FF oneshot/ elegy of VALENTINE/ GOT7


author: Ismomos

Cast:

– Kim Yugyeom (Got7)
– Baek Yerin (15&)
– Kim Jimin (JYP actrees)
– Jackson Wang (Got7)

Halooow, author kembali lagi~ kali ini dengan couple baru shipperan author *author demen ngecouple2in bias* Kim Yugyeom dan Baek Yerin. Semoga kalian suka ya~~ enjoy!^^

PhotoGrid_1391438377997

14 Februari 2013

Yugyeom-ah, maafkan aku. Meski ini bukan kemauanku, tapi aku harus meninggalkanmu. Lupakan aku. Lupakan semua tentang cinta kita. Sekali lagi, maafkan aku. Aku harus pergi, karna ada yang lebih mencintai diriku dibanding dirimu..

– Kim Jimin

* * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Februari 2014

    Yugyeom melangkahkan kakinya di koridor sekolah, tangannya dimasukkan kedalam saku celana dan headset yang menempel dikedua telinganya. Ya, ia terlihat sangat cool. Jangan heran, di sepanjang koridor, banyak murid perempuan yang memperhatikan dan bergumam kagum. Tapi apa peduli lelaki itu?
Yugyeom terus melangkahkan kakinya. Benar-benar tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Tatapannya begitu kosong. Tidak, tatapannya memang seperti itu. Tatapan kosong, dan terkesan dingin.
Tiba-tiba saja langkah Yugyeom terhenti, karena tatapannya terpaku dengan sesuatu yang menempel di dinding koridor sekolah. Ia berhenti sejenak, melihat sesuatu,-selebaran kertas,- dengan acuh. Tak lama Yugyeom mendengus setelah membaca isi dari tulisan dikertas itu.
‘Aku tak menyangka Jackson benar-benar sudah gila.’ batin Yugyeom.

      “YO! Kim Yugyeom~”

     Yugyeom menoleh kearah sumber suara. Lalu ia mendengus lagi, melihat siapa yang memanggilnya. Jackson,- ketua OSIS di Victory High School,- sahabatnya.

      “Sedang apa kau disini? Ah~ rupanya kau sedang membaca brosur projectku itu ya.. Bagaimana menurutmu? Ideku bagus bukan?” Kata Jackson dengan berseri-seri.

     Yugyeom menatap Jackson dengan tatapan tak percaya. Ia semakin yakin, sahabatnya itu memang sudah gila.
Yugyeom mencabut salah satu brosur yang tertempel di dinding.
“Ini yang kau sebut sebuah project?” tanya Yugyeom sambil melemparkan kertas itu kepada Jackson. Lalu ia pergi begitu saja.
“YAK! Kim Yugyeom. Aku dan tim OSISku sudah bersusah payah untuk membuat project ini. Apa kau sebagai siswa Victory tidak menghargianya, hah?”
“Aku tak peduli..” kata Yugyeom sambil terus melangkahkan kakinya meninggalkan Jackson.
“Aish, Yugyeom-ah—–”
Jackson berlari mengejar Yugyeom, tapi percuma saja, Yugyeom memang tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekelilingnya.
Jackson mencoba mengimbangin langkah Yugyeom yang ingin menuju loker, sambil ia mencoba untuk menjelaskan project,-yang menurutnya,- bagus itu kepada Yugyeom.
“…..jadi dengan ini, semua murid bisa mengungkapkan cinta mereka kepada orang yang disukainya….. bukankah ini sangat—-”
“Jackson Wang tutup mulutmu dan lihat ini!!!” Kata Yugyeom menyela ucapan Jackson.
Jackson mengentikan ucapannya, dan langsung melihat ke arah yang ditunjukkan Yugyeom. Matanya sontak melebar saat melihat apa yang ada dihadapannya.
Di depan loker,-didepan loker Yugyeom tepatnya,- sudah banyak hadiah yang ditujukkan untuk Yugyeom. Sepertinya itu semua dari penggemar rahasia Yugyeom. Jackson tak dapat mengendalikan mulutnya yang menganga lebar.
“Wow, baru sehari projectku ini berjalan, kau sudah mendapatkan hadiah sebanyak ini. Pesonamu sungguh bukan lelucon, Yugyeom-ah.”
Yugyeom mendecak kesal, di dalam hatinya sibuk menyumpah nyerapahi project gila Jackson dan tim OSISnya itu. Project “Show Your Love” dalam rangka menyambut hari valentine. Bulan februari baru berjalan satu hari, namun rasanya ia sudah bisa memperkirakan apa yang akan terjadi di hari-hari selanjutnya.
“Cepat singkirkan barang-barang ini dari lokerku atau aku akan melakukan segala cara untuk menggagalkan project bodohmu itu, Jackson Wang!!”

