FF/ THE REASON/ GOT7/ pt. 1


author: Ismomos
CAST:
– Im Jaebum (JB)
– Park Jinyoung (Jr)
– Mark Tuan
– Jackson Wang
– Choi Youngjae
– Bambam
– Kim Yugyeom
– Jung Chaemi
– Baek Jaena
– Hwang Syojung
– Kim Nayeom
– Lee Daehee
– Cho Hyunra
– Jang Youngmi
Genre : Romance

PicsArt_1390991610170


Annyeong, author is back(?) kali ini author pake cast dari grup rookie GOT7. Author lagi ngefans-ngefansnya banget sama grup satu ini. Btw, bias author di GOT7 adalah Kim Yugyeom *gada yang nanya ya?* di part 1 ini belum semua member yang muncul. oke, enjoy with the story  jangan lupa komennya ya!^^

I love you but I need to break up with you
I’m grateful and sorry at the same time that you loved me
I lack so much so please forgive me for leaving you
(What My Heart Tells Me To Do – B.A.P)

Ruangan ini begitu sepi dan sedikit gelap. Hanya beberapa lampu yang dinyalakan, tapi tetap saja namja itu betah untuk berlama lama disini. Seharusnya ia bergabung dengan teman-temannya yang lain.
Namun sepertinya namja itu sedang memikirkan sesuatu. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Ia menghela nafas, terdengar frustasi. Ternyata ia sedang memikirkan sesuatu yang sangat membebani pikirannya.
Namja itu mengusap wajahnya. Lalu, ia menghela nafasnya sekali lagi. Dadanya benar terasa sesak. Pikiran dan hatinya sangat bertentangan kali ini. Apakah yang harus ia lakukan?
“Jaebum-ah..” tiba-tiba ada suara orang memanggilnya. Suara yeoja. Yeoja itu. Yeojanya. Jung Chaemi.
Lelaki yang dipanggil Jaebum itu menoleh ke arah sumber suara. Kini, Chaemi sudah duduk disebelahnya dengan senyum terukir di bibirnya. Hal itu membuat Jaebum terpaku menatap yeoja disebelahnya.
“Jaebum-ah, aku punya sesuatu—“
“Maafkan aku, Chaemi-ah.”
Gerakan Chaemi terhenti karena Jaebum menyela ucapannya. Tadinya ia ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam saku roknya. Chaemi menatap Jaebum dengan tatapan heran. Jaebum masih menatapnya lekat, membuat perasaannya tidak enak.
“Maafkan aku..” kata Jaebum lagi, terdengar lebih lirih.
Chaemi membulatkan matanya, semakin tak mengerti dengan sikap namja disebelahnya ini. Apalagi ia melihat mata Jaebum mulai memerah, seperti sedang menahan air matanya. Perasaannya semakin tidak enak, pasti sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang tak menyenangkan untuknya.
“Maafkan aku, Chaemi. Sepertinya kita harus mengakhiri hubungan ini..”
Deg! Jantung Chaemi serasa berhenti berdetak. Perasaan tidak enaknya terbukti.
“Maa—mak—sud—mu?” tanya Chaemi tak percaya.
“Maafkan aku, Chaemi-ah. Aku benar-benar minta maaf..”
Hanya itu yang bisa Jaebum katakan. Sebenarnya ia juga sangat berat untuk mengambil keputusan ini. Tapi ia juga tak ingin membuat yeojanya itu menangis lagi karenanya.
Jaebum berdiri, hendak meninggalkan Chaemi yang masih terpaku. Ia tidak ingin meihat yeoja itu menangis di hadapannya, karena itu akan membuat ia menarik lagi ucapannya.
Terlambat, air mata Chaemi sudah jatuh. Sambil mengusap air mata dengan salah satu tangannya, Chaemi menarik kaus basket yang dikenakan Jaebum dengan tangannya yang lain.
“Kumohon jangan pergi, Jaebum-ah. Kumohon.” Kata Chaemi sambil terisak.
Sekuat tenaga Jaebum menahan perasaannya. Perasaan ingin menghapus air mata Chaemi. Perasaan ingin memeluk yeoja ini. Perasaan ingin merengkuhnya. Tapi ia tidak bisa, karena dirinyalah alasan yang membuat Chaemi seperti ini.
“Maafkan aku, Chaemi. Aku hanya tidak ingin membuatmu menangis lagi.”
Dengan berat hati Jaebum melepaskan tangan Chaemi dari kaus basket yang dikenakannya. Air mata Chaemi kembali menetes selepas kepergian Jaebum. Chaemi benar-benar merasakan sakit di dalam hatinya.
Tiba-tiba sesuatu jatuh dari dalam saku rok Chaemi. Sebuah medali emas. Ya, Chaemi baru saja memenangkan olimpiade sains di sekolahnya, dan ingin menunjukkannya kepada Jaebum. Ia tak menyangka jika akhirnya harus seperti ini. Hari yang seharusnya menjadi hari yang membahagiakan malah menjadi hari yang sangat menyedihkan untuknya.
Dan ruangan ini pun telah menjadi saksi. Di ruangan inilah Jaebum menyatakan cintanya pada Chaemi, dan di tempat ini pula Jaebum memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Di lapangan basket indoor di sekolahnya yang sudah tak terpakai lagi.

