FF/ MAN IN LOVE/ pt. 3 / super junior


Author: AlvianyHwang

Title: MAN IN LOVE  pt. 3

Cast:

+ Anne Keigo

+ Flo

+ Choco Park

+ Lee Hyuk Jae

+ Cho Kyu Hyun

+ Kim Ye Sung

+ Other SuperJunior members

Length: chapter

Genre: romance, life

 

ROMANCE HIGH SCHOOL 3

 

 

 

**

 

 

Paris di sore hari.

Dengan warna langit yang sedikit mendung, seorang wanita berwajah asia terlihat sedang duduk di tepi taman place des Vosges tepat menjorok pada air mancur taman kota Paris itu. Choco –nama gadis itu- tidak mempedulikan hingar bingar sekitar taman. Konsentrasinya lebih tertuju pada laptop di pangkuannya dan merangkai berbagai kata menjadi sebuah tulisan.

Jika ia sudah tenggelam dengan dunia menulisnya ia akan melupakan sekitarnya dan bahkan tidak mendengar suara seseorang memanggilnya.

Senyuman terukir di wajah gadis itu ketika ia kembali membaca hasil rangkaian kata yang ia buat. Cukup puas dengan hasilnya.

Mata gadis yang terhias kacamata berbingkai merah marun itu akhirnya mengedar ke sekeliling taman places des Vosges setelah tadi sibuk berkutat pada laptopnya. Senyum Choco masih mengembang. Ia menghirup udara sore di sekitar taman dengan mengulet. Ia pun kembali menatap sekitar taman. Hembusan angin sore membuat rimbunan daun dari pohon ek sedikit rontok dan terjatuh di jejalan setapak taman yang di balur pasir lembut bewarna putih.

Beberapa penduduk setempat ataupun turis tengah duduk-duduk di rumput taman yang terasa lembut sebagian juga ada yang duduk di bangku antara jalanan setapak taman dan berkutat dengan laptop ataupun buku mereka.

Dari kejauhan juga terdengar alunan music yang berasal dari pemusik jalanan sekitar taman.

Pandangan Choco terhenti ketika ia melihat sosok lelaki yang ia kenali dari jauh. Matanya memicing untuk menegaskan pandangannya.

Lelaki berwajah asia, berambut coklat kegelapan, matanya yang selalu menyiratkan keingin tahuan dan lelaki itu juga menenteng kameranya.

Cho Kyuhyun. lelaki yang dulu memotretnya di taman ini juga, tepatnya di jalan setapak taman itu.

Lelaki itu terlihat sibuk memotret pemandangan sekitar dengan kameranya. Sebentar ia mengecek hasil bidikannya dan lalu kembali menekan tombol kameranya itu ke arah yang menurutnya terlihat bagus.

Terkadang ia memotret pohon ek, lalu patung knight and horse di pintu awal taman dan berbagai tempat lainnya yang menurutnya menarik.

Choco memasukan laptop kedalam ranselnya dan beranjak. tanpa ragu ia melangkah kakinya kearah Kyuhyun yang masih belum menyadari keberadaannya.

Sekarang lelaki itu malah mempusatkan lensa kameranya pada air mancur yang berada tepat di tengah taman. Padahal tadi itu adalah tempat di mana Choco duduk. Jika gadis itu tidak beranjak dan mau menunggu sebentar mungkin saja lelaki itu yang akan merasa sudah melihatnya lebih dulu.

Ketika asik memotret Choco pun menepuk pundak Kyuhyun dengan keras hingga membuat lelaki itu tersentak dari posisinya. Dengan cepat Kyuhyun menoleh kebelakang untuk mencari tahu siapa yang sudah menepuk pundaknya dengan keras, ia yakin hasil bidikannya pasti sangat buruk.

Tapi niat Kyuhyun untuk mengomel terhenti ketika mendapati sosok Choco sudah berdiri di belakangnya. Ekspresi kalem lelaki itu langsung berubah menjadi tegang, mata lelaki itu melebar. Choco menatap Kyuhyun dengan kerutan kening yang tertampak jelas di wajah gadis itu. kyuhyun tidak tahu harus mengatakan apa bahkan untuk meneguk air liurnya sendiri saja sudah susah.

 

“kau orang Korea juga kan?”

Tanya Choco. Bola mata hitam indahnya menatap lekat ke mata Kyuhyun. mata cantik gadis itu seperti menghipnotis Kyuhyun untuk terus diam dan menghilangkan pikiran normal lelaki itu.

