FF/ DARKSIDE/ BTS-bangtan/ pt. 3


Title : Darkside (Chapter 3)

Sub-chapter title : The Boy

Author : A-mysty

Cast :   Ahn Hye Min (OC)

            Ryu Eun Soo

            Cha In Hyong

            Park Ji Min

Kim Tae Hyung

 [New Cast] Find by your self

The Other also coming soon…

Length : Chapter

Genre : Adventure, Love-life, School life, Mystery, Horror, Thriller, Fantasy.

Author’s Note :

A-mysty kembali lagi. Semoga merasa puas ya dengan cerita di chapter sebelumnya. Terima kasih yang sudah meninggalkan jejak dan menyukai ceritanya. Jujur saja, saya terharu dan senang. Kalau chapter kemarin panjang, mungkin chapter 3 ini akan lebih panjang lagi. Bisa jadi, panjang-pendeknya setiap cerita akan berbeda.

Sekali lagi, terima kasih untuk semuanya^^

 BgRBBtJCcAAgh84

 

Review :

Disaat bersamaan, sosok itu menghilang lagi. Seorang laki-laki bersandar di pohon maple tua sekolah tersebut sambil mendengus. Ia memetik satu tangkai bunga mawar merah yang baru mekar. Lalu, menghirup aromanya dalam-dalam.

“Kali ini, aku biarkan kalian lari. Tapi untuk selanjutnya, tak akan ku biarkan begitu saja.” ujar laki-laki itu licik.

***

Sekolah terlihat lebih ramai dibandingkan biasanya. Banyak orang-orang bergerombol ke ruang guru. Siswa-siswi pun banyak yang mengintip ke dalam ruang guru. Beberapa diantara mereka memilih melihat keadaan di dalam ruangan itu sambil menutup mulut, bahkan berbisik-bisik. Tak hanya itu, petugas keamanan dan 2 orang dokter forensik pun ada di dalam ruangan tersebut.

Hye Min dan Jimin yang baru sampai lobby sekolah itu, melirik secara bersamaan ke arah ruang guru yang menjadi ramai itu. Mereka saling bertukar pandang dengan tatapan kebingungan.

“Apa yang terjadi di sana?” Tanya Hye Min dengan dari yang mengerut.

Jimin hanya bisa mengangkat kedua bahunya, “Molla. Mau coba lihat ke sana?”

Mendengar ajakan Jimin, Hye Min langsung mengangguk setuju. Dengan sedikit usaha dan tenaga, mereka menerobos masuk ke dalam ruang guru. Karena di dalam terlalu sempit dipenuhi banyak siswa, Hye Min terpisah dengan Jimin. Mereka terpisah dan berusaha menerobos masuk ke dalam masing-masing. Dempetan dan dorongan harus Hye Min rasakan.

Ketika Jimin berhasil lebih dahulu, ia langsung mengembuskan napas lega. Ia menepuk-nepuk jasnya dan membetulkan dasinya. Setelah berbagai kegiatan kecil itu, Jimin menoleh ke depan. Matanya yang sipit itu berubah menjadi bulat seketika. Ia begitu terkejut untuk melihat apa yang menjadi pusat keramaian itu. Darah… dimana-mana.

Setelah Jimin berhasil, Hye Min pun tak kalah. Ia sampai di bagian paling depan. Namun, keduanya langsung menatap apa yang menjadi pusat perhatian itu. Sama seperti Jimin, Hye Min tak kuasa menahan rasa kejutnya. Ia menatap sekitar yang di penuhi darah. Dan, kebetulan sakli ia berdiri di sebelah salah satu dokter forensik tersebut.

“Bagaimana hasil pemeriksaannya?” tanya seorang petugas keamaan kepada dokter forensik itu.

“Terdapat 3 lubang tusukkan di bagian perut, dada, dan punggung. Tapi, saya tidak tahu pasti bagaimana bisa terjadi hal seperti ini. Beruntung, saya sudah menemukan identitas korban.” jelas dokter forensik tersebut.

“Kalau boleh tahu siapa, dok?”

“Entahlah. Saya rasa beliau berasal dari keluarga…” jawab dokter forensik itu lagi. Sayangnya, Hye Min tidak dapat mendengar jelas nama keluarga itu.

