FF/ THIS HEART THAT I GAVE TO YOU/ BTS-bangtan/ pt.4


Pt. 4 (Beginning Or The End Of Everything?)

Main Cast :
-Jung Sae Ri (oc)
-Jeon Jung Kook (Jung Kook’s BTS)
-Min Yoon Gi (Suga’s BTS)
-Jeon Ji Hoon (oc)
-Kim Na Rin (oc)
-Handsome sunbae

Support Cast :
-Kim Tae Hyung (V’s BTS)
-Park Jimin (Jimin’s BTS)
-Song Hyeri (oc)
-Lee Ga In (oc)
– Kim Yoo Ju (Na Rin’s eomma)

Genre : Romance, Comedy, School Life
Length : Multi Chapter
Author : SunKi

THIS HEART THAT I GAVE TO YOU(4)_POSTER

-Sae Ri POV-

Pria itu hendak pergi dari ruangan wisuda. Wajahnya tepat berpapasan dengan ku. “S..ss..sunbae…?”
DEG..!
Wajah itu.. wajah yang sudah sangat familiar bagi ku. Dia.. yang selalu menghantui pikiran ku.. Sunbae tampan.. Kenapa kau ada disini? Jadi.. apa kau benar-benar ada hubungannya dengan Na Rin unnie?
Aku bahkan tak kuasa untuk menyembunyikan ekspresi terkejut ku di hadapannya. Aku yakin kalau dia tau bahwa aku telah mendengar semuanya.
Kaki ku tiba-tiba ingin mengikuti arah perginya sunbae tampan. Langkahnya tiba-tiba terhenti di koridor kampus yang tak begitu ramai oleh orang-orang.
Dia membuang buketan bunga ke tempat sampah yang tak jauh darinya dengan kasar. Aku bisa lihat dengan jelas ekspresinya yang tampak emosi, kecewa dan sedih. Semua tercampur aduk yang membuatnya menangis sambil memukul-mukulkan dadanya.
Melihatnya seperti itu, membuat ku ingin berlari dan memeluknya. Memberikan sandaran untuk tempat mengeluarkan tangisannya. Aku benar-benar ingin ke sana. Tapi kaki ku terasa enggan untuk mendekatinya.

Selama perjalan pulang menuju rumah, Na Rin unnie tampak enggan untuk mengucapkan sepatah kata pun. Ia lebih memilih untuk menatap luar jendela mobil dengan tatapan kosong. Hening. Itulah suasana selama perjalanan pulang.
“Ya, Na Rin-ah. Kenapa kau diam saja? Bukan kah kau seharusnya bahagia?” Tanya bibi memecahkan keheningan.
“Eomeoni, mungkin dia kelelahan. Biarkan dia istirahat dulu. Dia sudah berusaha dengan keras selama ini. Jadi dia perlu merilekskan pikirannya” terang Ji Hoon oppa.
“Begitu kah…” bibi hanya bergumam menyahut ucapan Ji Hoon oppa.
Aku melirik ke arah Na Rin unnie. Dia tidak mengindahkan perkataan ibunya itu sama sekali. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau saja Ji Hoon oppa tau apa yang telah terjadi. Apa lagi Na Rin unnie yang telah mencium pria lain.
Sesampai di rumah, Na Rin unnie langsung menuju kamarnya tak mempedulikan bibi yang bertanya-tanya dengan sikapnya itu. Melihat sikap putrinya itu, bibi hanya menghela nafas.
“Na Rin.. kenapa dia tiba-tiba begitu. Jarang-jarang dia seperti itu…” gumam bibi lirih yang masih bisa aku dengar.
“Seperti yang Ji Hoon oppa bilang, aku rasa unnie hanya kelalahan, bibi” ucapku bohong sambil mengelus lengannya. Maaf bibi, bukan maksud ku untuk menutupi apa sebenarnya telah terjadi. Tapi aku juga tak bisa membayangkan jika bibi mengetahui yang sebenarnya.
“Aku harap tak ada sesuatu yang buruk yang membuatnya seperti itu” bibi menatap lesu pintu kamar Na Rin unnie.
“Sae Ri-ah, kalau kau lelah kau istirahat saja. Bibi harus memasak untuk makan malam” tambahnya.
“Baiklah. Kalau begitu aku ke kamar dulu” ku bungkukkan badan sebelum berlalu ke kamar.
“Nae..” sahut bibi.


Jum’at, 1 November 2013
“Hal yang tidak terduga terjadi lagi. Tapi dengan begitu aku mulai mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang terus terngiang di pikiran ku. Kini sudah cukup jelas. Aku sudah tau apa hubungan si pria yang ada di foto itu dengan Na Rin unnie.
Tak salah juga aku mengaitkan sunbae tampan dengan Na Rin unnie. Mereka.. adalah orang yang sama. Dan hari ini, itu sudah terjawab. Walaupun aku masih tidak menyangka dengan kenyataan yang sebenarnya. Apa ini akhir dari segalanya? Atau ini justru awal dari segalanya?”

 

 

——————————————————–

 

-Author POV-

“Ya, Sae Ri-ah! Kau dalam bahaya sekarang!” Ga In yang tiba-tiba datang dengan nafas yang tersengal sengal dan ekspresi ketakutan.
“AKU DALAM BAHAYA? APA MAKSUDMU” Sae Ri meninggikan suaranya dengan wajah terkejutnya. Sae Ri seperti terbawa suasana oleh Ga In.
“Dalam bahaya…?” gumam Tae Hyung yang begitu mendengar pekikkan Sae Ri. Dengan sigat, Jimin dan Tae Hyung langsung menghampiri Sae Ri dan Ga In.
“Sae Ri-ah, apa maksud mu kau dalam bahaya?” Tanya Jimin yang tampak khawatir.
“Nae.. Aku dengar kau bilang kau dalam bahaya” tambah Tae Hyung yang tak kalah tampak khawatir.
“Molla.. Ga In bilang kalau aku dalam bahaya. Aku juga tak tau maksudnya” rajuk Sae Ri sambil mengernyitkan dahinya.
“Ga In-ah, apa itu benar?” Tae Hyung menatap Ga In dengan lekat menunggu jawaban dari Ga In. Begitu juga dengan yang lainnya yang menunggu jawaban Ga In. Mendapat tatapan dari Tae Hyung, Ga In justru grogi dan salah tingkah.
“Eoh? Ehmm.. begini…..”

