FF oneshoot/ YOUR DREAM/ CNBLUE


title: YOUR DREAM
author: Alvianyhwang
cast:
+ Choi Hyo Bung (OC)
+ Lee Jong Hyun (CNBLUE’s jonghyun)
length: oneshoot
genre: romance, pg-15, music

nb: jika kalian tahu ff THESE DAY CNBLUE-ku yg kemarin, ini adalah sekuel dari story these day itu.
okedeh langsung aja deh.
check it out!

image

*

Like a music you play for me, like a
sweet hum you sing for me,
each minute, each second becomes
so precious. I want to hear it
everyday, I love, love, love you.

I want you oh my love. Please love
only me. Because even when other
loves change, I love you.
Oh my love, my small heart that
pictured you. I’ll always hug only
you.
(love girl by. CNBLUE)

*

“aku mencintaimu.”

“aku mencintaimu.”

“aku mencintaimu.”

pantai itu. ombak itu. hembusan angin musim panas itu.

panama. lelaki itu. suara itu.

*

Hyobung, gadis berusia 23 tahun itu terbangun dari tidurnya dengan mata melotot tajam secara tiba-tiba. jantungnya terus berdetak kencang. keringat trus mengucur dari pelipisnya.

“mimpi?”

ia menatap sekitarnya. mengamati hampa jam weker disampingnya yang tak berhenti berdering.
ia meraih keningnya. kepalanya terasa berat dan terasa pening.
ia sadar saat ini ia terlambat menuju tempat kerjanya tapi hal itu tak membuatnya tergesa-gesa mengejar keterlambatannya.
ia terus memikirkan sosok namja itu. Jonghyun.
bahkan ketika ia bertemu jonghyun di jejalanan Seoul kemarin itu juga mimpi? apakah mimpinya senyata itu?

“Ya. mau sampai kapan kau tidur? ada namja yang membawa gitar terus menunggumu dibawah.”
tiba-tiba Minhyuk, kakak lelakinya membuka pintu kamar dan menatap malas Hyobung.
mata Hyobung terbuka lebar.

*

Hyobung berlari keluar rumahnya dengan pakaian rapih meski sedikit terlihat terburu-buru. dia menemukan sosok Jonghyun. namja itu tengah berdiri manis menunggu Hyobung di depan rumah dengan tas gitar di rangkulan lengannya.
Jonghyun menatap Hyobung dan tersenyum lebar.
Hyobung juga menatap Jonghyun tak percaya. ini bukan mimpi? pikirnya dengan mata melebar.
Jonghyun tersenyum.
“ternyata cukup sulit berada disini. mungkin karena sudah lama sekali aku tidak berada di Korea.”
hanya itu yang ia ucapkan.

*

Hyobung dan Jonghyun melangkah sejajar di sisi jalan setapak Seoul untuk menuju tempat kerja Hyobung.
Jonghyun asik melihat-lihat jejalanan Seoul dengan senyum terus merekah. ia seperti anak kecil yang menemukan hal baru di hidupnya. begitu manis.
Hyobung tersenyum melihat tingkah Jonghyun, bahkan namja itu juga memetik daun di pohon dan menghirupnya.

“apa begitu menyenangkan?”

pertanyaan Hyobung membuat Jonghyun menoleh ke arahnya, mengabaikan daun itu lagi. namun ia menyimpan petikan daun itu di sakunya.
Jonghyun tersenyum dan menatap sekitar.
“entah kenapa aku sangat rindu dengan negeri ini. ya mungkin karena aku adalah orang korea.
tapi….. negeri ini sangat banyak berubah daripada 12 tahun lalu.
aku suka suasana disini. meski tidak sepi, tapi membuat nyaman.” Jonghyun menatap sekeliling dengan senyum trus merekah di wajah tampannya.
mata tajamnya begitu serasi dengan bola matanya yang indah.
Hyobung menatap Jonghyun.
“bukannya kau suka dengan suasana berpantai?” tanya Hyobung menaikan alis kanannya, menunjukan muka penasarannya.
Jonghyun juga menatap Hyobung dengan lamat. dada Hyobung trus bergemuruh, ia menggigit bibirnya sendiri.
“haruskah aku memberi tahu alasan aku menyukai tempat ini?”
mata Hyobung sedikit melebar mendengar ucapan yang keluar dari bibir Jonghyun.
tatapan Jonghyun begitu berbeda, ia seperti berkata dengan tatapan lembutnya itu.
“aku-”
“sedang apa kau disini?”
sebuah tangan tiba-tiba menyentuh pundaknya dari belakang. menghentikan ucapannya begitu saja. Hyobung menoleh. matanya melotot terkejut ketika mendapati sosok Yonghwa di belakangnya. sosok yang satu tahun yang lalu hampir menghentikan sebagian waktu dari hidupnya.
Hyobung menatap Yonghwa kesal. apa dia mengenal sikon? bagaimana ia bisa menyapa ketika melihat dirinya bersama orang lain?
Hyobung membuka mulutnya untuk membentak Yonghwa.

