FF/ DARKSIDE/ BTS-bangtan/ pt. 7


Title : Darkside (Chapter 7)

Sub-chapter title :  Random?

Author : A-Mysty

Cast :   Ahn Hye Min (OC)

            Ryu Eun Soo

            Cha In Hyong

            Park Ji Min

Kim Tae Hyung

 Kim Nam Joon

The Other also coming soon…

Length : Chapter

Genre : Adventure, Love-life, School life, Mystery, Horror, Thriller, Fantasy.

Author’s Note :

Maaf kalau tidak terlalu horror, saya sedang sibuk. Jadi, jarang membaca artikel horror lagi^^ Tapi semoga tetap suka ya. kkkk~ Part ini juga lebih panjang dari sebelumnya. Satu lagi, apa yang kalian penasaran terhadap salah satu tokoh, mohon tahan dulu ya/?. Jujur saya, lebih merinding mengetik bagian romance-nya dibanding horror /?

Baiklah, Selamat membaca dan komentar masih di butuhkan^^

 

full-moon

 

 

 

 

Review:

“Tadi malam, saya dapat berita…” ujar Dokter Jung sambil mengambil sebuah map cokelat yang terlihat tebal itu. Ia berdeham sebentar.

Taehyung melipat kedua tangannya dengan santai. Hye Min menatap Dokter Jung dengan keseriusan. Jimin hanya bisa menegakkan tubuhnya. Tatapan mereka bertiga ada kesamaan, datar namun serius. Apalagi, Hye Min. Tatapan gadis itu terlihat begitu serius.

“Kalau… Nona Ryu Eun Soo meninggal dunia…” sambung Dokter Jung.

///

Mereka bertiga terkejut dengan mata yang terbelalak. Taehyung yang sedari tadi hanya santai, langsung menegakkan tubuhnya. Jimin juga langsung merubah posisi dan sikapnya. Sedangkan Hye Min, ia benar-benar terkejut dengan ekspresi yang tidak bisa di tebak. Taehyung menoleh ke arah Jimin sedikit, dan menatapnya sambil mengajak bicara. Namun, Jimin sepertinya terlalu terkejut mendengar berita itu, sehingga mengabaikan tatapan Taehyung.

“Ia meninggal di rumah sakit X dengan tenang. Mungkin, karena kecelakaan itu ia…” Dokter Jung menghentikan ucapannya ketika Hye Min langsung menyelanya dengan cepat. Gadis itu terlihat benar-benar kebingungan.

“Rumah sakit? Kecelakaan?” ujar Hye Min dengan nada yang tidak bisa di pelankan. “Aku tidak tahu kalau Eun Soo kecelakaan…”

“Kau tidak tahu? Apa kau tidak ingat, kalau kau pernah bertemu dengan ku di rumah sakit? Akulah yang menanggani Eun Soo. Aku pikir kau sudah tahu bahwa sahabatmu di rawat di rumah sakit.” sahut Dokter Jung dengan dahi mengerut.

“Ah…” ujar Hye Min dengan sedikit dengusan.

Taehyung dan Jimin hanya saling bertukar pandang panik. Karena hanya Hye Min yang tidak tahu bahwa Eun Soo dilarikan ke rumah sakit. Apalagi, mereka berdua baru saja membohongi Hye Min kemarin. Dengan mengatakan ‘tidak-ada-apa-apa’, Taehyung merasa aman untuk menutupi semuanya untuk sementara. Tapi, sepertinya itu semua gagal. Sekarang, Dokter Jung sudah mengatakan semuanya. Mereka berdua hanya bisa mengendus napas saja.

“Kau sungguh tidak tau? Apa… Taehyung dan Jimin tidak memberitahu?” ujar Dokter Jung dengan tatapan yang tidak biasa.

Hye Min langsung melempar tatapan kebingungan ke kedua temannya itu. Namun, Taehyung hanya menundukkan kepalanya. Sedangkan Jimin menatap ke lain arah. Mereka berdua sudah salah membohongi temannya terhadap Eun Soo. Hye Min mengerutkan dahinya dan tatapan jengkelnya kembali terlihat.

“Kalian tidak pernah berkata apa-apa padaku.” Hye Min berkata dengan nada yang benar-benar tidak mencerminkan suara perempuan. Ia sepertinya terlihat kesal karena di bohongi.

“Benarkah? Taehyung-ssi, bukankah kau bertemu dengan Eun Soo dirumah sakit, ketika Hye Min sudah diperbolehkan pulang?” serdik Dokter Jung dengan suara di buat-buat. Ia seperti tidak tahan untuk tersenyum licik dan tertawa.

Taehyung hanya menundukkan kepalanya, sembari mengenduskan napas. Ia mengacak halus rambutnya sendiri dengan posisi kepala yang sama. Ia hanya bisa mendecak lidah. Apa yang ia dan Jimin berusaha sembunyikan, terbongkar begitu saja.

“Taehyung-ssi?” panggil Dokter Jung lagi.

“Ya.” sahut Taehyung pelan. Hye Min langsung menoleh, dan Jimin mengembuskan napas berat. “Ya, aku menemuinya di rumah sakit yang sama tempat kau di rawat, sehari sebelum dia meninggal.” jelas Taehyung pelan.

“Kau bilang tidak ada apa-apa!” ujar Hye Min dengan dahi yang mengerut. “Kau membohongiku, ya?”

“Tahan sebentar. Aku belum menceritakan apa-apa. Bukan berarti aku membohongi kau, kan?” sahut Taehyung.