“hey.” Choco mengibaskan tangannya di depan wajah Kyuhyun. kyuhyun mengedip, ia mulai tersadar dari lamunan bodohnya itu.

Ia berusaha bersikap normal dan menjawab pertanyaan Choco tapi dengan bodohnya ia malah melupakan pertanyaan Choco.

 

“Choco Park. aku orang Korea.” Choco menyodorkan tangannya kearah Kyuhyun untuk bersalaman. Kyuhyun menatap tangan Choco yang terambang di hadapannya, seperti menunggu balasan dari tangannya.

Karena ia tidak mau meninggalkan kesan buruk dari dirinya ia pun dengan cepat dan setengah gugup membalas jabatan tangan Choco. Ia langsung bisa merasakan kulit halus Choco seperti menyengat tubuhnya. Tapi Kyuhyun tetap berusaha menyembunyikan apa yang ia rasakan saat ini.

 

“Cho Kyuhyun. aku juga orang Korea.”

 

 

 

 

 

-café carette-

 

Choco dan Kyuhyun kini tengah duduk berhadapan di dalam sebuah café yang masih berada di daerah taman place des Vosges. Suasana di dalam café yang di dominasi dengan tembok putih besar berbatu antik. Mereka berdua duduk di meja yang berada tepat di samping pembatas arah luar café dan itu membuat mereka bisa melihat pemandangan sekitar taman kota itu.

Entah pemikiran darimana ketika Kyuhyun dengan spontan mengajak Choco untuk meminum kopi bersama dengannya dan jauh dari dugaannya tentang reaksi Choco, gadis berambut ikal itu malah menerima tawaran Kyuhyun dengan senyuman sumringah.

Dan kini, sembari menunggu pesanan cappuccino coffee mereka di meja yang sudah mereka tempati, Choco terlihat memusatkan tatapannya pada pemandangan sekitar taman. Ia memangku dagunya dengan telapak tangan.

Kyuhyun yang duduk di hadapannya menatap sesekali Choco. Gadis itu belum mencoba memulai pembicaraan dan malah asik menatap sekitar café atau taman.

Mungkin karena Choco terlihat asik itu membuat Kyuhyun merasa bebas memandang gadis itu dengan lamat. Ia ingat ketika pertama kali ia dan Choco berkenalan di café Anne. Gadis itu terlihat malu-malu di hadapannya dan ia sempat tidak menyangka dengan sikap Choco yang seperti ini.

Menepuk pundaknya dengan keras dan memasang senyum lebar lalu menerima tawarannya untuk minum kopi bersama.

Pelayan lelaki pun datang dengan nampan di tangannya. Pelayan itu menaruh cangkir putih berisi cappuccino coffee yang cream diatasnya membentuk gambar sebuah bunga. Ia juga meletakan piring berisi 1 slice red velvet cake untuk Kyuhyun dan satu untuk Choco.

Choco mengucapkan terimakasih pada pelayan itu dengan senyuman. Wanita itu pun kini memusatkan perhatiannya pada cappuccino coffee di hadapannya.

 

“hmmm.” Gumamnya menghirup wangi dari kepulan asap coffee itu. dan bodohnya Kyuhyun masih tetap menatap kearah Choco tanpa peduli dengan coffee dan kue miliknya sendiri.

“sayang sekali untuk meminumnya, nanti hiasan creamnya akan hilang.” Gumam Choco lagi memanyunkan mulutnya. Tapi pada akhirnya wanita itu tetap menyerup coffee di tangannya itu. mata gadis itu terpejam ketika menikmati coffee itu. ia pun menjilat ujung atas bibirnya sendiri yang menyisakan air coffee seraya menaruh cangkir coffee dengan pelan.

Akhirnya mata Choco mengarah pada Kyuhyun dan membuat lelaki yang sedari tadi menatapnya itu langsung membuang pandangan dengan gugup. Kyuhyun meraih cangkir coffee-nya dengan tangan sedikit gemetar dan menyerup coffee itu tanpa terlihat menikmatinya sama sekali.

Choco berdecak melihat tingkah Kyuhyun. ia memangku dagunya seraya menatap kearah lelaki itu.

 

“apa kau selalu seperti ini?” Tanya Choco. Untung gadis itu menggunakan bahasa korea yang membuat Kyuhyun tidak harus berpikir cukup lama untuk mengerti apa yang Choco ucapkan. Ia masih mengira Choco adalah orang asing. Lebih tepatnya gadis Korea yang mempunyai keturunan.

