FF oneshot/ LOVE AT THE FIRST SIGHT


Author :

 

Kim Taeri (@irna66lestari)

 

Main Cast :

 

Your Imajination

 

Genre : Romance, Fluff

 

Length :

 

Oneshoot

 

Rate : (T 15+)

 

 images

 

Aku melihatnya karena ketidak sengajaan. Di tengah keriuhan suara penonton, dan banyaknya tepuk tangan, aku mengenalnya. Pertemuan yang tidak pernah ku duga sebelumnya. Aku tidak pernah tahu, jika pertemuan itu akan membawa ku ke ruang di mana orang-orang biasa menyebutnya, cinta. Ah, tidak. Bahkan saat itu aku tidak tahu bahwa aku mencintainya. Yang ku tahu, aku hanya mengaguminya. Aku menyukainya.

 

Aku menyukainya, saat dia menunjukan senyumnya.

 

Aku menyukainya, saat mendengar suara tawanya.

 

Dan saat ku dapati diriku tersenyum bahkan terbahak karena sikapnya, saat itu, aku menyukainya.

 

Lagi-lagi aku mendapati hal tentang dirinya. Yang membuat ku berdecak kagum, dan tidak ingin barang sedikit pun mengalihkan tatapan ku dari sosoknya. Aku mendapatinya meliukan tubuhnya mengikuti alunan musik. Hentakan tubuhnya yang sesuai dengan irama yang mengiringinya, dan senyuman yang seolah melengkapi pesona yang saat itu sedang dia tunjukan. Aku kembali terpaku di buatnya.

 

Aku masih berusaha menormalkan detakan jantung ku, tepat saat dia mengatakan “Cantik.” Tatapannya menuju ke arahku, dan sedetik kemudian tangannya bergerak, menyuruhku maju mendekatinya. Rasa senang dan kaget meliputiku. Dengan gerakan reflex aku menggelengkan kepala ku. Entah itu benar atau salah, aku mendengar nada kecewa dalam suaranya. Antara lega dan menyesal, mungkin itu yang ku rasakan saat itu.

 

Hari demi hari berganti menjadi minggu. Minggu demi minggu pun berganti menjadi bulan. Tidak terasa sudah enam bulan yang lalu aku bertemu dengannya. Dan selama itu, perasaan aneh ini semakin menjadi dan semakin membuat ku bingung. Rasa ingin kembali melihatnya, setiap harinya semakin kuat. Hingga aku memberanikan diri mencari tahu tentangnya. Dan ini membuatku terlihat seperti seorang stalker. Yeah, aku bertanya pada diriku sendiri. Kenapa aku bisa segila ini? Apa yang istimewa darinya? Kenapa aku begitu penasaran dengannya? Kenapa aku selalu ingin melihatnya? Ada banyak kata kenapa yang bersarang di otakku. Berhari-hari aku mencari tahu, namun tidak ada jawaban yang ku dapat. Hanya sebaris namanya yang selalu tertanam di kepalaku.

 

Aku memandangi fotonya dalam diam. Foto yang ku dapat dari salah satu akun social miliknya. Mungkin ini di sebut pencurian, karena aku mengambilnya tanpa seijinnya. Untuk akhirnya ku simpan di dalam gallery khusus di ponselku. Yang sewaktu-waktu bisa ku lihat kapan pun aku mau tiap kali merindukannya. Untuk kesekian kalinya aku berfikir, bahwa aku ini memang gila. Karena, apa yang sebenarnya aku lakukan? Menyimpan foto seorang pria yang bahkan secara pribadi kami tidak saling mengenal. Menyebut namanya di setiap malam sebelum aku memejamkan mata. Bukankah itu gila? Tapi lagi-lagi aku tidak kuasa untuk tidak memikirkannya. Bayangan wajahnya selalu hadir di saat aku memejamkan mata, seperti sebuah kaset rusak yang terus berputar tanpa henti. Logika dan hatiku seperti tak sejalan. Logika ku, jelas menginginkan ini berakhir. Tapi hatiku, justru semakin merindukannya. Selalu ingin melihat wajahnya, berinteraksi dengannya, menatap matanya. Apapun, apapun tentangnya ingin aku lakukan.

