FF/ I LOVE YOU/ EXO/ pt. 8


Author: Kim Taeri (@irna66lestari)
Main Cast: Tari (OC), Kris (EXO-M, Suho (EXO-K), Hyejin (OC), Luhan (EXO-M)
Support Cast: Jessica (GG)
Genre: Romance, Angst
Rate: T (+16)
Length: Chaptered
Disclaimer: All the cast are from God except the OC is my imagination and the storyline too. I’m sorry for typo
 
Preview:
Tari mengalungkan tangannya pada leher Kris. Memeluk pria itu, mengusap punggungnya pelan. Mencoba menenangkannya, sekaligus menyembunyikan matanya yang kini sudah berkaca-kaca. Gadis itu tahu, cepat atau lambat waktu itu pasti akan datang. Waktu dimana saat dia harus melepaskan orang yang di cintainya.
“Aku hanya tidak ingin kau merasa tertekan.”
“Apa maksudmu? Justru kau yang membuatku nyaman.” Sela Kris cepat.
Ani. Bukan begitu maksud ku. Aku tahu seberapa besar kau mencintaiku. Aku percaya padamu, dan aku akan selalu berada di sisimu. Seperti yang kau bilang tadi.”
——————————————————————————————————————————
Pelukan itu semakin erat seraya air matanya kini meluruh jatuh membasahi pipinya. Tapi buru-buru dia menghapusnya. Menghilangkan jejak-jejak air mata itu, sebisa mungkin untuk tidak terlihat oleh Kris.
“Sekarang, temuilah dia. Lakukan apa yang seharusnya kau lakukan. Aku tidak pernah berada jauh darimu. Jika kau lelah, jika kau ingin bersandar, kau tahu kemana harus mencariku.” Tari mencium pipi Kris singkat. Sebelum akhirnya melepaskan pelukannya.
“Kau tahu?” Ucap Kris dengan nada rendahnya. Tangannya menangkup wajah Tari, kening keduanya menyatu seraya matanya terpejam, merasakan hembusan nafas gadis di depannya. Menikmati dan menyimpan baik-baik ingatan tentang kebersamaan mereka saat ini. “Kau itu gadis aneh, keras kepala, dan menyebalkan yang pernah ku temui. Jalan pikiranmu tidak pernah bisa ku tebak. Aku mengharapkan kau menahanku. Tapi kenyataan yang ku dapat kau justru menyuruhku pergi.” Kris terkekeh di akhir kalimatnya. Begitu pun dengan Tari, gadis itu tersenyum. Entahlah, kalimat itu terdengar seperti sebuah pujian. “Satu kata saja yang kau ucapkan untuk menyuruh ku tinggal, aku tidak akan pergi kemana pun sampai kau sendiri yang mengusirku.”
“Aku memang menginginkan kau tetap di sini, tapi aku tidak mau menjadi gadis egois yang terus-terusan menahanmu.”
Kris tersenyum. “Aku tahu. Tapi ingat, kau adalah prioritas ku. Kalau pun ada yang harus ku pilih, itu adalah dirimu.”
“Hm, arasseo.
Kris kembali memeluk Tari. Mendekapnya erat, menghirup aroma tubuhya dalam-dalam. Menyimpan dalam-dalam di ingatannya. Sungguh, jika boleh jujur dia tidak ingin melepaskan pelukan ini. Dia ingin terus mendekap gadisnya. Mengatakan pada semua orang bahwa gadis ini adalah miliknya. Bahwa hatinya hanya mencintai gadis yang ada di dalam pelukannya ini. Dia tidak pernah tahu jika statusnya akan membuat kisah cintanya serumit ini.
“Kalau begitu aku pergi. Jaga dirimu baik-baik.”
Kris melepaskan pelukannya. Mencium kening Tari sebelum akhirnya dia pergi dan menghilang dari pandangan gadis itu.
<<<>>>
Oppa, kita sudah berkeliling selama hampir tiga jam. Kau tidak lelah?”
Merasa bosan hanya duduk diam tidak melakukan apa-apa, Hyejin dan Suho memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di Hongdae. Sebenarnya Hyejin tadi mengajaknya pulang, tapi Suho tidak mau. Dia memaksa untuk menemaninya berjalan-jalan. Tapi sudah dua jam lebih mereka hanya berkililing, berbaur dengan keramain. Hyejin bukannya tidak suka, dia hanya khawatir jika ada fans atau wartawan yang menyadari keberadaan Suho.
“Kenapa? Kau lelah?” Suho berhenti sebentar menatap Hyejin. “Kalau begitu kita istirahat dulu. Ah, di sana ada kedai tteokbeokki. Kita istirahat sebentar sambil makan tteokbeokki, sundae atau odeng.Atau kau ingin makan makhcang?