& & & & & &

Kedua namja itu saling terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Ok Taecyeon,- pelatih tim basket di Victory High School,- menatap Jaebum dengan tatapan datar.
“Kau bisa jelaskan kepadaku kenapa tim sekolah kita bisa kalah pada pertandingan tadi?” tanya Chanwoo datar.
Bukannya menjawab pertanyaan pelatihnya, Jaebum hanya memandang Taecyeon dengan tatapan kosong. Terlihat sekali kalau ia juga terpukul atas kekalahan tim basketnya.
“Dan yang ku lihat selama pertandingan tadi, salah satu alasan kenapa tim kita kalah adalah kau. Bisa kau jelaskan padaku kenapa itu bisa terjadi, huh?” tanya Taecyeon lagi sambil menahan emosinya.
Jaebum masih terdiam. Sama sekali tidak mengeluarkan suaranya.
“YA IM JAEBUM AKU SEDANG BERTANYA PADAMU!!”
Taecyeon sampai menggebrak mejanya, karena murid di hadapannya tak juga menjawab pertanyaannya. Untungnya, di ruang guru hanya ada dirinya dan Jaebum.
“Maafkan aku, pelatih.”
Entahlah, sudah berapa kali Jaebum meminta maaf. Taecyeon menghela nafasnya, mencoba untuk mengontrol emosinya. Ia sadar, kekalahan ini tidak sepenuhnya kesalahan Jaebum.
“Aku memerhatikanmu selama pertandingan tadi. Kau tahu apa yang kulihat? Kau sangat tidak fokus, Jae. Bagaimana bisa seorang kapten tim basket tidak fokus dalam pertandingan…”
Jaebum menundukkan kepalanya. Ia tahu ini salahnya. Dan ia tak tahu harus berbuat apa untuk memperbaikinya.
“Apa yang membuatmu tidak fokus, heum?” tanya Taecyeon, kini suaranya terdengar lebih lunak.
Lagi-lagi Jaebum tidak menjawab pertanyaan Taecyeon, ia memilih untuk diam. Taecyeon mendecakkan lidahnya. Benar-benar frustasi dengan sikap Jaebum.
“Kau sedang ada masalah? Apa ini ada hubungannya dengan Jung Chaemi? Bukankah sudah kubilang untuk segera memutuskan hubungan denganya? Seharusnya kau tahu kan, tak peduli dengan semua urusan pribadimu diluar pertandingan, kau harus bersikap profesional dalam bertanding!“
“Aku sudah mengikuti kata-katamu, aku sudah memutuskannya. Aku sudah memutuskan hubunganku dengan Chaemi.”
Taecyeon membulatkan matanya. Benar-benar tidak menyangka jika muridnya ini mengikuti apa kata-katanya.
“Lalu apa yang membuatmu—-“
“Ibuku masuk rumah sakit karena penyakit yang parah, bisakah aku fokus dalam bertanding jika tahu keadaan ibuku saat ini? Bisakah aku tidak terus memikirkan keadaannya? Bisakah aku bersikap profesional dan menganggap tidak ada yang terjadi? Kau bisa bicara seperti itu karena kau tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan, pelatih.” Jawab Jaebum menyela pertanyaan Taecyeon.
Mendengar jawaban Jaebum, Taecyeon langsung terdiam.

