FF / I Love You / EXO/ pt. 3


Author :

Kim Taeri/@irna66lestari

Genre : Romance

Cast : Tari (Oc), Kris (Exo M), EXO Member, Kim Hyejin (Oc)

Rating : T (17+)

Length : Chaptered

Disclamer : All the cast are from God except the OC is my imagination and the storyline too.
Note : Maaf untuk keterlamabatannya ya, akhir bulan lagi sibuk-sibuknya bikin laporan buat si bos hehe. semoga kalian suka part tiganya. selamat membaca🙂

Sepeninggal Tari, Hyejin menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu. Mencoba mencari hiburan dengan menonton televisi, dia mengganti-ganti channel-nya tapi tidak ada program yang bagus sore itu. Membuatnya mematikannya kembali lalu melempar remote itu ke sampingnya. Akhirnya dia memilih membaca majalah, di ambilnya majalah yang berada paling atas di tumpukan majalah-majalah minggu lalu. Betapa terkejutnya dia saat membaca artikel dengan huruf besar-besar terpampang di cover majalah tersebut.

‘EXO Kris dan SNSD Jessica Di Rumorkan Menjalin Hubungan’

———————————————————————————————————————————————————————-

Buru-buru Hyejin membukanya untuk membaca dengan lengkap berita tersebut. bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri membaca deretan huruf-huruf yang tercetak di majalah yang sedang di pegangnya. Sesekali alisnya bertaut, tak jarang pula dia menggelengkan kepalanya atau berdecak kesal. Dia benar-benar tidak menyangka dengan berita yang baru saja di bacanya.

‘Kris, leader dari EXO tertangkap kamera sedang jalan berdua di pusat perbelanjaan Myeongdong, dengan wanita yang di kabarkan adalah Jessica member dari Girlband SNSD. Keduanya saling bergandengan tangan dengan mesra, dan saling tersenyum satu sama lain. Di beberapa tempat mereka pun sering tertangkap kamera sedang bersama. Banyak Netizen mengomentari kedekatan mereka. “Mereka terlihat sangat baik bersama”, “Tampan dan cantik. Mereka terlihat sempurna”. Sampai saat ini pihak SM belum mengkonfirmasi kebenaran berita tersebut.’

“Apa-apaan ini?” Geram Hyejin. Dia tidak habis pikir, kenapa sampai ada berita seperti ini?

Di bawah berita tersebut terdapat beberapa foto yang menangkap kebersamaan Kris dan Jessica. Entah kenapa hatinya benar-benar cemas. Sesaat dia terpikirkan sesuatu. Ini majalah baru, dan dia tidak pernah merasa membeli majalah ini. Matanya membulat otomatis. Tari. Pasti gadis itu yang membelinya. Itu artinya dia sudah tahu tentang berita kedekatan Kris dan Jessica. Tapi tadi, Tari terlihat biasa-biasa saja. Tidak terlihat bahwa dia sudah mengetahui berita ini. Apa yang di pikirkan anak itu sebenarnya? Batin Hyejin.

<<>>

Tari berjalan memasuki gedung SM, menuju ke tempat di mana biasanya EXO menghabiskan waktunya untuk berlatih. Sebenarnya tidak bisa sembarang orang keluar masuk gedung SM, tapi beruntung, sebagian staff SM sudah mengenal Tari sebagai kekasih dari Kris. Setiap orang yang berpapasan dengannya menegurnya atau sekedar tersenyum padanya. Tapi dia merasa ada yang aneh dengan orang-orang yang dia temui hari ini. Mereka seolah menatapnya aneh, ada pula seperti tatapan kasihan. Tari tidak mengerti, apa ada yang salah dengan penampilannya. Tapi semua terlihat baik-baik saja. Dia tidak memakai sepatu sebelah-sebelah. Perpaduan warna baju yang di pakainya pun tidak bertabrakan. Rambutnya, rapi. Make up-nya, saat tadi melewati kaca dan sekilas melihatnya, masih baik-baik saja. Tidak ada lipstick atau eyeliner yang berantakan, karena memang tidak mungkin. Dia jarang memakai itu semua jika bukan untuk ke acara-acara penting yang mengharuskan berdandan. Sehari-harinya hanya polesan bedak tipis dan lipbalm yang di pakainya. Seolah mengerti, dia mengangguk paham. Pasti karena gossip itu. Pikirnya.

Tari memang sudah mengetahui tentang scandal kekasihnya, tapi dia tidak mau ambil pusing dan berusaha untuk tidak mempedulikannya. Dia percaya pada Kris, dia yakin kekasihnya tidak mungkin mengkhianatinya. Dan di sinilah dia sekarang, berjalan dengan percaya diri sambil membawa kotak bekal makanan yang sudah di buatnya untuk kekasih tercinta. Tidak di pedulikannya lagi tatapan orang-orang, justru kini senyum cerahnya mengiringi langkah kakinya. Mereka tidak mengenal Kris, jadi mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Itulah pemikirannya.