Ga In baru saja sampai di sekolah. Saat hendak menuju kelas, Ga In yang sedang membawa sebuah buku di tangannya lewat di depan gerombolan murid-murid. Ga In tak sengaja mendengar nama Sae Ri disebut dalam percakapan gerombolan murid-murid tersebut. Karena penasaran, Ga In langsung mencari posisi tak jauh dari mereka agar Ga In bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan tanpa di sadari oleh mereka.
Tapi Ga In juga tak ingin dia ketahuan tengah menguping pembicaraan mereka, maka dari itu Ga In memiliki ide untuk menutupi wajahnya dengan buku seolah-olah dia sedang membaca buku.
“Si murid baru dari Inggris itu, Sae Ri.. dia tertangkap basah sedang duduk berduaan dengan Yoongi sunbae saat ada seleksi anggota tim basket” ucap salah seorang murid yang bername tag Choi Ji Eun
“Berduaan? Bukannya waktu itu ada aku dan Hye Ri?” gumam Ga In dalam hati sambil mengernyitkan dahinya.
“Jinjja? Bukan kah Yoongie sunbae itu kaptennya? Tapi kenapa malah berduaan dengan Sae Ri?” Tanya Shin Jae Hyeo.
“Aku juga tidak tau. Mereka ketahuan begitu Nam Joon sunbae berteriak menyuruh Yoongi sunbae untuk ke lapangan basket” terang Ji Eun
“Jadi… Nam Joon sunbae yang membuat mereka berdua ketahuan?” Tanya Jae Hyeo sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal
“Bisa jadi begitu” sahut Ji Eun
“Tapi.. bagaimana kalau mereka berdua hanya berteman? Atau.. justru mereka bersaudara?” Ujar Cha Gae Yeong.
“Ah.. aku harap begitu…” gerutu Ji Eun
“Nado.. tapi bagaimana kalau mereka memiliki hubungan khusus? Kalau saja anak-anak cheers tau, Sae Ri bisa-bisa di bully. Kau tau kan? Mereka itu menganggap kalau sunbae-sunbae dari tim basket itu milik mereka” ucap Ji Eun
“Hah? Bully?” Ga In membelalakkan matanya membayangkan kalau Sae Ri benar-benar di bully oleh anak-anak cheers.
“Andwae.. Sae Ri dalam bahaya.. Nae! aku harus memberi tau Sae Ri!” Merasa hal tersebut adalah hal genting, Ga In lari sekencang-kencangnya menuju kelas dan memberi tau Sae Ri sesegera mungkin.
“Lalu…?” Tae Hyung yang merasa kurang puas dengan cerita Ga In, berharap Ga In akan melanjutkan cerita dengan menatap Ga In dengan lekat yang lagi-lagi membuat Ga In gugup.
“hmm.. ya itu.. nnngggg.. Sae Ri akan jadi terkenal!” ucap Ga In asal. Lidah Ga In terasa sulit mengatakan bahwa Sae Ri bisa saja di bully oleh anak cheers. Tapi tatapan Tae Hyung itu yang membuatnya membeku tak bisa mengatakan apa pun.
“Apa hubungannya Sae Ri akan terkenal dan Sae Ri dalam bahaya?” seru Jimin yang mulai kesal dengan Ga In. Sementara itu Sae Ri hanya mendengus kesal menganggap Ga In hanya omong kosong.
“Molla…” sahut Ga In dengan tampang tak berdosa. Melihat Ga In yang seperti itu, Jimin menjitak kepala Ga In sambil berlalu ke bangkunya.
“Auuw! Appoo…” rengek Ga In sambil mengelus kepalanya. Melihat Tae Hyung yang tengah menatapnya dengan tatapan kesal, Ga In langsung melindungi kepalanya dengan bukunya. “Apa kau akan menjitak ku juga?” gerutu Ga In.
“Ani” jawab Tae Hyung sinis dan mengikuti Jimin.
Ga In menoleh ke Sae Ri berharap Sae Ri akan berbicara atau sekedar basa basi padanya. Tapi Sae Ri justru memasang earphone ke telinganya dan membaca buku seolah olah tak mempedulikan kehadiran Ga In. Melihat Sae Ri, Ga In hanya memanyunkan bibir nya dan mendengus pasrah dan pergi ke bangkunya.
Seorang namja tiba-tiba duduk disamping Sae Ri. Tetapi si pemilik bangku tak menyadari keberadaannya. Merasa di acuhkan, namja itu menarik earphone dari telinga Sae Ri. Hal itu sukses membuat Sae Ri menoleh ke namja tersebut karena merasa terganggu.
“J..jjung Kooook…?” Sae Ri membelalakkan matanya karena terkejut melihat Jung Kook yang berada di hadapannya.
“Annyeong.. lama tak jumpa” sapa Jung Kook dengan senyuman coolnya. Sae Ri memerhatikan secara teliti penampilan Jung Kook. Seragam yang di pakai Jung Kook tampak sangat familiar bagi Sae Ri, begitu juga dengan atributnya.
“Kau.. kenapa ada di sini? Kau juga.. kenapa memakai seragam sekolah Kwang Soo?” Tanya Sae Ri yang masih tak menyangka kehadiran Jung Kook.

TOK..TOKK…TOKKK…!!!
Suara ketukan papan terdengar nyaring yang mengheningkan kegaduhan kelas dan Jang ssaem yang sudah berdiri di depan kelas membuat Jung Kook mengurungkan niatnya untuk menjawab pertanyaan Sae Ri.
“Selamat pagi, murid-murid..” sapa Jang ssaem
“Selamat pagi, seongsaenim..” sahut murid-murid serempak
“Hari ini kalian mempunyai teman baru. Apa kalian sudah mengenalnya?” ucap Jang ssaem. Seisi kelas tak bisa menyembunyikan ekspresi kebingungan. Pasalnya Jang ssaem datang tidak bersama murid baru yang akan diperkenalkan. Murid-murid tidak menyadari bahwa murid yang di maksudkan Jang ssaem kini tengah duduk di samping Sae Ri.
Memahami murid-muridnya tak paham dengan apa yang dia maksud, Jang ssaem hanya mendengus kesal.
“Jeon Jung Kook, tolong maju ke depan dan perkenalkan dirimu” Jang ssaem mempersilahkan Jung Kook untuk maju. Tak mau membuang waktu lama, Jung Kook langsung melepaskan tas dari punggungnya ke kursi dan bangkit dari duduknya.
Murid-murid memusatkan pandangannya ke arah Jung Kook begitu dia bangkit dari duduknya. Terutama para yeoja yang mulai memuji wajah Jung Kook yang menurut mereka tak kalah tampan dengan sunbae-sunbae dari tim basket.
“Annyeonghaseyo, nama ku Jeon Jung Kook. Asal sekolah ku di Dae Joon High School” ucap Jung Kook singkat.
“Dae Joo High School? Bukankah itu sekolah khusus untuk pria?” Tanya Jimin tiba-tiba.
“Nae” sahut Jung Kook sambil mengangguk.
“Benarkan? Sebelumnya aku juga ingin ke situ. Tapi.. aku tidak lolos seleksi…” ujar Jimin sambil memanyunkan bibirnya.
“Ya, Park Jimin. apa kau sedang bercurhat?” celetuk Jang ssaem yang membuat seisi kelas terkekeh.
“Jung Kook-ah, kenapa kau pindah ke sini? Apa kau ingin melihat yeoja cantik?” Celetuk Ga In yang kinigiliran bersuara. Tak jauh dari Ga In, diam-diam Tae Hyung merasa kurang suka dengan apa yang di ucapkan oleh Ga In.
“Hampir.. betul. Aku kesini karena ingin dekat dengan salah satu siswi di sini” jawab Jung Kook.
“JINJJA?” seru para siswi yang ada di kelas yang terkejut dengan jawaban Jung Kook. Begitu juga dengan Jang ssaem. Jung Kook terkekeh.
“Tentu saja tidak” bantah Jung Kook. Ucapan Jung Kook membuat lega para siswi.
“Baiklah, Jung Kook sudah menjadi bagian dari kita. Kalian mau kan menerimanya dengan baik?” Tanya Jang ssaem.
“Nae, seongsaenim..” sahut murid-murid serempak.
“Jung Kook-ssi, kau boleh duduk kembali” ucap Jang ssaem dengan ramah
“Nae, seongsaenim” Jung Kook membungkukkan badannya dan kembali ke bangku Sae Ri.

