FF/ GOODBOY? / BLOCK B/ 1 of 2


Author: AlvianyHwang
Title: GOODBOY? 1 of 2
Cast:
+ Kim Yukwon (BLOCK B’s UKWON)
+ Choi Chan Mi (Ocs)
+ Jeon Jung Kook (BTS’s Jungkook)
+ Block B members
Genre: romance,
Length: chapter, 1 of 2

NB:
Hello readers!
Aku datang lagi dengan FF yang terinspirasi pas liat MV block B yang baru, VERY GOOD. Tepatnya pas close up version. Saat itu aku sedikit melted dan terpukau liat wajah imut+badboynya Ukwon.
Untuk apa-apanya aku gak bakal kasih bocoran(?) karena FF ini juga sebagai hadiah kemenangan Block B untuk pertama kalinya di acara musik. Buat readers especially BBCs, enjoy your read time okay?
Check it out!

***

UKWON POV

Perempuan itu.

Mataku memicing melihat sosok perempuan yang berseragam sama seperti ku tengah berlari di sekeliling lapangan sekolah ku yang besar. Wajah manisnya tampak menekuk bukti kekesalannya saat itu. Apa yang dia lakukan? Apa dia di hukum?
Tapi sepertinya tampang sepertinya tidak ada ciri-ciri siswa yang nakal atau suka membangkang peraturan sekolah seperti ku.

Perempuan itu berhenti berlari dan mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal. Ah apa dia memerlukan cola yang kuminum saat ini?
Tapi sepertinya itu cukup memalukan dan terkesan sok kenal. Lumayan membuatku sangat terhibur ketika melihatnya dari bangku koridor luar sekolah yang tepat menjorok ke arah lapangan besar. Waktu bolosku jadi menyenangkan.

“Ya. Kim YuKwon kelas 1-3.”
Aku meringis ketika merasakan kepalaku seperti di benturkan oleh buku tebal. Aku menoleh dengan muka kesal.
Ternyata wali kelasku, Jaesuk ssaem. Lelaki tua berkacamata yang selalu sok memerintahku yang tentunya dengan memanfaatkan jabatan gurunya itu. Kenapa lelaki tua ini harus muncul heh?

“kau membolos lagi hah? Pelajaran apa sekarang?” tanyanya dengan tampang menyebalkan. Aku mendengus tak senang. Malas menjawab pertanyaannya.
“pelajaran apa sekarang? Apa aku perlu memanggil ayahmu?”
“AH BAHASA INGGRIS!!”
Ini mengerikan. Kenapa guru ini harus tahu kelemahan ku sih? Tak bisa ku bayangkan jika ayah ku yang menyeramkan harus tahu tingkah ku di sekolah saat ini. Cukup dengan hukuman menghentikan fasilitas mewahku karena ulah ku berkelahi di sekitar Insadong hingga mengaitkan pihak kepolisian. Aku tak mau merasakan neraka seperti saat itu lagi.
Jaesuk ssaem mendengus prihatin ke arahku.
“apa kau sangat membenci pelajaran itu hingga setiap pelajaran itu kau selalu membolos. Eric ssaem melaporkan absen menakjubkan mu itu padaku.”
“Aku tidak suka bahasa inggris. Bahasa menyusahkan. Bukankah kita orang korea? Gunakanlah bahasa korea!”

BUK!!

Ah shit. Guru ini lagi-lagi memukul kepalaku dengan bukul tebalnya.
“jadi menurutmu orang korea harus terus menggunakan bahasa korea? Apa kau kira bahasa korea saja bisa membantumu sukses di masa mendatang??? Pikiranmu itu memang terlalu dangkal. Aigo~ kenapa kau bisa jadi murid SMA?? Aku yakin mengerjakan soal sekolah dasar saja kau tidak bisa!”
Omelnya panjang lebar. Ya, dia memang ahlinya melakukan hal itu.
“kenapa kau begitu merendahkan ku?? Ya! Aku hanya lemah di bahasa inggris!!”
“lalu apa yang kau bisa??? Matematika?? Sains?? Beritahu aku atau setidaknya membuatku bangga karena menjadi wali kelasmu!!”
Ah sial. Guru ini benar-benar menguji kesabaranku. Tapi memang apa yang ku bisa? Matematika? Sains? Itu lebih aku benci di banding bahasa inggris.

“dan juga rambutmu. Berapa kali aku bilang untuk menghitamkan rambutmu!!”
Jaesuk ssaem menarik rambutku dengan kasar. Aku meringis kencang dan mencoba menahan laju tangannya. Menghitamkan rambut? Ah itu bukan gayaku. Rambutku saat ini memang begitu mencolok di banding warna rambut yang pernah ku coba dulu.
Warna putih abu-abu terang dengan gaya sedikit messy ponny. dan sekarang guru ketinggalan jaman ini memintaku untuk menghitamkan rambutku?
Lebih baik ia mengganti kacamata ketinggalan jamannya itu saja dulu.