Ketika ia melihat sebuah jas yang familiar di dekat kaki meja Guru Kim, ia hanya terdiam kaku. Mata Hye Min semakin terbuka lebar. Mulutnya sudah menganga saking terkejutnya. Darah ada dimana-mana. Mual, itulah yang di rasakan oleh Hye Min. Tiba-tiba saja, tubuhnya terasa terhuyung-huyung dan kepalanya terasa sangat pusing. Gadis itu menyentuh keningnya dan memilih untuk melangkah mundur, menjauhi kawasan itu.

Sedangkan, Jimin masih menatap darah yang berceceran di lantai dan di meja guru. Ia sedikit memicingkan matanya ke arah meja guru yang satu itu. Ia mencoba mengingat siapa yang menempati meja guru itu. Ketika pikirannya telah menemukan jawabannya, otaknya terasa seperti terpukul. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.

Jimin mengepalkan tangannya sambil tetap menatap meja guru yang sudah seperti tersiram darah. Di bagian bawah dekat kaki meja, ia dapat melihat sepasang sepatu hitam yang di letakkan begitu saja. Ia mengenali sepatu itu.

“Apa darah ini adalah darah Yoo sonsaengnim?” gumamnya pelan, sambil melangkah mundur.

***

Hye Min yang memilih keluar terlebih dahulu dengan berjalan mundur, akhirnya hampir sampai di dekat ambang pintu ruang guru itu. Kepalanya seperti di tekan kanan kiri, dan langkah kaki yang semakin tidak menentu. Tubuhnya terasa sangat ringan, seperti siap jatuh.

Dan benar saja, tubuhnya terjengkang ke belakang. Mual yang ia rasakan diperutnya, seperti mempercepat tubuhnya yang terhuyung itu untuk jatuh. Penglihatannya seperti muncul titik-titik hitam, kemudian menjadi rabun. Ia dapat merasakan tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan. Hye Min hanya pasrah dan tak bisa bergerak lebih cepat lagi. Untuk melangkah mundur saja, ia seperti tidak memiliki tenaga.

Bruk.

Saat itulah, keseimbangan tubuh gadis itu menghilang seketika. Ia sudah merasakan bahwa tubuhnya terjatuh. Namun, ia merasa tubuhnya tidak jatuh ke lantai. Tak ada rasa terbentur atau apapun. Yang ada hanya embusan napas hangat. Sebelum ia pingsan total, ia mendelik dengan memutar bola matanya. Gadis itu hanya bisa melihat wajah seseorang yang tengah menatapnya dengan tersenyum sekilas. Lalu, menghilang dari pandangannya begitu saja.

***

Setelah keluar dari ruang guru, raut wajah Jimin langsung berubah drastis. Ia bersandar di dinding sebelah pintu masuk ruang guru itu. Ia mengembuskan napasnya yang sedikit menderu itu. Disaat ia sedang mengatur napas terkejutnya, Eun Soo datang sambil memeluk buku-buku pelajaran di dekapannya. Ia menatap Jimin kebingungan.

“Jimin-ah? Apa yang terjadi? Dimana Hye Min?” tanya Eun Soo tanpa jeda sedikit pun.

Jimin membuka matanya perlahan. Ia mendapati Eun Soo yang menatapnya dengan dahi yang mengerut. Jimin langsung meneggakkan tubuhnya dan menjawab pertanyaan Eun Soo, “Ada pembunuhan. Aku tidak tahu siapa yang terbunuh. Tapi, semua darah yang amis itu berceceran di meja Yoo sonsaengnim.”

Eun Soo menerjapkan matanya berkali-kali, “Yang benar? Astaga!”

“Aku tidak tahu itu benar atau tidak. Tapi, pikiranku mengatakan seperti itu.” jawab Jimin lagi. Ia terlihat seperti mengajak Eun Soo untuk berjalan bersama ke kelas mereka.

“Tunggu sebentar, kau ke sekolah sendirian?” Eun Soo tetap pada posisinya. Ia terlihat seperti gadis yang kebingungan.

Jimin langsung menepuk keningnya pelan, “Astaga! Aku tinggalkan Hye Min di dalam!”

