FF/ I LOVE YOU/ EXO/ pt. 7


Author: Kim Taeri (@irna66lestari

 

Main Cast: Tari (OC), Kris (Exo-M), Suho (Exo-K), Kim Hyejin (OC), Luhan (Exo-M)

 

Support Cast: Exo Member, Jessica (GG)

 

Rate: T (+17)

 

Genre: Romance, Sad

 

Length: Chaptered

 

Disclamer: All the cast are from God except the OC is my imagination and the storyline too.

 

Note: Di Chapter ini kuhusus moment Kris-Tari ya. Maaf kalau feel untuk romance-nya nggak dapet. sorry for late post. selamat membaca ^.^

 

 
 
Review:

 

“Sejak kapan kau menyukainya?”

 

Pertanyaan sederhana. Bahkan dengan suara yang cukup pelan, namun masih bisa tertangkap oleh pendengaran Suho. Suho tidak bodoh untuk mengerti akan pertanyaan Hyejin. Dan untuk kedua kalinya pria itu tersentak.

 

—————————————————————————————————————————————–

 

 

 

“Kau tidak menawariku?” Kris melirik gadis di sebelahnya yang sedang asik memakan Ice Krim tanpa peduli dirinya yang sejak tadi terus menatapnya, mencari perhatian gadis itu. Pasalnya, sejak Ice Krim itu datang Kris jadi seperti hanya sebuah pajangan tak berarti untuk gadis itu. Kesal? Tentu saja. Pria mana yang tidak kesal jika di acuhkan oleh kekasihnya sendiri hanya karena sebuah Ice Krim. Oh, ayolah. Apa Ice Krim itu jauh lebih menarik di banding dirinya?

 

Tari melirik Kris di sampingnya. “Oh, kau mau juga?” Tanya Tari polos. Mendengar itu Kris hanya bisa menahan kesabarannya. Gadisnya ini benar-benar tidak peka sama sekali. Pikirnya. Bukan Ice Krim-nya sebenarnya yang Kris mau, tapi perhatian gadis itu.

 

“Ini, makanlah.” Tari menyodorkan Ice Krim yang ada di tangannya ke arah Kris. Sedangkan Kris hanya mengangkat sebelah alisnya menatap Ice Krim itu. Terlihat tidak berminat. Sedetik kemudian dia menggeleng membuat dahi Tari berkerut bingung. Tapi tidak lama gadis itu tersadar, dia langsung tersenyum. Seperti baru saja menemukan jawaban tersulit.

 

“Oh, Aku tahu.” Ujarnya riang. Kemudian dia menyendokan Ice Krim itu dan menyodorkannya kembali ke arah mulut Kris. Bermaksud ingin menyuapinya. Tapi lagi-lagi hanya gelengan dari pria itu yang di dapatinya. Tentu saja itu membuat Tari semakin bingung. Bukankah tadi pria itu meminta Ice Krim-nya? Tapi saat di tawari kenapa justru menggeleng?

 

“Kau itu kenapa?” Kata Tari lagi. “Apa maksudnya dengan gelengan itu? Bukankah tadi kau menginginkannya?” Kris menunjuk bibir Tari. Membuat gadis itu semakin mengkerutkan dahinya. Ada apa dengan bibirnya? Sebenarnya pria ini kenapa sih? Apa dia salah minum obat?

 

“Aku mau yang di sini.” Belum sempat Tari mencerna maksud ucapan Kris. Gadis itu lebih dulu merasakan benda lembut menekan bibirnya. Butuh beberapa detik untuk gadis itu sadar apa yang tengah di lakukan kekasihnya. Entah hanya perasaannya saja atau memang benar. Tapi dia merasa seperti ada jilatan lembut pada sudut bibirnya. Tidak berlangsung lama, Kris sudah menjauhkan wajahnya kembali. Namun tidak cukup jauh untuk tetap bisa merasakan hembusan nafasnya.

 

“Manis.” Ujarnya lembut. Masih dengan posisinya Kris menatap bola mata hazel milik gadis di hadannya. Dia bisa merasakan kehangatan yang menjalar pada pipi gadis itu. Dia tahu gadisnya malu. Tapi itu tidak membuatnya berhenti menggodanya. Justru itulah yang membuatnya senang. Membuat gadisnya tersipu malu adalah salah satu hal favoritnya.

