FF EXO/ My EXOrcist/ chap. 2


Author : Nur RyeoRi0694

Title : My EXOrcist

Cast : EXO K’s Byun Baekhyun
EXO M’s Kris
EXO M’s Luhan
Choi Jun Hee (Juniel)
Heo Woori (OC)
Han Jinah (OC)
Cha Hyeri (OC)

Genre  : Romace, Fantasy

Rating: PG-15

Length : Chaptered

image

Disclaimer : Cerita ff ini terinspirasi
dari komik karya Kuze Mizuki yang
berjudul ‘first kiss’ dengan
perubahan cerita yang keluar dari
otak author sendiri😀
*****

Author POV
“Sial… Sial… Sial….” Gerutu Woori
dengan wajah ditekut masam.
“Ya ! Bersihkan yang benar, jika
tidak, akan ku tambah hukumanmu
menjadi membersihkan toilet
sekalian.” Tegur Jung seonsaengnim
melihat hukuman yang Woori terima
tidak dilakukan dengan benar.
Sapu di tangan yeoja itu memang
dengan posisi yang benar, tetapi
hasil yang dikerjakannya lah yang
tidak benar. Dedaunan kering yang
seharusnya berkumpul rapi menjadi
sebuah gunung kecil malah masih
berserakan dimana-mana. Seperti
bukan disapu, malah seperti
dengan sengaja dihamburkan
olehnya.
Tentu, karena memang yeoja itu
tidak ingin melakukannya. Pagi-pagi
berangkat dari rumah dengan
keadaan cantik dan menawan malah
harus mengerjakan hukuman,
hukuman yang tidak seharusnya ia
dapatkan. Seperti membuat
kecantikannya luntur terbawa
peluhnya yang berguguran
membasahi pelipisnya, ditambah
matahari yang memang sudah
bersinar terang dan panas.
‘Mana mungkin aku menggunakan
kekuatanku sekarang untuk
menyelesaikan hukuman ini’
pikirnya dalam hati.
“Dedaunan itu minta dikumpulkan
menjadi satu, bukan hanya
dipandangi Woori-ah ckckck” Tegur
namja yang telah berhasil membuat
Woori dihukum pagi ini.
“Ya ! kalau bukan ulahmu, aku tidak
akan terlambat dan menerima
hukuman ini Baekhyun-ah.
Aaiissshh.. Neo jinja.” Bentaknya
pada namja yang baru saja
menegurnya, Baekhyun.
“Hahahahah” Baekhyun hanya
tertawa lepas kemudian
meninggalkan Woori, menuju arah
teman sekelas mereka juga,
Chanyeol.
“Aaaa… Merepotkan sekali.” Yeoja
cantik itu menggeretu cukup
nyaring, membuat bukan hanya
beberapa pasang mata, melainkan
banyak pasang mata yang kemudian
menatapnya. Menatap bagaimana
yeoja yang cukup menyita perhatian
seluruh penghuni sekolah mulai
siswa tingkat 1 hingga tingkat 3 itu
melaksanakan hukuman paginya.
Sudah seminggu sejak Woori
menjadi bagian dari sekolah yang
langka akan makhluk yang bernama
yeoja itu. Dengan wajah cantik yang
dimilikinya, tidak heran jika dia
menjadi salah satu yeoja yang
populer di sekolah mereka sekarang,
menjadi bahan pembicara namja-
namja tiap kelas.
“Jadi yeoja itu siswa baru ditingkat
2 yang menjadi topik hangat
dikelas kita ?”
“Ne. Yeppeo ?”
“Neomu yeppeo.”
Dari jarak yang agak jauh dari Woori
berdiri, terlihat dua orang namja
yang tengah saling berbisik
mengenai yeoja itu. Untuk ukuran
manusia biasa tentu percakapan
kedua namja itu tidak akan
terdengar oleh Woori, tapi karena
kekuatan yang dimilikinya membuat
Woori dapat mendengar dengan
jelas percakapan keduanya.
Membuat senyum mengembang
diwajahnya.
