FF/ PERFECT/ EXO


cryslist | Perfect
Cast : A girl and Oh Sehun (EXO)
| Ficlet | Romance, AU | PG 15 |

perfect poster

“Dirimu yang ceroboh, keras kepala, cengeng dan penakut membuatku menyukaimu.”

—P.E.R.F.E.C.T—
Mataku mengerjap sekali lagi sebelum akhirnya terbangun dan menyadari seseorang tengah memeluk erat pinggangku. Aku tersenyum. Menatap wajahnya yang persis seperti bayi dengan ukuran raksasa. Kedua matanya terpejam. Mataku melirik malas kearah jam kecil yang terletak rapi disamping. Sekarang sudah pukul sembilan. Seharusnya sudah terlalu siang untuk memulai aktivitas. Namun entah mengapa aku terlalu malas untuk bergerak, bahkan untuk sekedar beranjak duduk.
Mataku kembali teralih pada seseorang yang sekarang tengah menggeliatkan tubuhnya kecil. Kuletakkan tanganku tepat di atas kedua matanya, menghalangi sinar matahari yang baru saja menganggu tidur nyenyaknya. Kedua matanya terbuka pelan, mengerjap beberapa kali sambil sesekali mengusap matanya.
“Sudah kututupi. Kalau masih mengantuk tidur saja.”
Ia menguap dan mengusap matanya kembali. Matanya kembali terpejam. Kurasa ia kembali tidur dan kuputuskan untuk beranjak duduk. Namun tubuhku tiba tiba saja tertarik ke belakang dan terjatuh tepat di atas tubuhnya.
“Kau mau kemana?” bisiknya dengan suara serak dan mata yang masih terpejam.
“Tentu saja membuatkanmu sarapan, Sehun.”
Ia hanya bergumam pelan sembari menyembunyikan kepalanya di lekukan leherku, menghirup oksigen disana. Kutahan napasku untuk beberapa saat ketika kurasakan hembusan napasnya yang hangat menerpa kulitku. Untuk beberapa menit kami bertahan dengan posisi seperti ini, sampai akhirnya kurasakan keringat mengembun di sekitar dahiku dan tubuhku mulai terasa pegal.
“Sehun, lepaskan.”
“Tidak.”
“Sehun.”
“Baiklah.”
Aku bernapas lega ketika pelukan Sehun sedikit mengendur. Kusingkirkan tangannya pelan dan beranjak turun dari tempat tidur kami. Ia beranjak duduk dengan wajah mengantuk dan bibirnya yang mengerucut. Sehun menatapku kesal yang membuatku terkekeh pelan. Wajahnya sekarang sangat persis dengan anak tetangga kami yang baru berusia 8 tahun.
“Cepat mandi. Aku akan membuatkanmu sarapan.”
Tanganku tergerak mencubit pipinya pelan dan segera mengecup dahinya. Bibirnya semakin mengerucut, tangannya mengusap usap pipi yang baru saja kucubit. Ia berdiri dan berjalan gontai menuju kamar mandi, sesekali ia menguap dan mengusap matanya.
Setelah pintu kamar mandi tertutup, aku segera merapikan tempat tidur dan menuju keluar untuk memasak.

