FF/ LOVE GIRL/ 1


Tittle: love girl part 1
Author: AlvianyHwang
Lenght: chapter
Cast:
+ Kang Min Hyuk
+ Lee Jong Hyun
+ Nam Seo Rin
+ Bang Hyo Bung
+ Henry lau
+ CNBLUE
Genre: romance, music

Summary:
Karakter OC dan story/plot asli hasil imajinasi saya. Dont copy this ff without credit and plagiarm. Ff ini sedikit ter-imajinasi dengan jenis cerita flowerboy. Untuk karakter CNBLUE adalah asli ciptaan tuhan, tapi semoga aja minhyuk bisa jadi milik author(?) amin(??)

*

Author pov

Alunan musik klasik terdengar merdu dari dalam ruang musik yang di penuhi murid-murid yang saling memegang instrumen alat musik ditangan mereka. Tapi mereka tidak sedang memainkannya, mereka hanya melihat seorang perempuan berperawakan manis tengah memainkan cello klasik di tangannya. Mereka terpesona dengan permainan gadis itu. Satu lagu sulit beethoven bisa diselesaikan gadis itu dengan mudah.
Gadis itu juga memejamkan matanya mengikuti guru yang tengah memejamkan mata seakan tenggelam dengan musik menyayat hati dari cello gadis itu.
Mr. Lucatti, nama guru yang juga tengah mengayunkan jemarinya mengikuti alur musik.
Hingga gadis itu menggesekan bow nya pelan sebagai nada terakhir moonlight sonata dari beethoven.
Di awali dari tepuk tangan mr. Lucatti semua juga ikut menepuk tangan mereka dengan kekaguman luar biasa dari ekspresi wajah mereka.
Gadis itu membuka matanya dan membungkukkan badan dengan senyum manis tersungging di bibirnya.
“luar biasa mss. Nam ! Ure so great! Tak salah aku memilihmu sebagai calon perwakilan kelas musik klasik di pekan musik nanti!” mr. Lucatti masih menepuk tangannya meskipun para murid sudah berhenti dan sibuk dengan alat musik mereka sendiri.
“tidak. Aku hanya memainkan musik dasar, mr. Tidak ada yg special.”
“itu spesial karna kau bisa menggugah musik itu dengan nada lain dan membuatnya terdengar unik dan juga hard.” mr. Lucatti tersenyum khasnya dan kembali menepuk tangannya sendiri.
Seorin -nama gadis itu- hanya bisa kembali tersenyum sembari mengendurkan senar bow-nya dan membenahi cello merah mapel kesayangannya.
“aku harap kau bisa menjadi pemenang di acara pekan musik nanti, mss. Nam. Bagaimanapun juga itu adalah kuncimu menuju prancis dan menjadi cellis ternama seperti yang kau impikan.” mr. Lucatti menepuk pundak seorin, seakan memberi gadis itu semangat.
“…….. aku akan berjuang mr. Lucatti.” ucap seorin tersenyum.
“mr. Lucatti! Bisakah kau mengecek cara bermainku?” suara teriakan perempuan terdengar dari jauh. Ketika menoleh tampak JooYeon, saingan seorin yang selalu tidak suka dengan apa yg seorin lakukan. Jooyeon tampak siap dengan cello disisinya seraya menatap seorin sinis.
Ketika mr. Lucatti sudah meninggalkannya untuk menuju jooyeon seorin menghela nafasnya dan menenteng cellonya yg sudah berada di tas khususnya itu.
Seorin melangkah ke arah Hyobung -temannya- yg tak jauh berada di depannya. Hyobung tampak serius menekan2 not piano klasik yang ada di depannya. Hyobung juga murid dari klub musik klasik, namun dia masih belum sepandai seorin karna ia masuk lebih lambat dari seorin, meskipun begitu. Permainan pianonya bisa diacungi dua jempol.
Seorin melihat apa yg dilakukan hyobung hingga membuat gadis berpipi chubby itu tidak sadar dengan keberadaan seorin.
“jika mr. lucati tahu kau sedang membuat not lagu pop dengan piano klasik dia pasti akan menghukummu.”
“eh??!! astaga kau mengaggetkanku! sejak kapan kau disana?” hyobung menatap seorin dengan muka pucat dan dengan cepat membenahi kertas2 notnya yang berserakan di atas piano klasik.
“sejak tadi. dan kau, membuat musik pop lagi?” seorin mengerutkan keningnya karena tingkah hyobung yg menurutnya sangat konyol.
“jangan membicarakan itu disini! ayo keluar sebelum mr. lucatti tahu perbuatanku!” hyobung menarik tangan seorin dengan cepat. tadinya seorin ingin menghentikan hyobung agar bisa pamit dengan mr. lucatti. tetapi ketika melihat lelaki tua italia itu tengah memuji jooyeon dengan muka yg ia tunjukan juga padanya tadi, ia segera mengurungkan niatnya dan mengikuti langkah hyobung meninggalkan ruang klub musik klasik. jujur, sangat membuatnya muak berada disana.