‘Aku populer ternyata.’ Bangganya.
Setelah merasa hukumannya
terselesaikan dengan baik, Woori
menghadap Jung Seonsaengnim
untuk minta izin masuk ke kelas. Ia
bersiap mengambil tasnya yang
memang berada di tumpukan tas
siswa lain yang juga kena hukuman
sepertinya. Namun Woori sempat
bingung, hilang kemana tasnya ?
Kenapa tidak ada di tempat dimana
semula ia menaruh ?
Setelah 2 menit mencari, Woori
menemukan tasnya berada di
bangku yang agak jauh dari tempat
tumpukan tas tadi.
“Mwoya ? Kenapa berada disini ?
Pasti ulah Baekhyun lagi.”
Ia menatap tajam ke arah Baekhyun
yang sedang asyik bercanda ria
dengan Chanyeol. Jika saja namja
itu melihat tatapannya, mungkin
akan merasa ngeri juga.
Bukan maksud Woori menuduh
Baekhyun tanpa bukti nyata, hanya
saja mengingat selama satu minggu
ia bersekolah di sekolah barunya
ini, hanya Baekhyunlah namja yang
selalu menjahilinya, mencari
masalah dengannya. Terutama jika
diingat hari pertama ia masuk
sekolah. Saat di mana Baekhyun
menolongnya saat hendak terjatuh
namun ternyata hanya kedok agar
mengetahui ukuran tubuh yeoja itu,
kemudian mengumumkannya di
depan kelas. Jika diingat, membuat
Woori malu dan geram pada namja
yang sebenarnya memiliki senyum
manis itu, tapi tidak manis sama
sekali saat otak jahilnya yang
beraksi. Itu lah Byun Baekhyun.
*****
Woori POV
Aku memasuki kelas dengan
perasaan malas. Beruntung Yunho
Seonsaengnim –guru pelajaran
pertama– belum memulai pelajaran,
sepertinya belum tiba juga beliau.
Jika tidak, pasti aku akan sangat
malas untuk mengikuti
pelajarannya.
Kulihat Jinah dan namjachingunya,
Tao, sedang asyik berbicara, saling
tertawa mesra. Sedangkan Hyeri
sedang asyik membaca komik yang
baru dibelinya kemaren.
“Woori-ah, anyyeong.” Sapa Hyeri
saat melihatku sudah duduk
dibangku depannya.
“Annyeong.”
Seminggu bersekolah sudah membuatku sangat akrab dengan
Jinah dan Hyeri. Dua yeoja yang
sangat baik dan asyik. Empat orang
yeoja lainnya tidak terlalu akrab
dengankku. Selain menemukan dua
orang teman akrab, selama
seminggu ini aku juga sudah
mengatahui seluk beluk sekolah ini.
Sebuah sekolah yang dulunya hanya
dikhususkan untuk namja kini
berubah menjadi sekolah
campuran. Kami di tingkat 2
merupakan siswa angkatan pertama
untuk kelas campuran,
sunbaenimdeul di tingkat 3 masih
namja semua penghuninya,
sedangkan di tingkat 1 juga sudah
bercampur, dan memang belum
terlalu banyak sih yeojanya, tapi
cukup untuk disebut sekolah
campuran.
Selama seminggupun belum ada
apa-apa yang kulakukan, belum ada
korban yang kuhisap energinya. Aku
masih berusaha berorientasi
dengan lingkungan baruku, dan
masih menjaga diri kalau saja tiba-
tiba aku bertemu Exorcist. Karena
tentu aku tidak ingin lenyap
sekarang, aku masih harus
mengalahkan kekuatan Juniel. Harus
itu !
“Apa yang membuatmu terlambat
pagi ini ?” Hyeri kembali berbica
denganku. Akupun mengangkat
kepalaku dan memutar posisi
dudukku hingga berhadapan
dengan Hyeri.
“Aigoo. Seharusnya aku tidak
terlambat tadi,, tapi semua karena
Baekhyun.”
“Waeyo ?” kali ini Jinah yang
bertanya. Meski sedang
‘bermesraan’ dengan Tao, ternyata
dia mendengarkan ku juga.