“Tapi, kau sendiri yang bilang kemarin. Bahwa, tidak ada ‘apa-apa’. Bukankah itu berbohong?” sahut Hye Min dengan suara keras.

Dokter Jung menatap pertengkaran kecil dua orang itu dengan sebuah seringaian senang. Entah apa yang ia senangi, tapi raut wajahnya terlihat begitu puas, “Kalian selesaikan masalah kalian dulu. Saya permisi keluar. Hanya itu saja yang saya katakan. Sampai jumpa.” ujar Dokter Jung cepat dengan sebuah seringaian.

Jimin hanya mengangguk saja melihat Dokter Jung yang berjalan keluar. Ia tidak tahu harus berkata apalagi. Sejak kemarin, Hye Min juga memiliki sikap yang aneh. Mudah marah dan keras kepala. Melihat perubahan sikap yang cepat itu, Jimin hanya bisa berdiam saja. Kini, Taehyung dan Hye Min masih saja bertengkar. Mau dikata apa, karena Taehyung dan dirinya memang sudah membohongi Hye Min.

“Sudah aku bilang, aku tidak membohongimu. Aku hanya belum mengatakan atau menceritakannya saja padamu.” sergah Taehyung keras. Ia menatap Hye Min yang duduk di sebelahnya tajam.

“Bukankah itu sama saja? Kenapa kau berbohong?” ujar Hye Min lagi.

“Sudah hentikan.” Jimin berkata sambil setengah bergumam.

“Bukankah sudah aku katakan, aku tidak berbohong.” ujar Taehyung lagi. Kali ini suaranya penuh dengan penekanan.

Hye Min membelalakkan matanya ketika Taehyung membentaknya seperti itu. “Kenapa kau tidak memberitahuku?” ujar Hye Min memelankan suara.

“Kapan? Saat kau masuk sekolah? Saat kau sendirian? Atau saat kau bersama Namjoon sunbae? Tinggal kau pilih salah satu di antara waktu yang sudah aku tentukan itu!” jawab Taehyung tak tanggung-tanggung.

“Kenapa kau melibatkan Namjoon sunbae?” tanya Hye Min dengan suara seperti awal.

“Kenapa? Kenapa kau membelanya?” Taehyung menatap Hye Min dengan tatapan menusuk. “Kau menyukainya?”

“Tidak! Aku hanya heran kenapa kau membawa namanya.” jawab Hye Min dengan suara meninggi. “Padahal, hal ini tidak ada hubungannya dengan sunbae.”

“Cih. Kau saja yang tidak tahu. Seorang gadis itu memang mudah terpesona dengan laki-laki, ya.” gumam Taehyung dengan setengah mendesis.

Hye Min langsung bangkit dari posisinya dengan tatapan kesal. Tangannya sudah terkepal erat. Entah mengapa baginya, Taehyung seperti orang yang ‘kurang ajar’. Kelenjar adrenalinnya sudah meningkat sejak Taehyung berkata ‘tidak-memberitahunya’.

“Jaga bicaramu! Siapa bilang aku terpesona dengan Namjoon sunbae?!” cecar Hye Min keras.

Jimin mengembuskan napas beratnya sekali lagi. Laki-laki itu juga hanya bisa diam sambil menatap pertengkaran kedua orang itu. Ia tidak tahu harus melakukan apalagi, dua orang itu sama-sama keras kepala. Tapi, ia mengaku salah membohongi Hye Min. Tidak, ini kebohongan yang terbaik untuk Hye Min. Ia ingat betul betapa sedihnya Hye Min ketika In Hyong dinyatakan hilang tanpa jejak. Bagaimana dengan Eun Soo? Gadis yang sudah menjadi sahabat dirinya dan Hye Min sejak berada di sekolah dasar.

Jika Hye Min tahu dari awal, pasti ia kan merasa terpukul. Jimin menatap Taehyung yang masih mencoba mengelak denagn kerutan di dahinya. Ia juga menatap Hye Min yang menahan amarahnya keras. Buku-buku jari gadis itu sudah memutih, karena kepalan tangan yang sangat keras. Jimin benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Ia merasa dirinya seperti perempuan yang lemah sekarang.

“Dari matamu dan tingkah lakumu,” sahut Taehyung sinis. “Perempuan itu hebat, ya?” ujarnya sambil di selingi tertawa.

Hye Min mengenduskan napas panasnya. Rasanya emosinya sudah tersulut hingga mendidih. Kepalan tangannya juga sudah tergulung sempurna dank eras. Ia menggigit bibir bagian dalamnya. Jimin yang melihat ekspresi Hye Min, langsung menegakkan tubuhnya. Ia tahu betul apa yang akan dilakukan sahabatnya itu, jika sudah menunjukkan ekspresi seperti itu.

“Coba kau katakan sekali lagi? Lebih jelas, bisa?” ujar Hye Min dengan bibir yang setengah di gigit.

Taehyung bangkit dari posisinya dan menatap Hye Min lurus-lurus. Ia mendecak lidah sebentar, lalu kembali menatap Hye Min tajam. Ia sedikit menyamakan tingginya dengan Hye Min, lalu melemparkan sebuah senyum sinis. Namun, Hye Min masih tetap dengan ekspresi yang sama. Saat itu juga, Jimin sudah bersiap untuk menahan gejolak emosi Hye Min.

