FF oneshoot/ INSANE ( eunkwang ver.)/ eunkwang BTOB


Tittle:
INSANE ( eunkwang ver.)
Author:
AlvianyHwang
Cast:
– Seo Eun Kwang BTOB
– Jung Hye Song
– BTOB members
Genre:
Romance, angst, PG16, oneshoot

You make me go insane …

You give me so much pain …

I wont be back again …

IM GONNA BE BETTER ..

Kau membuat ku gila …

Kau memberiku luka yang teramat banyak …

Aku tidak ingin kembali lagi …

AKU INGIN MENJADI LEBIH BAIK …

**
Dia mengenalku dengan sangat baik …
Dia tahu segala hal yang kulakukan …
Dia bahkan bisa merasakan apa yang aku rasa …

Apa ini suatu kebetulan yang bisa diterima?

Tidak

Bahkan akal sehatku pun tidak bisa untuk menerimanya …

EUNKWANG POV

“tuan seo, anda bisa masuk.” Suara seorang yeoja mengalihkan perhatianku dari keadaan disekelilingku. Aku menoleh dengan perlahan. Dan mendapati yeoja berjabatan suster itu tengah menatapku dengan ramah.
“kau bisa mengikutiku.” Ucapnya lagi dan lalu berjalan membelakangiku.
Aku sempat terdiam beberapa saat, masih tidak bisa mempercayai keadaan ini. Saat aku berada disebuah rumah sakit. Menjumpai seseorang yang bahkan aku tidak mengenal sebelumnya.
Hingga lamunanku tersadar dengan sendirinya.
Aku berjalan dengan sedikit langkah cepat mengimbangi jarakku dengan suster itu yang sudah lumayan jauh.
Suster itu membawaku menuju sebuah lorong dirumah sakit. Dilorong itu memang terdapat kamar-kamar yang sudah pasti berisi pasien.
Suster itu lalu berhenti tepat disebuah pintu bernomor 203.
Aku terdiam dan terhenyak dengan apa yang kudengar. Pintu itu memang belum dibuka, bahkan aku tidak tahu seperti apa keadaan didalamnya.
Namun aku bisa mendengar dengan jelas, suara seseorang yang menangis terisak. Tangisan itu memang pelan, tapi seperti tidak akan pernah berhenti. Bahkan aku bisa merasakan kesakitan dari tangis itu.
Apa mungkin karena pekerjaanku sebagai seorang penyanyi jadi aku bisa merasakan aliran kesedihan yang dirasakan orang yang menangis itu?
Suster itu menoleh ke arahku.
“tadinya dia berada diruang ICU. Tapi hanya 3hari dan setelah itu dia dipindahkan dikamar biasa. Saat itu memang kondisinya lumayan kritis.”
Aku menatap suster itu, berharap suster itu melanjutkan perkataannya.
“dan dia selalu menangis… ya, mungkin dia masih belum menerima kelumpuhan kakinya.” Ucap suster lagi ketika terdiam dengan tangannya yang tertempel dikenop pintu.
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Aku memang tahu kelumpuhan yang terjadi pada seseorang yang seminggu lalu terlibat insiden tabrakan denganku.
Tapi aku tidak menyangka jika orang itu akan terus menangisi kelumpuhan kakinya yang terjadi memang karena kelalaian bodohku.
Bahkan aku tidak bisa meneguk ludahku sendiri.
Perlahan suster itu memutar kenop pintu ruangan itu. Pintu itu terbuka dengan pelan.
Suster itupun masuk kedalam ruang rawat itu. Aku mengikuti langkahnya.
Ah, bahkan aku hampir lupa bahwa yang kutabrak itu adalah seorang yeoja. Wajah yeoja itu tak bisa kulihat karena ia terus menundukan kepalanya dan menutup mukanya. Rambut panjang coklatnya juga menjutai berantakan. Dia masih mengisak.
“nona jung, tuan seo menjenguk anda. Dia berada disini.” Suster itu tampak berbicara pelan dan mengelus rambut yeoja itu.
Yeoja itu mengangkat kepalanya. Dan aku bisa melihat wajahnya yang terbilang cantik, matanya tampak membengkak dan merah karena terlalu banyak menangis. Bibirnya pun terlihat kering.
Aku tak bisa mengatakan apa-apa saat melihat mata coklat indahnya.
“ORANG GILAAAAA!!!!!!!!!! ORANG GILAAAAAAA!!!!!!!!!! KAU ORANG GILAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!”
Yeoja itu tiba-tiba teriak sangat kencang. Dia melempar bantalnya ke arahku. Menunjuk-nunjukku dengan tatapan penuh dengan kebencian.
Suster itu terus menghentikan laju yeoja itu. Yeoja itu terus melempar apa yang ada didekatnya ke arahku. Vas bunga, boneka, karangan bunga, buah-buahan.
Aku menghalangi lemparannya dengan tanganku. Namun aku terus berusaha untuk melihat kearahnya.
“KAU YANG MEMBUATKU LUMPUH!!!!! KAU HARUS MEMBAYAR MAHAL UNTUK INI!!!! HARUSNYA KAU YANG MATI!!!!! KAU GILA!!!! KAU GILA!!!!!!!!!!” teriakan yeoja itu mulai serak. Airmata sudah mengucur deras melewati pipinya.
“nona jung, kau harus sadar. Jangan seperti ini. Nona jung!!!!” suster itu menahan tangan yeoja itu.
Hingga beberapa suster lain dan seorang dokter datang dan menahan yeoja itu yang juga terus mengelak sekuat tenaga.
“tuan, lebih baik kita keluar dari ruangan. Dokter akan menenangkan nona itu.” Suster itu membimbingku untuk keluar dari ruangan. Karena aku masih terpaku menatap yeoja itu, suster itupun menarik tanganku pelan hingga aku berjalan dengan tatapan masih kosong. Memikirkan yeoja itu.