“apa yang kau lakukan sendirian disini?”

Hyobung lupa akan niatnya menghardik Yonghwa. ia menatap Yonghwa dalam diam dan ketergunan hebat di pikirannya.
matanya tepat menatap mata Yonghwa. padahal seharusnya ia begitu muak untuk menatap mata lelaki itu.
“apa kau tidak melihat orang lain di hadapanku?”
tanya Hyobung masih dengan tatapan kosongnya menatap Yonghwa. matanya memerah menahan airmata yang entah mengapa terasa ingin terjatuh. Yonghwa menatap Hyobung dengan bingung. mata bulatnya menatap ke arah depan.
“ani. Kau sendirian. Siapa yang kau maksud?” Yonghwa kembali menatap Hyobung dengan muka bingungnya.
Hyobung ikut menatap ke arah depannya dengan bergetar.

Tak ada siapapun. 

Tak ada sosok Jonghyun di depannya saat ini. Tidak ada. Yang terlihat hanya beberapa orang berlalu lalang di sekitar trotoar taman setapak Seoul.
“mwoya? Apa ini semua hanya khayalan?” ucap Hyobung dengan suara lemas.

“kenapa? Hei. Hei.”
Mata Hyobung terbuka dari pejamannya yang ia sendiri tidak tahu kapan ia lakukan. Ia menatap terkejut sosok Jonghyun yang sudah di depannya dengan muka bingung dan khawatir. Ia tampak mengibas-ibaskan tangannya di wajah Hyobung.
Hah? Ada apa?
Hyobung menoleh ke arah belakang dengan cepat, saat itu juga tampak sosok Yonghwa berjalan ke arahnya dengan muka dinginnya.
Mata Hyobung terbuka lebar. Jantungnya terasa berhenti berdetak.
“kau bisa melihat namja itu kan???” tanya Hyobung tiba-tiba ke arah Yonghwa dan menunjuk Jonghyun.
Yonghwa menatap ke arah tunjukan Hyobung dan tampak memasang wajah dinginnya. Hyobung masih menatap ekspresi Yonghwa, Hyobung menatap ke arah Jonghyun. Dan namja itu masih ada dengan muka bingungnya menatap Yonghwa.
“Siapa namja itu?” Yonghwa menunjuk Jonghyun dan menatap Hyobung dengan dingin.
“apa kau bisa melihatnya?? Dia bukan halusinasiku saja kan??? Katakan itu benar.” tanya Hyobung tanpa menjawab ucapan Yonghwa juga.
“AKU TANYA SIAPA NAMJA ITU??!!!” bentak Yonghwa tiba-tiba. Mata Yonghwa melotot seram, giginya mengertak menahan emosi. Beberapa orang di jalanan menatap mereka dengan aneh.
Hyobung sudah tahu apa jawabannya. Yonghwa bisa melihat Jonghyun.

Sret

Hyobung menoleh ke arah sosok yang membuat tangannya terasa tergenggam dengan erat.
Sosok Jonghyun yang menggegamnya dan menatap Yonghwa juga tajam dan dingin. Tatapan yang baru pertama Hyobung lihat dari sosok Jonghyun.
“kau siapanya?”
Yonghwa menatap Jonghyun tak kalah dingin, meski dari tatapannya ia begitu malas untuk meladeni Jonghyun.
“aku hanya namja yang baru ia kenal setahun yang lalu ketika ada seorang namja bodoh menyakitinya. Hanya itu.” jawab Jonghyun telak membuat mata Yonghwa melebar terkejut.
Jonghyun menatap Hyobung dan menarik yeoja itu berjalan pergi meninggalkan Yonghwa begitu saja.