 

“Apa semua gadis selalu melakukan hal semacam ini?” Lanjutnya. Tari mengangkat alisnya tidak mengerti. Menaruh Ice Krim itu di meja lalu menatap Kris meminta penjelasan.

 

“Melakukan apa?”

 

“Selalu menyisakan makanan atau bekas minumannya di suduk bibirnya jika ada pria bersamanya. Supaya pria itu bisa membersihkannya. Begitu?” Tari mengerti sekarang. Dia memutar bola matanya lalu mendengus. Mendorong tubuh Kris agar menjauh darinya.

 

“Otakmu saja yang kotor. Kau hanya perlu memberitahuku dan aku tinggal membersihkannya.”

 

“Bukan itu permasalahannya.” Kris menyilangkan tangannya di depan dada, menatap Tari dengan kerutan-kerutan yang tercetak di keningnya. Sebisa mungkin membuat ekspresinya terlihat serius. “Tidak masalah jika aku yang ada bersamamu. Tapi jika pria lain yang bersamamu, apa kau akan membiarkan mereka membersihkan bibirmu?” Tari mendengus. Tidak habis pikir dengan isi kepala kekasihnya itu.

 

“Setidaknya, aku tidak akan mungkin membiarkan mereka membersihkannya dengan cara seperti yang kau lakukan tadi.” Jawabnya tak acuh.

 

“Hey, Nona. Itu bukan sebuah jawaban. Aku tetap tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh bibirmu walau dengan ujung jarinya sekali pun. Bibir ini hanya milikku, dan hanya aku yang boleh menyentuhnya.” Kris mengecup bibir Tari tepat saat dia menyelesaikan kalimat terakhirnya.

 

“Otakmu benar-benar harus di cuci. Apa isi kepalamu hanya berisi hal-hal seperti itu? Kau pikir aku harus menggunakan kaca setiap akan makan atau minum? Aku bukan anak berumur tiga tahun yang akan membuat mulutku kotor saat makan ataupun minum. Tadi itu hanya ketidak sengajaan.”

 

“Tetap saja. Kemungkinannya kau akan melakukannya lagi bisa saja terjadi.” Kris masih bersikeras.

 

“Cih, kekanakan sekali Tuan Wu.”

 

“Aku tidak peduli.”

 

“Lalu kau mau aku bagaimana?”

 

“Jaga cara makan dan minummu.” Tari sedikit melongo mendengarnya.

 

“Demi Tuhan, itu masalah sepele Kris.”

 

“Aku tidak peduli. Dan satu lagi, panggil aku Oppa.” Tari memutar bola matanya malas. Bukankah prianya ini benar-benar kekanak-kanakan? Bagaimana mungkin dia bisa terpilih jadi seorang Leader dari sebuah grup yang sedang menuju kepopularitasannya di dunia? Benar-benar tidak habis pikir. Tari tidak mau memperpanjangnya, jadi dia hanya mengangguk pasrah.

 

“Hm, arasseo.” Jawabnya tak acuh. Mendengar itu Kris memicingkan matanya, menatap Tari lekat.

 

Wae? Kenapa melihatku seperti itu? Kau membuatku takut, kau tahu?”

 

“Aku seperti mendengar adanya ketidak seriusan dalam jawabanmu.” Tari berdecak pelan. Mendorong tubuh Kris yang sudah merangsek maju dan hampir menghimpit tubuhnya.

 

“Kau sungguh kekanak-kanakan. Tidak bisakah kita menghentikan pembicaraan ini?” Kris menggeleng.

 

“Tidak. Sebelum kau mengatakan, Ya.” Kini pria itu kembali merangsek maju. Membuat Tari mau tidak mau harus memundurkan tubuhnya hingga akhirnya tubuhnya terhempas di sofa yang di dudukinya.

 

“Bukankah tadi aku sudah mengatakannya?”

 

“Jangan mencoba membodohiku, aku tahu kau tidak serius mengatakannya.”

 

“Ya! A-apa yang mau kau lakukan?” Kris hanya menyeringai. Menikmati wajah gadisnya yang tengah kegugupan. Jangan Tanya bagaimana posisi mereka saat itu. Siapa pun yang melihatnya pasti akan berfikir jika mereka sedang melakukan hal yang tidak-tidak. Tangan Tari kini berada pada dada bidang Kris, bermaksud untuk menahan tubuh Kris yang kini menindih tubuhnya. Bukan apa-apa, itu membuatnya sesak.