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

     “Aku sudah menaruh hadiahku di depan lokernya, tadi pagi. Kuharap dia suka dengan hadiah yang ku berikan padanya.” Kata seorang murid perempuan kepada teman-temannya yang sedang sibuk membicarakan tentang project Show Your Love, dikelas mereka.
“Aku juga. Bahkan aku sudah mempersiapkan hadiah ini jauh sebelum Jackson membuat project itu.” timpal salah satu temannya, tak kalah heboh.
“Kira-kira siapa ya yang akan diberikan hadiah oleh Yugyeom pada hari Valentine nanti…” tanya seorang murid perempuan lainnya, setengah berharap dirinyalah yang menjadi gadis beruntung itu.
“GIRRRRLLLS..”
Tiba-Tiba salah satu murid perempuan di kelas itu, memasuki kelas dengan tergopoh-gopoh, menghampiri sekumpulan murid perempuan itu. Nafasnya tersengal, sepertinya ia membawa berita yang sangat mengejutkan.
Gadis itu menghembuskan nafas, sebelum ia melanjutkan kalimatnya.
“Kalian sudah mendengar berita yang terjadi tadi pagi??”
Sekumpulan murid perempuan itu menatap gadis dihadapan mereka dengan tatapan bertanya.
“Kalian tahu—–tadi saat aku baru saja keluar dari toilet, aku bertemu dengan Jackson. Dan kalian tahu apa yang dibawanya…..” gadis itu menggantung kalimatnya, sengaja membuat teman-temannya penasaran.
“Apaa?????” tanya mereka hampir berbarengan.
“Jackson membawa hadiah-hadiah dari kalian untuk Yugyeom. Katanya Yugyeom menyuruhnya untuk membuang semua barang-barang itu….”
“MWOOO??!!!” teriak mereka berbarengan, membuat kelas itu rusuh.
Baek Yerin menutup buku yang sedang dibacanya, lalu menoleh ke arah sekumpulan murid itu. Sebenarnya ia sudah mendengar obrolan mereka dari awal. Awalnya ia tak tertarik, namun saat mendengar berita dari Ah Yeon,-nama gadis itu-, ia langsung memfokuskan pendengarannya.
Sekumpulan gadis itu semakin heboh membicarakan tentang Yugyeom. Tentang betapa dinginnya lelaki itu, tetapi tetap saja pesonanya mampu membuat siapa pun gadis yang melihatnya akan terpana.
“Baek Yerin? Bukankah sepertinya kau dekat dengan Yugyeom?” tanya salah satu dari mereka kepada Yerin.
“Ne? Memangnya kenapa kalau aku dekat dengan Yugyeom?”
“Kau pasti bisa membantu kami, kan? Bantu kami untuk meluluhkan hati Yugyeom dan menerima semua hadiah dari kami.” pinta salah satu dari mereka, menghampiri Yerin.
Semua murid perempuan dikelas itu pun langsung mengerubungi Yerin. Tujuannya sama, meminta Yerin untuk membujuk Yugyeom.
Yerin menghela nafasnya.
“Baiklah, aku akan mencobanya. Tapi aku tidak janji aku akan berhasil melakukannya….”

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Bagaimana aku bisa menepati janji kepada teman-temanku kalau aku saja sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk meluluhkan hatinya?
Ya, aku mencintainya.
Aku mencintai Kim Yugyeom.
Sepertinya aku sudah melakukan berbagai cara untuk meluluhkan hatinya.
Sampai akhirnya aku lelah, dan lebih memilih mencintainya dalam diam.