“Beberapa menit sebelum gerbang
ditutup aku sudah berlari menuju
gerbang. Kalian tahu apa yang
terjadi ?”
“….” keduanya hanya menggeleng.
“Baekhyun menarik tasku, kemudian
saling mengoperkan ke arah
Chanyeol secara bergantian. Mereka
berdua bersekongkol membuatku
terlambat hari ini. Sangat
menyebalkan.”
Jinah dan Hyeri hanya tersenyum
kecut. Keduanya pasti sudah
mengetahui bagaiman sikap
menyebalkan Baekhyun padaku.
“Aku benci Baekhyun.”
“Jinjja ? Hati-hati, benci bisa
berubah jadi cinta lho, seperti
Hyeri yang awalnya benci pada
Chanyeol, sekarang jadi menyukai
namja jangkung itukan hahahah”
Kulihat mata Hyeri melotot. Tidak
terima dengan kata-kata Jinah
barusan.
“Aniyo.. siapa yang bilang aku suka
Chanyeol ? Aku membencinya.
Sangat.” Protes Hyeri.
“Kojitmal. Aku sangat tahu yeoja
tomboy ini sekarang sedang
menyukaiku kan ?” Tiba-tiba
Chanyeol sudah berada dibelakang
Hyeri, membuat yeoja itu terkejut.
“Aniyo… Jinjja aniyo.. jangan
terlalu percaya diri Chanyeol-ah.”
Keributanpun terjadi akibat suara
gaduh dari dua orang anak manusia
itu.
Tiba-tiba tak sengaja tatapan
mataku bertemu mata Baekhyun.
Senyum jahil terpancar diwajahnya.
‘Jebal. Hari ini saja jangan
menggangku. Semakin sering kau
menggangguku, semakin besar
keinginanku menghisap energimu
Baekhyun-ah.’
*****
Woori POV
Pelajaran terakhir akan segera
dimulai, namun guru bahasa
Inggris kami ternyata tidak dapat
masuk untuk mengajar, jadi kami
hanya diberi tugas.
Rasa malas yang sempat melandaku
tadi pagi berhasil hilang sejak
pelajaran kedua dimulai. Jadi untuk
pelajaran terakhirpun aku siap.
Saat ku keluarkan buku tulisku,
kurasakan selembar kertas terjatuh
dari bukuku itu.
Aku mengambil selembar kertas itu.
Omo.. ini lebih dari sekedar
selembar kertas. Ini….
‘Tidak sopan memang memintamu
melalui sebuah tulisan saja, tidak
permintaan langsung padamu, tapi
kutunggu sepulang sekolah di
taman belakang sekolah. Aku akan
menunggu hingga kau datang.
Kuharap kau mau menemuiku.
XL’
Mataku melebar. Seorang namja
memintaku menemui nya ? Ha !
Tidak perlu untuk terlalu tebar
pesona untuk mendapatkan korban,
bahkan korban yang mendatangiku
dengan sendirinya. Tidak akan ku
siasiakan kesempatan ini.
Kesempatan untuk menambah
kekuatanku. Kedua sudut bibirku
tidak dapat kutahan agar tidak
tersenyum. Tersenyum jahat kurasa.
“Woow.. dalam waktu seminggu saja
kau sudah populer Woori-ah. Surat
dari penggemarmu.”
Ternyata Hyeri juga ikut membaca
isi kertas tadi. Jinah yang awalnya
tidak ikut melihat, kini ikut mepet
disebelahku, melihat isi kertas dari
penggermarku tadi. Woow percaya
diri sekali aku mengatakan itu dari
pengemarku.
“Kau akan menemuinyakan, Woori-
ah ?”
“Gereumyeon. Mana mungkin aku
menyianyikan kesempatan ini, aku
tidak akan mengecewakan namja
yang sudah mengirim ini.”
“Haha ! paling juga namja iseng
yang mengirim itu. Lagipula inisial
macam apa itu ? XL ? ukuran
pakaiannya kah itu ? berarti namja
itu berbadan cukup gemuk
hahaha.” Ejek Baekhyun yang juga
ternyata melihat tulisan itu.
