fokus memandang Hyun Woo.

 

“So Hyun, kau tak apa?”

 

So Hyun tersadar. Ia langsung berdiri dengan gugup. Wajahnya telah bersemu merah bak kepiting rebus.

 

“A…aku tak apa! Aku… aku mau…,” kata So Hyun tergagap, lalu ia melirik piano. “Aku mau bermain piano! Ya, piano!”

 

So Hyun berlari menghampiri piano itu. Hyun Woo masih duduk di lantai menatapnya kebingungan. So Hyun membuka piano itu dan memainkan lagu Somewhere Over The Rainbow yang dimainkan Hyun Woo kemarin. Namun ia terlalu gugup sekarang. Berkali-kali ia salah menekan tuts.

 

“Hei, permainanmu salah!” Hyun Woo menegur So Hyun. Saat itu, So Hyun bisa merasakan Hyun Woo berada di belakangnya. Hyun Woo menjulurkan tangannya dari belakang untuk menekan tuts-tuts piano.

 

Namun, itu membuat So Hyun bertambah gugup. Posisi mereka sekarang seperti Hyun Woo memeluk So Hyun dari belakang.

 

“Hyun Woo, kau terlalu dekat.”

 

Mendengar itu, justru Hyun Woo meletakkan dagunya di pundak So Hyun. So Hyun benar-benar tak bisa menahan rasa gugupnya sekarang. Jantungnya berdetak cepat, tak seperti biasanya. Mungkin sekarang Hyun Woo bisa merasakan detak jantugnya.

 

“Kau menyukaiku?” tanya Hyun Woo, membuat So Hyun terkejut. Pertanyaan itu membuatnya bingung. Apakah So Hyun menyukai Hyun Woo? Apa So Hyun jatuh cinta dengan Hyun Woo?

 

Hyun Woo mengerti. Sepertinya So Hyun masih bingung dengan perasaannya. Hyun Woo duduk di samping So Hyun.

 

“So Hyun, aku menyukaimu.” Pernyataan Hyun Woo membuat So Hyun kaget. ‘Hyun Woo menyukaiku?’ batin So Hyun.

 

“Aku ingin kau menjawab pertanyaanku tadi. Tidak apa jika kau tidak menyukaiku. Yang terpenting kau harus menjawab pertanyaanku. Mengerti?” tanya Hyun Woo membelai kepala So Hyun. So Hyun hanya mengangguk.

 

Hyun Woo mengajaknya kembali bermain gunting,batu,kertas. Awalnya So Hyun ragu. Namun senyuman Hyun Woo melelehkan hatinya. Akhirnya mereka kembali bermain. Mereka juga merekam permainan mereka menggunakan kamera video tersebut.

 

*****

 

Malam hari telah tiba. So Hyun terbaring di atas kasurnya. Ia tak bisa tidur karena masih memikirkan pernyataan Hyun Woo barusan.

 

“Uhuk! Uhuk!”

 

So Hyun bangkit. Ia cukup terkejut karena ini pukul 01.00 am dan ia mendengar suara orang batuk. Apakah itu… Hyun Woo?

 

So Hyun keluar dari kamarnya. Ia mengedarkan pandangan ke penjuru apartemen. Dan akhirnya ia menemukan Hyun Woo sedang minum di meja makan. Ia menghampirinya.

 

“Kau baik-baik saja?” tanya So Hyun khawatir. Hyun Woo meletakkan gelasnya dan bernafas lega.

 

“Tak apa, aku baik-baik saja. Ah, aku membangunkanmu ya? Maaf,” ucap Hyun Woo. So Hyun menyangkalnya. Ia duduk di samping Hyun Woo. Ia melirik sesuatu yang dipegang Hyun Woo.

 

“Apa yang sedang kau pegang?” tanyanya penasaran. Ia mengambil benda itu. Seperti obat atau permen.

 

“Ah, ini permen. Aku memakannya jika perasaanku tidak tenang. Kau mau juga?” tawar Hyun Woo. So Hyun menggeleng. Ia termenung mendengar Hyun Woo yang perasaannya sedang tidak tenang.

 

“Sesuatu mengganggumu sekarang? Atau kau merasa sedih karena sampai sekarang kita masih terkurung?” tanya So Hyun.