 

Kini, tepat hampir satu tahun berlalu takdir kembali mempertemukanku dengannya. Pertemuan yang kembali karena ketidak sengajaan. Dalam moment yang sama, hanya waktu yang berbeda. Aku kembali menemukannya berdiri di atas panggung yang di iringi suara tepukan tangan penonton. Di tengah keramaian itu dia mulai meliukan tubuhnya mengikuti alunan lagu. Bukan lagu R&B, Rapper, Remix, atau apapun yang biasa di gunakan untuk penari Hip Hop pada umumnya. Hanya sebuah lagu Ballad. Lagu yang bahkan bisa membuat pendengarnya ingin menitikan air mata. Namun dia mampu membawa tubuhnya mengikuti lagu tersebut. Dia menari dan terus menari. Seolah dia menciptakan dunianya sendiri dengan gerakan-gerakan di tubuhnya bersama alunan lagu yang terus mengalir.

 

Aku terlalu larut dalam penampilannya, bahkan aku melupakan keberadaan temanku yang sejak tadi berdiri di sampingku. Hingga tak berapa lama aku merasakan sebuah sikutan pelan pada pinggangku. Aku menoleh dan menatapnya dengan pandangan tanya.

 

“Jadi, kau menyukainya?”

 

Hanya sebuah senyum simpul yang bisa ku berikan untuk jawaban atas pertanyaannya. Dan sepertinya temanku itu cukup puas. Terbukti dia tidak mengatakan apapun lagi setelahnya.

 

Aku masih memperhatikan penampilan pemuda itu di atas panggung. Entah kenapa, walau pun banyak pria tampan di dalam grupnya, aku tetap tak bisa mengalihkan perhatianku darinya. Perhatian ku hanya tertuju padanya. Semenarik apapun teman-teman grupnya, tapi focus ku hanya padanya. Aku mengangkat ponsel ku, membidikan kamera tepat ke arahnya dan tersenyum puas saat melihat hasil foto ku yang sempurna.

 

Musik masih terus mengalun. Seruan antusias para penonton masih terdengar bersahut-sahutan. Kedua sudut bibirnya semakin melengkung menampilkan lesung pipinya. Senyum yang akhir-akhir ini meracuni otakku. Dan senyum yang seketika bisa membuat jantung ku seperti bermarathon. Dia seperti menghipnotis ku, menarikku memasuki pesonanya. Membuatku tidak menyadari bahwa penampilannya kini telah berakhir. Sampai akhirnya aku mendapatkan sikutan pelan kedua kalinya.

 

“Hey, dia berjalan ke arah kita.”

 

Aku yang masih belum sadar dengan apa yang tengah terjadi, hanya bisa berdiri diam. Bahkan aku tak sempat merespon ucapan temanku barusan. Sikutan ketiga kalinya akhirnya membuat ku sadar, dan kini mendapatinya berdiri di depanku dengan senyum khasnya.

 

“Hey, bukankah kau yang waktu itu?” Aku bisa merasakan suara bass-nya memasuki pendengeranku. Ada nada terkejut sekaligus senang dalam suaranya. Benarkah? Oh, aku tidak mau berharap. Aku hanya tersenyum menanggapi. Masih tidak percaya sosoknya kini ada di hadapanku. Bahkan aku bisa melihat manik matanya yang hitam pekat. Garis rahangnya yang tegas, dan bau feromonnya yang menguar memasuki indera penciuman ku. Semuanya hampir membuatku gila.

 

“Aku tidak percaya kita bisa bertemu lagi. Bukankah dunia begitu sempit?” Dia bersuara lagi. Kini di ikuti dengan kekehan kecil di akhir kalimatnya.

 

“Ya, dunia memang sempit.”