Baekhyun tertawa sambil terus
mengungkit insial ‘XL’ tadi.
Beberapa teman yang lain ikut
tertawa bersamanya. Aku hanya
menatap kesal ke arahnya.
“Bukan urusanmu Byun
Baekhyun !!”
*****
Author POV
Sesuai permintaan dari sang
penggemar, begitu bel tanda
pelajaran terakhir telah usai Woori
segera menuju taman belakang
sekolah.
Dia yang terlalu bersemangat, atau
memang namja itu yang datang
terlambat ? Karena tidak ada
seorang manusiapun yang berada
di taman belakang sekolah ini.
Woori kemudian memilih untuk
duduk menunggu namja yang
membuatnya cukup penasaran.
Namja seperti apakah yang akan
ditemuinya ? Jangan-jangan benar
kata Baekhyun tadi, namja yang
ingin bertemu dengannya adalah
namja yang memiliki ukuran tubuh cukup besar. Otthoke ?
“Mianheyo. Sudah menunggu lama
kah ?” Tegur seseorang yang
membuyarkan lamunan Woori.
“Aa…anyio.” Jawabnya sedikit
terkejut.
Seorang namja dengan wajah baby
face dan tampan dengan tubuh
yang tingginya sekitar 175an cm
tengah berdiri dengan senyum
menawan diwajahnya.
“Annyeong Woori-ah, Xi Luhan
imnida. Aku dari tingkat 3. Gomawo
sudah mau menemuiku.”
Woori sempat terkejut, wajah imut
begitu ternyata sunbae dari tingkat
3, bukan hobbae tingkatn 1.
Luhan pun ikut duduk disamping
Woori.
“Mungkin terlalu cepat jika aku
mengatakan aku menyukaimu
hanya dalam satu minggu, tapi itu
memang kenyataan. Sejak pertama
kali melihatmu dihari pertama
kamu masuk sekolah ini, aku rasa
aku jatuh cinta padamu.
Ehhmmm… Entah kamu sadar atau
tidak, tapi tadi pagi juga kita
terlambat bersamaan, mungkin ini
takdir.”
Ucapan Luhan hanya membuat
Woori terdiam, tidak tahu harus
bagaimana menanggapinya.
“Aku tidak akan memintamu
langsung menjadi yeojachinguku,
tapi bisakah kita memulai sedikit-
demi sedikit, saling mengenal satu
sama lain ?”
Woori tersenyum, tentu dia tidak
akan menolak kesempatan ini,
korban yang datang dengan
sendirinya.
“Tentu Luhan sunbaenim, mana
mungking aku menolakmu.”
Luhan tersenyum bahagia, merasa
pendekatannya berjalan lancar.
Awal yang baik untuk menuju tahap
yang lebih serius dengan yeoja
yang dapat mengusik tidurnya
setiap malam, dengan selalu hadir
dalam mimpi-mimpinya.
*****
Authori POV
Luhan sunbaenim orang yang
menyenangkan, sikapnya sangat
baik, berbicara dengannyapun
sangat mengasyikkan. Benar-benar
sosok namjachingu yang ideal.
Sayang, Woori tidak bisa
mencintainya, yah karena memang
dia hanya menginginkan energinya.
Jahat bukan.
Saat ini mereka berada di depan
rumah sederhana namun nyaman
milik Woori. Terlihat Kris yang
berdiri di ambang pintu,
memperhatikan Luhan dan Woori
yang baru tiba. Luhan sudah
mengetahui tentang kehidupan
Woori –bukan kehidupan yang
sebenarnya– bersama Kris yang
merupakan oppa dari yeoja
tersebut, dan orangtua mereka yang
sedang berada di luar negri.
Luhan membungkung sopan pada
Kris, namun hanya ditanggapi
senyum sinis oleh Kris.
“Sampai jumpa besok di sekolah.
Kalkke.” Pamit Luhan.