 

“Bukan. Hanya saja hidupku di luar sana sebenarnya suram. Aku merasa tidak punya sahabat atau teman. Aku merasa kesepian, meskipun banyak orang yang kagum padaku karena kepintaran. Meskipun banyak yang mendekatiku. Aku merasa mereka hanya ingin mendekatiku karena apa yang ada di luar diriku, bukan di dalam diriku. Aku sangat sedih dan kecewa. Aku… bahkan orang tuaku menyayangiku karena aku bisa dipergunakan layaknya barang. Hanya karena bagi orang lain aku berharga.”

 

So Hyun merasa iba dengan Hyun Woo. Dan saat itu, Hyun Woo dikejutkan dengan pelukan So Hyun dari belakang.

 

“Hyun Woo, sekarang tak apa. Aku akan terus berada di sisimu mulai sekarang, meskipun kita keluar dari apartemen ini. Aku menyukaimu,” kata So Hyun mengakui perasaannya.

 

Mata Hyun Woo memerah. Perlahan, air matanya terjatuh. Ia berusaha tertawa, namun ia tak dapat menahannya. Akhirnya ia menangis di pelukan So Hyun.

 

*****

 

Hari ke- 20. So Hyun dan Hyun Woo sedang sibuk berdandan. So Hyun mengenakan pakaian pria dan ia memakai topi untuk menutupi rambutnya yang panjang. Sedangkan Hyun Woo memakai gaun perempuan dengan banyak renda.

 

“So Hyun, kamera sudah siap?” tanya Hyun Woo memastikan. So Hyun mengacungkan jempolnya. Dengan Hyun Woo memegang kamera, So Hyun dan Hyun Woo merekam diri mereka.

 

“Halo semuanya!! Hari ini adalah hari ke-20 kami berada di sini!” seru Hyun Woo.

 

“Dan untuk merayakannya, kami berdandan kebalikan dari jati diri kami. Aku terlihat tampan, kan?” tanya So Hyun dengan narsis. Hyun Woo mencubit pipi So Hyun dengan gemas. So Hyun mengusap pipinya yang sakit.

 

“Kau bukannya tampan, kau manis,” kata Hyun Woo dengan tersenyum lebar. So Hyun menanggapinya dengan senyuman..

 

So Hyun berdiri agak jauh dari Hyun Woo yang memegang kamera. Hyun Woo merekam So Hyun yang ingin tampil. Ya, ia ingin menampilkan gerakan tari ala laki-laki. Kebetulan di apartemen itu ada radio dan beberapa CD lagu. Hyun Woo memulai lagu.

 

So Hyun mulai menari diiringi lagu EXO- Growl. Meskipun ia lupa beberapa gerakan, namun ia tetap menari dengan senang. Hyun Woo tersenyum lembut menatap kekasihnya.

 

“Nah, jadi berakhirlah sudah rekaman kita hari ini! Sampai jumpa!” Hyun Woo dan So Hyun menutup rekaman mereka dengan ceria.

 

So Hyun duduk di atas sofa sembari mengelap keringatnya. Ia lelah menari sekarang. Hyun Woo memberikannya minuman dingin.

 

“Kau lelah, kan? Kau memaksa menari, sih.” Hyun Woo menepuk pundak So Hyun. So Hyun menyandarkan kepalanya ke pundak Hyun Woo.

 

“Hyun Woo.”

 

“Apa?”

 

“Aku mencintaimu. Setiap hari, aku merasa cintaku semakin besar. Aku senang karena kita terkurung berdua di sini. Terima kasih karena kau berada di sisiku sekarang,” ucap So Hyun malau-malu.

 

Hyun Woo terpana dengan perkataan So Hyun. Ia meraih kekasihnya itu dalam pelukkannya. So Hyun terkejut Hyun Woo tiba-tiba memeluknya.

 

“Hyun…Hyun Woo….”

 

“Aku juga mencintaimu, Kim So Hyun.”

 

So Hyun begitu senang mendengar pernyataan Hyun Woo. Ia membalas pelukan Hyun Woo dengan lebih erat.

 

Tes…

 

Suara air turun. Bukan, lebih tepatnya air berwarna merah. Hidung Hyun Woo mengeluarkan darah. Ia mengelap darahnya. So Hyun terkejut dan khawatir.

 

“Hyun Woo, hidungmu berdarah! Kau tak apa?” tanya So Hyun sambil memegang pipi Hyun Woo. Mereka langsung berlari ke kamar mandi.