Hyobung menatap Jonghyun. Menatap punggung Jonghyun, bahu bidangnya yang terlihat nyaman untuk di jadikan tempat bersandar. Rambut coklat gelapnya yang tampak berantakan dari belakang. Dan gitar di tasnya yang sudah seperti partner terbaiknya.
Tak terasa Jonghyun terus membawa Hyobung ke sebuah taman pohon pinus, semakin menjauhi kantornya.
Jonghyun menoleh ke arah Hyobung dengan senyum manisnya. Genggaman tangannya terasa hangat.
Hyobung juga menatap Jonghyun dengan lamat, tepat ke bola mata namja itu.
“maaf. Tapi entah kenapa aku merasa kesal dengan namja itu.” ucap Jonghyun tampak gugup dan menggaruk kepala belakangnya.

“kenapa kau minta maaf?”

Jonghyun terdiam mendengar pertanyaan Hyobung.
“padahal kemarin kau baru saja mengatakan kau mencintaiku. Aku kira itu hal yang sangat istimewa. Tapi sekarang kau bahkan bertingkah seperti tak punya hubungan apa-apa. Dan… apa kau nyata? kenapa kau selalu menghilang begitu saja? kau bukan halusinasiku kan??!!”
Hyobung menghentikan ucapannya. ia menatap tepat ke mata Jonghyun yang tengah terdiam. Mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri.
“halu… sinasi?”
Jonghyun menatap Hyobung. gumamannya masih bisa Hyobung dengar.
Jonghyun berjalan mendekati Hyobung, namun dengan satu langkah juga Hyobung mundur. mata Jonghyun menatapnya penuh rasa ragu seperti dirinya.
“kau… bukan hantu kan?”
tatap Hyobung takut. mata Jonghyun melebar mendengar ucapan Hyobung yang tak pernah ia sangka.
Hyobung sudah tak bisa berpikir jernih lagi soal Jonghyun. Ia berlari dengan cepat meninggalkan Jonghyun, namja itu juga tak bisa berbuat apa-apa. Ia menatap punggung Hyobung yang terus menjauh.

*

Jonghyun termenung menatap jemarinya sendiri. Ia tak menghiraukan anak-anak kecil yang tengah bermain di taman tempat ia duduk sekarang.
Dengan perlahan Jonghyun berdiri dari duduknya, ia membetulkan letak tas gitar di punggungnya.
Ia sendiri tidak tahu mengapa, langkahnya terasa enteng dari 6bulan yang lalu.
Pikiran Jonghyun terus bermain hingga ia sendiri tidak menyadari bahwa kini ia sudah berada di trotoar pinggir jalan raya.

“tubuh seorang pria berkewarganegaraan Korea selatan ditemukan terbujur tak berdaya di pinggiran laut Panama.”

Langkah Jonghyun terhenti ketika ia baru saja melewati toko elektronik yang menyajikan tayangan telivisi dari jendela kaca mereka. Ia menoleh dengan kepala berat ke arah bahasan telivisi itu.

“pemuda berusia 24 tahun bernama Lee Jong Hyun itu masih bernafas dan telah di bawa ke rumah sakit terdekat florida. Pihak rumah sakit masih menanti kehadiran sanak keluarga dari pemuda ini.”

Jonghyun terpaku melihat tubuhnya sendiri yang tampak tak sadarkan diri di kasur rumah sakit.

“padahal pemuda itu tampan ya.”
“dia pasti seorang surfer.”

Jonghyun tak menghiraukan pembicaraan dua yeoja disampingnya. Dia hanya terpaku dan tak bisa berpikir apa-apa selain melihat dirinya sendiri di layar televisi flat besar itu.