Saat Jaesuk ssaem sibuk mengomeli ku dengan sejuta kata-kata sok inteleknya, tiba-tiba perhatianku mengarah pada sosok perempuan yang berjalan ke arahku.
Ah perempuan manis yang berlari tadi. Dia tampak kelelahan.

“Choi Chan Mi. Apa kau mendapatkan hukuman?”
Aku menoleh pada Jaesuk ssaem yang tiba-tiba berhenti mengomeliku. Ternyata dia menegur perempuan yang sejak tadi kuperhatikan tadi itu.
Perempuan itu tersenyum lemas pada Jaesuk ssaem.
“nae ssaem. Aku tadi telat dan Sooro ssaem menghukumku seperti ini.” Jawabnya dengan tawa renyah. Sikapnya begitu sopan, aku semakin yakin dia bukan termaksud siswa nakal.
“baiklah. Kembali ke kelasmu dan jangan telat lagi.”
“baik ssaem.”
Perempuan itu membungkukan badannya, dia sebentar menatap ke arahku dan kemudian berlalu meninggalkanku dan Jaesuk ssaem.
Dari tatapannya tadi dia tampak sedikit ragu untuk menatapku, seperti ada ketakutan dari matanya?
Kenapa? Apa dia juga sudah mendengar soal keberingasanku?
Ternyata aku cukup terkenal.

“kemana fokus mata mu hey??”
Jaesuk ssaem menjewer kupingku yang spontan langsung membuatku teriak dengan ringisan. Aku memegang tangan Jaesuk ssaem, berusaha meringankan jeweran lelaki tua itu.
“sekarang kembali kekelasmu dan ikuti pelajaran dengan tenang! Dan kutunggu rambut hitammu!”

Ah sial.

***

CHANMI POV

Aku menoleh ke belakangku.

Lelaki itu. Kim Yu Kwon. Aku tahu sekali siapa dia.
Adik kelas yang terkenal tak tahu aturan dan kehidupan bebasnya. Cukup membuatku terkejut juga ketika melihatnya secara dekat.
Sudah bisa di pastikan lelaki itu pasti tengah di marahi oleh Jaesuk ssaem. Untuk apa dia berada di luar kelas di jam pelajaran seperti ini? Dan juga rambutnya yang mencolok itu.
Aku melanjutkan laju jalanku menuju kelas. Untuk apa aku terlalu memikirkannya?
Ya. Ku akui, ah bukan hanya aku. Tapi semua murid perempuan di sekolah ini mengakui ketampanan Yukwon. Lelaki itu memang terbilang tampan dan juga imut. Imut? Ah sepertinya itu point dari ku saja. Tak akan ada yang mencap Yukwon itu imut, hanya aku.
Tapi Yukwon terlihat imut untukku. Tatapan dari mata sipitnya memang tajam dan melelehkan, tak ada yang pernah melihat Yukwon tersenyum. Dia tak pernah tersenyum.
Tapi aku pikir ketika Yukwon tersenyum pasti akan terlihat sangat imut.

Aku tertawa sendiri ketika menyadari apa yang ku pikirkan dari tadi.
Tak terasa aku sudah tiba di depan pintu kelasku. Ternyata Sooro ssaem sudah meninggalkan kelas, kelas tampak sedikit riuh tanpa guru.
“kau benar-benar beruntung tidak mengikuti pelajaran Sooro sunbae tadi.” Ucap Minyoung temanku dengan muka cemberut ketika aku baru mendudukan diriku di bangku kelas.
“ohya? Apa pelajarannya tentang penalaran kimia lagi dan kalian satu persatu harus mengerjakan soal yang ia kerjakan di papan tulis?” tebakku asal.
“gotcha! Itu yang membuat muka seluruh kelas jadi pucat, selain kau tentunya.”
Aku tertawa terbahak. Aku memang benar-benar beruntung. Kimia? Ah hal yang paling aku benci dan aku terbebas dari pelajaran mematikan itu.
Minyoung mengeluarkan sekotak Pocky dari tasnya.
Aku meraih sebatang pocky ketika ia asik mengunyah.

“apa waktu bolosmu itu menyenangkan?” Minyoung menatapku dengan masih memasang tampang IRInya.
“ya. Aku tidak bolos, bukannya Sooro ssaem yang menyuruhku keluar dan tidak mengikuti pelajarannya?” ledekku memeletkan lidahku dan lalu tertawa.
“sebaiknya aku harus mengikuti cara telatmu itu di pertemuan Sooro ssaem berikutnya.” Gumam Minyoung menyenderkan tubuhnya ke tembok ambang jendela.
Aku menggelengkan kepalaku dan meraih ponselku.