Senyumnya semakin merekah saat dia bepapasan dengan seseorang, ah tidak. Lima orang pria tepatnya. Masih sebuah grup besutan dari SM. Grup yang tidak kalah bersinarnya dari EXO. Sesuai namanya ‘SHINEE’ mereka memang terlihat sangat bersinar. Tidak hanya bermodalkan wajah yang tampan, tapi bakat yang mereka miliki itulah yang membuat mereka begitu bersinar. Tari pun mengakui kehebatan mereka, dan SHINEE adalah salah satu grup yang juga Tari suka di SM ini. Terutama sang leader, dia sungguh menyukai suaranya.

Tari membungkuk hormat dan menyapa mereka “Annyeonghaseo” yang di balas sama seperti yang Tari lakukan. “Annyeonghaseo Tari-ssi.” Mereka memberikan senyum hangatnya pada Tari.

“Bekal untuk Kris lagi?” Tanya Jonghyun.

Masih dengan senyumnya, Tari menjawab. “Ne.”

“Aigoo…kau perhatian sekali. Beruntung sekali Kris mempunyai yeojachingu sepertimu.”

“Kau bisa saja, oppa. Harusnya aku yang merasa beruntung karena menjadi yeojachingu-nya.” Semua member hanya tersenyum mendengar jawaban Tari.

“Kau memang baik sekali.” Key, mengacak-acak rambutnya.

“Aku juga ingin kau buatkan bekal, Tari-ssi.” Suara yang berasal dari sang leader itu langsung mendapatkan tatapan dari semua membernya. Yang hanya di balas dengan wajah polosnya.

“Yak! Hyung, jangan membuat malu.” Ujar Minho memperingati.

Masih dengan wajah polosnya, Onew menjawab. “Wae? Aku hanya minta di buatkan bekal, apa yang salah?”

Tari tersenyum kecil melihat perdebatan itu. Dia benar-benar menyukai sifat Onew yang polos dan apa adanya ini. Tapi di waktu lain, dia akan menunjukan sikap bijaksana dan rasa tanggung jawabnya sebagai seorang leader. Sebelum perdebatan itu menjadi panjang, Tari buru-buru menengahi.

“Gwaenchana oppa.” Katanya. Yang di tujukan untuk Minho. Lalu di alihkan pandangannya ke arah Onew. “Ne, nanti akan ku buatkan ayam goreng kesukaanmu. Aku janji.” Mendengar kata ‘ayam goreng’ langsung membuat mata Onew berbinar senang.

“Jjinja? Ayam goreng? Kau tidak bohong kan?” Seru Onew. Masih dengan senyumnya, Tari menggeleng. “Tentu saja tidak.”

“Gomawo Tari-ssi. Kau memang yang terbaik.” Satu lagi yang Tari suka dari seorang Onew. Saat dia tersenyum matanya akan hilang menjadi segaris. Dan itu membuatnya semakin tampan. Tak ayal, Tari ikut tersenyum saat melihat senyum itu.

“Noona, kenapa hanya Onew hyung saja? Aku juga mau.” Kali ini maknae mereka ikut bersuara. Tari menoleh ke arah Taemin.

“Aku akan membuatkannya untuk kalian semua.” Seketika senyum tersungging di bibirnya.

“Jangan lupa banana milk-nya, Noona.”

“Tenang saja, aku tidak akan melupakan kesukaanmu.” Ketiga sisa member itu, hanya bisa geleng-geleng kepala.

“Tidak usah repot-repot, Tari-ssi. Kau jangan dengarkan mereka.” Tari menggeleng sebelum menjawab ucapan Key.

“Gwaenchana, oppa. Aku sama sekali tidak merasa di repotkan. Lagi pula fans mana yang tidak merasa senang jika membuatkan bekal untuk idolanya.” Jawaban Tari kembali membuat senyuman di wajah kelima namja di depannya.

“Haissh, kau itu.” Kini giliran Jonghyun yang mengacak-acak rambutnya. “Yasudah sana, hampiri namjachingu-mu. Kau tidak mau membuatnya menunggu lama kan?” Lanjut Jonghyun.

“Ah. Hampir aku lupa.” Tari menepuk jidatnya. “kalau begitu, aku duluan. Annyeong.” Tari membungkuk dan segera meninggalkan mereka.

Sepeninggalnya Tari, senyum ceria itu berubah menjadi tatapan sendu seiring meghilangnya punggung gadis itu dari pandangan mereka.

“Hyung, mengenai scandal itu…” Ucapan Taemin menggantung, karena dia sendiri bingung bagaimana harus menyelesaikan kalimatnya. Meneruskan langkah mereka yang tadi sempat tertunda.

“Sudahlah, kita tidak usah ikut campur.” Akhirnya Key menanggapi ucapan Taemin.