 

Cuuur…

 

Suara air keran memecah keheningan kamar mandi. Hyun Woo mengelap darah yang menempel di wajahnya. So Hyun memberikannya handuk. So Hyun menghela nafas.

 

“Sebenarnya apa yang terjadi dengan hidungmu?” tanya So Hyun. Hyun Woo tersenyum simpul.

 

“Tadi saat bangun aku terjatuh, hidungku terbentur dan berdarah. Tadi sebenarnya sudah berhenti, tapi berdarah lagi. Mungkin darah di hidungku mencair,” jelas Hyun Woo. So Hyun menggandeng lengan Hyun Woo.

 

“Hyun Woo, jangan buat aku khawatir. Untung saja hanya masalah sepele,” kata So Hyun lega.

 

Hyun Woo memeluk So Hyun.

 

“Kau juga, jangan pernah sedih lagi. Jangan membuat aku khawatir. Kau harus selalu ceria dan sehat,” ucap Hyun Woo. Hyun Woo menatap So Hyun lama, lalu mencium kening So Hyun.

 

*****

 

Hari ke- 45. Sebulan lebih So Hyun dan Hyun Woo tinggal di sana. Namun mereka masih bertahan, walau kadang mereka merindukan matahari di luar sana.

 

Malam hari. Hujan menjadi tamu malam itu, diiringi suara petir yang keras dan membuat orang-orang ketakutan, termasuk So Hyun. So Hyun paling takut dengan petir. Suara petir yang mengagetkan mungkin bisa membuatnya pingsan sekarang. So Hyun duduk di kasur sambil memeluk lututnya. Dibenamkannya kepalanya.

 

“Gleegaar!!”

 

“Aaaaah!!”

 

“Ada apa?!”

 

Hyun Woo membuka pintu So Hyun dengan khawatir. Melihat kekasihnya itu berada di depan pintu membuat So Hyun menangis lega. Cepat-cepat ia berlari memeluk Hyun Woo.

 

“ Hyun Woo… aku takut…,” isak tangis terdengar dari mulut mungilnya. Hyun Woo menepuk-nepuk pundak So Hyun.

 

“Baiklah, kalau begitu malam ini aku tidur bersamamu.”

 

Dan beberapa menit kemudian, So Hyun telah berada dalam dekapan Hyun Woo di atas ranjang Hyun Woo yang memang untuk 2 orang. Hyun Woo belum tidur karena sibuk menutup telinga So Hyun agar tidak bisa mendengar suara petir.

 

Sementara yang ditutupi telinganya justru belum tidur. Ia tak bisa karena tidur karena terlalu gugup sekarang. Ia bisa merasakan kepalanya menyender di dada Hyun Woo. Detak jantung Hyun Woo yang cepat bisa ia rasakan. Tangannya meremas ujung baju Hyun Woo.

 

“So Hyun, kau pasti belum tidur,” tebak Hyun Woo. So Hyun terdiam. Ia menutup rapat matanya karena ketahuan Hyun Woo. Hyun Woo menjauhkan tangannya dari telinga So Hyun. Ia bisa merasakan So Hyun tetap meremas ujung baju Hyun Woo. Hyun Woo menarik kedua tangan So Hyun dan menggenggamnya erat.

 

“Lebih baik kau memegang tanganku daripada bajuku,” kata Hyun Woo. Meski Hyun Woo mengajaknya berbicara, tetap saja So Hyun menutup rapat matanya.

 

Dan beberapa detik kemudian, ia merasakan bibir Hyun Woo mencium keningnya dengan lembut. Lalu ia membisikkan sesuatu ke telinga So Hyun.

 

“Kim So Hyun, aku mencintaimu.”

 

Kalimat itu sukses membuat So Hyun membuka matanya. Ia bisa melihat Hyun Woo menatapnya lekat-lekat. Lantas So Hyun kembali menutup matanya. Ia gugup hanya untuk melihat mata Hyun Woo.

 

So Hyun telah tertidur. Hyun Woo bangkit dari tenpat tidurnya. Ia hanya terdiam tak bergerak sama sekali dari tempatnya berdiri.

 

*****

 

Hari ke-46. So Hyun terbangun karena pukul 08.00 am adalah jadwal ia bangun. Ia menguap untuk menghilangkan kantuknya. Ia mendapati bahwa Hyun Woo sudah tak ada lagi di sampingnya. So Hyun memilih untuk langsung mandi di kamar mandi sebelah kamar Hyun Woo.