“Ya! Aku bukan lelah.” Hyejin menghentikan Suho saat pria itu akan melangkah menuju kedai yang di tunjuknya tadi “Aku hanya takut ada fans yang mengenalimu. Tidakkah sebaiknya kita pulang saja?” Ada nada khawatir dalam suaranya. Suho berdecak pelan sebelum akhirnya menarik tangan Hyejin, memaksanya mengikuti langkahnya.
“Tidak usah mencemaskan apapun. Tidak akan ada yang terjadi. Kau tenang saja.”
Kini mereka sudah duduk di kedai yang tadi Suho tunjuk. Bukan kedai besar, hanya kedai kaki lima yang biasa berdiri di pinggir jalan. Tapi cukup bersih.
Oppa, kau yakin ingin makan di sini? Bagaimana jika ada wartawan yang memergokimu? Apa lagi saat ini kau sedang bersamaku, ini bisa jadi skandal.” Hyejin masih terlihat khawatir.
“Aish, sudah ku bilang tidak usah mencemaskan apapun. Kau tidak lihat kacamata, topi dan syal ini? Apa ini belum cukup untuk menutupi wajahku?”
“Tetap saja. Mata mereka itu sangat jeli.” Suho mengibaskan tangannya di depan wajah Hyejin. Tidak peduli.
“Sudahlah, aku tidak mau membahas itu. Aku ingin menikmati waktu liburanku. Aku yang menjamin tidak akan terjadi apapun. Anggap saja kita sedang kencan.” Suho mengakhiri kalimatnya dengan senyum merekah di bibirnya. Tidak menyadari ucapan terakhirnya membuat gadis depannya hampir saja melewati satu detakan jantungnya.
Hyejin memilih diam, tidak mengeluarkan komentar apapun lagi. Terlalu sibuk menenangkan jantungnya. Juga meyakinkan dirinya bahwa ucapan Suho tidaklah serius. Dia hanya tidak ingin merasa sakit pada akhirnya, walaupun dia sendiri tahu dia sudah merasakan rasa sakit itu di awal.
Ibu penjaga kedai datang membawa pesanan yang tadi sudah sempat mereka pesan sebelum mencari tempat duduk. Hyejin tersenyum simpul saat pesanan itu sudah tertata di mejanya, begitu pun dengan Suho. “Ghamsahamnida, Ahjumma.” Ucap mereka.
“Kau mau sundae?” Tawar Suho. Hyejin menggeleng.
“Tidak. Kau saja. Aku tidak suka sundae, terlalu amis. Aku makan tteokbeokki saja.”
<<<>>>
Sepeninggal Kris, gadis itu bingung ingin melakukan apa. Ingin menonton Televisi, tidak ada acara yang menurutnya bagus. Ingin tidur, dia tidak mengantuk sama sekali. Hyejin belum pulang saat Suho menjemputnya dan mengajaknya pergi. Sebenarnya mereka kemana? Pikir Tari. Gadis itu merasa bosan tidak ada yang bisa di lakukannya.
“Ah, sepertinya membeli Bubble Tea bukan ide yang buruk.”
Tari beranjak dari duduknya menuju kamarnya. Mengambil jaket juga dompetnya. Kemudian keluar apartemen setelah mengenakan sneckers kesayangannya, yang di belikan Kris dua bulan lalu sebagai hadiah ulang tahunnya. Mungkin jalan-jalan sebentar bisa menghilangkan sedikit rasa penatnya. Pikirnya.
Tidak sampai lima belas menit untuknya sampai ke kedai tersebut. Tidak terlalu ramai saat dia tiba. Mungkin karena bukan hari libur, dan jam yang menunjukan saat ini masih jam orang-orang kerja dan sekolah. Baguslah. Pikirnya. Karena dengan begitu dia tidak perlu lama-lama untuk mengantri. Lagi pula dia tidak terlalu nyaman dengan keramaian.