“Bukan begitu maksud ku, aku hanya khawatir pada Tari Noona.”

“Aku tahu, kami pun mengkhawatirkannya.” Minho merangkul Taemin. Mencoba menenangkan hatinya. “Tapi tidak ada yang bisa kita perbuat. Kita hanya bisa berharap semoga semuanya akan baik-baik saja.”

“Yang di katakan Minho benar. Sekali pun kita ingin, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kau pasti mengerti maksud ku, Taemin-ah. Tari gadis yang kuat, aku yakin dia bisa mengatasi masalahya.” Mau tidak mau Taemin pun hanya bisa mengangguk mengiyakan apa yang Hyung-nya katakan. Mereka memang tidak bisa melakukan apapun, sekali pun mereka ingin. Hanya harapan yang terbaiklah yang bisa mereka minta.

Langkahnya semakin ringan ketika sudah mendekati tempat tujuannya. Keningnya berkerut bingung saat langkahnya sudah sampai di depan pintu bercat putih. Tempat di mana Kris dan yang lainnya menghabiskan waktunya untuk latihan.

Kenapa begitu sepi? Pikir Tari.

Tidak ada suara music atau pun suara orang-orang yang sedang mengobrol, apalagi bercanda. Tidak seperti biasanya. Tidak mau memikirkannya lebih jauh, di bukanya pintu di depannya, dan betapa terkejutnya dia saat mendapati orang yang sangat di kenalnya kini sedang bercumbu dengan wanita lain. Orang yang akhir-akhir ini menjadi tempatnya bergantung. Seseorang yang setiap malamnya tidak pernah absen bersenandung untuk mengiringinya tidur. Dan orang itu yang amat sangat di percayainya kini seolah menusuknya dari belakang. Dia tahu betul siapa wanita itu, wanita yang sedang di gosipkan memiliki hubungan dengan kekasihnya. Orang yang ada di hadapannya sekarang. Air matanya turun begitu saja tanpa bisa di cegah, dia benar-benar tidak percaya Kris melakukan ini padanya. Jadi, berita itu semuanya benar? Mereka memiliki hubungan khusus?

Tidak sanggup lebih lama melihat pemandangan di depannya, Tari pun segera pergi meninggalkan tempat itu. Berlari sambil menunduk dan sesekali menyeka pipinya yang basah karena air mata yang tak kunjung mau henti. Pandangannya mengabur karena banyaknya air mata yang terus keluar. Langkahnya terhenti saat tidak sengaja menabrak seseorang. Tari segera membungkukan badannya dan meminta maaf tanpa melihat siapa yang di tabraknya. Baru saja dia akan kembali melangkah, tangannya kembali di cekal oleh seseorang.

“Tari!” Serunya. Nadanya seolah meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu memang orang yang di kenalnya. Buru-buru Tari menghapus air matanya saat mengenali suara yang memanggilnya.

“Mianhae Lay oppa. Aku tidak sengaja.” Ucap Tari, meminta maaf sekali lagi. Lay, menahan Tari sekali lagi saat gadis itu akan pergi.

“Kenapa jalanmu buru-buru sekali?” Tanya Lay. Dia merasa ada yang tidak beres, karena di lihatnya Tari begitu aneh. Terus menunduk dan tidak mau menatapnya. Ternyata, di sana bukan hanya Lay, tapi member EXO yang lain juga ada. Mereka belum menyadari keanehan yang terjadi. Lay ikut menunduk, mencoba menatapnya. Mungkin wajahnya terluka. Pikir Lay.

Matanya membulat sempurna saat di dapatinya wajah gadis itu basah. “Ya! Kau menangis? Ada apa?” Tanya Lay khawatir. Member yang lain langsung menghampirinya begitu mendengar pertanyaan Lay. Ada keterkejutan di wajah mereka.

“Noona, waeyo?” Tanya Tao.

“Noona, wae irae? Apa ada yang menyakitimu?” Giliran Baekhyun kini bertanya.

“Tari-ya, ada apa? Bicaralah.”

“Kenapa kau di sini? Tidak menemui Kris?” Pertanyaan-pertanyaan itu terus di dapatkan Tari. Tapi gadis itu hanya diam saja dan terus menunduk.

“Ya! Apa ini ada hubungannya dengan Kris?” Pertanyaan Luhan langsung membuat seluruh member menatapnya.

“Noona, uljima. Katakan pada kami, ada apa?” Suara Sehun bergetar, tidak tega melihat Tari yang terlihat begitu sedih.

Tari menggeleng menanggapi semua pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan padanya. Di serahkannya kotak bekal yang sejak tadi di pegangnya pada Lay yang ada di hadapannya. “Ini.” Katanya. Susah payah Tari mengeluarkan suaranya, kemudian melanjutkan. “Jangan katakan pada Kris jika aku kesini.” Usai mengatakan itu, dia segera pergi dari hadapan anak-anak EXO. Meninggalkan pertanyaan-pertanyaan yang masih menggelayut di otak mereka.