 

Oppa, berhenti!” Saat di dapatinya Kris semakin mempersempit jarak keduanya. “Oke, aku mengerti. Aku akan mengikuti apapun katamu. Kau puas? Sekarang menyingkir dari tubuhku.” Kris menaikan salah satu alisnya.

 

“Jika aku tidak mau, bagaimana?” Tari hanya bisa menganga tidak percaya. Apa maksudnya itu.  Kini wajah Kris sudah ada di antara lekukan lehernya. Menghembuskan nafasnya di sana, membuat gadis itu sedikit menggeliat karena rasa geli pada lehernya.

 

“Tidakkah kau merindukanku, hm?” Bisiknya. Tari bisa merasakan Kris mulai mengecupi lehernya, sesekali menggigitnya kecil. Meninggalkan tanda merah di sana, yang di yakininya tidak akan hilang satu sampai dua hari. Terus mengecupinya, hingga ke rahangnya dan berakhir di atas bibir gadis itu. Kris berhenti di sana. Menatap sejenak gadisnya. Tari hanya bisa menahan nafasnya saat bola mata mereka kembali bertemu.

 

Oppa-

 

“Ssst… tetaplah seperti ini. Apa kau tahu? Aku begitu merindukanmu.” Potong Kris cepat. Tangan kanannya terangkat untuk mengelus pipi Tari. Sedangkan tangan kirinya dia gunakan untuk menyangga tubuhnya. Dia tidak mungkin membiarkan berat tubuhnya di bebankan pada tubuh gadis itu. Bisa-bisa gadisnya akan pingsan karena menahan berat tubuhnya. Baru saja Kris akan menggerakan bibirnya untuk memperdalam ciumannya, getaran ponsel di saku celananya membuatnya mengurungkan niat tersebut. Dia mengerang kesal, mengambil ponselnya tanpa berniat merubah posisinya.

 

“Ck, kenapa benda ini bersuara di saat yang tidak tepat? Mengganggu!” Umpatnya. Tari yang mendengar pun tak kuasa menahan senyum gelinya. Tapi senyuman itu tidak berlangsung lama. Kerutan-kerutan di keningnya kini muncul begitu saja. Menatap kekasihnya bingung. Jelas saja, wajah Kris berubah menegang saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.

 

“Ada apa?” Tanya Tari ingin tahu. Tapi pria itu hanya menggeleng dan tersenyum.

 

“Tidak ada apa-apa. Hanya penelpon tidak penting. Aku tidak mengenalnya.” Tandasnya cepat. Tapi entah mengapa Tari seperti menangkap kebohongan dari raut wajah tampannya.

 

“Benarkah? Kau tidak sedang mencoba membohongiku, kan?” Kris terkekeh kecil.

 

“Jadi sekarang kau mulai mencurigaiku, begitu?”

 

“Tidak juga, hanya saja wajahmu tidak meyakinkan kau berkata jujur.”

 

“Eiyy… jadi kekasihku ini mulai belajar membaca raut wajah seseorang, hm?” Masih berada di bawah tubuh Kris, Tari menggeleng.

 

“Tidak! Hanya kau. Aku hanya ingin memastikan jika tidak ada yang kau sembunyikan dariku.” Hatinya mencelos mendengar kata-kata itu keluar dari mulut gadis yang amat di sayanginya ini. Ada rasa bersalah yang mengendap di dasar hatinya. Tapi, lagi-lagi, tidak ada yang bisa dia perbuat. Kemudian dia tersenyum dan mengecup bibir itu sekilas.

 

“Dengar! Tidak ada yang aku sembunyikan darimu. Dan jika pun ada, itu pasti untuk kebaikanmu. Jadi berhenti bertanya yang macam-macam, cukup percaya padaku. Mengerti?” Di tatapnya gadis itu lekat. Menegaskan baik-baik lewat sorot matanya bahwa apa yang dia ucapkan tadi benar dari hatinya. Sedetik kemudian gadis itu tersenyum dan mengangguk.

 

“Aku mengerti. Dan aku percaya padamu. Bukankah aku sudah pernah bilang?” Kris kembali tersenyum. Hatinya kini lega mendengar jawaban dari gadisnya. Walaupun dia tahu kelegaan itu hanya bersifat sementara. Tapi setidaknya untuk saat ini, itu semua sudah cukup. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Kris sudah membungkam bibir Tari dengan bibirnya. Memperdalamnya, menuntutnya agar gadis itu membuka bibirnya dan membalas ciumannya. Bahkan kini tubuh keduanya semakin menempel. Tidak ada jarak sedikit pun yang tersisa. Kris merengkuhnya, tidak membiarkan gadis itu menjauh seinchi pun darinya.