“Jadi kau akan bersekolah disini?” Tanya Sae Ri begitu Jung Kook sudah duduk di sampingnya.
“Nae. Bukan kah aku sudah memberi tau ke kamu?” sahut Jung Kook sambil membuka buku pelajaran tanpa menoleh ke arah Sae Ri.
“Kau sudah memberitau ku? Kapan?” Sae Ri mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti dengan apa yang Jung Kook katakan.
“Sms itu…”

-Sae Ri’s POV-
Sms itu? Sms apa maksudnya? Ngg.. apa maksudnya sms saat dia dan keluarganya pulang dari rumah bibi?
“Apa maksudmu sms waktu malam itu?”
“Nae..” jawabnya singkat yang masih saja tak menoleh ke arah ku sekali pun. Dasar bocah aneh! Tunggu… ! What the..? Apa dia bilang ‘nae’? benar-benar..
“Ch.. Jadi kau mengirim sms aneh itu hanya karna kau akan pindah sekolah ke sini?” Aku tidak tau bagaimana ekspresi ku sekarang ini. Yang pasti aku sangat kesal dengan kelakuannya yang sok misterius itu.
“Nae” jawabnya singkat lagi dengan senyuman simpulnya. Andaikan tak ada Jang ssaem, aku pasti sudah meninju wajahnya sampai remuk. Sabar, Sae Ri… Sabar…
“Ya, Jung Kook-ah. Bagaimana kau bisa tau kelas ku huh?” Tanya ku dengan nada sinis.
“Oh.. seseorang mengantar ku. Kebetulan dia juga di kelas ini” ujarnya yang kini tidak menampakkan wajah sok cool atau misteriusnya.
“Di kelas ini? Siapa?”
“Dia..” Jung Kook menunjuk seorang siswi yang kini tengah duduk di samping Ga In. Hye Ri, ya. Jarinya tertuju ke arah Hye Ri. Sejak kapan Hye Ri masuk ke kelas? Aku tak melihatnya..
“Jadi kau ke sini bersama dia?” Tanya ku
“Nae. Aku bertemu dengannya di gerbang” terang Jung Kook
“Jung Sae Ri! Apa kau sudah tertular dengan murid-murid di kelas ini? Kalau kau ingin mengobrol, mengobrol lah sendiri di luar kelas!” seru Jang ssaem yang tiba-tiba suasana kembali hening dan.. murid-murid menoleh ke arah ku. Oh.. Tidak..
“joesonghamnida, seongsaenim..” sebisa mungkin aku berbicara secara formal. Baiklah aku tak mau di keluarkan dari kelas. Ini akan sangat memalukan.
“Arraseo, Karena ini pertama kalinya bagi mu, aku hanya memberi peringatan. Tapi jika kau mengobrol lagi saat pelajaran, kau harus menutup pintu dari luar. Mengerti?”
“Nae, seosaengnim”
Jang ssaem kembali melanjutkan pelajaran tanpa menyuruh ku untuk keluar. Ahh.. leganya.. Aku bisa bernafas lega sekarang. Tapi.. tunggu.. sepertinya seseorang sedang menahan tawa. Aku melirk ke arah Jung Kook. Ah, benar. Dia sedang menahan tawanya. Jung Kook-ah, you’re so mean!
-Author’s POV-

Tak seperti temannya yang menyantap makan siang dengan lahap, Sae Ri hanya menyenderkan kepalanya di meja kantin. Dia masih merasa tidak semangat setelah Jang ssaem memperingatinya.
“Sae Ri-ah, kenapa kau tidak makan?” Tanya Hye Ri
“Aku tidak lapar. Aku sedang tidak ingin makan..” jawab Sae Ri dengan malas
“Apa karena tadi di kelas?” Ga In mencoba untuk menebak penyebab temannya itu yang sedang tidak bersemangat.
“Nae…”
“Ini karena Jung Kook!” gerutu Sae Ri tiba-tiba yang menyalahkan Jung Kook. Mendengar ucapan Sae Ri, sontak Ga In, Hye Ri, Jimin dan Tae Hyung menoleh ke arah Jung Kook.
“Mwoya?” gumam Jung Kook yang kebingungan.
“Ya! Jung Kook-ah! Aku mendapat peringatan dari Jang ssaem itu karena mu!” pekik Sae Ri dengan tatapan sinis.
“Apa maksudmu itu karena aku? Kau sendiri yang memulai mengobrol” ucap Jung Kook tak terima. Karena terlalu malas mendengarkan Jung Kook, Sae Ri kembali menyender kepalanya ke meja.
“Kau.. kenapa kau tiba-tiba memanggil ku dengan Jung Kook-ah? Bukan kah sebelumnya kau memanggil ku dengan Jung Kook-ssi?” tambah Jung Kook sambil menerka Sae Ri
“Itu karena aku harus bersikap manis di depan orang-orang. Kau puas?” sahut Sae Ri dengan ketus.
“Sebelumnya? Apa kalian sudah saling mengenal?” Tanya Jimin penuh dengan rasa penasaran.
“Nae. Beberapa hari yang lalu aku dan keluarga ku ke rumah bibinya. Karena hyung ku akan menikah dengan kakak sepupunya” terang Jung Kook.
“Itu berarti.. kalian akan bersaudara. Waah.. daebak” ujar Tae Hyung sambil terus mengunyah makanannya.
“Bersaudara? Bisa dibilang begitu” gumam Jung Kook
“Mwo? Ya, Sae Ri-ah. Kenapa kau tidak cerita pada kami?” Rengek Ga In
“Aku tidak perlu bercerita tentang dia. Itu hanya akan mebuang-buang waktu” sahut Sae Ri dengan ketus. Mendengar ucapan Sae Ri, Jung Kook hanya menghela nafas dan bersabar.

Sae Ri dan ke lima temannya termasuk Jung Kook sedang kembali menuju kelas. “Sae Ri-ah!” terdengar seseorang memanggil Sae Ri dari arah belakang. Tampak Yoongi yang berlari dan menghampiri Sae Ri.
“Yoongi sunbae..” Sae Ri menyunggingkan senyumannya begitu melihat Yoongi.
“Kebetulan sekali. Kau dan teman-temanmu akan kembali ke kelas kan?”
“Nae. Kalau sunbae juga hendak ke kelas, sunbae bergabung saja dengan kita. Jadi sunbae tak perlu ke kelas sendirian” ucap Sae Ri. Mendengar Sae Ri yang mengajak yoongi untuk bergabung, Hye ri, Ga In, begitu juga Tae Hyung dan Jimin tampak begitu senang. Pasalnya dengan begitu mereka bisa lebih mengenal lebih dekat dengan Yoongi. Sementara itu Jung Kook hanya menampilkan wajah datarnya.
“Kau sudah tau maksud ku ternyata..” gumam Yoongi sambil tersenyum kaku.
“Oh iya, kau.. Park Jimin dan.. Kim Tae Hyung kan?” Yoongi menunjuk ke pemilik nama begitu melihat mereka.
“Nae.. ada apa sunbae?” Tanya Jimin sambil saling berpandangan bingung dengan Tae Hyung.
“Begini, saat jam terakhir kalian berdua harus kumpul di lapangan basket. Tak akan lama, hanya pengumuman hasil seleksi” terang Yoongi.
“JINJJAYO?” seru Jimin dan Tae Hyung serempak
“Nae. Apapun hasilnya, aku harap kalian akan menerimanya dengan lapang dada. Kalaupun kalian lolos, kalian harus memberikan yang terbaik untuk tim basket. Arrachi? ”
“Nae, sunbae..”