*

Hyobung keluar dari gedung kantornya dengan muka lesu. Ia menatap langit malam Seoul dan menarik nafasnya yang daritadi terus memenuhi rongga dadanya.
Langkahnya terhenti ketika mendapati sosok Jonghyun sudah berada di depannya.
“kau membuatku kaget.” ujarnya kesal. Jonghyun tidak mengatakan apa-apa dan hanya menatap Hyobung dengan lamat. Tatapannya tak bisa Hyobung artikan.
Hyobung berjalan melewati Jonghyun dengan muka tak bersahabat. Dia terlalu malas berdebat dengan Jonghyun sekarang. Palingan namja itu berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia itu bukan hantu atau semacamnya.

“mianhae…”

Hyobung tetap berjalan berpura-pura tak mendengar ucapan Jonghyun. Jonghyun mengikuti langkahnya dari belakang. Hyobung sedikit menarik urat bibirnya untuk tersenyum. Tingkah Jonghyun sekarang begitu manis.

“mianhae telah membohongimu.”

Langkah Hyobung terhenti. Ia terdiam mendengar ucapan Jonghyun yang entah mengapa langsung membuat jantungnya hampir berhenti.
Jonghyun berjalan pelan dan berdiri tepat di hadapan Hyobung. Hyobung menatapnya juga dengan mata penuh tanda tanya. Tak mengerti arti ucapan Jonghyun tadi. Maaf? Membohongi? Apa maksudnya?
“aku sendiri tidak tahu keadaanku sekarang. Aku baru sadar saat tak sengaja melihat siaran di tv. Aku…. Melihat tubuhku sendiri di tv. Mungkin kau pantas membenciku.” Jonghyun tertunduk, tak berani melihat mata Hyobung yang terasa seperti akan menusuknya.
Hyobung masih diam menatap Jonghyun, pikirannya begitu kosong.
Jonghyun mengeluarkan sesuatu dari sakunya, menaruh sebutir permata biru di tangan Hyobung. Genggamannya begitu nyata.
Jonghyun kini berani menatap Hyobung tepat ke matanya.

“mianhae…”

*

“pemuda berkewarganegaraan korea selatan itu kini tengah di rawat di rumah sakit XXXX Florida. Terhitung satu hari pemuda itu tak sadarkan diri, dia hanya mempunyai seorang paman….”

Mata Hyobung menatap kosong ke arah telivisi di sofa ruang tamu rumahnya. Ia begitu jelas melihat wajah Jonghyun yang tak sadarkan diri. Tubuhnya penuh dengan perban dan selang infus. Seolah dia sudah siap akan kematiannya.
“ckck aku pikir dia tak akan bertahan lama. Kritis begitu.” celetuk Minhyuk yang juga asik menonton TV.
“aish ganti saja. Bukannya di channel 5 ada acara musik tahunan??” Minhyuk meraih remot. Dengan cepat Hyobung menepis tangan Minhyuk membuat namja bermata sipit itu menatapnya bingung.
“tahu apa kau soal kematian? Selama ada keajaiban pasti nyawanya bisa selamat. Bukannya setiap manusia juga di beri satu kesempatan di setiap masalah dihidupnya? Jadi lebih baik kau diam dan berhenti berkomentar.”
Hyobung menatap Minhyuk penuh emosi. Tanpa berkata lagi ia beranjak dari duduknya di sebelah Minhyuk menuju kamarnya, meninggalkan Minhyuk yang masih terbengong-bengong.
“mwoya? Kenapa dia jadi marah seperti itu?” gumam Minhyuk menggaruk kepalanya sendiri.

Hyobung menutup pintu kamarnya. Duduk tepat di bangku meja belajarnya dengan satu tarikan nafas berat.
Dia menoleh ke arah langit malam dari jendela samping meja belajarnya. Menatap ribuan bintang yang seperti mengedip ke arahnya. Di saat itu juga pikirannya tentang Jonghyun mulai bermain. Tentang dirinya dan Jonghyun satu tahun lalu. Dan kemarin…
Dengan cepat Hyobung mengaktifkan laptopnya. Mencari tahu tentang peristiwa 6 bulan yang lalu. Peristiwa yang menimpa Jonghyun hingga membuatnya menjadi seperti sekarang.

*
2 days later

Florida. Summer. 2014

Mata Hyobung memicing mengamati gedung rumah sakit di depannya saat ini. Berusaha mencocokan dengan gambar yang ia genggam sekarang.
Yakin itu adalah gedung yang tepat Hyobung mulai berjalan mendekati gedung itu. Ia mencoba mengatur nafasnya.