“ah. Dia. Yukwon si berandal itu.” Ujar Minyoung tiba-tiba.
Perhatianku pada ponsel tersita begitu saja. Aku mengikuti arah kepala Minyoung dari jendela. Jaraknya cukup jauh dari tempat Yukwon berada. Tapi terlihat jelas lelaki itu sedang mencoba keluar dari halaman sekolah dengan motor besarnya itu.
“kabur dari sekolah?” tebakku masih tetap menatap kepergian Yukwon.
“ku rasa tidak. Penjaga gerbang sekolah kita membukakan gerbang untuknya. Tak mungkin juga ia bisa bolos dengan mudah seperti itu.” Sambar Minyoung yang juga menatap lurus sama sepertiku.
Aku kembali ke posisi dudukku tadi.
“eoh? Kenapa kau jadi tertarik melihatnya? Biasanya kau masa bodo dengan semua berita tentang lelaki itu.” Minyoung menatapku dengan mata besarnya.
“jinjayo? Aku rasa kau yang terlalu fokus pada si Yukwon itu dan tidak memperhatikanku. Aku juga selalu mau tahu dengan semua gosip tentangnya kok. Termaksud kabar tentang kehidupan bebasnya itu.” Jawabku kembali asik dengan game di ponselku.
Minyoung diam sendiri. Aku pikir dia juga menyetujui ucapanku.
“dia memang menyeramkan sih. Tapi dia tampan, aku pikir terlalu sayang image buruknya itu. Seandainya yukwon itu murid baik-baik pasti dia sudah jadi dambaan di sekolah.” Ucap Minyoung menggelengkan kepalanya membuat rambut pendek coklatnya tersibak lucu.
Aku tersenyum. Menjadi siswa baik-baik dan lalu menjadi dambaan sekolah? Aku pikir itu membosankan.

***

AUTHOR POV

Restauran mewah.

Yukwon mengerutkan keningnya melihat tempat tujuan yang ayahnya perintahkan untuk datang. Tiba-tiba saja ayah Yukwon menyuruhnya untuk datang. Untuk apa sebenarnya? Apa dia berbuat kesalahan lagi?
tapi apa perlu mengomelinya di restauran mewah? Dan juga cukup mencurigakan memikirkan gelagat ayahnya yang rela membuat anak lelakinya itu membolos. Padahal sang Ayah yang berwibawa selalu ingin Yukwon menjujung ilmu pendidikan yang tinggi.

Yukwon berjalan ragu ke dalam restauran mewah itu.
Ia berasa salah kostum ketika menyadari ia menggunakan seragam sekolah di tempat seperti itu.
Hingga ia bisa melihat sosok sang ayah yang tengah bersama dengan sosok lelaki tua yang seumuran dengan ayahnya. Ayah Yukwon melambaikan tangannya pelan ke arah Yukwon dengan senyuman sumringah dari wajah sang ayah yang biasanya jarang sekali tersenyum.

“kenalkan ini anakku yang tadi kuceritakan. Kim Yukwon.”
Ucap sang ayah berdiri dan merangkul Yukwon. Yukwon sedikit bingung dengan semuanya.
Lelaki tua itu berdiri dan tersenyum ke arah Yukwon.
“Yukwon.” Tegur sang ayah seperti memberi teguran agar Yukwon bersikap sopan di depan lelaki tua itu. Yukwon tersadar dan membungkukan badannya hormat, dengan canggung tentunya.
Mereka pun duduk di tempatnya.
Yukwon sedikit melirik ke ayahnya dengan bingung. Apa yang ayahnya rencanakan?

“benarkan apa yang kubilang tadi. Putraku ini memang sedikit liar.” Canda Ayah Yukwon membuat lelaki tua di hadapan mereka tertawa.
“tidak apa-apa. Aku tidak mengharapkan sosok lelaki yang sempurna untuk putriku. Asal itu adalah putra mu aku sudah bisa percaya.”
Yukwon terhenyak mendengar ucapan lelaki tua itu. Dia sangat tak mengerti.
Ayah Yukwon tertawa.
“aku akan pastikan Yukwon akan menjadi lelaki yang baik untuk putrimu. Dia ini hanya penampilannya yang seperti liar, sifatnya itu sopan. Iya kan, Yukwon?” sang ayah menatap ke arah Yukwon. Tatapan sanga ayah seperti berubah dingin dan mengatakan iyakan-saja-atau-semua-fasilitas-mewahmu-kusita. Yukwon yang masih tak mengerti menegukan ludahnya.
“n-ne ahjussi.” Jawab Yukwon dengan suara serak.
“ah tidak. Panggil saja aku ‘appa’. Jangan terlalu kaku.” Lelaki tua itu tersenyum.

Appa?
Maksudnya apa?
Yukwon menatap ayahnya dengan bingung. Berharap ayahnya mau menjelaskan maksud pertemuan ini. Serta maksud dari ‘panggil saja aku appa’ dan ‘menjadi lelaki yang baik untuk putrimu’.
Ayah Yukwon tersenyum dan menepuk bahu anaknya itu.
“bersiaplah untuk pertunanganmu Yukwon. Ayah tahu kau sudah tidak sabar.” Ucap sang ayah dengan santai.
Yukwon mematung mendengar ucapan yang meluncur begitu saja dari mulut ayahnya.
Pertunangan?
Tunangan?
Tu…….. APA????????