“aku minta maaf karena baru mengunjunginya sekarang. Aku tidak tahu kalau keadaannya separah itu.” Aku menatap dokter shim yang kini berdiri berhadapan denganku. Dia tersenyum dengan raut kebapakannya.
“tidak apa-apa. Dia pasti sangat mengerti dengan karir keartisanmu. Terlebih yang kutahu dia adalah fansmu.” Ucap dokter itu. Aku terkejut dengan ucapan dokter itu.
“apa anda bercanda? Dia bahkan tadi mencoba untuk membunuhku.” Ucapku. Hingga aku tersadar dengan bahasaku yang terlalu kasar. Aku berdeham. Dokter shim tersenyum.
“dia hanya masih tidak bisa menerima dengan hal yang terjadi padanya. Bagaimanapun juga dia memperoleh kelumpuhan, ya meski tidak permanent dan masih bisa disembuhkan dengan terapi. Tapi tetap itu bisa menghentak kejiwaannya.
Kami juga belum menceritakan kepadanya tentang terapi penyembuhannya. Jika ia tahu ia akan segera sembuh, pasti ia akan melupakan rasa kesalnya kepadamu dan kembali menjadi fansmu.” Dokter shim menepuk pundakku. Aku menatap dokter shim. Sedikit bingung dengan ucapannya yang seperti tahu segalanya tentang yeoja itu.
Tapi syukurlah, berkat ucapannya aku bisa sedikit melupakan rasa bersalahku tadi.
“baiklah. Aku menunggu saat itu. Aku juga akan menanggung semua biaya terapi dan penyembuhannya selama dirumah sakit.” Ucapku sambil menampakan senyumku. Dokter shim membalas senyumku dan menangguk sedikit pelan.
Aku menjabat tangan dokter shim dan berjalan ke arah mobil yang sudah berada didepanku. Hingga langkahku tiba-tiba terhenti.
Aku menoleh ke arah dokter shim. Namja berwibawa itu sedikit menaikan alisnya, seperti mempertanyakan perilakuku.
“jika aku boleh tahu, siapa nama yeoja itu?” tanyaku dengan sedikit pelan dan gugup.
Dokter shim memicingkan matanya menatapku. Dia memasukan tangannya kedalam kantung jas dokternya.
“ah, aku hanya ingin tahu. Terlebih karena aku juga merasa bersalah dengannya. Mungkin aku bisa mengirimi karangan bunga minta maaf dengan ukiran namanya.” Ucapku. Sekarang aku sangat berterimakasih dengan bakatku mencari alasan.
Dokter shim tersenyum kearahku. Entah mengapa aku merasa aneh dengan senyumannya.

“namanya jung hyesong.”

*

“hyung, bagaimana keadaan yeoja itu?” sungjae yang baru keluar dari kamar mandi tiba-tiba menyemprotku dengan pertanyaan sakral itu. Kontan semuanya juga menoleh ke arahku. Mungkinkah sedari tadi mereka juga ingin mengajukan pertanyaan itu kepadaku, hingga akhirnya sang magnae bertindak dengan santai.
Aku tidak mengalihkan tatapanku dari tv. saat itu di tv terlihat penampilan girl group sistar di sebuah acara musik. Aku kembali bersyukur karena berita penabrakanku menjadi rahasia dan tidak seorang wartawanpun yang tahu tentang hal ini.
“hyuuuuung~~ apa ia marah kepadamu? Apa benar ia lumpuh juga?” sungjae duduk disampingku dan menarik-narik lenganku dengan gaya magnae sok manjanya.
Aku menatap ke arah sungjae. Apakah aku harus mengajari mereka semua untuk tidak berkata kasar disaat seperti ini sebagai seorang leader?
Tapi menurutku ini bukan saat yang tepat. Aku menghela nafasku berat dan menatap sungjae. Semua masih diam menatap ke arahku dengan mata penuh rasa penasaran.
“dia mungkin sedikit terpukul. Jadi ia terus menangis, bahkan ia melempariku dengan barang-barang.” Ucapku sedikit malas.
“HAH??? BARANG-BARANG???” minhyuk memelototkan matanya dan mengubah posisi tidurannya jadi terarah kepadaku.
“apa dia juga membentakmu? Dia menjenggutmu? Menendangmu?? Hyung, dia pasti sangat membencimu!” sungjae ikut memelototkan matanya.
Aku mengelak pegangan tangannya.
“dia tidak menjenggutku atau menendangku. Dia juga tidak membenciku, jadi kau jangan seperti orang kebakaran seperti itu!” omelku kesal.
“berarti dia membentakmu dong~ bagaimana rasanya dibentak dengan orang yang tidak dikenal?” peniel menggodaku dengan tatapan bodohnya.
Aku menatapnya dengan sinis dan kesal. Mereka pun bisa bercanda disaat seperti ini.
“dia memang pantas membentakku. Setidaknya gara-gara aku kehidupan dia jadi tak lama lagi.” Ucapku setelah mendapat ide.
Mereka terdiam mendengar kata-kataku.
“maksudmu?” changsub menatapku dengan kerutan kening yang teramat jelas.
“dia sangat kritis. Bahkan sebagian tubuhnya harus dibedah, karena dia sudah merasa tidak berguna lagi untuk melanjutkan hidup. Jadi dia lebih memilih jalur membius tubuhnya untuk mati.” Ucapku lagi.
“HAH??!!!” sungjae mengerjap-ngerjapkan matanya menatapku. Semua juga terpelongo setengah mendengar ucapan bodohku.
Ingin rasanya aku tertawa sekencang mungkin didepan mereka. mengapa dibalik wajah tampan mereka tuhan masih tega memberi otak bodoh kepada mereka?
*LOL, digetok melodys*
Aku beranjak dari dudukku dan lebih milih ke arah dapur mencari makanan.
“HUAAAAAAAAAAAAAAAA EUNKWANG HYUNG PEMBUNUUUH!!!!!” teriakan sungjae membuatku yang tak makan apa-apa menjadi tersedak. Semua juga menatapku dengan ngeri.
Dan aku pun harus siap mati-matian meyakinkan mereka tentang kebohongan ucapanku tadi.