 

Dia mulai menanyakan nama ku dan memperkenalkan dirinya. Dari perkenalan sederhana itu berubah menjadi obrolan kecil. Mulai dari dia menceritakan tentang grupnya, konsep tarian seperti apa yang tadi dia bawakan hingga keseharian hidup kami. Hanya cerita ringan. Seperti di mana kami tinggal atau di mana Universitas tempat kami menuntut ilmu saat ini. Dia menyentuh bahuku lembut, menuntunku agar menyingkir sedikit dari keramaian tanpa menghentikan ceritanya tentang bagaimana penampilannya tadi seharusnya bisa lebih baik. Obrolan yang lebih di dominasi olehnya sedangkan aku hanya mendengarkannya. Tersenyum atau sesekali mengangguk pelan sebagai tanggapan. Aku memperhatikan setiap ekspresinya saat dia bercerita. Ekspresi yang menunjukan saat dia senang atau sedih, bahkan kesal. Dalam hati aku menggeleng, bagaimana pria ini bisa membuatku begitu nyaman. Satu hal lagi yang ku dapatkan tentangnya. Pria ini seorang yang ramah dan mudah bergaul. Untuk seseorang seperti ku yang cukup sulit untuk bersosialisasi, dia dengan mudahnya membuatku tersenyum, bahkan sesekali tertawa karena sikapnya.

 

“Aku sungguh kecewa padamu saat itu. Saat pertemuan pertama kita. Kenapa kau tidak maju saat ku panggil?” Aku menunduk dan menggaruk tengkukku.

 

“Maaf, tapi aku tidak suka menjadi pusat perhatian.”

 

“Begitukah?” Aku mengangguk. “Aku mengerti.” Ujarnya tersenyum.

 

Hening sesaat. Entahlah, dia kehabisan topik pembicaraan atau memang sudah lelah. Kecanggungan terjadi di antara kami. Aku yang tidak tahu harus bicara apa memilih mengalihkan fokus ku kedepan. Ke arah panggung di mana kini lima wanita cantik tengah menari. Tidak lama, setelah itu suaranya kembali terdengar.

 

“Kau sering datang ke acara seperti ini?”

 

“Tidak juga, ini yang kedua kalinya.”

 

“Benarkah?” Aku mengangguk. “Apa kau percaya takdir?” Aku menoleh ke arahnya, dan mendapati dia sedang menatapku. Tatapannya sulit di artikan. Walau sedikit bingung karena dia tiba-tiba bertanya seperti itu, aku tetap menjawabnya.

 

“Tentu saja.”

 

“Kau tahu? Ini juga kali kedua aku datang ke acara ini dan mengikuti kompetisi dance.” Dia memberi jeda pada kalimatnya. Aku menunggu dengan penasaran akan kelanjutan ucapannya. “Dan aku, kembali bertemu denganmu.” Dia mengakhiri kalimatnya dengan senyuman di bibirnya. Aku tahu betul maksud dari ucapannya. Dan itu sukses membuat detakan jantungku kembali tidak normal. Selama sepersekian detik kami hanya saling menatap tanpa berniat mengatakan apapun. Bahkan kini aku mendapati masalah baru selain detakan jantungku yang terus memukul kencang hingga menyesakkan dada. Aku tidak mampu mengalihkan tatapanku darinya. Iris hitamnya seolah menyedotku lewat sorot keteduhannya. Hingga suara tepuk tangan dan sorakan mengagetkan kami. Membuang pandangan ke arah mana pun. Berbeda dari yang tadi, kini sebisa mungkin berusaha untuk tidak saling melihat agar tidak memperlihatkan kegugupan masing-masing.

 

“Kau datang bersama siapa?” Dia membuka suara lebih dulu, setelah beberapa menit kami saling diam.

 

“Teman.” Jawabku tanpa menoleh ke arahnya.

 

“Teman?” Aku mengangguk.

 

“Tapi aku tidak melihat seorang pun bersamamu sejak tadi.”

 

“Dia ad-“ Aku menoleh ke samping kiri ku, lalu kanan, belakang sampai akhirnya pandanganku menyapu seluruh tempat ini. “Kau benar! Di mana dia? Tadi dia bersamaku.” Mata ku terus mencari sosoknya di tengah kerumunan orang-orang yang terlihat sangat antusias dengan penari-penari tampan yang ada di atas panggung saat ini, berharap aku menemukan sosoknya di antara kerumunan itu. Saat ini yang menjadi pertanyaan ku adalah, aku yang meninggalkannya atau dia yang meninggalkan ku?

 

Kini sedikit keresahan mulai menggelayuti hatiku. Sungguh aku merasa bersalah pada teman ku itu. Bisa-bisanya aku melupakannya. Tapi tidak lama, aku menemukannya di tengah kerumunan sedang menatap kagum pada seorang penari. Kebiasaannya jika sudah menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya dia akan pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun padaku. Membuatku selalu merasa cemas.