**

“ini”
seorin melirik ke arah kaleng cola yg disodorkan hyobung, dengan malas ia meraih kaleng itu dan membukanya.
kini mereka sudah berada di kantin kampus yg berada cukup jauh dari ruang klub musik mereka.
dengan decakan hyobung kembali membuka tasnya dan mengeluarkan lembaran kertas not.
“sial. aku tidak sempat menatanya tadi.” gumamnya kesal tanpa memalingkan tatapannya dari lembaran not itu.
“kau membuat lagu pop lagi?” seorin menatap hyobung dengan lamat.
“hmm, ini bisa menghasilkan uang.”
“uang?” seorin mengerutkan keningnya.
hyobung berdecak dan mengalihkan tatapannya kearah seorin.
“seorin, berhentilah berpikir klasik seperti lelaki tua itu. semua tahu seberapa jamannya musik pop sekarang. bukan klasik. bukan beethoven ataupun mozart, tapi seperti paramore dan owl city!” hyobung menatap seorin gemas.
“kau bicara apa? kau itu anak musik klasik sepertiku.” seorin mengerutkan keningnya.
“kau yg bicara apa! bermain musik klasik terus menerus membuatmu terus berpikiran seperti orang tua!” hyobung menoyol kepala seorin. membuat gadis itu mendecak kesal.
“lagipula aku bisa mengimbangi dunia musik klasikku dengan musik modern. tidak salah aku memilih piano sebagai pilihan.”
“padahal kau pilih itu hanya karna dirumahmu ada piano peninggalan kakekmu yg tidak pernah terpakai.” celetuk seorin membuat hyobung menampakan muka kesalnya.
“ah!”
tiba-tiba hyobung berdiri dan menatap tersenyum ke arah seorang lelaki berambut blonde yg tengah berjalan ke arah kantin.
“oppa!” panggilnya kencang.
lelaki itu menoleh dan tersenyum ke arah hyobung.
seorin ikut menoleh dan mendapati lee hongki -sunbae dikampusnya- tengah berjalan ke arah mereka.
“hey, kelas musik klasik sudah selesai? padahal saat aku lewat ruangannya masih penuh.” hongki menatap mereka bingung seraya duduk di samping seorin.
“kami membolos.” hyobung menyengir dan menunjukan dua jarinya kearah hongki. membuat namja itu mendecak.
“kelas musik modern bagaimana?”
“sudah selesai dari tadi.” jawab hongki enteng menyambar kaleng cola hyobung.
“ya, seorin. cello mu, apa tidak bisa disenderkan saja? tidak usah ditaruh dibangku juga. kau seperti berkencan dengan cello mu tahu.” ledek hongki melirik cello besar seorin yg terduduk manis di bangku samping seorin.
“dia hartaku.” hanya itu jawaban seorin, acuh tak acuh.
hongki mendecak jengkel.
“ah~ sampai sekarang aku bingung.” seorin akhirnya berujar dan menatap hongki. “sebenarnya di kelas musik modern, kau itu bermain alat musik apa? setahuku kau tak punya kehebatan apapun di musik.”
hongki menatap kesal seorin.
“aku itu vokalis di klub musik modern! kau tahu ft.island kan? itu band kampus yg kuvokaliskan!” jelas hongki dengan emosi tertahan.
“ah! aku tahu ft. island! minggu kemarin kalian manggung di acara kampuskan? salam untuk jaejin oppa ya!” hyobung mengedipkan matanya membuat hongki menatap kesal kearah kedua gadis yg berada satu tahun dibawahnya itu.
seorin juga ikut tersenyum melihat ledekan hyobung untuk band hongki itu.
“kyaaaa! jonghyun oppa!!!”
ketiga orang itu saling menoleh kearah teriakan histeris para perempuan.
saat itu juga mereka mendapati sesosok namja tinggi berwajah tampan dengan tas gitar di punggungnya tengah berjalan kearah kantin.
lee jonghyun, namja dari kelas musik modern.
“cih. dia pikir dia keren?” desis hongki menatap sinis.
“dia siapa?” hyobung menatap hongki.
“lee jonghyun. gitaris dari CNblue.” jelas hongki singkat kembali menghadap kearah seorin dan hyobung.
“ah~ CNblue. Pernah dengar. Katanya mereka band paling keren di kelas musik kan? Tapi aku belum pernah melihat tampang mereka.” gumam hyobung kembali menatap jonghyun yg tengah membeli beberapa roti dan soft drink.
“baru kali ini salah satu dari mereka ke kantin. Mereka itu pemilih untuk soal tempat nongkrong! Mereka itu angkuh dan sombong!” hongki memasang tampang kesalnya.
“kau begitu apa karena dendam mereka lebih terkenal daripada band mu itu?”
“apa?” telak. Itulah kata-kata hyobung pada hongki. Kurang lebih alasannya karena itu.
Tiba-tiba histeris teriakan wanita terdengar lagi. Seorin menoleh, diikuti hyobung dan hongki.
Tak lama seorang lelaki tinggi bermuka manis dan bermata sipit berjalan kearah jonghyun. Lelaki itu memang manis, tapi seperti tak ada senyum dari wajah lelaki itu.
“kang min hyuk. Drummer mereka.” jelas hongki tanpa ditanya kembali mengalihkan tatapannya dari kedua namja tampan itu.
“ah jinja? Manis sekali. Bibirnya seksi.” hyobung menatap terpesona kearah minhyuk yg tampak mengobrol akrab dengan jonghyun.
Jonghyun tampak meneguk softdrinknya sambil matanya menyapu keadaan kantin. Hingga tiba-tiba matanya berhenti pada cello seorin, seorin juga merasa jonghyun menatap ke arah cello-nya itu.
“oh~” ekspresi wajah jonghyun seperti terkejut dan dengan cepat ia berjalan ke arah seorin.
“apa-apaan?” perasaan seorin tidak enak, ia menggeser bangku cello-nya menjadi lebih dekat dengannya.
“apa ini biola besar?” tanpa berpikir jonghyun menunjuk ke arah cello seorin dan menatap seorin.
“eh?” hyobung dan hongki saling tatap melihat tingkah jonghyun.
“biola besar?” seorin mengerutkan keningnya.
“ah, ani! Aku lupa namanya, tapi ini masih satu saudara dengan biola. Apa ya?” jonghyun tampak berusaha mengingat-ingat.
“itu cello…” hyobung berujar dengan muka aneh menatap jonghyun. Tampan tapi bodoh.
“ah! Iya benar cello! Aku lupa namanya! Whoaaaaa! Daebak! Baru kali ini aku melihatnya secara langsung di depan mata. Besar ya” jonghyun menatap terpesona ke arah cello seorin.
“boleh aku melihat isinya?” jonghyun menatap ke arah seorin. Dari belakang dengan muka malas minhyuk berjalan mendekati jonghyun.
“isinya? Maksudmu melihatnya?”
“ne! Waktu itu aku tak sengaja melihat perfoming cello di tv, dan menurutku suara yg dihasilkan cello itu sangat merdu.” jonghyun tersenyum, lesung pipinya tampak terlihat manis di wajah tampannya.