Setelah mendapatkan Bubble Tea-nya, dia memilih menelusuri jalanan-jalanan di sekitarnya. Hanya mengikuti kemana arah kakinya melangkah. Sambil mendengarkan music dengan headset yang menggantung di kupingnya, gadis itu berjalan dengan nyamannya. Sesekali menyeruput Bubble Tea-nya. Tanpa merasa terganggu dengan lalu lalang orang-orang di sekitarnya. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Dia merasa ada seseorang yang mengikutinya sejak tadi. Di sana memang banyak orang yang berlalu lalang. Tapi entahlah, dia merasa pria bermasker dengan kacamata hitam yang sejak tadi berjalan di belakangnya terus mengikutinya. Saat dia melangkah pelan pria itu ikut memelankan langkahnya, begitu pun sebaliknya jika dia mempercepat langkahnya. Tapi gadis itu tidak mau menuduh sembarangan. Dia tidak mau tiba-tiba menuduh tanpa bukti. Bagaimana jika dia salah paham? Selain membuat orang itu malu, dirinya juga akan ikut malu. Tiba-tiba saja dia teringat dengan Minhyuk yang sudah beberapa kali menganggungya. Bukan gangguan biasa. Bahkan terakhir kali pria itu hampir memperkosanya jika waktu itu Chanyeol, Kai, Baekhyun dan teman-temannya yang lain tidak datang menolongnya. Yang membuat pria itu akhirnya mendekam di tahanan. Tapi sepertinya gadis itu melupakan sesuatu. Minhyuk bukan dari keluarga sembarangan. Dengan hartanya yang melimpah tidak menutup kemungkinan pria itu bisa keluar dari penjara lebih cepat dari hukuman yang sebenarnya. Oh, sepertinya rasa takut mulai menghinggapinya. Buru-buru Tari merogoh saku jaketnya, mengambil ponselnya. Di tekannya angka satu, panggilan cepat untuk kekasihnya. Sedetik kemudian gadis itu mengumpat kecil.
“Kenapa di saat seperti ini ponselnya mati? Aish!!”
Langkahnya semakin cepat seiring ketakutannya yang terus bertambah. Bisa dirasakannya orang di belakangnya ikut mempercepat langkahnya. Dia bingung harus menghubungi siapa lagi? Di tengah-tengah kepanikannya tiba-tiba saja wajah Tao melintas di pikirannya. “Ah, benar. Anak itu pintar bela diri. Dia pasti bisa menolongku.” Ucapnya antusias. Baru saja Tari akan menekan tombol di ponselnya kembali, sebuah tepukan di pundaknya mengagetkannya. Dia menoleh dan betapa terkejutnya saat mendapati pria bermasker itulah pelakunya. Sontak saja dia berteriak yang membuat orang-orang di sekitar mereka memandang heran keduanya, namun tidak lama. Karena pria itu langsung membekapnya. Kemudian pria asing itu menundukan kepalanya berkali-kali sebagai permintaan maaf. Tentu saja Tari memberontak saat pria itu membawanya secara paksa. Jantungnya semakin berdegup kencang saat tahu pria bermasker itu membawanya ke dalam gang kecil yang sepi. Berbagai pikiran buruk kini meracuni otaknya.
Nafasnya terengah saat bekapan itu terlepas. Ingin kembali teriak dia takut. Bagaimana jika pria di depannya ini langsung membunuhnya jika dia teriak? Dia sendiri masih bingung. Pria ini perampok, penculik, atau Ahjjushi-ahjjushi mesum? Tapi jika di lihat dari bentuk tubuhnya, sepertinya pria ini masih terlihat muda.
“A-apa yang…k-kau i-inginkan?” Tanya Tari takut-takut. Tangannya masih di cengkram oleh pria itu. Tidak sakit memang, tapi cukup erat. Cukup membuat pergelangan tangannya memerah jika dia memaksa menariknya. Dia tidak bisa kabur kemana pun. Kakinya terus melangkah mundur setiap pria itu melangkah maju mendekatinya. Secara tidak sengaja kakinya menyenggol sesuatu. Saat di lihat ternyata itu sebuah balok. Tiba-tiba dia mempunyai ide. Dia langsung mengambil balok itu saat dirasanya pria itu lengah, lalu dengan cepat mengayunkan balok itu ke arah pria yang masih mencengkram tangannya. Namun belum sempat balok itu mengenai kepalanya, pria itu sudah lebih dulu menangkisnya.
“Ya! Apa yang kau lakukan?” Tanya pria itu terkejut. Tari hanya bisa mengerjapkan matanya kaget. Selain usahanya untuk lepas dari pria itu gagal, kini balok itu sudah terlempar jauh dari tangannya. Dia hanya bisa menggigit bibirnya takut. Sepertinya dia tidak akan selamat kali ini.
Jebal, l-lepaskan aku.” Mohon Tari. “A-atau aku akan teriak.” Ancamnya kemudian, namun masih terdengar ketakutan dalam suaranya. Tanpa berfikir panjang lagi, gadis itu berteriak.
“Toloooong…… To-mmmppfft….. “
“Ya! Teriakanmu bisa mengundang mereka.” Mulutnya kembali di bekap. Kini gadis itu meronta, menendang-nendang dan memukul apapun yang ada di depannya. Tidak peduli jika pria itu kesakitan, karena tujuannya memang terlepas dari pria asing yang tidak di kenalnya ini. Kemudian dia menggigit tangan yang masih membekap mulutnya. Membuat si pemilik tangan langsung melepaskan bekapannya dan meringis sakit.
“Ya! Apa yang kau lakukan?” Teriak pria itu. Tapi Tari tidak peduli, dia langsung siap-siap mengambil langkah untuk segera kabur mumpung pria itu sedang lengah. Namun baru satu langkah, tangannya kembali di tahan membuat langkahnya terhenti. Namun gadis itu kembali berontak.