**

AUTHOR POV

“ayo hyesong.ah kau harus makan dulu..” minhye mengarahkan sendok berisi buburnya ke arah hyesong yang terus menatap kearah langit dengan tatapan kosongnya.
Tak ada respon dari hyesong. Yeoja itu masih terus menatap langit cerah dari jendela ruang rawatnya. Matanya merah membengkak karena terlalu banyak menangis.
Minhye menaruh sendok bubur itu kedalam mangkuk bubur. Helaan nafas ia keluarkan dengan pelan.
Ia menatap hyesong yang masih menatap kosong ke arah langit.
“bukankah appa sudah bilang padamu jika kakimu bisa kembali sembuh ketika melakukan terapi? Jadi tidak seharusnya kau terlalu larut dengan kesedihanmu.” Minhye sedikit menyibakan rambut hyesong yang berantakan. Sebagai kakak dia pasti juga merasa sedih melihat adik satu-satunya seperti ini.
“maaf aku datang lagi.”
Tiba-tiba pintu ruang rawat terbuka dengan pelan. Minhye menoleh, matanya membulat mendapati sosok eunkwang sudah berdiri dihadapannya.
“ah, nae~ silahkan duduk.” Minhye berdiri dari duduknya.
“nae, aku juga tidak lama. Aku hanya ingin memberi ini.” Eunkwang menyodorkan karangan bunga dan dengan pelan ia menaruh di tempat tidur hyesong.
Tampak dikarangan bunga itu terukir nama Jung HyeSong dengan bunga mawar bewarna pink. Minhye menutup mulutnya sendiri ketika melihat karangan bunga terlewat romantis itu.
“aku ingin minta maaf. Karena aku kau jadi seperti ini. Mungkin jika aku bisa-“
“kenapa harus kaki?”
“n-nae?” eunkwang menatap ke arah hyesong ketika yeoja itu memotong ucapannya.
Namun yeoja itu tak juga menatap ke arahnya dan tetap menatap ke arah langit. Namun kali ini tatapannya penuh dengan kesakitan.
“kenapa kau harus memberi bekasnya dikaki? Kenapa kau harus membuatku lumpuh? Kenapa kau harus membuatku-“
“ah, kau tidak usah khawatir. Dokter bilang kelumpuhan kakimu itu tidak permanent dan bisa disembuhkan dengan terapi pengobatan. Jadi-“
“AKU TAHU JIKA INI TIDAK AKAN PERMANENT!!!!!!” teriakan hyesong membuat eunkwang terdiam.
Hyesong menatap eunkwang dengan penuh kebencian.
“TAPI JIKA MEMANG AKU BISA BERJALAN LAGI, KELUMPUHANKU HILANG, APA AKU BISA MELANJUTKAN APA YANG DULU PERNAH KUJALANI SEBELUMNYA???!!! APA ITU BISA MEMBUAT KAKIKU BERFUNGSI SEPERTI DULU, TANPA ADA YANG KURANG??? TANPA MEMBUATKU TERHAMBAT???!!!” teriakan hyesong menyerak. Dia memang tidak melempar barang-barang ke arah eunkwang. Tapi ini jelas lebih menohok eunkwang lebih dari apapun.
Hyesong meraih kotak yang berada di meja samping tempat tidurnya. Ia mengeluarkan sebuah sepatu balet dengan kasar. Ia meremas dan menatap ke arah eunkwang. Airmata sudah mengalir dan membajiri pipi putihnya.
Hingga ia melempar sepatu balet itu kearah eunkwang.
“kenapa tidak sekalian saja kau membuang jauh impianku??!! Kubur mimpi ku itu!!!” teriakan hyesong sedikit mengecil, mungkin karena saking kerasnya tadi ia berteriak.
“hyesong!! Sejak kapan kau jadi egois seperti ini??!!!” minhye melotot ke arah hyesong.
“AKU TIDAK EGOIS!!! AKU HANYA MENGATAKAN APA YANG HARUS KUKATAKAN! JIKA SEDARI AWAL DIA BISA MEMATIKAN MIMPIKU ITU, KENAPA TIDAK SEKALIAN SAJA IA MENGUBURNYA!!!????” hyesong menatap minhye dan menunjuk-nunjuk kearah eunkwang. Namja itupun masih terdiam menatap hyesong kosong.
“HYESONG!! KAU HARUS SADAR!!!! SEMUA YANG TERJADI PADAMU SAAT INI BUKAN MURNI KESALAHANNYA!!!! APA DIA YANG MENGINGINKAN UNTUK MENABRAKMU DAN MEMBUATMU LUMPUH??!!! APA DIA YANG MERENCANAKAN SEMUANYA DAN MENGINGINKAN MIMPIMU MUSNAH???!!!!!”
Hyesong tak bisa mengatakan apa-apa ketika ucapan minhye berhasil menohok hatinya.
Dia tahu, ucapan minhye memang benar.
Ini semua bukan kesalahan eunkwang. Semuanya bukan kesalahan eunkwang.
Ini semua terjadi karena takdir. Takdir yang paling ia benci.
Minhye meraih wajah hyesong dan menatapnya dalam.
“dan kau juga tidak boleh menyalahkan tuhan karena tlah memberimu takdir seperti ini. Bagaimanapun juga, setiap takdir yang ia buat akan menjadi kebahagian untukmu pada akhirnya. Kau harus bisa menerima takdir ini hyesong. Tuhan tidak mengambil kakimu, dia hanya memintamu untuk bersabar dan kembali beranjak menuju puncak lagi. Dengan kakimu yang terlahir kembali.
Kakimu yang lebih indah jung hyesong.”
Minhye menatap hyesong dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
Namun semua tahu hyesong adalah yeoja yang cengeng dan tak bisa menahan tangisnya.
Hingga tangis yeoja manis itu pecah.
Ia merengek seperti anak kecil. Minhye memeluk hyesong dengan erat.
Membiarkan eunkwang masih menatap hyesong dengan terhenyak.
Meski ia bisa mendengar setiap ucapan minhye. Termaksud tidak pantasnya hyesong menyalahinya. Mengaggapnya sebagai penghancur mimpi.
Namun didalam hatinya,
Eunkwang tak bisa menjernihkan pikirannya.
Dia masih bisa merasakan kesakitan dihati hyesong.