Kyuhun mengangkat satu alisnya. Mencoba mengerti apa maksud Choco bertanya seperti itu.

“dengarkan aku.”

Choco mencondongkan tubuhnya dengan memangku tangannya pada meja. Menatap kearah Kyuhun.

“Aku ingin bertanya satu hal padamu, apa kau yang telah memotretku di taman jardin du Luxembourg dulu? Lelaki yang mengenakan scarf abu-abu dan coat hitam?” Tanya Choco tanpa ragu. Ia sudah tidak mau bersikap malu-malu lagi. Rasa penasarannya memang mengalahkan segalanya, termaksud rasa malunya.

Kyuhyun diam. Dia juga kini mulai terlihat bisa merilekskan dirinya sendiri. Ia menatap Choco dengan lamat. Perlahan tangannya meraih cangkir coffee dan menyerupnya dengan santai. Choco masih menunggu apa yang akan lelaki itu katakan. Kyuhyun meraih kameranya dan memasukannya kedalam ransel, ia pun beranjak dari duduknya. Choco menatap Kyuhyun bingung.

“aku akan mengatakan semua kebenarannya padamu jika kau mau menemaniku berjalan-jalan di istana Versailles rabu ini.”

Choco mengerutkan keningnya bingung.

“istana Versailles?”

Kyuhyun mengagguk. Wajahnya datar. Ia tidak memasang ekspresi apapun.

“ke-kenapa?”

Kyuhyun tidak menjawab pertanyaan Choco. Ia berjalan meninggalkan Choco di Café sendiri. Choco terdiam. Ia menolehkan wajahnya untuk bisa melihat punggung Kyuyun yang mulai menjauh meninggalkan café.

 

***

 

“istana Versailles?”

Anne menatap Choco dengan terkejut. Ia menghiraukan novel di tangannya karena terlalu terkejut dengan ucapan Choco. Choco diam. Setelah memberi tahu semuanya pada Anne, ia lebih memilih untuk diam menunduk mengamati cangkir teh maple di mejanya.

“maksudmu Kyuhyun mengajakmu berkencan di istana Versailles?”

Choco kini gantian terkejut menatap Anne.

“a-apa yang kau bicarakan! Itu tidak mungkin!!”

“lalu apa alasan dia mengajakmu ke istana Versailles? Belum ada seminggu kalian bertemu. Apa dia tertarik padamu?”

Anne mengangkat tangannya, menunjukan pose bingungnya yang selalu ia tunjukan pada Choco. Choco menundukan kepalanya, ia mengusap-usapkan ibu jarinya pada sisi cangkir.

“apa kau ingat ketika aku menceritakan soal lelaki yang mengambil gambarku diam-diam di jardin du Luxembourg?”

Anne sedikit mengingat.

“ah, ya. Aku ingat. Lalu?”

“bagaimana reaksimu jika itu adalah Kyuhyun?”

Anne menghentikan tangannya untuk meraih cangkir kopinya. Ia menatap Choco dengan mata melebar.

“Kyuhyun?? jadi dia??”

Choco mengagguk lemas.

“astaga. Kalian bertemu hari itu juga di café-ku. Dan dia teman dari Donghae. Kebetulan macam apa ini?”

Anne menggelengkan kepalanya seraya melipat tangannya.

“apa aku harus pergi ke istana Versailles?”

Choco menatap Anne. Mengharapkan saran dari sahabatnya itu. ia benar-benar bingung sekarang, meskipun ia pikir apa yang Kyuhyun bicarakan adalah hal yang tidak perlu ia pikirkan, tapi tatapan lelaki itu begitu terpatri dalam ingatannya saat ini.

“kau sendiri ingin mengikuti ajakan lelaki itu?” pertanyaan Anne semakin membuat Choco bingung.

“ingin tapi tidak ingin.”

Anne mengerutkan keningnya ketika mendengar jawaban Choco.

“ingin tapi tidak ingin?” Anne mengulangi apa yang Choco ucapi. “maksudmu?”

Anne masih menatap Choco. Ia tidak pernah melihat Choco bersikap seperti itu sebelumnya. Biasanya ia hanya sibuk dengan dunianya sendiri, dan yang bisa menganggu kehidupannya itu hanyalah secangir teh maple. Semua pikiran Anne terhenti ketika melihat sosok lelaki berambut kecoklatan memasuki café-nya. Mata gadis itu melotot lebar mendapati siapa sosok itu.