***

Mata yang sedari tadi tertutup itu, akhirnya terbuka. Namun, pandangan matanya hanya menangkap bayangan plafon UKS yang seperti bergerak. Sinar lampu yang menyilaukan matanya, semakin menambah kesulitan untuk terbangun sepenuhnya. Hye Min merasakan ada kehadiran orang lain di dekatnya.

Seorang laki-laki asing terlihat sibuk membaca bukunya. Ia tidak menyadari kesadaran dari Hye Min. Laki-laki itu tetap pada posisinya, duduk bersandar sambil baca buku. Hye Min menerjapkan matanya sekali lagi, lalu menoleh ke arah laki-laki itu. Gadis itu mulai menegakkan tubuhnya perlahan ingin bangun.

“Akh!” desis Hye Min pelan.

Laki-laki itu mendengar desisan Hye Min, dan langsung melirik. Melihat Hye Min ingin bangkit dari posisinya, laki-laki itu langsung menutup buku, lalu menyimpannya. Tangan laki-laki itu terarah untuk mendorong punggung Hye Min perlahan.

“Ah… Terima kasih.” gumam Hye Min malu-malu.

“Sama-sama.” sahut laki-laki itu sdengan sebuah senyum yang manis. Lesung pipi terlihat di kedua pipinya, memberi kesan manis yang lebih.

“Kau siapa? Kau bukan siswa sini, ya?” tanya Hye Min ketika matanya menatap seragam yang berbeda. Laki-laki itu menggunakan seragam sekolah lain, bukan sekolah ini.

“Ya, aku bukan siswa sini. Aku hanya menjadi siswa pindahan dari Yongin.” sahut laki-laki itu.

“Oh.” Hanya itu yang bisa Hye Min keluarkan dari mulutnya. Ia terdiam, laki-laki itu juga terdiam. Ruangan itu sangat sunyi.

“Kim Namjoon.” ujar laki-laki itu tiba-tiba. Hye Min menolah lagi menatap laki-laki itu dengan dahi mengerut. Ia tertawa kecil melihat raut kebingungan gadis itu, “Kim Nam Joon imnida.”

“Ah… ya. Hmm… Hye Min. Ahn Hye Min imnida.” jawab Hye Min sedikit terbata.

“Senang bertemu dan berkenalan denganmu, Hye Min-ah. Tampaknya, kau lebih muda dari padaku, ya?” Laki-laki yang bernama Namjoon itu bertanya dengan senyuman yang manis.

“Ah, ya. Aku siswi kelas 1. Bagaimana denganmu?”

“Aku kelas 2.”

“Oh.” Hye Min hanya bisa mengeluarkan jawaban yang monoton. Kalau tidak ‘oh’. pasti ‘ya’. Gadis itu memang sangat canggung jika berkenalan dengan orang-orang baru.

“Tangan kananmu kenapa?” tanya Namjoon yang terlihat ingin tahu.

“Ehm… Ini tulang hastaku retak, dan sendi yang sedikit bergeser.” jawab Hye Min sembari menatap gips yang ada pada tangannya. Warna gips itu sudah memudar.

“Hmm… tampaknya parah. Kalau begitu, lekas sembuh.” ujar Namjoon lagi.

“Ne. Gomawo.”

Tiba-tiba, pintu UKS itu terbuka. Terdengar suara keramaian dari balik pintu kaca UKS itu. Hye Min dan Namjoon sama-sama menoleh ke arah pintu. Jimin, Eun Soo, dan Taehyung masuk ke dalam secara bergantian. Eun Soo langsung berlari menghampiri sahabatnya itu. Ini sudah kedua kalinya ia melihat Hye Min berada di ranjang UKS, semenjak tulang hastanya retak.

“Ya! Hye Min-ah! Gwenchana?!” pekik Eun Soo kencang. Gadis itu langsung mendekati Hye Min dari sisi kirinya, tanpa melihat kehadiran Namjoon sedikitpun.

Hye Min hanya tersenyum dan mengangguk. Sedangkan Jimin berjalan di sebelah Taehyung sambil menggaruk-garukkan kepalanya cengengesan. Ia tahu ia bersalah meninggalkan Hye Min sendirian di ruangan yang penuh darah itu. Tapi, sebenarnya Hye Min sudah keluar lebih dahulu dibanding dirinya.