 

Ponsel Kris kembali bergetar. Menghasilkan bunyi yang cukup menggangu walau sedikit samar. Karena di letakan begitu saja di atas meja. Tidak di pedulikannya getaran ponselnya, dia terus mencium Tari dengan nafas yang memburu. Seolah saat itu adalah terakhir kalinya dia bisa merasakan bibir manis milik gadisnya. Bahkan kini ciumannya sudah berpindah ke lehernya. Memberikan banyak tanda kepemilikannya pada leher putih itu. Ponselnya terus bergetar, berhenti sesaat kemudian bergetar lagi. Begitu seterusnya. Tapi Kris seolah menulikan kupingnya. Fokusnya hanya pada gadis yang ada dalam rengkuhannya. Bahkan seruan Tari tak dia hiraukan.

 

Oppa, ponselmu terus bergetar.”

 

“Biarkan saja.” Ucapnya pelan. Masih dengan kesibukannya mengabaikan ucapan Tari. Dengan terpaksa Tari menarik kepala Kris, mencoba mencari perhatian pria itu.

 

“Angkatlah! Sejak tadi terus bergetar. Siapa tahu penting.” Ucapnya saat dia berhasil membuat Kris menatapnya. Dengan sedikit rasa kesal dia mengambil ponselnya. Namun bukan di angkat seperti yang Tari suruh. Dia justru mematikan panggilan itu, kemudian menonaktifkannya.

 

“Benar-benar mengangganggu.” Gerutunya. Tari hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan kekasihnya itu.

 

“Bagaimana jika itu panggilan penting?” Tanya Tari sedikit khawatir.

 

“Tidak ada yang lebih penting di banding denganmu. Kau mengerti, Nyonya Wu?” Ucap Kris tegas. Sorot matanya menajam begitu saja saat kata-kata itu keluar dari mulutnya. Kata-kata yang cukup manis sebenarnya. Cukup membuat gadis mana pun akan tersipu malu jika mendengar itu dari kekasihnya sendiri, tak terkecuali Tari. Tapi entahlah, dia merasa ada sesuatu yang tidak benar di sini. Bukan. Bukan karena ucapan Kris atau apapun. Sekali pun tatapan itu menyorotkan keyakinan tapi gadis itu tahu sesuatu telah terjadi. Dia sendiri tidak tahu dan tidak mengerti. Semuanya terlihat baik-baik saja memang. Tapi siapa yang tahu, tidak selalu apa yang kita lihat adalah kebenarannya. Namun lagi-lagi gadis itu memilih diam dari pada menyuarakan isi hatinya, dia tidak mau membuat Kris merasa khawatir.

 

Baru saja Kris akan kembali menciumnya, kini giliran ponsel miliknya yang bergetar. Sesaat kedua alis gadis itu bertaut ketika melihat nama si pemanggil. Kris kembali berdecak kesal. Merasa benar-benar terganggu. Tidak bisakah orang-orang itu membiarkannya menikmati waktunya bersama gadisnya? Hey, tidak tahukah mereka berapa lama Kris menahan rindunya untuk akhirnya bisa bertemu dan memeluk kekasihnya seperti ini? Akhirnya dengan perasaan kesal Kris bangkit dari atas tubuh Tari. Begitu pun dengan Tari, dia bangkit lalu duduk sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.

 

Ne, Eonnie.” Kris melirik Tari sebal. Menopang dagunya pada satu tangannya dan menghembusakan nafasnya berat. Tari yang melihat itu hanya bisa mengusap rambut Kris penuh sayang. Berharap meredam rasa kesal yang sedang di rasakan prianya itu.

 

Saeng, apa Kris sedang bersamamu?” Mendengar pertanyaan Taeyeon, membuat kening gadis itu sedikit berkerut. Tidak biasanya Taeyon mencari Kris hingga menghubungi ponselnya. Apa semendesak itu urusannya? Belum lagi, nada bicaranya terdengar sangat hati-hati. Gadis itu melirik Kris di sampingnya sebelum akhirnya mengangguk.