 

Tatapanku kini beralih pada pria yang masih setia berdiri di sampingku. “Temanku ada di sana.” Aku menunjuk sekumpulan wanita yang hampir memenuhi setengah dari aula tempat berlangsungnya acara kompetisi dance, dan sesekali berteriak histeris jika melihat penari idolanya melakukan sesuatu hal yang mengagumkan.

 

“Aku harus pulang. Senang berkenalan denganmu.” Aku melangkah menjauhinya, menghampiri temanku untuk mengajaknya segera pulang. Namun belum ada dua langkah, sebuah tangan menahanku.

 

“Tunggu!”

 

Aku menoleh ke arahnya, menatapnya dengan pandangan Tanya. Sedangkan tangannya tidak lepas menggenggam tanganku.

 

“Maukah kau datang ke taman kota sabtu sore nanti?” Aku mengerutkan keningku atas pertanyaannya. Oh, mungkin lebih tepatnya sebuah ajakan.

 

“Ada apa? Kau akan mengikuti kompetisi dance lagi?” Tanyaku memastikan.

 

“Tidak.”

 

“Lalu?”

 

“Hanya sebuah festival kembang api di taman kota.”

 

Aku masih mencerna maksud dari ucapannya. Tidak butuh waktu lama untuk akhirnya aku mengerti.

 

Hey, bukankah itu sebuah ajakan kencan?

 

Aku tidak ingin percaya diri, tapi, jika bukan lalu apa? Haruskah aku mengatakan ‘Ya’ atau sebaliknya. Tidakkah ini terlalu cepat. Siapa pun tolong aku. Apa yang harus aku lakukan?

 

Dia masih menunggu jawabanku dengan sabar. Di tengah kehangatan sentuhan tangannya yang berada di pergelangan tanganku dan tatapannya yang tidak lepas dari wajahku. Jujur, ini sungguh membuatku tidak bisa berfikir apa pun.

 

“Uhm… aku tidak bisa berjanji, tapi akan aku usahakan.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Entah itu jawaban yang tepat atau tidak. Aku hanya berharap jawaban ku tidak mengecewakannya.

 

“Kalau begitu aku akan menunggumu.”

 

Dia bilang apa? Menungguku?

 

Apa ucapanku tadi kurang jelas?

 

“Ku bilang, aku tidak bisa berjanji. Jadi jangan menungguku.”

 

“Tak apa.  Aku akan tetap menunggumu.”

 

Siapa pun tolong tampar aku jika aku salah dengar. Pria mana yang mau menunggu seorang gadis yang bahkan gadis itu sendiri tidak berjanji akan datang.

 

Apa dia gila?

 

“Baiklah! Terserah kau saja.”

 

Dia kembali tersenyum sebelum akhirnya melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tanganku. Seperti ada yang hilang saat genggaman itu terlepas. Entahlah, ada rasa nyaman dan perlindungan dalam genggaman tadi dan menginginkan pria itu tidak melepaskan genggamannya. Tapi sedetik kemudian aku segera menepisnya, membuangnya jauh-jauh dan meyakinkan bahwa itu hanya perasaan tak berarti.

 

Aku kembali menoleh ke belakang tepat saat dua langkah lagi aku bisa menjangkau temanku. Pria itu sudah tidak ada di tempatnya. Di sudah tidak berdiri lagi di sana.  Memang apa lagi yang ku harapkan? Sudah seharusnya seperti itu kan? Dia sudah tidak ada kepentingan lagi, jadi untuk apa dia tetap di sana. Mengenai ucapannya tadi, aku tidak yakin dia akan benar-benar menunggu ku. Paling-paling itu tidak lebih dari kata-kata manis yang sering dia ucapkan ketika bertemu dengan seorang gadis. Bukankah garis besarnya seperti itu? Semua pria memang pintar mengucapkan kata-kata manis dan memperlakukan seorang gadis seolah-olah gadis itu adalah satu-satunya untuknya. Tapi kesungguhan hatinya, siapa yang tahu? Aku sungguh tidak bermaksud menjudge semua pria sama. Tapi secara garis besar mereka memang seperti itu. Sifat dasar seoang pria. Sudah hukum alam. Bukankah mereka memang di ciptakan seperti itu. Pandai merangkai kata-kata.