Masih belum terjawab rasa penasaran mereka penyebab Tari menangis, muncul pertanyaan baru. Apa maksud dari ucapannya, ‘jangan beritahu Kris jika aku kesini’?

“Pasti ada yang tidak beres.” Celetuk Chanyeol. Dan mungkin apa yang di pikirkan mereka sama. Karena tidak ada yang bersuara setelah itu.

Tanpa mempedulikan membernya, Luhan berjalan cepat menuju ruang latihan mereka. Tepatnya ruang yang baru saja di tinggalkan Tari. Entah apa yang di pikirkannya, yang pasti dia hanya merasa harus memastikan sesuatu. Melihat kepergian Luhan, Suho mengikutinya. Mungkin dia berpikiran sama. Kemudian di ikuti member lain di belakangnya.

“KRIS”

Mendengar teriakan Luhan, Jessica segera menjauhkan tubuhnya dari Kris. Lalu berjalan pergi sambil menundukan kepalanya. Mungkin malu.

Kris menoleh ke arah teman-temannya yang kini sedang menatapnya. Persis seperti Tari, mereka tidak percaya Kris bisa melakukan hal itu. Mereka pasti salah paham. Pikir Kris.

Di lihatnya Luhan, masih menatapnya dengan kemarahan. “Aku bisa jelaskan.” Katanya.

“Kau mau menjelaskan apa? Menjelaskan bahwa kau memang menjalin hubungan dengan Jessica sunbaenim?” Ujar Luhan dengan nada yang begitu sinis.

“Tidak begitu. Kau salah paham, aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya.”

“Lalu kenapa kau berciuman dengannya?” Xiumin pun tak luput ikut merasa kesal. Berusaha mengendalikan emosinya.

“Hyung, kenapa kau melakukan itu? Kau tidak memikirkan perasaan Tari Noona jika dia tahu hal ini?” Baekhyun sebenarnya ingin marah pada Kris, tapi dia tidak mungkin memaki-maki orang yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri.

“Ge, kau tahu kan jika itu salah?” Kini giliran Tao yang menyudutkan Kris.

“Kalian semua salah paham. Tidak seperti itu yang sebenarnya.” Kris mengacak-acak rambutnya frustasi. “Dia datang tiba-tiba dan langsung mencium ku. Aku benar-benar tidak tahu, saat itu ku pikir yang datang adalah Tari.”

“Tapi kan kau bisa menolaknya, Hyung.” Kata D.O

“Kau tidak mengerti, aku sudah berusaha untuk melepaskannya. Tapi-“

“Tapi kau menikmatinya. Itu maksudmu?” Potong Luhan. Kentara sekali jika dia sangat kesal dengan apa yang Kris lakukan.

Mendengar ucapan Luhan, tiba-tiba saja membuat Kris benar-benar marah. “Apa maksud ucapanmu?” Geramnya. Di cekalnya kerah baju Luhan dan menatapnya tajam. Sontak saja itu membuat semuanya kaget. Mereka tidak mau terjadi perkelahian. Namun, yang bersangkutan hanya menatap Kris remeh. Menunjukan jika dia tidak takut sama sekali.

“Kau mau memukul ku? Pukullah.” Ujar Luhan menantang. Namun, bukannya memukul, Kris justru melepaskan cekalannya. Dia sadar, dia leader di sini. Dia tidak mau memberikan contoh yang tidak baik bagi membernya. “Maaf.” Ucapnya menunduk.

“Aku tidak mengerti, sebenarnya apa yang ada di pikiranmu?” Kris semakin menunduk merasa bersalah.

“Kau keterlaluan, hyung. Jika kau bukan temanku, pasti aku sudah menghajarmu.” Kai. Yang sejak tadi berdiri di belakang, hanya bisa menahan rasa kesalnya. Kini dia meluapkan emosinya dengan kata-kata tajamnya barusan. Setelah mengatakan itu, dia berlalu keluar ruangan. Jika dia bertahan lebih lama lagi di sana, mungkin dia benar-benar akan menghajar Kris.

Member yang lain menghela napas dan membiarkan namja dengan kulit coklat itu pergi. Mereka tahu sifat Kai, jadi mereka hanya membiarkannya saja.

“Aku tahu aku salah. Tapi sungguh, itu bukan keinginan ku. Percayalah.” Kris kembali meyakinkan teman-temannya.

“Kau tidak usah menjelaskan apa-apa pada kami, Hyung. Tapi berikanlah penjelasanmu pada Tari Noona.” Chen yang sejak tadi diam pun ikut bersuara. Dan itu membuat Kris langsung menoleh ke arahnya.

“Apa maksudmu? Tari tahu dengan yang terjadi barusan?” Semua pun langsung menoleh ke arah Chen.