 

Dan selanjutnya, So Hyun telah berada di kamarnya yang persis di depan kamar Hyun Woo. Ia telah mengenakan gaun berwarna biru karena sedang ingin.

 

Ia keluar kamar. Ia merasa pagi ini sepi. Ia menoleh ke kanan dan kiri dan tak menemukan Hyun Woo.

 

“Hyun Woo, kau di mana?” tanya So Hyun berteriak. Tak ada respon. Hening. So Hyun merasa agak khawatir. Ia mendatangi ruang utama, yaitu ruang menonton.

 

Tiba-tiba, ia terkejut. Ia melihat pintu kamar apartemen telah terbuka. Ia tersenyum gembira. Kakinya langsung melangkah keluar. Ia menaiki lift untuk turun dari lantai 15 menuju lantai paling bawah.

 

Setelah menunggu, liftnya berhenti. Pintu lift perlahan terbuka. Ia melangkahkan kakinya dengan tak percaya. Setelah 45 hari terkurung bersama Hyun Woo, akhirnya ia bisa keluar. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sambil berlari, merasakan udara segar pagi itu.

 

Di dekat pintu keluar, So Hyun mendengar suara keributan dari luar. Semakin ia mendekati pintu keluar dari kaca itu, semakin terdengar jelas suara keributan. Dan ia terbelalak ketika melihat Hyun Woo dikerubungi banyak orang yang sibuk memegang kamera dan mic di tangan mereka, juga memegang note. Bahkan banyak perempuan-perempuan memegang papan bertuliskan nama Lee Hyun Woo.

 

So Hyun langsung keluar dari sana. Orang-orang yang awalnya mengerubungi Hyun Woo, kini berlomba-lomba mengerubungi So Hyun.

 

“Bagaimana perasaan anda setelah bisa muncul di Variety Show ‘I Live with an Idol’?”

 

“Apakah anda sudah merasa menjadi wanita paling bahagia?”

 

“Apakah anda senang bisa tinggal bersama dengan aktor impian para wanita, Lee Hyun Woo?”

 

Aktor…impian? Lee Hyun Woo? So Hyun tertegun. Ia mengingat panggilan itu. Aktor impian para wanita, Lee Hyun Woo.

 

Flashback

 

So Hyun sedang berada di sebuah sesi pemotretan. Ia memain-mainkan tangannya sendiri, bosan menunggu Bibinya yang memimpin sesi pemotretan saat itu.

 

Tiba-tiba, seseorang memukul meja yang ditempati So Hyun. So Hyun mendongak terkejut. Bibinya, Kim Sarang berdiri di depannya dengan wajah yang riang. So Hyun menatapnya dengan kesal.

 

“Ah, kau marah karena aku mengagetkanmu?” tanya Mrs. Sarang. So Hyun masih menatapnya dengan kesal. Mrs. Sarang terkekeh.

 

“Maafkan Bibimu yang cantik ini, ya.” Ia mencubit pipi keponakannya itu. Lalu ia duduk berhadapan dengan So Hyun. ”Aku ingin mengajakmu tampil di sebuah variety show.  Direktur memintaku untuk mencari gadis manis yang akan tampil dengan aktor impian para wanita, Lee Hyun Woo. Kau bisa muncul di acar ini!”

 

So Hyun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bibinya itu sudah mulai kehilangan akal. So Hyun ingin menolak, namun ia tidak enak dengan Bibinya yang kelihatan bahagia. Ia hanya tinggal berdua dengan Bibinya karena orang tuanya telah meninggal dan ia ingin membalas kebaikan Mrs. Sarang.

 

“Aku pikirkan dulu,” jawab So Hyun. Mrs. Sarang mengangguk. Sebelum ia pergi, ia mengatakan kepada So Hyun bahwa ia berharap So Hyun menerima tawarannya.

 

Dan jam menunjukkan pukul 04.00 pm. Ia rasa Mrs. Sarang akan tinggal lama di sesi pemotretan itu. Jadi, ia pulang duluan meninggalkannya.

 

So Hyun berjalan dengan perasaan yang kacau. Bagaimana ini? Haruskah ia menerimanya, sedangkan hatinya berkata yang lain? So Hyun mengacak rambutnya gemas. Ia sangat pusing sekarang.

 

Tiba-tiba, seseorang membekap mulutnya. Ia terkejut berusaha mengelak. Namun obat bius mengalahkannya. Lama-lama ia tak sadarkan diri.