“Jamkkanmannyosunbae !” Tahan
Woori saat Luhan ingin berbalik
arah dan siap melangkah pergi.
Dipegang lengannya, kemudian ia
kecup pipi kiri Luhan agak lama.
‘Männlich ab jetzt mein sklave hexe
meimiaril geworden’
Woori mulai mengucapkan
mantranya dengan mantab, manik
mata miliknya yang biasanya
berwarna hitam kecoklatan kini
berubaha menjadi biru, sebiru
lautan. Indah untuk dipandang
sebenarnya.
Namun keindahan manik matanya
tidak seindah perbuatannya, karena
dirasakannya 25% dari energi namja
yang dikecup pipinya ini telah
berhasil berpindah kedalam
tubuhnya, membuat tubuhnya lebih
terasa hidup dan segar dari
sebelumnya.
“uuhhuukk… uhhuukkk..” Luhan
terbatuk-batuk, wajahnya memerah
juga.
“Itu sebagai tanda terimakasih
karena sunbae sudah mengantarku
pulang. Jeongmal kamsahamnia
sunbaenim.” Manik mata Woori kini
kembali seperti semula, hitam
kecoklatan.
“Ne. Kalkke.” Pamitnya sekali lagi
kemudian pergi. Terlihat jalannya
terhuyung-huyung, sambil
memegang kepalanya, pasti
kehilangan 25% dari energinya
membuatnya merasa pusing.
“Dalam seminggu hanya
mendapatkan satu korban ? Dan
kau baru memulainya ? Lamban
sekali pergerakanmu Heo Woori !”
Sindir Kris saat Woori sudah
memasuki rumah.
“Biarkan aku melakukannya dengan
perlahan, lebih baik kamu urus
yeoja mu sendiri, Kris ‘oppa’.”
Dengan sengaja ditekan nada
bicaranya saat kata ‘oppa’, karena
Woori tahu Kris tidak menyukai saat
dipanggil begitu. Karena memang
di tempat asal mereka usia mereka
sebaya, tetapi begitu di bumi
ternyata Kris memasuki usia sebagai
mahasiswa, sedangkan Woori lebih
muda dan masih dibangku sekolah,
senior high school.
“Jika pergerakanmu terus perlahan
seperti itu, kamu akan tertinggal
oleh Juniel. Ingat itu.” Ancam Kris.
“Arayo.”
*****
Woori POV
Baru beberapa detik aku duduk di
bangkuku, tapi Jinah dan Hyeri
sudah heboh menghimpitku, di
kanan dan di kiri ku.
“Jadi ?”
Jinah bertanya dengan nada
menggantung.
“Jadi ?” kuulangi pertanyaanya.
“Ayolah. Jangan bersikap seolah kau
tidak tahu. Jadi namja mana ?”
Hyeri mempertegas maksud dari
pertanyaan ‘jadi’ barusan.
“Ahahaha. Xi Luhan sunbaenim dari
tingkat 3.” Jawabku dengan senyum
bangga.
“Omona. Jeongmalyo ?”
“Neo ara ?” kali Ini Hyeri bertanya
pada Jinah.
“Pasti. Luhan sunbaenim dari
tingkat 3, namja baby face dan
suara merdu itukan. Hyeri-ah, dia
itu sunbae yang tampil solo saat
acara musik sekolah kita tahun lalu.
Lupa eoh ?”
Hyeri hanya mengganguk sambil
menggaruk kepalanya yang tidak
gatal. Jujur, dia tidak terlalu peduli
pada sunbae maupun hobbae di
sekolah mereka ini. Tidak ada
untungnyanya menurutnya.
Berbeda dengan Jinah,  yeoja satu
ini merupakan yeoja yang up date
mengenai berita yang sedang panas
di sekolah maupun tentang
namjaduel tampan yang bertebaran
di sekolah kami ini. Namun urusan
cinta, yeoja tinggi dan cantik ini hanya setia pada seorang namja,
Huan Zi Tao.
“Neo beruntung Woori-ah, Luhan
sunbaenim kan populer dan banyak
yang suka, walau tidak pernah
ditanggapi olehnya. Chukkae.”
