FF/ THE BEAUTIFUL CASPER’S JOURNEY/ BTS-BAP


Title: the Beautiful Casper’s Journey

Author: ulfahisme

Genre: Friendship

Main cast:


-Choi Jin Hee (OC)

-Min Yoongi (Suga BTS)

-Lee Yoo Jung (OC)

-Moon Jong Up B.A.P


Genre: friendship, romance

Rating: G

Length: chapter

Summary: aku Jinhee. aku seorang siswiDong-ha High School yang telah menjadi roh. Banyak yang berpikirbahwa aku adalah hantu psikopat–seperti di dalamfilm horror yang biasa kalian tonton. Tapi sayangnyainibukan film. Ugh, jikadimisalkandengan film, aku seperti casper–hantu yang periang dan baik hati, walaupun aku, ehm, sedikit jahil.

Disclaimer: ini adalah ff pertamaku. ff ini sedikit terinspirasi dari film Cheoyong, dimana Hyosung SECRET yang menjadi hantu. Jika ada kesamaan judul dan alur cerita, aku minta maaf. Dan aku sangat berterima kasih kepada temanku, Rima dan Tria yang sudah banyak membantuku.

 Ulzzang-preppy-style-vintage-school-bag-lovers-backpack.jpg_350x350

– Jinhee POV –

Perempatan Myeongdong

2nd January 2008

00.00 KST

 

CIIITTT…BRUUKKK!!!

Aku terjatuh ke aspal. Kepalaku terbentur trotoardanterpental 5 meter dari perempatan.

Samar-samar aku melihat mobil yang telah menabrakku tadi. FL 537. Mobil yang meninggalkanku begitu saja. Tapiakutakmelakukanapapun.Bahkanwalauhanyasekedaruntukmeneriakkan kata ‘Berengsek’ padasipengemudimobilitu.Hanyamembiarkanmobilitupergibegitusaja.Dan disertaidenganpenglihatanku hilang begitu saja.

***

Myeongdong, 12th February 2014

23.00 KST

Malam itu adalahmalam yang sunyi.Malamdimana aku terbangun dari tidurku yang lelap. Masih ditempat yang sama. Masih dengansisabekas darah di kepalaku tadi. Dan saat aku melihat jam tanganku,jam 11 malam.

OMO! Aku harus pulang sekarang!’jeritkudalam hati.

Aku langsung mengambil tas punggungku dan bergegasberlari ke halte. Ugh, kenapatakada orang yang menolonggadis yang pingsan di tengahjalansepertiku, sih?

***

– Normal POV –

Sesampainya di apartemen, iamelirikponselnya. Di sanatertulis ‘February 13th 2014’. Perasaannyamerasakanada sesuatu yang tidakberes.Bukankahiapernahtertabrak? Setelahiapulangkursusintensifmalam? Dan ia punmulaimengingat-ingatkronologiitu.

2 Januari 2008.Malamdimana iapulangdarisekolahnyadengansepeda. Saat waktu mulaimencapai angka 12 di malam hari yang kelam. Tidakadakendaraan yang berlalulalang di jalanitu–benar-benar tidak ada.Iamengayuhkencangsepedanya. Sebuah mobil menabraknya. Daniaterlemparsejauh 5 meter. Dan….

Iamemegangkepalanya. Iatidakingatlagiapa yang terjadi setelahnya. Yang iatahuhanyalahdirinya yang barusajapingsan di tempat yang sama. Masalahnya, kenapaiaterbangunsetelah enam tahun tertidur? Apa orang-orang Myeong-dong setegaituuntukmembiarkanseoranggadistidur di jalananselamaenamtahun? Sungguhajaib.Tapi keajaiban itu lucu sekali.

Iamemutuskanuntuktidakberpikirlebihpanjang. Karenaitubenar-benarmembuatkepalanyapusingdanserasainginpecah.Iamemasukikamarmandiuntukmencucitangannya di wastafel. Tapi, saat iabercermin di kacawastafel, tidak ada bayangan yang terpantul dari cermin itu–hanyaadabayangandinding di belakangnya. Ia benar-benar tidak percaya pada apa yang terjadi kepadanya.