 

“Eoh, dia ada bersamaku. Ada apa Eonnie?” Kris yang mendengar ucapan Tari pun tak urung ikut penasaran. Siapa yang menelepon kekasihnya? Kenapa dirinya di bawa-bawa? Berbagai pertanyaan mulai merasuki otaknya. Membuatnya gelisah, khawatir apa yang di takutinya akan terjadi. Kris semakin menajamkan pendengarannya, menatap Tari seolah bertanya ‘siapa yang menelepon?’.

 

Selesai Tari menjawab, suara di seberang telepon itu berubah. Bukan lagi suara Taeyeon. Orang yang sudah di anggapnya sebagai Kakak. Suara itu sedikit ketus dan terkesan terburu-buru. Tari tahu betul suara siapa itu. Kris yang melihat wajah kekasihnya berubah menjadi masam, semakin yakin jika apa yang di khawatirkannya sejak tadi memang terjadi.

 

“Jessica ingin bicara denganmu.” Tari menyodorkan ponselnya ke arah Kris. Mengangkat wajahnya lalu mengusapnya dengan salah satu tangannya. Terlihat sekali jika pria itu sedang menahan kesabarannya. Jika bisa dia ingin sekali mencekik wanita itu sekarang juga. Wanita yang sudah membuatnya terkekang dan secara tidak langsung membuatnya menjauh secara perlahan dari gadis yang sangat di cintainya.

 

Kris mengambil ponsel itu kemudian di matikannya panggilannya, lalu melempar ponsel itu begitu saja ke atas meja. Seperti ponsel miliknya sebelumnya.

 

“Kenapa malah kau matikan?” Tanya Tari heran.

 

“Apa lagi? Dia hanya mengganggu.” Kata Kris kesal.

 

“Apa dia yang sejak tadi menghubungimu?” Tanya Tari tanpa melihat Kris. Tatapannya lurus ke depan, suaranya pun terdengar datar.

 

Kris menghela nafasnya. “Ne.

 

Seperti ada ribuan paku karat yang menusuk jantungnya saat itu. Sesak, dan perih yang tak tertahankan.

 

“Kenapa kau bilang kau tidak mengenalnya?” Perasaan bersalah kini kembali di rasakan Kris. Lagi-lagi dia membuat gadis yang di cintainya kecewa padanya.  Kris menarik Tari kedalam pelukannya. Menyandarkan kepala gadis itu pada dada bidangnya.

 

“Maaf. Aku tidak bermaksud membohongimu, aku hanya tidak mau merusak suasana kita.” Kris megecup puncak kepala Tari. Sesekali mengusap punggung gadis itu lembut. “Lagi pula aku tidak merasa mempunyai urusan dengannya. Jadi tidak ada alasan untuk ku mengangkat panggilannya.”

 

“Mungkin kau tidak mempunyai urusan dengannya. Tapi bagaimana dengan dia? Tidak mungkin dia sampai menghubungiku untuk mencarimu jika tidak ada yang penting.” Kris menggeleng. Mengeratkan pelukannya pada Tari.

 

“Aku tidak peduli. Bagiku yang terpenting itu adalah kau.” Tari melepas paksa pelukan Kris. Menatapa pria itu lekat.

 

“Kau tidak bisa seperti itu.” Tepat setelah itu ponsel Tari kembali bergetar. Keduanya menoleh ke tempat di mana ponsel itu tergeletak. Baru saja Tari akan mengambilnya, Kris lebih dulu menahan tangannya. Menggeleng pelan menatap gadis itu.

 

“Biarkan saja.” Ucap Kris tegas. Tapi Tari tidak peduli. Dia mengambil ponselnya lalu menyodorkannya pada Kris.

 

“Kau tidak bisa seperti itu. Angkatlah! Hadapi masalahmu.” Lagi-lagi Kris harus menghela nafasnya. Kenapa di saat seperti ini gadisnya begitu keras kepala? Tidak tahukah dia, jika Kris mengangkatnya, itu artinya mereka akan kembali berjarak lagi. Dan Kris tentu tidak mau. Cukup kemarin-kemarin dia hampir merasa gila karena tidak bertemu Tari dalam waktu yang cukup lama. Berusaha menghindarinya dengan cara memutus kontak mereka. Itu seperti membuatnya mati secara perlahan. Ingin sekali untuk kali ini saja Kris menolak permintaan Tari. Tapi faktanya, Kris tidak pernah bisa mengatakan tidak pada gadis itu. Tari masih menyodorkan ponselnya yang terus mengeluarkan getar. Menunggu Kris untuk segera mengambilnya dan mengankat panggilan itu. Kris memijit keningnya. Tiba-tiba saja kepalanya merasa begitu sakit. Dengan sangat terpaksa akhirnya mau tidak mau dia mengambil ponsel itu, menggeser tanda telepon yang berwarna hijau sebelum mendekatkan ketelinganya. Tidak yakin setelah ini dia masih bisa bebas menemui gadisnya.