“ya, hentikan.” bisik minhyuk dengan muka dingin.
“tunggulah! Selama ini aku tidak pernah melihat mahasiswa kelas musik klasik yang membawa cello! Ini sangat langka!” jonghyun menatap minhyuk, berharap namja itu mau menunggu sebentar untuknya.
Dengan ragu seorin membuka tas cellonya. Jonghyun menganga terpesona melihat cello mapel merah seorin. Dengan hati-hati jonghyun meraih cello serta bownya dan duduk dibangku.
“boleh aku mencoba memainkannya?” jonghyun menatap ke arah seorin.
“eh? Ne~ …. Kau boleh. Tapi… Kau harus mengencangkan senar bownya dulu dan belajar cara memegang bow dengan benar.” ucap seorin dengan muka khawatir. Cello kesayangannya berada di tangan orang awam, dan itu masalah besar.
“bow? Apa itu?” jonghyun mengerutkan keningnya.
“itu alat penggesek cello yang sedang kau pegang dengan salah itu.”
Jonghyun melirik bow di tangan kanannya. “oh~ ini bow. Lalu, bagaimana cara mengencangkannya?” jonghyun menatap ke arah seorin.
Dengan hati-hati seorin mengambil bow dari tangan jonghyun dan mengencangkan senarnya.
“jika senar bow tidak kencang, nada cello akan terdengar buruk dan sember.” ucap seorin.
“dan kau harus memegang bow seperti ini. Jika kau memegang dengan cara yg salah, nada yg di keluarkan juga akan buruk.”
Jonghyun menatap bow yg di pegang seorin.
“ini.” seorin menyerahkan bownya kepada jonghyun.
Jonghyun meraihnya dengan ragu dan memegang bow itu seperti apa yg di ajarkan seorin tadi.
“jangan terlalu ketengah. Senar akan tertekan kalau begitu.”
Jonghyun meminggirkan sedikit jarinya.
“nah seperti itu.” seorin tersenyum melihat cara memegang jonghyun yg lumayan benar, meskipun tidak sempurna.
“sekarang, bisa aku memainkannya?” jonghyun menatap seorin ragu.
“bisa. lagu beethoven itu lagu yg tepat untuk pemula.”
“apa? beet-? apa?” jonghyun mengerutkan keningnya. tanpa sengaja hyobung tertawa dan mencoba menahan tawanya, begitupun juga dengan hongki.
“kau…. tidak tahu beethoven?” seorin menatap jonghyun dengan kerutan kening.
jonghyun menatap minhyuk yang seperti malas menatapnya. jonghyun kembali menatap seorin.
“apa beet- apalah yg kau sebut tadi punya hubungan saudara dengan the beattles?” tanya jonghyun.
tak bisa dielak. tawa hyobung meledak mendengar pertanyaan jonghyun dan wajah bodohnya.
“the beattles? ya~ kau pikir beethoven pemusik rock?” seorin mengerutkan keningnya.
jonghyun meringis mendengar pertanyaan seorin.
“sudahlah. kupikir aku tidak cocok dengan cello-mu ini.”jonghyun menjauhkan cello seorin dan memberikannya pada gadis itu.
seorin berdecak menerima cello-nya.
“kau terlalu bodoh untuk memainkan alat musik membosankan itu.” minhyuk menatap sinis ke arah jonghyun.
membuat jonghyun tersenyum bodoh dan menunjukan tanda peacenya.
“apa? membosankan?” seorin menoleh ke arah minhyuk dengan kesal. begitupun minhyuk, tatapan dinginnya begitu menusuk.
“ayo.” minhyuk berbalik dan bersiap meninggalkan seorin dan yg lainnya.
“bukannya pemusik bodoh jika tidak tahu siapa itu beethoven?”
Ucapan seorin membuat langkah minhyuk terhenti.
“tahu saja tidak. Bagaimana kalian akan mengerti tentang musik?”
Decakan seorin diikuti senyum sinis dari wajah gadis itu.
Jonghyun memasang tampang bingung melihat sikap seorin.
Minhyuk menoleh dengan memasang muka dinginnya.
“apa beethoven mu itu bisa bermain drum?”
“ne?” seorin menatap bingung . Keningnya mengerut.
Minhyuk membalikan posisi badannya ke arah seorin.
“kau sendiri tahu apa itu drum?” tatap minhyuk dingin.
“d-drum? Itu… Alat musik yg di tabuh kan??” seorin menatap dingin minhyuk balik. tak mau kalah dengan namja itu.
“kau bisa memainkannya?” ucap minhyuk dengan muka meremehkan.
Seorin diam. Tepatnya ia bingung harus jawab apa.
“kau mengerti musik kan? Bukannya orang yg mengerti musik harus tahu dan bisa memainkan segala jenis musik? Ah~ dan kau tahu gun n’ roses? Simple plan? Maroon 5?” mata minhyuk memelotot ke arah seorin yg kini tak berani menatap mata lelaki itu.
“minhyuk.ah, hentikan. Ayo kita pergi~” jonghyun mendecak menatap minhyuk. Minhyuk menoleh pada jonghyun dan meraih paksa tas gitar jonghyun membuat jonghyun terkejut.
Minhyuk menyodorkan asal gitar jonghyun kearah seorin.
“bisa memainkannya, maestro?” tatapan minhyuk sangat licik sekarang. Seluruh orang yang berada di kantin juga menatap ke arah mereka dan saling berbisik.
Hyobung juga tak tahu harus berkata apa karena jujur dia juga ngeri melihat ucapan dan tatapan minhyuk yg menusuk. Mata sipit tajamnya tidak main-main.
Hongki sudah siap untuk berdiri dan menghentikan sikap minhyuk.
“ah hentikan!!! Aku itu anak musik klasik! Apa aku harus bisa bermain gitar dan drum? Kau gila??” seorin menatap tajam minhyuk.
Minhyuk tertawa sinis.
“jadi, kami itu anak musik modern. Haruskah kami tahu siapa itu beethoven dan tinggal dimana dirinya?” 
Ucapan minhyuk sangat menusuk seorin tepat sasaran.
Seorin menggertak giginya menahan amarah yang sudah mengental.
Minhyuk mendengus sinis dan menggeleng seolah meremehkan seorin.
“cobalah berpikir modern sekali-kali. kau itu konyol.”
JLEB
seorin melebarkan matanya. tubuhnya terasa kaku. giginya menggertak.
minhyuk berpaling dari seorin dan berjalan menjauh dengan santai diikuti jonghyun ragu.
tatapan seorin masih terpaku pada punggung minhyuk yg menjauh. namja itu benar-benar…
“seorin. tak usah kau masukan ke dalam hati. dia memang seperti itu.” hongki mendekati seorin ragu dan menepuk-nepuk pundak gadis itu.
“oppa…. apa kau tahu siapa itu beethoven?” tanya seorin tanpa menatap hongki.
“ne?” hongki membelalakan matanya, sangat bingung untuk menjawab apa dalam suasana hati seorin yg seperti ini.
“ehmm.. jujur, aku juga sebenarnya tidak tahu siapa itu beethoven. jadi- GYA!”
muka hongki memucat ketika seorin menggegam tangan hongki tiba-tiba.
hingga seorin berhasil memelintir lengan hongki sampai namja itu terjatuh.