“Kenapa bisa begini? Apa ini bukan cermin?–“

“–atau ini hanya mimpi?–“

“–atau ini hanya ilusi aneh dari orang yang barubangun?” Gadis itu mencoba mengangkat tangannya. Berusaha menepis ketakutannya untuk memukul cermin di hadapannya sekuat tenaga seperti yang di dalam film–dan berakhir dengan tangannya yang berdarah-darah. Tapi itu hanya bayangannya saja. Dan pada kenyataannya tangan itu tak juga berdarah. Dan bahkan tak berhasil menyentuh cermin itu.

“Ini tidak lucu. Kenapa aku sudah berubah jadi seperti..”

“–roh?”

Sebuah senyuman tipis tersungging dibibirnya. Matanya sibuk menatapi lantai di bawahnya. Otaknya sibuk mensugestikan pada dirinya sendiri bahwa dirinya pasti bermimpi.

“Sepertinya aku harus tidur agar dapat terbangun dari mimpi yang aneh ini” ucapnya pada diri sendiri.Iaberusahapercayapadaucapannya, tapiiabahkantakpercayadiridenganucapannya.

Ia melangkahkan kakinya ke kamarnya yang berantakan–sangat berantakan. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Matanya sibuk menatapi langit-langit kamarnya, membayangkan wajah ibunya yang telah meninggalkannya sejak 7 tahun yang lalu, pacarnya–Kwangji–yang juga telah meninggalkannya, dan Jaeyoon–sahabatnya sedari TK. Membayangkan momen-momen manis yang telah terjadi hingga akhirnya ia tertidur di antara kelamnya malamdankehidupan.

***

Esok harinya,..

Matahari menyinari kota Seoul yang telah ramai oleh orang-orang yang sibuk dengan urusan masing-masing. Tetapi tidak bagi Jinhee, gadis itu masih tertidur pulas sampai…

PRAANGG!!

Suara pecahan piring dari tetangga sebelah membangunkannya. Dia mengucek matanya yang terasa berat untuk dibuka. Menatapkekiridankanandenganpenuhkeheranan. Jam 8!

OMO! Harusnya aku sudah disekolah sekarang! Eotteokhae?”

Dia melompat dari kasurnya, tapiponselnyatiba-tibahidupdan

Ia melihat tanggal di penselnya.

HariMinggu -_-

Babo!” maki gadis itu sambil memukul dahinyasendiri. Ia berjalan menuju dapur untuk memasak. Membuka kulkas untuk mengambil bahan-bahan yang iabutuhkanuntukmembuatsarapan di hariMinggu yang bodohini.

Nihil.

Tidak ada satu bahan makanan pun di dalam kulkas–kulkas itu benar-benar kosong–yang dapat ia gunakan untuk masak maupun ia makan. Tapi harus bagaimana lagi, mau tidak mau ia harus membeli makanan cepat saji jika ia tidak ingin kelaparan. Dengan malas, gadis itu mengganti pakaiannya–yang memang sedari tadi masih menggunakan seragam sekolah– dan berjalan keluar menuju kota untuk mencari makanan.

Berjalan..

Terus berjalan..

Dan terus berjalan..

Dan langkahnya terhenti ketika ia melihat kios makanan siap saji langganannya. Ia melangkah masuk ke kios yang tidak terlalu besar, tetapi tidak kecil itu. Ia melihat-lihat menu yang ada di meja kasir.

Banyak sekaliperubahan di kios itu. Makanannya juga semakin bertambahpikirnyasambil menentukan makanan apa yang akan ia pesan. Iakemudianmelangkahuntukduduk di salah satu bangku yang kosong. Ia mengangkat sebelah tangannya untuk memanggil pelayan. Setelah salah satu pelayan datang, ia menyebutkan makanan yang ia pesan satu persatu. Semuanyaberjalansepertibiasanyasampai pelayan itumemasang wajahheran yang sedikitmengganggu.

Sepertinya aku pernah melihatmu. Tapi dimana ya?” tanya pelayan itu dengan hati-hati.