Taehyung yang hanya berjalan santai sambil mengunyah permen karet, hanya menatap Hye Min datar. Ketika matanya mendelik, ia langsung mendapati sosok Namjoon yang tengah duduk tersenyum.

“Nuguya?” Taehyung menunjuk ke arah Namjoon dengan santainya.

Suara berisik Eun Soo akibat terlalu khawatir, langsung menghilang seketika. Ia baru menyadari kalau ada orang lain yang sudah menemani Hye Min selama di UKS. Eun Soo melepas genggamannya pada Hye Min dan tersenyum canggung kepada Namjoon. Namun, Namjoon membalas dengan senyuman manis yang tadi.

“Dia siapa?” tanya Jimin kepada Hye Min.

“Kim Nam Joon imnida. Aku adalah siswa pindahan dari Yongin.” sambar Namjoon dengan cepat. “Kalian teman-teman Hye Min?”

Taehyung dan Jimin hanya mengangguk secara bersamaan, namun dengan tatapan datar.

“Kalau begitu, aku tinggal, ya? Aku rasa Hye Min akan lebih nyaman bersama kalian. Permisi.” ujar Namjoon.

“Memang seharusnya seperti itu, bodoh.” gumam Taehyung pelan.

“Jaga bicaramu.” desis Eun Soo dengan penuh penekanan.

Namjoon yang sepertinya tidak mendengar gumaman Taehyung, terlihat bersikap biasa saja. Ia memasukkan buku yang tadi ia baca ke dalam tas. Ketika ia sudah selesai membereskan tasnya, Namjoon tersenyum kepada Hye Min. Kemudian, ia berjalan keluar dengan tas yang hanya di gantung hanya sebelah bahu.

‘Buku itu…’ Batin Hye Min bergumam.

Mata Hye Min menangkap sampul buku yang tadi Namjoon baca. Ia sangat mengenali sampul buku itu. Buku yang sama dengan apa yang ia baca sebelum insiden In Hyong terjadi. Mengingat buku dan In Hyong kepalanya terasa pusing. Sejak itu, ia sudah tidak membaca buku itu lagi.

***

Keesokkan harinya, Jimin dan Hye Min mendapat giliran untuk duduk bersebelahan. Jimin memanfaatkan Eun Soo yang pergi ke laboratorium biologi untuk belajar bersama dengan Hye Min. Eun Soo yang pandai dalam biologi itu, masuk ke dalam daftar lomba. Jadi, mulai hari ini ia harus menghabiskan waktu lebih banyak di laboratorium biologi untuk persiapan lomba.

“Sudah tahu tentang Yoo sonsaengnim kemarin, belum?” Jimin berbicara pelan sambil membuka-buka halaman buku sainsnya. Ia berbicara dengan mata yang masih terpaku dengan bagan-bagan organisme yang tercetak di buku itu.

“Katanya ia ditusuk seseorang sampai 3 kali, kan?” Hye Min menjawab dengan tangan yang sibuk menulis rangkuman.

“Ditusuk? Yang aku tahu itu adalah cakaran hewan buas. Dokter forensik itu yang mengatakannya.” Jimin menatap Hye Min dengan serius.

‘Hewan buas?’ Batin Hye Min berbicara.

Ia menghentikan gerakan tangannya sebentar dan terdiam. Ia masih ingat dengan sebuah paragraf yang ia baca 1 minggu yang lalu. Paragraf itu menulis sebuah penemuan laki-laki yang mati dengan cakaran hewan buas di sekujur tubuhnya. Mengingat hal itu, tubuh Hye Min merinding seketika.

“Jangan bercanda. Mana ada hewan buas yang dapat masuk melompati pagar beton sekolah?” Hye Min meletakkan pensilnya keras-keras.

“Entahlah. Aku juga tidak tahu pasti. Dokter forensik telah membersihkan darah yang mengering di sekujur tubuh Guru Yoo.  Lukanya berbeda dengan luka tusukkan. Dari 3 luka, 2 diantaranya adalah cakaran. Ya, satunya lagi memang tusukkan. Tepatnya dibagian jantung.” jelas Jimin dengan suara sedikit mengecil.