*

dentaman keras drum minhyuk mengisi ruang kedap suara studio musik kelas musik modern.
ekspresi namja itu seperti enggan untuk diganggu.
jonghyun memainkan gitar listriknya asal dengan muka malas.
mata jonghyun menatap ke sekeliling studio latihan mereka.
hingga tatapannya berhenti pada yonghwa yang tengah meminum orange juicenya. tampak santai.
“hyung! apa kau tahu siapa itu beethoven?”
jonghyun menyenggol lengan yonghwa.
minhyuk yang saat itu juga tepat berhenti menabuh drum-nya menatap tajam ke arah jonghyun.
yonghwa mengerutkan keningnya atas pertanyaan jonghyun.
“beethoven?” tatap yonghwa disambut anggukan jonghyun.
yonghwa mengelus dagunya, seperti mengingat-ingat. minhyuk mendengus remeh.
“yang kutahu… dia itu pemusik klasik. tepatnya pianis yg menciptakan banyak lagu klasik.” yonghwa akhirnya menjawab dengan sedikit ragu membuat jonghyun ternganga.
jonghyun menatap ke arah minhyuk yg juga memasang tampang bingung.
“ya! minhyuk.ah! bahkan yonghwa hyung saja tahu!” ucap jonghyun dengan kerutan kening di dahinya.
“apa? kenapa? apa kalian berdua tidak tahu siapa itu beethoven?” yonghwa menatap ke arah jonghyun dan minhyuk satu persatu.
“aku hanya pernah mendengar namanya saja.” sergah jungshin, yg akhirnya mengucapkan sesuatu dari kegiatan bermain ponselnya.
“setidaknya jungshin dan aku tahu nama seorang beethoven. apa kalian…. benar-benar tidak tahu?” yonghwa menatap ragu jonghyun dan minhyuk.
jonghyun menggaruk tengkuknya yg tidak gatal.
“ayolah hyung. kita itu anak musik modern. tidak mungkin semua tahu siapa itu beethoven! apa dia tampan sepertiku dan bisa memainkan drum?” remeh minhyuk dengan muka malasnya.
“ya, jika murid musik klasik mendengar ucapanmu itu bahaya bodoh!” teriak yonghwa memelototkan matanya.
jonghyun menatap bingung yonghwa.
“hyung, sebenarnya-”
“di pekan musik nanti kelas kita dengan kelas musik klasik akan melakukan duet. kita harus bisa akrab dengan mereka. itu kunci untuk mengharumkan nama kelas musik.” yonghwa kembali mendudukan dirinya dengan rileks di sofa.
“selama ini kelas perfoming music dance yg paling banyak di minati. padahal musik instrumen jauh lebih menarik dan berguna ketimbang harus menari tidak jelas. kerja sama kita dengan kelas musik klasik sangat penting.”
jungshin mengagguk-angguk menyetujui ucapan yonghwa, sebagai leader.
jonghyun dan minhyuk saling pandang dengan muka kalut.
“anu hyung. sebenarnya…”
yonghwa menatap jonghyun bingung, terlebih minhyuk tampak menghembuskan nafasnya berat.
“sebenarnya tadi di kantin… minhyuk terlibat pertengkaran dengan murid musik klasik.”
“MWO??!!” yonghwa memelototkan matanya selebar mungkin.
minhyuk menatap ke arah jonghyun dan melotot lebar.
“itu karna kau juga! semuanya berawal dari mu, hyung!” sela minhyuk tak terima.
“sebentar! kalian tak pantas menyelaku! apa-apaan? aish~ jinja! kenapa harus musik klasik??! kita itu satu naungan!!!”
bentakan yonghwa membuat jonghyun segera berlari ke arah minhyuk, untuk berlindung.
“murid musik klasik itu benar-benar menyebalkan hyung! dia meremehkan kita sebagai murid musik modern!” bela jonghyun.
“tak peduli apapun!!! bagaimana jika murid musik klasik itu menyebarkan keburukan kita dan akhirnya kelas kita dan musik klasik bermusuhan??? tak ada kerja sama dan tak ada kemajuan!!!”
bentak yonghwa lebih keras. mukanya tampak lebih frustasi ketimbang masalah apapun.
“apa sangat penting untuk bekerja sama dengan mereka?” minhyuk memasang tampang malas dan dinginnya.
“ITU SANGAT PENTING!!!”
yonghwa mengepalkan tinjunya seakan gemas ingin meninju kedua namja pembuat masalah itu.
Jungshin hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan ketiga hyungnya.
“sekarang apapun yg terjadi kalian harus minta maaf dengan murid klasik itu!”
“mwo?!” minhyuk dan jonghyun berteriak secara bersamaan mendengar ucapan yonghwa.
“wae? Gara-gara kalian nasib kelas musik modern dan CNBLUE hampir hancur!”
Minhyuk memasang tampang kesalnya.
“hyung! Jika aku melakukan itu harga diriku yg akan hancur.”
“hancur? Hancur katamu? Itu lebih baik jika harus menghancurkan kita semua!! Sekarang laksanakan perintahku!”
Yonghwa menarik lengan minhyuk dan jonghyun lalu menendang pantat kedua namja itu kalap.