“Tentu saja dia tahu, kau-“

“CHEN!”

“HYUNG!”

Semua orang yang ada di sana berusaha menegur Chen, kecuali Luhan. Tapi dia sendiri, kelihatan tidak peduli.

“Biar saja dia tahu, untuk apa menyembunyikan darinya?” Kata Chen dingin.

“Ge, kau lupa apa yang di katakan Tari Noona?”

“Tidak. Aku tidak lupa. Tapi Gege tersayangmu ini memang harus tahu, Tao.”

“Chen benar. Kris memang harus tahu.” Kata Luhan. Memotong ucapan Chen.

Lay, menyodorkan kotak bekal yang tadi di berikan Tari padanya ke arah Kris. “Dia melihat semuanya.” Usai mengatakan itu, Lay pun keluar mengikuti jejak Kai sebelumnya.

Kris menatap kotak bekal itu dengan perasaan yang semakin bersalah.

“Dia meminta pada kami untuk tidak memberitahumu. Bersikaplah sewajar mungkin di depannya. Jangan mengungkit hal ini lagi.” Jelas Xiumin. Tapi Kris tidak terima.

“Bagaimana mungkin. Dia harus tahu yang sebenarnya.” Dia segera beranjak untuk meninggalkan tempat itu. Namun langkahnya di tahan oleh Suho. Membuat Kris berdecak kesal padanya.

“Apalagi? Aku harus menjelaskan padanya.”

“Dia memang butuh penjelasanmu. Tapi tidak sekarang, biarkan dia sendiri dulu.” Kata Suho akhirnya. Kris hanya bisa menghela napasnya pasrah.

“Sebelum kau menjelaskan padanya, lebih baik kau luruskan dulu gosip itu.” ucap Luhan. Kemudian dia pergi di ikuti member lain di belakangnya, kecuali Kris.

Dia terduduk di lantai kayu yang dingin. Perasaannya berkecamuk antara rasa bersalah dan takut kehilangan. Takut jika gadisnya tidak akan lagi mempercayainya dan malah meninggalkannya.

<<>>

Sudah hampir setengah jam Suho berlari mencari keberadaan Tari, tapi tak kunjung di temuinya. Berbagai tempat sudah dia datangi, namun hasilnya tetap nihil. Gadis yang di carinya tetap tidak menampakan tanda-tanda keberadaannya. Putus asa dengan usahanya, akhirnya Suho memilih duduk sebentar di bangku sebuah taman yang dia temui. Di cobanya sekali lagi nomer yang sejak tadi coba di hubunginya, berharap kali ini suara itu yang dia dengar. Dan lagi-lagi hanya suara operator yang menjawab. Suho berdecak kesal, di acak-acaknya rambutnya seperti orang frustasi.

“Tari, kau dimana?” Erangnya. Dia benar-benar khawatir, takut terjadi sesuatu pada gadis itu.

Kembali dia mengutak-atik ponselnya lalu menempelkannya pada telinganya. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya terdengar jawaban dari seberang sana.

“Yeobseo!”

“Hyejin-ah, apa Tari ada di sana?”

“Tari? Bukankah dia ke tempat latihan kalian?” Suho menghela napas.

“Dia memang tadi ke tempat latihan kami. Tapi langsung pulang, ku kira dia sudah sampai. Yasudah kalau begitu. Tolong beri tahu aku jika dia sudah pulang.” Suho mengakhiri sambungannya. Tepat setelah itu, tetesan air jatuh mengenai wajahnya. Dia mendongak dan mendapati awan gelap mulai mengeluarkan rintik-rintik kecil. Tidak lama kemudian, rintik-rintik itu berubah menjadi guyuran hujan yang sangat deras.

“Sial!” Umpatnya.

Suho segera berlari sambil melindungi kepalanya dengan tangannya dari guyuran air hujan. Walau sebenarnya itu tidak membantu sama sekali. Saat mendapati taxi lewat di depannya, dia segera memberhentikannya.

Terpaksa dia pulang dengan perasaan yang masih di liputi rasa khawatir. Dia hanya bisa berharap, semoga gadis itu baik-baik saja.

<<>>

Kris terus melajukan mobilnya, tidak peduli dengan hujan deras yang sudah mengaburkan pandangannya. Dia hanya ingin mencari gadisnya, menemuinya dan memeluknya. Hanya itu. Entah sudah berapa lama dia berputar dan mengedarkan pandangannya kesana kemari untuk mencari sosok gadis yang di cintainya itu. Tapi hasilnya nihil. Persis seperti Suho.

“Honey, where are you?” Desahnya.

Jika sesuatu terjadi pada gadis itu, satu-satunya orang yang paling merasa bersalah adalah dirinya. Dan jika ada hal buruk yang terjadi padanya, dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.