Jinhee yang sedari tadi melihat menu, memalingkan wajahnya kearah pelayan itu.

Maaf?” tanya gadis itu balik.

Pelayan itu baru mengingat nama gadis yang didepannya ini.

Kau..kau Choi Jinhee kan?” tanya pelayan itu girang.

Ya. Dan aku sudahlangganandisini.” Jawab gadis itu senang. Ternyata, masih ada juga orang yang mengingatnya. Ah, Jinheesenangsekali.

Tapi, pelayan itu masihmenatapnya dengan tatapan tidak percaya–seperti tatapan kagum, tapiitusedikitmengganggu.“Kau…sungguh luar biasa!” ucap pelayan itu kagum.

Jinhee menatap pelayan itu bingung “Maksudmu?”

Lalu pelayan itu melanjutkan kalimatnya “Walaupun umurmu sudah 24 tahun, tapi kau masih memiliki wajah seperti anak SMA”

Mwo? 24 tahun? Aigoo, umurku baru 18 tahun’ batinnya dalam hati.

“Ahaha…gamsahamnida ahjumma” ucapnya dengan senyum, walaupun hatinya tidak bisa menerima apa yang dikatakan oleh pelayan tadi. Ugh, apanya yang 24 tahun?

Cheonmaneyo. Ah, aku hampir lupa! Maaf telah membuatmu lama menunggu” seru pelayan itu sambil memukul dahinya pelan dan langsung bergegas pergi kedapur. Gadis itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku pelayan tadi.

Beberapa menit kemudian, makanan yang ia pesan akhirnya datang juga. Ia langsung menghabiskan makanan itu dengan lahap.

Setelah cukup puas dengan sarapan paginya, ia kembali pulang ke apartemennya untuk membereskanapartemennya yang sudahsepertikapalpecahitu. Karena hari ini ia berencana untuk pergi ke pemakaman ibu dan pacarnya.

Jinhee membeli beberapa bunga untuk ia letakkan di makam ibunya dan kekasihnya nanti. Ia membeli 3 tangkai bunga tulip putih untuk ibunya karena ibunya sangat menyukai bunga itu, selain itu, bukankah tulip juga merupakan perlambangan kasih sayang yang dalam, bukan? Dan 3 tangkai mawar putih karena sebagai ungkapan rasa cintanya yang tuluskepada kekasihnya itu.

Sesampai di pemakaman–dan pada saat itu memang tidak terlalu banyak pengunjung– ia mengunjungi makam kekasihnya terlebih dahulu. Ia meletakkan 3 tangkai mawar putih yang telah ia beli tadi di depan bingkai foto kekasihnya. Setelah itu, ia mengunjungi makam ibunya. Namun, setelah berjalan dalam lima langkah, ia melihat foto yang menurutnya tidak asing lagi di matanya.

Ia melangkahkan kakinya perlahan ke arah makam itu. Melupakanfaktabahwadirinyaseharusnyaberjalankemakanibunya.Dan gadis itu mendapatkandirinya yang begitu terkejut karena yang ada di fotoitu adalah dirinya.

Spontan ia jatuh terduduk. Matanyamasih menatap gambar itu dengan tidak percaya. Tanpa ia sadari, air matanya jatuh begitu saja. Ternyata itu bukan mimpi aneh. Dan sekarang ia benar-benar menjadi roh. Tak ada gunanya lagi dirinya meyakinkan diri bahwa ini hanya mimpi bodoh. Semuanya terlihat nyata sekarang. Apakah.. Jinheebolehmenangis?

***

Jongup POV

Malam itu aku baru saja pulang dari acara ulangtahun sahabatku–Zelo. Seperti biasa, aku memang selalu melewati perempatan Myeong-dong jikadatangkerumahZelo.

Akumenataplangit yang kosongtanpabintang.Hanyaadasebuahbulanpurnama. Ah, tapiituindahsekali.Aku cukupmenyadarisepertiadasesuatu yang aneh ketika aku melewati jalan ini.Mungkinefekdinginnyamalamditambahdenganlangit yang terlihatbegiukosong?

Jantungku berdebar kencang.