Entah dorongan dari mana. Hyobung memutuskan menuju Florida untuk memastikan keadaan Jonghyun. Ia sudah tak menperdulikan pertanyaan dan pandangan aneh orang disekelilingnya saat itu. Dipikirannya hanya ada Jonghyun. Apalagi namja itu sudah tak pernah menunjukan dirinya lagi di hadapan Hyobung. Dia seperti menghilang. Seperti benar-benar lenyap dan Hyobung tak suka kemungkinan itu.

Kamar nomor 154. Itulah yang Hyobung tahu tadi dari seorang suster di meja resepsionis. Itu adalah kamar tempat Jonghyun di rawat.
Dengan gugup Hyobung membuka pintu kamar rawat itu. Ruangan Jonghyun adalah single room, saat itu juga Hyobung bisa melihat tubuh Jonghyun yang terbujur lemas.
Hyobung berjalan pelan dan dengan langkah berat mendekati Jonghyun.
Rambut dan penampilan namja itu masih sama dengan penampilan namja itu kemarin. Yang membedakan hanya pakaian yang ia kenakan sekarang. Jonghyun tampak mengenakan piyama rumah sakitnya.
Hyobung diam menatap keadaan Jonghyun yang tak pernah ia sangka akan seperti ini.
Dengan tangan gemetar Hyobung meraih pipi Jonghyun dan mengelusnya pelan.
“mwoya…? Lalu siapa yang mendatangiku kemarin? Apa kau sengaja dan ingin bertemu denganku?”
“kenapa keadaanmu bisa seperti ini? Kenapa kau terlihat sangat lemah sekarang. Ya. Jonghyun.
LEE JONGHYUN!!!!”
Airmata Hyobung tak bisa ia tahan lagi. Begitu sulit untuk menahannya.

Pintu kamar rawat Jonghyun terbuka. Tampak seorang lelaki tua sedikit terkejut melihat sosok Hyobung yang menangis di samping Jonghyun sambil menggegam tangan namja itu. Ia pun terdiam menatap Hyobung dengan helaan nafas. Hingga Hyobung tak sengaja juga menatap ke arahnya, dengan airmata deras membanjiri pipinya.

*

Hospital cafe.

Lelaki tua itu menyerahkan milk shake ice ke arah Hyobung.
Hyobung menatap milk shake dan lelaki tua itu dengan ragu. Tapi akhirnya ia meraih milk shake itu dan meminumnya.
“jadi… Apa hubunganmu dengan Jonghyun?” lelaki tua itu menatap Hyobung. Sama seperti Jonghyun, lelaki tua ini juga memiliki senyum yang hangat.
“uhmm aku hanya yeoja yang dekat dengannya satu tahun lalu. Melihat keadaannya di televisi keinginanku untuk kesini langsung membulat.”
“apa kau Hyobung?”
Hyobung menatap terkejut lelaki tua itu. Bagaimana ia tahu?
Lelaki tua itu tersenyum.
“tadinya aku tidak mau langsung menebak. Tapi ternyata aku benar kan?”
Hyobung masih diam menatap lelaki itu.
Lelaki itu mencodongkan badannya lebih maju ke arah Hyobung.
Untuk mengucapkan sesuatu yang penting, yang harus Hyobung dengar.

Mata Hyobung menatap Jonghyun yang masih tetap terbaring dengan tenang. Mata tajamnya seperti enggan untuk terbuka.
Beberapa luka memar di sisi bibirnya masih tampak terlihat.

“aku tahu namamu di igauan Jonghyun. Saat ia tertidur dia pernah menyebutkan namamu. Bahkan kemarin malam aku menemukan ini saat aku menggeledah tasnya untuk mencari bukti penyebab tenggelamnya ia selain terseret ombak.”

Hyobung menoleh dengan tatapan kosong ke arah sebuah buku harian bercover polos coklat yang ia taruh di tepi kasur Jonghyun.

“apa Jonghyun tidak membawa gitar bersamanya?”

“gitar? Dia sudah lama membuang mimpinya soal bermusik. Tepatnya satu tahun yang lalu… Jadi dia tidak membawa gitarnya.”