Langkah mereka terhenti ketika berada di depan kelas 1-2, ruang kelas yang selama ini Sae Ri dan teman-temannya tempati. Itu artinya mereka juga harus berpisah dengan Yoongi.
Hye Ri, Ga In, Tae Hyung, Jimin dan Jung Kook memilih berpamitan untuk masuk terlebih dahulu dan meninggalkan Sae Ri dan Yoongi berdua di luar kelas.
“Apa kau mendapatkan kesulitan di sini?” Yoongi menatap lekat Sae Ri dengan tatapan penuh perhatian.
“Aniyo, sunbae. Aku tidak mendapatkan kesulitan atau hambatan apa pun. Jangan khawatir” Sae Ri menyunggingkan senyumannya berharap Yoongi tak terlalu mengkhawatirkannya. Karena baginya, itu akan merepotkan Yoongi.
“Jika sesuatu terjadi pada mu, beri tau aku. Mengerti?” ucap Yoongi sambil mensejajarkan wajahnya dengan wajah Sae Ri.
“N..nae.. sunbae..” melihat wajah Yoongi yang jaraknya begitu dekat dengan wajahnya, lidah Sae Ri terasa kelu untuk mengatakan sepatah dua patah kata. Ia dapat merasakan pipinya yang mulai memanas.
Spontan Sae Ri membulatkan matanya begitu jarak wajahnya dan wajah Yoongi yang kian dekat. Bahkan hembusan nafas Yoongi kini bisa Sae Ri rasakan dan membuatnya menutup kedua matanya erat-erat.
Sementara itu tanpa Sae Ri dan Yoongi sadari, dari dalam kelas seseorang tengah memerhatikan mereka.
1 detik.. 2 detik.. 3 detik.. Sae Ri tak merasakan apa pun yang menyentuh bagian wajahnya. Perlahan Sae Ri membuka matanya dan tampak Yoongi yang sudah berdiri seperti biasa.
Sae Ri merasa lega karena hal yang ia pikirkan tak benar-benar terjadi. Tetapi di sisi lain, Sae Ri juga merasa kesal karena Yoongi telah mempermainkannya dan mendapati Yoongi yang kini tersenyum jahil.

-Jung Kook’s POV-
Siapa sunbae itu? Kenapa dia sampai berani-beraninya hendak mencium Sae Ri? Ch.. Dasar sunbae mesum! Tak jauh beda dengan Ji Hoon hyung. Andai saja dia bukan seorang sunbae, aku pasti sudah membuatnya kabur dari sekolah ini.
“Ya, Jimin-ah, Tae Hyung-ah, sunbae tadi.. siapa namanya?” Tanya ku yang menghentikan aktifitasnya mengutak-atik ponsel mereka.
“Oh.. tadi itu Yoongi sunbae. Min Yoongi sunbae” jawab Jimin singkat. Ah.. Jimin.. kenapa kau hanya menjelaskan namanya saja?
“Lalu.. kenapa dia tadi menyuruh kalian untuk kumpul di lapangan basket?” Karena aku tak puas dengan jawaban Jimin, mau tak mau aku tanyakan lagi tentang si Yoongi itu.
“Dia itu kapten di tim basket sekolah. Bisa di bilang, dia itu tenar di sekolah. Semua murid-murid disini ingin sekali dekat dengan Yoongi sunbae” kini giliran Tae Hyung yang menjawab. Tapi entah kenapa aku jadi merasa aneh dengan jawabannya.
“Apa itu sebabnya kalian, Sae Ri, Ga In dan Hye Ri bersikap begitu manis didepannya?” Bukannya menjawab pertanyaan ku, mereka justru saling berpandangan. Baiklah, aku paham.
“Sudahlah, kalian lupakan saja pertanyaan ku yang tadi..” aku menghelakan nafas ku dan langsung to the point. Karena dengan begitu, aku yakin mereka akan langung memahami apa yang aku ucapkan.
“Ya, Tae Hyung-ah, Jimin-ah, apa hubungannya Yoongi sunbae dengan Sae Ri?Apa mereka berpacaran?” ku pelankan suara ku agar murid-murid yang lain tak mendengar percakapan ku dengan Jimin dan Tae Hyung.
“Aku.. tidak tau mereka berpacaran atau tidak…” sahut Jimin
“Tapi yang pasti mereka itu sedang dekat” tambah Tae Hyung.
Sedang dekat? Begitu kah? Akan sulit jika mereka berpacaran. Tapi lihat sajalah nanti. Apa akan lebih sulit dari yang aku duga atau justru lebih mudah.
-Author’s POV-

“Sepulang sekolah, aku tunggu kau di gerbang depan” ucap Yoongi sambil mengacak-acak rambut Sae Ri yang masih disertai senyuman jahilnya.
“Nae, sunbae” sahut Sae Ri singkat yang tak mempedulikan kondisi rambutnya.
Yoongi berjalan menjauh dari Sae Ri yang kini hanya memperlihatkan punggungnya. Sae Ri terus menatap punggung Yoongi hingga benar-benar tak terlihat lagi oleh kedua matanya.
*****
Na Rin sampai di sebuah kafe yang di tuju oleh Ji Hoon. Sebelumnya ia sudah ada janji dengan Ji Hoon untuk bertemu. Tak sulit bagi Na Rin untuk menemukan calon suaminya tersebut di tengah-tengah pengunjung kafe yang lainnya.
“Apa kau sudah menungguku lama? Maaf kan aku, yeobo. Aku terjebak macet” ucap Na Rin dengan ekspresi bersalahnya. Na Rin tak ingin jika calon suaminya tersebut marah karena telah menunggunya terlalu lama.
“Tak apa. Aku sampai kesini beberapa menit yang lalu” sahut Ji Hoon sambil meneguk Green Grape Sparklingnya. Ji Hoon menyodorkan minuman yang sama kepada Na Rin untuk sekedar diminum.
“Syukurlah. Aku kira kau sudah menunggu ku lama” Na Rin menghela nafas lega ia tak membuat Ji Hoon menunggu lama.
“Aku tak mau bertele-tele. Sebaiknya aku langsung saja.. Na Rin-ah, apa kau memiliki selingkuhan?”
“Nae?”
DEG!
Pertanyaan yang baru saja Ji Hoon lontarkan benar-benar membuatnya serasa dadanya di tusuk oleh benda tajam. Pertanyaan yang tanpa ia pernah pikirkan tiba-tiba muncul dan terus terngiang di kepalanya. Kepalanya serasa berat. Badannya bahkan serasa tak tahan lagi menopang kepalnya yang terasa berat.
“Hari dimana kau diwisuda, seseorang yang tak aku kenal datang tiba-tiba dengan entengnya menanyakan siapa diri ku. Tak perlu bertanya atau mendengarkan penjelasan dari siapapun, aku sudah bisa memahaminya. Aku melihat dengan mata kepala ku sendiri dengan santainya kau menciumnya kan?”
“M..mwo..?”
Apa yang ia dengar benar-benar menjadi tamparan yang sangat keras. Pikiran, perasaan dan raganya serasa lumpuh. Badannya terasa lemas sekarang. Yang ia bisa lakukan saat ini adalah mengeluarkan air mata yang mulai membasahi pipi mulusnya.
“Kemari kan tangan kiri mu” perintah Ji Hoon dengan tatapan dingin.
“Apa yang akan kau lakukan? Aku tidak mau!” Na Rin menggenggam erat tangan kirinya yang terdapat cincin pertunangannya dengan Ji Hoon.
“Aku juga tak menginginkan ini. Tapi kepercayaan sudah runtuh. Sulit bagi ku untuk membangun kembali kepercayaan yang telah runtuh. Kalaupun itu bisa dibangun kembali, bekas robohan akan masih bisa terlihat. Dari pada susah payah membangun kembali, aku lebih memilih untuk membiarkan tetap roboh dan terkikis dimakan waktu” Ji Hoon menghela nafas dengan kasar dan bangkit dari duduknya.
“Tapi kenapa kau tiba-tiba memutus kan ini secara sepihak? Jebal.. jangan lakukan itu. Aku tak mau membatalkan rencana pernikahan kita..” ucap Na Rin yang terus terisak.
“Kau tak perlu khawatir, aku akan membicarakan dengan keluarga ku dan keluarga mu.”
“Kau bahkan tak mengucapkan kata maaf. Kau lebih bahagia bersamanya kan? Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk melepaskannya..” Ji Hoon melirik tangan kiri Na Rin yang dihiasi oleh cincin pertunangan pemberiannya dan meninggalkan Na Rin yang duduk mematung dengan lelehan air matanya yang tak kunjung berhenti keluar dari matanya.
Tak terdengar langkah kaki yang kembali menuju ke aranya atau pun suara dari Ji Hoon yang menandakan Ji Hoon kembali untuk menyesali apa yang Ji Hoon telah ucapkan. Kepalanya bahkan terasa sulit untuk mengarahkan pandangannya ke punggung Ji Hooin yang berjalan menjauh.
Semua terjadi begitu saja. Ia tau bahwa memiliki hubungan dengan dua orang sekaligus akan berresiko seperti ini. Sebelumnya ia telah melepaskan salah satu dari mereka. Tapi kini yang ia pertahankan justru pergi meninggalkannya. Tapi apa boleh buat. Ini kesalahannya dan harus mendapatkan hukuman atas apa yang telah ia lakukan.
Na Rin tak tau bagaimana cara untuk menjelaskan kepada ibunya. Dia yakin ibunya akan lebih terpukul mendapati kenyataan yang terjadi.
*****