 

Sepanjang perjalanan pulang pikiran ku tidak pernah lepas dari pertemuan tadi. Lagi-lagi perasaan ingin kembali melihatnya mengganggu ku. Belum genap satu jam aku meninggalkan gedung tempat di mana di adakannya kompetisi dance, yang juga menjadi tempat di mana aku bertemu dengannya. Tapi perasaan ingin kembali ke tempat itu lumayan mengganggu ku. Sebisa mungkin aku berusaha menahan diriku untuk tidak berbalik dan kembali mencari keberadaannya. Oh, itu sungguh hal yang sangat bodoh. Dan ingatkan aku untuk tidak akan pernah melakukannya. Aku kembali berfikir, haruskah aku memenuhi ajakannya? Bagaimana jika itu hanyalah ajakan basa basi? Bagaimana jika aku datang tapi justru sosoknya yang tidak ada? Aku akan terlihat sangat konyol dan bodoh jika itu terjadi. Tapi bagaimana jika dia benar-benar menunggu ku? Bukankah aku akan terlihat seperti gadis jahat yang membiarkan seorang pria menunggu lama tanpa memberi kepastian apa pun. Jika seperti itu siapa yang patut di salahkan? Aku yang tidak memberinya kepastian, atau dia yang dengan bodohnya tetap menunggu padahal dengan jelas aku tidak berjanji padanya untuk datang. Dua kali dua puluh empat jam dari sekarang menuju sabtu sore, waktu yang telah di janjikan untuk bertemu dengannya. Bukan waktu yang lama, tapi aku ingin waktu tidak cepat-cepat berputar. Membiarkan ku untuk berfikir lebih lama. Kenapa hanya memutuskan datang atau tidak saja begitu sulit? Seperti memutuskan menyerahkan harta atau nyawa kepada seorang perampok.

 

Langit biru merubah warnanya menjadi kemerahan. Perlahan matahari kembali ke peraduannya, menuju senja. Aku masih berdiri di sini dari satu jam yang lalu. Menghadap jendela yang menampakan langit sore. Menatap matahari yang perlahan menghilang menghasilkan bias kemerahan. Mencoba memahami diri sendiri, mengerti isi hati. Sadar waktu yang di janjikan telah tiba, aku tidak beranjak sedikit pun dari tempatku berdiri. Masih belum memutuskan apakah harus datang atau tidak. Ini benar-benar perang batin yang alot. Dua jam sudah berlalu dari kesepakatan pertemuan itu. Waktu di mana seharusnya aku sudah berada di sana dan menemuinya. Aku menghempaskan tubuhku ke tempat tidur. Menatap langit-langit kamarku yang di penuhi bintang-bintang buatan. Membawa pikiran ku menerawang jauh entah kemana. Mengingat langit yang tampak gelap dan tidak ada bintang satu pun sepertinya akan turun hujan. Apakah festival itu akan tetap berjalan? Langit pun tak ubahnya kamera yang menghasilkan kilatan-kilatan seperti blitz. Bau tanah mulai tercium, hawa dingin pun mulai menyergap kulit. Sepertinya memang akan turun hujan besar. Memikirkan cuaca yang buruk semakin membuatku gelisah. Otak ku terus menerka-nerka apa yang pemuda itu tengah lakukan. Duduk di bangku taman sambil merapatkan jaketnya menungguku? Atau bergelung dengan selimutnya di dalam kamar. Suara langit yang bergemuruh membuatku sedikit tersentak. Tanpa berfikir lagi aku langsung bangkit dari tempat tidurku. Mengambil jaket dan tasku yang tergantung di belakang pintu kamar dan tidak lupa payung di samping lemari pakaian. Aku segera keluar membawa langkahku ke tempat dimana pemuda itu tengah menunggu. Entahlah, aku hanya merasa khawatir. Ada rasa takut dalam hatiku jika memikirkannya yang kedinginan di sana menungguku.