& & & & &

Nafas Jinyoung terengah-engah, ia habis menyusuri setiap sudut sekolahnya. Mencari seseorang yang sedari tadi tidak dilihatnya. Bahkan setelah olimpiade sains selesai, Jinyoung tidak lagi melihat Chaemi yang pergi begitu saja
“Jaena, apa kau melihat Chaemi?” tanyanya pada salah satu teman sekelasnya yang kebetulan baru saja keluar dari ruangan musik.
“Chaemi? Ah aku tidak melihatnya, Jinyoung.”
“Ah baiklah kalau begitu, terima kasih Baek Jaena.”
Jinyoung langsung melangkah pergi, namun tiba-tiba Jaena memanggilnya.
“Jinyoung-ah.”
Jinyoung menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Jaena.
“Selamat atas kemenanganmu di olimpiade hari ini.”
Jinyoung terdiam sesaat, namun akhirnya ia mengangguk dan tersenyum.
“Terima kasih, Jaena. Maaf aku harus mencari Chaemi lagi. Sampai jumpa..”
Jinyoung kembali melangkahkan kakinya, meninggalkan Jaena. Namun Jaena masih terus menatap kepergian Jinyoung sampai sosok namja itu menghilang dari pandangannya.
& & & & &

Chaemi membasuh wajahnya dengan air yang mengalir dari keran westafel di toilet. Ia ingin menghilangkan sedikit sembab di matanya. Ia tidak ingin orang lain mengetahui kalau dirinya habis menangis.
Chaemi menatap cermin di hadapannya, sembab di matanya sedikit berkurang. Ia mencoba untuk tersenyum, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia baik-baik saja. Setelah yakin dengan penampilannya, Chaemi keluar dari toilet.
“Ya Jung Chaemi!”
Chaemi tersentak kaget karna ada orang yang tiba-tiba memanggilnya saat ia baru saja keluar dari toilet. Park Jinyoung.
“Jinyoung-ah, ada—“
“Aku sudah mencarimu kemana-mana, ternyata kau ada disini. Kau darimana? Tadi aku mencarimu di tempat biasa kau bertemu dengan Jaebum, ternyata kalian sudah tidak ada disana.”
Chaemi hanya tersenyum lemah saat mendengar ucapan Jinyoung.
“Kau kenapa? Sakit?” tanya Jinyoung yang baru menyadari wajah Chaemi yang begitu pucat.
Chaemi menggelengkan kepalanya, ia tidak mau sahabatnya itu terlalu mengkhawatirkannya.
“Benarkah?” tanya Jinyoung memastikan. Chaemi mengangguk.
“Bagaimana keadaan Jaebum?” tanya Jinyoung lagi.
Chaemi mengernyitkan dahinya setelah mendengar pertanyaan aneh Jinyoung.
“Maksudmu?”
“Kau tidak tahu? Tim basket sekolah kita kalah dalam pertandingan kali ini. Hal ini pasti membuat Jaebum dan timnya terpukul.”
Chaemi membulatkan matanya, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Benarkah tim basket sekolahnya kalah dalam pertandingan kali ini? Ia tahu betul betapa semangatnya Jaebum dalam menantikan pertandingan ini. Pertandingan nasional yang akan membawa timnya ke pertandingan internasional.
“Jaebum tidak memberitahumu?” kini Jinyoung yang menatap Chaemi heran.
Chaemi tidak menjawab, pikirannya kini telah dipenuhi berbagai macam pertanyaan tentang Jaebum.
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka. Wanita itu Cho Hyunra, guru sains di sekolah mereka.
“Selamat atas kemenangan kalian.” Katanya datar, tidak dengan nada memuji, karena menurutnya sudah seharusnya kedua muridnya ini menang dalam olimpiade kali ini.
“Ne, terima kasih Hyunra seosaengnim.” Kata Jinyoung dan Chaemi sambil membungkukan badan mereka.
“Dan segera persiapkan diri untuk olimpiade selanjutnya. Aku tak mau hal-hal yang tidak penting mengganggu konsentrasi kalian dalam menghadapi olimpiade selanjutnya. Kalian mengerti?!”
“Ne..”
Hyunra pun pergi meninggalkan Jinyoung dan Chaemi. Gaya jalannya yang terkesan angkuh, membuatnya terlihat sebagai seseorang yang dingin dan sombong. Namun, Jinyoung dan Chaemi tahu, guru sains mereka yang terbilang masih muda itu mempunyai hati yang sangat baik, meskipun Hyunra enggan untuk menunjukkannya.

