FF/ I LOVE YOU/ EXO/ pt. 6


Author: Kim Taeri (@irna66lestari
Main Cast: Tari (OC), Kris (Exo-M), Suho (Exo-K), Kim Hyejin (OC), Luhan (Exo-M)
Support Cast: Exo Member, Jessica (GG)
Rate: T (+17)
Genre: Romance, Sad
Length: Chaptered
Disclamer: All the cast are from God except the OC is my imagination and the storyline too.
 
 
 
 
 
 
Preview:
Tatapannya teralihkan dari foto Kris pada nama yang kini tertera di layar ponselnya saat tiba-tiba saja ponselnya itu berdering. Ada rasa tidak percaya sekaligus senang saat melihat ID Caller itu. Ponselnya masih terus berdering mengeluarkan lagu Baby DOn’t Cry dari Exo. Masih belum ada tanda-tanda jika dia akan mengangkat ponselnya, Tari masih berusaha mencerna apa yang sedang di lihatnya saat ini. Apakah dia sedang bermimpi, atau matanya yang salah lihat. Tapi tidak, keduanya salah. Panggilan itu memang benar-benar dari Kris.
Di gesernya ke kanan lambang telpon yang berwarna hijau dan mendekatkannya pada telinganya.
Yeobseo.
———————————————————————————————————————————————–
 
Ada rasa tidak percaya dalam suara Tari. Ada pemikiran, mungkin saja yang menghubunginya itu salah satu dongsaeng-nya yang meminjam ponsel pria itu. Tapi keraguan itu terjawab saat suara berat di sebrang sana terdengar.
“Kau belum tidur?” Itu benar-benar suaranya. Suara yang sepertinya sudah lama tidak di dengarnya dengan sedekat ini. Tari berani bersumpah, dia benar-benar merindukan suara berat itu.
Oppa, kau kah itu?” Tanya Tari memastikan. Di tempatnya Kris mengerutkan keningnya bingung.
“Tentu saja aku. Memang kau pikir siapa?”
“Ah, aniyo.
Keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing. Bingung ingin membicarakan apa lagi. Layaknya percakapan pertama yang di lakukan dua orang asing yang tidak saling kenal. Itulah keadan mereka saat ini. Di liputi kecanggungan. Hanya deru nafas masing-masing yang terdengar begitu pelan. Sebenarnya Kris ingin sekali mengatakan bahwa dia sangat merindukan gadis itu, betapa sangat inginnya dia memeluknya, membawanya kedalam rengkuhannya. Tapi, rasa bersalah pada gadisnya membuat semua kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.
Sedangkan Tari, tidak jauh beda dengan Kris. Entah harus seperti apa dia mengekspresikan kebahagiaannya. Dia ingin merajuk seperti biasanya, mengatakan bahwa dia sangat merindukannya. Memintanya untuk segera datang menemuinya. Tapi, sama halnya seperti Kris. Kekecewaannya pada pria itu, kesedihannya yang pria itu buat dan kemarahannya karena pria itu mengacuhkannya. Tari bukan gadis bodoh, dia sadar akhir-akhir ini Kris seperti sedang berusaha untuk menjauhinya. Dan dia benci di abaikan. Apa lagi oleh kekasihnya sendiri. Bukankah dia berhak marah? Yah, dia memang sangat berhak untuk marah pada Kris. Tapi pertanyaannya, apa gadis itu bisa marah pada Kris? Jawabannya, tidak.  Bagaimana pun perlakuan pria itu padanya, Tari tidak pernah bisa marah apa lagi membencinya. Dan itu membuatnya menelan kembali kata-kata yang ingin dia ucapkan.
Masih sama-sama terdiam, mereka seperti menciptakan suasana canggung untuk keadaan mereka sendiri. Seolah kebisuan mereka adalah komunikasi tak kasat mata yang sedang mereka lakukan. Benar-benar membuang waktu. Tapi bagi mereka, mungkin tidak. Karena jika boleh jujur, Kris sangat senang bisa mendengar suara gadis itu lagi. Walau pun tidak ada percakapan yang terjadi, tapi mengetahui gadis itu masih berada di sana menunggunya bicara itu sudah cukup mengobati rasa rindunya walau hanya sedikit. Yah, sedikit. Dan yang dia takutkan hampir saja terjadi. Dia hampir saja lepas kendali dan berlari keluar untuk menemui gadisnya itu.