“Mau aku ulang?” ujar Taehyung dengan nada menjengkelkan. “Perempuan itu… mudah terpesona dengan laki-laki, terkadang tidak tahu diri, mengatakan hal bohong untuk kepentingan sendiri, oh ya, satu lagi… Perempuan itu egois… Dan, kau adalah perempuan yang masuk ke dalam tipe itu…”

Bugh!

Hye Min langsung meninju Taehyung keras dengan kepalan tangannya yang sudah mengeras itu. Karena tidak siapa atau pun menyangka, Taehyung hanya memegangi wajahnya. Tinjuan itu sangat keras hingga sedikit bergema di ruangan itu. Sayangnya, gerakan Jimin kurang cepat. Ia tidak bisa menghalau tinjuan Hye Min itu.

“JAGA BICARAMU! DASAR SIAL!” teriak Hye Min keras.

Jimin langsung bergerak cepat. Ia menahan tangan kiri Hye Min untuk tidak meninju Taehyung lagi, atau melakukan perbuatan yang berhubungan dengan kekerasaan lainnya. Merasa tangannya ditahan keras, Hye Min terus berusaha melepaskan genggaman Jimin keras-keras.

“Tenangkan dirimu.” ujar Jimin pelan, namun emosi Hye Min masih berada di puncak. “Tenangkan dirimu!” ujar Jimin sekali lagi.

Taehyung masih memegangi pipi kanannya yang terlihat lebam, kebiruan. Tinjuan Hye Min memang memiliki kesetaraan dengan tinjuan seorang laki-laki. Tanpa di sadari, Taehyung mengeluarkan air mata di mata kanannya. Ia terus meringis kesakitan.

“Lepaskan aku.” ujar Hye Min yang menatap genggaman tangan Jimin.

“Tidak.” sahut Jimin.

“Lepas…” Hye Min meronta keras hingga akhirnya, genggaman tangan Jimin terlepas juga. Gadis itu mengambil tasnya, lalu menatap Jimin dan Taehyung bergantian dengan tatapan kebencian.

“Aku benci kalian!” ujarnya singkat, kemudian berjalan keluar dari UKS itu. Gadis itu juga menutup pintu ruangan tersebut dengan dibanting keras-keras. Hingga menimbulkan getaran ringan di sekitar ruangan.

Jimin hanya mengembuskan napasnya. Ia menatap Taehyung yang meringis dan mengeluarkan air mata itu. Pipinya berwarna kebiruan dan sedikit benjol di bagian tulang pipinya. Laki-laki itu mendekati sahabatnya sendiri dengan tatapan sedih dan rasa bersalah.

“Cara kau menyangkal, seharusnya tidak membawa nama orang lain. Bukan hanya itu, kau juga memancing amarahnya, serta merendahkannya. Apa kau yakin itu tidak kelewatan?” tanya Jimin dengan pandangan ragu.

Taehyung masih meringis sambil memegangi pipinya. Perlahan-lahan, ia mulai angkat bicara dengan suara yang sedikit aneh tercampur ringisan, “Mau… bagaimana lagi? Aku tidak punya pilihan. Kalau kita ceritakan semuanya… akh!” ucapan Taehyung terhenti, karena sebuah denyutan yang membuat pipinya ngilu.

“Hmm… Rumit memang.” ujar Jimin dengan setengah mengendus, sembari berjalan menuju rak obat UKS itu.

///

Hye Min membanting pintu UKS keras-keras. Banyak siswa-siswi lainnya langsung menoleh ke sumber suara, kemudian menatap Hye Min aneh. Bel masuk sudah di bunyikan, namun Hye Min berjalan keluar sekolah dengan langkah cepat. Ia berjalan sambil mengelap kedua matanya yang mengeluarkan air matanya.

‘Aku kecewa dengan kalian. Kenapa kalian menyimpan rahasia sendirian?’

Batinnya terus mengeluarkan untaian rasa kecewanya terhadap kedua temannya itu. Ia lebih kecewa kepada Jimin dibandingkan Taehyung. Kenapa? Karena Jimin-lah orang yang paling terpecaya baginya. Namun, hal barusan telah mengecewakannya.

Ia menagis sambil berjalan cepat. Ia terus berharap jika ia berjaln cepat seperti ini, air matanya akan mengering. Tepat di lobby, ia menabrak seorang laki-laki yang menggunakan parfum yang familiar di hidungnya. Ia tetap menutupi kedua matanya, tanpa mau melihat sosok laki-laki yang ada di hadapannya itu.

Laki-laki itu tampak kaget ketika ia menabrak Hye Min keras, “Hye Min-ah?”

Dari suaranya, Hye Min memang sudah dapat mengenalinya. Namun, gaids itu tidak menyahut. Gadis itu mulai merasakan tangisnya semakin menjadi. Rasa kekecewaannya tumpah begitu saja di hadapan laki-laki dan juga lobby yang masih dilewati siswa-siswi sekolah tersebut. Merasa mendapat tatapan aneh dari orang-orang, laki-laki itu menarik Hye Min menuju taman belakang sekolah dengan cepat.

“Ikut aku.” ujar Namjoon sambil menarik tangan Hye Min pelan.

Ketika sampai di taman belakang sekolah, Namjoon memperdilakan Hye Min duduk terlebih dahulu. Gadis itu hanya menurut saja tanpa mengatakan apa-apa. Ia hanya diam dengan wajah datar tanpa ekspresi. Bila bola matanya ditelusuri, rasa kecewa itu masih ada. Namjoon hanya mengembuskan napasnya saja.