“Yang benar saja.” sahut Hye Min tidak percaya. Ia menegakkan tubuhnya. Semakin lama, tubuhnya semakin mendingin. Telapak tangannya juga mengeluarkan keringat. Bulu kuduknya berdiri. Ia merasa seperti ada yang menatap tajam dirinya dan Jimin. Hye Min hanya bisa menegakkan badan.

“Kau kenapa? Tubuhmu terlihat kaku.” Jimin memiringkan kepalanya bingung. Ia menyadari tingkah laku aneh Hye Min yang seperti menahan sebuah perasaan.

“Aniya.” sahut Hye Min pendek. Ia berusaha menyembunyikan rasa ketakutannya yang hinggap secara tiba-tiba itu kepada Jimin.

“Hmm… baiklah.” Jimin kembali fokus kepada bukunya.

Hye Min mencoba mengatur deru napasnya yang mulai tidak beraturan. Ia terasa tercekat sekarang. Ia merasa ada yang tidak beres dengan keadaan di sekitarnya. Alih-alih ingin membuang tatapan keluar jendela, justru matanya menangkap sebuah bayangan laki-laki di bawah pohon maple tua itu.

Mata Hye Min memicing untuk menajamkan penglihatannya. Laki-laki itu tersenyum kepadanya dengan senyuman licik, lalu melambaikan tangan padanya. Pada saat itu juga, dua jari laki-laki itu mendekati matanya sendiri, lalu menunjuk ke arah Hye Min. Jika diartikan dalam sebuah ucapan. Kurang-lebih tepatnya laki-laki itu berkata seperti ini, ‘Aku akan selalu mengawasimu!’

Mengerti maksud dari jari itu, tubuh Hye Min terasa membeku. Gadis itu menerjapkan matanya berkali-kali.

“Ji-Jimin-ah…” Hye Min mulai terusik dengan tatapan bayangan itu. Ia menarik-natik lengan jas sekolah Jimin pelan. “Ji-Jimin-ah…” Panggilnya sekali lagi.

Jimin mendengus kesal ketika konsentrasinya di ganggu. Ia mendecak lidah, “Apa?!”

“Itu… siapa?” Suara Hye Min mulai bergetar. Ia bertanya dengan jari telunjuk menunjuk lurus ke arah bayangan yang tengah menatapnya licik dan tajam itu.

Jimin menoleh, mengikuti arah tunjukkan jari Hye Min. Matanya memicing, kemudian ia mendengus. Ia tidak melihat siapapun di sana. Hanya pohon maple tua yang mulai di tumbuhi lumut di sekujur batang kambiumnya yang besar itu.

“Tidak ada siapa-siapa di sana. Kau sedang mengigau, ya?” Jimin berkata sambil tetap menerawang sekitar tempat itu.

“Coba kau lihat dengan baik. Di situ ada seseorang!” pekik Hye Min. Gadis itu menoleh menatap Jimin lekat-lekat. Jari telunjuknya masih menunjuk ke arah pohon maple tua itu.

“Ada juga kau yang harus melihatnya baik-baik!” Jimin memutar kepala Hye Min untuk kembali menoleh ke arah pohon maple tua yang ditunjuk itu. “Tidak ada siapa-siapa, kan?” Jimin berkata dengan datar. Lalu, kembali fokus pada bukunya.

Kemudian, Hye Min menatap ke arah pohon itu lagi. Benar apa yang dikatakan oleh Jimin. Tak ada siapa-siapa disana. Hanya ada pohon maple tua yang masih berdiri kokoh. Sudah kedua kalinya ia seperti ini, tubuhnya mulai mengeluarkan keringat dingin.

‘Yang tadi itu… siapa?’

Disaat Hye Min terdiam memikirkan apa yang ia lihat, terdengar suara jeritan keras dari seorang siswi, “AAAAAAA!!”

Tubuh Hye Min langsung tersentak, begitu juga Jimin.

“SESEORANG TOLONG AKU!!”

Bukan hanya mereka berdua, semuanya pun itu terkejut mendengar jeritan itu.

