FF/ DARKSIDE/ BTS-bangtan/ pt. 1


Title : Darkside (Chapter 1)

Sub-chapter title : The Mirror

Author : A-mysty

Cast :   Ahn Hye Min (OC)

            Ryu Eun Soo

            Cha In Hyong

            Park Ji Min      

Kim Tae Hyung

The Other also coming soon…

Length : Chapter

Genre : Adventure, Love-life, School life, Mystery, Horror, Thriller.

Author’s Note :

Ini FF pertama yang saya buat. Ide untuk FF ini murni berasal dari pikiran saya. Kalau ada sedikit kesamaan cerita, mohon maaf. Namun, otak saya telah mengeluarkan ide untuk cerita ini secara alamiah. Maaf jika masih ada typo. Dan, semoga kalian suka ^^

 

 

 

Ketakutan…

Orang-orang warga sana pun berlarian menjauhi kawasan hutan itu. Konon katanya hutan itu memiliki penghuni yang misterius. Hawa sealu berkabut, jika bulan purnama muncul suara yang tidak mengenakkan hati. Orang-orang itu mulai resah. Tidak sedikit dari mereka mulai memilih untuk pindah rumah.

Hingga pada suatu saat…

Mayat seseorang yang di kenal, ditemukan di pinggiran hutan oleh anak-anak kemah. Di lengan dan paha laki-laki terdapat cakaran hewan buas. Darahnya masih mengalir, dan wajah laki-laki itu berlumuran darah, dan juga terdapat cakaran hewan yang sama.

Semenjak itulah, hutan itu di segel. Wilayah sekitar hutanpun dikosongkan, lalu di gusur. Di sekelilingnya telah di tanam pagar besi yang kokoh. Wilayah beserta hutan itu telah terisolir dari kehidupan. Pagar-pagar besi yang dulunya berwarna perak ke abuan, juga sudah berubah warna menjadi hijau berkarat. Namun dipagar itu, tumbuhlah pohon mawar merah yang cantik secara misterius.

Sampai saat ini… Misteri itu belum terpecahkan.

Hye Min membaca bukunya sambil menguap tidak jelas. Ia membaca bukunya di tengah-tengah jam istirahat sekolahnya. Ia menopang sebelah pipinya dan membaca buku terus-menerus. Buku yang menyimpan banyak cerita misteri itu masih berada genggamannya seharian.

Ketika semua teman-temannya memilih untuk memakan bekal dan berjalan-jalan, ia masih duduk di sana. Kadang-kadang, kedua temannya menghampiri hanya untuk sekedar basa-basi. Sisanya, Hye Min habiskan untuk membaca buku itu.

“Kau tidak makan?” Tanya Jimin sambil berjalan di sebelah kursi Hye Min. Tangan laki-laki itu penuh dengan tumpukkan kertas-kertas folio untuk laporan tugas sains harian.

Hye Min menegakkan kepalanya dan melihat Jimin yang tengah menatapnya aneh.Gadis itu menutup bukunya dan memasukkan ke kolong meja, “Ah, tidak. Aku tidak lapar. Kau makan saja sana.” sahut Hye Min yang terkesan seperti tergencet dalam keadaan terusik.

“Jangan ketus seperti itu. Aku ‘kan hanya sekedar bertanya. Lagipula, siapa juga yang ingin mengajakmu untuk makan bersama?” Jimin tersenyum, namun dilanjutkan dengan ejekkan dan kekehannya.

Hye Min mendengus pelan. Ia menatap Jimin jengkel begitu saja, “Terserah kau saja.”

***

    Jam istirahat berakhir, itu berarti berakhir pula waktu untuk membaca bagi Hye Min. Eun Soo, teman sebangku Hye Min, menatap dengan tatapan penasaran. Sedari tadi, Hye Min mengacuhkan ajakan bicaranya. Eun Soo ingin sekali melihat judul buku yang sedang dibaca oleh Hye Min itu. Tapi, Hye Min terlihat seperti menyembunyikan sampul buku itu.

“Kau sebenarnya membaca apa, sih?” Eun Soo melirik ke arah Hye Min penasaran.

“Buku.” jawab Hye Min datar.