 

“Ada apa?” Jawab Kris dengan suara tertahan. Datar, tanpa ekspresi. Rahangnya mengeras. Menahan kekesalan dalam dirinya. “Aku sudah pernah bilang, bukan? Jangan ganggu waktu liburku.” Suaranya sedikit meninggi. Tapi sepertinya gadis di telepon yang tidak lain adalah Jessica semakin menyulut kemarahn Kris. Terlihat dari gigi-gigi pria itu yang mengertak menahan emosinya.

 

“Tidak bisakah sekali saja kau membuat ku tenang? Jangan mengganggu ku!” Bentak Kris. Tari yang ada di sampingnya sedikit berjengit mendengar suara Kris. Dia tidak pernah melihat Kris semarah dan sekasar itu. Sebenarnya ada masalah apa dia dan Jessica?

 

“Aku tidak bisa!” Sambungan itu di putus begitu saja oleh Kris. Menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa dan menghembuskan nafasnya berat. Kris memijit pelipisnya. Kepalanya benar-benar sakit.

 

Oppa, sebenarnya ada apa?” Tanya Tari hati-hati. Takut membuat Kris kembali marah seperti tadi. Kris menoleh ke samping, meihat gadisnya yang terlihat takut-takut. Apa sikapnya tadi baru saja membuat Tari takut? Kemudian tersenyum, kembali menarik Tari kedalam pelukannya.

 

“Tidak ada apa-apa.” Jawab Kris pelan.

 

“Tapi kenapa kau terlihat begitu marah? Sebenarnya ada apa dengan kau dan Jessica? Dan skandal itu-“

 

“Hey, dengar!” Kris memotong ucapan Tari cepat. Menatap gadis itu lekat. “Aku dengannya tidak ada apa-apa. Mengenai skandal, itu semua hanya sebuah kesalah pahaman. Hanya kau satu-satunya gadis yang ada di hatiku.”

 

“Lalu, ci-“ Kris buru-buru membungkam bibir Tari. Mencium gadis itu, tidak membiarkannya menyelesaikan ucapannya. Kris tahu betul apa yang akan di ucapkan Tari. Dan dia tidak ingin dengar. Dia tidak ingin pertanyaan itu keluar dari mulut gadisnya. Karena dia tahu, pertanyaan itu bukan hanya membuatnya semakin merasa bersalah tapi juga akan membuat Tari semakin sakit. Dia tidak mau gadisnya semakin sakit. Sebisa mungkin dia tidak akan pernah membiarkan air mata itu mengotori wajah cantiknya.

 

Tautan itu terlepas. Nafas keduanya memburu, saling bertabrakan. Entah perasaannya saja atau bukan, tapi Tari merasa ciuman Kris kali ini seperti orang kesetanan. Walaupun kelembutan itu masih ada, masih bisa dia rasakannya. Tapi tetap saja, ciumannya kali ini terkesan terburu-buru dan penuh emosi.

 

Di usapnya bibir bawah milik Tari yang basah karena ulahnya. Kemudian mengecupnya sekilas. Ada ketidak relaan saat melepas bibir itu sebenarnya. Tapi Kris tidak mau membuat pacarnya mati kehabisan nafas karena ciumannya. Jangan salahkan Kris, salahkan bibir milik Tari yang begitu menggodanya. Dia selalu sulit mengendalikan dirinya jika bibirnya sudah bertemu dengan bibir milik kekasihnya itu. Seperti ada magnet yang terus memaksanya untuk terus melumatnya dan memperdalam ciumannya. Tidak ingin melepasnya barang sebentar pun. Kris sendiri heran kenapa bibir milik Tari begitu memabukan. Apa mungkin Tari menggunakan lipstick yang bisa membuat para pria terus ketagihan setiap menciumnya. Oh, itu pemikiran konyol sekali. Mungkin benar apa kata Tari. Otaknya saja yang kotor.

 

Honey, listen me. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Kau hanya perlu terus berada di sampingku dan percaya padaku. Maka semuanya akan baik-baik saja. Oke?” Sekali lagi, Kris kembali meyakinkan Tari.