“Kau belum tidur?” Kris membuka suara. Menanyakan kembali pertanyaan yang tadi belum sempat terjawab oleh Tari.
“Kau tahu penyakitku, Oppa.” Kris mengangguk paham. Walau tahu bahwa Tari tidak mungkin melihatnya.
“Kenapa tidak menghubungiku?”
“Kau tidak lihat berapa banyak panggilan dariku yang tidak pernah kau jawab? Bahkan satu pun pesan singkat ku tidak ada yang kau balas.” Sebuah kalimat sederhana dari Tari, namun cukup membuat Kris merasa di tampar begitu keras. Rasa bersalah itu pun kembali meliputi hatinya.
Mianhae.” Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutnya. Tari paham betul maksud dari kata itu. Walau sebenarnya dia tidak bermaksud menyinggung Kris dengan kalimatnya.
Di kamarnya, Tari tersenyum getir. “Gwaenchana, aku mengerti kesibukanmu.” Tari memberi jeda dalam kalimatnya. “Bagaimana kabarmu? Kau sehat kan?” Tari mencoba untuk mencairkan suasana. Rasanya tidak enak bersikap canggung pada kekasih sendiri.
Sebenarnya Kris ingin menjawab buruk, karena memang seperti itu keadaannya saat ini. Hidupnya benar-benar buruk tanpa tambatan hatinya itu. Dan dia tidak pernah merasa seburuk ini sebelumnya, bahkan rasa rindu pada keluarganya yang tinggal jauh pun tidak begitu menyesakan seperti dia merindukan Tari. Tapi Kris tidak ingin membuat Tari merasa khawatir. “Aku baik. Kau sendiri, bagaimana? Selama aku tidak mengunjungimu, tidak ada pria yang mencoba mendekatimu kan?”
Tari terkekeh pelan mendengar ucapan Kris. Ada kelegaan dalam hatinya, ternyata pria-nya itu masih belum berubah. Masih saja protective padanya.
Eobseo. Kau tahu Oppa, aku selalu menjaga hatiku.” Kris tersenyum di seberang sana. Hatinya benar-benar merasa lega mendengar kalimat gadisnya.
Gomawo.
“Untuk?” Tari mengerutkan keningnya bingung.
Geunyang tta. Untuk kesabaranmu, ketulusanmu, dan terima kasih untuk cintamu.” Kris diam sebentar, mengambil nafasnya perlahan sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya. “Aku mencintaimu.” Tari tersenyum. Rasa sakit dan kecewanya yang lalu perlahan memudar. Dia memang hanya membutuhkan Kris untuk meredam segala rasa sakitnya.
“Hm, arra.
Keheningan kembali meliputi keduanya. Bukan karena rasa canggung seperti di awal, mereka hanya sedang merasakan kehadiran masing-masing. Mereka sadar, betapa mereka saling membutuhkan untuk mengatasi setiap rasa sesak yang mereka rasakan.
Naeil mwohalkeoeyo?” (Apa yang akan kau lakukan besok?)
Eobseo. Geunyang jibeseo, wae?” (Tidak ada. Hanya di rumah, kenapa?)
“Aku akan menemuimu besok. Sekarang tidurlah, sudah sangat larut.” Tari berusaha mencerna ucapan Kris barusan. Apakah dia tidak salah dengar? Kris akan datang menemuinya. Ingin rasanya dia memekik senang detik itu juga, tapi dia sadar jika sekarang sudah sangat malam. Seluruh tetangga apartemennya pasti akan berfikir jika dia gila, dan dia tidak mau mendengar kecerewetan Hyejin malam-malam begini. Dan dia hanya memilih untuk tersenyum dalam bentuk menunjukan betapa bahagianya dia saat ini. Walaupun sadar jika Kris tidak akan melihatnya.
Geurae, jalja.” Baru saja Tari akan menutup panggilannya, Kris memanggilnya.