“Maksudnya judul bukunya.” sahut Jimin dari belakang. Ia tersenyum aneh menatap dua orang perempuan yang tengah berbicara singkat itu. “Apa buku itu tentang misteri? Tadi aku baca sedikit dari sini, tentang kematian tanpa sebab, ya?” Jimin bertanya dengan sedikit serius.

“Ya, bisa jadi begitu. Memangnya kenapa kalian ingin tahu?” Tanya Hye Min sambil memutar tubuhnya menatap Jimin datar, diikuti Eun Soo yang juga ikut memutar tubuhnya.

“Kami penasaran saja. Sejak tadi pagi, kau hanya membaca buku itu terus. Makan siang tidak, bercanda juga tidak.” Kali ini, Eun Soo yang menjawabnya dengan pasti. “Boleh aku lihat buku itu?”

Hye Min menggeleng, “Andwae.” Ia mendengus pelan ketika melihat ekspresi Jimin, “Bukannya aku pelit, tapi ini adalah buku rahasia. Aku tidak ingin banyak orang yang mengetahuinya.”

“Kau ceritakan saja.” Jimin menyahut datar.

“Tidak bisa. Jimin-ah, bukankah tadi aku sudah bilang, kalau aku tidak ingin orang-orang mengetahuinya?” umpat Hye Min sebal. Jujur saja, laki-laki didepannya itu memang aneh dan kadang menjengkelkan.

“La…?” Eun Soo bergumam sambil membaca sampul buku secara diam-diam.

Mendengar gumaman sahabatnya itu, Hye Min langsung menoleh dan menarik buku itu secara paksa. Ia mendecakkan lidahnya asal dan mendengus. Buku yang sudah berada di genggaman itu, langsung ia simpan ke dalam dekapannya. Jimin melirik gadis yang ada di hadapannya itu.

“Sesulit atau serahasia itukah, sampai kau tidak mau membagi cerita?” Jimin memanyunkan bibirnya jengkel.

“Mian. Ini adalah rahasiaku sendirian.” jawab Hye Min mendelik pelan. Ia merasa tidak tega melukai laki-laki yang sudah menjadi sahabatnya sejak dulu.

Jimin, laki-laki itu adalah sahabat terbaiknya kedua setelah Eun Soo. Mereka selalu berduaan saja, berangkat bersama, begitu juga dengan pulangnya. Bahkan, Taehyung –teman dekat Jimin- meledek mereka berdua untuk menjadi sepasang kekasih. Tapi, entahlah, tidak ada rasa suka yang tumbuh selama mereka bersahabat.

“Ya, ya, ya. Aku mengerti. Aku tidak akan memaksa.” Jimin mengibaskan tangannya sambil tersenyum anis. Sedangkan, Eun Soo hanya mengangguk-angguk tidak jelas.

Setlah membicarakan buku itu, Guru Yoo masuk tanpa mengetuk pintu kelas. Raut wajah guru itu juga berbeda. Ia tampak sedang kesal, wajahnya juga merah padam. Itu pertanda tidak baik. Jimin langsung memundurkan kursinya, lalu cepat-cepat mengeluarkan buku Matematika.

Melihat hal yang sama dengan Jimin, Eun Soo memutar tubuhnya ceat. Menarik kursinya agak maju, lalu mengeluarkan buku tulisnya. Lalu, disusul dengan Hye Min dengan gerakan yang santai. Ekspresi Guru Yoo itu terlihat menyeramkan, hingga membuat siswa lainnya bergerak cepat untuk mengeluarkan buku pelajaran.

Ketika hendak membuka buku cetaknya, Hye Min melirik ke arah ambang pintu secara tidak sengaja. Ia mendapati seseorang tengah mengintip ke dalam kelasnya dari pinggiran pintu kelasnya yang masih terbuka lebar. Ketika Hye Min melirik secara sadar dengan kerutan di dahi, orang itu menghilang secara tiba-tiba.

Gadis itu berdeham dan membuang pandangannya ke seluruh kelasnya. Ia menarik kursi, dan mencengkram pensilnya kuat-kuat.

Yang tadi itu siapa?

