FF oneshot/ JUST IN MY DREAM/ EXO


Just in My Dream

 

Chanbie & Eunroro13 storyline

Han Hyunjo & Park Chanyeol | Oneshoot (5.313 words), Romance, General

Just in My Dream Cover by Eunroro13 

 

Entah pertanda apa yang baru saja Tuhan berikan padaku. Mimpi yang baru saja kualami benar-benar membuatku bingung. Ketika aku tersentak bangun dari alam bawah sadar, aku lantas memegang kepala yang terasa sedikit berputar sembari melihat sekeliling dengan nafas tak beraturan. Mimpi itu mungkin bagi sebagian orang hanyalah bunga tidur biasa karena mungkin saja aku memikirkan orang-orang itu sebelum tidur. Tapi bagiku mimpi ini benar-benar di luar dugaan. Bagaimana bisa tiba-tiba aku bermimpi seperti itu?

 

Mimpi dimana aku bertemu seorang pria muda, tinggi, nan tampan yang begitu kukenal dan tiba-tiba saja menjadi bagian penting dalam hidupku. Bermula dari ajakan Ibu untuk menemaninya berkunjung ke rumah salah satu teman karibnya. Sebagai anak perempuan yang baik tentu saja aku menurut. Sesampainya kami di rumah bertingkat dengan warna putih yang dominan, kami langsung disambut oleh sang tuan rumah yang begitu cantik dan anggun. Ibuku memanggilnya dengan sebutan Nyonya Park. Aku turut menyapa beliau sambil membungkukkan badanku hormat. Lalu tersipu ketika teman Ibu itu memujiku sebagai perempuan. Cantik, puji Nyonya Park.

 

Hampir tiga puluh menit lamanya aku hanya diam mendengarkan perbincangan antara Ibu dan temannya itu. Yang kulakukan hanyalah menyeruput teh yang disuguhkan sambil sesekali melempar senyum ketika pandanganku dan pandangan bibi Park beradu. Beliau begitu peka jika aku merasa tersisih dalam pembicaraan mereka, sampai akhirnya Bibi –beliau menyuruhku memanggilnya seperti itu saja- menanyakan perihal pribadiku. Dimulai dari hal sederhana seperti apa kegiatanku akhir-akhir ini dan tentang sekolahku. Aku menjawab dengan lancar dan jawabanku rupanya mengundang reaksi yang mengejutkan bagi bibi Park, yang kemudian menular kepadaku ketika bibi berkata bahwa anaknya pun bersekolah di tempat yang sama denganku. Samar-samar aku tak ingat Ibu pernah bercerita jika ada anak temannya yang satu sekolah denganku. Melihat antusiasme bibi Park yang mengira aku kenal dengan anak laki-lakinya, maka ia menggandeng tanganku untuk bertegur sapa dengan ‘teman’ ku itu. Bersamaan dengan langkah kami menuju kamar dengan pintu berwarna coklat muda itu, bibi Park bercerita jika anaknya tengah demam dan meringkuk malas seharian di atas ranjangnya. Aku hanya bisa mengangguk mendengarkan karena sungguh hatiku bertalu sekarang, sebentar lagi aku akan memasuki kamar seorang laki-laki untuk pertama kalinya. Catat, bahkan aku masih belum tahu siapa laki-laki itu.

 

Kejutan selanjutnya adalah aku mendapati sosok yang tak asing di mata. Bibi benar, siapa yang tidak mengenal sosok Park Chanyeol? Satu sekolah menyegani pria satu itu. Tak hanya karena ketampanan dan bagaimana kaya rayanya ia. Tapi juga karena kepandaiannya dalam bergaul dan bakatnya memikat hati siapa saja dengan kemampuan memainkan gitar. Diam-diam aku adalah orang yang hobi mengintipnya ketika ia memetik gitar sambil bersenandung sendirian di ruang musik. Sayangnya kami tak pernah sekalipun bertegur sapa. Jadi sepertinya pernyataan bahwa kami adalah teman hanya ada pada pihakku saja. Chanyeol berada dalam lingkungan pergaulan yang berbeda denganku, dan aku tak pernah sedikitpun bisa mengkhayal menjadi bagian dari pergaulannya.

 

Chanyeol menggeliat malas ketika Ibunya mencoba untuk membangunkannya. Bibi Park berkata jika aku datang untuk mengujunginya. Kali ini untuk kesekian kalinya aku terkejut ketika laki-laki satu itu langsung gelagapan bangkit dari tidurnya dan mencoba menutupi mukanya yang memerah karena malu dilihat berantakan olehku. Bibi tertawa melihat kelakuan anaknya dan aku hanya bisa berdiri kikuk di tempat semula. Hatiku kembali berdetak tak karuan, gugup dan terkejut menjadi satu ketika Chanyeol menyapaku ramah dengan suara khasnya. Saat kami ditinggal berdua saja pun laki-laki itu tak urung merubah sikapnya. Hangat dan ramah seperti laki-laki impian yang biasa kutemukan dalam buku cerita. Kecanggungan yang awalnya kurasakan perlahan menghilang. Malahan sekarang aku menuruti permintaan Ibu untuk merawat Chanyeol sebentar. Mengganti kompres laki-laki itu, menemaninya bicara sebelum tidur karena pengaruh obat penurun panas yang baru saja ia minum. Bahkan aku memperbaiki letak selimutnya dan bisa bayangkan bagaimana meronanya wajahku tatkala mendapati wajah tertidurnya dalam jarak sedekat itu.