Senyumku makin mengembang.
Wooww… Korbanku ternyata orang
special ya.
*****
Author POV
Sudah seminggu lebih berlalu sejak
Woori mulai dekat dengan Luhan,
dan seluruh penghuni sekolah
sudah mengetahui itu. Dan dapat
dikatakan sudah seminggu Woori
memperkuat dirinya dengan
mendapatkan energi dari Luhan,
dan namja korbannya itu sekarang
hanya dapat berbaring lemah
dirumah sakit, dengan 15% energi
dari kehidupannya yang tersisa.
Kasihan ? Tidak ada rasa kasihan
bagi Woori pada namja itu, karena
memang itulah tujuannya datang ke
bumi ini. Bertemu manusia bumi,
menghisap energi mereka untuk
mendapatkan kekuatan lebih, dan
MENGALAHKAN Juniel.
Menjadi Queen ? Tidak termasuk
tujuannya.
“Setelah 3 hari terbaring di rumah
sakit, neo akan menjenguk Luhan
sunbaenim sore ini kan ? Mianhae
aku tidak bisa menemanimu.”
Terdengar suara Jinah dari sebrang
sana.
“Ne. Gwenchanayo,aku akan pergi
sendiri.”
Setelah melakukan beberapa
percakapan, Woori menggeser layar
handphone Android dan
menghentikan obrolannya dengan
Jinah, karena dia akan berangkat ke
rumah sakit sekarang, menjenguk
Luhan.
“Kau akan menghabisinya langsung
sore ini kan ?”
Tanya Kris yang tiba-tiba sudah
bersandar di daun pintu kayu coklat
kamar Woori saat jeoya itu tengah
memandang pantulan dirinya di
depan cermin. Dapat dilihatnya
juga Kris dari pantulan cermin itu.
“Aniyo. Seperti kata Queen, kita
tidak boleh benar-benar menghisap
habis energi manusia bumi bukan ?
Aku tidak sejahat Juniel.” Jawab
Woori sambil mengambil tas
bermerk terkenal miliknya kemudian
melewati Kris tanpa menoleh pada
namja itu.
“Jangan terlalu peduli dan kasihan
pada manusia bumi yang lemah
jika kau ingin menjadi yang
terhebat.”
Berpura-pura tidak mendengar dan
cepat keluar dari rumah yang Woori
pilih daripada Kris harus
memperpanjang ceramahnya. Yeoja
itu tahu Kris bermaksud baik, tapi
Woori tidak bisa begitu.
“Neo, Woori right ?” Tanya seorang
yeoja yang entah sejak kapan sudah
berada di depan rumahnya.
“Chagiya !!”
Terdengar suara Kris senang dari
arah belakang Woori, membuat
yeoja –yang jujur Woori tidak
mengenalnya– tersenyum manis
penuh bahagia.
Kris dengan sigap Kris menghampiri
yeoja itu, dan mereka saling
mencium mesra, Woori hanya
memutar bola matanya dengan
jengah.
‘Berciuman diluar rumah ? Di
tempat terbuka seperti ini. Gila.’
Setelah melepaskan bibir basahnya
dari sang yeoja, Kris tersenyum
puas. Karena ia memang sengaja
melakukan itu dengan maksud agar
Woori cemburu padanya. Dan dia
berharap agar Woori benar- benar
cemburu.
‘Dan aku tidak cemburu sedikitpun.
Lakukan apapun yang ingin kau
lakukan, Kris-ah’
*****
Woori POV
“Annyong hasimnika.”
Sapa ku sambil membungkuk sopan
saat memasuki ruang di mana
Luhan oppa –setelah dekat selama
seminggu, Luhan oppa memintaku
memanggilnya oppa bukan
sunbae– dirawat. Nyonya Xi baru
saja pergi keluar, membiarkan kami
berdua saja.
“Oraenmaniyo oppa.”Aku
memposisikan diriku duduk di
samping kanan ranjang Luhan
oppa.
“Ne. Bahkan tidak bertemu
denganmu selama tiga hari saja
rasanya seperti tiga tahun
kekekeke.”