– Baek Yerin

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

     Yugyeom baru saja keluar dari kelasnya, dan ia melihat Yerin sudah berdiri disana, menunggunya.
“Sudah lama menungguku?” tanya Yugyeom.
“Tidak juga. Kelasku juga baru keluar beberapa menit yang lalu.”
Lalu mereka berjalan dalam diam. Yerin mengikuti langkah Yugyeom. Ya, mereka selalu pulang bersama karna jarak rumah mereka yang tidak terlalu jauh.
Yerin menghentikan langkahnya, sehingga dirinya tertinggal jauh di belakang Yugyeom. Yugyeom menoleh kesebelahnya, saat ia menyadari Yerin tak lagi di sisinya. Ia menoleh, dan mendapati Yerin berdiri terdiam. Yugyeom menatap Yerin dengan tatapan “ada apa”-nya.
Yerin melangkahkan kakinya, mendekat pada Yugyeom. Sepertinya ia ingin menanyakan sesuatu, namun ia masih ragu.
“Ada apa?” akhirnya Yugyeom bertanya melalui suaranya.
Yerin menggigit bibir bawahnya. Benar-benar bingung harus memulai pertanyaannya darimana.
Yugyeom masih terus menatap Yerin, menunggu gadis dihadapannya itu mengeluarkan suara.
“Nggg boleh aku bertanya sesuatu padamu?”
Yugyeom mengangguk.
Yerin menghela nafasnya sebelum mulai bertanya.
“Kenapa kau malah menyuruh Jackson membuang hadiah-hadiah dari gadis-gadis yang menyukaimu?”
Yugyeom tertegun, namun dengan cepat ia menutupi perasaanya. Ia malah berbalik, tak lagi menatap Yerin.
“Kau sudah tau alasannya…”
Yugyeom kembali melangkahkan kakinya. Yerin masih terdiam. Ia memang tahu dengan pasti alasan Yugyeom melakukan itu semua.
“Apa karna kau masih belum bisa melupakannya?”
Yugyeom menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Yerin. Yerin dapat merasakan Yugyeom menatapnya dengan dingin. Lagi-lagi ia tahu alasan Yugyeom seperti itu.
“Lebih baik kita pulang sekarang, hari sudah semakin sore.” kata Yugyeom mengalihkan pembicaraan.
“Apa karna kau masih belum bisa melupakan Kim Jimin, Yugyeom-ah??!” tanya Yerin lagi.
Yugyeom kembali menghentikan langkahnya dan langsung merasakan sesak dihatinya. Selalu seperti ini, saat ia mendengar satu nama itu, hatinya terasa sakit. Kim Jimin.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

     Yugyeom merebahkan dirinya di atas kasur. Menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Pikirannya entah sedang dimana, dan rasa yang menyesakkan hatinya tak kunjung hilang.
Yugyeom menghela nafas, berharap sesak di dalam hatinya sedikit berkurang. Ia memiringkan tubuhnya, dan tatapannya langsung tertuju pada sesuatu yang ada di atas meja. Sebuah foto. Fotonya dengan Kim Jimin.
Yugyeom meraih bingkai foto itu, dan menatapnya dengan lekat. Di foto itu keadaannya sangat berbeda dengan keadaannya saat ini. Di foto itu, ia dan Jimin sedang tersenyum lebar. Yugyeom kembali menghela nafas. Hal ini benar-benar membuat hatinya sakit.
“Kau senang melihatku seperti ini, huh?” tanya Yugyeom kepada foto itu.
Yang ditanya tidak menjawab.
Sekuat tenaga Yugyeom menahan air matanya saat melihat Jimin,-di foto itu-, tersenyum, seolah-olah gadis itu senang melihat keadaan Yugyeom sekarang.
“Puaskah kau telah membuat hidupku seperti ini? Puaskah kau telah meninggalkanku?! Apa kau lebih bahagia disana dibanding disini, disisiku?!!”
Lagi-lagi yang ditanya tidak menjawab.
Yugyeom memeluk bingkai foto itu. Saat ini ia sangat merindukan Jimin. Jimin-nya yang telah meninggalkannya. Namun, setidaknya jika ia tidak bisa memeluk sosok Jimin, ia bisa memeluknya walau hanya fotonya saja.
Yugyeom menangis, tak dapat lagi menahan air matanya. Ya, ia lelah berpura-pura kuat. Ia lelah berpura-pura bahwa ia baik-baik saja.
Untuk hari ini saja, Yugyeom meruntuhkan segala pertahanannya. Untuk hari ini saja, ia membiarkan dirinya lemah tak berdaya. Hanya untuk hari ini. Hanya untuk saat ini.
Dan Yugyeom pun masih menangis bersama turunnya hujan yang mengguyur kota Seoul malam ini.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

     Yerin masih duduk terpaku di meja belajarnya. Tatapannya memandang ke arah luar kamarnya. Langit begitu gelap, segelap hatinya, segelap perasaannya.
Yerin menghela nafas, mencoba untuk melegakan hatinya. Ia menoleh, dan tatapannya tertuju pada sesuatu yang ada di sudut meja belajarnya. Sebuah bingkai foto yang ia pasang dalam posisi terbalik.
Yerin mengambil bingkai foto itu, lalu ia tersenyum. Tersenyum miris. Air matanya jatuh membasahi foto yang ada di dalam bingkai itu. Fotonya dengan sahabatnya, Kim Jimin.
“Aku mencintai kekasihmu, Jimin-ah. Sangat amat mencintainya…” aku Yerin.
Jimin,-di dalam foto itu,- hanya tersenyum, tak merespon pengakuan Yerin.
“Salahkah jika aku mencintainya? Salahkah jika aku ingin merebutnya darimu? Bukankah kau sudah meninggalkannya?” tanya Yerin dengan terisak.
Hatinya begitu sakit. Ya, cinta ini benar-benar membuatnya frustasi.
“Aku benar-benar mencintainya, Jimin-ah. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan agar dia bisa melupakanmu dan melihatku?”
Air mata Yerin semakin deras mengalir. Ia menundukkan kepala, dan memeluk dirinya sendiri. Membiarkan dirinya menangis, hanya untuk hari ini. Menangis di tengah dinginnya kota Seoul yang sedang diguyur hujan malam ini.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