“Lepaskan aku. Apa yang mau kau lakukan?” Teriaknya ketakutan.
“Kau itu bisa diam tidak sih?” Ucapnya jengah. “Ini aku.” Katanya. Seraya melepas kacamata dan maskernya. Sontak saja Tari hanya bisa melongo tidak percaya. Tapi sedetik kemudian gadis itu sudah melayangkan tendangan cukup keras tepat pada tulang kering di kaki pria itu.
“Ya! Kenapa kau menendangku? Aish!!” Pria itu kembali meringis memegangi kakinya yang kesakitan. Sambil menatap gadis itu kesal.
“Dasar Rusa bodoh! Kau menakutkanku. Apa yang kau lakukan dengan penyamaran itu dan membawaku ke tempat sepi seperti seorang penculik?” Tari berkacak pinggang, menatap Luhan marah. Tidak di pedulikannya Luhan yang terus meringis kesakitan karena tendangannya.
“Tentu saja untuk menyamar dari para fans ku.” Jawab Luhan sengit.
“Lalu kenapa kau harus menarikku dan membekap mulutku seperti seorang penculik, huh?” Tanya Tari lagi tak kalah sengit. Kini Luhan berdiri menghadapnya, meninggalkan kakinya saat di rasanya sakit itu sudah sedikit berkurang. Memukul kepala Tari pelan sebelum menjawab.
“Kau berteriak saat aku menepuk pundakmu. Tentu saja itu membuatku panik dan langsung menyeretmu. Kau tidak berfikir, bagaimana jika ada yang mengenaliku karena teriakanmu itu?”
“Itu karena penampilanmu yang membuatku takut. Salah sendiri, siapa suruh mengagetkanku.” Sungut Tari
“Aish, sudahlah. Lupakan! Apa yang kau lakukan jalan-jalan di tempat tadi seorang sendiri?”
“Aku habis membeli- Ya, dimana Bubble Tea ku? Ck, pasti terjatuh saat kau menyeretku tadi. Ini gara-gara kau.” Tunjuk Tari menyalahkan Luhan. “Aku tidak mau tahu, ganti Bubble Tea ku.”
Luhan hanya memutar bola matanya jengah mendapati Tari kini sudah bersedekap dada sambil menatapanya begitu tajam. Seolah dia baru saja menghilangkan berlian berharga yang bernilai ratusan dolar. Padahal hanya karena sebuah Bubble Tea. Luhan mendengus. Kekanakan sekali.
“Nanti ku ganti. Lebih baik kita pergi, atau jika kau masih mau tetap di sini. Terserah.” Ucapnya. Kini mulai berjalan seraya membenahi penyamarannya. Tari buru-buru mengikuti Luhan, mensejajarkan langkahnya dengan langkah lebar Luhan.
“Kau sendiri, apa yang kau lakukan di tengah keramaian berjalan-jalan sendiri? Kau tahu, jika itu bahaya untukmu.” Tari terus berjalan mengikuti Luhan.
Luhan merangkul Tari, membawa gadis itu agar lebih mendekat dengannya sebelum dia menjawab. “Aku bosan di Dorm. Yang lain memiliki acara sendiri, jadi aku memilih keluar sekedar menghilangkan bosan.” Di sampingnya, Tari hanya bisa mengangguk paham. “Jadi, bagaimana jika kau temani aku jalan-jalan?”
Tari berfikir sebentar sebelum benar-benar menjawab ucapan Luhan. Matanya menerawang menatap langit, seolah sedang berfikir keras. Membuat Luhan yang ada di sampingnya merasa gemas dengan sikapnya itu.
Geurae. Katji kaja! Tapi belikan aku Bubble Tea dulu.”
“Ck, akan ku belikan sepuasmu. Jika perlu kedai-nya sekali pun akan ku belikan untukmu.” Ucap Luhan sedikit berlebihan. Namun ucapannya di tanggapi baik oleh Tari.
Aniyo. Aku tidak butuh kedai-nya. Bagaimana jika penjualnya saja? Dia masih muda, dan ku dengar dia seorang Mahasiswa di Kyunghee University. Dan yang terpenting dia tampan.” Kata Tari dengan senyum lebarnya. Tidak lama, karena senyum itu langsung berubah menjadi ringisan kecil karena jitakan Luhan di kepalanya.
“Kau berniat selingkuh dari Kris? Aku bisa mengadukan ini padanya.” Ancam Luhan.
Andwae!” Seru Tari cepat. “Aku kan hanya bercanda. Jangan katakan apapun padanya, dia bisa mencekik ku jika tahu.” Tari bergidik ngeri usai mengatakannya. Membayangkan bagaimana kemarahan Kris padanya. Membuat Luhan yang melihatnya hanya bisa terkekeh.