“Kau ada masalah apa dengan teman-temanmu sampai menangis seperti itu?” tanya Namjoon pelan. Ia mulai mengambil posisi duduk di sebelah Hye Min dengan tatapan halus.

Hye Min hanya menggeleng, “Sunbae tidak perlu mengetahuinya. Karena sunbae, tidak ada urusannya dengan hal ini.” jawab Hye Min dingin. Ia tidak sama sekali menatap Namjoon sedikitpun.

“Hmm… baiklah. Omong-omong, kemarin kau melihat seekor kuda putih, ya?” tanya Namjoon santai.

Hye Min langsung menoleh ke arah Namjoon dengan dahi yang sedikit mengerut. “Darimana sunbae tahu?”

“Aku juga melihatnya…”

Lho, tunggu dulu. Bukannya, sunbae bilang tidak ada siapa-siapa, ya? Kapan sunbae melihatnya?” tanya Hye Min bertubi-tubi.

Namjoon langsung memasang ekspresi panik. Ia lupa kalau ia pernah mengatakan hal itu pada Hye Min. Ia sedikit mengendus napas, guna menghilangkan rasa paniknya. Hye Min masih menatapnya dengan tatapan bertanya.

“Apa sunbae melihatnya sekilas?” tanya Hye Min lagi.

“Y-ya. Aku hanya melihatnya sekilas.” jawab Namjoon dengan sedikit tergagap. Pertanyaan Hye Min yang barusan memang membantunya untuk menutupi rasa kepanikan yang ada di dirinya sekarang ini.

“Oh, begitu.” sahut Hye Min ringan. “Soal tadi, aku hanya kecewa dengan Taehyung dan Jimin.”

“Katanya, aku tidak perlu tahu.” sahut Namjoon dengan santainya. Hye Min kembali menatapnya dengan tatapan jengkel, “Baiklah. Kalau kau mau cerita, ceritakan saja.”

“Hmm… sepertinya tidak sekarang. Bel masuk sudah berbunyi. Aku harus ke kelas. Saat jam istirahat, bagaimana?” ajak Hye Min yang langsung bangkit dari tempat duduknya.

“Istirahat? Baiklah. Dimana?” tanya Namjoon dengan senang hati. Rasa kepanikan itu mulai berangsur menghilang.

“Di sini.”

“Baiklah. Tapi, aku tidak dapat berjanji untuk bisa datang tepat waktu. Tunggu saja, ya.” sahut Namjoon yang msaih duduk saja.

“Ya, kalau begitu aku ke kelas sekarang. Terima kasih sudah mengajakku ke sini, hanya sekedar memerbaiki kondisi batinku. Hehehe. Sampai jumpa saat jam istirahat nanti, sunbae.” ujar Hye Min. Sikapnya sangat berbeda kepada Namjoon, berbeda dengan sikapnya terhadap kedua temannya itu.

“Ya.” sahut Namjoon pendek. Ia menunggu Hye Min untuk masuk terlebih dahulu, sedangkan ia tetap pada posisinya untuk sementara.

“Ah, sial. Kenapa aku selalu lupa?” rutuk Namjoon sambil mendesis.

///

Dokter Jung kembali ke ruang UKS itu. Taehyung masih ada di sana sendirian dengan mengompres pipinya yang lebam. Jimin meninggalkannya untuk mengejar Hye Min. Melihat Taehyung masih meringis, Dokter Jung tersenyum tipis menatap laki-laki itu.

“Kau kenapa?” tanya Dokter Jung berjalan perlahan mendekati Taehyung. “Apa Hye Min memukulmu?”

Taehyung hanya mendelik saja, ia tidak menjawab sama sekali. Karena denyutan pada lebamnya begitu mencengkramnya. Namun, Dokter Jung masih menatapnya dengan sebuah senyuman. Ia seperti menunggu sahutan dari Taehyung. Dokter perempuan itu duduk di dekat Taehyung sambil tetap menunggu sahutan.

Taehyung mengendus, “Ya.” Ia hanya menyahutnya dengan sangat singkat.

Dokter Jung kembali tersenyum, kali ini semakin lebar. “Apa kau mau tahu kenapa Eun Soo meninggal?”

Taehyung menatap Dokter perempuan itu dengan keseriusan, “Tidak. Aku hanya mengetahuinya kalau ia masuk rumah sakit saja.”

“Itu karena dewa kematian sudah menjemputnya.” sahut Dokter Jung cepat.

Taehyung menatap Dokter Jung dengan dahi yang mengerut. Ia tidak menyahut apapun. Melihat tatapan dari Taehyung yang penuh dengan kebingungan, “Saya tahu kau penasaran apa yang saya maksud barusan. Kalau diizinkan, bolehkah saya mengatakannya?”

“Katakan saja.” sahut Taehyung dengan nada datarnya. Denyutan dari lebamnya semakin menjadi-jadi.

Dokter Jung tersenyum pasti menatap Taehyung, “Kau tahu tidak kalau… dia pernah minta mati agar bisa bersama ibunya?” Taehyung mendelik dan mengangguk. “Dewa kematian itu datang atas permintaannya tersebut. Makanya, kau tidak boleh berkata yang macam-macam.”

“Maksudmu?” tanya Taehyung dengan kata-kata informalnya.