Jung Kook baru saja keluar dari ruang guru untuk memenuhi panggilan Jang ssaem. Kini Jung Kook hendak kembali ke kelas untuk mengambil tasnya memingat bel pulang sudah terdengar sekitar 30 menit yang lalu.
Susana kelas sudah sepi. Yang Jung Kook lihat hanya Jimin dan Tae Hyung yang telah kembali dari lapangan basket.
“Ya, apa kalian tau dimana Sae Ri?” Tanya Jung Kook sambil mengaitkan tasnya ke kedua lengannya.
“Sae Ri baru saja pulang” sahut Tae Hyung yang merapikan jas almamaternya.
“Gomawo..” Jung Kook langsung lari meninggalkan Jimin dan Tae Hyung yang kebingungan dengan tingkah Jung Kook.
“Mwoya? Kenapa dia malah tanya tentang Sae Ri bukannya tentang hasil seleksi kita?” gerutu Jimin.
“Sudahlah, mungkin dia sedang ada perlu dengan Sae Ri. Jadi dia tidak sempat bertanya. Kau tau kan kalau hyungnya dan kakak sepupu Sae Ri akan menikah” ujar Tae Hyung yang mencoba meredakan kekesalan jimin sebelum berubah menjadi emosi.
Jung Kook terus berlari mencari keberadaan Sae Ri. Tujuannya kini gerbang depan. Sosok yang ia cari kini bisa Jung Kook lihat. Kini ia tepat berada di belakang Sae Ri yang sedang berjalan menuju gerbang depan.
Larinya terhenti begitu melihat Sae Ri menemui seorang pria yang tengah menaiki motor sportnya. Pria itu membuka kaca helmnya. Jung Kook bisa mengenali siapa pria itu. Pria yang bernama Yoongi.
Jung Kook menatap Sae Ri yang tengah bonceng dengan Yoongi. Tampak senyuman menghiasi wajah keduanya. Sementara itu Jung Kook hanya bisa berdecak memaki dirinya sendiri sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
“Jung Kook-ah, apa kau sudah bertemu dengan Sae Ri?” Tanya Tae Hyung yang sudah berada di samping Jung Kook dengan Jimin.
“Sudah..” sahut Jung Kook singkat yang masih mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
“Bagus lah kalau begitu. Aku dan Tae Hyung akan pulang menaiki bus. Kau mau ikut?” tawar Jimin sambil memegang bahu Jung Kook.
“Tidak, terima kasih. Aku akan di jemput”
“Baiklah, kalau begitu kita pulang dulu. Annyeong..” Tae Hyung dan Jimin berlalu meninggalkan Jung Kook dan sekolah.

 

———————————–

“YA AKU YANG AKAN DUDUK DISINI MENGGANTIKAN SAE RI!” terdengar suara keributan dalam kelas. Rupanya Ga In dan Hye Ri yang tengah berebut bangku Sae Ri. Mereka berdua sedang tak seperti biasanya yang saling akur. Tapi tidak untuk kali ini. Rasa akur sedang tak berada di pihak mereka.
“SHIREO! AKU MAU DUDUK DENGAN JUNG KOOK!” Ga In duduk di kursi yang biasa Sae Ri tempati dengan lengan yang ia lipat di depan dadanya.
“KAU TIDAK BISA DUDUK DENGANNYA! AKU YANG AKAN DUDUK DENGAN JUNG KOOK! KAU HARUS PERGI DARI SINI!” pekik Hye Ri sambil berusaha menarik Ga In dari duduknya.
“YA! SHIREO! LEPASKAN! KAU TAK BERHAK UNTUK MELARANGKU UNTUK DUDUK DENGAN JUNG KOOK!” Ga In terus meronta berusaha mempertahankan dirinya dari duduknya.
“YA! APA YANG KALIAN LAKUKAN DISINI?” pekik Jung Kook yang mengheningkan suasan
“Ini tempat duduk ku dengan Sae Ri” tambah Jung Kook.
“Apa maksud mu? Sae Ri sudah duduk di sana” Hye Ri menunjuk seorang siswi yang duduk di bangku paling depan dengan tenangnya.
Begitu melihat siswi yang di maksudkan Hye Ri, Jung Kook langsung berlalu meninggalkan Ga In dan Hye Ri yang terbengong-bengong. Pasalnya orang yang mereka perebutkan justru memilih untuk duduk di bangku paling depan. Bangku yang baru saja Hye Ri tunjuk.
Ga In dan Hye Ri saling berpandangan. Mereka berdecak kesal dan memutuskan untuk berlalu dari bangku Sae Ri yang tadi mereka perebutkan.
“Kau tak duduk dengan mereka?” Tanya Sae Ri heran begitu Jung Kook duduk di sampingnya.
“Ani. Aku tak bisa membayangkan jika aku duduk dengan mereka” Sahut Jung Kook bergidik ngeri.
Jimin dan Tae Hyung baru saja sampai di kelas. Tapi mereka kebingungan begitu semua bangku telah terisi oleh murid-murid. Ada yang ganjal kali ini. Seharusnya ada bangku yang tersisa masih kosong seperti biasanya. Tapi tidak kali ini.
“Omo! Hye Ri-ah, kenapa kau duduk sendirian? Kemana Ga In?” Tanya Tae Hyung yang mendapati Hye Ri duduk sendirian.
“Kau cari saja sendiri” sahut Hye Ri ketus sambil memperhatikan buku pelajarannya.
Jimin dan Tae Hyung melihat sekeliling. Mereka menemukan sosok Ga In yang tengah duduk sendirian. Mereka bisa menerka ada sesuatu yang salah kali ini antara Hye Ri dan Ga In.
Mau tak mau Jimin dan Tae Hyung juga harus duduk tak satu bangku. Mereka harus duduk dengan Hye Ri atau Ga In.
Saat hendak menuju bangku yang di tempati oleh Ga In, Tae Hyung menghentikan langkah Jimin dan membiarkan dirinya saja yang duduk dengan Ga In.
Mengerti apa yang Tae Hyung maksudkan, Jimin mengurungkan niatnya untuk duduk dengan Ga In dan duduk dengan Hye Ri.
Pertengkaran antara Hye Ri dan Ga In tak menghalangi aktivitas pelajaran seperti biasanya. Murid-murid mengerjakan soal-soal yang Jang ssaem berikan.
“Ch… dia bahkan terlihat senang duduk dengan Tae Hyung” gumam Hye Ri lirih yang masih bisa Jimin dengar dengan tatapan sebal.
Mendengar ocehan Hye Ri, Jimin menoleh ke arah orang Hye Ri maksud. Tampak Ga In dan Tae Hyung yang begitu dekatnya dengan senyuman yang mengembang di ke duanya.
“Haruskah kita seperti mereka juga?” Jimin merapatkan posisi duduknya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Hye Ri.
Melihat Jimin yang seperti itu, sontak Hye Ri gugup. Dan refleks memundurkan kepalanya agar tak terlalu dekat dengan wajah Jimin.
“M..mwoya…” Hye Ri berusaha menutupi kegugupannya dan bersikap normal dengan memalingkan wajahnya ke buku pelajarannya.
“Kau ini..” Jimin tersenyum simpul melihat tingkah Hye Ri dan membetulkan posisi duduknya seperti semula