Ponselnya bergetar, menampilkan satu pesan baru yang masuk. Di bukanya pesan tersebut tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan di sekitarnya. Tepat setelah pesan itu terbuka, Kris segera putar balik dan melajukan mobilnya dengan kencang. Tidak banyak isi pesan itu. Tapi mampu memberikan jawaban bagi keresahannya sejak tadi. ‘Tari sudah kembali ke apartemennya. Kau, pulanglah!’ Pesan yang ternyata dari Suho.

Sebenarnya, Suho ingin sekali menemui Tari dan memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Tapi dia mengurungkan niatnya. Dia berpikir, Kris-lah yang lebih berhak mengecek keadaan gadis itu. Lagi-lagi dia hanya bisa berharap gadis itu baik-baik saja.

<<>>

Kris mengetuk pintu apartemen Tari dengan tidak sabar, rasanya ingin di dobraknya pintu itu jika dalam satu menit tidak terbuka juga. Hyejin membuka pintu dengan perasaan kesal, karena si tamu yang tidak sabaran. Saat di lihatnya Kris yang berdiri di depannya, langsung saja Hyejin marah-marah. “Tidak bisakah kau sabar sedikit?”

“Apakah Tari di dalam?” Tidak mempedulikan Hyejin yang baru saja marah-marah dengannya. Bahkan ketika gadis itu tengah melotot ke arahnya.

“Dia di kamarnya. Baru saja pulang.” Mendengar ucapan Hyejin, tanpa di suruh Kris segera masuk kedalam. Namun belum sempat dia menghambur ke dalam kamar Tari, Hyejin lebih dulu menahannya. Kris menatapnya dengan pandangan bertanya.

“Apa yang terjadi? Kenapa dia pulang dengan keadaan yang begitu kacau? Apa kalian bertengkar?” Tanya Hyejin bertubi-tubi. Menatap Kris dengan tajam.

“Mianhae, Hyejin-ah. Tapi sekarang bukan saatnya aku menjelaskan padamu. Aku harus memastikan yeojachingu-ku baik-baik saja.”

“Ku peringatkan padamu, jika kau melukainya aku tidak akan segan-segan menjauhkannya darimu.” Kata-katanya benar-benar tajam. Membuat Kris sedikit ciut dengan ancamannya. Sampai akhirnya dia menghela nafasnya.

“Arasseo.”

Hyejin meninggalkan Kris, membiarkannya menemui Tari. Sama seperti Suho, dia harap semuanya akan baik-baik saja.

Kris membuka pintu kamar Tari dengan pelan. Beruntung pintu kamar itu tidak di kunci. Memudahkannya untuk masuk tanpa mengetuk terlebih dulu. Di dapatinya gadis itu sedang tidur membelakanginya. Wajahnya di tutupi oleh guling dalam pelukannya. Dia tahu, gadis itu tidak baik-baik saja. Hatinya teriris kala matanya menangkap tubuhnya yang bergetar. Gadis itu, menangis.

Di hampirinya Tari, lalu menyentuh kepalanya dengan sangat hati-hati. “Honey!” Panggilnya lembut.

Tari terkesiap saat mendengar suara Kris. Dia langsung menatap orang yang baru saja memanggilnya. Langsung di hapusnya air mata itu dengan kasar. Walau sebenarnya tidak perlu, karena Kris sudah tahu jika dia sedang menangis.

“Oppa.” Ucapnya tak percaya.

Kris kini menyentuh wajah Tari, menyeka air matanya yang masih tersisa. “Kau, menangis?” Ada nada sedih dalam suaranya. Tari buru-buru menggeleng.

“Aniyo. Aku tidak menangis, oppa.” Kris mengerutkan keningnya mendengar jawaban Tari.

“Kau mau membohongiku, hm?” Merasa tidak bisa mengelak lagi. Mau tidak mau dia segera mencari alasan. Tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya.

“Aku, hanya sedang merindukan orang tua ku. Sudah lama aku tidak bertemu mereka.” Kris tahu, gadisnya sedang berbohong, dan itu semakin membuat hatinya sakit. Harusnya gadis ini mengatakan yang sebenarnya dan mencaci maki dirinya. Atau menamparnya. Apapun. Tapi dia justru memberikan senyuman untuk menenangkannya. Rasa bersalah itu semakin besar merayapi hatinya. Kris ikut berbaring dan memposisikan dirinya di samping Tari. Merengkuh gadis itu kedalam pelukannya.

“Are you okay?” Tanyanya.

“I’m okay, oppa. Geokjongma!” Gadis itu memintanya untuk tidak khawatir? Bagaimana mungkin.

Kris mengeratkan pelukannya. Tidak membiarkan seinci pun tubuh gadis itu jauh darinya. Inilah yang dia butuhkan saat ini. Pelukan yang selalu menguatkannya. Aroma tubuhnya yang bagaikan oksigen untuknya. Dan senyumnya yang selalu menjadi semangat untuk menjalani hari-harinya. Entah bagaimana jadinya dia jika gadis ini meninggalkannya, menghilang dari jaungkauan matanya. Dia tidak akan sanggup. Dan tidak akan pernah sanggup.