Keringat dingin menjalar keluar.

Angin bertiup kencang.

Lampu lalu lintas hidup dan mati terus menerus.

Suasanaberubahsemakinmencekamsaja.Akuberusaha memberisugestipadadirikusendiribahwainihanyaefekkantuk yang tiba-tibamenyerangku.

Tiba-tiba seorang gadisyang mengenakan seragam sekolah muncul di atas tiang lampu di sisikananjalan.Gadispelajaritu terus melihatku. Samar-samar terdengar suara dari bibirgadisitu. Ia mengucapkan kata ‘tolong’ berulang kali. Tapi hal itu membuatku berlari meninggalkan perempatan itu.Akubersumpah, kali iniakutakakanberjalan di saatkantukmelandalagi agar otakkutakmemikirkanhalanehseperti yang barusan.

***

Jinhee POV –

Dong-ha High School

14th February 2014

06.30 KST

Aku berjalan melewati koridor sekolah.Haaah..aku sangat merindukan sekolah.Hari ini aku berencana untuk mendaftar ke sekolah inilagi.

***

11.30 KST

“Nona Choi!”seorang staf sekolah mengejutkanku dari lamunanku. Staf itu mempersilahkanku masuk ke ruangan kepala sekolah.Aku menunggu konfirmasi dari kepala sekolah di sebuah ruangan.

Nah, Nona Choi. Ini hasil tesmu. Selamat, kau mendapat nilai sempurna. Kau akan memasuki kelas XII-1. Mulai besok kau dapat belajar di sekolah ini. Ini seragammu. Semoga kau bisa beradaptasi dengan teman barumu di sekolah ini” Ujar nyonya Kim–sang kepala sekolah– sambil menyerahkan benda-benda keperluan sekolah yang dipegangnya kepadaku.

Terima kasihbanyak, Nyonya Kim” ucapku seraya membungkuk. “Bolehkan aku keluar?”

Memang, sekarang sudah pukul 12 siang. Terlaluterlambatuntukberbasa-basilagi di sini.

Nyonya Kim bangkit dari duduknya. “Ya, silakan” ucapnya sambil balik membungkuk kepadaku.

Aku meminta izin dengan beliau dan berjalan keluar dari ruangan itu.Dan mulaiberlaridengansemangat di sepanjangkoridor.

***

15th February 2014

Dongha High School

06.30

Yay! Aku benar-benar senang hari ini.

Kenapa?

Karena ini adalah hari pertama aku masuk sekolah di sekolah yang ‘baru’. Mataku terus mencari-cari kelas XII-1 yang akan menjadi kelasku nanti.

Nah, ketemu juga!

Aku berdiri di depan kelasbaruku. Katanyainiadalah kelas yang unggulterbaik di sekolahini.Hanya murid-murid yang mendapat nilai nyarissempurnayang berhak masuk kelas itu. Aku mencoba membuka pintu kelas itu. Ternyata tidak terkunci.

Aku masuk kedalam kelas dengan hati-hati. Kelas yang–terlampau–bagus. Banyak perubahan. Sudah ada komputer di setiap meja belajar–tidak seperti kelasku dulu. Walaupun unggul, tapi tetap saja aku harus membawa netbook sendiri. Aku meletakkanranselku di bangku paling depan, tepat di depan papan tulis. Bosan juga kalau hanyaberdiamdirididalamkelas. Lalu aku memutuskan keluar untuk mencari udara segar.

‘KKRRIIINNGGG!!!!!!’

“Padahalakubaru saja mau ketamanomelku kesal.Tapitakapalah, mau bagaimana lagi? aku harus ada di kelas.

Beberapa menit kemudian, seorang guru cantik masuk kekelas. Kelihatannya orang itu baik. Kuperhatikan nametagnya. Lee Yoo Jung.

annyeong hasimnikka” ucap guru itu. Dugaan ku benar.

Dengan serempak, murid-murid membalas salamnya “annyeonghasimnikka seonsaengnim”.

Guru itu melanjutkan kalimatnya “Ibu dengar, ada murid baru ya disini?” semua murid heran. Mereka melihat ke sekeliling kelas.