Hyukjae. Anne bisa mengenalinya dengan cepat meski lelaki itu terlihat mengganti warna rambutnya. Lelaki itu terlihat datang sendiri.

“apa yang lelaki sial itu lakukan disini?” gumam Anne kesal menatap Hyukjae sinis dari kejauhan. Choco ikut menoleh menatap lelaki yang Anne maksud.

“dia lelaki yang kemarin membuatmu mengguyur dirimu sendirikan?” Tanya Choco masih menatap Hyukjae. Anne berdecak.

“gara-gara dia rambutku jadi bau cola.” Anne meraih rambutnya sendiri dengan masih memasang wajah cemberutnya.

Choco menggeleng kepala melihat temannya itu. ia memang sudah bisa menebak betapa bencinya Anne pada Hyukjae. Ia sudah sangat mengenal bagaimana Anne, dia itu wanita yang tidak akan pernah bisa meluluhkan hatinya pada orang yang paling ia benci.

Anne yang mengamati Hyukjae dari tempatnya duduk sekarang menatap lelaki yang tengah duduk di bangku café sisi jendela seorang diri.

“apa sih yang lelaki itu lakukan?” omel Anne kesal.

“dia seperti sedang sedih.”

Anne menatap Choco masih dengan tampang sinisnya.

“sedih? Kau bercanda? Dia itu lelaki yang tidak punya perasaan. Tidak mungkin dia bisa merasakan sedih, lagipula untuk apa dia menenangkan dirinya di café-ku?? Dia tahu jika aku tidak menyukai dia ada disini!”

Choco menghela nafasnya. “Anne, kau sudah mempunyai pacar, tapi kau masih tidak bisa membedakan sifat lelaki berdasarkan apa yang ia rasakan saat ini.” Ucap Choco pelan.

Anne mengerutkan keningnya, bingung dengan ucapan Choco. Kata-kata yang jarang Choco ucapkan.

“mungkin dia sedang mencari hiburan disini. hmm, mungkin kau itu hiburannya untuknya.”

“A-apa katamu??? You kidding me, right??.” Anne semakin mengerutkan keningnya, tidak setuju begitu saja dengan apa yang Choco pikirkan.

“kau buktikan saja sendiri. Kau datangi dia dan lakukan perdebatan yang biasa kau lakukan dengannya.”

“kau meragukan!”

“aku seorang novelis yang bisa memikirkan plot cerita. Berbeda denganmu yang hanya sibuk memikirkan bisnis café-mu, Anne Keigo.” Choco menatap Anne dengan tatapan menyebalkannya. Anne berdecak kesal. ia memang setuju dengan apa yang Choco katakan tentangnya.

“kenapa aku harus? Aku tidak berniat untuk menghiburnya. Tidak sekalipun! Biar saja dia merasa sedih sekarang, itu imbalan telah membuatku- AH! Apa yang lelaki itu lakukan! Lagi-lagi menggoda pelayan disini!”

Dengan cepat Anne beranjak dari bangkunya. Meninggalkan Choco untuk menghampiri Hyukjae yang memang tengah berbicara dengan pelayan di café gadis itu. Choco tersenyum melihat tingkah temannya itu. padahal Hyukjae hanya terlihat sedang memesan makanan dengan pelayan itu. sepertinya Anne memang hanya mencari alasan untuk bisa menghampiri Hyukjae.

 

Dengan langkah kasar Anne menghentakan kaki terbalur stiletto merahnya. Ia menatap lurus kearah Hyukjae. Pelayan cafenya sudah pergi meninggalkan lelaki itu.

Anne berdiri di hadapan Hyukjae dengan posisi tangan terlipat di depan dadanya. Hyukjae mengangkat kepalanya. Menatap Anne dengan tatapannya yang tidak biasa. Tatapan yang tidak pernah Anne lihat sebelumnya.

 

*

 

 

Flo baru saja menapakan heels-nya di lantai kantornya, ia menghentikan langkahnya mendapati kantornya di penuhi dengan hiasan bunga ucapan selamat. Flo mengerutkan keningnya bingung. Tidak mengerti dengan keadaan kantornya. Beberapa teman sekantornya juga tengah sibuk mondar-mandir di sekitar ruangan pegawainya.