***

Suasana kelas terasa sangat sepi, yang terdengar hanya suara gesekkan kain pel dan lantai. Itu juga, hanya ada 4 orang siswa yang masih membersihkan kelas. Kelas yang terletak dekat taman bunga mawar itu memang harus terlihat sangat bersih. Karena peraturan sekolah sudah mendesak mereka seperti itu.

In Hyong, Hye Min, Jimin dan Eun Soo, masih berniat untuk membuat kelas itu terlihat lebih harum dari biasanya. Entahlah, guru mereka telah menetapkan hal itu sebagai peraturan harian yang ketat. Dari sekian banyak siswa laki-laki di kelas, Jimin-lah yang paling setia menunggu Hye Min sampai pulang. Ia bahkan membantu 3 sahabat itu membersihkan kelas, walaupun itu bukan jadwal piketnya.

“Aku muak seperti ini!” In Hyong membanting gagang pel-nya keras. Ia menendang pelan ember yang masih berisi dengan air yang sudah di campur dengan karbol. “Kenapa kelas kita saja yang dipaksa seperti ini untuk setiap hari? Aku dilihat-lihat kelas Taehyung tidak harus sebersih ini!”

Hye Min dan Eun Soo menatap In Hyong dengan terkejut. Tak biasanya ia mengeluh seperti ini, In Hyong malah disebut-sebut anak terajin membersihkan kelas. Predikat itu ia pegang bersama Jimin.

“Hey, sudahlah.” Eun Soo menyahut sambil menepuk bahu kanan In Hyong pelan. “Ikuti saja apa peraturannya.”

“Aku lelah. Aku ingin pulang.” ujar In Hyong pelan.

“Pulang saja. Lagi pula, sedari tadi kau hanya mengepel lantai itu-itu saja. Maju… Mundur. Itu saja yang kau lakukan sejak 10 menit yang lalu.” Hye Min menyahut dengan suara yang sedikit sinis. Ia sangat sensitif ketika mendengar seseorang mengeluh.

“Hye Min-ah, kau tidak boleh berkata seperti itu.” timpal Jimin.

In Hyong mendengus marah. Ia menendang ember itu sampai airnya menyiram kaki Eun Soo. Gagang pelnya juga ia tendang hingga terseret jauh. Ia berlari mengambil tasnya dan menghilang begitu saja. Gadis itu pergi tanpa pamit. Hye Min terdiam, dan mendecakkan lidah.

 “Ada apa dengannya?” Tanya Eun Soo datar. Gadis itu berjongkok membetulkan posisi ember, lalu mengambil beberapa kain dasar untuk mengeringkan lantai itu.

“Entahlah. Tak biasanya, In Hyong begitu.” Jimin menatap ke arah pintu kelas, tepat lurus ke depan.

“Hmm… Kau benar.”

Hye Min terdiam ketika In Hyong benar-benar akan pulang begitu saja. Gadis yang biasanya di kelas dengan eramahan dan kepolosannya, tiba-tiba menghilang dari untaian pikiran begitu saja. Ketika Jimin membantu Eun Soo mengelap lantai, Hye Min mendelik sebentar.

“Aku merasa aneh dengan orang-orang untuk hari ini.” Un Soo berbicara sambil terus mengelap air yang berceceran dimana-mana.

“Maksudmu?” Hye Min menyahut dengan dahi yang mengerut tak yakin.

“Aku ingin tidak? Guru Yoo masuk dengan wajah merah padam seperti habis meledak? Selama pelajaran juga, Guru Yoo hanya berbicara sepatah dua patah saja. Lalu sekarang, sifat In Hyong tiba-tiba menjadi keras kepala seperti itu. Apa itu tidak aneh?” jelas Eun Soo.

Jimin menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap Hye Min yang terlihat kebingungan dan panik, “Aku juga merasa seperti itu. Sudahlah. Mungkin mereka ada masalah. Tidak baik mencuriga mereka dengan mudah begitu saja.”

“Ya, aku tahu itu.” Eun Soo menjawab sambil memeras kain pelnya di atas ember yang sempat terguling tadi.

Hye Min menatap lurus ke arah ambang pintu tadi. Ia mengingat seseorang yang tengah mengintip ke dalam kelasnya, lalu menghilang begitu saja.