*

Ruang musik klasik

“sudah sepi.”
Hongki melongok dari depan pintu ruang musik klasik yg lebih tampak seperti aula besar dengan panggung.
“masuk saja. Kalau kau seperti itu kau malah dicurigai orang luar.” seorin menatap tajam hongki. Namja itu langsung masuk tanpa mengatakan apapun. Dia cukup waspada dengan perubahan mood seorin.
Hyobung mendekati piano besar klasik dan kembali menyebar kertas notnya di atas piano tersebut.
“whoaaaa~ hebat. Piano ini benar-benar klasik. Apa kau serius bisa membuat lagu pop dengan piano ini?” hongki menatap ke arah hyobung yg seperti enggan di ajak bicara. Hanya anggukan yang hyobung lakukan.
“whoaaaa!!! Apa ini harpa?” hongki mendekati alat musik besar yang memiliki senar petik yg banyak.
Dia berdecak mengaggumi penampilan klasik dari alat musik dewi itu.
“ku kira hanya ada di dalam dongeng. Ternyata harpa benar-benar ada.”
Hongki mengelus sisi harpa itu pelan.
“jangan sampai ada yg jatuh. Apalagi harpa itu, itu milik mr. Lucatti. Bisa mati aku jika ada sedikit yg lecet.”
Seorin berujar menatap hongki sembari menempatkan cellonya di tempat penyimpanan yg tertera nama dirinya.
Hongki hanya menggaguk dan melihat sekeliling.
Begitu banyak jenis alat musik klasik yg baru ia lihat. Dan tentu saja mereka bertekstur indah dan menawan.
“kau lihat lelaki di lukisan itu?” seorin menunjuk ke arah potret lukisan seorang lelaki bergaya ala bangsawan barat dan berambut putih.
Hongki memicingkan matanya mengamati potret lelaki asing itu.
“itu adalah beethoven.” ucap seorin lagi.
Mata hongki melebar begitu juga dengan mulutnya.
“jadi dia yang dari tadi kalian ributkan! Astaga, aku kira dia itu lelaki muda yg tampan.” desis hongki remeh.
Mata seorin menatap tajam hongki membuat lelaki itu menjadi ciut lagi.
“dia itu dambaan para pemusik klasik. Karyanya itu adalah suatu mahakarya maestro dari surga. Indah dan memukau.” jelas seorin seraya tersenyum kagum menatap potret beethoven yg juga tampak berkarisma dengan tatapan tajamnya.
Hongki yang tidak bisa mengerti apa yg spesial dari sosok seorang beethoven hanya bisa mengagguk-angguk malas.
“daripada mereka. Alat musik apa? Drum? Cih, apa mereka mau parade sirkus dengan itu? Tidak ada indahnya. Bising dan menganggu telinga!” raut muka seorin tiba-tiba berubah. Matanya memicing tajam dan sinis mengingat kejadian di kantin sore tadi.
Mengingat wajah minhyuk yg seolah begitu meremehkannya. Meremehkan alat musiknya dan kepribadiannya.
“ya, jangan begitu. Akukan juga anak band. Musik modern. jadi… aku juga merasa ter-”
hongki berhenti berbicara ketika mata seorin sudah melotot padanya tajam.
wanita itu benar-benar menyeramkan baginya.
“sudah malam. aku lebih baik pulang saja.” hongki memeriksa jamnya. pukul setengah 7 malam. walaupun masih banyak kegiatan kelas lain di kampus pada jam segini tapi ia lebih memilih untuk pulang dan tidak menjadi sasaran amarah seorin.
“hyobung. aku pulang~” hongki menatap ke arah hyobung yang masih serius dengan kertas-kertas notnya dan tangannya yg menekan tuts piano.
“hemm~” hanya itu jawaban dari hyobung. hongki menatap ke arah seorin. gadis itu juga tengah memeriksa senar bow-nya dan kegiatan yang hongki sendiri tidak bisa mengerti.
jadi tak mungkin seorin akan menanggapinya.
hongki mencibir dan membenarkan posisi ransel di punggungnya. beranjak dan bersiap meninggalkan kelas musik klasik.
GRAK
langkah hongki terhenti ketika mendapati seseorang membuka pintu ruang kelas musik klasik dengan kasar.
seorin dan hyobung juga mengalihkan tatapannya ke arah sosok yg kini berdiri di ambang pintu kelas. tepatnya dua orang sosok namja berperawakan tinggi.
“dia ngapain kesini lagi?” gumam hyobung dengan muka tak suka.
tampak minhyuk dan jonghyun yg juga menampakan wajah tak suka. ya, mungkin lebih ke minhyuk yang menunjukan ekspresi seperti itu.
seorin menatap dingin minhyuk.
dia masih sangat mengingat jelas ucapan minhyuk padanya tadi. mempermalukan dirinya di depan semua yg berada di kantin.
“ada tamu tak diundang?”
seorin menaruh bownya tanpa melihat ke arah minhyuk.
“ya, untuk apa kalian kesini? mencari masalah?” setengah berbisik hongki mencoba memperingatkan minhyuk dan jonghyun, bahwa perbuatan mereka sangatlah salah saat ini.
“kami, dari kelas musik modern. Ingin meminta maaf atas perbuatan kami tadi.” ucap jonghyun dengan nada sedikit ragu.
Hongki menatap takjub.
Hyobung memandang ke arah seorin, tapi yeoja itu masih bersikap biasa saja. Bahkan ia mendengus sinis.
“mereka pasti tahu bagaimana cara meminta maaf yg baik dan benar sebagai orang korea kan, seorin?” sindir hyobung melirik seorin.
Seorin tersenyum sinis tanpa menjawab.
Jonghyun menggigit bibirnya dan melirik minhyuk. Tatapan dingin minhyuk terarah pada seorin.
Hongki berdehem, dia beranjak dari dirinya dan meminggirkan badannya. Dia seperti tembok pemisah detik-detik perang dunia. Konyol. Itu pikirnya.
Minhyuk berjalan mendekati seorin dengan langkah seperti puma ingin memburu mangsanya.
Raut wajah seorin sedikit takut dan bingung.
Hingga namja itu sudah berdiri tepat di hadapan seorin.
Seorin menatap minhyuk balik dengan tajam, tak mau kalah dengan tatapan minhyuk yang tajam dan begitu menusuk.
“aku tak mau merendahkan diriku sendiri. Tapi ini semua demi kebaikan jurusan musik instrumen. Kerja sama sangat penting untuk membangun prestasi jurusan kita.”
“kita?” seorin memotong ucapan minhyuk, namja itu menatap tajam seorin.
“kita apa maksudmu? Musik klasik dan modern itu jelas berbeda kan?” seorin membuang tatapannya dengan arogan. Malas menanggapi minhyuk.
“jurusan kita sama.” hanya itu jawaban minhyuk.
Seorin kembali menatap ke arah minhyuk.
Hingga tiba-tiba ia menjulurkan bow-nya ke arah minhyuk. Minhyuk mengerutkan kening menatap bow seorin.
“kau ingin minta maaf kan? Aku akan memaafkanmu kalau kau memainkan cello-ku ini.”
Minhyuk mengerutkan keningnya semakin jadi ketika mendengar ucapan seorin.
“kau gila?!”
“aku tidak gila! Jika aku gila kau juga lebih gila! BAGAIMANA BISA KAU MENYURUHKU BERMAIN DRUM DI DEPAN UMUM SEPERTI TADI??!!”
Semua diam. Begitupun juga dengan minhyuk. Hongki hanya menatap puas ketika akhirnya minhyuk bisa merasakan bentakan dan pelototan yg luar biasa menyeramkan dari seorin.
Minhyuk berdehem, mencoba bersikap cool seperti tadi.
Seorin mempertegas sodoran bownya pada minhyuk.
Karena merasa tertantang dan tak ingin mempermalukan dirinya sendiri, akhirnya ia meraih bow cello yg di genggam seorin dengan kasar.
Seorin beranjak dari duduknya. Tepatnya kursi yg biasa gunakan untuk bermain cello.
Memberi isyarat minhyuk untuk duduk di bangku itu.
Dengan muka dingin minhyuk duduk di bangku itu.
Hyobung mengalihkan kesibukannya dan lebih memilih melihat apa yg dilakukan seorin kepada minhyuk.
Seorin menyenderkan cello di sisi minhyuk, posisi yang pas untuk lelaki itu memainkan cello.
Minhyuk sebenarnya enggan untuk melakukan ini. Tapi ini masalah harga dirinya.
Lagipula bermain cello pasti tidak sulit. Hanya tinggal menggesek dan bunyinya pasti langsung keluar.
“kau salah memegang bow.” sela seorin ketika minhyuk sudah siap menggesekan cello dengan bow di genggamannya itu.
Minhyuk melirik bow di tangan kanannya. Ia ingat ketika jonghyun memegang bow. Dengan decakan kesal ia merubah posisi genggaman bownya dan menunjukan kepada seorin agar yeoja itu puas.
Seorin menatap dingin minhyuk yg hendak menggesekan cellonya itu.
Hyobung, hongki dan jonghyun menatap serius ke arah minhyuk.
Hingga cello itu tergesek dengan asal.
Memang bunyinya keluar. Namun tampak aneh. Minhyuk pun memainkannya dengan muka dingin.
Sangat berbeda dengan permainan seorin. Hyobung, hongki dan jonghyun satu persatu menutup kuping mereka tak kuat mendengar permainan cello minhyuk yang sangat buruk.
Minhyuk semakin menggesek kasar cello seorin.
Seorin menutup kupingnya dan mengerutkan kening.
“ARGH!!! BERHENTI!!!!” teriak seorin. Minhyuk menghentikan permainan asalnya. Menatap seorin sinis dan tanpa dosa.
“kau sudah membuat pendengaran kupingku rusak. Dan sekarang kau mau membuat cello-ku rusak???” seorin berkacak pinggang menatap minhyuk sinis.
Minhyuk menaruh bow seorin dan beranjak dari duduknya.
Menatap seorin tak kalah sinis.
“aku sudah melakukan syarat yg kau ajukan. Jadi kau tak punya alasan untuk tidak ikut berpatisipasi atau mempengaruhi kelas musik klasik untuk tidak bekerja sama dengan kami.”
Seorin menatap sinis minhyuk.
“jika kau berani melakukan itu… Aku akan menyebarkan berita buruk tentang mu.” minhyuk mendekatkan wajahnya pada seorin dan menatap dingin seorin dengan mata tajamnya. Dan memang baru seorin sadari betapa tingginya minhyuk.
Minhyuk berlalu meninggalkan seorin, jonghyun sebentar menatap seorin dan lalu mengikuti minhyuk meninggalkan kelas musik klasik.
Hongki mencibir melihat kepergian minhyuk dan jonghyun.
“seorin, gwaenchana? Ucapannya tidak usah kau pikirkan. Yg penting kau sudah berhasil mempermalukannya.” hyobung mendekati seorin. Mencoba menenangkan gadis itu.
“mempermalukannya?” gumam seorin.
“ne?” hyobung menatap seorin bingung. Berharap ia salah mendengar.
“kau bilang aku berhasil mempermalukannya??? DIA TADI BERHASIL MEMPERMALUKAN HARGA DIRIKU LAGI!!! DAN APA ITU TADI? DIA AKAN MENYEBARKAN BERITA BURUK TENTANGKU??? MEMANG APA YG DIA TAHU TENTANGKU??!!”
Dengan langkah cepat hyobung kembali menuju pianonya dan berpura-pura sibuk dengan kertas notnya.
Hongkipun sudah mengambil langkah seribu meninggalkan kelas musik klasik.