“apa yang terjadi?” Flo menghentikan langkah Patricia, temannya yang tengah membawa tumpukan kertas bewarna merah muda. Gadis itu terlihat sibuk tapi ia putuskan berhenti berjalan dan meladeni Flo.

“kau tau Choi Siwon?”

Flo mengerutkan keningnya lagi.

“astaga, kau memang bukan orang yang mengikuti perkembangan K-POP Flo. Dia itu aktor Korea yang tengah memulai karirnya di dunia Hollywood. Ku harap kau bercanda saat ini.” Patricia menggelengkan kepalanya.

“baiklah. anggap aku memang tidak mengenalnya. Lalu apa yang terjadi dengan keributan ini?”

“Choi Siwon akan bekerja sama dengan majalah kita dan hari kedatangannya itu tepat di hari ulang tahunnya.”

Ucap Patricia dengan cepat. Berharap Flo akan segera mengerti. Patricia meninggalkan Flo dan kembali melanjutkan pekerjaanya yang tadi sempat terhambat karena gadis itu.

Flo mengangkat bahunya. Ia berjalan kearah mejanya dengan masih melihat sekelilingnya. Terasa aneh saja, apa spesialnya seorang Choi Siwon sampai harus mendesain ruangan kantor seperti ini. Tidak cuman ruangan kantor bagi pegawai, bahkan di lobi saja juga di beri hiasan bunga.

Flo berhenti memusingkan itu semua. Ia meraih kopi yang sudah tersedia di mejanya dan menyeruputnya. Saat menyerup kopinya itu tatapannya mengarah pada pintu ruangan Yesung. Kejadian malam itu kembali terbayang di ingatannya.

Biasanya ia selalu takut jika sudah melakukan hal yang bodoh di hadapan Yesung, tapi sekarang ia sudah tidak memikirkan hal itu lagi. Bahkan ia sudah bisa mempersiapkan diri jika Yesung tiba-tiba memecatnya atau memotong gajinya seperti yang selama ini selalu lelaki itu katakan untuk membuat Flo takut.

Urusan semalam dengan pekerjaan jelas berbeda. Jika Yesung bisa professional dia pasti tidak akan menyangkut pautkan soal semalam dengan pekerjaan. Saat mata Flo terus mengarah pada pintu ruangan Yesung tiba-tiba pintu bewarna coklat itu terbuka. Mata Flo melebar melihatnya dan itu membuatnya tersedak air kopi. Yesung keluar dari ruangannya. Mata sipit lelaki itu langsung mengarah pada Flo. Flo berusaha mencari kesibukan lain dengan memainkan komputer yang ada di hadapannya.

Yesung tidak ambil pusing soal itu. lelaki itu berjalan melewati Flo tanpa menatap kearah gadis itu.

Saat Flo merasa Yesung sudah cukup jauh darinya, Flo menolehkan kepalanya untuk melihat Yesung. Lelaki itu benar-benar berjalan tanpa mengucapkan basa-basi sekedar minta maaf soal kemarin. Tetapi tidak mungkin juga lelaki berambut hitam itu mengucapkan kata maaf dari mulutnya. Gengsinya terlalu besar. Sama dengannya juga.

“Choi Siwon sudah datang? Kalau begitu segera siapkan semuanya.”

Ujar Patricia menatap seluruh pegawai. Flo menatap semuanya. Disini hanya dia saja yang tidak tahu soal kedatangan lelaki bernama Choi Siwon itu.

Seluruh pegawai berjalan kearah lain. Disaat itu juga Thea, sahabat Flo di kantor baru datang dan duduk di samping gadis itu.

“kau tahu soal Choi Siwon?” Flo langsung bertanya pada Thea, dia merasa butuh banyak tahu semuanya, biarlah ia menjadi Flo yang selalu ingin tahu.
“Cho-I sewon?” Thea mengerutkan keningnya. Logat Rusia gadis itu terdengar sulit untuk mengucapkan nama Korea.

“Choi Siwon. Dia aktor Korea. Kau tidak tahu jika dia akan kesini?” jelas Flo lebih rinci lagi. Meskipun ia bertanya hal itu ia sudah sangat tahu jika Thea juga tidak tahu menahu soal kedatangan lelaki bernama Choi Siwon itu.

“ah aku tidak tahu soal ini.” Thea mengerutkan keningnya bingung. Ketika mendengar suara ribut dari luar Thea dan Flo kompak menolehkan kepala mereka.