“Honey!” Panggil Kris pelan. Yang di jawab dengan gumaman oleh Tari. “Maukah kau berjanji untukku? Apapun yang terjadi, percayalah padaku. Dan jangan tinggalkan aku.”

Tari bingung kenapa Kris tiba-tiba bicara seperti itu. Sesungguhnya dia ingin mempercayainya, dia ingin percaya pada Kris. Tapi dia masih ingat dengan jelas tentang ciuman itu. Membuatnya kembali merasakan sakit. Tapi dia tidak mau bertanya. Di takut, dia takut jika satu pertanyaan darinya akan membuatnya kehilangan pria yang sangat di cintainya ini.

Tidak mendapat jawaban apapun dari Tari, Kris melanjutkan kalimatnya. “Jika aku salah, kau boleh marah padaku. Memukulku atau menamparku. Kau boleh melakukan apa saja untuk melampiaskan amarahmu. Asalkan jangan pernah tinggalkan aku.”

Air mata itu menetes lagi. Tari kembali menangis di dalam pelukan Kris. Sedetik kemudian dia menjawab dengan pasti. “Aku percaya padamu. Dan aku tidak akan meninggalkanmu, tidak akan pernah.”

Jawaban yang cukup mampu membuat senyuman terukir di bibir Kris. Dan dia harap, gadis itu benar-benar tidak akan meninggalkannya. Seiring senyumnya yang terkembang pelukan itu pun semakin erat. Tari bisa merasakan ada rasa tidak ingin kehilangan dan rasa ingin memiliki dalam pelukannya. Kris. Pria ini. Pria dalam pelukannya ini, entah bagaimana telah menjadi bagian dari hidupnya. Bagian yang mungkin tidak bisa di hilangkan. Karena jika itu terjadi, besar kemungkinan bagian yang lainnya pun akan ikut hilang. Pria ini, bagaikan makanan untuk jiwanya. Kris benar-benar telah mengikat hatinya.

Mereka, dua hati yang telah di butakan oleh cinta. Mempunyai harapan dan keinginan yang sama dalam hati masing-masing. Tidak ingin pergi dan di tinggalkan. Mereka ingin kebersamaan itu bisa bertahan lama. Bahkan jika mungkin, mereka ingin perpisahan itu tidak pernah ada. Tapi, ibaratnya ada siang pasti ada malam. Ada gelap, ada terang. Ada hitam, juga ada putih. Dan jika ada pertemuan, pasti akan berakhir dengan perpisahan. Itu semua sudah hukum alam. Sebesar apapun keinginan mereka, tidak ada yang tahu takdir akan membawa kemana hubungan mereka.

<<>>

Sejak pulang ke dorm, tidak ada yang di lakukan Suho. Hanya duduk diam sambil melamun di meja makannya. Entah apa yang dia lamunkan, hingga tidak sadar bahwa ada seseorang yang memperhatikannya sejak tadi. Bahkan kini orang itu sudah duduk tepat di hadapannya. Tidak lama, setelah itu dia sadar bahwa ada orang lain selain dia yang ada di meja makan itu. Dan dia mendapati seseorang tengah menatapnya.

“Luhan Hyung, sejak kapan kau ada di sini?” Suho terlihat seperti orang linlung, bingung mendapati Luhan yang tiba-tiba sudah ada di depannya. Yang di tanya hanya menampilkan senyum kecil. Tapi bukan senyum yang seperti biasa, entah apa arti di balik senyumnya saat ini.

“Cukup lama untuk memperhatikanmu melamun.” Jawabnya tenang. Suho merasa seperti pencuri yang sedang tertangkap basah. Dia hanya bisa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Lanjut Luhan.

“Eobseo. Hanya memikirkan jadwal untuk besok.” Luhan mendengus. Dia tahu betul jika leader-nya ini sedang berbohong.

“Begitu rahasiakah hingga kau harus berbohong padaku?” Suho mengernyitkan alisnya bingung.

“Maksudmu, Hyung?”

“Tidak usah berpura-pura bodoh, Suho-ya. Aku tahu kau sedang memikirkan yang lain.”

“Apa yang kau bicarakan, Hyung? Aku sungguh tidak sedang memikirkan apapun.” Suho masih bersikeras.

“Benarkah?” Tanya Luhan lagi. Mencoba memastikan. Suho mengangguk sambil menatap Luhan. “Tapi sepertinya wajahmu mengatakan lain.”

Luhan benar-benar membuatnya salah tingkah. Suho hanya bisa memalingkan wajahnya tanpa berani menatap Luhan. Dan Luhan bisa melihat itu semua dengan jelas, dia bisa menangkap kegelisahan itu di wajah yang banyak orang bilang seperti malaikat.