“APPA!!!!!” yukwon berteriak dengan rasa tak percaya dengan kondisi yang baru ia mengerti. Ia dijodohkan???

“ah putraku Yukwon memang selalu bersemangat soal seperti ini. Tenang saja appa akan mempercepat pesta pertunanganmu.” Ayah Yukwon menepuk-nepuk pundak Yukwon dengan tatapan seperti berkata iyakan-saja-atau-kau-mati.
Badan Yukwon terasa lemas. Ia tak tahu bagaimana harus melawan, tepatnya memang tak bisa melawan. Diam-diam dia begitu merutuki ucapannya saat itu.
Saat ayahnya menyita semua fasilitas mewahnya dengan pasrah dia meminta semua itu kembali dengan syarat apapun. Ayahnya langsung menjajikan perjodohan dengannya, dan saat itu ia mengiyakan begitu saja. Ia pikir saat itu ayahnya hanya bercanda.
Tapi kalau sudah begini?
Memberontak sama saja mencari mati. Yukwon terduduk lemas mendengar percakapan ayahnya dengan lelaki tua itu.

“ah itu putriku!!” lelaki tua itu berdiri dengan senyum sumringah.
Rasanya Yukwon sudah malas untuk menoleh atau sekedar memastikan bagaimana wajah tunangannya nanti.
apa wajah wanita itu akan buruk? Seperti Jung Juri? Atau tak jauh beda dengan Shin Bongsun? Ah mau seperti apapun itu sudah di pastikan pasti wajah wanita itu akan jelek. Tak akan ada wanita cantik yang mau di jodohkan.

“kenalkan ini putriku yang kuceritakan tadi. Namanya Choi Chan Mi.”

Yukwon tersentak mendengar nama yang disebutkan lelaki tua itu.
Choi Chan Mi?
Yukwon menoleh ke arah lelaki tua itu dan putrinya.
Mata Yukwon melotot tak percaya. Begitu juga dengan perempuan yang berseragam sama seperti Yukwon itu.
Choi Chan Mi.
Gadis yang tadi Yukwon perhatikan.

“Chanmi dengarkan appa. Masalah pertunangan yang appa ceritakan seminggu lalu. Ini adalah calon tunanganmu, Kim Yukwon. Kalian dari sekolah yang sama, appa harap kalian bisa saling akrab.”

APA INI LELUCON?

***

Kini Yukwon dan Chanmi duduk berhadapan hanya berdua di restauran mewah ketika kedua ayah menyediakan waktu berdua mereka dengan tujuan saling mengenal dan akrab.
Mengenal? Khusus untuk Chanmi, gadis itu sudah sangat mengenal bagaimana Yukwon.
Bagaimana bisa? Lelaki yang terkenal menakutkan di sekolahnya kini menjadi tunangannya?
Tak ada yang saling memulai pembicaraan. Mereka hanya diam tak tahu harus berkata apa. Yukwon menggaruk kepala belakangnya dengan bingung. Pikirannya begitu berkecamuk. Dia sedikit ragu dengan dirinya sekarang.
Rasanya ia sedikit tertarik untuk bertunangan dengan Chanmi. Dia memang sudah sedikit tertarik dengan Chanmi tadi. Ternyata jika dilihat dari dekat dan lama, perempuan itu tampak cantik dan manis. Rambut ikal bergelombang hitam sebahunya yang berponi.
Apa perempuan ini akan aneh melihat penampilan berandalnya saat ini?