Ada yang aneh… Kini, batin Hye Min mulai merasakan ada hal yang ganjil.

***

Keesokkan harinya, sifat In Hyong yang aneh semakin menjadi. In Hyong menjadi sangat keras kepala. Gadis itu selalu merasa dirinyalah yang paling benar. Ia juga melukai perasaan orang-orang dengan kata-kata tajamnya. Tak hanya itu, In Hyong juga menjadi super sensitif. Salah berbicara sedikit saja, ia akan melukai perasaan orang. Entahlah, tapi sifat manis yang dikenal teman-temannya terasa menghilang dari kesehariannya itu.

Sampai suatu saat, In Hyong menjambak rambut Eun Soo secara tiba-tiba. Meskipun Eun Soo sudah menjerit-jerit dan menangis, gadis itu tetap menjambaknya. Ia juga melemparkan gelas yang berisi jus ke arah Jimin tanpa alasan yang jelas. Dan saat ini, gadis itu tengah berseteru dengan Hye Min di kelasnya sendiri.

Saat ini, tak ada yang berani menahan In Hyong yang cukup ganas itu. Eun Soo masuk UKS dengan rambut yang hampir rontok banyak. Jimin juga sama, bahunya membiru ketika menerima timpukkan benda-benda dari In Hyong.

“Minggir!” jerit In Hyon kencang.

“Aku tidak akan pindah, jika sikapmu seperti itu.” sahut Hye Min dingin.

Tiba-tiba mata In Hyong terbelalak lebar, seperti itu keluar. Gadis itu mengambil sebuah pensil mekanik. Ia berjalan cepat ke arah Hye Min dengan tatapan begitu menyeramkan. Semakin dekat, kini ia ingin menusuk mata Hye Min dengan pensil itu. Sebelum menusukkan pensil itu, In Hyong menarik pergelangan tangan Hye Min dan memelintirnya. Hye Min langsung menjerit seketika. Ia tidak menyangka In Hyong akan menjadi seperti itu.

“Cepat minggir, atau aku akan menusuk matamu!” In Hyong menatap Hye Min dengan menempatkan ujung pensil itu di depan mata Hye Min.

Gadis itu kehilangan kata-kata, ia air matanya mengalir begitu saja. Sakit dan nyeri. Itulah yang dirasakan oleh Hye Min. Mungkin saja, tulang hastanya bergeser. Genggaman dan pelintiran In Hyong sangatlah keras dan kuat. Hye Min mulai terisak dengan rasa sakitnya. Ia juga tidak bergerak sedikitpun. Ia tetap pada posisinya.

Kesabaran In Hyong sudah habis. Gadis itu langsung menarik ancang-ancang untuk menusuk mata Hye Min. Hye Min yang masih menagis kesakitan itu, tetap menatapnya dengan sendu. Gerakan tangan In Hyong semakin mendekati mata Hye Min. Lalu…

Cetak!

Hye Min menutup matanya rapat-rapat. Ia merasa ketakutan, kali ini ia tidak bisa bersikap sinis seperti biasanya. Ia menerjapkan matanya. Seorang laki-laki berdiri di hadapannya dan menahan gerakan tangan In Hyong. Taehyung… ya, itu adalah Taehyung.

In Hyong langsung menatap Taehyung benci, lalu melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Taehujng. Dengan tenaga yang cukup besar, In Hyong mendorong tubuh Taehyung hingga nyaris menabrak Hye Min yang masih berdiri di belakangnya.

Taehyung terdiam menatap In Hyong yang pergi dengan sikap anehnya. Ia langsung menenangkan Hye Min yang terlihat ketakutan. Ia pun berkata, “Apa kau tidak apa-apa?”

Hye Min terdiam dalam isak tangisnya, “Mataku tidak apa-apa berkatmu. Namun, pergelangan tanganku yang bermasalah.”

“Boleh aku lihat?” Taehyung mengulurkan tangannya, dan meraih tangan kanan Hye Min lembut.