“Dokter kepala rumah sakit mengatakan Eun Soo meninggal dalam tidur. Karena, dewa kematian itu hanya datang ke dalam mimpi buruknya. Jadi, di hari itu juga dewa kematian datang. Di hari itu juga ia membunuh orang ‘itu’, namun hanya terjadi di dalam mimpi. Bahkan, panggilannya sekarang saja bukan dewa kematian.” jelas Dokter Jung panjang lebar. Namun, Taehyung hanya bisa mendengarkan tanpa menyahut apapun.

“Ia akan menyimpan roh orang-orang yang sudah menjadi targetnya. Tak hanya itu, ia juga bisa mempermainkan ‘soul’ dari orang yang lemah, begitu juga dengan perasaannya. Kalau ada orang yang tiba-tiba sikapnya berbeda daripada sebelumnya, bisa jadi dewa kematian itu sedang memainkan ‘soul’ dari orang itu, lho. Mereka juga bisa menyamar menjadi apapun yang mereka mau. Bahkan, manusia sekalipun. Jadi, kau harus berhati-hati, Taehyung-ah.” sambung Dokter Jung lagi.

“Bukankah, kedatangan‘nya’ tidak bisa diprediksi?” Taehyung menyahut setengah niat. Kompresan lebamnya masih berada di pipinya itu.

“Berhati-hati jika ada orang baru yang tiba-tiba muncul. Bisa jadi dia adalah dewa kematian atau pembunuh yang tengah menyamar. Dan, orang yang awalnya marah padamu, tiba-tiba jadi baik sekali padamu. Kau tidak ingin salah satu dari temanmu di bunuh dan hilang lagi, bukan?” tanya Dokter Jung santai.

“Tidak. Itu tidak akan terjadi lagi.” ujar Taehyung pasti. Ia yakin setelah ini, tidak ada hal aneh yang terjadi lagi. Ya, tidak akan pernah lagi.

“Kalau begitu…” Dokter Jung sedikit menggantungkan ucapannya, kemudian ia bangkit dari duduknya. Ia mengembuskan napas, dan berjalan menuju pintu keluar lagi, “Kau pasti ‘kan Namjoon itu manusia atau bukan. Karena dia satu-satunya siswa baru di sini, kan? Siapa tahu dia pelakunya, dan dia adalah ‘devil’nya. Begitu juga dengan Hye Min. Mungkin ‘soul’nya juga sedang dimainkan.”

Taehyung termenung mendengar ujaran Dokter Jung. Ia merasakan apa yang ia curigai selama ini adalah benar. Batinnya sudah berkali-kali mengatakan bahwa Namjoon pelakunya. Ya, itu pasti. Pasti Namjoon adalah ‘dewa pembunuh’ seperti yang jelaskan dokter Jung. Kalau soal Hye Min, entahlah ia tidak pernah merasa ada yang ganjil dengan gandis itu.

“Saya hanya menyarankan saja.” ujar Dokter Jung santai.

Taehyung masih terdiam dengan pikiran yang teerus menggeluti perasaan dan otaknya. ‘Kenapa semakin lama, semakin rumit?!’ rutuk batinnya, ketika mendapati Dokter Jung keluar lagi UKS. ‘Gila. Ini semakin gila!’

///

Selama pelajaran berlangsung, Jimin dan Hye Min hanya diam seribu bahasa. Jimin yang sekarang duduk bersebelahan dengan Hye Min, hanya dapat membungkap mulutnya. Tatapan gadis itu juga masih sangat tajam dan sinis terhadap dirinya. Tiap kali Jimin mengajaknya berbicara, Hye Min tidak menanggapinya. Menatapnya pun tidak, apa lagi menjawabnya.

Saat pelajaran Matematika, Jimin hanya diam sambil mencorat-coret buku tulisnya. Sementara, Hye Min terlihat sibuk mencoba memecahkan sebuah soal yang cukup sulit. Entah mengapa, semangat belajarnya hilang karena rasa bersalah itu. Sesekali Jimin melirik ke arah Hye Min, namun gadis itu masih fokus dengan soal matematika yang berada dihadapannya. Lagi-lagi, Jimin hanya bisa mengembuskan napasnya.

Jam pelajaran kedua sudah hampir berakhir, namun mereka berdua tak berbicar sedikitpun. Hye Min tetap pada rasa fokusnya, Jimin masih pada pikirannya. Mereka berdua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Atau, Jimin yang gengsi mengajak obrol Hye Min. Nyalinya seperti menciut ketika harus berbicara dengan Hye Min dengan keadaan seperti ini. Ia merasa dirinya bodoh.

Bel istirahat berdering keras sekali. Hye Min menatap keluar kelas sebentar, kemudian menutup buku matematikanya. Gadis itu tersenyum singkat, dan bangkit dari tempat duduknya. Ketika ia akan meninggalkan tempat duduknya tanpa sepatah kata pun, Jimin langsung menahan Hye Min cepat. Ekspresinya sangat kalut, ia benar-benar merasa sangat bersalah.

“Maaf…” ujar Jimin dengan setengah bergumam. Ia menatap Hye Min sedih.

Hye Min membalas tatapan sedih itu dengan tatapan dingin. Ia tidak menyahut ataupun melepas tangan Jimin. Ia hanya diam menatap Jimin dingin dan penuh rasa kecewa. Hye Min tetap pada tatapan matanya yang begitu menusuk, hingga Jimin mulai berbicara lagi.

“Maaf sudah membohongimu. Aku sungguh minta maaf.” ujarnya sekali lagi. Kali ini, suara Jimin menjadi sedikit parau dan pelan. Berbeda dengan biasanya.