Tiba-tiba Chanmi berdeham membuat Yukwon tersadar dari lamunan menatapnya.
“apa sebelumnya kau tahu aku?”
Tanya Chanmi dengan nada yang di pertegas. Sudah jelas tak ada keramahan dari cara berbicaranya. Yukwon menaikan sebelah alisnya, sialnya itu membuat chanmi berpikir Yukwon terlihat tampan.
Yukwon menggeleng dengan cepat.
“aku tak terlalu memperhatikan murid-murid di sekolah.” Jawab Yukwon dengan sikap sok coolnya.
“aku 2 tahun di atasmu. Aku sekarang kelas 3.” Ujar Chanmi dengan tegas.
Yukwon menatap chanmi dari atas hingga bawah, matanya seperti ragu dengan ucapan chanmi. Memang, tampang seperti chanmi lebih seperti murid SMP.
“jadi kau noona-ku kan?” ucap Yukwon masih dengan sikap sok cool.
Chanmi kembali berdeham.
“kemari.” Chanmi mendekatkan jaraknya dari Yukwon dan menyuruh Yukwon juga mendekat. Ia tak ingin kedua ayah itu mendengar ucapannya. Masih dengan gaya sok cool-nya Yukwon mendekat ke arah Chanmi.
“tak bisa kah kita bekerjasama membatalkan pertunangan ini? Aku tak bisa memaksakan masa depanku nanti. Tak ada yang bisa mempermainkan pernikahan.” Bisik Chanmi dengan muka lemas.
“lagipula aku yakin kau sudah punya orang yang kau suka. Kita harus bisa memperjuangkan hak kita. Ok?” Chanmi menatap Yukwon dengan yakin. Ia sangat yakin Yukwon akan setuju dengan rencananya.
“memangnya kau sudah punya orang yang kau suka?”
Tanya Yukwon, berbeda dengan perkiraan Chanmi. Muka chanmi tampak tegang.
“u-untuk sekarang sih belum. Makanya aku sekarang sedang mencari. Makanya terlebih dahulu-“
“aku tidak mau.”
Mata chanmi melebar mendengar ucapan Yukwon yang tiba-tiba.
“apa maksudmu?”
Yukwon tersenyum dengan sebelah bibirnya.
“aku pikir pertunangan ini cukup menarik untuk dijalankan.” Jawab Yukwon dengan santai.
Chanmi terhenyak.
“apa kau gilaaa????!! Ini bukan suatu hal yang bisa diper-“
CUP~
Ucapan Chanmi terhenti ketika bibir Yukwon begitu saja sudah mengunci bibir Chanmi. Ciuman yang ringan tanpa pergerakan. Dari kejauhan kedua ayah tampak terkejut dan senang melihat apa yang kedua anak mereka lakukan.
Yukwon melepas ciumannya, menatap Chanmi yang masih mematung tak percaya dengan apa yang di lakukan Yukwon.
“aku pikir aku tertarik denganmu noona. Jadi aku pikir ini sebaiknya di lanjutkan. Pertunangan tidak akan batal jika salah satu pihak setuju kan? Jadi menurutlah.”
Ucap Yukwon dan mengedipkan matanya dengan nakal dan senyuman yang merekah dengan sempurna di wajahnya. Yang sudah bisa di pastikan itu adalah senyuman licik yang palik licik bagi Chanmi.

***

CHANMI POV

BRUAK!!!

Aku sudah tidak memperdulikan omelan Ayah ketika aku membanting pintu kamar ku sendiri. Sepanjang perjalanan pulang di mobil Ayah terus memarahiku, padahal alasannya begitu sepele.
Menyebut Yukwon lelaki brengsek di depan ayah memangnya adalah hal yang fatal? Bukannya Yukwon itu memang benar brengsek. Seenaknya saja lelaki itu merebut ciuman pertamaku dengan muka sesantai itu.

Aku menatap kesal ke arah lantai. Mengingat sikap menyebalkan Yukwon tadi.
Ciuman pertama ku…. KENAPA HARUS DIA YANG MEREBUTNYA????!!!
Dan lagi kenapa harus seorang Kim Yukwon yang menjadi tunangannya?
Dengan cepat aku kembali menghapus bekas ciuman Yukwon tadi di bibir ku. Kenapa harus Yukwon juga yang mencuri ciuman pertama ku? Dan kenapa lelaki itu harus menyetujui pertunangan bodoh ini????

Dengan gerakan cepat dan kasar aku membuka pintu kamarku. Berjalan ke arah ruang kerja ayah dan membukanya tanpa permisi. Tampak ayah yang tengah konsen pada laptopnya terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba, sebelumnya aku tidak pernah bersikap selancang ini di depan ayah. Tapi dengan keadaan yang seperti ini membuatku jadi lupa daratan.

“appa! Aku tidak mau jika harus bertunangan dengan Yukwon!!” tolakku dengan cepat.
Ayah sudah akan membuka mulutnya menjawab ucapanku tapi dengan cepat juga aku berujar lagi.
“appa tidak tahu siapa Yukwon! Dia itu murid yang paling di takuti di sekolah karena latar belakangnya yang menyeramkan!! Apa appa mau menyerahkan hidup putri satu-satunya pada preman seperti dia???”
Ayah menatapku dengan tenang. Mungkin ia juga sudah lelah untuk memarahi ku atau dia akhirnya mengerti dan memutuskan membatalkan pertunangan ini? Semoga saja.
“dia itu putra dia tuan Yunshik, jadi tak mungkin latar belakangnya menyeramkan. Kau itu kan sudah janji pada appa akan mengikuti perjodohan. Jadi tak ada lagi yang namanya penawaran, toh Yukwon juga sudah menandaimu sebagai miliknya.”

DEG
Aku tahu pasti maksud ayah dengan ‘menandaimu sebagai miliknya’
Astaga, bahkan ayah sudah tidak marah lagi jika aku di sentuh oleh lelaki. Apa ayah begitu menyukai Kim YuKwon itu? Gila.

“appa tidak akan mengerti! Dia itu dikenal dengan Kim Yukwon sang berandal! Dia pernah terlibat perkelahian di Insadong dan berurusan dengan polisi!!!!”

“jika dia bisa berkelahi itukan semakin membuatmu terlindungi di tangannya.”

“t-tapi polisi appa! Yukwon pernah terlibat dengan kepolisian!! Dia punya catatan kriminal!!”