 

Dan selanjutnya bisa ditebak. Ia bangun di sebuah kamar apartemen yang mewah tanpa bisa mengingat apa yang terjadi sebelumnya.

 

Flashback End

 

So Hyun tertegun. Ia baru mengingatnya sekarang. Perasaannya berkecamuk. Jadi…semua ini hanyalah untuk sebuah acara? Selama ini ia terkurung bersama Hyun Woo hanya untuk variety show yang terkenal? Jadi… perasaan Hyun Woo padanya palsu?

 

Badan So Hyun gemetar. Ia tak percaya dengan apa yang terjadi sekarang. Ia melihat Hyun Woo berjalan merangkul wanita lain. Air mata telah menggenang di matanya. Ia tak bisa berkata-kata lagi. Dipaksakannya bibirnya untuk berbicara.

 

“Lee Hyun Woo!”

 

Orang yang dipanggil berhenti, lalu menoleh ke dirinya. So Hyun tersenyum karena Hyun Woo merespon. Namun senyumnya pudar ketika Hyun Woo tersenyum sinis kepadanya. Hyun Woo kembali berjalan dengan wanita di rangkulannya dan masuk ke dalam mobil.

 

Air mata So Hyun akhirnya terjatuh. Badannya lemas. Ia terjatuh di tempatnya. Tak perduli dengan orang-orang yang menatapnya khawatir dan menanyakan keadaannya. So Hyun menangis terisak.

 

“Hyun Woo!”

 

Ia memanggil nama itu berkali. Kenangan-kenangan mulai bermunculan.

 

Saat mereka bermain bersama…

 

Saat mereka memainkan piano…

 

Saat mereka memakai pakaian lucu…

 

Saat mereka tidur bersama…

 

Saat Hyun Woo mencium keningnya…

 

So Hyun berteriak histeris. Kini semua cintanya harus hilang. Semua cintanya harus hancur.

 

My tears are falling-drip drip drip

My Smile are gone-more and more and more

You once lived in my heart

And I called it love

But you left me alone

 

*****

 

Hyun Woo menatap ke luar selama perjalanan. Sesekali ia terbatuk. Si wanita itu, yang tepatnya adalah manajernya menatapnya khawatir.

 

“Hyun Woo, benarkah kau tak apa? Sejak keluar dari apartemen itu, kau kelihatan lemah. Bahkan kau tak mampu berjalan sendirian,” kata si manajer khawatir. Hyun Woo melempar senyum pahit.

 

“Kamu tahu, aku tak baik-baik saja. Ingat dengan keadaanku?” tany Hyun Woo. Si manajer tertunduk. Tergenang air mata di matanya. Hyun Woo menepuk pundaknya untuk menenangkannya.

 

“Kak, jangan khawatir. Aku bisa melewati ini. Mengerti?” Dengan wajah yang pucat, ia menatap manajernya untuk meyakinkannya.

 

Si manajer yang tak lain adalah Kakaknya menangis. Ia langsung memeluk Adik kesayangannya itu. Ia sedih namun terharu melihat ketegaran Hyun Woo. Hyun Woo yang kini sakit.

 

“Kak, boleh aku pinjam kunci ruang apartemen itu?”

 

*****

 

Malam hari. Ruang apartemen yang telah tak ditempati So Hyun dan Hyun Woo itu hening. Pintu pun telah terkunci.

 

Kreeek…

 

Seseorang membuka pintu. Ia menghidupkan ruangan yang awalnya gelap. Langkah kakinya dapat terdengar.

 

Ia berjalan ke salah satu kamar, kamar yang pernah ditinggali Hyun Woo.Ia mengedarkan pandangan. Dan tertujulah matanya pada sebuah kamera video yang dipakai Hyun Woo dan So Hyun untuk merekam diri mereka. Orang itu tersenyum.

 

Ia adalah Hyun Woo.

 

Hyun Woo menghubungkan kamera videonya dengan TV. Dan beberapa saat kemudian, sebuah video diputar. Video itu menampilkan So Hyun yang tersenyum.

 

Ini dia, wanita yang kini terkurung bersamaku, Kim So Hyun!”

 

Lalu, berganti Hyun Woo berada di depan kamera.

 

“Dan ini dia, orang yang terkurung bersamaku, Lee Hyun Woo!”