Hye Min hanya mendesis sinis. Ia merasa waktunya sedikit terbuang hanya untuk mendengar suara parau Jimin itu. Ketika Hye Min melanjutkan langkahnya lagi dengan melepaskan tangan yang menggengamnya, Jimin mengeratkan genggamannya.

“Maaf. Aku minta maaf. Aku dan Taehyung membohongimu karena…” ucapan Jimin terpotong oleh sahutan Hye Min yang terdengar begitu sinis.

“Karena aku dekat dengan Namjoon sunbae, seperti kata Taehyung tadi pagi?” Hye Min menjawab dengan begitu sinis. Ekspresi datar, tatapan yang menusuk. Itulah yang terbaca di wajahnya ketika menyela ucapan Jimin itu. “Sudahlah. Urus saja rahasia kalian itu.”

“Aku tahu berbohong itu salah. Aku tidak berniat menyimpan rahasia sendirian dengan Taehyung. Sungguh! Itu aku lakukan, karena aku dan Taehyung tidak ingin kau depresi lagi. Mengingat betapa depresinya kau dengan kematian dan hilangnya In Hyong… Aku tidak ingin kau juga mengetahui Eun Soo meninggal. Aku tahu betul betapa sedih dan depresinya kau saat itu. Karena itu aku dan Taehyung ingin menyimpan cerita tentang Eun Soo ini… sampai menemukan waktu sesuai. Soal Taehyung yang menyangkut pautkan pada Namjoon sunbae, itu hanya kiasan belaka. Taehyung sengaja membuatmu marah. Aku juga tidak tahu dengan jalan pikirannya. Tapi, aku yakin ia memliki maksud lain. Dia tidak bermaksud melukai perasaanmu dengan ujarannya yang begitu menusuk itu.” jelas Jimin dengan penuh keyakinan, suaranya semakin parau.

“…” Hye Min hanya diam menatap Jimin. Ia menutup matanya sebentar. Memang benar apa yang dikatakan Jimin terhadap dirinya.

“Bisakah kau memaafkanku?”

Hye Min melepaskan genggaman tangan Jimin sedikit keras. Ia menatap Jimin dingin, “Tidak, aku belum bisa memaafkan kalian.”

“Kenapa kau tidak memaafkanku?”

Hye Min mengembuskan napas beratnya. Ia merasakan buliran air bening mulai menggenangi pelupuk matanya. Sebisa mungkin ia menahan untuk tidak menangis. Hye Min memasang wajah sedingin mungkin, dan tatapan tajam kepada Jimin.

“Karena aku adalah perempuan egois seperti yang dikatakan Taehyung. Dan, aku harap setelah istirahat selesai… kau tidak duduk di sebelahku lagi.” Hye Min berujar dengan suara yang sedikit bergetar. Kemudian, gadis itu berjalan keluar kelas dengan langkah cepat.

Mendengar ujaran Hye Min, Jimin hanya bisa terdiam lesu. Ia yakin, Hye Min memasukkan ucapan Taehyung itu ke dalam batin perasaannya. Melihat Hye Min pergi dengan langkah cepat, Jimin hanya bisa mengembuskan napas frustasi.

‘Lalu, aku harus apa sekarang?’ Jimin bergumam seorang diri melalui batinnya. Matanya tetap mengekori Hye Min sampai menghilang di luar kelas. ‘Hye Min-ah, ada apa dengan dirimu?’

///

Sebelum sampai di taman belakang sekolah, air mata Hye Min sempat mengalir di kedua pipinya. Ia berjalan secepat yang ia bisa. Seperti tadi pagi, harapannya air mata ini akan cepat mongering. Dibohongi oleh seorang teman yang kau percaya, bagaimana rasanya? Kecewa. Ya, hal itu masih saja menyelubungi Hye Min. Ditambah, ia bertengkar dengan mereka juga. Batinnya semakin merasa tertekan dan sesak.

Hye Min menghentikan langkahnya di depan kursi yang tadi pagi ia duduki. Ia menatap sekitar, mencar sosok Namjoon. Namun, Namjoon ternyata belum di sana. Gadis itu hanya menghela napas pelan, kemudian duduk di kursi tersebut. Ia menatap sekitar sebentar, lalu menatap arlojinya.

“Padahal aku sudah terlambat 5 menit, kenapa sunbae belum datang juga?” Ia bergumam seorang diri sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya.

Ketika ia masih menatap arlojinya, terdengas suara helaan napas di telinganya. Hye Min langsung mengadahkan kepalanya dan menoleh ke sumber helaan. Tidak ada siapa-siapa di sekitarnya. Hanya ada tanaman bunga mawar dan pohon maple tua. Ya, pemandangan yang sudah sering ia lihat.

Hye Min menatap sekitarnya dengan posisi yang sama. Sesuatu mengejutkannya. Ketika ia menoleh ke samping kanan, tiba-tiba ada sebuah kepala wanita menatapnya. Tepat sekali di sebelahnya, ah tidak, bahkan menempel di pipi kanannya. Apalagi, kepala wanita itu hancur sebelah hingga memperlihatkan tengkoraknya.

“AKH!” pekik Hye Min kencang sambil menggeser posisinya menjauh.

Wanita tengkorak itu tersenyum aneh dengan mata yang hilang sebelah. Hanay satu mata, itu juga hanya ada bagian putihnya saja. Tak ada kornea ataupun lensanya disana. Benar-benar putih, dan memperlihatkan saraf merahnya. Wajah Hye Min seketika memucat melihat sosok itu. Wajah dari sosok itu hancur total.