Hyobung meraih buku harian itu perlahan. Membuka buku harian itu dan menyusuri satu persatu bacaan yang di tulis Jonghyun. Tulisannya sedikit tidak rapih di banding dirinya. Jika dalam keadaan lain, mungkin Hyobung akan menertawai tulisan Jonghyun. Tapi tidak untuk saat ini.

Hal yang ditulis Jonghyun tidak lain adalah lagu yang ia buat sendiri. Kebanyakan lagu yang ia buat adalah lagu berbahasa Inggris dan Jepang.
Sibakan jari di halaman buku harian Hyobung terhenti ketika mendapati satu paragraf tulisan lain yang di buat Jonghyun. Itu bukan tulisan tentang lirik lagu atau puisi. Tapi itu seperti sebuah curhatan.

Apa kau tetap mengingatku disana?
Aku menantimu disini.
Apa kau tahu? Aku yang sekarang berbeda dengan yang dulu. Aku tidak tahu apa mimpi apa yang ku lalui sekarang.
Tolong kembalilah. Bantu aku menemukan mimpi ku lagi.

Aku mencintaimu, Hyobung.

Tes

Airmata sialan. Keluh Hyobung seraya menghapus airmata di pipinya. Tapi seberapa besar upayanya untuk menghapus airmatanya itu, airmatanya tak juga bisa berhenti terjatuh.
Hyobung menatap Jonghyun yang tetap terbaring tenang. Hyobung memeluk buku harian Jonghyun dengan erat di dadanya.
“mianhae..”
Ucap Hyobung serak dan terisak.
“mianhae. Maaf aku sudah meninggalkanmu 1 tahun yang lalu. Seharusnya aku kembali. Seharusnya aku menemuimu. Seharusnya aku menepis rasa gengsiku. Seharusnya kita tetap bersama hingga sekarang. Maaf maaf..”

Maaf..

*

“ini?”
Hyobung menatap gitar yang paman Jonghyun genggam. Paman Jonghyun tersenyum, seperti menyodorkan gitar itu padanya.
Hyobung tahu, itu adalah gitar Jonghyun yang selalu ia lihat menemani Jonghyun sebelum namja itu kehilangan mimpinya.
“aku rasa kaulah yang harus menanganinya. Aku terlalu tua untuk ikut campur.” ucap paman jonghyun tersenyum. Hyobung masih diam dan membiarkan paman itu menaruh gitar Jonghyun di sofa dan berlalu.
Hyobung diam. Dia menatap gitar akustik berwarna coklat itu dengan lamat.
Hyobung berjalan meraih gitar itu dan duduk dengan posisi yang sama dengan Jonghyun ketika memainkan gitar yang seperti sudah lama tak tersentuh itu.
Hyobung menatap Jonghyun yang masih belum sadar dari koma-nya.
“apa kau merindukan pemilikmu?” ucap Hyobung pelan seraya mengelus badan gitar itu dengan lembut.
“aku… Begitu merindukannya saat memainkanmu. Kalian perpaduan yang sangat indah.” Hyobung tersenyum ke arah Gitar coklat itu. Entah mengapa Hyobung seperti merasa gitar itu ikut tersenyum padanya.
Hyobung memeluk gitar itu dan memejamkan matanya.

Jonghyun menyerngitkan dahinya. Jemarinya sedikit tergerak.
Hingga ia membuka kedua matanya dengan perlahan. Ia bisa melihat atap ruang kamar rawatnya dengan pandangan sedikit rabun. Ia menoleh perlahan ke samping kanannya.
Nafasnya terasa terhenti melihat sosok Hyobung tampak di depan matanya. Sosok itu tengah tertidur dengan gitar di pelukannya. Itu gitarnya.
Tapi sekarang bahkan untuk berbicara saja ia sangat berat apalagi beranjak dari tidurnya. Tubuhnya terasa remuk.
Ia bisa mengingat semua yang terjadi padanya ketika jiwa lainnya mengambang menghampiri Hyobung di korea. Atau, apa itu semua hanya mimpi? Termaksud yang ia sekarang ia lihat kali ini?

Mata Hyobung perlahan terbuka. Hyobung mengerjap-erjapkan matanya tanpa menyadari Jonghyun yang kini melihat ke arahnya. Hyobung mengucek matanya.
Hingga mata mereka berdua kini bertemu. Hyobung terdiam mematung menatap kedua bola mata Jonghyun. Tubuhnya terasa lemas.