“Kau itu kenapa sih, Hyung? Kau seperti paranormal saja. Kalau yang kau pikir aku banyak pikiran karena terlalu stress mengurus para member, kau tenang saja. Aku baik-baik saja.” Luhan mengangguk-anggukan kepalanya.

“Baguslah kalau begitu. Siapa tahu kau memikirkan yang lain. Mengkhawatirkan Tari misalnya.” Kata-kata Luhan seperti tombak yang menancap tepat di jantungnya. Kenapa tebakannya bisa setepat itu. Pikir Suho. Tapi lagi-lagi dia memilih untuk mengelak, namun tidak sepenuhnya.

“Kalau itu, aku memang mengkhawatirkannya. Dan bukan hanya aku saja, seluruh member juga begitu mengkhawatirkan keadaannya.”

“Yah, kau benar. Kau tidak melihat keadaannya? Sepertinya di banding yang lain kau yang lebih mengkhawatirkannya.” Lagi-lagi pernyataan Luhan membuatnya tidak berkutik.

“Ku rasa tidak perlu. Sudah ada Kris Hyung. Dia pasti sekarang baik-baik saja.” Kini ucapan Suho terdengar sangat jauh. Luhan bisa merasakan apa yang sedang Suho rasakan saat ini. Dia tahu betul perasaan pria di depannya ini.

“Kau menyukainya?” Sontak Suho mendongak menatap Luhan. Matanya membulat tak percaya dengan pertanyaan yang baru saja keluar dari bibir mungil itu.

“A…apa yang kau katakan, Hyung? S..siapa yang kau maksud-“

“Kau menyukainya. Tari. Kau menyukainya bukan?” Luhan memotong kata-kata Suho. Kali ini bukan lagi pertanyaan, namun lebih tepatnya sebuah pernyataan. Pernyataan yang sejujurnya masih membingungkan untuk Suho. Karena dia sendiri memang masih bingung dengan perasaannya.

Suho memaksakan tawanya yang terdengar sangat aneh. Namun dia tetap mempertahankan tawanya itu. Membuat Luhan semakin yakin jika pria di hadapannya ini sedang menyembunyikan perasaannya. “Kau itu lucu sekali. Kenapa wajahmu terlihat serius seperti itu? Tentu saja aku menyukainya. Dia sahabat yang baik, dongsaeng yang manis, dan tetangga yang dapat di andalkan. Terbukti dia sering membuatkan kita makanan di saat kita sedang lapar dan lelah karena jadwal yang banyak. Dan kita memang menyukainya kan? Begitu pun dengan Hyejin.”

Masih dengan tatapan datarnya, kini luhan menyilangkan tangannya di depan dada. Matanya tidak terlepas menatap Suho, menggeleng dengan yakin. “Tidak! Kau menyukainya, kau menyukainya sebagai namja terhadap yeoja.”

Seperti sebuah batu yang menghantam hatinya begitu keras. Sakit dan sesak. Benarkah itu? Dia, menyukai Tari? Kekasih dari sahabatnya sendiri, sahabat yang sudah di anggapnya sebagai seorang Kakak. Tidak mungkin, itu pasti salah. Suho terus berperang melawan batinnya. Menyangkal semua pernyataan Luhan yang entah kenapa begitu terasa tepat. Seolah menemukan sebuah kepingan puzzle yang selama ini hilang. Tidak mempedulikan Luhan yang tidak berhenti mengawasi perubahan ekspresi di wajahnya.

Suho menggeleng cepat dan menjawab. “Kau keliru, Hyung. Aku tidak menyukainya. Bagaimana mungkin kau punya pemikiran seperti itu. Ku rasa kau lelah. Istirahatlah! besok jadwal kita sangat padat.” Usai mengatakan itu, Suho bangkit dan berlalu dari hadapan Luhan. Meninggalkan pria yang memiliki mata seperti rusa itu dengan keterdiamannya. Masih banyak pemikiran yang terus berputar-putar di otaknya. Tidak lama kepergian Suho, Luhan mendengus keras.

“Kau menyukainya, Suho. Tidak. Kau mencintainya. Aku yakin, karena aku pun merasakan apa yang kau rasakan. Kenapa kau harus membohongi dirimu sendiri?” Kini pria itu terlihat bicara pada angin. Pandangannya terarah ke tempat dimana tadi Suho menghilang. Hingga helaan nafas berat keluar dari mulutnya yang kecil.

TBC~

About fanfictionside

just me

7 thoughts on “FF / I Love You / EXO/ pt. 3

  1. waahhh ad cinta segitiga diantara suho tari dan kris
    mna yg akan bruntung mendapat kan tari dengan cinta yg tulus
    ehh btw it shinee jd comeo ya…. req dong suju jg jd comeo jg dong hheeee
    lanjutkan karya mu kim taeri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s