 

Dari kejadian itulah kami menjadi dekat dan semakin dekat. Mulai dari Chanyeol yang menyapaku saat kami berpapasan di sekolah, mengundang decak kagum, heran bercampur iri dan teman-temanku yang lain. Kemudian perlahan aku masuk ke dalam pergaulannya dan berteman dengan beberapa sahabat karib Chanyeol yang tak kalah terkenalnya. Aku berubah menjadi gadis biasa yang awalnya tak dilirik siapa-siapa menjadi seorang gadis yang terkenal dan semua penghuni sekolah selalu ingin menyapa. Satu hal lain yang paling berubah adalah dimana aku kini terkenal menjadi gadis satu-satunya yang selalu berada di samping Chanyeol dimanapun kami berada. Kedekatan kami berubah dari seorang kenalan, teman, lalu menjadi sepasang kekasih. Tepat di malam kencan kami yang ketiga dengan lampion cantik bertebangan di udara, Chanyeol menyatakan perasaannya padaku. Tentu saja aku menerimanya, karena aku juga mempunyai rasa yang sama dengannya. Hari-hariku berubah menjadi penuh tawa, canda, dan hal-hal bahagia lainnya.

 

Tapi itu hanyalah sebuah mimpi yang berakhir begitu saja ketika aku terbangun seperti sekarang. Berakhir dan menghilang tanpa jejak satupun yang bisa ditemukan. Aku meringis karena bisa-bisanya aku bermimpi hal bodoh yang tak mungkin terjadi seperti itu. Maka aku bergegas menuju kamar mandi, menyegarkan pikiran dan badanku sejenak sembari bersiap mengarungi kehidupan yang sebenarnya.

 

 

***

 

Ini bahkan sudah lewat sehari semenjak aku mengalami mimpi aneh itu. Tapi herannya aku benar-benar tak habis pikir mengapa bisa aku bermimpi seperti itu dan lebih heran lagi mengapa mimpi itu terus mengganggu pikiranku hingga sekarang. Apa iya hanya karena Chanyeol adalah kenalanku semenjak sekolah dasar? Oh ayolah. Kami bahkan tak sekenal dan sedekat itu. Aku begitu jarang berinteraksi dengannya apalagi berurusan langsung dengan orang satu itu. Bagiku ia hanya seorang teman satu sekolah biasa, aku tak terlalu menggapnya spesial. Bagiku, sahabat Chanyeol bernama Jongin jauh lebih menarik perhatian ketimbang dirinya. Fakta-fakta yang ada dalam mimpi itu sungguh bertolak belakang dengan realita yang terjadi sebenarnya.

 

Lalu bagaimana bisa aku memimpikan orang yang bahkan tak kupikirkan sedikitpun?

 

Saking bingungnya aku sampai bercerita dengan Ahreum, sahabatku. Ia tergelak menanggapi ceritaku dan malah merespon dengan penyataan yang membuatku memutar mata, “Ya Tuhan. Itu tandanya kau mulai tertarik dengan Chanyeol.”

 

Aku segera menyangkal, “Mana mungkin! Kau sendiri tau kan aku tak pernah tertarik padanya.”

 

Sialnya Ahreum kembali terkekeh dan malah semakin bersemangat menggodaku, “Atau jangan-jangan itu pertanda kau menyukainya! Kau menyukai Chanyeol!”

 

Kuketuk dahinya gemas dan Ahreum dengan gesit menghindarinya sembari memegang perutnya yang geli akibat tertawa.

 

“Jangan harap. Aku tak akan pernah suka padanya.”

 

Aku mengucapkan kata-kata itu penuh dengan percaya diri tanpa memikirkan kemungkinan jika kata-kata itu akan berbalik menjadi kenyataan yang tak kuharapkan. Berminggu-minggu setelah aku mengucapkan kata ‘keramat’ itu, entah sial atau apa, banyak hal aneh yang memuat perasaan ku menjadi tak karuan. Entah kenapa akhir-akhir ini aku selalu berpapasan dengan Chanyeol dan seketika perasaan aneh itu menyelimutiku begitu saja. Setiap aku melihat sosoknya, aku akan teringat cerita tentang kebaikannya yang diumbar oleh teman-temanku. Sosok dibalik semua ketenarannya yang begitu patuh pada orang tua, rajin beribadah, dan tak pernah menyentuh rokok sedikitpun. Sosok yang tak bisa kupungkiri menjadi tipe idamanku selama ini. Parahnya lagi sekarang mimpi anehku dulu perlahan-lahan menjadi kenyataan. Aku mulai menyukai kegiatan mencuri pandang padanya, sesekali mengintip apa saja yang tengah ia lakukan. Belum lagi perasaan gugup yang kurasakan ketika ia memasuki kelasku untuk bertemu dengan Kris, sahabatnya.

 

Ketika ia datang ke kelas, aku merasa suasana kelas berubah menjadi lebih cerah, dan seketika aku terpaku terpesona melihat kehadirannya. Posisi dudukku cukup menguntungkan. Berada tak jauh dari bangku Kris, aku bisa mencuri dengar apa yang mereka bicarakan. Sesekali memandang Chanyeol sembunyi-sembunyi dan memerhatikannya lebih seksama. Terkadang aku gila, larut dalam khayalan tatkala berpikir Chanyeol juga sengaja menatapku balik. Ya Tuhan! Bagaimana bisa kegilaan ini terus berlanjut hingga sekarang? Bagaimana bisa hanya karena mimpi konyol itu aku bisa semakin terporosok dalam perasaan yang tak bisa kucegah ini?

 

Ya. Aku rasa aku memang sudah gila.

 

“Sudah kubilang kan kau pasti menyukai Chanyeol pada akhirnya.”

 

Aku hanya melotot tajam mengintimidasi Ahreum, menyuruhnya menutup mulutnya sekarang juga. Jihyun sedikit tidak percaya dengan apa yang Ahreum katakan, akhirnya menatapku penuh tanda tanya apa yang terjadi sebenarnya. Aku hanya menunduk memandangi kaleng soda yang kubeli tanpa berani beradu pandang dengan kedua sahabatku itu.

 

“Ya! Kau tidak bercerita padaku soal ini. Aku kan juga sahabatmu.”

 

Merasa jika Jihyun benar-benar merajuk karena diabaikan, aku pun membela diri, “Bukan begitu. Saat itu aku benar-benar tidak mengerti dan bahkan tak percaya dengan perasaan ini, lagipula aku malu mengatakannya.”