 

Aku menghentikan langkahku di tengah taman kota. Menyapu pandanganku ke sekeliling taman mencari keberadaannya. Di sini cukup ramai. Tidak mudah mencari seseorang di tengah banyaknya orang-orang yang berlalu lalang. Aku berjalan sambil sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri berharap menemui sosok yang akhir-akhir ini menjadi penghuni tetap dalam ruang kepalaku. Berjalan tanpa arah dan tujuan, hanya mengikuti insting yang terus membawa kaki ku melangkah. Di sana. Di depan air mancur yang menjadi pusat taman ini. Dia berdiri dengan kedua tangannya tersembunyi di dalam saku celananya. Matanya sesekali melirik ke sekeliling taman mencari seseorang yang di tunggunya. Dan saat pandangannya terarah ke depan, bola mata kami bertemu. Aku tidak tahu, otak ku yang memang sudah tidak waras atau memang benar adanya. Aku merasa waktu seperti tiba-tiba berhenti. Dan saat dia tersenyum ada rasa ingin berlari dan segera memeluknya.

 

“Kau datang.” Entah itu sebuah pertanyaan atau pernyataan. Tapi aku bisa mendengar kelegaan dalam suaranya.

 

Hidungnya mulai memerah. Bibirnya pun sedikit pucat. Sudah berapa lama dia menunggu?

 

“Kau benar-benar menungguku?” Itu memang pertanyaan bodoh melihat dia yang kini ada di hadapanku. Tapi aku hanya ingin memastikan.

 

Dia mengangkat bahunya. “Bukankah sudah ku katakan, aku akan menunggumu.”

 

“Sudah berapa lama kau berdiri di sini?”

 

“Belum cukup lama.”

 

Aku memicingkan mataku, menatapnya. “Begitukah?” Dia mengangguk. “Bagaimana dengan bibirmu yang terlihat pucat? Dan-“ Aku menangkup wajahnya dengan kedua tanganku. Entahlah aku dapat keberanian dari mana melakukan itu. “Dengan suhu tubuhmu yang dingin?”

 

Dia tersenyum tipis, memegang kedua tanganku yang masih berada di wajahnya. Menahannya untuk tetap ada di sana. “Apa aku terlihat seburuk itu?” Aku menghela nafas pelan kemudian melepaskan tanganku.

 

“Apa kau begitu bodoh?  Ini sudah hampir tengah malam dan kau tetap berdiri di sini menunggu yang tidak pasti. Bagaimana jika aku tidak datang?” Suaraku sedikit meninggi.

 

“Tapi buktinya kau datang.”

 

“Kau benar-benar keras kepala.”

 

“Ku anggap itu sebagai pujian.” Aku memutar bola mataku jengah. Kekehan kecil keluar dari bibirnya membuatku mendengus. Dengan tiba-tiba dia menarik ku mendekat, membalik tubuhku dan melingkarkan tangannya ke perutku dari belakang. Tentu saja perbuatannya itu membuat tubuhku kaku seketika.

 

“A-apa yang kau lakukan?”

 

“Menurutmu?” Bisa ku rasakan nafasnya berhembus di kulit telingaku. Hangat. Aku menggeliat kecil, mencoba melepaskan tangannya yang ada di atas perutku. Tapi hasilnya dia justru semakin mengeratkan pelukannya, menarikku menempel pada tubuhnya. Tidak menyisakan jarak sedikit pun.

 

“Tetaplah seperti ini! Tidakkah kau tahu, menunggumu membuatku kedinginan.”

 

“Aku tidak pernah menyuruhmu untuk menungguku. Itu salahmu sendiri. Jadi, sekarang lepaskan.” Aku masih berusaha melepaskan pelukannya. Bukan apa-apa, posisi seperti ini membuat jantungku kembali berdetak keras. Bagaimana jika sampai terdengar olehnya. Itu akan jadi sangat memalukan.

 

“Dengan atau tanpa persetujuan darimu, aku akan tetap menunggumu. Dan terbukti, kau datang. Itu sudah cukup.”