“Bicara soal Kris, ku pikir dia pergi menemuimu.”
“Hm!” Tari mengangguk. “Dia tadi memang datang menemuiku. Tapi tidak lama, setelah itu dia pergi. Dia bilang ada urusan lain.” Jawab Tari sewajar mungkin. Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Bukan bermaksud ingin membohongi Luhan, hanya saja dia tidak ingin membuat pria di sampingnya ini berpikir macam-macam. Dia tahu betul bagaimana tidak sukanya Luhan akan kedekatan Kris dan Jessica. Tapi tanpa gadis itu sadari, Luhan menangkap kejanggalan dalam jawabannya. Entahlah, dia hanya merasa ada sesuatu yang tidak beres. Karena pasalnya tidak biasanya sahabatnya itu mau merelakan waktu kebersamaan bersama gadisnya dengan urusan lain. Urusan apa yang membuatnya rela meninggalkan kekasihnya? Ini tidak benar. Pikirnya. Biasanya pria itu akan marah-marah atau minimal bersungut-sungut dan mengumpat jika ada yang menggangu waktunya bersama Tari.
“Dia bilang padamu, urusan apa itu?” Tanya Luhan akhirnya. Namun Tari hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu.
“Tapi sepertinya penting.” Jawab gadis itu seadanya. Karena dia memang tidak tahu lagi harus menjawab apa. Berharap saja Luhan tidak menaruh curiga padanya. Tapi lagi-lagi, harapannya itu tidak terkabul. Luhan bukan orang yang mudah di bodohi. Dia tahu betul jika gadis itu sedang berbohong. Terlihat dari matanya yang melirik ke sana ke mari, seperti mencari sesuatu. Tapi tidak, mata itu menggambarkan kegugupannya.
Luhan memang tidak tahu apa yang sedang di sembunyikan Tari, dan kenapa gadis itu mencoba menyembunyikannya darinya. Dia tidak mengambil pusing itu, setiap orang berhak menyimpan apa yang tidak ingin di bagi-baginya pada orang lain. Begitu pikirnya. Jadi dia tidak akan memaksa gadis itu untuk mengatakan yang sebenarnya. Dia hanya perlu berada di sampingnya setiap gadis itu membutuhkannya. Dia rela hanya menjadi sandaran untuk gadis ini, dia rela menjadi apapun yang gadis ini minta. Sekali pun perasaanya tidak terbalas, asalkan dia bisa melihat senyumnya, itu sudah merupakan kebahagiaan untuknya. Berlebihan memang, tapi itulah yang dia rasakan saat ini. Dia sendiri tidak tahu sampai kapan perasaan ini akan terus berlanjut, yang jelas saat ini dia menikmati perasaannya pada Tari. Walau lebih banyak rasa pahit yang dia rasakan pada hatinya, tapi dia tidak menyesal akan itu. Dia akan tetap membiarkan perasaan ini entah sampai kapan. Sampai perasaan ini hilang dengan sendirinya atau justru semakin bertambahnya rasa cinta yang di milikinya. Luhan tidak tahu itu.
“Aku hanya ingin mengatakan satu hal.” Luhan menghela nafasnya sebentar. “Pertahankanlah apa yang memang patut kita pertahankan, tapi jika hal itu sudah tidak pantas untuk di pertahankan, maka lepaskanlah. Ikhlaskanlah. Jangan menyakiti diri sendiri karena memaksakan sesuatu yang memang tidak seharusnya.”
Entah kata-kata itu di maksudkan untuk dirinya sendiri atau untuk yang lain. Luhan hanya mencoba mengatakan apa yang ada di pikirannya. Tapi kata-kata itu sukses membuat Tari bungkam seribu bahasa. Kata-kata itu seperti sindiran untuknya. Hatinya berdenyut sakit seraya kata-kata Luhan terus berputar di otaknya seperti kaset rusak. Tanpa sadar genangan air bening telah tercipta di pelupuk matanya. Sebisa mungkin dia tidak membiarkan air itu jatuh membasahi pipinya. Luhan sadar akan perubahan suasana yang terjadi. Secepat mungkin dia segera merubah kecanggungan itu.
“Ya! Aku akan menraktirmu jika kau bisa mengalahkanku sampai ke kedai Bubble Tea di ujung sana.” Luhan langsung melepaskan rangkulannya dan berlari menjauhi Tari. Gadis itu melongo, masih kaget akan perubahan suasana yang terjadi. Mencerna ucapan pria itu barusan. Setelah sadar dia langsung berteriak. “Ya! Oppa, kau curang!” Tanpa berpikir lagi dia langsung berlari mengejar Luhan. “Tunggu aku!”