***

Setelah selesai melakukan persiapan untuk lomba kimia dan biologi, Eun Soo hanya tinggal di laboratorium seorang diri. Gadis itu tengah membereskan tabung elemayer dan beberapa tabung reaksi. Guru pembimbing dan teman-teman dari kelas lain juga sudah meninggalkan laboratorium itu.

Dengan telaten, Eun Soo membereskan tabung-tabung reaksi itu ke tempatnya. Ia juga mengelap tabung elemayer yang ia gunakan untuk mengetes kadar suatu minuman tadi. Setelah selesai, ia mengangkat tabung-tabung itu dan membawanya ke lemari khusus. Namun tidak sampai di situ saja, ia juga harus menaruh kembali kertas-kertas materi ke dalam lemari besi.

Ia merapikan kertas-kertas itu, kemudian menumpuknya jadi satu. Eun Soo mengembuskan napas senang setelah selesai membereskan semua itu. Ia membawa setumpuk kertas itu di dalam dekapannya. Tangan katanya terulur untuk membuka kunci lemari besi itu. Ketika sudah terbuka, ia menarik gagang lemari itu.

Namun, tiba-tiba semua tumpukkan kertas langsung menimpanya. Kertas-kertas itu berhamburan dimana-mana. Karena kaget, Eun Soo jatuh duduk bersamaan tumpukkan kertas-kertas itu. Kedua matanya melebar ketika melihatt sudut-sudut kertas itu basah karena darah. Dengan cepat ia bangkit, dan menjauhi tumpukkan kertas-kertas itu.

Tiba-tiba pintu lemari itu mengayun terbuka dan tertutup dengan sendirinya, hingga mengeluarkan suara benturan yang cukup keras. Juga mengganggu pendengaran. Eun Soo menutup telinga dengan kedua telapak tangannya. Tubuhnya mulai bergetar.

Di sela-sela pintu lemari yang terbuka dan tertutup itu, terlihat sebuah bayangan berada di dalam lemari itu. Berambut panjang, berkulit putih, dan tinggi. Itu adalah seorang. Gadis itu tersenyum ke arah Eun Soo dengan anehnya. Darah segar mengalir di bagian lengan kanannya. Dan, sebuah pecahan kaca yang tajam di tangan kirinya.

Eun Soo memundurkan langkahnya. Namun, gadis itu semakin mendekat. Ia berjalan keluar dari lemari besi itu sambil tersenyum dengan mata yang melebar. Senyuman dengan deretan gigi putih itu membuat Eun Soo semakin ketakutan. Ia terus berjalan mundur. Tapi, gadis itu mendekat. Tak hanya di lengan, darah segar juga mengalir dari pelipis gadis itu.

“Bukankah… aku sudah meminta tolong padamu untuk menolongku?” gumam gadis itu dengan jalan terhuyung-huyung, dan kepala yang menunduk.

“I- In- In Hyong-ah…” ucap Eun Soo terbata-bata.

“Lalu, kenapa kau tidak menolongku?!” suara In Hyong mulai keras. Ia masih berjalan mendekati Eun Soo.

“Ah… itu…” Eun Soo kehabisan kata-kata untuk menjawab.

“KENAPA?!” Teriak In Hyong keras.

Kepala gadis itu langsung mengadah, menatap Eun Soo dengan tatapan berbeda. Matanya lebih melebar, seperti akan keluar. Bagian putih mata In Hyong juga mengeluarkan urat merah, yang tak lain tak bukan adalah syaraf matanya. Tangan gadis itu juga terulur ke depan. Kulit yang tadi berwarna putih itu, kini berubah menjadi keriput dan urat-uratnya juga terlihat.

“Kenapa? Kenapa? Kenapa kau tidak menolongku…” In Hyong mengucek-ucek matanya keras-keras. Hingga terlihat darah yang mengalir di telapak tangannya.

Napas Eun Soo tersendat, ia terus melangkah mundur. Tubuhnya sudah terbentur dengan jendela laboratorium itu. Gadis itu mulai meraba-raba selotan jendela itu. Namun, ketika ia membalikkan badannya. Sosok In Hyong dengan mata yang mengeluarkan darah itu langsung menempel di jendela. Rasa kejut dan ketakutan Eun Soo begitu memuncak. In Hyong tersenyum sama seperti sebelumnya. Namun, tampilannya sekarang sudah seperti nenek-nenek dengan rambut yang berantakkan. Tubuh Eun Soo terhuyung ke belakang, gadis itu sudah mengeluarkan air matanya karena ketakutan.