 

“Tapi-“

 

“Sudahlah! Sebentar lagi kembang apinya akan segera di mulai, jadi lebih baik kau diam.” Sudah tidak ada yang bisa di perbuat. Akhirnya dengan pasrah aku hanya bisa mengikuti apa maunya. Tiga menit kemudian, tepat saat jarum jam menunjuk ke angka dua belas. Langit yang tadinya gelap kini penuh dengan warna-warni. Suara khas kembang api pun terdengar bersahut-sahutan. Aku hanya bisa memandang keindahan itu tanpa bisa berkata apa-apa. Terlalu sulit di gambarkan dengan kata-kata. Aku tidak pernah tahu jika melihat kembang api akan semenyenangkan ini. Bahkan kini aku mulai merasa nyaman berada dalam pelukannya. Menikmati kehangatan yang di berikan tubuhnya. Dan mulai menyukai wangi maskulinnya yang sudah ku hapal di luar kepala. Saat dia mencium puncak kepala ku pun aku hanya diam membiarkannya. Tanpa sadar aku tidak ingin kehilangan momen seperti ini. Aku ingin terus berada dalam pelukannya. Memberikanku kenyamanan dan perlindungan dalam rengkuhan posesifnya. Aku hanya bergumam pelan saat dia memanggilku. Nafasnya menggelitik kupingku. Aku sedikit tidak nyaman dengan itu, karena itu membuatku merasa seperti ada aliran listrik yang menyengat kulitku.

 

“Bagaimana menurutmu jika kita menyukai seseorang yang baru kita kenal?” Aku mengerutkan keningku mendengar pertanyaannya.

 

“Bagaimana apanya?” Dia hanya diam. Menungguku melanjutkan kalimatku. “Menurutku itu bukan hal yang patut di pertanyakan. Itu wajar. Kita bisa menyukai seseorang pasti karena suatu alasan. Karena orang itu baik, atau karena orang itu jujur jadi kita menyukainya. Aku menyukai bapak-bapak penyapu jalan yang ada di depan taman, karena dia membantuku saat aku akan terjatuh tadi. Padahal aku tidak mengenalnya. Tapi dia orang yang baik jadi tidak ada alasan aku untuk membencinya, bukan? Berbeda dengan cinta. Jika kita sudah mencintai seseorang, seburuk apa pun dia kita akan tetap menerimanya. Biar pun banyak orang yang membencinya dan menyuruh kita untuk menjauhinya, tapi kita akan tetap terus bersamanya dan menjaganya.”

 

Warna-warni kembang api masih terus menghiasi langit malam yang gelap. Suasana pun terasa semakin ramai dan meriah. Tapi aku masih bisa mendengar dengan jelas bunyi detakan jantungku yang keras saat dia kembali mencium puncak kepalaku. Seperti ada perasaan yang berdesir di hatiku. Aku tidak tahu perasaan macam apa ini, dan aku kembali membiarkannya.

 

“Kalau begitu aku ganti pertanyaannya. Bagaimana jika kita mencintai seseorang yang baru saja kita kenal?” Aku masih bingung sebenarnya kemana tujuan pembicaraan ini. Kenapa dia terus bertanya hal-hal macam itu?

 

“Seperti yang ku bilang tadi. Kita akan tetap mencintainya tidak peduli bagaimana keadaannya. They say, Love is blind. Karena cinta itu tanpa alasan. Dan untuk pertanyaanmu, sederhana saja. Mungkin itu yang di sebut cinta pada pandangan pertama. Kata lain dari Love at the first sight.

 

“Lalu, bagaimana jika aku mengatakan, aku mencintaimu?” Aku sontak menoleh ke arahnya. Menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Benarkah yang ku dengar tadi? Atau itu hanya halusinasiku saja? Tapi saat sebuah benda lembut dan basah menyentuh bibirku, aku tahu, itu tadi memang keluar dari mulutnya.

 

Aku masih mencoba memahami situasi yang terjadi saat tautan itu terlepas. Menatapku yang masih tidak tahu harus bicara apa, apa lagi di tambah kejadian barusan yang membuatku menahan nafas karena keterkejutan. Dia kembali berkata, “Jadilah kekasihku.”

 

“A-apa?” Hanya itu yang mampu keluar dari bibirku. Aku bahkan tidak sadar jika kini aku sudah berdiri menghadapnya. Tangannya masih setia berada di pinggangku. Siapa pun, tolong tampar aku. Tolong sadarkan aku jika ini semua hanyalah mimpi. Siapa pun, siapa pun jangan biarkan aku terlalu larut dalam mimpi manis seperti ini. Aku tidak ingin terbangun dalam keadaan yang kecewa. Tapi saat sebuah tangan menyentuh pipiku lembut, aku sadar ini bukanlah mimpi.