     Yugyeom dan Yerin berjalan bersama menuju kelas mereka. Keduanya berjalan dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Semenjak kejadian sore itu, suasana di antara mereka jadi canggung.
Yerin berjalan sambil menundukkan kepalanya. Ingin menyembunyikan sesuatu yang tak ingin orang lain melihatnya, terlebih Yugyeom.
“Annyeong Yugyeom-ah, Yerin-ah..”
Sapaan itu membuat Yerin mengangkat kepalanya, menoleh ke sumber suara.
Ternyata Jackson yang memanggil mereka.
“Wah sepertinya kalian semakin hari semakin dekat saja ya. Benar tidak ada hubungan apa-apa diantara kalian?” tanya Jackson, yang sepertinya tidak peka dengan suasana canggung di antara keduanya.
Yugyeom dan Yerin sontak mebulatkan mereka setelah mendengar pertanyaan Jackson, namun seperti biasa, keduanya dengan cepat menutupi kekagetan mereka.
“Jangan asal bicara kau, Jackson Wang.” kata Yugyeom datar.
Ucapan Yugyeom membuat Yerin menundukkan kepalanya lagi. Sekilas, Jackson dapat melihat kesedihan yang terpancar pada wajah Yerin.
“Yerin, kau kenapa?” tanya Jackson memastikan.
Yerin menoleh menatap Jackson, sambil menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak apa-apa, Jackson-ah.”
Jackson menatap Yerin dengan lekat, ia merass seperti ada yang aneh pada Yerin.
“Yak Baek Yerin!!! Kau habis menangis ya??!”
Yerin langsung tersentak kaget, setelah mendengar pertanyaan Jackson. Yugyeom langsung menoleh ke arah Yerin. Menatap gadis di sebelahnya itu dengan lekat.
Ditatap seperti itu oleh dua lelaki dihadapannya, Yerin jadi serba salah.
“Tidak. Aku tidak habis menangis. Ah ya, aku ke kelasku duluan ya.”
Yerin langsung melangkahkan kakinya dengan cepat, tidak mau Jackson dan Yugyeom mengetahui kalau ia memang habis menangis.
“Ya, Yerin-ah..” panggil Jackson.
Yerin tidak mengindahkan panggilan Jackson, ia terus melangkahkan kakinya tanpa menoleh lagi.
Yugyeom hanya terdiam, menatap kepergian Yerin sampai sosok itu menghilang dibalik pintu kelasnya.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

     Yugyeom duduk di pinggir lapangan, sedangkan teman-temannya yang lain asik bermain basket. Ia sedang malas bermain hari ini, jadi ia lebih memilih duduk di pinggir lapangan dan memerhatikan teman-temannya yang sedang bermain. Tidak, matanya memang menatap kearah lapangan, tapi pikirannya entah berada dimana.
“Kim Yugyeom—” tiba-tiba Jackson menghampirinya dan memberikan sekaleng minuman kepadanya.
Yugyeom menerimanya dan langsung menenggak minuman itu sampai habis. Jackson duduk disebelah Yugyeom.
Mereka berdua terdiam, tidak ada yang memulai untuk berbicara. Dan Jackson pun membiarkan sahabatnya itu kembali dengan pikirannya sendiri. Ia sangat tahu perasaan Yugyeom saat ini,-mengingat persahabatan mereka yang sudah berjalan hampir tiga tahun-.
Sebenarnya sosok Yugyeom bukan seperti yang sekarang ini. Yugyeom adalah sosok yang hangat dan mudah tersenyum. Yugyeom yang dulu. Namun, semenjak kejadian itu,- kejadian satu tahun yang lalu-, Yugyeom berubah. Menjadi sosoknya yang sekarang,- yang dingin, yang tak mau tau urusan orang lain.
“Tadi kulihat, didepan lokermu sudah banyak hadiah dari penggemarmu lagi. Apa kau—-”
“Buang saja. Aku tak peduli..”
Jackson menatap Yugyeom dengan tatapan miris. Karena lagi-lagi Yugyeom tidak memperdulikan barang pemberian dari orang lain.
“Mau sampai kapan kau terus bersikap seperti ini??”
Yugyeom tak menjawab pertanyaan Jackson. Ia menatap lurus ke depan, tatapannya kosong.
“Ini bukan seperti Yugyeom yang ku kenal. Kau berubah, Yugyeom. Hanya karena Jimin meninggalkanmu kau berubah seperti ini. Bukankah kau tahu, Jimin sudah bahagia disana?! Jimin sudah—–”
“Kubilang aku tak peduli!! Dan jangan kau sebut nama itu di hadapanku lagi!!”
Yugyeom kini menatap Jackson dengan tajam. Segala emosi yang ada di hatinya terpancar jelas dari matanya.
Jackson melihatnya. Emosi itu. Kemarahan itu. Kesedihan itu. Keputus asaan itu. Ia dapat melihat semuanya. Ia dapat merasakan apa yang dirasakan Yugyeom. Tapi ia juga tidak ingin melihat Yugyeom terus seperti ini.
“Kau tak peduli atau pura-pura tak peduli, huh?!”
tanya Jackson sambil menatap Yugyeom tepat dimanik matanya.
Lagi-lagi Yugyeom tak menjawab pertanyaan Jackson, ia masih menatap sahabatnya itu dengan tajam.
“Berhenti bersikap seakan-akan kau tak peduli, Kim Yugyeom.”
“Dan kau… Berhenti mencampuri semua urusanku, Jackson Wang!”
Jackson menghela nafas, lalu menatap Yugyeom dengan frustasi. Benar-benar sudah tidak tahu apalagi yang harus dilakukannya untuk menyadarkan Yugyeom.
“Andai saja ini tidak menyakitkan untuk orang lain, aku juga tidak akan repot repot mengurusi urusanmu….”
“Maksudmu?” tanya Yugyeom, menaikkan sebelah alisnya.
“Baek Yerin. Kalau kau benar-benar peduli dengannya, kau pasti tahu alasan mengapa mata Yerin terlihat sembab pagi ini..”
Mendengar penjelasan Jackson, Yugyeom tertegun.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * *

     Yerin sedang memasukkan semua buku-bukunya kedalam tas, sebelum ia keluar kelas.
“Yerin-ah, ayo kita ke kantin. Huaah perutku sudah lapar sekali.” ajak Im Nayeon, teman sekelasnya.
“Yuk, tapi tunggu sebentar aku mau—-”
“BAEK YERIIIIIN!!!”
Semua murid di kelas itu menoleh ke arah teriakan itu. Baek Ahyeon,-yang baru saja teriak memanggil Yerin-, tergopoh-gopoh memasuki kelas, langsung menghampiri Yerin. Kini keduanya menjadi pusat perhatian seluruh murid di kelas.
“Ada ap—-?”
“Di depan kelas ada Yugyeom, dan ia mencarimu!!”
“MWO??” teriak hampir seluruh murid perempuan di kelas itu.
Yerin membulatkan matanya, tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Semua murid perempuan dikelas mereka kini mendekati Yerin.
“Ada apa Yugyeom mencarimu, Yerin?” tanya salah satu di antara mereka.
“Huaaa kau beruntung sekali Yerin-a, bisa dekat dengan Yugyeom.” kata yang lainnya.
Kelas ini menjadi gaduh seketika, untung saja ini sudah jam istirahat.
“Baek Yerin, cepat temui Yugyeom, ia pasti sudah menunggumu.” kata Nayeon menyadarkan Yerin dari keterpakuannya.
Yerin langsung tersadar dan langsung keluar kelasnya, menemui Yugyeom.
Benar saja, Yugyeom ada di depan kelasnya. Sedang berdiri membelakanginya. Tanpa sadar Yerin menahan nafas.
Semua murid perempuan di kelas Yerin melongok dari jendela, ingin tahu apa yang akan dilakukan Yugyeom dan Yerin.
“Yugyeom-ah.” panggil Yerin
Yugyeom membalikkan badannya, dan tatapannya langsung bertemu dengan mata Yerin.
Yerin menundukkan kepalanya, ditatap seperti itu.
Yugyeom memperhatikan sekelilingnya dan mendapati teman-teman Yerin sedang memperhatikan mereka dari balik jendela. Ia mendecakkan lidahnya.
“Ikut aku.”
“Ne? Kemana?” tanya Yerin heran.
“Nanti kau juga akan tahu..”
Yugyeom menarik lengan Yerin dengan agak kasar. Yerin mengikuti langkah Yugyeom sambil menahan sakit di lengannya.
Ternyata Yugyeom membawa Yerin ke atap sekolah mereka.
“Yugyeom, lepaskan tanganku—-ah.”
Akhirnya Yugyeom melepaskan genggamannya.
“Maaf..” ucap Yugyeom saat ia melihat Yerin kesakitan.
“Ne, gwanchana. Ada apa kau mencariku?”
Bukannya menjawab pertanyaan Yerin, Yugyeom malah mendekatkan dirinya pada Yerin, menatap lekat mata gadis di hadapannya. Yerin merasakan nafasnya tertahan, karena jarak mereka yg begitu dekat. Yugyeom sampai menundukkan kepalanya, agar matanya sejajar dengan mata Yerin.
“Yugyeom-ah, kenapa kau—-”
“Katakan padaku, apa yang membuatmu menangis, hem?” tanya Yugyeom dengan suara khasnya, namun kali ini suaranya tak sedingin biasanya.
Yerin membelalakan matanya, tak menyangka Yugyeom akan bertanya seperti itu kepadanya.
Yerin tak menjawab pertanyaan Yugyeom, lidahnya begitu kelu dan jantungnya yang terus berdegup kencang. Sangat sulit untuk mengucapkan sepatah kata di saat seperti ini.
“Kau masih belum mau memberi tahuku? Baek Yerin, bukankah—–”
“Aku seperti ini karna aku terlalu mencintaimu, Kim Yugyeom!!!” teriak Yerin sambil mendorong bahu Yugyeom, agar menjauh darinya.
Yugyeom menatap Yerin tak percaya saat ia mendengar pengakuan dari mulut gadis itu.
Yerin merasakan dadanya terasa sesak. Nafasnya tersengal, menahan segala emosi yang ada di dalam dirinya. Air matanya telah jatuh membasahi pipinya.
“Maaf……….” hanya itu yang dapat keluar dari mulut Yugyeom. Ia merasakan sesak di dalam hatinya. Ia membalikan badannya, membelakangi Yerin. Ia tidak bisa melihat Yerin menangis dan ia juga tidak ingin Yerin melihatnya sedang sekuat tenaga menahan air matanya.
“Aku sedih melihatmu seperti ini, Yugyeom. Aku sedih karna kau masih belum bisa menerima kepergian Jimin. Kapan kau akan membuka hatimu???”
Yugyeom menghela nafas, rasa sesak itu semakin menyesakkan hatinya.
“Cukup Yerin. Aku tidak mau mendengarnya lagi.”
“Bukankah kau ingin tahu alasan kenapa aku menangis, huh? Mau sampai kapan kau seperti ini?! Jimin sudah pergi, Yugyeom-ah! Ia sudah pergi dan tak akan kembali lagi!!”
“BAEK YERIN, KUBILANG HENTIKAN UCAPANMU!!” bentak Yugyeom. Turun sudah air matanya, yang sedari tadi ia tahan. Yugyeom sudah tak perduli, ia membiarkan Yerin melihatnya dalam keadaan terpuruk seperti ini. Ia benar benar sudah merasa lelah.
“Kumohon, Yugyeom. Aku yakin Jimin juga akan sedih jika ia melihatmu seperti ini……”
Yugyeom hanya terdiam, membiarkan air matanya yang menunjukkan betapa terpuruknya ia saat ini. Melihat Yugyeom seperti itu, air mata Yerin tak berhenti mengalir. Sakit rasanya melihat orang yang ia cintai terpuruk seperti itu.
“Ini sudah setahun semenjak kepergiannya, Yugyeom-ah. Bahkan dari hari pertama ia meninggalkanmu, kau belum sekalipun menemuinya. Kapan kau akan mengunjunginya? Kapan kau akan mengunjungi makam Jimin, Yugyeom-ah?”