“tertarik untuk melihat?”

“itu harus.”

Flo dan Thea berdiri dari posisi duduk di bangku mereka. Berjalan di antara kerumunan manusia yang dari pandangan mereka terdapat blitz-blitz kamera.

Saat itu juga Flo bisa melihat sosok Yesung dan lelaki tinggi berwajah tampan saling berpelukan layaknya sahabat yang baru bertemu setelah sekian lama.

“Itu Choi Siwon?” Thea mengamati lelaki yang kini merangkul Yesung dan tersenyum di antara blitz kamera dari beberapa redaksi majalah di lobi gedung.

“seberapa hebatnya dia hingga membuat beberapa wartawan dari majalah lain ikut datang kesini?” ucap Thea lagi.

“kau pernah melihat tampangnya?” Tanya Thea menunjuk Siwon.

“tidak. Aku memang tidak terlalu hobi meladeni berita dunia hiburan, itu sebabnya perusahaan majalah ini menempatkanku sebagai sekretaris tuan Yesung.”

“sama denganku.”

Saat tengah mengamati sosok lelaki bernama Siwon itu, tiba-tiba mata tajam Yesung mengarah pada Flo, Flo juga menatap Yesung.

Dari jauh Yesung seperti berbicara sesuatu pada Siwon dan Siwon tiba-tiba menatap kearahnya juga. Flo mengerutkan keningnya bingung. Ia menyadari jika kedua lelaki itu tengah membicarakannya.

Hingga mata Yesung benar-benar jelas terarah padanya. Yesung mengangkat tangannya dan memberi aba-aba agar Flo mendekat di antara mereka.

“tuan Yesung memanggilmu.” Thea juga tersadar dengan maksud Yesung. Flo diam. Dia memperjelas tatapannya pada Yesung mencari tahu apakah lelaki itu benar-benar memanggilnya. Tapi jelas itu memang maksud dari lelaki itu.

Flo melangkahkan kakinya langsung kearah Yesung dan Siwon. Sembari menunggu Flo mendekat Siwon seperti menatapnya dari atas hingga bawah.

“kenalkan. Ini sekretarisku. Perkenalkan dirimu.” Yesung menatap Flo. Flo sempat menatap Yesung tapi ia akhirnya menatap Siwon dengan ramah.

“saya Flo, sekretaris tuan Yesung.”

Siwon mengangkat satu alisnya.

“warga Negara?”

Flo terdiam. Apa lelaki ini tengah menanyakan dari mana ia berasal? Flo berdehem pelan.

“saya berasal dari Thailand.”

Siwon mengagguk-angguk tetap menatap Flo dari atas hingga bawah. Siwon tersenyum. Ia menyodorkan tangannya.

“Choi Siwon, kau bisa memanggilku Siwon.” Ucap lelaki itu dengan senyuman berlesung pipi yang ia tunjukan pada Flo.

“hari ini dia akan menjadi aktor yang bekerja sama dengan perusahaan majalah kita, dan dia tengah berulang tahun hari ini.” Ucap Yesung menatap Flo datar. Flo diam. Yesung dan Siwon juga diam, seperti menunggu reaksi Flo. Flo tersadar dengan apa yang mereka tunggu. Ia tertawa mencoba mencairkan suasana.

“selamat ulang tahun tuan Siwon!” ucap Flo berusaha tersenyum meski ia tahu pasti sekarang senyumnya terlihat dipaksakan.

Siwon juga tersenyum, meski lebih terlihat tertawa di banding tersenyum. Siwon menatap kearah Yesung. Ia tersenyum dengan arti lain pada Yesung.

“Kim Yesung. Kurasa dia gadis yang menarik.” Ucap Siwon pelan setengah berbisik. Yesung diam, Flo juga diam tidak mengerti dengan apa yang lelaki itu ucapkan.

Siwon memasang smirk di wajahnya.

 

“aku rasa sudah menemukan mana kado ulang tahun untukku, man.”

 

*

 

Semua selalu Hyukjae lakukan memang tidak pernah benar di mata Anne. Begitu juga semua yang lelaki itu ucapkan, baginya itu hanyalah sebuah lelucon yang tidak harus diingat lagi.

Tapi sekarang lelaki yang merubah warna rambutnya itu hanya diam menatap pemandangan jejalanan kota Paris dari jendela café Anne. Tak ada yang lelaki itu ucapkan meskipun sekarang Anne tengah duduk di hadapannya. Menatap bingung Hyukjae dan sifat anehnya itu.