Salahnya, Taehyung meraih tepat pada sumber nyeri. Rasa sakit yang luar biasa mulai menjalar ke sekujur tubuh Hye Min. Dan… Hye Min pun menjerit kesakitan lagi. Dugaan tentang tulang hasta yang bergeser mungkin saja benar. Hanay dengan sentuhan lembut saja, ia kesakitan seperti itu.

“Ya!” Taehyung terpekik, Hye Min telah menjerit tepat di gendang telinganya. “Aku tahu sakit. Sini ikut aku ke UKS.” Laki-laki itu merangul Hye Min perlahan untuk tidak membuatnya menjerit kesakitan lagi.

Mereka berdua berjalan perlahan-lahan. Hye Min belum juga menghentika isak tangisnya. Pergelangan tangannya terasa seperti terjepit pintu gerbang besar. Tulangnya seperti patah, dan terdapat serpihannya di aliran darahnya sendiri. Taehyung melirik teman dari sahabatnya itu. Meskipun mereka tidak saling mengenal dekat, tapi Taehyung sering muncul di saat yang pas. Tidak, seperti Jimin yang selalu merusak suasana.

Disaat mereka melewati toilet perempuan. Terdengar pecahan kaca dan jeritan anak perempuan. Taehyung langsung menoleh ke arah pintu masuk toilet itu. Beberapa siswi langsung berlarian keluar sambil menjerit keras. Hye min pun menoleh ke sumber suara jeritan itu.

“Ta- Taehyung­-ah, ada apa? disana?” tanya Hye Min pelan. Ia menahan isak tangisnya sekuat tenaga.

“Entahlah.” Taehyung menggeleng pelan.

Tanga kiri Hye Min bergerak melepas rangkulan Taehyung, “Lepaskan aku sebentar. Aku ingin lihat apa yang terjadi.”

“Tdak bisa. Tangamu patah, kau tidak mungkin harus menahan rasa nyeri itu lebih lama!” Taehyung mengeratkan rangkulannya.

“Tidak, Taehyung-ah. Aku harus ke sana. Pasti terjadi sesuatu hingga membuat mereka semua menjerit.” Hye Min bersikeras melepaskan rangkulan Taehyung.

“Baiklah.” Taehyung menghela napas mengalah.

Tepat ketika Hye Min membuka pintu toilet, Mi So terduduk dengan tubuh bergetar hebart sambil terus menatap lurus ke arah serpihan kaca yang pecah itu. Matanya membulat sempurna, ia juga mengeluarkan air matanya dimata kanannya. Gadis itu terlihat begitu ketakutan.

Hye Min melepaskan rangkulan Taehyung keras dengan menggunakan tangan kirinya. Taehyung mengalah, ia tidak bisa ikut masuk ke dalam toilet perempuan, kan? Namun, manaya menatap ceceran darah di dekat serpihan kaca itu. Begitu juga dengan Hye Min, gadis itu melongok ke dalam.

Tiga cermin dari empat cermin yang ada di toilet perempuan itu, pecah menjadi serpihan-serpihan kecil. Di dalam toilet itu hanya tinggal Mi So seorang. Namun di di bili kamar mandinya, terdapat jas sekolah dengan name tag In Hyong. Hye Min terdiam. Ia yakin In Hyong pasti ada di dalam toilet ketika insiden aneh ini terjadi.

Setelah menerawang cukup lama, ia tidak mendapati sosok In Hyong dalam toilet itu. Ceceran darah dimana-mana. Taehyung yang tadinya tidak ingin melihat ke dalam, akhirnya terbengong menatap kondisi toilet itu. Kacau balau, serpihan kaca dimana-mana. Begitu juga dengan darah.

Taehyung menatap Mi So yang menjadi teman sekelasnya itu, lalu berkata, “Dimana In Hyong?”

Mi So menatap Taehyung masih dengan tubuh yang bergetar, “I- I – In- Hy- Hyong…”

To Be Continue

About fanfictionside

just me

22 thoughts on “FF/ DARKSIDE/ BTS-bangtan/ pt. 1

  1. Keren kok thor. Cukup typonya ada yang bikin bingung-in kayak “manaya” aku tahu itu pasti “matanya”

    Keren banget. Thillernya cukup terasa. Cuma masalah typonya doang kok thor.
    Di tunggu😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s