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

     Yugyeom membiarkan jendela kamarnya terbuka, padahal cuaca malam ini sangat dingin. Ia tak peduli. Ia hanya berharap dinginnya Seoul malam ini dapat membekukan air matanya. Membekukan hatinya, agar ia tidak terus-menerus merasakan sakit.
Ucapan Yerin tadi benar-benar menamparnya. Benar-benar menyadarkannya tentang kepergian Jimin. Ya, ini bukan kemauan Jimin untuk meninggalkannya. Ini sudah menjadi takdir Jimin, takdirnya, takdir mereka berdua.
Jimin divonis menderita kanker hati dan membuat ia tidak dapat hidup lebih lama. Dan Yugyeom,-sebagai kekasihnya,- baru mengetahui saat Jimin menutup matanya untuk selamanya. Ya, Jimin tidak memberitahu tentang penyakitnya kepada Yugyeom, ia juga melarang orang-orang terdekatnya untuk memberi tahu Yugyeom.
Inilah yang membuat Yugyeom belum bisa menerima kepergian Jimin. Walau sudah setahun berlalu, Yugyeom masih belum bisa merelakannya.
Angin berhembus kencang dan masuk ke dalam kamar Yugyeom melalui jendela yg dibiarkan terbuka. Dan tiba-tiba saja, bingkai foto yang menggantung pada dinding kamar Yugyeom terjatuh. Yugyeom beranjak dari duduknya dan mengambil bingkai foto yang jatuh. Bingkai foto Jimin.
Yugyeom memandangnya sambil tersenyum miris. Air matanya kembali jatuh membasahi bingkai foto itu.
“Rupanya kau sedang merindukanku, heum?”
Yugyeom memeluk bingkai foto itu. Walau udara diluar sangat dingin, dan angin yang berhembus semakin kencang, namun Yugyeom merasakan dirinya diselimuti oleh kehangatan. Ia yakin, Jimin sedang berada disini,-dikamarnya-, sedang memeluknya saat ini.
“Aku juga merindukanmu, Kim Jimin.”