Luhan oppa tertawa, mencoba
menunjukkan bahwa dirinya masih
terlihat bahagia. Padahal jelas
terlihat ia tidak bahagia, ia sakit,
sangat sakit. Wajahnya pucat pasi,
tubuh kurusnya semakin kurus saja,
ia bahkan pasti sulit untuk
bergerak.
Terbesit dibenakku rasa kasihan
sekaligus rasa bersalah, seharusnya
aku tidak menghisap energinya
sebanyak ini. Seharusnya aku cukup
menghisap 50% dari energinya. Itu
cukup.
“Mianhaeyo oppa. Jeongmal
mianhaeyo.” Bahkan aku tidak
mampu menatap wajahnya
sekarang. Hanya menunduk.
“Untuk apa ? Bahkan kamu tidak
salah apa-apa Woori-ah.” Suaranya
terdengar lemah, sangat lemah.
Bahkan seperti sangat susah untuk
dikeluarkan dari mulutnya.
“Mianhaeyo, oppa….”
*****
Woori POV
Dinginnya udara malam menerpa
kulitku, membuatku harus
menggosok-gosokkan telapak
tanganku untuk mengurangi rasa
dingin ini. Hal yang salah adalah,
saat pergi ke rumah sakit tadi, aku
tidak mengenakan sweter, jaket
ataupun penutup lainnya yang
seharusnya aku gunakan.
Kulangkahkan terus kakiku maju
menuju rumahku, kenapa Kris harus
memilih rumah yang letaknya tidak
terlalu strategis seperti ini.
Menyebalkan.
“Ttttooo…..toollooongg.”
Samar-samar dari sebuah lorong
yang cukup gelap ku mendengar
suara yeoja. Beruntung dengan
kekuatan yang kumiliki, aku dapat
mendengar suara yeoja yang berada
di ujung lorong, sangat jauh dari
depan lorong sekarang ku berada.
Kutajamkan penglihatanku ke dalam
kegelapan lorong panjang ini, dan
apa yang kulihat ? Seorang yeoja
dengan tubuh gemetar dan air
mata yang berlinang tersudut di
ujung lorong, dengan seorang
namja –preman sepertinya– yang
memegang sepucuk pisau tajam dan
mengancam yeoja malang itu.
“Tidak ada yang akan mendengar
suaramu, manis. Jadi lebih baik kau
memuaskan nafsu ku, jika tidak
ingin pipi mulusmu dan seluruh
tubuhmu tercabik-cabik pisau ini.” Anjam sang preman.
Beraninya pada yeoja lemah, dan
hanya berani karena menggunakan
senjata. Benar-benar pecundang.
“Lepaskan yeoja itu. Sebagai
gantinya, akan ku serahkan diriku.”
Sang preman menyipitkan matanya,
menatap ke arah ku.
“Woow ! Mangsa yang lebih empuk
ternyata.”
Beruntung, sang preman tertarik
padaku dan menjauh dari yeoja
tadi.
“Ppali ka. Dan jangan pernah
berkeliaran sembarang lagi saat
malam.” Pesanku pada yeoja yang
hampir terenggut mahkotanya tadi
saat ia melewatiku dan segera pergi
menjauh dari kami.
“Ini pilihanmu sendiri cantik. Ppali,
puaskan aku.”
Sang preman mendekat ke arahku.
Dapat kucium aroma alkohol dari
tubuhnya. Dasar pemabuk.
“As your wish, baby.”
Sebagai jawaban atas otak kotornya,
akupun memulai aksiku.
Ku katup kedua pipinya dengan
telapak tangan kanan dan kiriku,
kudekatkan wajahnya ke wajahku.
Terlihat bibir kotornya siap
mendekat ke arahku, namun ku
gerakkan kepalaku menghindarinya.
“Männlich ab jetzt mein sklave hexe
meimiaril geworden!!!!”
Ku tekan kuat kedua tanganku yang
berada di pipinya. Ku kerahkan
semua kekuatanku untuk menghisap
energi namja busuk seperti ini.