“setiap orang punya kisah kelamnya sendiri, Chanmi. Lagipula sekarang Yukwon sudah menjadi anak yang baik.”

“siapa bilang??? Tadi dia membolos pelajaran dan di marahi oleh guru!!”

“ah apakah kau bahkan sudah saling mengenal dan dekat dengan Yukwon hingga kau sampai tahu sedetail itu?”

“Appa!!! Pokoknya aku tak mau jika harus dengan yukwooooon!!!!!”

“CHOI CHANMI!!!!!!!!”

Aku diam takut ketika sudah mendengar ayah yang berteriak marah. Ayah memang keras kepala dengan segala keputusannya.

“appa sudah menunggu waktu yang lama untuk merencanakan ini dengan appa Yukwon! Ini semua demi kebahagiaanmu juga! jadi berusahalah untuk mencintai Yukwon!”

Tapi ayah… cinta itu tidak bisa dipaksakan…..
Rasanya aku ingin berkata itu di hadapan ayah, tapi rasa takut seperti masih menutup mulutku untuk berbicara.

Ayah menghentikan amarahnya dan menatapku dengan tenang. Dia beranjak dari duduknya dan memelukku dengan erat.
“appa sudah tua, Chanmi dan ibumu juga sudah tiada. appa tahu hidup appa tak akan lama lagi, makanya appa ingin kau sudah bisa punya sandaran hidup dari sekarang. Appa tidak bisa membayangkan jika appa mati dan kau masih terambang di dunia yang kejam ini seorang diri. Appa percaya dengan Yukwon.”

Ayah mengacak rambutku dengan lembut. suaranya begitu serak dan seperti menangis.
Aku tidak bisa berkutik dengan ucapan ayah.

Menjadikan Yukwon sebagai tempat bersandar di dunia yang kejam ini?
Itu bahkan lebih kejam dari membiarkanku seorang diri di dunia ini.

***

Rasanya hari ini tak ada semangat untuk belajar di sekolah. Pikiranku terus berkecamuk memikirkan pertunanganku dengan Yukwon. Semua terasa berjalan dengan cepat, tiba-tiba saja kini statusku sebagai tunangan Yukwon dan tak ada yang tahu soal itu.
Ah tidak. Tidak ada yang boleh tahu soal ini! Aku belum siap menjadi bahan gosip di sekolah ini. Aku tak mau mereka mencapku buruk dan juga sama dengan Yukwon! Tidak!! Tidak boleh!!!

“Chanmi.ya. apa kau frustasi?”
Minyoung mengerutkan keningnya ketika menatapku yang tengah mengacak rambut yang memang dapat kupastikan aku memang terlihat frustasi sekarang. Aku menatap Minyoung dengan pucat.
Jika harus kusimpan sendiri pasti itu juga akan membuatku semakin frustasi. Tapi jika aku bercerita pada Minyoung, aku takut gadis ini akan memberitahu kesemua murid. Ah tidak, Minyoung sahabatku, dia tak akan setega itu.
“Minyoung.”
Minyoung langsung menatapku dengan raut penasarannya. Sepertinya dia memang menungguku untuk mengatakan penyebab kefrustasianku. Tapi entah kenapa rasanya berat mengatakan semuanya. Menjadi tunangan seorang YUKWON yang di takuti? Ah tidak, tuhan tolong katakan jika semua ini hanyalah mimpi buruk.

“Choi Chanmi!”
Aku menoleh ketika seseorang memanggilku.
“sasaeng fans-mu mencari mu lagi!” goda Changsub, salah satu biang kerok di kelasku.
Aku sudah sangat tahu siapa yang dia maksud.
“anak itu mencarimu lagi? Apa kau sudah tegas menolaknya?” Minyoung ikut menatap sosok sasaeng fans itu.
“aniya. Dia tidak menyatakan cinta seperti yang kalian pikirkan selama ini. Dia hanya memintaku untuk kembali ke klub tari.” Jawabku dengan raut dingin, enggan menemui sosok yang tampak menungguku di depan pintu kelas.
Jeon Jungkook, lelaki yang 2 tahun lebih muda dari ku. Jika Yukwon sudah aku anggap layaknya anak kecil yang hanya beda satu angkatan di bawahku, apalagi dengan Jungkook yang bahkan sekedar meladeninya aku malas sekali.
Berkali-kali lelaki itu memaksaku untuk kembali mengikuti klub tari modern di sekolah dengan berbagai alasan. Alasan yang paling membuatku tidak habis pikir adalah saat dia mengatakan ‘kesepian jika tidak bersama ku di klub tari’
Lelucon apa yang sedang ia buat?

“noona.”