Honey!
“Hm.”
Bogoshippo.” Ucap Kris pelan. Namun masih mampu tertangkap oleh pendengaran Tari dan membuatnya kembali tersenyum. Perasaan berdebar yang sepertinya sudah lama tidak dia rasakan kini kembali bisa dia rasakan. Hanya dengan satu kalimat itu, dan hanya Kris yang dapat membuat hatinya berdebar seperti ini. “Jeongmal bogoshippo.” Lanjutnya kemudian.
“Hm, arra. Naeil mannayo, eoh?
“Eoh, jaljayo.
Sambungan terputus. Dan perasaan lega itu mereka rasakan, tidak ada lagi rasa sesak seperti sebelumnya. Keduanya tertidur dengan senyum masih tertera di wajah masing-masing dan berharap pagi segera tiba.
<<<>>>
Hari ini Suho bangun pagi seperti biasa. Bukan untuk membangunkan adik-adiknya dan menyiapkan kebutuhan untuk mereka perform seperti biasanya. Seharian ini mereka tidak ada jadwal. Mereka bisa bebas untuk beristirahat di rumah atau pergi berlibur. Memang hanya satu hari, tapi satu hari pun sudah merupakan surga untuk mereka. Mengingat begitu penuhnya jadwal mereka setiap harinya.
“Kau mau kemana, Hyung?” D.O baru saja menyelesaikan sarapan yang di buatnya. Dahinya bertaut bingung saat melihat Suho sudah rapi. Sedangkan dia sendiri masih mengenakan celana training dan T-shirt yang di pakainya semalam untuk tidur. Rambutnya pun masih berantakan. Sudah bisa di tebak, jika bocah itu belum mandi.
“”Aku mau menemui seseorang.” Tanpa menatap D.O, Suho asik meminum kopi yang dibuat D.O khusus untuknya.
“Apa berhubungan dengan pekerjaan?” Kini D.O ikut duduk di depan Suho dan memakan sarapannya. Tanpa menunggu membernya yang lain. Karena sudah bisa di pastikan jika mereka akan bangun pada saat jam makan siang nanti. Tidak semua tentu saja.
“Bukan, hanya menemui seorang teman.”
“Apa tidak terlalu pagi untuk menemui seseorang?”
“Aku akan pulang dulu ke rumah ku, setelah itu baru bertemu temanku.”
“Aah…Geurae.” D.O mengangguk mengerti. “Ku pikir kalian sedang mengurus sesuatu. Kalau begitu bersenang-senanglah.” Suho menatap D.O dengan pandangan bingung saat menangkap sesuatu yang ganjal dalam ucapan Dongasaeng-nya tersebut.
“Kalian?”
Mengerti apa yang membuat Hyung-nya itu bingung, D.O pun menjelaskan.
Ne, kalian. Kau, dan Kris Hyung.” Kedua alisnya terangkat naik saat mendengar nama Kris. “Tadi, tidak lama sebelum kau keluar, Kris Hyung sudah lebih dulu pergi. Saat ku Tanya, kemana. Dia hanya mengatakan ingin bertemu seseorang.”
Geuraeyo? Mungkin dia memang ada urusan.” D.O hanya mengangkat kedua bahunya tanpa mengalihkan fokusnya pada sarapan di depannya. “Mungkin saja.”
<<<>>>
Suho baru saja keluar dari kedai Ice Krim dengan tangan menenteng sebuah kantong plastik yang tentu saja berisi Ice Krim yang baru saja dia beli. Setelah berkunjung ke rumahnya dan bertemu ibunya untuk sekedar melihat keadaan sang ibu sekaligus melepas rindu. Tidak lama, karena seperti yang di katakannya pada D.O tadi pagi di ruang makan, bahwa dia akan menemui seseorang. Dan sepertinya Ice Krim yang baru saja dia beli untuk orang yang ingin di temuinya. Senyumnya merekah seiring langkah kakinya membawanya menuju Hyundai putih miliknya.