 

Percakapan mengenai perasaan ‘konyol’ ku ini terus berlanjut. Ahreum tak henti menggodaku sementara Jihyun entah kenapa menjadi ketularan membuat pipiku merona. Tatapan tajam yang kulontarkan seolah tak berhasil membuat mulut mereka diam. Aku hanya bisa meremas-remas kaleng soda ku menahan malu.

 

Beruntung mereka segera menyudahinya ketika Jihyun ingat jika ia harus meminjam dress milikku. Ia berdalih tak punya dress berwarna hitam dan sungguh sayang jika membelinya hanya untuk sekali pakai. Gadis seperti Jihyun benar-benar anti dengan warna hitam, hidupnya terlalu penuh warna. Saat aku mengiyakan permintaannya, gadis itu dengan senyum merekah langsung memelukku kegirangan. Siapa yang bisa menolak permintaan Jihyun dengan matanya yang bersinar seperti anak anjing itu?

 

Jihyun sedikit berbeda dengan ku atau Ahreum. Sekalipun kami sudah berteman semenjak sekolah menengah pertama, Jihyun memang sudah terlebih dahulu berteman akrab dengan orang-orang populer seperti Jiyeon misalnya. Jadi wajar saja jika gadis itu berkata ingin meminjam dress untuk pergi ke pesta ulang tahun Jiyeon. Pasti sangat meriah dan tentu saja akan banyak orang-orang populer disana. Rasanya aku ingin menggigit jariku sekarang juga karena terlanjur iri memikirkan betapa beruntungnya menjadi orang populer.

 

Di saat yang bersamaan aku melihat Chanyeol, Kris beserta Jiyeon dan beberapa temannya memasuki kantin. Mereka menyebar senyum menawan dan kharisma yang tak terbantahkan bagi siapa saja yang melihatnya. Tapi bagiku hanya senyum Chanyeol lah yang berhasil membuat jantungku berdegup kencang. Imajinasiku buyar berganti dengan muka yang memucat dan kegugupan yang menyergap diriku seketika. Ketika orang-orang populer itu mulai melangkahkan kakinya dan kurasa tujuan mereka adalah meja dimana kami berada sekarang. Ahreum memekik tertahan, tentu saja ia merasa senang karena sebentar lagi akan mendapat cara baru untuk menggodaku. Di sisi lain Jinhyun hanya terkekeh melihat tingkah laku kami berdua yang menurutnya lucu. Aku berusaha menata hati dan degup jantungku agar tampak biasa saja, dan disinilah mereka sekarang. Chanyeol tepat berdiri di sampingku sementara Jiyeon membuka pembicaraan pada Jihyun dengan nada gembiranya.

 

“Kalian semua akan kuundang ke pesta ulang tahunku.”

 

Aku bahkan tidak bisa mencerna kalimat yang Jiyeon katakan barusan. Aku hanya terdiam duduk di kursiku sementara Jihyun tersenyum senang berterima kasih dan Ahreum yang kelewat bahagia karena bisa berpesta dengan orang-orang terkenal di sekolahnya. Jika tak mendengar suara dehaman keras dari Ahreum mungkin aku tak akan menyambut undangan yang disodorkan Jiyeon untukku. Sesegera mungkin aku menerima undangan itu dan dengan cepat walaupun sedikit terbata-bata mengucapkan terima kasih. Aku benar-benar malu dengan perilaku bodoh yang baru saja kulakukan. Aku bahkan tak berani menatap ekspresi bingung yang dilontarkan Kris dan Jiyeon, apalagi melirik bagaimana reaksi Chanyeol kepadaku. Aish, habisnya kenapa juga Chanyeol harus berdiri di sampingku? Tentu saja aku gugup.

Sepeninggalan mereka, aku langsung merebahkan kepalaku ke atas meja untuk menutupi mukaku yang memerah padam. Tak peduli dengan tawa keras Ahreum yang geli akan tingkah laku ku tadi atau dengan celotehan Jihyun yang mengajak kami berburu gaun pesta sepulang sekolah.

 

Benarkan. Aku memang sudah gila.

 

***

 

Kami sepakat untuk berkumpul di rumah Jihyun dan berangkat sama-sama ke pesta. Selain karena pertimbangan jarak rumah Jihyun yang dekat, lagipula Jihyun punya peralatan make up dan aksesoris segudang yang bisa membuat kami tampak menawan. Belum lagi dengan keahlian gadis itu soal tata rias. Aku yakin malam ini setidaknya tak akan tampil mengecewakan. Memakai gaun hitam yang baru dan sedikit menampilkan lekuk tubuhku, Jihyun memoles mukaku dengan riasan tipis dan minimalis. Aku menyemprotkan parfum yang baru saja kubeli bersamaan dengan gaun yang kukenakan, lalu dengan bangga memakai mascara sendiri agar semuanya lebih sempurna. Baru kali ini aku benar-benar berdandan total hanya untuk menghadiri pesta ulang tahun seorang teman. Tapi benar juga kata Ahreum, toh ini kesempatan langka berpesta dengan anak-anak populer. Belum lagi kesempatan dimana aku bisa bertemu dengan Chanyeol nantinya. Jihyun bilang tampilan ku harus berbeda agar Chanyeol bisa memperhatikanku dan lebih dekat dengannya.

 

Dan mereka benar. Sesampainya kami di rumah Jiyeon, aku bisa melihat bagaimana tampannya Chanyeol turun dari SUV milik Kris dengan kemeja hitam formal yang semakin membuatnya rupawan. Walaupun tidak semenyilaukan penampilan Kris yang berdiri di sampingnya, tetapi bagiku Chanyeol tak kalah tampan dari kris. Jantungku berdegup kencang karena mereka berjalan menghampiri kami dan Kris mengulurkan tangannya kepada Jihyun.

 

“Ayo masuk sama-sama.”