Diakah penghancur mimpi seorang jung hyesong?

**

3days later

Eunkwang berjalan pelan mengitari koridor lorong rumah sakit. Ditangannya terdapat seikat bunga mawar, meski tak ada ukiran nama yeoja yang ia maksud. Namun ia sudah memesan bunga mawar paling harum untuk yeoja itu.
Jung hyesong.

Sudah 3hari ia tidak menjenguk hyesong karena kesibukan didunia keartisannya. Meski terakhir kali pertemuan mereka sedikit tidak menyenangkan. Namun entah mengapa eunkwang merasa harus menjenguk yeoja itu sekarang.
Yang ia dengar sekarang hyesong tengah menjalani pengobatan terapinya. Dihitung dari ketiadaannya, berarti sudah berjalan 2hari hyesong menjalani pengobatan terapinya.

“ya, kau bisa hyesong. Kau bisa.. pelan-pelan..”
Ucapan seorang suster membuat tatapan eunkwang terhenti kearah seorang yeoja berambut coklat panjang. Rambutnya terkuncir tinggi dan tampak tidak rapih. Yeoja itu tampak ramping dan cantik, meski tubuhnya terbalur piyama rumah sakit.
Yeoja itu tampak bersusah payah untuk berjalan dengan bertumpu pada 2 penyangga di samping kiri-kanannya.
Ekspresi yeoja itu tampak bersusah payah. Namun terdapat keceriaan pada wajah yeoja itu.
Entah mengapa hal itu membuat eunkwang tersenyum.
Itu sudah pasti seorang jung hyesong.