In Hyong membuka jendela itu dan mulai mendekatkan wajah yang sudah berlumuran darah ke Eun Soo. Eun Soo memejamkan matanya rapat-rapat, dan langsung berteriak.

“AAAAAAAA!!”

In Hyong semakin mendekatkan pandangan berdarahnya ke arah Eun Soo yang memejamkan matanya.

“SESEORANG TOLONG AKU!!”

Tatapan itu semakin mendekat…

“MENJAUH DARIKU!!”

In Hyong mulai menyodorkan pecahan kaca yang tajam itu ke arah Eun Soo. Namun, sosoknya langsung menghilang bagaikan angin ketika seseorang mendobrak pintu dengan kasar. Taehyung, Jimin, Hye Min, Namjoon, dan seluruh siswa yang mendengar jeritan itu langsung berlarian menuju tempat itu.

Eun Soo membuka matanya perlahan. Pipinya sudah lengket dengan air mata ketakutannya. Tubuhnya bergetar hebat. Sosok In Hyong yang seperti nenek itu memang terlalu menyeramkan untuk di lihat oleh batinnya. Siswa-siswi yang lain menatapnya khawatir.

Hye Min berlari menghampiri Eun Soo yang terduduk dengan tubuh bergetar. Melihat Hye Min sudah berada dekat dengannya, Eun Soo langsung memeluk Hye Min erat. Tubuh Eun Soo masih bergetar takut. Ia memeluk Hye Min erat sambil menangis. Hye Min yang terkejut dengan pelukan tiba-tiba itu langsung terjatuh duduk.

“Hye- Hye Min-ah…” Eun Soo memanggil-manggil namanya sambil menangis tersedu-sedu.

 “Ya, aku di sini.” ujar Hye Min dengan membalas pelukan Eun Soo hangat. Hye Min mengulurkan tangannya untuk membalas pelukan Eun Soo. Ia dapat merasakan suhu tubuh gadis itu dingin dan kulitnya memucat.

Jimin, Taehyung dan Namjoon berjalan mendekati dua orang sahabat itu. Suara tangis Eun Soo semakin terdengar ketika Hye Min menjawab panggilannya. Jimin dan Taehyung hanya bisa menatap Eun Soo dengan perihatin.

Siswa-siswi itu terlihat sangat khawatir. Beberapa diantara mereka memilih untuk ikut masuk ke dalam laboratorium. Meskipun, tidak semua dari mereka mengenal. Bahkan, senior-senior mereka mulai berjalan mendekati Eun Soo yang masih menangis itu.

Kemudian, Namjoon membuka jendela tempat sosok In Hyong yang menyeramkan itu masuk. Laki-laki itu menatap sekelilingnya, kemudian menatap ke arah pohon maple tua yang berjarak 6 meter ke depan dari jendela itu. Laki-laki itu memicing ketika melihat seorang laki-laki duduk sambil tersenyum sinis kepadanya di cabang pohon yang besar tersebut.

“Apapun yang terjadi, tak akan ku biarkan kau mengganggu mereka!” ujar Namjoon sambil menatap laki-laki itu dengan tatapan tajamnya. Kini senyum lesung pipinya, sudah menjadi senyuman serius yang menyeramkan.

***

“Tak akan membiarkanku untuk mengganggu mereka, ya?” Laki-laki itu terduduk sambil mengayunkan kakinya dengan santai.

Sebuah daun maple yang kering itu tiba-tiba jatuh di telapak tangannya yang terbuka. Laki-laki itu tersenyum sinis, dan menatap daun kering itu dalam. Lalu, ia menutup telapak tangannya keras. Daun itu hancur di dalam genggamannya seketika.

Ia tersenyum sinis, “Kita lihat saja nanti.”

To Be Continue

About fanfictionside

just me

11 thoughts on “FF/ DARKSIDE/ BTS-bangtan/ pt. 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s