 

Dengan senang hati Jihyun menyambut uluran tangan Kris padanya. Well, aku memang iri. Tapi secepatnya aku menyadari kalau aku hanya kalangan biasa. Tak perlu berkhayal yang berlebihan, diundang ke pesta saja sudah begitu beruntung. Ketika aku hendak melangkah mengikuti Ahreum masuk ke dalam rumah Jiyeon, sepasang tangan terjulur ke arahku.

 

“Masuk bersama?”

 

Tak kusangka Chanyeol dengan senyum favoritku lah sang pemilik tangan itu. Aku terdiam sebentar masih memikirkan kemungkinan jika ini hanyalah khayalan semata. Tapi ketika ia berdeham dan mengulang pertanyaannya aku segera tersadar. Dengan kikuk dan jantung berdegup aku menerima tangannya yang kemudian menggenggamku erat. Wajah ku semakin memerah ketika ia bertanya dengan nada bercanda mengapa tanganku  begitu dingin. Aku merutuk Chanyeol yang tak mengerti jika dirinya lah penyebab semua ini.

 

Kegembiraanku usai ketika kami sudah memasuki ruangan pesta. Chanyeol melepaskan genggamannya kala Jiyeon menghampiri kami dan menggandeng mesra tangannya. Aku menghela nafas karena sempat memikirkan hal yang jauh dari kenyataan. Belum lagi ketika aku melihat Jiyeon menggandeng Chanyeol kemana saja seolah lelaki itu adalah pangerannya. Yang lebih mengherankan Chanyeol seolah tak keberatan dengan tingkah laku Jiyeon yang mungkin saja disalahartikan oleh kebanyakan orang. Laki-laki itu tak terlihat keberatan sama sekali saat Jiyeon memamerkan kemesraan mereka kepada tamu undangan. Belum lagi saat perempuan itu merajuk meminta Chanyeol memegang tangannya hendak memotong kue. Ya Tuhan. Ini bahkan jauh dari perkiraanku tadi saat masih berdandan di rumah.

 

Bagaimana bisa aku sempat terpikir Chanyeol akan mengajakku berdansa? Mungkin itu akan menjadi keajaiban dunia selanjutnya yang sangat tidak mungkin akan terjadi. Kenyataannya adalah Chanyeol tengah menggerakkan badannya mengikuti irama waltz bersama Seulgi, adik tingkatku. Desas-desus yang kudengar Seulgi memang sudah lama mengincar Chanyeol sebagai kekasihnya, dan sepertinya malam ini menjadi puncak dari usaha gigihnya. Kesal dan hati yang terus berdenyut perih melihat kedekatan Chanyeol dan perempuan-perempuan cantik nan populer di sampingnya, aku pun memutuskan untuk menjauh dari lantai dansa dan memilih menuju ke arah meja dengan berbagai minuman warna-warni yang tersedia disana. Aku sedikit bingung memilih salah satu di antaranya, tampak manis dan menggiurkan. Baru saja aku akan mengambil gelas dengan isi berwarna kuning cerah, seseorang mengambil tanganku dan berusaha membuatku menggenggam gelas lain berwarna coklat kehitaman.

 

“Kau minum cola saja. Mungkin jus jeruk itu berisi sedikit vodka.”

 

Aku terpana sejenak lalu menggangguk setelahnya. Kuminum sedikit cola yang ada di gelasku, mencoba menyembunyikan kegugupan saat berhadapan dengan orang di depanku ini.

 

“Kau tampak tak menikmati pestanya.”

 

Aku memandang laki-laki itu sejenak, mengerutkan kening kenapa laki-laki itu bisa berpikir seperti itu. Tepatnya mengapa ia bisa menebak apa yang kurasakan sekarang.

 

“Tergambar jelas di wajahmu, nona.”

 

Kurasa ia memang seorang cenayang, atau mungkin dia mempunyai kekuatan membaca pikiran. Kris masih menatapku tajam sembari menunggu jawaban yang akan kulontarkan. Sial. Bagaimana bisa aku menghindari tatapan tajam milik Kris? Laki-laki ini mempunyai aura dan kharisma yang begitu kuat, bahkan sulit jika hanya sekedar mengelak darinya.

 

“Tidak. Aku menikmatinya kok.”

 

Aku memilih untuk mengelak pada akhirnya, berharap Kris percaya begitu saja. Kembali kuteguk minumanku untuk menyembunyikan raut muka tengah berbohong. Tak kusangka Kris tertawa sebentar kemudian mengangguk.

 

“Baiklah. Aku percaya.”

 

Aku hampir saja menghembuskan nafas lega di hadapannya. Benar-benar beruntung sekali Kris percaya dengan apa yang kukatakan barusan. Padahal detik-detik sebelumnya aku bisa melihat ia memincingkan mata pertanda laki-laki itu menangkap sesuatu yang janggal dariku. Dan kami berakhir saling mengobrol sambil berdiri hingga pesta hampir usai. Kris menemaniku dengan selera humornya yang begitu mencengangkan hingga aku lupa dengan kekecewaanku pada Chanyeol barusan. Sampai akhirnya Jihyun mengajakku pulang dan di waktu yang hampir bersamaan Chanyeol datang menepuk bahu Kris mengajak hal yang serupa.

 

“Kalian pulang sendirian?”

 

Kris menanyakan hal itu pada kami ketika kami sampai di pintu gerbang rumah Jiyeon. Kulirik Chanyeol yang hanya diam menatap kami sambil sesekali mengumbar senyum manisnya. Rasanya aku kembali kecewa. Padahal aku lebih berharap jika Chanyeol lah yang menanyakan hal itu pada kami, mungkin kepadaku jika lebih berkhayal lagi. Setelah menjelaskan jika supir keluarga Jihyun yang akan menjemput kami semua, mereka berdua berpamitan dan menyampaikan salam perpisahan pada kami.

 

“Baiklah kalau begitu kami duluan. Sampai jumpa besok,” pamit Kris.

 

Dan kini giliran Chanyeol yang berpamitan. Kumohon, kali ini saja tatap aku.