*

Seorin melangkahkan kakinya menuju papan pengumuman kampusnya.
Pagi seperti ini memang belum banyak yang datang.
Dia menatap kertas bertuliskan ‘festival musik akhir pekan kampus’
Mata seorin memicing.
Memang benar, di kertas itu selain dia harus mengikuti lomba individu. Kelasnya juga harus berkolaborasi dengan kelas musik modern.
Seorin mendecak ketika harus mengingat wajah dan perkataan minhyuk. Mahasiswa kelas musik modern yg memuakan.

“ah~ nanti sudah mulai latihan.”
Seorin menoleh mendapati suara yg muncul dari sampingnya.
Tampak sosok namja bermuka cukup tampan dan manis serta tinggi tengah menatap kertas yg di baca seorin juga.
Namja itu menyimpangkan ransel serta tas bass di punggungnya.
Seorin sedikit terpukau melihat postur tubuh namja itu dan wajahnya yg elegan.
Hingga tiba-tiba namja itu juga menatap ke arahnya. Mata namja itu juga menatap ke arah mata seorin.
Seorin membuang mukanya dan berpura-pura sibuk dengan kertas pengumuman.
Dirasakannya namja itu masih menatap seorin dengan tatapan polosnya.
“kau mahasiswa kelas musik klasik?” ucap namja itu tiba-tiba.
“eh?” seorin menatap namja itu kaget. “ah ne. Bagaimana kau bisa tahu? Aku… Sedang tak membawa alat musikku.” seorin mengecek dirinya sendiri. Dia memang tidak sedang membawa cello-nya. Cello-nya memang sengaja ia tinggal di kampus, terlalu berat untuk membawanya dari rumah.
“aku tahu kamu siapa. Aku pernah melihatmu bermain cello di demonstrasi jurusan. Kau sangat memukau saat itu.”
Lelaki itu tersenyum.
Wajah seorin merona melihat senyuman lelaki itu. Sangat  manis dan lelaki itu mempunyai gummy smile. Type seorin.
“ah, aku jungshin. Lee jungshin. Aku mahasiswa kelas musik modern.” jungshin -nama lelaki itu- menyodorkan tangannya dengan tetap mempertahankan senyumnya.
“ah ne. Aku seorin. Nam seorin. Mahasiswa musik klasik.”
Seorin membalas jabatan tangan jungshin dengan malu-malu.
“ku dengar nanti sore kelas kita latihan bersama. Mohon kerja samanya.” jungshin sedikit membungkuk pada seorin.
“tidak perlu bersikap formal. Ya, aku juga mohon kerja samanya.”
Jungshin kembali tersenyum.
“ah, tapi aku mau nanya. Buat klub musik modern. Bukannya musik modern itu kurang cocok dimainkan dengan lebih dari satu alat musik yg sama. Apa semua murid akan ikut serta?” dengan hati-hati seorin bertanya, tak bermaksud membuat jungshin tersinggung.
“ah~ itu… Memang tak semua murid akan ikut. Satu alat musik hanya satu yg akan memainkannya. Aku termaksud yg terpilih dan akan memainkan bass.” jungshin menunjuk dirinya sendiri.
“ah jinjayo? Aku sendiri tidak tahu termaksud yg terpilih atau tidak.” ucap seorin tersenyum.
“aku yakin kau terpilih. Permainan musikmu sangat baik. Tentu itu akan membangkitkan poin kita untuk mengalahkan jurusan perfoming dance art.” jungshin menatap seorin dengan percaya diri.
“ah ne~” seorin memaksakan senyumnya. Padahal jika bisa memilih, ia tak akan mau terpilih untuk mengikuti lomba seperti itu. Apalagi harus bekerja sama dengan minhyuk.
“ah sudah waktunya masuk kelas. Aku pamit dulu ya. Sampai bertemu nanti sore.” jungshin tersenyum.
“ah ne. Sampai jumpa.” seorin melambaikan tangannya malas.
ketika jungshin sudah berlalu seorin menghela nafasnya berat.
menatap punggung jungshin yg setengah berlari ke gedung kampus.

*

“ya! sudah lihat papan pengumuman?”
hyobung berbisik kearah seorin ketika mr. lucatti tengah berusaha mengumpulkan kelas musik klasik.
seorin menatap hyobung.
“ehm. sudah.” jawab seorin malas.
“sekarang aku tahu kenapa dua orang dari klub musik modern kemarin meminta maaf pada kita.” gumam hyobung masih setengah berbisik.
“minta maaf katamu? itu bukan minta maaf.” desis seorin. tak terima ucapan hyobung. minta maaf macam apa yg seperti itu? itu sama saja mempermalukan dirinya.
hyobung mencibir.
“baiklah, aku akan menyebutkan nama-nama yg akan mengikuti lomba inti dan bekerja sama dengan kelas musik modern.” mr. lucatti meraih kertas dari dalam mapnya.
seluruh murid saling berbisik. banyak sekali tampak senang.
“aku bisa melihat cnblue!”
“mereka pasti juga ikut berpastisipasi.”
“mereka itu menjual. ada mereka pasti jurusan musik instrumen menang.”
hyobung melirik ke arah seorin ketika mendengar obrolan murid-murid musik modern yg sangat jelas terdengar.
seorin mendengus.
“mereka pasti akan berpikir sepertiku juga kalau tahu bagaimana prilaku murid musik modern itu.” celetuk seorin dengan muka kesal.
mr. lucatti masih sibuk menyebutkan nama-nama yg cukup banyak untuk berpatisipasi.
“baiklah untuk instrumen cello…”
seorin menatap malas mr. lucatti. berharap bukan dirinya yg terpilih.
“pasti kau jooyeon!” salah satu suara terdengar sangat jelas.
hyobung menatap ke arah jooyeon. gadis itu juga balas menatap hyobung sinis. begitupun juga dengan temannya, eunkyo.
“aku memilih… seorin.”
seorin mendongkakan kepalanya menatap mr. lucatti.
jooyeon juga menatap mr. lucatti tak percaya.
“apa??? kenapa bisa??? bukannya seorin menurutmu kurang untuk mengikuti lomba kerja sama seperti ini??!!” jooyeon berdiri dari duduknya.
“sssh. tenanglah mss. jooyeon. itu bukan berarti aku tidak memilih mss. seorin. dia lebih punya potensi besar dibandingkan dirimu. lagipula semua setuju untuk memasukan seorin.” mr. lucatti menatap jooyeon dengan tampang sok elegannya.
“apa? jadi anda pikir saya tak mempunyai potensi???” jooyeon menunjuk dirinya sendiri dengan kerutan di keningnya.
“no! no! maksudku… aku lebih ingin memilih seorin untuk ajang kali ini.”
“seorin juga mengikuti lomba individunya juga!! sedangkan jooyeon tidak! bagaimana bisa dia juga terpilih di lomba ini??” eunkyo ikut berucap membela jooyeon.
mr. lucatti berdehem mencoba menenangkan jooyeon dan eunkyo “jadi begini-”
“sudahlah mr. lucatti. saya kira saya juga tak mau mengikuti lomba kolaborasi itu. aku sudah akan mengikuti lomba individu.” potong seorin.
jooyeon menatap sinis ke arah seorin.
“ah tapi mss. seorin. semua yakin dengan potensi mu. kau itu kartu as kita.” mr. lucatti menatap takjub seorin. berharap ia salah mendengar ucapan seorin.
“tapi… aku juga ingin memberi mss. jooyeon kesempatan. terlalu serakah untukku jika harus mengikuti semuanya. dan aku merasa kasihan pada mss. jooyeon.”
ucap seorin dengan tenang.
“MWO??!! kasihan??!!” jooyeon meninggikan suaranya dan menatap seorin benci.
“lupakan!!! aku juga tak memerlukan lomba itu!!!” jooyeon meraih tasnya dan langkah menghentak meninggalkan kelas musik klasik.
“jooyeon!”
“mss. eunkyo. jika anda masih ingin terdaftar sebagai partisipan lomba kolaborasi ini. tetaplah disini.” ucap mr. lucatti dengan nada tegas.
eunkyo terdiam. dia tak bisa berbuat apa-apa. hingga akhirnya ia kembali duduk dengan muka kesal. kesempatannya saat itu jauh lebih penting di banding jooyeon.