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

14 Februari 2014

     Tempat ini begitu sepi. Bukan, tempat ini begitu sunyi, tenteram dan damai. Yugyeom melangkahkan kakinya di tempat ini. Tempat yang baru kali ini di datanginya. Tempat pemakaman Jimin.
Setelah meletakkan bunga mawar merah muda,- bunga kesukaan Jimin,- Yugyeom memejamkan matanya. Memanjatkan doa dengan khusyuk. Doa untuk orang yang dikasihinya.
Yugyeom membuka matanya, melihat nama yang terukir diatas batu nisan dihadapannya dan sebuah foto yang ada disebelahnya. Yugyeom tersenyum lemah. Yugyeom tersenyum melihat Jimin tersenyum di dalam foto itu. Senyum yang damai, yang mampu menghangatkan hati Yugyeom.
“Hai, Jimin-ah. Apa kabarmu?”
Foto Jimin hanya bergeming.
“Kau pasti sangat membenciku, kan? Karena aku baru mengunjungimu hari ini.”
Yugyeom menghela nafas, sebelum ia melanjutkan kata-katanya.
“Maafkan aku, Jimin-ah. Aku benar-benar meminta maaf.

      Seharusnya dari awal aku bisa merelakan kepergianmu. Dan sekarang aku baru sadar sesuatu…..

      Di surat yang kau tuliskan untukku, di hari terakhirmu, kau menuliskan bahwa ada yang jauh lebih mencintaimu dibanding diriku.

       Awalnya aku tidak terima, karena aku merasa akulah orang yang paling mencintaimu dibanding siapapun. Ternyata aku salah.

      Ya, kau benar. Ada yang lebih mencintaimu dibanding diriku. Tuhan lebih mencintaimu, Jimin-ah. Itulah sebabnya Ia memanggilmu tepat di hari kasih sayang, tahun lalu. Tuhan benar-benar menyayangimu.

     Maafkan aku bila selama ini aku terlalu egois. Selalu menyalahkan semuanya karna kepergianmu. Maafkan aku, Jimin-ah……..”

     Yugyeom tak bisa untuk menahan air matanya. Ia menangis di depan makam Jimin. Namun kini hatinya merasa jauh lebih lega. Tak ada lagi sesak yang membebani hatinya.
Yugyeom mengusap air matanya, dan mencoba tersenyum saat menatap foto Jimin dihadapannya.
“Selamat Hari Kasih Sayang, Jimin-ah. Aku tidak pernah menyesal karna telah mencintai perempuan seperti dirimu. Semoga kau tenang di alam sana. Aku berjanji akan melanjutkan hidupku dengan baik. Sampai Jumpa…”

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

     Tepat tanggal 14 Februari, di hari kasih sayang. Para pengurus OSIS sibuk membagikan surat-surat cinta yang sudah dikumpulkan, kepada orang yang dituju. Sepertinya project “Show Your Love” yang dibuat Jackson dan teman-teman OSISnya berhasil. Semua murid langsung heboh dengan surat-surat cinta itu. Ya,hari ini, suasana sekolah penuh dengan cinta.
Yerin memandangi kertas di hadapannya dengan enggan. Ia sendiri mendapatkan 5 surat cinta,-entah dari siapa-. Namun ia tak berkeinginan sedikitpun untuk membukanya. Ia beranjak meninggalkan kelasnya yang sangat gaduh akibat surat-surat cinta itu.
“Yerin-ah, kau mau kemana?” tanya Nayeon, yang juga sedang sibuk membaca surat cinta yg ditujukkan kepadanya.
“Aku mau keluar kelas, disini berisik sekali.”
Nayeon hanya mengacungkan jempolnya, mempersilakan Yerin keluar kelas.
Dugaan Yerin salah, ternyata di depan kelasnya tak jauh berbeda keadaannya. Bahkan lebih gaduh karna banyak murid yang berkeliaran keluar kelas mereka.
Yerin menghela nafas sambil memperhatikan surat cinta yang diterimanya. Ia tak tahu harus ia apakan surat-surat itu.
“Sini. Berikan itu padaku.”
Tiba-tiba saja ada seseorang disebelahnya. Yerin menoleh, dan ia tersentak kaget saat melihat siapa yg ada disebelahnya. Yugyeom.
“Apa—–”
“Sini berikan surat-surat itu padaku..”
Yugyeom langsung merebut surat cinta yang ada di tangan Yerin. Dan tanpa diduga Yerin, Yugyeom membuang semua surat cintanya ke tempat sampah.
Yerin terperanjat.
“Yak, Kim Yugyeom! Kenapa kau membuang surat-surat itu??!”
“Karna kau tidak membutuhkan itu semua…” jawab Yugyeom santai.
“Aish.. aku bukan dirimu yang tidak pernah menghargai pemberian orang lain. Yak Kim Yugyeom—-”
“Sepertinya kau lebih membutuhkan ini…” kata Yugyeom menyela ucapan Yerin sambil menyodorkan sesuatu kepadanya. Sebuah amplop berwarna merah muda.
Yerin menatap Yugyeom dengan tatapan tak percaya. Yang semakin membuatnya tak percaya saat ia melihat Yugyeom tersenyum. Benar-benar tersenyum. Baru kali ini Yerin melihat Yugyeom tersenyum seperti itu lagi. Yugyeomnya yang dulu telah kembali.
“Apa ini—”
“Buka saja~”
Yerin mengambil surat yang diberikan Yugyeom, dan membukanya perlahan. Yerin dapat merasakan tangannya sedikit bergetar ketika ia membuka surat itu.