 

“Aku duluan—,“ Chanyeol tersenyum sejenak lalu kembali melanjutkan kalimatnya, “—Jihyun­-ah.”

 

Kurasa malam ini aku akan menangis kejar sambil membenamkan wajahku dalam pada bantal. Chanyeol tak pernah menatapku lebih dari seseorang yang datang ke sekolah yang sama dengannya.

 

***

 

Sekalipun Ahreum dan Jihyun menghiburku dengan berbagai macam kalimat menghibur, canda dan tawa mereka, rasanya hatiku tetap retak. Seharusnya dulu aku tidak perlu bersikeras mengatakan jika aku tidak mungkin jatuh cinta pada Chanyeol. Pada akhirnya aku mengalaminya dan jatuh sakit hati seperti ini. Seharusnya aku tidak perlu bersikeras memikirkan mengapa Chanyeol bisa hadir begitu saja ke dalam mimpiku, melupakan semuanya seperti mimpi-mimpi aneh yang pernah kualami sebelumnya. Jadi aku tak akan seberharap ini untuk bersama Chanyeol. Ia bahkan tak menatapku lebih, kurasa percuma saja malam itu aku datang ke pesta Jiyeon dan berdandan mati-matian. Aku seperti orang bodoh dengan terus menunggu cinta yang tentu akan bertepuk sebelah tangan.

 

Aku bahkan sangsi jika Chanyeol tahu siapa namaku.

 

Kurasa kebaikan Chanyeol yang kuterima selama ini hanyalah karena ia pada dasarnya memang baik. Terlebih karena aku perempuan. Chanyeol pastilah punya manner yang baik. Itu kenapa ia  terlihat lebih istimewa. Bodoh, aku nya saja yang terlalu bodoh mengartikan semua ini dengan penafsiran yang salah.

Kali ini aku lebih memilih menghabiskan waktu istirahat makan siang di taman sekolah, duduk di bangku kayu yang menghadap langsung ke arah danau buatan. Aku perlu ketenangan sejenak. Lagipula aku tidak ingin terus-terusan dihibur oleh Ahreum ataupun Jihyun. Bukannya aku tidak menghargai mereka, tetapi aku merasa begitu tak nyaman jika terus diperlakukan seperti itu. Alasan lain, tentu saja aku menghindari sebisa mungkin untuk bertemu Chanyeol.

 

Kegiatan memandangi danau dengan pandangan kosongku terhenti ketika aku merasa ponselku bergetar. Dengan malas aku meraih ponselku dan mengangkat telepon yang ternyata datang dari Jihyun. Pasti ia mencariku karena aku menghilang begitu saja.

 

Ya! Kau dimana?”

 

Benarkan.

 

“Aku di dekat danau. Aku tak lapar,” jawabku sekenanya.

 

 “Ish, tak peduli kau lapar atau tidak sebaiknya cepat datang ke kantin sekarang.”

 

Aku mendengus malas mendengar nada mengancam dari Jihyun, “Memangnya ada apa?”

 

“Sudah datang saja. Aku tunggu.”

 

Telepon itu pun terputus. Aku mengerang kesal karena begitu malas rasanya dipaksa pergi ke kantin sekarang juga. Taruhan jika gadis itu hanya tengah menjalankan misinya bersama Ahreum agar aku menghabiskan waktu makan siang bersama mereka di kantin. Mereka khawatir aku terus bersedih dan memilih menyendiri seperti ini. Aku sempat berpikir sekali-kali egois dengan keinginanku sendiri sepertinya tak mengapa. Tapi ku urungkan niatku lalu beranjak ke kantin dengan langkah gusar setelah mendapati pesan Ahreum.

 

Lima menit lagi kau tidak sampai di kantin juga, kupastikan Chanyeol tahu kau menyukainya.

 

Sedikit tidak percaya jika aku sekarang terduduk di seberang Chanyeol. Ahreum dengan jahil memainkan alisnya menggodaku yang tak bisa menolak pesona senyum yang laki-laki itu pancarkan. Buktinya aku yang tadi kesal karena diancam oleh sahabat-sahabatku beralih menjadi si penurut yang terduduk sedetik setelah disuruh. Jihyun akhirnya menjelaskan jika Chanyeol tertarik melihat koleksi film yang aku punya. Sahabatku yang satu itu benar-benar berusaha keras agar Chanyeol tertarik padaku. Jadilah ia membuka topik semacam ini ketika mempunyai kesempatan berbicara dengan laki-laki itu.

 

“Jihyun bilang kau suka mengoleksi film. Benarkah?”

 

Aku hanya mengangguk kikuk.

 

“Boleh ku tahu kau punya film apa saja?”

 

Pada akhirnya aku menyebutkan dengan bangga judul-judul yang menjadi koleksi berharga ku. Bahkan aku tak segan menawarinya jika ia ingin meminjam beberapa dariku. Lihat, padahal baru tadi aku mencoba menghindarinya. Tapi kini aku malah menariknya dan membuat diri sendiri tidak bisa menghindar begitu saja. Aish, kurasa cinta memang sudah benar-benar membuat kinerja otakku tidak sinkron.

 

“Wah kalau begitu aku pinjam yang itu ya.”

 

Aku pun mengangguk mengiyakan. Tak sanggup menolak permintaannya. Di sampingku aku bisa melirik jika Jihyun dan Ahreum tengah menahan senyum geli melihat tingkahku. Dasar! Awas saja mereka nanti. Untung saja Chanyeol tak menyadari makna menggoda dibalik senyum mereka. Kalau iya habislah aku.

 

“Bagaimana kalau kalian bertukar kontak saja? Jadikan nantinya bisa saling membahas film sama-sama.”

 

Kurutuki ide yang dicetuskan Jihyun. Kentara sekali gadis itu benar-benar berusaha mendekatkanku dengan Chanyeol. Bagaimana jika Chanyeol menyadarinya dan malah berubah menjadi tak nyaman denganku.

 

“Ah benar juga. Kalau begitu kau berikan saja nomorku padanya Jihyun-ah.”