“h-h-hyo…”
Mati-matian Jonghyun mengangkat bibirnya untuk mengucapkan sesuatu.
Hyobung menaruh gitar di sampingnya. Perlahan ia bangkit dari duduknya dengan kaki gemetar.
Matanya memerah. Airmata seperti ingin meledak ketika melihat Jonghyun.
Mata Jonghyun yang kembali terbuka.
Hyobung meraih tangan Jonghyun yang tergeletak lemas.
“apa ini bukan mimpi? Katakan padaku semua ini bukan khayalan lagi. Katakan kalau semua ini nyata.” Hyobung menaruh tangan Jonghyun tepat di pipinya yang basah dengan airmata. Jonghyun tetap diam menatap Hyobung lamat.

**

4 days later

Hyobung mendudukan dirinya tepat di pinggir pantai Panama. menatap langit sore yang mulai berwarna oranye.
pantai Panama tak pernah gelap karena cahaya mercusuar dan bintang selalu menemani pantai kesepian ini.
angin bertiup menyibak rambut Hyobung yang terkuncir. Hyobung memejamkan matanya menikmati keindahan alam yang sangat nyata di depan matanya itu.
hingga tiba-tiba sebuah tangan menutupi matanya dari belakang.
Hyobung tersenyum.
“aku tahu itu kau.” ucapnya.
tawa Jonghyun terdengar. dengan segera namja itu duduk di samping Hyobung dan menyerahkan crepes pesanan yeoja itu dengan senyum lebar.
hyobung meraih crepes itu dengan senyum manis. ia sebentar melirik Jonghyun. namja itu, dan gitar itu.
ya, dia sangat merindukannya.

kau adalah alasanku untuk bermimpi.

jangan pergi lagi.

Hyobung menatap ke arah matahari yang mulai terbenam indah.
“Panama tidak pernah berubah.” ucap Hyobung tersenyum.
Jonghyun ikut tersenyum. dia meraih kerikil dan melempar bebas ke arah laut yang mulai pasang.

“apa kau ingin mendengarkan sebuah lagu?”

“heh? setelah kau melupakan mimpimu setahun yg lalu, kau masih ingat cara bermain gitar?”

“tentu saja. aku dan gitar sudah mengenal satu sama lain. meski saling melupakan, tapi pasti akan bersama lagi.”

tawa Hyobung terdengar renyah di antara suasana malam pantai Panama.
Hyobung menatap Jonghyun yang tampak memainkan gitarnya itu dengan tersenyum.
alunan These day terdengar lagi. syair yang begitu Hyobung rindukan dari setahun yang lalu.

Jonghyun berhenti menyanyi. dia menatap dalam Hyobung.
perlahan wajahnya mendekat dan Hyobung bisa merasakan deruan nafas Jonghyun yang begitu hangat. Hyobung memejamkan kedua matanya.
hingga kedua bibir mereka saling bertemu di antara keindahan malam berbintang.

ribuan bintang itu. cahaya mercusuar itu. deru ombak itu. pasir putih itu. gitar itu.
dan Panama.
kembali menjadi kisah cinta nyata kedua insan itu.

ya. NYATA

the end

About fanfictionside

just me

8 thoughts on “FF oneshoot/ YOUR DREAM/ CNBLUE

  1. ribuan bintang itu. cahaya mercusuar itu. deru ombak itu. pasir putih itu. gitar itu.
    dan Panama.
    kembali menjadi kisah cinta nyata kedua insan itu.

    gua udah enak bacanya… tiba tiba muncul kata keramat … ‘GITAR’ itu. suer dah. berasa Kai lagi goyang caesar diblakang gue.

  2. Ternyata jalan jalan sama roh yak ._. , trus kok bisa megang tangan si hyobung ._. Bisa ngambil daun .-. , yahh rada ga ngerti sih :v, tapi, over all bagus, daebak ^_^

  3. jdi jh itu adaaaa ya kirain bner2 halusinasi.. pi msih bingung ma cerita hyobung n jh setahun yg lalu mksud nya gmna thor mang mreka dlu udh pcaran sebelumnya atau gmna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s