“ah kau datang juga?” ucapan seorang yeoja menyadarkan eunkwang. Ia menoleh dan mendapati minhye, kakak dari hyesong.
Minhye yang tampak membawa banana milk ditangannya tersenyum kearah eunkwang.
“ah nae, maaf aku baru bisa datang sekarang.”
“aku tahu soal btob yang baru kembali dari indonesia. Hyesong pun tahu hal itu. Tidak apa-apa. Bahkan seharusnya kau tidak datang hari ini, pasti kau sangat sibuk sekali.” ucap minhye tersenyum. eunkwang terdiam dan membalas senyum minhye.
“tidak, aku memang harus datang. Dan ini~” eunkwang menyerahkan bunga mawar itu kepada minhye. Minhye mengerutkan keningnya.
“untuk-“
“ah, untuk hyesong. Bisa kau sampaikan bunga ini untuknya.” Ralat eunkwang cepat. Minhye menghela nafasnya, dia sebenarnya ingin tertawa melihat kegugupan eunkwang. Artis bisa gugup juga toh, pikir minhye.
Minhye tidak meraih bunga yang disodorkan eunkwang. Yeoja itu malah melipat tangannya dan menatap eunkwang dengan secara terang-terangan menghela nafasnya kencang.
“jika bunga itu untuk hyesong. Seharusnya kau memberikan secara langsung kepadanya. Itu lebih bisa membuatnya berubah pikiran tentangmu.” Ucap minhye tersenyum.
Eunkwang terdiam.”dia masih membenciku?” tanya eunkwang lagi.
Minhye tersenyum lagi.”aku sih tidak tahu. Tapi aku hanya takut jika ia masih tidak bisa menghilangkan rasa bencinya padamu. Bagaimanapun dulu dia itu balerina handal dan sudah ingin melanjutkan mimpinya itu menuju moscow.” Ucap minhye.
Eunkwang tak bisa mengatakan apa-apa lagi.
Minhye tersadar ia salah bicara, ia menutup mulutnya dan merutuki kebodohannya.
“tapi, sekarang dia sudah lebih ceria! Bahkan tadi dia sempat merutukiku dan mengerjai suster. Hyesong itu orang yang jail dan ceria sebenarnya.” Ucap minhye berusaha membuat eunkwang tidak merasa bersalah.
“dan aku yang membuat keceriaannya hilangkan?” eunkwang menatap kearah hyesong kosong. Yang ditatappun masih tengah sibuk menjalani terapi jalannya.
“TIDAK!!! Dia itu memang anak yang cepat berubah mood! Ah, jika kau mengenal hyesong kau akan mengerti! Yang pasti saat itu ia juga merasa bersalah padamu karena terlalu kasar! Dia itu sebenarnya fans mu juga!” ucap minhye lagi setengah takut.
Eunkwang menatap minhye dan mendapati wajah minhye yang gugup setengah takut. Hingga akhirnya eunkwang tersenyum.
“aku akan menyerahkan mawar ini sendiri.” Ucapnya seraya menimang bunga mawar itu ditangannya.
Minhye menatap eunkwang. Rasa bersalahnya hilang begitu saja melihat ekpresi eunkwang. Minhye tersenyum, dan mengagguk pelan mendukung eunkwang.
BRAK!!!!
“aaaah~~~”
Ringisan tiba-tiba terdengar dari ruang terapi hyesong.
Minhye dan eunkwang menoleh secara bersamaan dan mendapati sosok hyesong yang terjatuh dengan posisi dagu terlebih dahulu membentur lantai.
“hyesong!” minhye berlari ke arah hyesong dengan cepat. Membantunya berdiri bersama suster dan dokter terapi yang sedari tadi membantunya menjalani pengobatan.
“gwaenchana??” minhye menatap hyesong dan memastikan keadaan adiknya itu.
Didapatinya dagu hyesong yang sedikit memar bewarna biru.
“itu luka dalam, suster tolong ambil peralatan medisnya.” Perintah dokter terapi dan dengan cepat dijawab dengan suster itu.
Eunkwang yang sedari tadi masih tidak berani mendekat, kini mulai berjalan memasuki ruang terapi.
Menatap hyesong yang dikerubuti dokter dan minhye.
Mata hyesong terpejam menahan perih ketika dokter memeriksa dagunya. Eunkwang menatap wajah hyesong. Perasaannya entah mengapa terasa lain.
Seorang suster melewatinya dan menyerahkan kotak medis kepada dokter terapi itu.
Eunkwang menatap hyesong yang terus meringis.
“tubuhmu masih belum terbiasa menerima pengobatan terapinya. Hanya bersabar hingga perlahan tubuhmu bisa terbiasa dan kakimu juga bisa kembali berjalan.” Ucap dokter terapi itu pelan.
Hyesong perlahan membuka matanya.
Ketika matanya terbuka, tatapannya langsung bertemu dengan eunkwang. Tatapan mereka menyatu begitu saja.
Tadinya eunkwang mengira hyesong akan meneriakinya lagi atau bahkan menyuruhnya untuk pergi dari hadapannya.
Tapi ternyata hyesong membuang tatapannya dari eunkwang dengan muka gugup. Eunkwang tersentak.
Muka hyesong tampak memerah.
Bukan memerah karena marah atau kesal.
Tapi memerah yang terasa lain, dan membuat jantung eunkwang berdebar diluar batas normal.
“hyesong, eunkwang menjengukmu lagi~” ucap minhye tersenyum menggoda kearah hyesong. Hyesong mencubit lengan minhye dengan pelototan.
Hyesong masih belum berani menatap eunkwang. Yeoja itu mencoba untuk berdiri dengan alat tumpuan lagi. Minhye yang berusaha menolongnya dengan cepat dielak oleh hyesong.
“jangan dibantu, kalau dibantu nanti tidak akan ada kemajuan!” ucap hyesong yang membuat minhye terdiam dengan anggukan setengah merutuk.
Eunkwang menatap hyesong yang masih terus berusaha berdiri dengan tumpuan.
“sudahi saja dulu hyesong. Besok kita lanjutkan, bagaimanapun tubuhmu masih dalam masa pemulihan awal, jika terlalu dipaksakan itu malah akan memberi efek negatif pada tubuh dan kakimu.” Ucap dokter terapi itu yang tampak tengah mengemasi kotak medis.
“tidak bisa 1jam lagi dok? Aku pinjam ruangannya deh~” bujuk hyesong.
“hyesong, kau ini tidak bisa mendengar ucapan dokter ya??? Lebih baik sekarang kau istirahat saja untuk besok.” Minhye menatap hyesong dengan tatapan khas seorang kakak.
“sebenarnya bisa. Tapi saya ada praktek lagi nanti dan tidak bisa menemanimu hyesong. Apa kau tidak bisa menemaninya minhye?” dokter terapi itu menatap minhye.
Minhye tersentak.
“aaah ayolaaah hyesong~ aku ada les nanti. Apasalahnya melanjutkan terapinya besok.” Minhye menatap hyesong.
“tinggal saja aku sendiri. Aku bisa kok~” ucap hyesong lagi masih sibuk berusaha menggoyang-goyangkan kakinya pelan.
“apa dia bilang? Bisa? Bahkan ketika ada kitapun saat dia jatuh memar didagunya sudah ada. Apalagi jika kita meninggalkannya sendiri. Bisa-bisa tubuhmu sudah memar-memar.” Dokter terapi menatap kearah hyesong yang cemberut.
“mungkin aku bisa menemaninya.” Ucapan eunkwang membuat semua menoleh kearahnya termaksud hyesong.
“apa? Kau mau menemaninya? Jangan gila, kau ini pasti banyak schedule lagi kan? Hanya membuang waktumu saja.” Minhye mengerutkan keningnya.
Eunkwang tersenyum.
“ani, ini mungkin salah satu ganti rugiku juga.” Ucap eunkwang. Hyesong menatap eunkwang dengan terhenyak.
“kau ini seo eunkwang personil btob itu kan? Jika aku tidak salah~” dokter terapi itu menatap ke arah eunkwang dengan setengah menyipit.
Eunkwang tersenyum. “btob leader eunkwang imnida~” ucap eunkwang seraya membungkuk. Entah mengapa gaya perkenalannya yang biasa ia ucapkan ditv jadi terbawa kemana-mana.
“astaga, sepupuku suka sekali dengan kalian.” Dokter terapi itu tersenyum.
Hyesong menatap kearah eunkwang,minhye dan dokter terapinya yang tampak tengah asik berbincang satu sama lain. Hanya ia yang terdiam saat ini.
Hingga hyesong beranjak pelan dengan masih bertumpu pada pegangannya. Meraih botol minuman mineral dan handuknya.
Semuapun menatap kearahnya.
“aku mau istirahat saja.” Ucap hyesong tanpa menatap kearah semuanya.
“eh, lalu terapimu? Eunkwang sudah mau menemanimu.” Minhye menatap hyesong dengan kerutan kening.
“aku lelah. Lagian aku tidak ingin menjadi penyebab schedulenya berantakan.” Ucap hyesong.
“unnie, bantu aku jalan menuju kursi roda.” Hyesong menjulurkan tangannya kearah minhye.
“ani, itu tidak menggaguku. Aku-“
“kau kembali saja. Jika bisa ….. kau tidak usah kesini lagi.” Ucap hyesong tanpa menatap kearah eunkwang.
Saat itu juga eunkwang terdiam.
Minhye yang tersadar pun dengan cepat membantu hyesong berjalan kekursi rodanya.
Meninggalkan eunkwang yang masih terdiam.
**