<<<>>>
“Ku peringatkan, ini terakhir kalinya aku menurutimu. Setelah itu, aku tidak peduli apa yang mau kau lakukan.” Kris menatap gadis di depannya dengan tajam. Namun yang di tatapnya hanya duduk sambil tersenyum manis seolah apa yang baru saja di dengarnya adalah sebuah pujian.
“Benarkah?” Ucapnya dengan suara yang terkesan di lembutkan. Tapi justru itu membuat Kris muak. “Jika kau mau kehilangan grup mu dan di benci sahabat-sahabatmu. Lakukanlah apapun yang kau inginkan, aku tidak akan menghalangimu.” Gadis itu bicara tanpa menatap pria di depannya yang sudah mengeraskan rahangnya menahan emosi. Dia mengucapkannya begitu santai, bahkan terkesan amat tenang sambil mengamati kuku-kuku cantiknya yang sepertinya baru saja di lukis dengan berbagai warna. Seringai tipis terlihat samar terukir di wajahnya, tentu saja itu luput dari penglihatan Kris.
“Kau mengancamku?” Geram Kris. Gadis itu menggeleng.
“Tidak! Aku hanya mencoba mengingatkanmu, jika kau lupa.” Katanya tersenyum. Senyum yang terlalu lebar, membuat Kris merasa jijik.
Kris tidak mungkin lupa, dia ingat jelas apa yang di katakan CEO perusahaannya. Mr. Lee. Pria paruh baya yang biasa dia dan teman-temannya panggil ‘Seonsaengnim’. Orang yang menyandang jabatan tertinggi di Agency tempatnya bernaung. Bahkan kata-katanya begitu jelas terpatri di dalam kepalanya. Kata-kata yang membuat Kris seperti orang bodoh yang tidak bisa melakukan apa-apa demi melindungi orang-orang yang di sayanginya. Permintaan, ah mungkin lebih tepatnya perintah yang dia dengar tepat saat skandalnya bersama Jessica sedang ramai di bicarakan. Saat itu Kris hanya bisa menunduk menatap jari-jarinya yang saling bertaut. Tidak berani menatap pria paruh baya di hadapannya, bahkan saat sebuah pertanyaan terlontar untuknya.
“Jelaskan padaku yang sebenarnya.” Dengan perlahan Kris mengangkat kepalanya.
“Sebelumnya aku minta maaf atas kekacauan ini.” Ucap Kris menganggukan kepalanya sekali. “Tapi itu hanya sebuah kesalah pahaman. Kami tidak ada hubungan apapun. Aku hanya tidak sengaja bertemu dengannya, dan tidak menyangka jika ada wartawan yang menangkap kebersamaan kami.” Jelasnya kemudian. Pria paruh baya di hadapannya mengangguk paham. Dia berdehem sebelum kembali membuka suaranya.
“Kejadian seperti ini sudah sering terjadi, senior-seniormu mungkin sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Dan efek bagi karier mereka bermacam-macam. Ada yang positif atau pun negative. Tergantung bagaimana pemberitaan itu sendiri. Dan untuk kasusmu, ku lihat public justru sangat antusias dengan berita ini. Tidak sedikit yang berharap jika hubungan kalian itu sungguhan. Bahkan ku dengar fans kalian sudah membuat fansclub khusus untuk mendukung hubungan kalian berdua. Tentu saja itu bersifat positif untuk kelangsungan karier kalian. Bahkan kantor sudah menerima telepon dari beberapa program variety show untuk mengundang kalian sebagai pasangan.”
Kris masih diam di tempatnya. Tidak berusaha menyela apa yang tengah CEO-nya katakan. Dia sedang berusaha mencerna maksud dari pembicaraan ini. Tiba-tiba saja perasaannya menjadi tidak enak. Entahlah karena apa.
“Jadi menurutku, biarkan saja dulu skandal ini.” Kris langsung mendongak menatap tak mengerti pria paruh baya di depannya. Apa maksudnya membiarkannya? Apa itu berarti Management-nya membiarkan skandal ini semakin melebar dan meluas? Semakin membiarkan mereka berasumsi yang tidak-tidak akan hubungannya dan Jessica? Lalu bagaimana dengan Tari? Kris tidak mungkin membiarkan berita ini terus berakar, bagaiamana pun dia harus meluruskan kesalahpahaman ini.
Jeoiseonghamnida, Seonsaengnim.” Kris mencoba menyela. Keningnya sudah berkerut-kerut tanda dia tengah di landa kebingungan. “Apa maksudnya membiarkannya?”
“Biarkan mereka tetap berfikir jika kalian memang memiliki hubungan dekat, masyarakat begitu antusias dengan hubungan kalian. Kita manfaatkan berita ini untuk kepopuleran kalian. Biarkan berita ini reda dengan sendirinya, jadi kurasa kita tidak perlu ada klarifikasi apa lagi mengadakan jumpa pers. Aku sudah bicara dengan Jessica dan dia setuju. Jadi bagaimana denganmu?” Kris hanya bisa membulatkan matanya mendengar penjelasan itu. Sedangkan Mr. Lee tersenyum antusias. Menatap Kris dengan mata yang berbinar-binar. Seolah dia baru saja menemukan cara paling bagus untuk membuat artisnya semakin di kenal dunia.