& & & & &

Bambam menenggak minuman kaleng itu sampai habis tak tersisa, lalu ia duduk di pinggir taman sekolahnya, dengan lesu. Kekalahan tim basketnya kali ini benar-benar membuatnya frustasi. Seharusnya ia dan tim basketnya bisa memenangkan pertandingan ini, karena ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri, dan seseorang.
Bambam mendongakkan kepalanya, menatap langit sore yang begitu cerah. Ia menghela nafas, langit pun sepertinya sedang tidak bersahabat dengannya, bersahabat dengan hatinya.
Namun tiba-tiba matanya melihat sosok yang mampu membuat hatinya kembali cerah. Sosok itu sedang berjalan di koridor utama sekolah. Sontak Bambam berlari menghampiri sosok itu.
“Noona!”
Yang dipanggil tidak menoleh, malah terus melangkahkan kakinya, membuat Bambam mempercepat larinya untuk menghampiri sosok itu.
“Noona! Hyunra Noona.” Panggil Bambam lagi.
Seseorang yang dipanggil Bambam akhirnya menghentikan langkahnya. Ya, Cho Hyunra.
“Seharusnya kau tidak memanggilku Noona di lingkungan sekolah seperti ini.” kata Hyunra memperingatkan Bambam.
Bambam tersenyum malu, baru menyadari kebodohannya.
“Maafkan aku, Noon—eh, maafkan aku seosaengnim.” Kata Bambam sambil membungkukan badannya.
“Ada apa memanggilku?” tanya Hyunra datar.
“Tidak, hanya saja aku ingin memberimu selamat atas kemenangan kelompok sains dalam olimpiade hari ini. Andai saja tim basket sekolah kita juga memenangkan pertandingan. Maaf aku tidak bisa memenuhi janjiku.”
“Bukan aku yang seharusnya menerima ucapan itu, lebih baik kau mengucapkannya kepada Chaemi dan Jinyoung, karena mereka yang memenangkan olimpiade itu. Dan satu lagi, jangan meminta maaf kepadaku. Minta maaflah kepada pelatihmu itu, karena sepertinya ia lebih membutuhkan permintaan maafmu itu.”
Hyunra langsung berjalan begitu saja, meninggalkan Bambam yang masih berdiri terdiam. Bambam memutar badannya, menatap sosok Hyunra yang menjauh. Ia tersenyum, miris. meskipun sudah sering diperlakukan seperti ini dengan Hyunra, tapi ia yakin, suatu saat nanti Hyunra akan berubah. Atau lebih tepatnya, Hyunra akan kembali. Menjadi sosok Hyunra yang dulu. Hyunra-nya yang dulu.

*TO BE CONTINUED*

About fanfictionside

just me

9 thoughts on “FF/ THE REASON/ GOT7/ pt. 1

  1. Kok sama sin thor biasnya=_=
    mark ja udeh…. *ngapajdnyuruhnyuruh

    Part selanjutnya dibanyakin ya thor!!
    Bahasanya udah rapi loh😀

  2. author lanjut dong gregetan bacanya ga sabar mau baca tentang youngjae mark jackson yugyeom~
    bambam sama noona uwaaaa~ > _ <

  3. Wahhh! I’m so happy. Ff nya bagus. Ku juga suka sama got7. Semoga next episode nya bagus dan cepat keluar. Sudah tidak sabaran.😀

  4. Wahhh! Ff nya bagus. Ku juga suka sama got7. Semoga next episode nya bagus dan cepat keluar. Sudah tidak sabaran.😀

  5. JaeBum kasihan banget :’) gapapa deh! Ceritanya bagus loh! Ga ketebak! Keren *keluarin jempol* bias w JaeBum *udh tau–“* oke! Terus menulis ya thor!

  6. Wow GOT7 !! bias!!!
    Annyeong haseyo author,Aku pembaca baru nih. FF nya keren.. Bacanya ampe senyum senyum sendiri wkwk..Tapi Mark sama jackson belom muncul #bias soalnya -_-
    Fighting Thor.. nunggu Next Chapternya nih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s