4days later

EUNKWANG POV

“hyung~”
Aku menoleh dengan malas ketika mendengar suara sungjae yang memanggilku. Tatapannya yang tadinya mengarah ke arahku kini berpindah ke sebuket bunga mawar yang kupegang.
Aku tersadar dan ikut menatap bunga mawar bewarna merah muda itu.
“kau, beli bunga mawar lagi? Sebenarnya untuk apa? Apa sekarang kau berubah jadi seorang pecinta bunga?” sungjae mengerutkan keningnya.
Aku masih terus menatap ke arah bunga mawar itu. Baru tadi pagi aku membelinya.
Dan baru saja aku ingin memberikan ini pada hyesong, tentunya dengan bantuan minhye.

Sudah 4hari berlalu aku tidak menemui hyesong.
Tapi bunga mawar yang terus kukirim seakan tidak pernah absen mendatangi hyesong. Aku sudah tidak peduli bagaimana ekspresi hyesong ketika melihat setiap bunga yang kukirim.
Bahkan aku juga tidak memikirkan ekspresi muka minhye ketika menerima bunga titipanku untuk hyesong.
Aku hanya ingin hyesong menerima semua ini. Tanpa alasan yang sendirinya aku tidak tahu untuk apa.
Aku tidak menjawab pertanyaan sungjae. Dengan gontai dan masih menatap bunga mawar merah muda itu aku berjalan keluar dorm apartement. Menuju rumah sakit, tempat hyesong berada.