Bel berakhirnya kegiatan belajar di sekolah terdengar. Murid-murid yang telah menantikan bunyi bel tersebut lagsung pergi meninggalkan sekolah dan menuju rumah masing-masing.
“Sae Ri-ah, kau pulang naik apa?” Tanya Jung Kook sambil berjalan bersampingan dengan Sae Ri.
“Aku naik bus. Kenapa? Kau mau menemani ku sampai di rumah bibi?” celetuk Sae Ri.
“Nae. Aku mau”
“Jinjja? Kau tak menipu ku kan?” Sae Rimenghentikan langkahnya dan menatap Jung Kook curiga.
“Ani. Aku benar-benar mau menemani mu sampai ke rumah bibimu” jawab Jung Kook penuh yakin.
“Baiklah, tapi aku tak mau mengeluarkan ongkos untuk mu” Sae Ri menjulurkan lidahnya tanda mengejek dan melanjutkan langkahnya.
“Aish… tidak akan. Aku akan membayar ongkos untuk mu juga”
“Jika itu mau mu, ya sudah. Aku terima dengan senang hati” Sae Ri menepuk-nepuk bahu Jung Kook dengan senyuman manisnya.
“Kau ini…” Jung Kook bergumam gemas melihat tingkah Sae Ri
“Ayo masuk! Mampirlah” ajak Sae Ri begitu mereka sudah berada di gerbang tempat tinggal Sae Ri. Jung Kook menggeleng.
“Ani. Aku harus langsung pulang. Aku akan mampir lain waktu” jawab Jung Kook.
“Baiklah. Apa kau sudah tau bus yang akan berhenti di dekat rumah mu?”
“Tenang saja. Aku bisa pulang sendiri. Sampai jumpa lagi, Sae Ri. Annyeong…”
“Nae, annyeong.. Hati-hati di jalan…”
“Nae…!” seru Jung Kook yang meninggalkan tempat tinggal Sae Ri. Senyuman masih menghiasi wajah Jung Kook sedari ia bersama Sae Ri. Perasaan bahagianya itu benar-benar tak bisa ia sembunyikan.
Senyumannya terhenti ketika sebuah mobil lewat dari arah berlawanan. Jung Kook merasa sangat familiar dengan mobil tersebut. Jung Kook menoleh kebelakang untuk melihat plat nomer mobil tersebut.
Benar dugaannya. Mobil tersebut adalah mobil milik hyungnya. Mobil tersebut mengarah ke tempat tinggal Sae Ri.
“Hy..hyung.. apa kau benar-benar akan melakukannya?” Jung Kook bergumam mengingat perdebatan hyungnya dengan kedua orang tuanya beberapa hari yang lalu.

Suara bel terdengar sampai dalam rumah. Tak mau tamu menunggu terlalu lama, Sae Ri membukakan pintu dan mendapati Ji Hoon dan kedua orang tuanya tengah berdiri di ambang pintu.
“Ah.. Ji Hoon oppa, Jeon ahjussi, Jeon ahjumma. Mari masuk” Sae Ri mempersilahkan Ji Hoon dan orang tuanya untuk masuk dengan senyuman ramahnya.
“Gomawo, Sae Ri-ah” ujar Jeon ahjussi
“Silahkan duduk, aku akan memanggilkan Na Rin unnie dan bibi”
“Baiklah..” sahut Jeon ahjussi
Sae Ri kembali masuk kedalam untuk memanggil Na Rin dan bibinya. Tanpa menunggu lama, Na Rin dan ibunya langsung menemui tamu yang telah menunggu tuan rumah di ruang tamu.
Karena mereka tampak begitu serius, Sae Ri tak berani untuk bergabung. Sae Ri hanya mengintip dari kamarnya.

-Sae Ri’s POV-

Aku tau, aku ini sama saja menguping pembicaraan orang dewasa. Tapi apa boleh buat melihat mereka yang tampak serius membuatku penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
“Maaf kan kami, kami sudah membujuk Ji Hoon berapa kali. Tetapi kami tetap tak bisa apa-apa. Ji Hoon telah dewasa. Kami pikir dia sudah bisa menentukan keputusan yang menurutnya terbaik untuknya..” ucap Jeon ahjussi yang terpotong.
“Maafkan kami, eommeoni. Akan sulit bagiku jika aku dan Na Rin tetap melanjutkan. Dengan sangat menyesal, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan ku dengan Na Rin dan membatalkan rencana pernikahan kami” Ji Hoon oppa membungkukkan kepalanya dalam-dalam.
OMO!.. Apa tadi Ji Hoon oppa bilang akan membatalkan rencana pernikahan? Tidak… bagaimana ini bisa terjadi?
Sesegera mungkin aku mengakhiri acara menguping pembicaraan mereka. Tapi… mengapa ini bisa terjadi? Bukankah acara pernikahan akan dilaksanakan tak lama lagi? Tapi mengapa Ji Hoon oppa tiba-tiba mengakhirinya? Apa mungkin.. Ji Hoon oppa juga melihat apa yang aku lihat di acara wisuda?
Na Rin unnie telah mengakhiri hubungannya dengan sunbae tampan demi bertahan dengan Ji Hoon oppa. Dan sekarang Ji Hoon oppa justru mengakhiri hubungannya dengan Na Rin unnie.. Aku yakin pasti bibi akan sangat sedih. Ya Tuhan.. kenapa ini harus terjadi?