Ck. Decakan kesal langsung keluar dari mulutku ketika sosok Jungkook sudah berada di depanku dengan muka sok polosnya. Sejak kapan dia sudah mulai berani masuk ke ruangan kelas 3?
“noona. Sebentar lagi tim tari akan mengadakan couple dance. Dan aku benar-benar tidak mau berpasangan dengan yang lain selain noona.” Rengeknya dengan gaya aegyo yang selalu menjadi andalannya.
Aku tidak ada niat untuk menggubrisnya, perhatianku kini terpaku pada layar ponselku dan memainkan subway surf favoritku.
“noona~ kenapa kau jadi sangat tega denganku?” Jungkook meraih tanganku dengan paksa dan merengek manja.
Apa dia tidak merasa malu dengan tubuh yang tidak lagi kecil bersikap seperti itu? Aku saja yang melihatnya malu.
“apa berpasangan dengan Chanmi sangat penting bagimu? Ku dengar di klub tari ada Minji yang jago menari. Lalu ada Bora juga yang terkenal dengan lyrical dance-nya seperti Chanmi-“
“aku hanya mau Chanmi noona!”
Potong Jungkook dengan cepat.

Haaah. Menari?
jujur aku sudah tidak ada semangat untuk menari semenjak ibu meninggalkan ku 1 tahun yang lalu. Apalagi menari juga tidak akan membuatku melupakan semua rasa sedihku.
Aku menatap Jungkook dengan tajam, sepertinya lelaki itu sedikit takut dengan tatapanku yang aku pikir sedikit menusuknya.
“tak bisakah kau menyerah? Aku tidak akan mungkin menari lagi. Apalagi aku sudah berjanji dengan ayahku untuk berhenti menari. Kau… kejarlah cita-citamu itu sendiri. Kau itu masih muda, saranku, sebelum sesuatu yang akan membuat mimpimu berubah 180derajat cobalah menikmatinya selagi bisa tanpa memikirkan orang lain.”
Aku menepuk bahu Jungkook. “fighting.” Ucapku pelan dan berlalu keluar kelas meninggalkan hinggar bingar kelas yang terasa seperti bom yang siap memecahkan kepalaku.

Langkah ku terhenti ketika sosok yang kini sangat aku benci dan hindari sudah bersandar pada dinding samping pintu kelasku, Yukwon.
Yukwon menatapku dengan tatapan datar. Ya, Yukwon yang tak pernah tersenyum. Aku baru mengingat imejnya.
“hai.” Jawabnya dengan tampang menyebalkannya. Aku mendengus dan berlalu meninggalkannya.
“Ya.” Dia mengikutiku dengan cepat. Ah bahkan meskipun satu tahun di bawahku tubuhnya tetap tinggi dan tegap.
“apa kau baru saja memarahi seorang Jeon Jungkook?” tanyanya yang mengikuti langkah kakiku. Aku tak mau menjawabnya, dan memang malas.
“dia itu sainganku di dunia tari sebenarnya.”
Langkahku terhenti. Dunia tari? Aku menatap wajah Yukwon tak percaya. Apa dia anak klub tari juga?
“YA! Kau tertipu!!” Yukwon menoyol keningku dengan cepat dan lalu tertawa terbahak. Aku mengerutkan kening sekaligus terkejut dengan apa yang dia lakukan pada keningku.
“apa kau baru saja menipuku dan menoyol keningku?” tanyaku dengan kesal. Kenapa bisa ada anak sekurang ajar dia?
Yukwon menatapku dan menjulurkan lidahnya dan sialnya kenapa aku berpikir itu menggemaskan?
“kau saja yang terlalu bodoh. Apa kau tidak tahu seorang Yukwon tidak akan mau berpikir untuk mengikuti kegiatan klub apapun yang merepotkan.” Jawabnya dengan muka yang kembali sok.
“lalu kau pikir kalau aku akan tahu semua yang kau lakukan. Ya, Kim Yukwon. Apa kau berpikir kalau kau itu terkenal di sekolah ini hingga seluruh murid harus mengetahui apa yang sedang kau lakukan??”
“tentu saja.”
Jawabnya langsung dan percaya diri. Kenapa dia sangat menyebalkan???

‘”noona-“
Aku menoleh ke arah sosok yang memanggil noona dengan lantang. Aku sudah tahu siapa yang memanggilku.
Jungkook terdiam menatapku yang tengah berdiri berdampingan dengan Yukwon. Apa dia terkejut?
“annyeong, Jungkook.ah~”
Yukwon melambaikan tangannya dengan malas dan seperti memaksakan diri.
Ah tunggu. Apa Yukwon juga tahu siapa Jungkook? Jika Jungkook mengetahui siapa Yukwon sih itu sudah wajar. Siapa sih yang tidak Yukwon? Berandal sekolah yang masa depannya sudah di pastikan suram jika tidak di bantu dengan kekayaan ayahnya. Ah itu membuatku frustasi.
Jungkook berjalan mendekatiku dan Yukwon, entah kenapa tatapannya berubah menjadi sangat tajam. Berbeda dari apa yang sering kulihat dari mata seorang Jungkook selama ini.
Jungkook meraih tanganku dengan cepat dan menarikku hingga aku terjatuh ke dalam pelukannya. Apa-apaan ini?
yukwon juga menatap Jungkook dengan tajam. Ah tatapan seperti itu di wajah Yukwon sih aku sudah sering lihat. Tapi kenapa mereka bersikap seperti ini?
“apa aku sudah merebut sesuatu yang sedang kau jaga?” tanya Yukwon dengan muka malas menatap Jungkook.
Aku menatap Jungkook. Aku juga tidak sebodoh itu, aku mengerti apa yang di maksud oleh Yukwon. Haaaah, apa salahku di kehidupan sebelumnya? Kenapa ada dua anak kecil yang memperebutkanku?
Jungkook mengeratkan pelukannya, aku mendesah nafas malas.