—P.E.R.F.E.C.T—
Aku mendongak dan mendapat Sehun yang tengah menyantap ramyeon yang belum lama kubuat. Masih terlihat sedikit asap mengepul di atas mangkuk. Aku melihat ke dalam mangkuk miliknya, ia sudah menghabiskan setengahnya. Kemudian mataku teralih kepada mangkuk milikku yang masih terlihat sama saja sejak tadi.
“Mengapa tidak makan?”
Aku hanya menggelengkan kepalaku pelan sembari tersenyum. Ia menghela napas dan segera mengambil mangkuk milikku. Aku memperhatikan dirinya yang sekarang tengah menyuapiku. Sampai akhirnya aku tersadar bahwa aku telah selesai memakan semangkuk ramyeon.
Entah apa yang terjadi, baru kali ini aku berhasil memakan semangkuk ramyeon dalam waktu singkat sejak beberapa bulan terakhir ini. Mungkin diriku yang mulai jenuh dengan ramyeon yang hampir setiap hari aku dan Sehun konsumsi. Tetapi Sehun selalu terlihat biasa saja dan memakannya dengan lahap meskipun itu hanyalah ramyeon. Ketika aku bertanya mengapa ia tak pernah merasa bosan, ia akan selalu berkata ‘Jika bersamamu, apapun akan terasa lezat meskipun yang kumakan hanya sepiring nasi dan garam’. Oh, oke. Alasannya sekarang dapat kuterima meskipun dulu aku menganggapnya hanya sebuah bualan belaka.
Aku dan Sehun memutuskan untuk menghabiskan waktu siang dengan duduk di sofa sembari menonton TV. Kepalaku bersandar di bahunya, sedangkan tangannya melingkar sempurna di bahuku. Aku menceritakan tentang apa saja yang terjadi di kampus atau sekedar menanyakan pekerjaannya selama di kantor. Ia mengecup puncak kepalaku sesekali.
“Bagaimana dengan orang tuamu?” kurasakan raut wajahnya berubah ketika pertanyaan tersebut terlontar begitu saja dari bibirku. Perlahan senyum kecil terukir di bibirnya. Meskipun tersenyum, namun raut sedih masih tertinggal di wajahnya. Ia menggeleng pelan.
“Aku tidak tahu. Lagipula aku tidak terlalu peduli.”
Bohong. Sehun berbohong. Aku tahu Sehun sangat menyayangi kedua orang tuanya, hanya saja ia terlalu bodoh. Meninggalkan status, harta, bahkan orang tuanya hanya untuk wanita biasa sepertiku. Oh, bahkan aku tidak cukup populer di kampus, atau mungkin namaku hanya dikenal sebagai gadis beruntung penerima beasiswa di universitas elit.
“Terkadang, aku berpikir mengapa kau mau menikahi gadis sepertiku,” aku terdiam sebelum melanjutkan kata kataku.
“Aku bahkan tidak cantik atau kaya, bahkan aku masih ingat dengan jelas kau terkena diare setelah memakan bibimbap buatanku.”
Aku dan Sehun sudah menikah selama hampir 2 tahun dan berpacaran selama setahun. Aku mengenalnya dari salah satu sahabatku yang ternyata adalah kekasih sahabat Sehun. Kami saling berkenalan dan mulai berteman sejak saat itu. Sampai akhirnya ia menyatakan cintanya dan kami mulai menjadi sepasang kekasih.
Pada awalnya semua berjalan baik baik saja sampai suatu ketika ia mengajak diriku ke rumahnya dan mengenalkanku pada kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya yang sangat menentang hubungan kami memutuskan untuk menjodohkan Sehun dengan salah satu rekan bisnis perusahaan mereka. Tetapi Sehun menolak dan memutuskan pergi dari rumah dan menikah denganku.
Sehun mengelus puncak kepalaku.
“Meskipun kau tidak secantik Miranda Kerr, berkelimpahan harta ataupun ahli memasak seperti wanita pada umumnya, aku tetap menyukaimu. Dirimu yang ceroboh, keras kepala, cengeng dan penakut membuatku menyukaimu.”
“Tetapi aku telah membuat hidupmu hancur, Sehun.”
“Perkataan kau barusan lebih membuatku hancur.” aku menatapnya dan ia mengerucutkan bibirnya.
“Aku tidak pernah menyesal dengan apa yang terjadi. Karena hidupku jauh lebih bahagia setelah bertemu denganmu.” hembusan napas lolos begitu saja dari kedua belah bibirku setelah mendengar perkataan Sehun.