 

Jihyun sedikit kesal karena tanggapan Chanyeol tak sesuai sepenuhnya dengan apa yang ia harapkan, “Kenapa kau tidak berikan sendiri saja sih?”

 

Chanyeol hanya diam dan memilih untuk tersenyum sembari mengalihkan pembicaraan dengan kembali mengajakku bercengkrama soal film terbaru yang akan segera tayang. Aku sendiri penasaran kenapa Chanyeol tak mau memberikan nomor ponselnya padaku. Belum lagi perasaan-perasaan aneh muncul ketika melihat ekspresi tak suka yang dilontarkan Ahreum pada Chanyeol. Aku tahu pasti jika Ahreum pandai membaca ekspresi seseorang dan ia hampir selalu tepat membaca gelagat seseorang. Apa jangan-jangan Ahreum menduga hal yang sama yang tengah kupikirkan sekarang?

 

Jika Chanyeol malu memberikan nomornya terlebih dahulu padaku. Karena ia lebih populer tentu saja. Belum lagi karena aku tak seterkenal dirinya. Untuk apa bertukar kontak seperti itu jika hanya untuk membahas film. Bertemu di sekolah saja sudah cukup baginya. Atau kemungkinan terburuk Chanyeol sebenarnya tak mau bertukar kontak denganku.

 

Ku harap dugaanku sama sekali tidak benar.

 

***

 

Hari berikutnya kami memang saling bertukar kontak. Hanya sekedar akun SNS dan tidak lebih. Ya itu hanya pada awalnya, aku senang karena akhirnya dengan bantuan Jihyun aku bisa berteman dengan Chanyeol lebih privat di ruang chat pribadi. Walaupun aku harus menahan degup jantung pertanda gugup karena akulah yang berinisiatif mengajaknya berteman lebih dahulu. Beruntung ajakan ku diterima, kalau tidak aku benar-benar akan malu setengah mati. Obrolan kami hanya sekedar membahas film, itupun jarang. Sesekali bercengkrama menanggapi pesan pribadi masing-masing atau postingan yang kami publish di akun jejaring sosial. Tidak ada perkembangan lebih mendalam seperti yang Jihyun selalu tanyakan seperti ajakan kencan atau jalan bersama. Sudah kubilang itu mustahil terjadi.

 

Yang berubah hanyalah aku menjadi sedikit lebih dekat dengan Chanyeol. Di sekolah tak jarang kami berkumpul bersama dengan teman-teman yang lain. Entah karena Jihyun yang menarikku berkumpul bersama Chanyeol atau karena Chanyeol sendiri yang tertarik menghampiri kami. Seperti misalnya saat kami sedang membahas rencana mengunjungi sekolah kami terdahulu. Rencana hendak berkunjung untuk bernostalgia sejenak sambil meminta doa restu pada para guru karena kami akan menghadapi ujian kelulusan beberapa hari lagi. Mungkin ini bisa dibilang kemajuan yang berarti. Aku tak menyangka jika rajukan ku yang ditinggalkan oleh Jihyun dan Ahreum ketika mereka berkunjung terlebih dahulu membuat Chanyeol tertawa. Apa benar aku baru saja membuatnya tertawa? Sedikit sulit dipercaya, tetapi tak bisa dipungkiri jika aku senang tak terkira.

 

Berbekal kedekatan yang dirasa cukup itu, aku akhirnya mengikuti sesi Secret Admire yang akan ada di pesta perpisahan sekolah kami nanti. Entah bisa dibilang nekad atau tidak, tetapi aku terbujuk dengan saran Jihyun. Menurutnya ini kesempatan emas agar Chanyeol tahu perasaanku padanya. Terlahir sebagai orang yang gampang terpengaruh dan memang pada dasarnya penurut, aku pun mengalah mengiyakan dan tak bisa mengelak lebih jauh. Jihyun benar-benar senang dengan reaksiku. Ia langsung mengajakku berkeliling pusat perbelanjaan, memasuki beberapa toko untuk mencari hadiah terbaik yang akan diberikan untuk Chanyeol di event itu. Jihyun bahkan sudah mempersiapkan segala informasi yang ia korek dari Jiyeon tentang apa saja yang Chanyeol sukai. Mulai dari warna biru, ukuran sepatu bernomor 45, ukuran pakaian, dan lain sebagainya. Aku jadi bingung sebenarnya yang benar-benar berniat mengikuti acara ini aku atau dirinya. Tapi aku patut bersyukur karena sahabatku ini benar-benar membantuku dengan segenap kemampuannya. Aku sungguh terharu mengingat apa saja yang Jihyun lakukan agar aku bisa dekat dengan laki-laki yang ku impikan.

 

Setelah dua jam lamanya dan sempat beristirahat makan siang di sebuah kafe, akhirnya aku menjatuhkan pilihan pada kemeja plaid berwarna hitam putih yang ku temukan di salah satu toko. Kurasa Chanyeol akan menyukainya dan kemeja itu cocok dengannya. Setelah mendapat anggukan setuju dari Jihyun maupun Ahreum, aku pun membeli kemeja itu dan membungkusnya rapi ke dalam bentuk kado.

 

“Aku rasa aku sudah benar-benar gila. Untuk apa ikut acara konyol seperti ini.”

 

“Setidaknya kau sudah berusaha sampai akhir, Hyunjo-ya. Daripada nantinya kau menyesal tidak berbuat apa-apa,” timpal Ahreum.

 

“Benar. Lagipula inikan Secret Admire. Kemungkinan besar rahasiamu tetap aman bukan.”

 

Aku mengangguk mengiyakan. Walaupun pada akhirnya Chanyeol akan menerka-nerka siapa secret admire nya itu, tapi aku senang. Setidaknya kado ku akan sampai ditangannya dan secara tidak langsung aku sudah mengatakan jika aku memilik perasaan lebih padanya. Entahlah. Aku merasa lebih lega daripada sebelumnya.