*

“bukan main. aku sangat terkejut saat namaku disebut untuk jadi partisipan lomba kolaborasi! ya, apa menurutmu permainan pianoku itu bagus?”
hyobung menatap seorin dengan mata lebarnya dan menunjuk dirinya sendiri. saat ini mereka tengah duduk di bangku pinggir taman kampus.
seorin balik menatap hyobung tanpa berhenti menyedot orange juicenya.
“beruntung kim sungkyu salah satu kartu as pianist kelas kita sedang berada di amerika. jika tidak, posisimu pasti terancam.” ucap seorin santai dan kembali menatap ke arah seluruh taman kampus.
“mwoya?” hyobung menatap seorin kesal dan mencubit lengan seorin hingga gadis itu mengaduh kencang.
“apa kau monster?” seorin mengelus bekas cubitan hyobung yg tampak membekas.
dan hanya di balas juluran lidah dari hyobung.
“seorin.ah~ hyobung.ah~”
terdengar suara namja dari belakang mereka.
seorin dan hyobung menoleh.
“ya-”
“ya, henry.ah!”
seorin menjawab panggilan namja itu lebih dulu dengan senyuman lebar.
hyobung mendecak sinis menatap seorin.
henry, teman satu angkatan seorin dan hyobung di kelas musik klasik.
dia juga salah satu murid yg terpilih untuk mengikuti lomba kolaborasi dan individu sama seperti seorin dengan menggunakan biola.
henry tersenyum khasnya. tampak sangat manis dan memang tampan. henry adalah namja china yg pandai berbahasa korea.
dengan cepat henry mendudukan dirinya di tengah-tengah seorin dan hyobung.
mengulet panjang.
“aku sangat lelah! penat dan pusing!” gumam henry dengan desahan berat.
“mwoya? bahkan aku tak pernah berpikir seperti itu.” seorin mendecak mendengar keluhan henry.
“kau pasti bohong. bahkan aku sangat pusing saat ini.” hyobung menunjuk dirinya sendiri.
“itukan karna kau juga sibuk menciptakan lagu! beribu kali lebih pusing.” kilah seorin menampakan muka cemberutnya.
“ah ya benar. apa lagumu sudah jadi, hyobung?” henry menatap hyobung.
“belum. aku masih harus mengatur notnya. tapi jika sudah jadi, aku akan membuatmu menjadi orang pertama yg mendengarnya.” ucap hyobung tersenyum semanis mungkin.
“benarkah? aku menunggu untuk itu.” henry membalas senyum hyobung.
seorin juga ikut tersenyum seraya menyedot orange juicenya lagi.
“ah, hyobung. sepertinya dia memanggilmu.” seorin menatap sesosok namja yg menunjuk ke arah hyobung.
“nugu?” hyobung menyerngitkan dahinya dan mengikuti arah tatapan seorin.
dan tampak, key. mahasiswa dari kelas perfoming dance art. dengan tatapan tajamnya ia mengkodekan jarinya untuk menyuruh hyobung ke arahnya segera.
“apa-apaan orang itu!!” hyobung beranjak dari duduknya dan berjalan kesal ke arah key.
dari tempat seorin dan henry, tampak key yg memasukan hyobung kedalam lilitan lengannya dan berjalan ke arah lain.
“hyobung. dia malah menjalin hubungan dengan namja yg berada di jurusan saingan kita.” gumam seorin menghela nafasnya.
henry tersenyum menatap seorin.
“bagaimana denganmu sendiri? apa kau tidak mau seperti hyobung? menjalin hubungan dengan namja.” ucap henry pelan.
seorin mengembungkan pipinya mendengar pertanyaan henry.
“entahlah. aku pikir, aku ingin serius dulu di cello. menjadi cellis terbaik. dan lalu mencari namja yg pas untukku.” ucap seorin seraya menyandarkan dirinya di bangku taman kampus.
henry mengikuti seorin.
“tapi, apa kau pikir setiap namja akan menunggumu juga?”
ucapan henry membuat seorin tertawa pelan.
“molla~” jawab seorin memainkan ujung rambut panjangnya yg terkuncir asal.
henry menatap seorin. kini tatapannya tampak serius.
“tapi aku bisa menunggumu.”
ucap henry.
seorin menatap henry.
begitupun juga henry. tatapan mereka menyatu begitu saja.
“kau tidak tahu tentang perasaanku selama ini?” tanya henry pelan.
seorin mengalihkan tatapannya.
Dia tahu. Sangat tahu karena sikap henry padanya selama ini.
Tapi, dia tak pernah menyangka henry akan mengatakannya seperti sekarang ini.
“kau sedang pura-pura tidak tahu, kan?” mata henry memicing. Mata sipitnya semakin tampak tajam.
Seorin masih tidak berani menatap henry. Dia terlalu malu.
“di lomba individu nanti. Aku ingin kita berdua terpilih sebagai pemenang dan menuju paris. Saat itu juga, kupastikan aku akan melamarmu”
Apa? Lamar?
Seorin menatap ke arah henry tak percaya.
Tapi tatapan serius henry tak pernah bisa berbohong.
Dan terlebih. Tatapan henry selalu bisa membuat seorin tak bisa berkata apa-apa.
“kau! Gadis cello yg waktu itu kan??”
Mata seorin terarah spontan ke arah sosok yg sudah berdiri di depannya. Begitupun juga dengan henry.
Tampak jonghyun yg sudah tersenyum di depannya.
“sudah waktunya kelas kita latihan. Ayo ke tempat latihan bersama!”