Sosok itu tetap tersenyum aneh kepada Hye Min. Sedangkan, Hye Min masih menggeser duduknya menjauhi sosok wajah itu. Hingga pada akhirnya, tubuhnya terbentur pinggiran kursi taman yang sudah karatan itu. Hye Min meraba-raba pinggiran kursi itu, dengan mata yang masih menatap sosok yang sangat mengerikan itu.

Dari belakang, sosok lain tiba-tiba menempel di punggung Hye Min sambil tertawa. Kedua tangannya kurus kering dan jari tangan yang panjang. Kulitnya keriput bagaikan nenek-nenek yang sudah sekarat. Hye Min berusaha keras melepas tangan-tangan itu. Sayangnya, tangan itu malah berpindah tempat. Tangan yang satu bergerak ke pinggang, sedangkan yang satunya bergerak keleher. Sepertinya, sosok itu ingin mencekik Hye Min.

Hye Min menggenggam erat dan menarik-nerik tangan yang berada di lehernya. Ia terus berusaha melepaskan tangan-tangan itu. Andai saja ia tidak tercekik, pasti ia sudah berteriak sejak tadi. Napas Hye Min sudah seperti ‘ngik-ngik’ karena cekikan sosok itu. Cekikan itu makin lama, semakin erat. Hingga ia juga dapat merasakan perutnya seperti dipelintir seperti pakaian basah. Tapi, ia tidak putus asa begitu saja. Ia menetakan tulang hasta sosok itu keras-keras.

Sosok itu langsung menarik tangannya dan melepaskan cekikkannya. Hye Min memegang sesuatu di tangannya. Tangan yang ia gunakan untuk menekan tulang hasta sosok itu keras-keras. Ia mendelik ke arah apa yang ia pegang. Itu tangan… Tangan dari sosok itu putus… Kemudian bergerak sendiri, bagaikan ekor cicak. Dengan cepat, Hye min melempar tangan itu.

Suara tawa puas seorang wanita begitu bergema di gendang telinganya. Ia bangkit dari kursi itu dan menatap ke sekelilingnya. Tidak ada tubuh yang menempel di punggungnya. Tangan yang putus itu masih menggeliat-liat di rerumputan. Ketika Hye Min menoleh ke arah kursi itu lagi, kepala wanita tadi masih ada. Tapi, hanya kepalanya saja. Tanpa badan.

Kepala wanita itu terbang menghampirinya dengan suara tawa yang menggelegar. Wajah Hye Min sudah pucat total. Bibirnya juga sudah memutih. Mungkin karena cekikkan tadi, ia tidak dapat mengeluarkan suara sekeras seperti sebelumnya. Gadis itu hanya bisa mendongak menatap kepala yang terbang sambil tertawa itu dengan langkah kaki yang berjalan mundur.

Langkah kaki yang mundur itu sudah menemukan jalan buntu. Di belakangnya sudah terdapat batang cambium pohon maple yang sudah lumutan itu. Tangan Hye Min meraba-raba kambium itu untuk mencari sandaran. Kepala tanpa badan yang terbang bagaikan burung itu, tiba-tiba terbang ke arah yang tidak menentu. Menyisakan helaian rambut yang terbang ke arah Hye Min.

Belum sempat mengembuskan napas lega, ada sosok lain lagi datang. Kali ini, mengimpit dan mengunci tubuh Hye Min dengan memanfaatkan batang kambium pohon maple tua itu secara tiba-tiba. Tangan kanan Hye Min dicengkram erat oleh sosok itu, begitu juga yang satunya. Karena sudah terlalu pucat dan pusing, Hye Min hanya bisa menutup matanya kaget. Kepalanya seperti diputar-putar. Ia tidak dapat melihat dengan jelas. Kedua kakinya juga bergetar hebat. Tapi cengkraman sosok itu yang menahan tangannya di samping kepalanya, seperti membuatnya untuk tetap berdiri secara paksa.

“Bertengkar dengan sahabat, ya? Rupanya, kau mudah sekali di kendalikan.” sosok itu berujar santai.

Tubuhnya terasa sesak, impitan sosok itu seolah-olah ingin meremukan kerangka tubuhnya. Hye Min bisa merasakan embusan napas dingin di telinga kanannya. Saat itu juga, tubuhnya kembali membeku. Warna kebiruan itu kembali muncul dari kaki dan ujung jarinya, terus melebar jika sosok itu terus mengembuskan napas dinginnya.

“Kalau sendirian nanti aku culik, lho.” bisik sosok itu di telinga Hye min.

Warna kebiruan itu mulai melebar hampir ke seluruh tubuh Hye Min. Gadis itu bisa mengenali suara itu. Suara yang sama dengan sosok yang pernah menghampirinya di rumah sakit. Sosok itu laki-laki yang pernah berkata akan mengawasinya. Hye Min mulai membuka matanya perlahan. Wajah laki-laki itu sudah berada di hadapannya dengan jarak cukup dekat. Apa yang Hye Min bayangkan selama ini salah. Wajah laki-laki itu sama seperti manusia biasa. Bukan menyerupai setan.

Laki-laki itu tersenyum licik sambil menatap Hye Min, “Apa aku culik sekarang saja, ya?” Laki-laki itu kembali berbisik dengan senyum jahatnya.