Selang lima belas menit Hyundai putihnya sudah terparkir di basement gedung apartemen yang dulu di tempatinya bersama para membernya sebelum akhirnya mereka pindah ke apartemen yang lebih besar. Kembali langkah kakinya membawanya masuk ke dalam lift hingga akhirnya lift itu berhenti di angka enam belas. Lagi-lagi lantai di mana apartemennya dulu berada. Sudah bisa di tebak, bukan. Jika pria itu akan mengunjungi siapa. Sangat tidak mungkin jika dia akan berkunjung ke apartemen lamanya. Untuk apa? Selain apartemen itu bukan milik mereka lagi, keadaan apartemen itu juga sudah tidak memungkin untuk dia kunjungi. Berantakan dan penuh debu di mana-mana. Karena sudah cukup lama tidak di huni. Kecuali jika tujuannya untuk membersihkan apartemen itu, lain lagi ceritanya.
Pintu apartemen itu terbuka setelah Suho menekan bel-nya. Dan menampakan wajah Hyejin di baliknya tengah tersenyum ke arahnya. Walau ada sedikit rasa heran dari raut wajahnya tapi Suho tidak mempedulikan itu.
“Kau datang mencari Tari?” Hyejin bertanya seraya memberi jalan bagi Suho untuk masuk. Dan baru saja Suho akan menjawab, pandangan yang membuat hatinya mencelos terlihat di hadapannya. Dan jawaban itu terkurung begitu saja di antara lidah dan tenggorokannya. Tenggorokannya tercekat, hanya untuk menelan ludahnya saja cukup sulit. Sedangkan lidahnya begitu kelu untuk mengeluarkan jawaban apa yang menjadi pertanyaan Hyejin tadi. Hanya dua orang yang sedang bercengkrama, namun cukup untuk membuat Suho terdiam. Dia sangat mengenal betul siapa dua orang itu. Satu yang bisa di pastikan. Tidak seharusnya dia datang hari ini, berharap bisa mengisi hari liburnya bersama gadis itu benar-benar ide yang konyol. Sudah bisa di pastikan siapa yang akan lebih dulu menemuinya.
“Siapa yang datang, Hyejin-ah?” Sebuah suara menyadarkan Suho dari lamunannya. Seiring dengan pemilik suara itu menolehkan kepalanya, melihat siapa tamunya. “Suho Oppa?
Suho hanya tersenyum saat gadis itu menyerukan namanya. Berusaha sebisa mungkin tidak menunjukan gelagat aneh yang kentara. Mendengar nama Suho seseorang yang berada di samping Tari pun ikut menoleh.
“Suho? Kau ke sini juga? Ada apa?” Sedikit tidak percaya mendapati Suho berada di apartemen kekasihnya. Suho hanya bisa tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Ah, iya. Aku…” Suho bingung mencari alasan. Apa yang harus dia katakan. “Aku ingin menemui Hyejin.” Jawabnya begitu saja saat melihat Hyejin muncul dari depan setelah menutup pintu. Hyejin yang mendengar pun hanya bisa melongo. Ada gerangan apa Suho ingin menemuinya? Tidak biasanya.
“Aku ingin mengajaknya jalan-jalan, aku bosan di dorm.” Lanjut Suho. Di iringi cengiran di akhir kalimatnya. Hyejin semakin membelalakan matanya tak percaya. Belum hilang rasa keterkejutannya perihal Suho yang ingin menemuinya, sekarang di tambah pria itu mengatakan ingin mengajaknya jalan-jalan. Apa Suho salah minum obat pagi ini? Atau dia salah memakan sarapannya? Pikirnya.
Hyejin memang dekat dengan member Exo, tapi tidak sedekat Tari. Hyejin hanya terkadang saja ikut mereka kumpul, itu pun jika ada Tari di dalamnya.
Kris dan Tari hanya mengangguk mengerti. Berbeda dengan Hyejin, mereka tidak menaruh curiga sedikit pun. Menurut mereka wajar saja, toh selain Tari, Hyejin pun cukup akrab dengan member Exo yang lain termasuk Suho.
Mengabaikan segala persepsi yang bersarang di otaknya, Hyejin menyuruh Suho duduk dan menunggunya untuk membuat minuman.