*

SEORIN POV

Aku masih tak bisa memfokuskan diriku pada latihan kali ini.
Bahkan aku masih membiarkan cello ku membisu.
Seluruh murid kelas musik klasik dan musik modern sudah berkumpul bersama di aula kampus yg besar.
Kedua belah pihak tampak saling berbicara satu sama lain dengan akrab.
Hingga tatapanku tiba-tiba terarah pada henry. Namja itu tampak mengetes biolanya. Tampak sangat tampan, dia juga tak berbicara banyak.
“ya!”
“ya??!” balasku kaget ketika mendengar seruan hyobung. Hyobung mengerutkan keningnya.
“mwoya? Kenapa kau jadi kaget begitu?” hyobung mengerutkan keningnya. Piano sudah berada di depannya.

Author pov

“coba kau lihat! Namja yg kurang ajar padamu itu datang!” hyobung menunjuk ke arah sosok namja yg masuk ke aula dengan 2 orang namja lainnya. Minhyuk, namja itu memasang tampang malasnya. Murid wanita di aula tampak sedikit histeris melihat 3 namja yg mendatangi jonghyun itu.
Minhyuk di bangku drumnya dan mengetes drum-nya. Sengaja menabuh drum itu dengan keras membuat sebagian mata mengarah ke dirinya, namun dengan perasaan kagum.
Seorin menatap sinis minhyuk.
“nah! Semua sudah berkumpul? Aku akan menjelaskan konsep kolaborasi kita.”
Jungah ssaem menepuk tangannya untuk meminta perhatian para murid. Mr. Lucatti sudah berada di samping jungah ssaem.
“kita akan membawakan 2 musik kolaborasi antara klasik dan modern. Untuk menciptakan keunikan, musik klasik akan dibawakan musik modern dan musik modern akan dibawakan musik klasik. Dan di akhiri memainkan musik arirang dengan dua jenis musik bersatu. Untuk not~ sudah saya dan mr. Lucatti siapkan. Kalian hanya tinggal mempelajari menurut not alat musik masing-masing.”
Jungah ssaem menunjuk buku yg berisi not-not setiap alat musik.
“untuk alat musik yg hampir serupa seperti biola-cello, piano-keyboard, gitar akustik-gitar listrik-bass akan ada pelatihan khusus berdua agar bisa menciptakan nada yg pas dan berbeda.”
Mr. Lucatti melanjutkan.
Seorin menatap ke arah henry. Berarti dia harus melakukan pelatihan berdua dengan henry? Kenapa sangat kebetulan?
“untuk drum. Saya sedikit bingung untuk menyatukannya dengan alat musik klasik.”
Jungah ssaem menatap ke arah minhyuk yg juga menatap malas.
Hyobung mengangkat tangannya.
Jungah mengkodekan hyobung untuk berbicara.
“menurut saya akan lebih unik jika di satukan dengan cello!”
Jawab hyobung tanpa berpikir lagi.
Minhyuk dan seorin langsung menatap ke arah hyobung terkejut.
“cello? Drum dan cello?” jungah ssaem tampak berpikir.
“ya! Apa yg kau pikirkan? Ingin mati ya?” seorin menatap hyobung penuh amarah. Kenapa yeoja itu bisa berbuat seperti ini?
Hyobung hanya menampakan tanda peacenya.
“menurut saya menyatukan drum dan cello itu ide yg cukup baik.” mr. Lucatti tersenyum ke arah jungah ssaem.
“baiklah. Untuk minhyuk dan seorin. Kalian juga akan berlatih menyatukan irama. Kerja sama sangat baik untuk menambah keindahan musik.” jungah ssaem menatap seorin dan minhyuk.
Seorin menyerngit seram ke arah hyobung, tapi hyobung seakan pura-pura untuk tak melihat mata seorin.

*

“kenapa harus dengan si brengsek itu??!” seorin menarik rambut hyobung hingga yeoja itu menjerit.
“sakit tahu! Aku akan mengadukan ini dengan key oppa!” rengek hyobung.
“ya! Apa kau tidak tahu aku sangat benci namja itu dan terlebih-” seorin menghentikan kata-katanya. Ia terpikirkan henry. Bagaimanakah ekspresi namja itu saat namanya dan minhyuk di panggil?
Bahkan tadi ia tak berani menatap ke arah henry.
“seorin.sshi.”
“eh ya??!” seorin menoleh ketika seseorang menyebut namanya.
Tampak jungah ssaem dan minhyuk di belakangnya. Minhyuk menatapnya sinis.
“ayo, sudah waktunya berlatih irama cello mu dengan drum.”
Jungah ssaem tersenyum ke arah seorin. Dia adalah dosen dari kelas musik modern.
“baiklah. Aku akan ke tempat henry!” hyobung melambaikan tangannya dengan pandangan menggoda.
Oh, tidak. Henry….
Hyobung sudah berlalu meninggalkannya.
Seorin menoleh ke arah jungah dan minhyuk yg sudah berjalan lebih dulu darinya.
Ini mimpi buruk untuknya…

Tbc

About fanfictionside

just me

10 thoughts on “FF/ LOVE GIRL/ 1

  1. Hahahaha… Kasihan banget Seorin. Ada apa di balik usulan Hyobung memasangkan cello dgn drum ya? FF baru yang berawal dengan manis. Keren thor. Lanjutkan! Seperti biasa, permintaanku (?) jangan kelamaan ya ngeluarin chapter selanjutnya🙂. Daebak FFnya thor🙂

  2. parah bgt ft.island dikata kalah populer ma cnblue
    seorin mah belaga ngarti doang beethoven, baru cari wangsit ma mbah google itu
    gua baca diawal ngantuk, pas henry muncul bilang bakal lamar diparis bru mata terbuka dengan.lebarnya sambil berpikir “ini menghayal tingkat dewa”
    bagus kok thor. cuma karna gua ga tertarik ma alat music jadi ngantuk
    ga nyangka key mao ma hyobung
    apa yg key liat coba?!
    ff karyanu yg lain saya tunggu ya thorrr

  3. Kasian seorinnya, tapi apa jadinya kalo eorin minhyuk yg lagi beranten digabungin gitu. Pasti seru. Lanjutin min jeball….
    ohiya, jgn lupa special boys part 23nya juga.. Ne ne ne???😀

  4. thor, ff invisible parents nya dilanjutin dong, aku penasaran bgt selanjutnya gimana, trus aku jg seneng sama karakter himchan disitu >< wkwk

    aku mohon bgt thor🙂

  5. annyeong~ aku reader baru niih..bagus thor suka ama temanya tentang alat musik gituu, lanjutin authornim penasaran gimana lanjutannya😀 fanfic invicible parentsnya lanjutin juga dong?? hehehe *reader baru rempong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s