 

Gadis itu mengangguk. “Aku tahu.” Ada jeda dalam ucapannya. Menaruh salah satu telapak tangannya pada wajah Kris. Menatap setiap detail wajah kekasihnya, menyimpannya baik-baik dalam ingatannya. Seakan hari ini adalah hari terakhir dia bisa melihat wajah itu sepuasnya. “Pergilah!” Ucapnya kemudian.

 

Kris mengerutkan keningnya bingung. Apa maksudnya dia di suruh pergi. Bukankah gadisnya itu sudah percaya? Lalu kenapa sekarang dia di suruh pergi? Mengerti raut kebingungan di wajah Kris, Tari kembali bicara.

 

“Aku tahu, dia menyuruhmu untuk menemuinya. Sekarang pergilah!”

 

“Ada apa denganmu hari ini sebenarnya? Aku ada di sini bersamamu, kenapa kau malah justru menyuruhku menemuinya? Apa kau masih marah padaku? Bukankah aku sudah minta maaf? Kau pikir aku segila itu memilih meninggalkanmu untuk pergi menemuinya?” Dalam satu tarikan nafas Kris mengeluarkan semua pikirannya. Menatap tidak percaya pada kekasihnya.

 

Tari mengalungkan tangannya pada leher Kris. Memeluk pria itu, mengusap punggungnya pelan. Mencoba menenangkannya, sekaligus menyembunyikan matanya yang kini sudah berkaca-kaca. Gadis itu tahu, cepat atau lambat waktu itu pasti akan datang. Waktu dimana saat dia harus melepaskan orang yang sangat di cintainya.

 

“Aku hanya tidak ingin kau merasa tertekan.”

 

“Apa maksudmu? Justru kau yang membuatku nyaman.” Sela Kris cepat.

 

Ani. Bukan begitu maksud ku. Aku tahu seberapa besar kau mencintaiku. Aku percaya padamu, dan aku akan selalu berada di sisimu. Seperti yang kau bilang tadi.”

 

 

 

 

 

TBC
—————————————————————————————————————————
hey..hey.. my lovely readers. makasih yg masih nungguin dan mau baca sampai part 7 ini. karena setiap bikin cerita aku slalu mikir, ada ga ya yg bakal suka sama cerita aku. tapi makin kesini kok kayaknya peminatnya dikit ya? soalnya klo kurang di minati mau aku stop aja. bukan apa-apa, kan percuma aku udah capek mikir tapi klo ga ada peminatnya. agak sedih jugaa hehee

aku sih ga permasalahin silent reader. tapi sebagai penulis aku jg mau tahu apresiasi kalian terhadap tulisan aku. selain untuk memperbaiki tulisan aku supaya lebih baik lagi, itu juga jadi semangat aku untuk nulis. tadinya chapter ini mau aku protect, tapi aku mikir lagi… ga usahlah. aku ga mau bikin kalian ribet, karena tujuan aku nulis kan hanya untuk nyalurin hobi nulis aku. mungkin klo nanti part-nya sedikit bahaya apa lg untuk yg masih di bawah 17th baru aku akan protect. satu lagi maaf untuk keterlambatan publishnya.

About fanfictionside

just me

9 thoughts on “FF/ I LOVE YOU/ EXO/ pt. 7

  1. keep writing thor~!!fighting~!!
    kayaknya part ini kurang panjang ya thor hehe

    penasaran sama skandal kris-jessica=_=
    jangan lama lama ya thor publish next chapternya hihi

  2. Wuah..daebbak..!!!sweet moment nya keluar deh..tapi agak ngeselin juga kenapa dia(jess) harus muncul..

  3. thor neomu sarang ….

    keren banget dapat banget feelnya ikutan emosi ama jesica hehhhh kenapa si ganggu” nyebelin deh

    tapi semua inti cerita dari part 1 sampai 7 akuuuuuu sukaaaaaaaaa bangetttttt

  4. Kaya nya tau ni crita arahnya kemana😀
    tapi moh nebak2 lah takut asal usul nanti hehe😀
    ditunggu next nya😉 LIKE🙂

  5. huh…
    tarikris moment keganggu ama jessica…
    sebenernya ada mslh apa c sma kris hrs sma jessica trs.. kris kyk cowo panggilan aja dmn jessica butuh kris hrs ada…
    ngeselin bgt tu yoeja… ;( ;(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s