“Lebih baik kau mati daripada terus
mengusik yeoja lemah seperti
tadi !! Mati Kauuuu !!!” Semakin
besar amarahku, semakin kuat
kekuatanku untuk menghisap
energinya.
“Aaaaarrrggggghhhh……”
‘Brug’
Tanganku terlepas darinya,
membuat tubuh tanpa nyawa itu
terjatuh begitu saja, terlihat
mengenaskan. Kedua pipinya
melepuh terbakar, badanya sengat
kurus hanya seperti kulit-kulit
keriput yang menutupi tulang-
tulangnya, persis seperti haraboeji
tua berumur 100an tahun.
*****
Author POV
Seperti bukan dirinya sendiri.
Itulah yang Woori rasakan saat ini.
Ini pertama kalinya ia menghisap
energi korbannya hingga benar-
benar habis dan mati. Ini tidak
benar, ini melanggar aturan Queen
nya.
Tubuhnya tidak dapat berhenti
bergetar, dibalik energi besar yang
baru didapatnya ia merasa ada
yang salah dengan dirinya. Ia
mengerikan. Ia membunuh.
“Aa…aannndwee. aku tidak
seharusnya seperti ini.” Woori
berkata dengan frustasi, rambutnya
kini acak-acakan.
Ia sendiri tidak mengerti, mengapa
kemarahannya dapat menguasainya
hingga melampaui batas seperti ini,
semarah apapun dia, tapi ini
pertama kali baginya. Menghisap
energi korbannya hingga
meninggal.
Saat hendak membuka pintu depan
rumah, Woori dapat mendengar
suara yeoja yang tadi sore
menemui Kris, di dalam, terdengar
saling bercanda ria dan mesra.
Bohong jika Kris tidak bermaksud
untuk membuat Woori cemburu
seperti apa yang dilakukannya
sebelumnya. Karena Kris jelas tahu
bahwa Woori berada di depan
rumah. Karena memang mereka
dapat merasakan kehadiran sesama
kaum mereka dalam jarak tertentu.
“Terserah apapun yang ingin kalian
lakukanlah.”
Woori membalik tubuhnya dan
menjauh dari rumah. Sepertinya
bertemu dengan Kris saat ini
bukanlah saat yang tepat. Karena
jelas Kris akan mengintrograsi Woori
jika Woori masih belum bisa
menghentikan getaran tubuhnya
seperti ini, tubuhnya yang terus
bergetar seperti gugup dan takut.
Woori lebih memilih duduk di kursi
sebuah mini market yang cukup
jauh dari rumahnya. Ditekut kedua
kakinya, dibenamkan wajahnya.
Berusaha menenangkan dirinya
sendiri. Hingga seseorang
menendang kasar kursi yang sedang
didudukinya. Membuat tubuhnya
terguncang sedikit.
“Aiisshhh.”
Gumam Woori kesal sambil
mengangkat kepalanya ke atas.
“Neo !!!”O_o

*TBC*

*****
Author Talks
*Annyeonghaseyo readers, author
kembali dengan membawakan
chapter 2 nya.. ada yang nunggu
lama g hehehehe. Jeongmal
mianhaeyo karena kesibukan author
FF ini sempat ngadat.
*Bagi yang sempat bingung dan g
ngeh sama cerita FF ini d chapter 1
nya, semoga chapter 2 ini dapat
lebih memberikan penjelasan
maksud dari FF ini. Amiin
*FF ini author kirim k EXO Fanfiction
dan Alviana FF
*Jeongmal kamsahamnida bagi yang
sudah baca + comment di chapter
1nya. Chapter 2 ini comment jg y.
Sedikit kata-katapun dapat
membangun untuk perbaikan
author n FF author ini. Dan semoga
masih setia menunggu chapter
3nya, yang Insya Allah adalah
chapter terakhir.
Annyeong ^_^
#dadah dadah bareng Baekhyun,
Luhan & Kai

About fanfictionside

just me

3 thoughts on “FF EXO/ My EXOrcist/ chap. 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s