“aku…. Aku menyukai Chanmi noona! Aniya. Aku mencintainya. Jadi jangan pernah berdiri di sampingnya lagi dan berbicara dengannya!”

Aku terdiam ketika mendengar ucapan nekat Jungkook. Dengan cepat aku menatap Jungkook. Apa dia bercanda?
Dan sialnya ada beberapa murid yang melewati koridor sekolah, tempat kejadian. Mereka bersiul menggoda ketika mendengar ucapan Jungkook. Wajahku langsung memerah.

“HAHAHAHAHAHAHAHA.”
Apa?
Aku dan Jungkook menatap aneh ke arah Yukwon yang sedang tertawa terbahak. Tertawanya memang menyeramkan.
Yukwon tidak bisa menghentikan tawanya hingga ia memegang perutnya sendiri.
Dengan cepat juga aku melepaskan pelukan Jungkook dengan muka kesal.

“YA KALIAN! JANGAN SEKALI-KALI MEMPERMAINKANKU! AKU TIDAK ADA WAKTU UNTUK MELADENI ANAK KECIL SEPERTI KALIAN!” teriakku penuh emosi.
Jungkook menatapku dengan raut polosnya yang seperti merasa bersalah.
“noona-“

Tanpa menghiraukan ucapan Jungkook dan tawa Yukwon yang aku sendiri tidak bisa menebak kapan tawa itu akan berhenti, aku berjalan kelas menuju kelas meninggalkan dua lelaki gila itu.

Aku duduk dengan kesal di bangku, Minyoung menatapku dengan aneh.
“apa Jungkook tidak mengatakan apa-apa?” tanya Minyoung mendekatkan tubuhnya padaku.
“tidak. Tidak akan ada.” Jawabku dan membenamkan wajahku di telapak tangan dengan frustasi. Minyoung mendengus dan kembali memainkan ponselnya.

Ah aku benci ini. Mimpi buruk apa yang membawaku harus berjalan di alur kehidupan seperti ini?
Kenapa aku tidak tercipta sebagai Choi Chanmi yang hidup di keluarga sederhana tanpa paksaan dalam memilih jodoh hidupnya dan berpacaran dengan lelaki tampan yang lebih tua? Kenapaaa?

Trililililit

Ponselku berbunyi tanda pesan masuk. Dengan malas aku meraih ponselku dan membuka pesan itu dengan kesal.

From: unknown number

Sepertinya seru juga jika membayangkan cinta segitiga antara kau-aku dan jungkook. Hahahaha tunggu sebentar. Serius, aku tidak bisa berhenti tertawa.
Hidupmu sangat penuh dengan warna, noona.

Yukwon yang tampan

Aku diam menahan emosi melihat pesan yang aku sangat tahu siapa pengirimnya.

AAAAAH!!!!!

Mau seperti apa lagi kehidupanku nanti?

To be continued

About fanfictionside

just me

22 thoughts on “FF/ GOODBOY? / BLOCK B/ 1 of 2

  1. Appa?
    Maksudnya apa?

    bingung gua bacanya… hahaha

    aduuuhhh pas bangget lah cast nya u kwon jongkook~~~~~~~~~~~~~
    aaaghh gua mah mau u-kwon bos mafia juga ayo ayo aje disuruh tunangan >_<

  2. UNNIE PLIS … JGN BUAT NAN KECEWA … TOLONG LANJUTIN FF INI YA PLISS UNNIE .. APALGI CAST NYA SI IDIOT UKWON …. PLIS … OK ??? JGN LUPA FF BTS mu ITU UNN . LOVE YA :3

  3. kyaaaaaa !!!!!!! yukwon oppa !!!.!
    wah akhirnya nemu ff yg cast nya block b dgn gaya bahasa yg bagus.hahaha
    next next next !!!!
    ah..annyeong aku reader baru.heheh
    salam kenal 🙂

  4. ff ini kenapa ga dilanjut.jarang2 nemu cast ukwon….cocok sih dia jadi dongsaeng2 berandal… ceritanya juga bagus… berharap ini dilanjut ya

  5. thor, ceritanya dilanjut yaa.. sayang kalo nggak diterusin, ceritanya bagus banget thor.. aku udah penasaran lanjutannya, reader lain juga pasti penasaran.. cepet comeback ya thor buat ngelanjut ini ff.. ^^ kita tunggu kelanjutannya thorr.. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s