 

Benar. Setidaknya aku sudah berusaha jujur padanya.

 

***

 

Kado ku itu akhirnya sudah sampai ke tangan Chanyeol. Saat acara perpisahan tadi ia langsung menerimanya dengan kedua tangannya sendiri. Entah memang karena sosoknya yang kelewat ceria atau karena ia bahagia bisa mempunyai seorang pengagum rahasia, Chanyeol bahkan tak henti mengumbar senyum sumringah. Seperti bangga dengan apa yang ia dapatkan sekarang. Aku ikut tersenyum melihatnya bahagia dengan kado yang kuberikan. Kuharap kau menyukainya, Chanyeol-ah, batinku tulus.

 

Tapi sayangnya aku harus mati-matian menahan rasa gugup ketahuan. Aku heran mengapa bisa kami kembali bertemu seusai acara perpisahan, disini, di studio foto yang telah kelas kami tentukan sejak awal. Aku tidak menyangka jika kelas Chanyeol juga mempunyai pemikiran yang sama untuk mengambil foto kenangan terakhir di studio foto yang sama. Jantungku tak henti berdetak kala Chanyeol dengan bangganya memamerkan kado yang ia terima. Bahkan hampir meledak ketika ia membuka kado itu langsung dihadapan teman-teman sekelasnya dan sekelasku juga. Ya Tuhan! Tidak tahukah ia orang yang memberi kado itu tengah gugup setengah mati?

 

“Wah ada suratnya!”

 

Aku nyaris tercekat. Cukup dengan membuka kado itu dihadapanku sekarang tapi tidak dengan surat itu. Bagaimana bisa Chanyeol bertindak seperti itu? Rasanya aku ingin menghampirinya dan menarik laki-laki itu keluar sekarang juga. Dengan lantang ia membaca pesan yang sengaja kutulis untuknya. Tidak panjang memang, hanya sebuah kalimat “Aku menyukaimu” yang kutorehkan. Tapi dampaknya luar biasa mencengangkan. Teman-teman Chanyeol bersorak kegirangan mendengarnya. Telingaku rasanya benar-benar panas dengan wajah yang semakin memerah padam. Kumohon hentikan ini sekarang juga Tuhan!

 

Bagaimana jika mereka melihat tulisan tanganku secara langsung? Bagaimana kalau mereka mengenali tulisanku?

 

Pikiran-pikiran buruk langsung menghampiri benakku kala itu. Aku benar-benar ketakutan akan ketahuan. Jika itu terjadi maka rasanya aku lebih memilih lenyap saja dari sini sekarang. Ketakutanku berhenti ketika melihat sosok Seulgi yang datang menghampiri Chanyeol. Aku tak mengerti mengapa bisa anak ingusan itu datang kesini.

 

“Segitu bahagianya kah dapat secret admire?”

 

Seulgi menggoda Chanyeol dengan muka riang miliknya, Chanyeol pun tertawa menanggapi candaan Seulgi.

 

“Hahahaha tentu saja bocah. Kau harus memberitahuku siapa pengirimnya, eoh.”

Seulgi merengut sejenak karena Chanyeol memanggilnya dengan sebutan bocah. Padahal aku sendiri yakin jika gadis itu tengah memekik senang dalam hatinya.

 

Shireo. Sunbae cari tau sendiri saja.”

 

Chanyeol memasang muka pura-pura marah dengan penolakan Seulgi. Laki-laki itu mendekat dan selanjutnya memamerkan kedekatan mereka yang tak sanggup lagi kulihat. Entah untuk yang keberapa kalinya Chanyeol kembali membuatku melayang, gugup setengah mati, lalu menghempaskan tubuhku begitu saja.

 

***

 

“Kau yakin tidak mau memberitahunya?”

 

Jihyun sudah berapa kali menanyakan hal serupa padaku yang pada akhirnya selalu kujawab dengan sebuah gelengan penolakan.

 

“Bahkan saat Chanyeol mengira kado itu dari Seulgi?”

 

Kali ini aku terdiam sejenak. Apa sebegitu cintanya Chanyeol pada Seulgi sampai laki-laki itu hanya bisa menebak jika Seulgi lah yang orangnya? Rasanya aku terhenyak untuk yang kesekian kalinya karena Chanyeol sama sekali tak memandangku sedikitpun sebagai seorang gadis yang menyukainya.

 

“Biarkan saja. Bukannya malah lebih bagus seperti itu? Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana jika ia menebak dengan benar siapa orangnya.”

 

Jihyun berdecak mendengar tanggapan keras kepala dariku. Sahabatku itu benar-benar geram pada Chanyeol karena begitu bodoh dan buta seakan Seulgi lah gadis satu-satunya di dunia. Ia juga kecewa denganku karena begitu pengecut untuk mengakui semuanya. Aku mengerti perasaan Jihyun, berterima kasih karena ia benar-benar tulus menginginkan aku bisa bersama Chanyeol. Tapi apa daya, kenyataan yang terjadi malah sebaliknya.

 

“Bagaimana jika Chanyeol tahu kau yang mengirimnya?”

 

Aku memandang Jihyun sejenak, “Tidak mungkin. Ia tak mungkin berpikir seperti itu.”

 

Jihyun mendengus,  “Bisa saja jika ada yang memberitahu kebenarannya.”

 

Seketika aku melotot mendengar balasan dari gadis di sampingku ini, “Jangan gila Jihyun. Jangan berbuat hal yang tidak-tidak.”

 

Wae? Chanyeol berhak tahu siapa yang sebenarnya. Lagipula apa kau tidak geram melihat Seulgi mengaku-ngaku seperti itu?”

 

Aku hanya bisa terdiam mendengarkan ucapan Jihyun. Kuakui aku memang kecewa karena tidak bisa mengakui kebenarannya, dan bagaimana kesalnya ketika gadis menyebalkan itu malah memanfaatkan situasi ini agar bisa dekat dengan Chanyeol. Tapi aku tidak bisa membayangkan apalagi melihat reaksi Chanyeol saat mengetahuinya. Bahkan hanya memikirkannya kepala ku pusing seketika.