 

Dan dalam video itu, Hyun Woo membungkuk sambil melambaikan tangannya. Terdengar suara tawa So Hyun.

 

Hyun Woo tertawa melihat tingkahnya dan So Hyun. Ia memilih video yang lain. Itu adalah video saat mereka bermain gunting batu kertas.

 

“Gunting batu kertas!”

 

Di sana, tangan So Hyun memilih gunting dan Hyun Woo memilih kertas. Suara tawa So Hyun terdengar nyaring.

 

“Hei, bagaimana bisa kau selalu menang! Aku tak terima!”

 

Video menunjukkan wajah mereka berdua dan So Hyun menyentil dahi Hyun Woo. Hyun Woo meringis kesakitan.

 

Dan video berganti menjadi pertunjukkan So Hyun. Ia menari dengan lincah dan energik. Sesekali wajah Hyun Woo muncul dengan ia berpose imut.

 

Hyun Woo menyaksikan setiap video dengan tawa yang mengiringi. Namun raut wajahnya menunjukkan kesedihan. Matanya memerah dan berkaca-kaca. Ia mengelap air matanya yang akan turun. Ia mulai teringat kenangannya.

 

Flashback

 

Hyun Woo sedang melakukan meet n’ greet dengan penggemar-penggemarnya. Hyun Woo menunjukkan senyumannya yang paling manis, membuat para penggemarnya meleleh.

 

“Hei So Hyun, kau cantik sekali!”

 

Suara itu membuat Hyun Woo menoleh. Ia terpana ketika didapatinya seorang perempuan cantik yang mengenakan gaun selutut berwarna putih biru berdiri di balik panggung. Ia benar-benar terpesona.

 

“Ah, iya. Barusan aku tampil memainkan piano di acara festival sekolah dan aku baru pulang. Kebetulan sekolahku dekat, jadi aku datang ke sini,” kata So Hyun sambil tersenyum malu.

 

Hyun Woo menatap lama So Hyun, membuat para penggemarnya keheranan. Namun Mrs. Sarang menyadarkan Hyun Woo, membuat Hyun Woo tersipu dan kembali melanjutkan acaranya.

 

Dan selanjutnya, di ruang kantor Mrs. Sarang. Saat itu Hyun Woo dan Mrs. Sarang sedang membicarakan acara baru, variety show ‘I Live with an Idol’. Hyun Woo menatap malas foto-foto yang ditunjukkan kepadanya. Ia sendiri yang harus memilih pasangan acaranya.

 

Tok! Tok!
Kreeek…

 

Hyun Woo dan Mrs. Sarang menoleh. Hyun Woo terkejut ketika melihat perempuan yang berada di acaranya kemarin masuk ke dalam.

 

“Halo Bibi, dan halo…,” kata So Hyun terpotong ketika akan menyapa Hyun Woo.

 

“Lee Hyun Woo, artis kesayanganku,” kata Mrs. Sarang memperkenalkan Hyun Woo dengan bangga. So Hyun membungkuk, dibalas dengan membungkuk juga oleh Hyun Woo.

 

So Hyun duduk di kursi kerja Mrs. Sarang. Hyun Woo tak konsentrasi ketika Mrs. Sarang terus berceloteh. Mrs. Sarang menjadi kesal. Ia mengikuti ke arah tatapan Hyun Woo. Mrs. Sarang seketika tersenyum ketika didapatinya Hyun Woo melirik So Hyun, keponakannya yang sibuk membaca buku dengan serius.

 

“Hei, kau tertarik dengan Kim So Hyun, keponakanku?” bisik Mrs. Sarang penuh selidik. Hyun Woo tersadar. Ia melirik Mrs. Sarang, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

“Kau mau So Hyun menjadi pasanganmu?” tawar Mrs. Sarang. Hyun Woo terkejut mendengar tawaran Mrs. Sarang. Ia hanya mengangkat bahu karena tidak tahu. Mrs. Sarang hanya mengangguk-ngangguk dan melanjutkan pembicaraan. Hyun Woo kembali melirik So Hyun.

 

Dan saat sesi pemotretan. Temanya adalah cinta. Hyun Woo harus mengeluarkan ekspresi orang jatuh cinta. Hyun Woo kebingungan harus bagaimana, karena ia tak tahu ekspresi orang jatuh cinta itu seperti apa.