Setelah kedatangan Ji Hoon oppa dan orang tuanya benar-benar membuat suasana di rumah 180o berbeda.Tak ada rona kebahagiaan antara bibi dan Na Rin unnie. Suasana rumah menjadi sangat seMereka akan keluar jika memang di perlukan. Tetapi tetap saja mereka lebih memilih untuk tak mengeluarkan suara untuk sekedar mengobrol atau basa-basi.
Suasana rumah yang seperti ini benar-benar membuat ku jenuh. Andai saja aku membujuk Ji Hoon oppa untuk tak membatalkan. Tapi.. aku tak punya kuasa untuk ikut campur urusan orang dewasa.. Oh Tuhan…

Drrrt…. Drrrrrrttt…..
Ponselku bergetar. Ada panggilan masuk. Rasa jenuh ku sedikit hilang begitu melihat nama Yoongi sunbae yang tertera di layar ponsel.
“Yeobosaeyo?” ucap ku menyahut panggilan dari Yoongi sunbae.
“Nae, yeobosaeyo. Sae Ri-ah, apa kau ada acara?”
“uhmm.. Tidak ada, sunbae. Ada apa?”
“Begini, aku dan teman-teman ku sedang mengadakan pesta barbeque. Dan.. aku rasa aku harus mengajak mu. Apa kau mau ikut?”
Mendengar Yoongi sunbae yang mengajak ku untuk pergi keluar seketika rasa jenuh ku hilang seketika. Seolah-olah Yoongi sunbae memberikan lampu senter di tengah-tengah gelapnya sebuah ruangan.
“Pesta barbeque? Aku mau. Tapi.. apa tidak apa-apa jika aku ikut?”
“Tentu saja tidak apa-apa. Mereka justru meminta ku untuk mengajak yang lainnya”
“Baiklah, sunbae. Kalau begitu aku akan siap-siap”
“Nae.. Aku akan menjemputmu”
“Nae, arraseo sunbae. Ppai..”
“Ppai..”
Sambungan telefon terputus. Sebaiknya aku bersiap-siap. Dengan begitu Yoongi sunbae tak perlu menunggu ku begitu dia sudah sampai.
Kurang dari 15 menit aku sudah siap untuk pergi ke pesta barbeque Yoongi sunbae dan teman-temannya. Tak lama kemudian bel berbunyi.
“Sae Ri-ah.. ada tamu untuk mu!” terdengar suara Na Rin unnie dari luar pintu kamar ku. Aku yakin itu pasti Yoongi sunbae.
“Nae, unnie. Aku akan segera kesana” sahut ku
Tak mau menunggu lama, aku langsung ke ruang tamu. Benar saja disana ada Yoongi sunbae yang tengah sekedar mengobrol dengan Na Rin unnie.
“Noona, aku meminta ijin untuk mengajak Sae Ri keluar” ucap Yoongi sunbae
“Baiklah. Tapi aku harap kau tak membawanya sampai larut malam. Akan sangat tidak baik untuk kesehatannya” sahut Na Rin unnie yang mengkhawatirkan ku.
“Nae, noona. Gomawoyo..” Yoongi sunbae sedikit membungkukkan tubuhnya sebelum pergi
“Unnie, aku pergi dulu. Annyeong..” aku melambaikan tangan ke arah Na Rin unnie
“Nae hati-hati di jalan..!”
“Naeeee…”

“Apa itu kakak mu?” Tanya Yoongi sunbae yang memecahkan keheningan selama perjalanan.
“Bukan. Dia kakak sepupu ku. Memangnya ada apa sunbae?”
“Aku hanya merasa pernah melihatnya. Tapi tak tau kapan”
“Ah.. begitu..” aku hanya bergumam menyahut jawaban Yoongi sunbae.
Sekitar 15 menit waktu yang di tempuh menuju tempat di adakan pesta barbeque. Di depan ku kini tampak sebuah rumah yang berukuran sedang tetapi tampak mewah.
“Ayo masuk” ajak Yoongi sunbae begitu turun dari motornya dan segera masuk ke dalam rumah. Sementara aku, aku hanya mengikutinya.
“Nae. Uhm.. sunbae, ini rumah siapa?”
“Ini rumah Namjoon. Kau santai saja di rumah ini. Dia tinggal sendirian disini”
“Namjoon sunbae tinggal sendirian? Memangnya kemana keluarganya?” Tanya ku yang menghentikan langkahnya. Mendapati Yoongi sunbae yang menghentikan langkahnya, aku pun demikian. Tapi.. Apa ada yang salah dengan pertanyaan ku?
“Orang tuanya bekerja di luar negeri. Itu lah sebabnya dia tinggal sendirian. Tapi dia juga sering mengajak teman-temannya untuk menginap disini” Ah.. begitu. Tak jauh berbeda dengan ku. Hanya saja aku dititipkan di bibi.
“Sudah lah, ayo. Mereka sudah menunggu kita” Yoongi sunbae meraih tangan kanan ku dan melanjutkan langkahnya menuju ruang tengah.
Di ruang tengah hanya terdapat 3 orang. Dua orang sedang bermain play station. Sedangkan yang satunya sedang duduk tenang di sofa yang panjang sambil mengutak-atik ponselnya. Tapi yang pasti mereka semua teman-teman Yoongi sunbae. Aku kira akan ramai disini. Tetapi dugaan ku salah.
“Aku dataaang…” sapa Yoongi sunbae begitu kami sampai di ruang tengah. Mendengar suara Yoongi, dua diantara mereka menyambut kedatangan kami dan menghentikan aktifitas bermain play station. Yang satu lagi.. entahlah, aku rasa dia tidak tertarik. Melihat wajah mereka, aku rasa tidak asing dengan wajah mereka. Aku rasa mereka sunbae dari tim basket.
“Teman-teman, perkenalkan. Ini Sae Ri” ucap Yoongi sunbae yang memperkenalkan ku.
“Jadi kau yang bernama Sae Ri?” Tanya salah seorang sunbae yang berrambut coklat muda.
“Nae, aku yang bernama Sae Ri” mendengar sunbae berbicara seperti itu, seperti dia pernah mendengar nama ku.
“Sae Ri-ah, perkenalkan. Dia Jung Hoseok, dan yang itu Kim Namjoon” Yoongi sunbae memperkenalkan ku ke teman-temannya sambil menunjuk ke masing-masing pemilik nama.
“Annyeong..” sapa mereka. Aku menyunggingkan senyuman menyahut sapaan mereka.
“Ah.. satu lagi. Dan yang itu Seok Jin. Kim Seok Jin” Yoonggi sunbae menunjuk salah seorang yang tengah sibuk sendiri.
Merasa namanya di sebut, sunbae yang bernama Seok Jin itu mengangkat kepalanya. Aku terkejut begitu dia mengangkat kepalanya. Aku tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutku. Begitu juga dengan dia, dia sempat membulatkan matanya begitu melihat ku di hadapannya. Suasana hening seketika.
Wajah itu.. wajah aku lihat beberapa hari lalu. Hari dimana Na Rin unnie di wisuda. Sunbae tampan.. Jadi nama mu Kim Seok Jin?
“Apa kalian sudah saling mengenal?” Tanya Yoongi sunbae yang membuyarkan lamunan ku dan memecahkan keheningan.
“Eoh? Hmm…” Yoongi sunbae yang membuyarkan lamuman ku membuatku tak tau harus berkata apa.
“Ani” sunbae tampan.. ani, Seok Jin sunbae menyahut dengan singkat dan kembali mengarahkan kembali pandangannya ke ponsel.
“Baiklah.. Oh iya, yang lainnya.. apa kalian sudah menelfon mereka?” Tanya Yoongi sunbae
“Sudah. Hoseok sudah menelfon yang lainnya. Mereka akan sampai sebentar lagi” jawab Namjoon yang mengambil posisi duduk disamping ku.
Sebenarnya kini aku tengah duduk di antara Namjoon sunbae dan.. Seok Jin sunbae. Duduk disamping Seok Jin sumbae saja aku sudah merasa gugup. Apa lagi kalau aku berbincang dengannya.
“Ya, Namjoon-ah minggir! Seharusnya aku yang duduk di samping Sae Ri” Yoongi sunbae merengek dan langsung duduk diantara aku dan Namjoon sunbae.
Melihat tingkah Yoongi sunbae yang kekanak-kanakkan membuat ku dan Hoseok sunbae terkekeh. Yoongi sunbae.. kau mengingatkan ku Hye Ri dan Ga In berebut duduk dengan Jung Kook hari ini. Haha.. Mau tak mau Namjoon sunbae mengalah dan memilih untuk menggeser posisi duduknya.
“Yoongi, sebentar lagi aku rasa Sae Ri akan memanggil mu oppa” ucap Hoseok sambil tersenyum menggoda. Hah? Aku akan memanggil Yonngi sunbae dengan sebutan oppa? Apa maksudnya?
“Oppa.. Yoongi oppa…” Namjoon sunbae beraegyo meniru suara perempuan dengan senyuman menggoda yang di ikuti gelak tawa Hoseok sunbae.
“Aish.. apa-apaan kau ini..” Yoongi hanya berdecak kesal melihat Namjoon dan Hoseok yang terus menggodanya.
Sementara itu, aku tak menghiraukan mereka bertiga. Aku melirik ke Seok Jin sunbae, meskipun wajahnya tertunduk ke arah ponselnya, aku masih bisa melihat ekspresi tak sukanya mendengar Hoseok sunbae dan Namjoon sunbae yang menggoda Yoongi sunbae. Meskipun candaan mereka tidak untuk Seok Jin sunbae, tapi aku rasa Seok Jin merasa tersinggung. Tak lama kemudian, Seok Jin sunbae bangkit dari duduknya. Eoh.. sunbae kau mau kemana?
“Seok Jin, neo eodiga?” Tanya Heosok sunbae begitu melihat Seok Jin sunbae bangkit dari duduknya.
“Aku mau pulang” jawab Seok Jin singkat dan langsung berlalu. Hah? Pulang? Kenapa kau pulang sunbae?
“Kenapa dia itu?” gumam Yoongi sunbae yang melihat tingkah aneh Seok Jin.
“Entahlah, apa jangan-jangan dia tersinggung karna ucapan ku tadi?” Hoseok mengernyitkan dahinya mencoba menerka penyebab sikap Seok Jin yang aneh. Omo, aku satu fikiran dengan Hoseok sunbae.
“Memangnya apa yang salah dengan ucapan sunbae?” Tanya ku berpura-pura penasaran.
“Hmm.. dia.. aku dengar dia berpacaran dengan seorang noona” Aku tercekat seketika mendengar jawaban Hoseok sunbae.
“Lalu apa salahnya berpacaran dengan seorang noona?” Tanya Namjoon sunbae yang tak bisa menyembunyikan ekspresi penasarannya.
“Masalahnya, noona itu sudah memiliki calon suami” terang Hoseok sunbae yang memelankan suaranya.
“M..mwo?” Yoongi sunbae dan Namjoon sunbae saling berpandangan karena terkejut dengan apa yang Hoseok ucapkan.
Sementara aku.. Aku hanya menelan ludah membayangkan Na Rin unnie, kakak sepupu ku yang tak lain adalah wanita yang Hoseok sunbae bicarakan.
*****
-Author’s POV-
Seok Jin kini tengah berada di sebuah club malam dan duduk di depan meja bartender. Apa yang Seok Jin ucapkan berbeda dengan apa yang ia lakukan saat ini. Seok Jin pergi ke club malam untuk merileks kan pikirannya sekaligus sekedar meminum segelas bir.
Niatnya untuk hanya meminum segelas bir nyatanya berbeda dengan apa yang telah ia lakukan. Seok Jin justru telah memesan lebih dari segelas. Bahkan ia hampir meminum sebotol bir.
Meminum minuman beralkohol sudah menjadi kebiasaan buruknya jika pikirannya sedang kalut. Bahkan ia pernah tidur di emperan toko karena terlalu mabuk. Dan sekarang ini Seok Jin mulai mabuk karena terlalu banyak minum.
“Ya, yeobo. Kau terlalu banyak minum” seorang wanita penghibur tiba-tiba menghampiri Seok Jin dan bergelayut manja di lengan Seok Jin.
“Kau sedang mabuk sekarang. Tak baik jika kau mengendarai kendaraan dalam keadaan mabuk. Ayo, ikut kami. Kami akan menemani mu” seorang wanita penghibur lainnya mengelus dada Seok Jin yang membuat Seok Jin merasa nyaman dengan perlakuannya itu.
“Kau tak perlu membayar. Sangat menyenangkan bagi kami untuk melayani tamu tampan seperti mu..” ucap si wanita penghibur yang sedari tadi bergelayut manja di lengan Seok Jin.
“Kajja..” tambahnya sambil menarik Seok Jin bangkit dari duduknya. Karena keadaannya yang tengah mabuk, Seok Jin hanya pasrah mengikuti apa yang dua wanita penghibur itu katakan.