Jeoiseonghamnida Seonsaengnim. Tapi itu tidak mungkin. Aku tidak bisa melakukannya.” Jawab Kris berusaha sesopan mungkin. Membuat Mr. Lee mengerutkan keningnya.
“Kenapa?” Tanyanya. Kris menghela nafasnya sebentar sebelum menjawab. Sebenarnya sangat berat untuk mengatakannya, tapi dia tidak mungkin diam saja. Ini demi kelangsungan hubungannya dengan kekasih yang sangat di cintainya.
“Aku memiliki kekasih. Jadi tidak mungkin aku membiarkan berita ini terus berlanjut. Aku memikirkan perasaannya.” Jawab Kris mantap. Dan jawaban itu sukses membuat pria paruh baya itu terkejut.
Mwo? Kekasih? Jadi selama ini kau sudah mempunyai kekasih?” Kris mengangguk mengiyakan.
Matseumnida Seonsaengnim.” Helaan nafas berat bisa Kris dengan keluar dari mulut Pria paruh baya di depannya. Kris mulai merasa cemas, apa ini sebuah kesalahan? Apa hubungannya tidak akan di ijinkan? Tanpa sadar Kris mulai berharap semoga hal yang tak di inginkannya tidak terjadi. Sebelum sebuah kalimat kembali keluar dari mulut pria itu.
“Putuskan dia!” Perintahnya tegas. Membuat Kris harus membelalakan matanya. Menatap Mr. Lee di depannya tidak percaya. Dia mulai mempertanyakan pendengarannya. Siapa tahu memang pendengarannya yang sedikit rusak. Berkali-kali dia meyakini dirinya jika dia memang salah dengar. Kris masih menatap pria paruh baya itu menuntut penjelasan lebih.
“Putuskan dia, Kris. Putuskan kekasihmu jika karier mu ingin berjalan lancar.” Tepat saat itu juga Kris merasa semuanya runtuh begitu saja. Harapan, mimpi, juga masa depannya bersama gadisnya. Memutuskannya? Apakah dia sudah gila? Dia tidak mungkin dan tidak akan pernah melakukannya sekali pun nyawanya yang menjadi taruhannya. Sampai kapan pun dia tidak akan mau melepas gadisnya. Kris menggeleng keras.
Jeoiseonghamnida. Geundae, motthaeyo! Aku tidak mungkin melakukannya. Aku sangat mencintainya.” Pria itu mendengus.
“Tapi cintamu justru akan membuat kalian hancur. Kau tidak berfikir bagaimana tanggapan fans mu jika mengetahui kau mempunyai kekasih dan membohongi mereka selama ini? Bukan saja karier mu yang hancur, tapi wanita itu juga akan menjadi bulan-bulanan fansmu. Pikirkan lagi keputusanmu, Kris. Putuskan dia, dan jalani apa yang ku katakan.”
Tangannya yang berada di atas pangkuannya terkepal erat. Seolah mengumpulkan seluruh emosinya yang sejak tadi di tahannya dalam kepalan tangannya, yang justru membuat tangannya terasa sakit. Dia tidak mungkin melakukannya. Tidak mungkin.
Seonsaengnim, jaebal… aku akan melakukan apapun, asal jangan menyuruhku melepaskannya. Aku benar-benar tidak bisa. Aku sangat mencintainya.” Kris hampir saja meneteskan air matanya jika tidak di tahannya sekuat mungkin. Oh, sejak kapan seorang Wu Yifan menangis kecuali jika sedang merindukan ibunya? Sepertinya pria itu memang tengah di landa keputusasaan. Pria di depannya berdecak keras.
“Kau benar-benar keras kepala, Kris. Apa kau begitu mencintainya, huh?” Kris mengangguk tanpa keraguan. “Ne,  aku sangat mencintainya.” Membuat pria itu mendengus untuk kedua kalinya.
“Baiklah, kau tidak perlu memutuskannya.” Sontak itu membuat Kris seperti mendapatkan cahayanya kembali. Senyum perlahan terukir di wajahnya. “Benarkah?”
“Kau jangan senang dulu. Bukan berarti aku mengijinkanmu bertemu dengannya.” Kris mengerutkan keningnya tidak mengerti. “Untuk saat ini, sebisa mungkin kau harus menjaga jarak dengannya. Kalau perlu, jangan dulu menemuinya.”