Hye Min menatap laki-laki itu datar. Hampir seluruh tubuhnya berwarna kebiruan, hanya menyisakan bagian lengan atas, paha dan wajahnya saja yang belum terkena. Laki-laki itu sedikit terkekeh, kekehan kemenangan langsung menyertainya. Cengkraman tangan yang sangat kuat, impitan badan yang seolah ingin meremukan tubuhnya, kaki yang di injak, itu semua membuat Hye Min tidak bisa bergerak.

Laki-laki itu menghentikan kekehannya. Matanya menatap ke arah bibir Hye Min. Laki-laki itu juga mendekatkan bibirnya mendekati bibir Hye Min yang sudah putih pucat itu. Sedikit lagi, sosok laki-laki itu sepertinya akan mencium Hye Min. Namun, ia kembali menatap Hye Min.

“Bagaimana kalau aku bekukan dirimu terlebih dahulu?” Laki-laki itu berujar lima sentimeter tepat di depan hidung Hye Min.

Hye Min menutup matanya rapat-rapat. Ia menarik napasnya dalam-dalam. Matanya yang memejam terlalu rapat itu, menimbulkan kerutan di pinggiran mata, hidung, begitu juga dengan dahinya. Bibir laki-laki itu mulai bergerak mendekati bibirnya, Hye Min memundurkan kepalanya hingga benar-benar terbentur batang pohon itu.

Napas dingin laki-laki begitu terasa di kulit wajah Hye Min. Gadis itu menggigit bibir bagian dalamnya, dan terus mencoba menghindar. Ia memikirkan segala cara untuk kabur dan menjauhi sosok aneh itu. Namun, badannya benar-benar terimpit. Tinggal sedikit lagi…

To Be Continue

 

 

 

 

Author’s Corner:

Jarang-jarang saya membalas komentar kalian. Ada yang mau bertanya tentang author /? (berasa author pro-_-) Bukan itu maksud saya, ada yang mau berbincang-bincang dengan Myst? /nggak ada/ okesipp. Kkkk~ Ini hanya author’s corner yang saya buat iseng-iseng aja. Khusus pembaca yang kemarin memberikan saran untukku, terima kasih banyak sudah mengikuti terus ceritaku. Maaf, kalau terlalu random dan terlalu banyak misteri. Jadi, saya minta maaf akan ke-random-an ini.

See You At Darkside Chapter 8 –Friends-  ^0^

About fanfictionside

just me

31 thoughts on “FF/ DARKSIDE/ BTS-bangtan/ pt. 7

  1. keren !!!! walaupun sebenarnya menurutku masih menakutkan…… hye min kuat banget ._. … author suka baca artikel serem” ya,author kuat ya … siapa laki ” itu ? namjoon ? atau namjoon lain ? ..
    selalu penasaran sm ff ini… author fighting !!!!!

    • Artikel serem? Sedikit sih. Hehe. Aku bisa kayak gini, karena agak sering ngalamain mistis gitu hehe ^^

      Thank you🙂

  2. uwooo nice part~~~~~!!!!
    part yang ini bener” bikin tegang dan deg”an.. daebak!! aku sampe menghayati bgt bacanya kkk~~
    namjoon sebenernya apa? lider satu ini bikin penasaran …
    penasaran juga sama muka iblis yang gangguin mereka :V
    next part thor .

  3. Ah makin penasaran sama part selanjutnya,
    itu kenapa dokter jung cuma ngomong sama tae? Apa karena tae yg paling dingin sikapnya? Ah aku gak tau yang jelas aku suka sama karakter tae disini🙂

  4. aku penasaran banget sama sosok cowok misteriussss!!!! diantara taehyung,jimin,namjoon menurutku yang paling mencurigakan taehyung(?)ahh tapi gatau>< ffnya bikin kepoo

  5. Aku udh baca dari awal tapi baru sempet comment disini hehe._.
    Ceritanya keren! Lumayan serem dan bikin merinding wkwk. Bikin penasaran juga! orang yang mau nyium hyemin itu siapa? Terus, namjoon itu sebenernya siapa? Terus yang tentang buku itu juga bikin penasaran..btw aku suka karakter taehyungnya~~
    Next chapt jangan lama-lama ya😀 fighting!~~

  6. Seharian baca ff ini dri chapt 1ampe 7 dan baru sempet commnet disini hehe._.
    Ffnya keren! Lumayan serem dan bikin penasaran jg! Orang yang mau nyium hyemin itu siapa? Namjoon itu sebenernya siapa? Terus dokter uks-nya jg bikin penasaran. Buku hyemin sama namjoon juga bikin penasaran._. Btw suka sm karakter taehyungnya~~
    Next chapt jangan lama2 ya😀 fighting!

  7. hai aku pembaca baru dan baru sempet ninggalin jejak disini._. keren banget ceritanya, aku bacanya sampe ngepalin tangan didepan mulut(?)
    ceritanya udah bikin penasaran trus pemilihan bahasa udah bagus sama tanda bacanya juga udah tepat jadi gampang dimengerti. huaaaa ditunggu lanjutan ffnya author fighting~!!!!

  8. Sumpah Tegang bgt bcanya thor . . .

    Sebenarnya siapa sosok laki” misterius itu?
    Dan siapa kim namjoon sbenarnya?

    Apa Dokter jung salah satu dari mreka ?

    Huaaa… Penasaran tingkat ting9i thor . .

  9. MWO ??? YAK !!! itu mau ngapain ?? O.O sosok misterius itu siapa aigooo…. makin kepo nih >.<
    adohh… gak bisa komen lagi udah kehabisan kata"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s