 

 

 

TO BE CONTINUED

 

Author’s note: uwaaaaa… akhirnya part 4 kelar juga walaupun telat dari yang lainnya . Oh iya, di part ini aku menuhin janji buat bikin ceritanya yang lebih panjang daaan.. membongkar/? Siapa si pemeran ‘sunbae tampan’. Tapi di part 3 ada yg nebak, dan tebakannya bener. Kok bisa tau sih?😀
Ga pernah berhenti dan lupa ngucapin terima kasih buat yang udah mbaca apa lagi yang udah ninggalin jejaknya  Maaf juga kalo ceritanya ngebosenin.
Ya sudah, see you next chapter,,, readeeers… ppyong~😀

About fanfictionside

just me

22 thoughts on “FF/ THIS HEART THAT I GAVE TO YOU/ BTS-bangtan/ pt.4

  1. duh kasian banget sama na rin sampe batal gitu sama ji hoon, itu soek jin mau dibawa kemana >< jangan sampe deh
    next chap ditunggu banget thor ^^

  2. Nah? Benerkan feelingku dr awal sunbae tampan itu Kim Seok Jin =)) gatau kenapa udh lngsng ngefeeling ke Jin. Lanjut thor sepertinya SaeRi bakalan kena love triangle =))

  3. oh ternyata sunbae yang disembuyiin itu jin-_-
    terus bagaimana kah kelanjutan cerita mereka? jin sama Sae Ri dan jin sama Na Rin?
    next thor. jangan lamalama please;( semangka ‘-‘)9

  4. akhirnya sunbae tampan terungkap juga….
    AAAAAA…… i’m so happy, ternyata sunbae tampannya jin oppaaaaaa!!!
    tp, jhat bgt Na Rin sama oppaku tersayang….. huh, sabar ya jin oppa!!
    jungkook, lnjutkan perjuanganmu! #apaan sich? ok, kren bgt thor! lanjutkan!!

  5. aaaaaaaaaaaaaaaa author-ssi cepat lanjutkan ceritanyaa DX makin penasaran niiih kyaaaaaa fighting author-ssi>___<)9

  6. Uwahh.. Keren keren aku menyukai nya. Next CHAPT nya yah Thor..
    Ku tunggu dan jangan lama-lama yah Thor😀

  7. benerkan itu sunbae tampan tuh jin oppa?? hahaha tumben aku pinter🙂
    jungkook pindah sekolah??? huaaaahhhh.. sebangku sama jungkook?? demi apa??? aku mau…. kkk~~~ yoongi oppa?? kenapa kenapa?? kenapa oppa bikin dede kookie cemburu???
    jin oppa~~ jangan pernah ngelakuin hal yang aneh-aneh jebal~~~~!! sadar oppa >.<

  8. Keren thor, yoongi oppa biasanya perannya *badung*._. ?? tapi disini so sweet amattt!! gomawo thor, ditunggu chap selanjutnya ya thor, fighting thor^^!!

  9. Kyaaaaaaaa~
    Next thor.. Seru banget.. Apalagi Ada yoongi dan jimin yang lucuuu… Seokjin kasian yah😥
    Pokoknya harus next ya thor.. Daebak banget!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s