“Kenapa kau tidak bilang sebelumnya? Setidaknya aku bisa bersiap-siap sebelum kau datang.” Hyejin bicara sambil melangkahkan kakinya menuju dapur. Suho yang mendengar hanya tersenyum sebelum akhirnya menjawab.
Gwaenchana, aku  tidak terburu-buru kok. Kau santai saja.” Kini Suho sudah duduk di samping Tari. Melihat jinjingan yang ada di tangan Suho membuat Kris ingin bertanya.
“Kau membawa apa?”
“Ah, iya. Aku lupa. Tadi aku lewat kedai Ice Krim saat menuju ke sini dan memutuskan untuk membelinya. Ini.” Suho menaruh Ice Krim itu di meja tepat di depannya. “Tapi, maaf. Aku hanya membeli tiga. Aku tidak tahu jika ada kau, Hyung.” Suho menampilkan cengirannya dengan ekspresi minta maaf. Kris hanya tersenyum melihatnya.
Gwaenchana. Aku bisa makan bersamanya.” Ucap Kris menatap Tari di sampingnya, setelah itu mengacak pelan rambut gadis itu.  Tari yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa tersenyum manis menatap Kris.
Sebenarnya Suho benci mengakuinya. Tapi, pasangan di sampingnya ini memang serasi. Suho bisa merasakan betapa besar perasaan yang mereka miliki. Siapa pun bisa melihat dari sorot mata keduanya yang menunjukan betapa mereka saling ketergantungan satu sama lain. Membuatnya berfikir, mengharapkan gadis itu akan memberinya kesempatan untuk memberikan separuh hatinya sangatlah tidak mungkin. Karena sampai kapan pun hati itu hanya akan ada satu nama, yang entah sampai kapan bahkan gadis itu sendiri tidak bisa menentukannya.
<<<>>>
“Sekarang katakan yang sebenarnya.” Hyejin menatap Suho menuntut jawaban. Matanya menyipit seperti orang mencurigai sesuatu.
Mereka kini berada di Coffe Shop tidak jauh dari apartemen Hyejin dan Tari. Setelah saling menanyakan pendapat harus kemana, akhirnya mereka memutuskan hanya duduk santai sambil menikmati kopi.
“Apa maksudmu? Aku harus mengatakan apa?” Tanya Suho polos. Membuat Hyejin berdecak.
“Sudahlah, tidak usah mencoba membodohiku. Kau sebenarnya ingin menemui Tari, bukan?” Suho sedikit tersentak. Tidak mengira jika Hyejin akan tahu secepat ini. Sudah tidak mungkin untuknya terus berbohong, dia pun memilih mengatkan apa adanya.
“Ya, kau benar.” Suho menghela nafas. Tanpa di jelaskan lebih detail pun Hyejin tahu benar bagaimana perasaan pria di depannya ini. Bahkan jauh sebelum Suho sendiri menyadari perasaannya Hyejin sudah lebih dulu sadar. Membuat gadis itu tersenyum miris mendapati kenyataan yang ada.
“Lalu kenapa kau mengatakan ingin menemui ku? Kenapa tidak katakan yang sebenarnya saja?”
“Kau gila? Mana mungkin aku mengatakan yang sebenarnya. Ada Kris Hyung di sana. Aku tidak mau dia berfikir yang tidak-tidak.” Hyejin mengangguk paham.
“Kau benar.”
Keduanya terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Entah untuk waktu berapa lama kebisuan itu menemani mereka. Yang jelas, kini kesunyian meliputi keduanya. Tanpa saling menyadari, mereka merasakan sesak yang sama namun untuk nama yang berbeda. Entahlah, rasa sesak itu tiba-tiba saja datang. Bahkan ekspresi Hyejin kini berubah sendu dari sebelumnya.
“Sejak kapan kau menyukainya?”
Pertanyaan sederhana. Bahkan dengan suara yang cukup pelan, namun masih bisa tertangkap oleh pendengaran Suho. Suho tidak bodoh untuk mengerti akan pertanyaan Hyejin. Dan untuk kedua kalinya pria itu tersentak.
TBC

About fanfictionside

just me

4 thoughts on “FF/ I LOVE YOU/ EXO/ pt. 6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s