 

Namun tiba-tiba, pandangannya tertuju kepada So Hyun yang masuk ke dalam studio sambil membawa makanan untuk Mrs. Sarang. Bibinya menyambutnya dengan gembira. Mereka saling bergurau. So Hyun tertawa terbahak-bahak.

 

Hyun Woo menatap So Hyun dengan tatapan lembut. Ia senang melihat keceriaan So Hyun. Sang Fotografer senang melihat Hyun Woo berhasil. Ia berkali-kali mengambil foto Hyun Woo.

 

Flashback End

 

Hyun Woo menangis. Ia tak kuasa membendung air matanya. Ia begitu mencintai So Hyun, bahkan sebelum So Hyun mengenalnya. Ia benar-benar sedih sekarang.

 

Dan satu hal yang membuatnya tak bisa memiliki So Hyun. Yang membuatnya harus berpura-pura bermain peran jatuh cinta dalam acara variety show-nya.

 

Penyakit tumor otaknya.

 

Hyun Woo tak sanggup membuat So Hyun sedih karena kepergiannya. Ia sebentar lagi akan tiada. Dan ia membiarkan So Hyun tak tahu perasaan miliknya yang sebenarnya. Perasaan yang telah tumbuh dengan subur ini.

 

Tiba-tiba, kepalanya terasa sakit. Hidungnya mengeluarkan darah. Pandangannya pun mulai kabur. Dengan lemas, Hyun Woo berusaha mendatangi piano. Piano yang membuatnya melihat senyuman So Hyun secara langsung. Darah menetes di atas tuts-tuts piano.

 

Hyun Woo berusaha menekan tuts-tuts piano, meski badannya sudah tak kuat lagi. Meski tangannya sudah hampir tak dapat ia gerakkan. Permainannya pun lambat.

 

The mysterious end of that season

 

I think, did I really love you?

 

Perlahan matanya terasa berat. Ia semakin lambat memainkan pianonya.

 

Somwhere, all those times that we were together

 

I look back to those time

 

As if I could touch it

 

As if it was yesterday

 

Hyun Woo terjatuh menimpa piano. Kini tak ada suara nafas, hanya keheningan yang memenuhi.

 

Kim So Hyun, I love you till the end.”

 

-The End-

 

Gimana, bagus nggak? Mohon diberi komentar, soalnya aku masih pemula dan butuh saran. Terima kasih sudah mau membaca!

About fanfictionside

just me

32 thoughts on “FF oneshot/ WITH YOU IN ONE APARTMENT

  1. keren!!
    aku ngga nyangka bnget kalo trnyata itu variety show, kirain mreka di sekap mafia..,haha
    oh iy, adegan terakhir terinspirasi dari mv jin-gone yah? ^^

  2. keren !!!! bikin nangis aja T.T tanggung jawab thor…
    bacanya sambil dengerin lagu boa love letter makin mewek … so hyun polos ya >_< aku suka aku suka … hyun woo T.T kasian sekali … so hyun pasti sakit hati T.T … nggak kebayang klw di posisi so hyun…
    author daeebaaaakkkkkk !!!! #tepuk kepala(?)

  3. di kira mrka di sekap sama siapa, ternyata buat shownya hyunwoo. hyunwoo jg kasian krna dia mati.keep writing thor ><

  4. aq kira beneran ternyata variety show…
    sedih bgt jalan critanya knp sad ending kasian so hyun dia jg slah paham sma prasaan hyun woo…
    tp ttp daebak thor critanya…
    d tgg y ff lainnya..
    faito…
    ↖(^ω^)↗↖(^ω^)↗↖(^ω^)↗

  5. ini ceritanya kek drama Ma Boy lohh?😮
    kim so hyun artis cilik itu hyun wo yg jd irene di ma boy😀 tp keren ceritanya terkurung apag khbsan bahan mknn(?)
    ditunggu ff yg lainnya ya klo bisa BTS *apa ini😀

    • Beneran mirip? Hehe aku gak tahu😀
      Kalau dalam imajinasi aku, makanannya banyaak banget di sana. Kalau bisa 5 kulkas *apa apaan nih
      Nanti aku coba bikin BTS ya😀

  6. Pingback: With You in One Apartment | EXO High School

  7. Aaaa kerennnn reader baru nih^^
    Wahhh wahhh sama aku juga bisa main lagu somewhere over the rainbow pake piano sama biola^^ that’s myfavorite song ever ^^
    Keep writting and fighting !!!^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s