 

Aku mendapati iris hitamnya tengah menatapku dalam. “Hey!” Sentuhannya benar-benar lembut pada pipiku. Dengan posisi seperti ini aku bisa merasakan deru nafasnya yang hangat menerpa kulit wajahku.

 

“Apa aku harus mengulang ucapanku? Ku rasa pendengaranmu cukup baik.” Kini dia tersenyum, menampilkan lesung pipinya. Tapi senyumnya kali ini berbeda dari sebelumnya, lebih kepada senyum menggoda. Dia mendekatkan wajahnya, memposisikannya di samping wajahku.

 

“Aku mencintaimu. Jadilah kekasihku.” Bisiknya tepat di telingaku. Aku benar-benar merasa seperti orang bodoh malam ini. Hanya bisa melongo tanpa bisa mengatakan apa pun. Aku tidak mau tahu bagaimana ekspresiku saat ini. Tanpa melihat pun aku tahu bagaimana buruknya.

 

“Kau diam, ku anggap iya.” Lanjutnya. Tepat setelah dia mengatakan itu aku kembali merasakan benda lembut menekan bibirku. Nafasku dan nafasnya menyatu di bawah letusan kembang api yang mewarnai hitamnya langit. Di tengah keramaian orang-orang yang antusias akan indahnya warna-warni kembang api. Tangannya semakin erat melingkar di pinggangku. Mencoba menyalurkan kehangatan lewat pelukannya. Melawan dinginnya udara malam yang mulai menusuk kulit. Lewat ciumannya, dia mencoba mengungkapkan apa yang tidak bisa di ucapkan lewat mulutnya. Mencoba mengeluarkan isi hatinya yang tidak tersampaikan.

 

Aku tidak pernah percaya akan cinta pada pandangan pertama. Itu terasa konyol dan mengada-ada. Namun kini aku merasakannya. Kini aku mengerti kenapa mereka dengan mudahnya mengatakan cinta walau perkenalan itu belum berlangsung lama. Kini aku tahu jawaban untuk masalahku yang selama ini tidak pernah mendapatkan titik temu. Untuk perasaan anehku. Untuk kebingunganku. Kenapa aku selalu memikirkannya. Kenapa aku selalu ingin bertemu dengannya. Kenapa hatiku selalu berdesir walau hanya menyebut namanya. Hanya butuh satu kata untuk itu semua. Cinta.

 

Dan aku tidak pernah menyangka jika malam ini akan berakhir dengan begitu indah. Di dalam rengkuhannya yang posesif. Dan lewat ciuman manisnya. Aku merasa di miliki.

 

Aku juga mencintaimu, sangat. Jauh sebelum kau mengatakannya padaku.

 

 

 

 
 
-END-
—————————————————————————————————————-
Thank You buat seseorang yg udah jadi inspirasi buat aku. Si Tampan dengan lesung pipi yg manis, yg sampe sekarang aku nggak pernah punya keberanian untuk negor atau sekedar senyum tiap kali papasan. dan terima kasih buat kamu, kamu yg udah mau luangin waktunya untuk baca cerita ga jelas ini hehe.
sampai ketemu di FF aku yg lainnya. tetep setia tungguin ‘I Love You’ yaa…

By – Kim Taeri

About fanfictionside

just me

17 thoughts on “FF oneshot/ LOVE AT THE FIRST SIGHT

  1. that’s sweet… baca ini kayak de javu,pernah ngalamin kayak gini..tp endingnya ga seperti ff ini..huhu…
    keep writing autho… dtunggu ff berikutnya.. ^_^

  2. aq suka ffnya romantis pas di akhir cerita . Aq ngebayangin cast nya itu aq sma jungkook bts haha ^^ pkonya daebakk thor

  3. Ahh…!!!menyentuh banget..bener q nggak bo’ong …q pengen teriak..q sih nggak punya seseorang yg spesial berlesung pipi.tapi dri cerita yg kmu buat q juga bisa rasa’in kok…keren..tetep isi WP ini dg karya”mu selanjutnya.aku tunggu kok

  4. sweet sekaleee…😄
    sayangnya biasku ga ad yg mungkin jd romance kyk gitu.semuanye petakilan bin badboy.wkwkwk
    keep writing thor.. fighting!! (9^o^)9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s