*
AUTHOR POV

Minhye menaruh bunga mawar di vas bunga ke 6 yang juga sudah dipersiapkan dengan seseorang yang mengirimnya itu.
Ketika yakin bunga itu sudah terpasang rapih. Minhye menatap setiap bunga mawar yang sudah berjejer sejak lama. Lalu ia menatap hyesong juga, yeoja itu tampak membaca novelnya tanpa sedikitpun melirik ke arah bunga mawar yang dibawa minhye.
Minhye menghela nafasnya.
“ini bunga dari eunkwang juga.” Ucap minhye menatap hyesong.
Hyesong berhenti menyibak kertas novelnya. Tatapannya lalu menatap ke arah minhye, lalu ke arah bunga mawar merah muda yang baru minhye masukan kedalam vas tadi.
Hyesong kembali menatap novelnya. Dan menyibak halaman berikutnya.
“memangnya dia pikir seribu buket bunga mawar bisa mengganti sepasang kakiku.” Ucap hyesong dingin.
Minhye kembali menghela nafasnya.
“sampai kapan kau akan egois seperti itu? Bukannya kau sudah bisa memaafkan eunkwang? Lagi pula aku sudah pernah bilang ini semua adalah takdir jung hyesong!” ucap minhye keras dan penuh emosi.
Hyesong menatap ke arah minhye dengan tatapan kesal.
“aku sudah memaafkannya. Dan aku hanya ingin dia tidak muncul dihadapanku!”
“dan dia tidak muncul dihadapanmu kan??”
“TAPI DIA SELALU MENGIRIMIKU BUNGA!!! SEPERTI MERASA KASIHAN PADAKU!!! APA DIA BEGINI JUGA KARENA INGIN MENGGANTI RUGI???”
Minhye terdiam mendengar ucapan hyesong.
“AKU TIDAK BUTUH BELAS KASIHNYA!!! TOLONG KAU BILANG PADANYA JANGAN PERNAH MENGIRIMIKU BUNGA LAGI!!!!!” teriakan hyesong kembali menyerak. Matanya memerah dan berkaca seperti menahan tangis.
Hyesong membanting novelnya dan meraih selimut rumah sakitnya. Menutup seluruh tubuhnya.
Minhye menghela nafas lagi. Sudah tidak tahu apa yang harus ia ucapkan.
Mungkin ucapan hyesong sedikit benar.
Eunkwang seperti merasa kasihan padanya. Dan jelas, jika ia jadi hyesong ia juga pasti akan merasa tersinggung.
Dan ia juga sangat tahu bagaimana tipikal adiknya itu.
Minhye meraih novel yang sudah tergeletak dilantai dan menaruhnya dimeja. Tepat didekat vas bunga berisi mawar merah muda indah itu.
Pikiran minhye mulai bermain.
Mawar merah muda.
Jika orang yang mengerti bunga pasti sudah bisa menafsirkan apa arti mawar merah muda.
Cinta dan rasa ingin memiliki.
Minhye terdiam.
Ia tidak tahu apakah eunkwang mengerti arti bunga atau tidak. Tapi bagaimanapun juga, siapapun pasti bisa mengerti arti sebuah warna ‘merah muda’.
Minhye menatap ke arah hyesong yang masih membenamkan dirinya kedalam selimut.
Lalu kembali menatap mawar merah muda itu.

**

EUNKWANG POV

Entah keberanian dari mana hingga akhirnya aku berada disini.
Menatap seorang yeoja yang tengah bersusah payah berjalan dengan tumpuan disampingnya.
Sudah lebih dari 4hari aku tidak menatapnya.
Bahkan kini ia sudah ada kemajuan. Cara jalannya sudah membenar, sesekali aku bisa melihat ia mencoba menjijitkan kakinya seperti seorang balerina.
Namun kulihat ia hanya terjatuh dan ia akan berusaha lagi. Aku tidak bisa tersenyum untuknya saat ini.
Karena pikiranku mulai mengarah kesetiap kata-katanya saat itu. Semua salahku, apa yang terjadi padanya adalah salahku.
Saat ini ia sendiri. Hanya seorang suster yang terus mengawasinya. Meski terus mengawasi, suster itu berjarak sedikit jauh dari hyesong.
Bodoh, jika aku yang mengawasinya aku pasti akan berdiri tepat didepannya dan tak akan pernah melepaskan pandanganku darinya.
BRUK!!!!
Hyesong kembali terjatuh. Aku terpekik pelan.
Ia berusaha kembali berdiri, namun rasanya sungguh sulit. Kakinya seperti tidak mau menurut untuk membuatnya sekedar bergerak.
Hingga tanpa sadar aku melangkahkan kakiku mendekatinya. Meraih kedua tangannya, dan membantunya berdiri.
Dia tidak mengelak meski saat itu ia menatapku dengan tatapan aneh.
“ah!”
Tubuhnya sudah ingin terpeleset jatuh lagi. Dengan segera aku meraih pinggangnya dan memeluknya erat. Sangat erat.
Ia terdiam. Mungkin dia terhenyak. Nafasnya sendiri seperti tercekat.
Akupun semakin erat memeluknya.
Entah mengapa aku seperti menginginkan saat-saat seperti ini. Saat dimana aku bisa memeluknya dan membuatnya menatapku.
Aku tidak tahu kenapa.
Aku sangat merindukannya dan ingin selalu membuatnya berada disampingku dan mengingatku.

“lepaskan aku..”
Ucapan hyesong tiba-tiba terdengar. Suaranya dingin dan datar.
Aku tidak menghiraukan ucapannya dan semakin erat memeluknya.
“lepaskan aku!!!” hyesong sedikit menghentakan tubuhku, ia kembali sedikit terperosok jika aku tidak semakin erat memeluk tubuhnya.
“maafkan aku.”
Ucapku parau. Entah mengapa aku merasa suaraku seperti orang yang ingin menangis. Hyesong terdiam.
Bodoh, entah keberanian darimana lagi aku mendekatkan mulutku kelehernya yang terbalur juntaian rambut coklat lembutnya.
Dia terdiam, aku bisa merasakan ia sedikit tercekat dengan prilakuku.
“sedikitpun aku tidak pernah merasa kasihan padamu. Bahkan aku sendiri tidak mengerti apa yang aku rasakan selama aku mengenalmu. Dan bunga itu, bunga yang selalu kukirim. Entah mengapa sudah menjadi suatu keharusan untukku mengirimnya.” Ucapku lagi.
Dia terdiam.
Sekali lagi, aku merasa bodoh. Entah apa, airmataku yang kurasa paling mahal didunia yang aku miliki. Kini terjatuh begitu saja berikut dengan suara keparauanku.
Kenapa aku seperti ini?
Mati-matian hyesong seperti mencoba menatapku. Dia melingkarkan tangannya dileherku untuk bisa bertumpu.
Kini ia berhasil menatapku. Ia bisa melihat muka menangisku. Bibirku yang bergetar.
Tatapannya pun melunak dan penuh dengan tanda tanya.
Mengapa aku harus menangis?
Aku menatapnya dan mata memerah penuh airmata.
“kenapa kau menangis?” tanyanya kemudian. Jantungku berdebar kencang ketika mendengar suara lembutnya. Suaranya yang biasa. Tidak berteriak atau membentakku.
Dia menatapku penuh dengan pertanyaan yang jelas.
“bahkan kau tidak mengenalku sebelumnya. Kita hanya saling mengenal karena kecelakaan. Bahkan aku pernah menyebutmu orang gila, aku pernah melemparmu dengan barang-barang, aku bah-“
Ucapannya terhenti.
Aku tahu pasti mengapa ucapannya terhenti. Saat itupun aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
Ketika bibirku dengan pelan mengunci mulutnya. Entah keberanian yang keberapa ketika aku pertama melihatnya.
Diapun tidak mengelak dan menatap mataku penuh dengan rasa terkejut.