Anne ingin bertanya apa yang terjadi, tapi pikirannya terus berargumen jalan apa yang harus ia ambil. Berbicara atau tetap diam?

Dari bangku lain Choco juga menatap bingung kearah keduanya. Melihat Anne dan Hyukjae yang terus diam tanpa terlihat berbicara.

Anne yang sedari tadi terus diam akhirnya menghela nafas beratnya. Ia mencondongkan badannya seraya menumpukan tangannya pada meja dan menatap Hyukjae lamat.

any problem?

Tanya Anne pada akhirnya. Hyukjae tidak bergeming. Lelaki itu tetap menatap suasana jalanan dari jendela.

“kau terlihat aneh.” decak Anne masih menatap Hyukjae penuh dengan selidik. Hyukjae tersenyum masih tetap menatap suasana jalanan. Ia memejamkan matanya.

“menurutmu aku aneh?” Tanya Hyukjae pelan.

Anne menghela nafasnya lagi hingga akhirnya ia mengagguk. Hyukjae akhirnya menatap Anne dengan matanya yang entah kenapa terlihat teduh di mata Anne.

“kau pernah merasa patah hati?” Tanya Hyukjae. suaranya yang terdengar serak dan parau.

“patah hati?” Anne mengerutkan keningnya.

“kau tidak akan pernah merasakannya Anne. Kau mempunyai Donghae disisimu, hidupmu lengkap.” Hyukjae yang kini menghela nafasnya.

“kau patah hati?”

Hyukjae diam tak menjawab pertanyaan Anne. Semua pepatah memang benar. Kau tidak akan bisa mengucapkan sepatah katapun ketika kau merasa kesedihan yang bahkan tak bisa kau ungkapkan dengan kata-kata.

“apa gadis itu? Ashley?” Anne mengangkat satu alisnya mencoba menebak masalah Hyukjae. Hyukjae memejamkan matanya dengan kembali menghela nafasnya. Anne sudah dapat menduga jika penyebab tingkah aneh Hyukjae saat ini benar-benar karena gadis Paris itu.

“aku tidak akan menjawabmu, bisakah kau membawaku ke tempat yang menyenangkan? Aku benar-benar butuh hiburan yang tenang. Selain club tentunya.” Ujar Hyukjae menyenderkan tubuhnya pada kursi café, ia memang terlihat lelah.

Taeri bingung apa yang harus ia katakan pada lelaki itu. ini juga baru pertama kali ia bisa berbicara setenang ini dengan Hyukjae. Tatapannya yang mengarah pada Choco tiba-tiba memberinya satu ide cemerlang yang baru terpikir di kepalanya.

Anne menatap Hyukjae dengan mengangkat satu alisnya.

 

“apa kau berniat pergi ke istana Versailles?”

 

***

 

Flo memasuki ruangan Yesung ketika lelaki itu memanggilnya untuk menemuinya. Sudah beberapa jam setelah kedatangan Siwon dan lelaki yang bersikap nyentrik itu akhirnya pulang dari kantor Yesung. Flo tidak terlalu menyukai tingkah dan tatapan Siwon yang membuatnya risih. Bahkan ketika melewati mejanya Siwon seperti menggodanya dengan mengedipkan satu matanya pada Flo. Flo tidak menyukai itu.

Banyak yang bilang Flo begitu beruntung bisa membuat sosok sempurna seperti Siwon meliriknya, tapi secara keseluruhan Siwon bukanlah type ideal Flo. Ia tidak menyukai lelaki genit dan sok tampan sepertinya.

Yesung sempat terdiam beberapa saat membiarkan Flo berdiri mematung di hadapan meja kerjanya. Flo masih menunggu apa yang akan Yesung katakan padanya. Yesung mengurutkan tangannya pada sisi atas hidungnya, seperti menghilang rasa pusing dengan berjuta pemikiran yang harus ia tangani sekarang. Termaksud masalah Flo saat ini.

Yesung menatap Flo dengan mata dinginnya, mata yang seakan tidak pernah mencair. Flo masih menunggu.

“kau sudah mengenal dengan baik Choi Siwon?”

Pertanyaan memuakan. Flo memutar bola matanya dengan malas. Kenapa hari ini semua orang terus mengucapkan nama lelaki itu?
tapi jika tidak menjawab pertanyaan Yesung bisa-bisa ia akan semakin membuat bossnya itu marah.