 

“Kau takut berkata jujur padanya? Ayolah Hyunjo. Kau tak akan kenapa-kenapa. Percayalah semuanya lebih baik jika kau jujur padanya sekarang.”

 

“Bagaimana bisa aku langsung berkata padanya kalau akulah yang memberinya kado? Mungkin aku dicap gila olehnya,” sungutku dan Jihyun tak disangka tertawa melihat keadaanku sekarang.

 

“Kau tenang saja. Serahkan semuanya padaku.”

 

Melihat kesungguhan Jihyun, aku hanya meneguk liurku perlahan dan berdoa jika semuanya benar akan baik-baik saja.

 

***

 

Jihyun menepati janjinya. Walaupun tak seluruhnya berjalan dengan lancar.

 

Pada akhirnya Chanyeol tahu jika akulah orang dibalik kado kemeja yang ia terima. Jihyun berbaik hati menjelaskannya pada Chanyeol, mewakiliku yang terlalu pengecut untuk mengungkapkan yang sebenarnya. Hatiku berdegup kencang ketika Jihyun memberitahu ucapan terima kasih yang Chanyeol titipkan untukku sebagai balasan. Aku tersenyum ketika membaca pesan Jihyun bahwa Chanyeol menyukai hadiah dariku. Walaupun rasanya sedikit malu dan berniat tak akan berani bertemu dengan Chanyeol, tetapi ada sedikit terselip rasa lega karena laki-laki itu menyukai hadiahnya.

 

Tapi sepertinya niatan untuk tidak pernah lagi bertemu dengannya sedikit sulit terjadi. Selang seminggu setelah ia mengetahui yang sebenarnya, aku berpapasan dengan Chanyeol di lorong sekolah saat acara pengumuman kelulusan. Senyum canggung ia lontarkan sebagai balasan dari senyumku untuknya. Aku sudah mengira akan menjadi seperti ini. Sekalipun ia menanggapi kado dariku dengan baik, tetapi tidak bisa dipungkiri jika kecanggungan itu tetap ada. Aku berusaha sekuat hati memaklumi dan menganggap hal itu biasa saja.

 

Tidak ada lagi Chanyeol yang berbaur akrab denganku dan teman-teman. Akupun tak berani berdekatan dengannya. Jadilah kami kembali ke posisi semula. Dimana kami hanya sekedar pernah mengenal satu sama lainnya.

 

Aku tertawa ketika bayangan akan mimpiku tentang Chanyeol kembali berputar. Kali ini aku benar-benar sadar jika mimpi tak selalu sama dengan kenyataan yang ada. Mimpi hanyalah rekayasa manusia. Sedangkan kenyataan adalah apa yang terjadi sebenarnya. Mungkin mimpi bisa dirancang seindah yang kita bayangkan, tapi kenyataan belum tentu berkehendak sama. Itulah mengapa mimpi ada. Setidaknya manusia sudah bisa merancang apa yang menjadi kehendaknya di dunia nyata. Tinggal bergantung pada sekuat apa kita berusaha maka mimpi itu bisa saja menjadi kenyataan. Sekedar berharap hal yang sama akan terjadi, mimpi akan tetap menjadi sebuah mimpi. Pada akhirnya mimpi itu hanya akan membuat kenyataan terasa sulit dijalani.

 

Tak ada Chanyeol yang mengisi setiap hari bahagia ku. Tak ada hubungan lebih dari sekedar teman yang pada akhirnya kami ikrarkan satu sama lain setelah kembali bertegur sapa. Tak ada perhatian lebih yang kami berikan satu sama lain kecuali hal sewajarnya sebagai seorang teman. Chanyeol bahagia dengan hidupnya, dan aku mencoba mencari bahagia dengan hidupku selanjutnya.

 

Lalu perasaan ini?

 

Tak mengapa. Aku senang pernah merasakannya. Sekalipun tak seindah yang pernah kubayangkan, tapi aku lega. Setidaknya aku pernah bahagia walaupun hanya dalam benak ku saja.

 

 

EPILOG

 

Aku meneguk jus jeruk yang kupesan sekitar sepuluh menit yang lalu. Masih betah duduk setia di bangku sofa empuk sembari membaca beberapa naskah yang perlu kuperbaiki secepatnya. Kulirik jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Sudah satu jam aku menunggu dan orang itu tak muncul juga. Aku menghela nafas dan berniat untuk beranjak pergi secepatnya.

 

Gerakan ku terhenti ketika sepasang tangan menangkup mataku dari belakang. Aku kenal betul siapa pemilik tangan itu. Aroma tubuhnya begitu memabukkan dan selalu mencanduku sejak dahulu,

 

“Kau terlambat satu jam tuan.”

 

Laki-laki itu melepaskan tangannya lalu berdiri di depanku dengan wajah menyesal.

 

“Maaf. Tadi ada yang harus kukerjakan terlebih dahulu. Kau tidak marah kan?”

 

Ia sudah tahu jawabannya. Selalu sulit bagiku untuk marah pada orang satu ini. Aku tidak mengerti, tapi menurutnya itu karena aku mencintainya.

 

“Cepat duduk nyonya Park. Kita mau makan malam bersama bukan?”

 

— kkeut —

About fanfictionside

just me

4 thoughts on “FF oneshot/ JUST IN MY DREAM/ EXO

  1. thor tanggung, kok bisa cewe itu sama chanyeol?
    butuh penjelasan thor,buat lanjutannya dong thor,trus knpa kok chanyeol bisa suka sama cewe itu?
    pokoknya saya butuh penjelasan dan lanjutan,
    peace

  2. berasa baca cerita curhatan dalam diary. ceritanya ringan dan seringkali dijumpai di kenyataan. feelnya lumayan dapet dan endingnya sama sekali beda dr dugaan, jd ‘eeh~’ doang komentarnya diakhir. chanyeol~
    chanyeol~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s