“Tapi-“
“Tidak ada bantahan Kris.” Sela pria itu cepat. Terkesan tegas dan nada bicaranya sangat tajam. “Kau tidak bisa egois. Aku melakukan ini demi kariermu. Kau mau kariermu hancur dan membuat sahabat-sahabatmu kecewa hanya karena keegoisanmu?”
“Aku mengerti.” Ucap Kris pelan. Ternyata sama saja, intinya dia harus menjauhi gadisnya. Tapi setidaknya ada setitik kelegaan dalam hatinya karena dia tidak perlu melepaskan gadisnya itu. Tapi apakah ini akan baik-baik saja? Apakah keputusannya yang di ambil sudah benar?
“Sampai kapan aku harus menjauh darinya?” Pria di depannya menggeleng.
“Aku tidak bisa memastikan. Setidaknya sampai berita ini redup dan mereka melupakan tentang hubunganmu dan Jessica. Dan selama itu, kau harus tetap berpura-pura memiliki hubungan dengan Jessica. Seperti yang ku bilang tadi.” Baru saja Kris ingin bersuara, pria itu kembali menyelanya. Tidak memberikan kesempatan pada Kris untuk bicara sedikit pun.
“Kurasa sudah jelas. Dan kau boleh keluar sekarang.”
Kris hanya bisa menghela nafas berat. Membungkukan badannya sebentar sebelum akhirnya menghilang di balik pintu besar tempat di mana ruangan orang yang paling berpengaruh dalam kemajuan Agensinya berada.
Dia sadar, memang tidak ada yang bisa membantah jika pria paruh baya itu sudah mengeluarkan perintah. Tapi setidaknya, bukankah kita mempunyai hak untuk mengeluarkan pendapat. Kris mengacak rambutnya kasar, membuatnya terlihat semakin berantakan. Dia tahu, sebesar apapun usahanya dia tetap tidak bisa melawan. Kris menertawai dirinya sendiri. Mungkin lebih tepatnya nasibnya. Entah kenapa dia merasa hidupnya seperti sekumpulan binatang sirkus. Yang selalu di kurung oleh majikannya. Tidak bisa kemana-mana selain ke tempat latihan untuk pertunjukannya. Terus dan terus di latih, menuntut kesempurnaan demi pertunjukan yang spektakuler hingga menghasilkan pendapatan yang banyak. Di tuntut untuk selalu menghibur orang-orang yang menonton pertunjukannya. Tidak mempedulikan apakah si binatang itu lelah atau tidak. Makan jika saatnya makan. Terus seperti itu. Kehidupannya tidak lebih dari sekedar manipulasi.
“Bagaimana? Sudah ingat?” Kris menggeletukan giginya menahan emosi. Menatap tajam gadis di depannya, seolah ingin memakannya hidup-hidup. Tapi gadis itu hanya menunjukan senyum angkuhnya. Senyum yang sarat akan kemenangan.
“Brengsek kau, Jessica.” Desisnya.
“Well, suka atau tidak aku kekasihmu Kris. Setidaknya begitu kata orang-orang.” Kris tidak mempedulikan ucapan Jessica. Dia segera mengangkat kakinya dan pergi dari hadapan gadis itu. Terlalu muak lama-lama jika dia harus terus melihat wajahnya.
“Ya! Kris, neo eodiga? Ya! Gajima! Temani aku belanja.” Jessica mengejar Kris yang sudah berjalan menjuhinya.
TBC~
——————————————————————————————————————————————————————————
hwaaaaaa maaf ya klo ancur😀
gimana, udah jelas blom permasalahan kris itu sebenernya apa? setelah ini bakal masih ada konflik yg bakal bikin hubungan Tari-Kris jd kembali renggang. bahkan lebih parah dari sebelumnya. jadi yg masih penasaran silahkan tunggu kelanjutannya hehe
maaf ya, klo updatenya lama. aku sibuk sama kerjaan, jadi harus pinter2 ngebagi waktu antara nulis dan kerjaan aku. semoga kalian ga bosen nunggunya ya. makasih yg udah mau koment, biar pun aku ga bs bls satu persatu tp aku slalu baca komen kalian. dan yg blom mau komen yaa ga apa2. intinya ff aku mah bebaslah. aku pengen kalian komen bukan karena apa2, sekali lagi aku tegasin aku cuma mau tahu apresiasi kalian terhadap tulisan aku. itu aja kok. karena cuma dari komen atau like aku bs tahu tulisan aku banyak di sukain atau ga. duh jadi ngomong ngalur ngidul. pokonya di tunggu aja next nya yaa

About fanfictionside

just me

7 thoughts on “FF/ I LOVE YOU/ EXO/ pt. 8

  1. annyeong haseyo~🙂
    aku reader baru yg ngk sengaja melihat ff ni
    sejauh ini,baru ini ff yg bisa mengisahkan sebuah ff yg pengen aku tulis slama ini😀
    author daebak😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s