Aku melepas ciumanku dan menatapnya. Dia juga menatapku dengan ekspresi masih terkejut.
“a-apa ini untuk ganti rugi juga?” tanyanya pelan dengan nada tercekat.
Aku menatapnya dengan lamat.
Aku mengelus pelan setiap sisi wajah cantiknya.

Aku tidak merasa bodoh. Aku sadar perasaan apa yang telah aku miliki ketika pertama kali melihat dan mengenalnya.
Aku jatuh cinta. Jatuh cinta kepada seorang jung hyesong.

Hyesong membelalakan matanya menatapku. Aku juga menatapnya.
Apa tanpa sadar kata-kata dalam pikiranku juga terucap?

“apa kau orang gila?” tanyanya takut dan sedikit sinis.
Aku masih menatapnya.
“kau yang membuatku gila, jung hyesong.” Ucapku pasti dan tetap menatapnya penuh dengan kepastian.
Hyesong tak bisa melepaskan lingkaran tangannya dileherku. Bahkan jarak wajah kami sudah sangat dekat sekarang.
“kau mau membuat dirimu seperti apa yang ada dilagumu itu?” hyesong masih menatapku dengan sinis.
Aku terdiam menatapnya dan mencoba mengerti apa maksud dari kata-katanya itu.
Seperti apa yang ada didalam laguku?

“You make me go insane …

You give me so much pain …

I wont be back again …

IM GONNA BE BETTER ..”

Aku terdiam menatap hyesong. Menatap kedua bola matanya. Bola matanya yang berkaca indah.
Dia menyanyi. Menyanyikan lagu yang sangat kukenal.
Meski suaranya parau dan terkesan lambat menyanyikan lagu itu, tapi entah mengapa aku sangat terhenyak dan semakin ingin mendengarnya menyanyi lagi.
Tapi ia berhenti bernyanyi dan menatapku lagi.

“kau tahu lagu itu?”
Tanyaku pelan.
“aku fansmu.” Ucapnya langsung.
Seperti ada pancaran surga yang menyergapku ketika mendengar ucapannya.
Aku menatapnya kembali.
“tapi aku ingin selalu kembali padamu..”
Dia menatapku dan terdiam mendengar ucapanku.
“aku seperti orang gila saat tak bisa melihatmu. Bahkan kau yang membuatku seperti orang bodoh.”
Ucapku lagi.
Dia menunduk, hingga tiba-tiba dia tersenyum sendiri. Aku menatapnya.
“kenapa kau tersenyum?” tanyaku bingung. Dia menatapku kembali.
“apa kau sekarang sedang berusaha menyatakan cinta padaku?” tanyanya setengah menahan senyumnya. Aku diam, apa aku harus mengatakan iya? Tapi dalam hatiku aku memang ingin berkata YA.
Dia menatapku lagi setengah tersenyum.
Apa lagi-lagi aku mengatakan apa yang ada dipikiranku tanpa sadar?
“kita tidak saling mengenal.” Ucapnya pelan.
“kau mengenalku.” Balasku. Dia terdiam.
“kau tidak mengenalku..” kini ia mengatakan hal yang seharusnya tidak bisa aku jawab. Tapi kini aku tersenyum dan menatapnya.
“aku sudah mengenalmu jauh pertama kali aku melihatmu.” Ucapku yakin.
Hyesong terdiam. Mata bulatnya semakin membulat ketika aku mengatakan hal itu. Aku tidak merutuki kebodohanku atau apa, aku berpikir bahwa semua kata-kataku itu memang benar dan harus aku ucapkan.
Dia berusaha menahan senyumnya lagi.
“kau orang gila.” Ucapnya ceria. Aku tersenyum, rasa lega menyelubungi diriku ketika melihat senyum dan nada cerianya.
“tidak masalah. Karena kau juga yang membuatku gila, jung hyesong.”
Dia tersenyum.
Aku gemas dengan semuanya, dengan cepat kuraih wajahnya.
Dan menciumnya selembut mungkin…

The end

About fanfictionside

just me

6 thoughts on “FF oneshoot/ INSANE ( eunkwang ver.)/ eunkwang BTOB

  1. Huaaa..keren…terimajinasi dari lagu insane,kebetulan cast nya bias ku,good job buat author nya😀 sequel boleh dong😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s