“tidak terlalu.” Hanya itu yang Flo ucapkan. Ia malas menjawab pertanyaan Yesung dengan kalimat panjang. Yesung diam. Sepertinya ia sadar dengan perasaan Flo. Yesung berdecak, memicingkan matanya.

“begini, aku akan to the point sekarang. Aku butuh pertolonganmu, benar-benar sebagai seorang sekretaris perusahaan ini.” Yesung menatap Flo tajam. Flo mengerutkan keningnya, pertolongan?

Yesung memain-mainkan jemarinya, diam untuk mencari kata-kata lain.

“ini tentang choi Siwon.”

“Choi Siwon?” Flo semakin mengerutkan keningnya. Semakin tidak mengerti dengan maksud Yesung. Yesung kembali berdecak, lidahnya terasa kelu untuk mengucapkannya.

“bisakah kau menjadi kekasihnya?”

Pertanyaan Yesung spontan langsung membuat mata Flo melebar terkejut. Ia mengangakan mulutnya.

“mak-maksud anda????”

“ini demi perusahaan. Choi Siwon mengatakan ia tertarik padamu. Kerja sama perusahaan ini dengan perusahaan yang dimiliki Siwon akan semakin sempurna jika kau turun tangan untuk melakukan hal itu.” jelas Yesung dengan nada santai, atau mungkin berusaha untuk terdengar santai?

Flo menatap Yesung tidak percaya. Kata-kata yang lelaki itu keluarkan sangat tidak masuk akal.

“KAU MENJUALKU???”

“ini bukan soal menjual, nona Flo. Ini permainan bisnis. Aku akan menambah gajimu serta royalti besar jika kau berhasil melakukan tugas ini.”

“omong kosong! Itu sama saja kau menjualku! Kau memaksaku untuk menjadi kekasih Choi Siwon itu, apa dia pikir semuanya akan ia dapatkan dengan mudah meskipun ini Paris! Ini memang Paris! Tapi ingat! Aku bukan warga Negara Paris yang berpikiran bebas!” Flo sudah tidak mempedulikan kelancangannya lagi, toh ini sudah entah keberapa kali Flo bersikap lancang dengan Yesung.

Yesung menatap Flo dengan dingin. Ia membuang tatapannya.

“keluar dari ruangan ini, besok kau harus menemui Siwon di Hotel ammaure untuk makan malam.”

Bibir Flo bergetar.

“aku tidak ma-“

“KUBILANG KELUAR SEKARANG JUGA!!!!”

Suara bentakan Yesung mungkin bisa terdengar dari luar. Mata Flo memerah. ia menatap Yesung penuh kebencian. Flo melangkah keluar dari ruangan Yesung dan menutup pintu ruangan itu dengan dobrakan keras. Bersiap menumpahkan seluruh tangisnya.

Yesung menghela nafas berat. Entah apa yang ia pikirkan saat ini, ia sendiri tidak tahu langkah apa yang harus ia ambil. Flo benar-benar mengganggu pikirannya saat ini.

Gadis itu, sekretaris bodohnya.

 

TBC

About fanfictionside

just me

5 thoughts on “FF/ MAN IN LOVE/ pt. 3 / super junior

  1. choco ama kyuhyun lg proses ta’aruf yak? (?)
    lanjut thoooor~~ klo bsa kyuhyun nya lbh agresif lf yak? (?)
    cieee cieee flo ditaksir choi siwon.. lucky girl!!! ><

  2. Gua mah kalau jadi flo mending balik ke thailand jadi pawang gajah(?)
    Siwer bangey itu si siwon=_=

    Taeri apa banget dah nongol nongol di sini!! Ga lepel!! Udah kena noda kan dia(?)

    gua nyesek mulu elah baca part yeyeT.T cepet balik napa bangT.T

    wkwkwk
    bagus vi ceritanya~~
    Beda aja gitu

  3. Bang Kyuhyun malu malu tapi mau sebenarnya hehehehe
    lucu deh couple ini❤

    Enyuk oppa galau y…

    amona.. Yesung oppa jahat bgt.. Flo jangan mau.. jangan mauuuu….
    tapi kayanya Yesung itu nyuruhnya dengan rasa berat hati bgt deh.. heheheh

    Ditunggu lanjutannya y ^_^
    Fighting…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s