Aku mengangkat tanganku “Aku!”katakuagakkerashingga semua murid melihatkearahku.

Ya, silakan maju” perintah guru itu sambil tersenyum kepadaku.  Aku melangkahkan kakiku kedepan. “Silahkan memperkenalkan diri kepada teman-temanmu” perintah guru itu.

Aku mengambil nafas panjang. Gugupjugajikasituasinyasepertiini.Annyeonghaseyo yeorobun. Joneun Choi Jin Hee imnida. Senang berjumpa dengan kalian. Mohonkerjasamanya” aku membungkukkan badanku.

Aku perhatikan murid yang ada di kelas itu satu persatu. Tapi, ada satu siswa yang duduk di belakangku menatapku–dengan tatapan seperti orang heran bercampur takut.

Oh, sepertinyaaku ingat siapa dia.

Dia adalah orang yang berjalan di perempatan pada malam itu. Aku dapatlihat nametagnya. Moon Jong Up. Murid itu terus menunjuk ke arahku. Aku hanya bisa memberinya isyarat dengan tatapan ‘aku-akan-menjelaskan-kepadamu-apa-yang-telah-terjadi-setelah-ini-Jongup-ssi’.

Dan dia hanya duduk diam. Baguslah, sepertinyadia memahami maksudku.

Baiklah, ada yang ingin bertanya pada..siapa namamu?” tanya guru itu. Aku yang sedari tadi hanya melihat Jongup langsung tergagapgugup.

Ah..nde?” tanyaku seperti orang bodoh.

Ah, Jinhee. Adakah diantara kalian yang ingin menanyakansesuatutentangnya?”  tanya guru itu sekali lagi. Aku melihat murid yang duduk paling belakang mengangkat tangannya. Mungkin ia ingin bertanya.

“Hyemi-ah. Ada yang ingin kau tanyakan?” tanya guru itu kepada murid yang mengangkat tangannya tadi. Murid itu berdiri.

“Jinhee-ssi. Sebelumnya kau berasal dari SMA mana? Dan apa penyebabnya sehingga kau pindah kesini?” tanya murid yang bernama Hyemi itu.

Mwo? Bagaimana ini? Apa yang harus kujawab? Jika aku menjawab dari sini, mungkin murid-murid akan menertawakanku. Ah, sepertinya aku tau harus menjawab apa.

Aku menarik nafas panjang sekali lagi “Aku…aku sebelumnya bersekolah di Arcadia High School, USA. Alasannya, karena orang tuaku dipindahkan tugas kesini” Ugh, berbohongmemangtidakbaik. Tapisedikitberbohongjugatakapakan?

Hyemi mendengarnya dengan takjub “Arcadia? Berarti kau satu sekolah dengan Mark GOT7, bukan?”

Hehehe..nde, dia seniorku” jawabku asal. Akhirnya aku diperbolehkan duduk kembali.

TBC

About fanfictionside

just me

12 thoughts on “FF/ THE BEAUTIFUL CASPER’S JOURNEY/ BTS-BAP

  1. first kah??
    aq sk jln crita agak merinding jg si masa org dah meninggal rohnya bs kliatan nyata…
    tp mian aq mw kritik itu sila spasinya bnyk bgt yg gk dksh spasi jd agak sulit bacanya…
    semangat ya…╭(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯ GO!

  2. wow hahaha nyangkutin mark juga lol, mana nih si suga? hahaha aku suka thor sama ff mu macam 49days banget tapi ini Rohnya keliatan dan bisa makan juga.. tapi maaf spasinya tlg agak diperhatikan dong, bacanya kalau gini susah. makasih

  3. Thor, aku mau baca ffnya. Klo dr summary-nya sepertinya menarik. Tapiiii… kalimat2nya itu bkin mataku sakit, jadi beluman dibaca deh. Mian (_ _)
    Bisa di refisi dan di repost tidak ya?

  4. wah,,seru-seru next ya thor, aku suka soalnya ada Min Yoonginya bias ultimate ku di BTS hahaha,,😀 aku juga agak susah bacanya soalnya spasinya,next keep writing🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s