From: kyg
For: baek yerin.

          Terima kasih karna sudah menungguku..

     Yerin menatap Yugyeom dengan tatapan heran. Ia tak mengerti dengan isi surat itu. Namun saat ia melihat Yugyeom sedang mengulum senyumnya, Yerin tersenyum lebar.
“Kau menulis surat cinta ini untukku, huh? Kau tahu, ini benar-benar sangat tidak romantis.” canda Yerin sambil mengembalikan surat itu tepat di dada Yugyeom.
Yugyeom langsung meraih tangan Yerin yang ada di dadanya, lalu menatap gadis di hadapannya itu dengan lekat.
Yerin dapat merasakan jantungnya berdegup kencang, dan ia merasakan pipinya memerah. Ia menundukkan kepala, tidak ingin Yugyeom melihat betapa malunya ia.
Yugyeom mendongakkan kepala Yerin yang tertunduk, menyuruh Yerin untuk menatapnya. Kini, mereka saling menatap. Yerin dapat merasakan degup jantung Yugyeom karena tangannya masih tertahan didada Yugyeom.
“Baek Yerin, terima kasih telah menungguku.” kata Yugyeom, mengulang kalimat yang ada di suratnya.
“Maaf telah membuatmu menungguku sampai akhirnya aku tersadar. Tapi…..maukah kau menungguku sekali lagi?”
Yerin menaikkan sebelah alisnya, dan menatap Yugyeom dengan tatapan tanya.
“Tunggu aku sampai aku benar-benar melihatmu sebagai gadis yang kucintai. Tapi sepertinya itu tidak akan memerlukan waktu yang lama, karena hari ini aku mulai mencintaimu, Baek Yerin…”
Yerin membulatkan matanya.
“Aish, dasar kau Kim Yugyeom!”

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Huaaaah akhirnya selesai juga hehehe. Maaf kalau ffnya kurang bagus atau alurnya yang kecepetan. Sebenernya author susah bgt ngedapetin image cool dari Yugyeom, mengingat semua kelakuan konyolnya Yugyeom di semua video got7 *curhat* Makasih buat yang udah baca, jangan lupa commentnya ya!^^

About fanfictionside

just me

12 thoughts on “FF oneshot/ elegy of VALENTINE/ GOT7

  1. Ahhhh so sweet banget ini >.<
    Tapi tapi aku mau komen yaaah (?)
    Ini alurnya tuh kecepetan. Iya. Kecepetan. Bikin sequel yah author-nim~~~
    Tulisannya udah rapi ko, ada typo … kaya ngga deh tapi ya (?)
    Hahaha.
    Hwaiting buat next projectnya author-nim ^^/

  2. uwaaaaaaa keren bgt thor TT aku gyeomrin shipper hiks terhura bacanya >< sequel thor pokoknya harus ada sequelnyaaa *maksa* xD sukses buat authornya aja deh, semoga banyakin buat ff got7 ^^

  3. aduhh thor.. kurang sumpah.. tapi mantep juga sih, gk kepikiran klo jimin nya ternyata udah meninggal.. kirain di sini jimin nya sifatnya jelek makanya dia ninggalin yugyeom.. eh ternyata.. oh iyaa profile si yerin nya juga kurang jadi kyk tiba” bngt..
    di tunggu ya ff lainnya yang lebih seru.. hehe.. FIGHTING!!

  4. aduhh thor.. kurang sumpah.. tapi mantep juga sih, gk kepikiran klo jimin nya ternyata udah meninggal.. kirain di sini jimin nya sifatnya jelek makanya dia ninggalin yugyeom.. eh ternyata.. oh iyaa profile si yerin nya juga kurang jadi kyk tiba” bngt..
    di tunggu ya ff lainnya yang lebih seru.. hehe.. FIGHTING!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s