“Ya Tuhan, Oh Sehun. Seharusnya sekarang kau sudah tinggal di rumah yang mewah dan meneruskan perusahaan ayahmu, hidupmu akan berkecukupan. Bukannya tinggal di rumah kecil seperti ini dan hanya bekerja sebagai seorang karyawan kantor yang gajinya bahkan tidak cukup membiayai kehidupan kita selama sebulan.” aku memberi jeda sedikit sebelum akhirnya berbicara lagi.
“Kita bahkan tidak sanggup untuk membeli beberapa sayur dan daging sehingga kita terlalu sering memakan ramyeon instan. Uang yang kau dapat hanya habis untuk tagihan listrik dan air. Ini bukan takdirmu, Sehun.”
Sehun segera mendekap tubuhku ketika kurasakan sesuatu mulai menetes secara perlahan dari mataku. Aku terisak kecil saat kurasakan tangannya mengelus pelan rambutku. Aku terus bergumam meminta maaf padanya, aku bersalah. Aku telah membuat hidupnya menjadi seperti ini, hingga perasaan bersalah terus menghinggapi diriku selama hampir 2 tahun.
“Bodoh. Lalu, kau ingin aku pergi?”
Pertanyaan Sehun membuat diriku memutar otak. Dan aku baru menyadari kehadiran sifat egois dalam diriku. Aku tidak pernah ingin dirinya hidup tak layak seperti ini, tetapi tanpa kehadirannya pun aku mungkin tak bisa bertahan hidup. Bahkan tak pernah terpikir olehku sosok Sehun akan pergi meninggalkanku sendirian. Aku tak ingin ia pergi. Egois memang, itu karena diriku yang terlalu mencintai Sehun.
Meskipun aku tidak melihat wajahnya, namun dapat kurasakan ia tersenyum saat aku menggeleng pelan. Ia tahu aku mencintainya. Ia bahkan tahu aku yang tak bisa hidup tanpanya.
“Kalau begitu jangan berkata seperti tadi lagi.” kurasakan kedua telapak tangannya tengah membingkai wajahku lembut, sangat lembut. Ia mempersempit jarak yang ada, wajahnya berada sangat dekat sampai hidung kami bersentuhan. Bahkan hembusan napasnya yang hangat sangat terasa di sekitar wajahku.
“Aku tahu kehidupan yang kita punya sekarang ini mungkin kurang layak, namun aku tidak pernah menyesal. Aku bisa pergi meninggalkanmu kapan saja dan kembali ke orang tuaku kalau aku ingin. Tapi aku tidak bisa. Percayalah, kebersamaan membuat hidup kita menjadi sempurna. ”
Sosok wajahnya terasa semakin buram sekarang. Mataku tak dapat melihatnya dengan jelas karena air mata telah mengumpul di kedua pelupuk mataku. Aku berusaha menahan air mataku yang sudah berteriak ingin keluar dengan menggigit bibir bawahku.
“Cengeng. Aku mencintaimu.”
Dan ketika kata kata darinya berakhir, jarak diantara kami terhapus begitu saja olehnya. Kurasakan bibirnya menyentuh lembut bibirku, mengecupnya dengan agak lama. Aku memejamkan mataku erat seiring dengan air mataku yang menetes perlahan. Air mata yang mengisyaratkan betapa bahagianya diriku. Kedua sudut bibirku ikut melengkung naik saat kurasakan ia tersenyum.
“Aku juga mencintaimu.”

—P.E.R.F.E.C.T—
Aku mencintainya, begitu juga dirinya yang mencintaiku. Hidup yang kami berdua miliki memang tidak berjalan sesuai dengan harapan. Tak ada kehidupan yang sempurna. Namun ketika kami saling berbagi kasih dan melengkapi satu sama lain, semua terasa sempurna. Karena dia adalah milikku dan aku adalah miliknya. Saling membutuhkan, saling memiliki. Aku mencintainya, a guy who makes my life perfect, Oh Sehun.

FIN

Don’t forget to RCL guys and… sorry for the bad poster. Saya males ngedit jadi cuma ngedit pake paint hehe. oke, annyeong!

About fanfictionside

just me

5 thoughts on “FF/ PERFECT/ EXO

  1. Ini kenapa si thehun jadi manly gini yak?
    Kapan ya thehun bisa kaya gitu?
    Ah jadi berasa jadi cewe itu😀
    Punya suami kaya gitu mah adem banget dah,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s